Ketika Bung Karno Merasa Kalah

Inggit-BKUntuk sekian lama… bumi Ende dengan masyarakatnya, nyaris menenggelamkan Bung Karno secara intelektual. Ketika itu, ia belum melakukan korespondensi dengan T.A. Hassan di Bandung untuk berbicara tentang Islam. Ketika itu, dia belum berjumpa dengan Pastor Paroki di Ende, P.G. Huijtink SVD (Serikat Sabda Allah).

Inggit Garnasih, istri yang setia mendampingi Bung Karno, dalam penuturannya kepada Ramadhan KH (Kuantar ke Gerbang) mengisahkan dalam satu bagiannya. Ketika Bung Karno tampak murung, tidak seperti biasa, Inggit tahu benar perubahan roman wajah suami yang ia panggil Kus (Ngkus) itu. Inggit tahu benar, bahwa Bung Karno tidak boleh patah semangat. Bung Karno tidak boleh kehilangan harapan.

Saat malam tiba, Inggit pun mendesak lembut… Inggit berusaha keras mengeluarkan gumpalan gundah yang ada di dasar sanubari sang “kasep” Ngkus-nya. “Pengasingan ini sudah mengubah segalanya. Saya khawatir melihat Ngkus….”

Bung Karno masih berusaha menyembunyikan gundah. Inggit pun mengeluarkan kalimat pamungkas, “Saya tahu Kusno…. Semua terasa di sini… di batin. Kalau Ngkus senang, saya merasa senang. Ngkus sedih dan takut, saya merasa lebih sedih, lebih takut”.

Inggit melanjutkan, “Saya tahu Ngkus tidak bisa sendiri. Ngkus harus selalu didengar banyak orang. Ngkus harus selalu memimpin banyak orang. Di sini, di tanah pembuangan, saya tidak melihat Bung Karno singa podium yang gagah itu. Di mana semangatmu yang begitu menggelora, Ngkus kasep? Itu yang saya khawatirkan….”

Bung Karno masih diam. Tapi di keremangan malam, Inggit bisa melihat mata suaminya yang berkaca-kaca. Inggit meraih pundak suaminya, menatapnya lembut, “Menangis saja, Ngkus-ku…. Tumpahkan segala kekesalan, kegelisahan, ketakutan, kemarahanmu…. Jangan pernah malu di depan istrimu ini. Saya lebih takut jika tak tahu perasaan Ngkus yang sebenar-benarnya…. Saya lebih takut itu, Ngkus….”

Demi mendengar kata-kata istrinya, ketulusan dan kelembutannya… Bung Karno pun menangis…, “Maafkan saya Enggit… Maafkan… Singa podium itu sudah kalah…. sudah kalah….”

Inggit harus menangis… harus!!! Tapi dia mampu membendung air matanya, dan tidak ikut larut. Inggit sadar, menemani Bung Karno dalam kesedihan, hanya akan membuat Bung Karno makin dalam terbenam dalam keputus-asaan. Masih dengan elusan lembut, meluncur kalimat yang tak kalah lembutnya, berbisik di telinga Kusno…. “Ngkusku… kasepku… tolong kasih tahu, apa-apa saja yang bisa saya lakukan buatmu…. akan Inggit lakukan, asal Ngkus tidak putus asa seperti ini….”

Kusno makin dalam membenamkan kegalauan hatinya di pelukan Inggit…. “Nuhun Enggit… Nuhun… sudah sedemikian banyak pengorbanan Enggit buat saya…. Maafkan Ngkus, membuat geulis harus menanggung risiko yang berat ini….”

Inggit memeluk erat Bung Karno, mengusap kepalanya, dan sejurus kemudian menatap wajah Kusno…, “Cinta kadeudeuh saya kepada Ngkus tidak bisa diukur hanya dengan saya ikut ke tanah pembuangan ini. Saya senang, selalu senang bisa berbakti kepada suami. Saya senang, kaseeeppp…, asal Ngkus janji. Janji yaaa… Ngkus harus bangkit lagi.”

Inggit segera mengusap air mata suaminya…. Mata Enggit menatap dalam mata Ngkus… Kusno… Sukarno, suami yang selalu dipuji-puji kegantengannya itu, (kasep: Sunda = ganteng). Di keremangan malam, Inggit melihat sesungging senyum di bibir Kusno.

Seperti dituturkan dalam bukunya, Inggit mengakhirinya dengan kalimat…. “Seperti biasa… saya harus pandai membuatnya tenang, membuatnya senang, hingga tertidur pulas setelahnya….” (roso daras)

Published in: on 11 Oktober 2013 at 03:19  Comments (4)  
Tags: , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://rosodaras.wordpress.com/2013/10/11/ketika-bung-karno-merasa-kalah/trackback/

RSS feed for comments on this post.

4 KomentarTinggalkan komentar

  1. Romantisme perjuangan seorang bapak bangsa….senang membacanya.

  2. Bung Karno dan Muhammad s.a.w, dua pemimpin yang pernah disentuh oleh seorang istri yang “keibuan” dan berhasil melalui masa-masa kritis dalam perjuangannya.

    Apa suatu preseden atau hanya kebetulan belaka…??

    Semoga “Inggit” yang lain masih bisa lahir di bumi pertiwi Indonesia mengawal Sukarno-Sukarno muda untuk menghantarkan Nusantara menuju masa kejayaannya…

    Salam Nusantara

  3. kepingin aku seorang “inggit” dlm hidupku

  4. Pada akhirnya tidak penting juga mewarisi sebuah kekayaan. Karena dia bukan berhala harta. Hanya sebuah janji yang tersisa yang wajib kita jaga, untuk sebuah Indonesia yang bersatu dan bermartabat.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: