Tamu Indonesia yang Tercinta

BK Pidato di lapangan terbangIni posting lanjutan atas kunjungan rombongan Presiden Sukarno ke Uni Soviet, 28 Agustus 1956. Dalam pidato sambutan di Lapangan Terbang Pusat Ketua Presidium Soviet Tertinggi UR2SS K.E. Worosjilov mengatakan, antara lain: Kunjungan saudara-saudara ini adalah sautu peristiwa yang penting. Kunjungan ini pasti akan menyumbang dalam memperkembangkan hubungan persahabatan antara Republik Indonesia dan Uni Soviet dan dalam memperkokoh perdamaian dunia dan kerja sama secara damai antara semua negeri.

“Kami sudah ketahui”, demikian Presiden Sukarno dalam pidato jawaban beliau, “bahwa rakyat Uni Soviet selalu berjuang untuk kemerdekaan, selalu berjuang dan sedang berjuang untuk membangun suatu masyarakat yang adil dan sejahtera. Bersama bangsa-bangsa lain rakyat Soviet berusaha keras untuk mencapai perdamaian dunia.”

Sesudah mengucapkan terima kasih untuk undangan ke Uni Soviet maka Presiden Sukarno mengatakan dalam kata penutupnya, “Kami gembira bersahabatan dengan rakyat saudara-saudara yang besar itu”.

Dari lapangan terbang Presiden Sukarno berangkat ke Kremlin dengan naik mobil terbuka bersama-sama dengan K.E. Worosjilov dan N.A. Boglanin. Berpuluh-puluh ribu penduduk Moskow bertepuk tangan secara riuh di sepanjang perjalanan mereka ke Kremlin di mana disediakan tempat tinggal bagi tamu agung itu. Penduduk-penduduk ibukota Soviet mengucapkan salam kepada putra bangsa Indonesia yang mulia. Bendera-bendera Indonesia dan Uni Soviet berkibaran atas jalan-jalan kota Moskow. Tulisannya di spanduk-spanduk besar berbunyi: “Selama datang, tamu-tamu Indonesia yang tercinta!”

BK menuju Kremlin

BK disambut di sepanjang jalan

Dua foto di atas menggambarkan suasana ketika Bung Karno meninggalkan bandara menuju Kremlin naik mobil bak terbuka dengan petinggi negara itu. Rakyat Soviet mengelu-elukan parade yang  megah di sepanjang jalan. (roso daras)

Published in: on 19 Januari 2014 at 05:00  Comments (3)  
Tags: , , ,

Hormat Kruschev kepada Bung Karno

Kruschev dan Bung Karno

Anggota Presidium Tertinggi Uni Soviet, yang juga Sekretaris Pertama Komite Sentral Partai Komunis Uni Soviet, N.S. Kruschev, tampak meyalami Bung Karno dengan merunduk, begitu respeknya. Dua tahun sejak pertemuan itu, dia naik menjadi perdana menteri Uni Soviet, dengan tetap mengendalikan partai komunis.

Meski usia lebih tua (Kruschev lahir 15 April 1894, sementara Bung Karno lahir 6 Juni 1901), tetapi tampak ia begitu segan dan menaruh hormat yang tinggi kepada Bung Karno. Ketika itu, Kruschev menjadi satu di antara sekian banyak pejabat tinggi Soviet yang turut menyambut kedatangan Bung Karno dan rombongan.

Sambutan Pejabat Uni Soviet

Tampak suasana penyambutan Bung Karno di lapangan terbang Moskow. Foto diambil oleh wartawan Indonesia dari pesawat. Tampak para pejabat Uni Soviet, dengan latar belakang pasukan tentara merah menyambut dengan sangat baik. Di luar, ribuan masyarakat tak kalah antusiasnya.

Sambutan itu membuktikan adanya rasa simpati yang hangat di hati rakyat Soviet terhadap rakyat suatu negeri yang jauh yang tidak sedikit seumbangannya dalam perjuangan kemerdekaan bangsa-bangsa Asia dan Afrika yang berjuta-juta itu. Kaum pekerja Uni Soviet menyambut Presiden Sukarno, seorang tokoh politik dan negara yang terkemuka sebagai wakil rakyat Indonesia yang 80 juga jumlahnya yang perwira dan cinta damai.

Dengan hangat dan rasa gembira wakil-wakil Indonesia disambut di Moskow –ibu UR2SS pada tanggal 28 Agustus 1956. Sebelum kapal-kapal terbang mendarat maka pemimpin-pemimpin Pemerintah Soviet dan Partai Komunis Uni Soviet serta banyak kaum pekerja kota Moskow sudah berkumpul di Lapangan Terbang Pusat.

Rombongan Presiden Sukarno yang datang di Uni Soviet atas undangan Presidium Soviet Tertinggi UR2SS antara lain Zainul Arifin, Wakil I Ketua Parlemen RI, Arudjo Kartawinata, Wakil II Ketua Parlemen R.I, A.K. Pringgodigdo, Kepala Kabinet Presiden, Winarno Danuatmodjo, Gubernur Sumatera Selatan, Dr Sukiman Wirjosandjojo, anggota Parlemen, Dr  I. Leimena, Sutarto Hadisudibjo, Dr. Sumanang, Wk. Kepala Bank Industri Negara, Suwito Kusumowidagdo, Kepala Direktorat Kementerian Luar Negeri, opsir-opsir tinggi dari staf Angkatan Perang, pegawai Kemlu dan wartawan-wartawan.

Bung Karno disambut pejabat Soviet

Tampak Bung Karno di antara kerumunan para petinggi Uni Soviet. Latar belakang, tampak tentara  dan massa yang turut menyambut rombongan dari Indonesia. (roso daras)

Published in: on 6 Januari 2014 at 09:56  Comments (5)  
Tags: , , ,

Buku Tua Kunjungan Bung Karno ke Uni Soviet

Buku Kunjungan BK ke SovietJalan menemukan jejak-jejak sejarah Bung Karno selalu saja terkuak tanpa rencana. Seperti berkah silaturahmi di suatu hari ke kediaman seniman Teguh Twan di Jl. Pemuda, Kebumen beberapa waktu lalu. Tanpa dinyana, seniman keturunan Tionghoa yang nasionalis itu menyimpan satu buku tua yang sangat langka: Kunjungan Presiden Republik Indonesia Sukarno ke Sowjet Uni. Di bagian bawah tertulis Penerbit Seni Lukis Negeri, Moscow, 1956.

Buku yang hampir semua halamannya sudah “mreteli” (terlepas jadi lembar-lembar terpisah) itu, berisi narasi singkat tentang kunjungan Bung Karno yang disertai sejumlah petinggi negeri itu ke sana. Selebihnya, berisi foto-foto otentik dan langka, yang menangkap momen-momen bersejarah selama Bung Karno berkunjung ke Soviet (sekarang Rusia).

Menyimak buku tersebut, terbayang, betapa rombongan Bung Karno disambut dengan begitu agung. Begitu mendarat, semua petinggi negeri komunis itu menyambut di bandara internasional setempat. Dalam perjalanan ke Kremlin, Bung Karno dan petinggi Soviet menaiki mobil terbuka. Di sepanjang jalan, berjejer lautan rakyat mengelu-elukan Bung Karno dengan bentangan spanduk bertuliskan kalimat-kalimat bersahabat.

Bukan hanya itu, dalam setiap kunjungan Bung Karno ke negara-negara bagian Soviet (yang saat ini sudah menjadi negara merdeka pasca pecahnya Soviet), Bung Karno senantiasa dielu-elukan masyarakat. Di setiap kota yang dikunjungi, selalu digelar rapat akbar yang dihadiri lautan masa. Bahkan dalam salah satu kunjungan, digelar khusus pertandingan persahabatan antara tim sepakbola Indonesia melawan tim sepakbola Uni Soviet.

Pesan-pesan rakyat Soviet kepada rakyat Indonesia tergambar dalam buku itu. Sangat menyentuh, meski dalam narasi yang tidak lagi up-to-date untuk konteks sekarang. Sempat terpikir untuk meng-up-date buku itu dan menerbitkannya kembali sebagai sumber referensi anak negeri.

Postingan selanjutnya, akan saya tuliskan narasi berikut foto-foto kunjungan Presiden Sukarno ke Soviet. Saat ini, saya tengah mengedit dan menyempurnakan narasi, agar lebih tergambar suasana kunjungan, serta lebih mudah ditangkap pembaca generasi sekarang. Tunggu yaaa…. (roso daras)

Published in: on 30 Desember 2013 at 11:40  Comments (14)  
Tags: , , ,

Pilih Muso atau Bung Karno

muso dan logo PKIBerat nian perjalanan Republik Indonesia. Ibarat Gatotkaca, sesaat setelah kelahirannya, ia harus digembleng di kawah candradimuka. Nasib republik benar-benar menjadi pertaruhan dan pertarungan sengit antarelemen bangsa yang hendak memaksakan ideologi dan kepentingannya.

Di saat Sekutu mendarat. Di kala Sukarno mengungsi ke Yogya. Pemerintah Republik Indonesia seperti sebuah sampan di tengah samudera. Diombang-ambingkan gelombang, dihempas badai. Sekelompok elite ingin memaksakan sebuah bentuk negara Uni Belanda. Pelopornya adalah Sutan Sjahrir. Di sisi lain, ektremis kanan menghendaki sebuah bentuk negara Islam. Sementara, tokoh kiri seperti Muso, Alimin, Amir Sjarifuddin, berusaha agar komunis menjadi ideologi negara.

Pertentangan tadi terus memuncak. Masing-masing pihak “bergerilya” dengan caranya. Yang kanan mencoba cara-cara kanan. Yang kiri mencoba cara-cara kiri. Yang bukan keduanya, mencoba dengan aneka cara. Bung Karno? Dia final dengan Pancasila sebagai ideologi negara.

Akan tetapi, dalam suasana gelombang pasang, maka pasang-surut keadaan menjadi begitu dinamis. Sementara kelompok Sutan Sjahrir melakukan lobby-lobby tertentu dengan Belanda, maka para tokoh komunis menjalin sebuah poros ke Uni Soviet.  Sedangkan, Sukarno sendiri masih menjadi incaran polisi Belanda. Sukarno masih menghadapi ancaman-ancaman pembunuhan dari polisi Belanda. Sukarno masih berjuang menegakkan pemerintahan republik yang masih compang-camping.

Sang kala menginjak hari ke-18 bulan September tahun 1948 ketika Muso, Alimin, Suriono dan para tokoh kiri lain memproklamasikan Pemerintah Komunis Uni Soviet di Indonesia. Deklarasi itu dikumandangkan di Madiun, Jawa Timur, sebagai sebuah bentuk makar, sebagai sebuah ingkar atas negara proklamasi 17 Agustus 1945. Ironinya, proklamasi pemerintahan komunis itu justru didukung oleh Menteri Pertahanan Amir Sjarifuddin. Bung Karno shock dibuatnya.

Di tengah kejaran polisi Belanda, di tengah kondisi pemerintahan transisi di Yogyakarta, Bung Karno segera mengambil sikap tegas atas peristiwa yang disebut “Madiun Affair” itu. Melalui siaran radio nasional, Bung Karno bertanya kepada seluruh rakyat Indonesia, “Pilih Muso atau Bung Karno”. Dalam konteks kalimat yang lebih lengkap, Bung Karno mengumandangkan situasi aktual tentang peristiwa Madiun dan menyuruh rakyat menentukan pilihan, “Pilih Sukarno-Hatta atau Muso dengan PKI-nya”.

Tidak butuh waktu lama, ketika Sukarno mendapat jawab, rakyat masih solid di belakang dwitunggal Sukarno-Hatta. Maka Sukarno pun langsung memerintahkan Divisi Siliwangi di bawah pimpinan AH Nasution untuk menumpas pemerintahan komunis Soviet di Indonesia pimpinan Muso. Hanya dalam tempo sebulan, Oktober 1948 Divisi Siliwangi menggempur pemerintahan komunis pimpinan Muso.

“Suwe mijet wohing ranti”… tidak memerlukan waktu lama, pemberontakan itu berhasil ditumpas. Muso sendiri tewas dalam suatu “pertempuran kecil sekali”. Pemberontakan pun padam dengan lekas. Sejumlah pentolan yang tertangkap hidup-hidup seperti Amir Sjarifuddin, Suriono dan lain-lain, digelandang ke ibukota negara, Yogyakarta untuk diadili.

Amir dan Suriono Tertangkap

Selesaikah persoalan bangsa dan negara muda bernama Republik Indonesia? Ah, jauh panggang dari api. Sesaat setelah itu, Bung Karno dan sejumlah tokoh politik negeri, ditangkap Belanda dan dibuang ke Sumatera. Ya, tiga bulan setelah “peristiwa Madiun”, sejarah kita memiliki peristiwa penting yang lain lagi. (roso daras)