Guntur Bicara Bung Karno di Tokyo

img-20161103-wa0048Kapan terakhir kali Anda mendengar Guntur Soekarnoputra berbicara tentang bapaknya? Dalam forum resmi, tidak pernah. Dus, bisa jadi, inilah kali pertama, Guntur bicara tentang bapaknya di forum resmi. Forum simposium mengenai Sukarno, yang digelar Universitas Kokushikan, Tokyo, 3 November 2016.

Hari itu, Pusat Studi Asia-Jepang, Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Kokushikan mengelar simposium dengan pidato utama oleh putri tunggalnya, Puti Guntur Soekarno. Selain mendengarkan pidato Puti, simposium juga menghadirkan empat pembicara: Dua dari Indonesia dan dua dari Jepang.

Dari Indonesia, tampil Bonnie Triyana (Majalah Historia) dengan topik “Mencari Sukarno Sejati”, dan Prof Dr Dadan Umar Daihani (Universitas Trisakti Jakarta) dengan topik “Bung Karno: Dunia Pendidikan dan Peradaban Bangsa”. Sedangkan dari Jepang, tampil Prof Masakatsu Tozu (profesor emeritus Universitas Kokushikan) dengan makalah “Politik Nasionalisme Soekarno dan Batik: Penciptaan Budaya Nasional di Indonesia”, serta Kaoru Kochi (Dosen Universitas Tokyo) yang mengangkat topik “Hubungan Indonesia – Jepang dan Kajian Mengenai Soekarno di Jepang”.

Kurang dari dua jam, empat pembicara pun selesai menyampaikan presentasinya. Hingga tanya-jawab berlangsung, tampak Guntur, tetap tekun mengikuti. Dalam usia yang 72 tahun, bisa dibilang, Guntur sangat antusias dengan simposium hari itu.

Di pengujung acara tanya-jawab, tiba-tiba ia mengangkat tangan tinggi-tinggi. Spontan hadirin terhenyak. Tak kurang dari moderator, Tokubumi Shibata yang tak lain adalah Direktur Pusat Studi Asia-Jepang, Universitas Kokushikan, sekaligus cucu dari pendiri universitas tersebut, Tokujiro Shibata.

Bergegas petugas mengantarkan mic ke hadapan Guntur. Sempat agak susah-payah bangun dari sofa yang didudukinya di deret paling depan. Begitu berdiri, ia langsung melancarkan tanggapan atas keempat pembicara.

Yang pertama ditanggapi adalah Bonnie Triyana. Bonnie yang antara lain mengupas usaha desukarnoisasi oleh presiden Soeharto, menyinggung tentang penempatan sosok Sukarno dalam era Orde Baru yang ditenggelamkan. Dimulai dari tudingan, baik langsung maupun tak langsung, oleh Orde Baru kepada Bung Karno sebagai tokoh yang terlibat dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965.

Guntur menanggapi khusus pada penggalan “tudingan bapaknya terlibat G-30-S”. “Itu sama sekali salah. Saya tegaskan sekali lagi, tudingan itu tidak betul!” ujar Guntur lantang. Putra sulung Bung Karno itu lantas mengoreksi istilah G-30-S dengan Gestok (Gerakan Satu Oktober). Sebuah gerakan yang terjadi karena adanya oknum-oknum baik di tubuh PKI maupun di tubuh Angkatan Darat, serta adanya intervensi asing.

Gerakan mahasiswa yang dimotori Angkatan Darat, adalah satu gerakan masif, terstruktur dan berbiaya besar. Amerika Serikat berada di belakang gerakan penjatuhan Bung Karno. “Jadi ini sekaligus menegaskan dan melusurkan sejarah. Bagaimana mungkin Bung Karno yang saat itu masih berkuasa, dituding melakukan aksi makar yang itu artinya menggulingkan dirinya sendiri?” ujar Guntur yang berbicara sambil berdiri.

guntur-soekarnoputra

Tanggapan kedua diberikan kepada pembicara kedua, Prof Dr Dadan Umar Daihani. Guntur mengawali dengan intermezo kepada Dadan yang sama-sama lulusan ITB. Kampus yang kebetulan sama dengan kampus Bung Karno menyelesaikan pendidikan insinyurnya. “Kita sama-sama ITB kan? Berarti semboyan kita sama, In Harmonia Progressio….” Prof Dadan tertawa dan mengangguk-angguk.

Selanjutnya Guntur masuk ke materi presentasi Dadan, yang menyoroti pentingnya aspek pendidikan. Mas Tok, begitu ia akrab disapa, mengatakan, bahwa benar pendidikan itu penting. Tetapi ada yang lebih penting dari sekadar pendidikan, yaitu pendidikan karakter bangsa, nation and character building. Bung Karno melakukan itu kepada bangsa Indonesia. Sehingga meski dalam usia muda dan baru merdeka, bangsa Indonesia bisa segera bangkit dari bangsa inlander menjadi bangsa yang memiliki kepercayaan diri tinggi.

Nah, dalam politik, yang tidak kalah penting adalah pembangunan jaringan dan kekuatan. Bung Karno sering mengistilahkan dalam gerakan politiknya dengan istilah machtsvorming, atau pembentukan kuasa atau kekuatan. Dalam konteks politik dunia, Bung Karno lantas melakukannya dengan menghimpun negara-negara Asia-Afrika menjadi sebuah kekuatan untuk mencapai tujuan bersama. Ketika itu, tahun 1955, bangsa-bangsa Asia dan Afrika ditambah Amerika Latin, berhimpun dan menjadi sebuah kekuatan baru di antara hegemoni Barat dan Timur.

Selain itu, Guntur juga menyinggung soal hakikat kemerdekaan. Hakikat inti dari kemerdekaan sebuah bangsa adalah Trisakti, yang lagi-lagi merupakan ajaran Bung Karno. Berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkebudayaan yang berkepribadian. Mari kita lihat, apakah Indonesia sudah merdeka? Kalau pengertiannya berhasil menjadi negara dan lepas dari penjajahan, mungkin jawabnya sudah. Tetapi apakah sudah berhasil menjalankan Trisakti? “Belum,” kata Guntur menjawab pertanyaannya sendiri.

Karena itu, Trisakti harus terus diperjuangkan. Bukan hanya oleh bangsa Indonesia, tetapi oleh seluruh bangsa di dunia. Sebab, esensi merdeka ya Trisakti itu, kata Guntur.

guntur-s

Cukup lama Guntur berbicara. Menyadari waktu yang telah ia pakai, Guntur segera bertanya kepada audiens. “Apakah bosan mendengarkan saya bicara? Yang bosan tunjuk tangan,” katanya. Audiens yang mengerti bahasa Indonesia spontan mengatakan, “Tidak!” Tetapi bagi yang tidak paham bahasa Indonesia diam… dan baru menjawab “Tidak” setelah penerjemah mengartikan kata-kata Guntur.

Maka, Guntur pun melanjutkan tanggapannya. Kali ini ia menyorot Prof Tozu. “Bicara kesana kesini, ujung-ujungnya ke batik juga,” kata Guntur disambut tawa hadirin. “Tapi, dia memang begitu. Sejak kenal saya, kalau ke Jakarta, saya ajak makan, saya ajak ngobrol. Tapi obrolannya ya berakhir ke masalah batik. Karena itu, sudahlah, saya tidak akan banyak komentar kepada profesor ahli batik yang satu ini,” kata Guntur, lagi-lagi disambut tawa hadirin.

Terhadap pembicara terakhir, Kochi, Guntur mengutip kalimat, “Bung Karno benci kepada Amerika Serikat”. Untuk kalimat itu, Guntur menanggapi, “Bung Karno tidak benci kepada Amerika Serikat. Bung Karno hormat, cinta, dan bersahabat dengan rakyat Amerika Serikat. Yang Bung Karno benci adalah pemerintahannya. Ini pun ada kisahnya.”

Guntur mengisahkan pada satu masa, di mana Indonesia membutuhkan bantuan. Bantuan yang tidak lain adalah utang luar negeri. Pada saat itu, Amerika Serikat bersedia mengulurkan bantuan (baca: utang), tetapi dengan syarat-syarat politik. “Nah, dalam rangka teguh pada pendirian Trisakti itulah, Bung Karno menolak mentah-mentah bantuan yang bersyarat. Keluarlah kata-kata Bung Karno yang terkenal, go to hell with yor aid,” Guntur mengucapkan kalimat terakhir dengan nada bergetar. Hadirin pun bertepuk tangan.

Yang terakhir ditegaskan Guntur adalah mengenai ideologi Bung Karno. “Ideologi Bung Karno bukan Pancasila, bukan Islam. Ideologi Bung Karno adalah marhaenisme,” tegas Guntur. Bung Karno beranggapan, pisau analisa tajam dalam ideologi yang digunakannya ada tiga. Pertama, historis-materialistis; kedua, geopolitik; dan ketiga tentang psikologi massa. “Adonan, atau jladren dari ketiga pisau analisa itulah yang digunakan Bung Karno dalam kebijakan politik, sosial, dan budaya,” tandasnya.

Karena itulah, Bung Karno pernah mengatakan, “Di dalam cita-cita politikku, aku adalah seorang nasionalis. Di dalam cita-cita sosialku, aku adalah seorang sosialis. Dan di dalam cita-cita sukmaku, aku sama sekali theis. Percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa,” tegas Guntur sekaligus mengakhiri tanggapannya yang panjang.

Usai berbicara, panitia memberi kejutan pemberian karangan bunga kepada Guntur, yang hari itu 3 November, berulang tahun ke-72. Penyerahan bunga diserahkan oleh salah seorang mahasiswa Universitas Kokushikan, program studi Indonesia, diiringi nyanyian lagi “Happy Birthday”. (roso daras)

Jpeg

Iklan

Jepang, Aku Datang

puti-guntur-dan-roso-darasSuatu hari, saya terlibat obrolan ringan di sebuah kedai roti bakar bersama Ari Nurcahyo, aktivis PARA Syndicate. Dalam riset yang dia kerjakan bersama timnya, tersaji fakta menarik. Ia menyebut dua contoh…. Pertama, atas pertanyaan kepada responden yang umumnya generasi muda, “siapa pahlawan idola kamu?” Jawaban “Sukarno” ada di urutan teratas, disusul pilihan kedua RA Kartini, ketiga Jenderal Sudirman, dan seterusnya. Kedua, pertanyaan kurang lebih, “negara maju mana yang sebaiknya ditiru Indonesia?” Jawaban teratas “Jepang”, baru negara-negara maju lain.

Nah, ini kebetulan soal Sukarno dan Jepang. Tanggal 1 – 5 November 2016 ini, saya mengikuti rombongan Puti Guntur Soekarno ke Negeri Sakura. Dus, ini pula yang menarik, mengaitkan hasil riset Ari dengan melihat langsung ke sana.

Puti Guntur dijadwalkan memberi pidato umum di Universitas Kokushikan, Tokyo pada hari Kamis, 3 November 2016. Teks pidato yang sudah ia siapkan, diberinya judul “Pancasila, Menuju Tata Dunia Baru”. Sontak saya teringat pidato kakeknya di PBB pada tanggal 30 September 1960 yang berjudul “To Build the World a New”.

Lebih menarik bagi saya, karena di Universitas Kokushikan, sudah hadir “Soekarno Research Center”  Peresmian pusat kajian ini dilakukan di Asia Japan Research Center Universitas Kokushikan Tokyo, Rabu 22 Juli 2015. Pada kesempatan itu, Puti Guntur memberikan pidato kebudayaan berjudul “Pancasila Bintang Penuntun”. Hadir juga putra sulung Bung Karno, Guntur Soekarnoputra dan istri, Henny.

Menurut Profesor Shibata Tokubumi, Kepala Asia Japan Research Center, pembentukan kajian Sukarno ini dilatarbelakangi kondisi dunia saat ini yang dilanda berbagai konflik yang disebabkan berbagai perbedaan yang hendak dipaksakan. “Kepemimpinan Sukarno meninggalkan warisan sekaligus pelajaran bagi dunia berupa filosofi yang mengedepankan harmoni untuk menaklukkan perbedaan yang terkandung dalam semboyan negara Bhineka Tunggal Ika”.

Senada dengan Shibata, Rektor Universitas Kokushikan, Profesor Nobuyuki Miura mengingatkan kembali peran dan jasa Sukarno membangun kekuatan Asia untuk melawan hegemoni Barat. Antara lain melalui Konferensi Asia Afrika dan pesta olah raga negara-negara baru dalam Ganefo.

Jepang… aku datang. (roso daras)

Amplop Merah Guntur Soekarnoputra

IMG-20160626-WA0057

Dalam usia 72 tahun (lahir 3 November 1944), putra sulung Bung Karno dari Fatmawati ini, masih tampak bugar. Hadir dalam acara ulang tahun putrinya, Puti Guntur Soekarno di Kemang Timur VI, Jakarta Selatan, Minggu 26 Juni 2016 lalu, Guntur Soekarnoputra menjadi ayah yang turut berbahagia bagi putrinya.

Apalagi, perayaan ulang tahun yang dibarengkan dengan momen buka bersama anak-anak yatim piatu itu, juga mendapat perhatian kerabat dan handai taulan. Dari lingkungan keluarga, tampak hadir Guruh Soekarnoputra, Puan Maharani, Prananda, dan banyak lainnya. Kolega Guntur, seperti Anwar Nasution, Tito Karnavian (Kapolri terpilih), dan masih banyak lainnya, seperti rekan seperjuangan PDI-P, maupun jajaran koleganya di DPR RI. Tak ketinggalan, sahabat-sahabat UI juga tampak memeriahkan suasana.

Momentum sowan dan “ngangsu kaweruh” kepada Guntur menjadi keharusan, kukira. Alhasil, dengan tidak memanjakan perut melalui aneka hidangan lezat, maka berbicara dengan Guntur jauh lebih “mengenyangkan”. Topik “warisan ilmu Sukarnoisme” kepada sang putri, saya pilih, dan kukira pas dalam momentum malam itu.

“Saya ralatif jarang memberi wejangan (tentang ajaran Sukarno) kepada Puti. Yang saya lakukan adalah dengan menulis. Tulisan-tulisan itu secara berkala saya kirimkan kepada Puti dan suaminya, Joey,” kata Guntur membuka narasi.

Guntur menulis apa saja yang dianggapnya perlu dan layak diketahui sang putri. Baik terkait materi buku Di Bawa Bendera Revolusi, maupun ajaran-ajaran bapaknya yang lain. Dengan menulis, kata Guntur, petuah, wejangan, atau apa pun tulisan itu diberi nama, menjadi lebih abadi, dan bisa dibaca berulang-ulang. Dengan menulis pula, segala yang hendak dikemukakan, menjadi lebih terstruktur.

Yang unik barangkali, naskah-naskah tulisan Guntur kepada Puti dan Joey, selalu ia kirimkan dalam kemasan amplop berwarna merah. “Belakangan baru saya tahu, atas tulisan-tulisan saya yang saya kirimkan selama ini, mereka (Puti dan Joey) namakan ‘amplop merah dari papa’… he…he…he… Terserah mereka saja….,” ujar Guntur dengan wajah sumringah.

Materi apa saja yang Guntur tuliskan? Ada banyak. Soal demokrasi Pancasila… soal Pancasila itu sendiri, soal revolusi, sosialisme, dan beberapa topik lain…. “Ada berapa banyak Mas Tok menulis untuk Puti?” sergah saya, dan sambil menerawang, Guntur menukas, “Yaaa… mungkin belasan… tidak ingat saya….” (roso daras)

Published in: on 28 Juni 2016 at 16:23  Comments (6)  
Tags: , , ,

Codot pun Ingin Melihat Ni Pollok

bung karno dan ni pollokNi Pollok adalah legenda penari Bali. Akan tetapi belum ada yang menyebutkan bahwa Ni Pollok juga memiliki andil cukup besar bagi pertumbuhan dunia pariwisata Bali. Kisahnya bermula dari momen tahun 30-an, saat ia menari legong. Satu di antara penontonnya adalah pelukis asal Belgia, Le Mayeur.

Kisah selanjutnya bak roman pujangga, Le Mayeur berkenalan dengan Ni Pollok, kemudian meminta kesediaannya menjadi model untuk dilukis. Gayung bersambut. Maka lahirlah lukisan-lukisan eksotis Le Mayeur. Sosok Ni Pollok tertuang ke dalam kanvas. Begitu natural hingga ke keadaan wanita Bali tahun 30-an yang tidak memakai penutup dada.

Le Mayeur kemudian memamerkan karya-karyanya di Singapura tahun 1934. Di sana, ia menuai sukses besar. Bukan saja semua karyanya terjual, tetapi melalui lukisan Ni Pollok, banyak warga dunia ingin berkunjung ke Bali.

ni pollok dalam lukisanSekembali dari Singapura tahun 1935, Le Mayeur melamar dan menikahi Ni Pollok. Dengan uang hasil penjualan lukisan-lukisannya, mereka membangun rumah yang sangat indah di kawasan Sanur.

Baiklah… lantas apa hubungannya dengan Bung Karno? Bung Karno adalah salah satu kolektor lukisan Le Mayeur. Bung Karno mengoleksi salah satu lukisan dengan model Ni Pollok yang tengah rebahan di dipan dengan latar belakang bunga-bunga aneka warna. Penutup dada? Ya, tentu saja tanpa penutup dada.

Bukan hanya mengoleksi lukisannya, Bung Karno juga berkenalan dan berteman baik dengan keluarga Le Mayeur, termasuk dengan Ni Pollok. Beberapa kali dalam kunjungannya ke Tampak Siring, Bung Karno menyempatkan singgah di rumah Le Mayeur.

ni pollok-2Bukan hanya itu. Bung Karno juga acap melakukan perawatan sendiri terhadap semua lukisan koleksinya. Termasuk lukisan Le Mayeur dengan model Ni Pollok yang eksotik itu. Walhasil, ketika salah satu sudut lukisan Ni Pollok ada yang rusak karena terkena kotoran codot, Bung Karno langsung memerintahkan Guntur putra sulungnya, untuk mengambilkan cat.

Ini kejadian di suatu hari di tahun 1964, seperti dituturkan Guntur. Bung Karno diiringi Guntur dan pengurus Istana, Pak Adung dan Pak Sueb, berkeliling ruang-ruang Istana memeriksa lukisan-lukisan yang rusak. Tiba di ruang makan keluarga, Bung Karno berhenti dan menurunkan lukisan telanjang Ni Pollok.

Bung Karno mulai mengaduk-campur cat untuk memperbaiki sudut lukisan yang rusak. Dan terjadilah dialog ini:

“Pak, bu Pollok di sini kelihatannya kok muda amat ya. Yang aku lihat waktu kita makan-makan di rumahnya di Bali kan sudah tua.”

“Biar tua, cantiknya tetap,” jawab Bung Karno.

“Doyan minum jamu barangkali.”

ni pollokBung Karno menukas, “Tak tahulah. Apalagi waktu mudahnya… teteknya besar dan bagus bentuknya.”

Guntur terkesiap, “Dari mana bapak tau?”

“Dulu zaman Belanda ada potretnya.”

Guntur makin penasaran, “Kalau yang di lukisan itu teteknya bagus nggak pak?”

Santai Bung Karno menjawab, “Bagus, buktinya codot juga ingin lihat-lihat, sampai … o’ok.”

Usai memperbaiki lukisan Ni Pollok, Bung Karno melanjutkan inspeksinya ke ruangan-ruangan yang lain. Meneliti satu demi satu lukisan masterpiece yang terpajang. (roso daras)

Mega Menyebutnya “WC Istimewa”

kencing di semakTidak biasanya, Guntur Soekarnoputra bangun siang. Tapi kebetulan, pada suatu pagi di akhir tahun 1964, dia bangun siang karena malamnya ada aktivitas bersama teman-teman kampus. Dia kuliah di Bandung, tetapi sehubungan musim penerimaan mahasiswa baru, dia dan rekan-rekannya memasang sejumlah poster di Jakarta. “Mencari massa untuk organisasi kemahasiswaan,” katanya.

Pukul 09.00, usai bermalas-malasan, Guntur duduk di kursi malas yang terbuat dari rotan yang ada di beranda belakang Istana. Dari kursi ini, Guntur bisa memandang hamparan taman yang indah. Di situ juga nyaman digunakan untuk membaca koran, majalah, sambil minum teh atau kopi.

Di kursi itu pula Bung Karno duduk setiap pagi untuk membaca koran dan majalah. Ya, di kursi yang pagi itu diduduki Guntur. Selagi asyik membaca, ia melihat sekelebat sosok manusia masuk ke semak-semak tak jauh dari beranda istana.

Guntur mengamati ke arah semak-semak hingga keluarlah sosok bapaknya. Guntur tentu berpikir, “Apa yang dikerjakan bapak di semak-semak Istana. Sementara ia mendengar suara banyak tamu di istana,” gumam Guntur dalam hati.

Hingga Guntur memutuskan mandi kurang lebih dua jam sejak ia melihat bapaknya keluar semak, setidaknya Guntur sudah melihat bapaknya dua-tiga kali masuk ke semak-semak tadi. Sehabis mandi, Guntur melanjutkan duduk-duduk santai di kursi rotan kesayangan keluarga itu. Baru saja ia mendaratkan pantat di bantal kursi rotan, ia sudah melihat bapaknya keluar dari semak-semak.

Makin penasaran saja Guntur melihat bapaknya yang bolak-balik ke semak Istana. Ia mengurungkan semua agenda siang itu, dan spesial menunggu bapaknya usai menerima tamu. Ia membaca sambil menunggu bapaknya selesai menerima tamu, menandatangani surat-surat penting, dan aktivitas lainnya.

Jarum jam menunjuk pukul 14.30 ketika bapaknya turun dari beranda dan berjalan hendak menuju kamarnya. Guntur bergegas menyusul, “Pak… pak….” Bung Karno menghentkan langkah demi mendengar Guntur memanggilnya. “Ada apa?”

Mas Tok gelagapan bertanya, “Anu… emmmm…. anu… emmm… tadi saya perhatikan bapak keluar-masuk semak, ngapain?”

Bung Karno tertawa terbahak…. “Ooo… itu… Kencing!!! Bapak nguyuh… ha…ha…ha…,” sambil berlalu meninggalkan Guntur yang melongo. Lepas dari kekagetannya mendengar jawaban yang tidak pernah terlintas di benaknya (presiden kencing di semak-semak), Guntur mengolah alasan mengapa bapaknya melakukannya. Ia hanya menemukan dugaan yang kira-kira paling masuk akal. Jarak beranda ke toilet tamu, tak kurang dari 40 meter. Sedang jarak ke kamar mandi utama dan anak-anaknya, lebih jauh lagi, sekitar 70 – 80 meter. Sedangkan jarak beranda ke semak itu hanya sekitar 6 meter!!!

Beberapa hari kemudian, ketika Guntur kembali ke Bandung melanjutkan aktivitas kuliah, yang pertama ia sampaikan ke adiknya, Megawati adalah kejadian “bapak bolak-balik masuk semak, yang ternyata kencing”. Mega, yang sudah tahu kebiasaan Bapaknya, tidak terlalu kaget. Ia malah menimpali, “Semak itu sekarang malah sudah jadi WC Istimewa. Bukan cuma bapak yang kencing di situ, tapi para menteri dan duta besar juga….” (roso daras)

Dua Bujang Lokal: Sukarno – Kennedy

Keakraban Bung Karno – Kennedy? Tak diragukan lagi, dunia pun mengetahuinya. Bagi yang gemar ber”andai-andai”, selalu saja akan melantunkan kalimat, “Andai saja Kennedy tidak mati terbunuh… hubungan Amerika Serikat – Indonesia tidak akan seburuk akhir dekade 60-an.” Bahkan ada yang mengandaikan, “andai saja Kennedy tidak mati tertembak, Soeharto tidak akan jadi presiden.” Dan masih banyak “andai-andai” yang lain.

Semua “andai” tak penting lagi sekarang. Kennedy sudah menjadi sejarah. Bung Karno juga sudah menjadi sejarah. Hubungan Amerika – Indonesia bahkan masih menorehkan jalannya sejarah. Begitu hakikat sejarah hingga Tuhan menamatkan riwayat kehidupan dunia.

Menukil kemesraan hubungan Bung Karno – Kennedy, selalu saja menarik. Bukan saja menyangkut dua sosok kepala negara, tetapi juga menyangkut sisi-sisi humanisme dua orang paling berpengaruh pada zamannya. Kennedy dengan super power Amerikanya, Bung Karno dengan New Emerging Forces-nya. Dua kekuatan maha dahsyat yang jika bersatu, tidak ada satu negara pun mampu menggoyangnya. Tidak ada satu blok negara-negara pun yang bisa menandinginya.

Adalah Guntur Soekarnoputra yang pada tahun 1961 berkesempatan makan siang di ruang makan White House. Ia dan adiknya, Megawati, diajak sang bapak, menghadiri jamuan makan siang di Gedung Putih. Menurut catatan Guntur dalam bukunya, semua makanan yang dihidangkan sama sekali tidak ada yang menggugah selera, kecuali satu… steak daging sapi yang begitu enyak…enyak… enyak.….

Singkatnya, Guntur sangat menikmati saat garpu menusuk daging, dan pisau diiris-iriskan di permukaan daging, lantas sekerat daging empuk menghampiri lidah… melayanglah cita rasa steak ala White House. Nah, entah tusukan yang keberapa, entah irisan yang keberapa… Guntur menjumpai bagian daging yang begitu alot. Itu artinya, Guntur harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk menundukkan si daging alot tadi. Apa yang terjadi kemudian? Pada irisan dengan tekanan penuh, si daging pun melawan… mencelat dan… wuusshhh… daging itu terbang melayang… jatuh tepat di piring Presiden Kennedy!

Wajah keenakan Guntur berubah menjadi pucat… takut… dan Kennedy tahu situasi itu, kemudian mencairkan suasana dengan kalimat bersahabat dalam bahasa Indonesia terbata-bata… “Hati-hati… tidak apa-apa… rupanya juru masak kami kurang teliti dalam memasak steak sehingga agak alot untuk diiris….”

Bung Karno menimpali, “Well John… rupanya putraku tahu bahwa kau sekarang punya senjata ampuh paling mutakhir yaitu ICBM (inter continental balistic missiles) sehingga ia mengirimkan juga sebuah “missiles”-nya buat tandingannya.”

“Ha…ha…ha… that’s right….” Kennedy tertawa menyambut humor Bung Karno. Tapi pasti di benaknya ia berpikir keras, darimana Sukarno tahu Amerika sekarang punya ICBM? Sedangkan informasi itu masuk kategori top secret di Amerika Serikat. Bahkan rakyat Amerika sendiri tidak tahu.

Syahdan… jamuan makan siang pun selesai. Giliran acara berpamitan. Kennedy sebagai tuan rumah yang baik, mengiringkan langkah Bung Karno keluar White House menuju mobil kepresidenan yang hendak membawa Bung Karno dan rombongan kembali ke hotel. Sambil berjalan, keduanya pun bercakap-cakap… tetap dengan akrabnya…. “John, dari tadi saya tidak melihat Jackie… ke mana dia?”

Kennedy spontan menjawab, “Oh ya… tadi aku lupa menyampaikan permintaan maafnya. Ia berhalangan ikut makan siang bersama kita karena sedang ke luar kota untuk suatu acara. Dan itu berarti, bahwa di Washington malam ini ada dua orang ‘bujangan’ yang berbahagia!!! Kau dan saya!!! Betul atau tidak Mr President?”

“Ha…ha…ha… John…. Kau betul-betul sahabatku yang baik.” (roso daras)

Published in: on 29 Juli 2010 at 09:40  Comments (8)  
Tags: , , , ,

Guntur Ngebut, Bung Karno Sewot

Entah mimpi apa malamnya… pulang sekolah Guntur kena semprot bapaknya. Suatu siang, sepulang sekolah pengawal mencegat Guntur yang berjalan beriringan dengan adiknya, Megawati. Keduanya diberi tahu, sudah ditunggu Bapak di meja makan. Seketika, Guntur dan Mega bergegas masuk kamar masing-masing, berganti pakaian, dan segera menuju ruang makan Istana Merdeka. Ini peristiwa tahun 1962 yang dituturkan Guntur dalam bukunya, “Bung Karno, Bapakku, Kawanku, Guruku”.

“Hei kamu, sini duduk di samping Bapak,” kata Bung Karno demi melihat anaknya memasuki ruang makan. “Salam dulu tuh sama Om Chaerul,” imbuh Bung Karno. Spontan Guntur pun menyapa, “Halo om…,” berkata begitu Guntur mengulurkan tangan hendak bersalaman. Tergopoh-gopoh Chaerul menyambut tetapi dengan tangan kiri… “Waaah… bagaimana ini salamannya, tangan om kotor… pakai tangan kiri sajalah….” sahut Chaerul Saleh yang memang tengah santap siang menggunakan tangan.

“Nah, itu Mega! Dis, ini Pak Chaerul, ayo salam,” kata Bung Karno demi melihat Mega muncul di meja makan. Bung Karno memanggil Mega dengan sebutan Dis… Gadis….

Mengobrollah Bung Karno dan Chaerul Saleh, salah satu menteri di kabinetnya tentang politik. Guntur dan Mega asyik makan, keduanya menilai obrolan Bapak dan om Chaerul begitu rumit… politik dan politik.

Ibarat ritme, obrolan pun mulai mengendor manakala Bung Karno dan Chaerul Saleh mengalihkan topik tentang pemuda. Bung Karno mencontohkan Chaerul sebagai tokoh pemuda saat melawan Jepang. Bung Karno juga menyinggung betapa para pemuda pada zaman itu begitu patriotik, gigih dan sederhana. Sebaliknya, Bung Karno mengkritik beberapa sikap generasi muda pada tahun itu.

Tibalah saatnya Bung Karno ingat akan suatu peristiwa yang kemudian menyodok sudut amarah di hatinya. “Oh ya! Masih dalam hubungan dengan pemuda sekarang! Aku dapat laporan dari kepolisian, kau setir mobil seperti setan di jalanan, sampai-sampai itu adiknya Baby Huwae kau tabrak! Ya… apa… ndak!” berkata begitu Bung Karno melotot ke arah Guntur.

Guntur yang belum selesai makan benar, gelagapan dibuatnya…. Setengah gugup ia menjawab, “Y…y…y… ya pak tapi yang salah dia.”

Bung Karno tambah meradang mendengar jawaban Guntur, putra sulungnya. Ia semprot lagi, “Tidak peduli siapa yang salah. Pokoknya kau setir seperti setan… iya apa ndak! Awas! Jangan sekali-kali lagi! Sekali lagi aku dengar, Bapak perintahkan bakar kau punya mobil!”

Guntur pun terdiam. Kemudian Chaerul Saleh sang menteri mencoba mencairkan suasana, “Tur… apa yang Bapak katakan itu betul… sebaiknya kalau mengendarai mobil perlahan-lahan saja, supaya aman. Bila terjadi kecelakaan, yang akan susah toh Bapak juga….”

Tak diduga, tak dinyana…. Bung Karno balik menatap tajam ke arah Chaerul dan berkata keras, “Heeeh…!!! Rul !!! Dia ini nyetirnya gila-gilaan lantaran kau! Dikira aku tidak tahu?!” Mendapat semprotan Presiden, Chaerul ciut juga…. Bung Karno melanjutkan kalimatnya, “Ya memang! Aku dapat laporan kau dan Guntur sering balap-balapan di daerah Kebayoran, persisnya di Jalan Sisingamangaraja dan Senopati. Dan aku dapat laporan juga bahwa sekarang ini tukang-tukang becak di daerah Cikini semuanya lari ketakutan diserempet kalau melihat mobil Kharman Ghia merah kepunyaan kalian! Kai ini memang terlalu Rul!!! Jij… itu menteriku!!! Jadi jangan ngros-boy!”

Chaerul berkata pelan. Pelaaan sekali, “Yaah… sesekali pak….”

Singkat cerita, sesi Bung Karno memarahi Guntur dan Chaerul akibat gemar kebut-kebutan itu pun selesai. Bung Karno dan Chaerul melanjutkan obrolan politik di kamar Bung Karno. Guntur menunggu di dekat mobil Chaerul di tempat parkir. Tak lama, Chaerul keluar kamar Bung Karno dan menuju mobil.

“Om… bapak masih marah?” sapa Guntur kepada Chaerul.

“Ah… tidak…” Kemudian Chaerul dan Guntur pun membuat rencana… rencana yang biasa dilakukan keduanya, kebut-kebutan. “Om tidak ada acara. Ayo ke Sisingamangaraja… OK?”

Guntur sigap menjawab, “Beres om! Lima menit lagi saya ada di sana!” Berkata begitu, Guntur menghambur ke parkiran mobilnya, VW Kharman Ghia warna merah. Distarter dan dikebutlah ke arah Kebayoran Baru…. (roso daras)

Published in: on 23 Juli 2010 at 13:29  Comments (4)  
Tags: , ,

Guntur Main Yoyo Bersama Julia

guntur dan julia, anaknya wapres Nixon main yoyo washington 56

Umur 12 tahun, Guntur diajak serta dalam kunjungan perdana Bung Karno ke Amerika Serikat. Dalam kunjungan selama kurang lebih tiga pekan itu, Guntur mengikuti hampir seluruh agenda non-formal bapaknya.Termasuk mengunjungi Hollywood, Disneyland, dan tempat-tempat lain.

Tidak hanya itu, Guntur juga sempat bersosialisasi dengan keluarga Wakil Presiden Nixon. Bahkan seperti tampak pada foto, Guntur tengah bermain yoyo bersama Julia, putri Wakil Presiden Nixon. Entahlah, apakah Guntur masih menjalin komunikasi dengan Julia Nixon? (roso daras)

bersam guntur di Disnayland

Published in: on 25 September 2009 at 05:20  Comments (1)  
Tags: , , , ,