Bung Karno Ata Ende

Bk Ata EndeSidang pembaca blog yang mulia, beberapa waktu lalu, saya terbenam dalam aktivitas menapak tilas Ende, Flores sekitar tiga minggu lamanya. Ada begitu banyak jejak Bung Karno yang tertapak. Ada begitu banyak langkah yang belum terjamah. Hidup di Ende sebagai seorang buangan selama 4-tahun-9-bulan, Bung Karno mewariskan banyak hal.

Bukan hanya warisan nilai-nilai nasionalisme pada masyarakat Ende. Bukan hanya mewariskan kebanggaan tinggal di satu daerah yang terpatri erat dengan sosok Bung Karno. Bukan hanya nilai-nilai ideologi dan religi yang menjadi lentera generasi penerus.

Untuk beberapa saat, apa pun yang menarik minat, spontan menjadi bahan tulisan, dan segera menghiasai blog ini. Tiba-tiba, terlintas pemikiran, “Mengapa tidak membuatnya menjadi buku?” Ya, tergerak hati untuk membuat buku sepulang dari Ende. Karena itu, aktivitas memposting materi tentang Ende menjadi terhenti, dan berkonsentrasi mewujudkannya menjadi buku.

Di tengah aktivitas menyusun tulisan demi tulisan untuk materi buku, terpikir pula “alangkah baiknya kalau buku ini bisa selesai cepat, dan terbit bersamaan dengan pemutaran perdana film ‘Ketika Bung di Ende’.” Berhubung yang memungkinkan itu adalah pihak pelaksana produksi film, maka ide itu pun saya sorongkan ke mas Baskoro. Orang di balik layar yang memungkinkan produksi film itu terjadi.

Baskoro pula yang kemudian meneruskan ide tadi ke pimpinannya, direktur PT Cahaya Kristal Media Utama (Cakrisma), pelaksana produksi film tersebut. Egy Massadiah, pimpinan sekaligus owner Cakrisma, (ndilalah….) setuju dan menyambut baik. Syahdan, Baskoro mem-follow up ke Kemendikbud, sedangkan saya harus kerja ekstra untuk menulis cepat, mengejar jadwal terbit berbarengan dengan pemutaran film, yang dijadwalkan 28 November 2013.

Buku ini pun saya susun bersama Egy Massadiah yang juga mantan jurnalis. Kurang lebih tiga hari yang lalu, green light Ditjen Kebudayaan sudah menyala. Kata ACC dari Jusuf Kalla sebagai salah satu pemberi kata pengantar, juga sudah didapat (berkat kedekatan Egy dan JK). Mata rantai yang begitu panjang (cenderung birokratis) akhirnya terlampaui semua.

Last minutes, lampu hijau itu menyala, dan hanya menyisakan waktu beberapa hari saja untuk mencetak. Beruntung, sejak jauh-jauh hari, saya sudah mengurus ISBN ke Perpustakaan Nasional. Sehingga satu-satunya masalah adalah bagaimana proses pencetakan bisa cepat. Ini soal teknis saja.

Buku berjudul “Bung Karno Ata Ende” ini (ata, bahasa Flores yang berarti “saya”), berisi tiga bagian utama. Bagian pertama tentang sisi lain pembuatan film “Ketika Bung di Ende” (6 judul). Bagian kedua tentang “Romansa Ujung Dunia” (20 judul), dan bagian ketiga tentang “Ende Bumi Inspirasi” (8 judul), sehingga total buku ini berisikan 34 judul tulisan. Keseluruhan materi buku tersaji dalam buku setebal 268 halaman, plus 19 halaman daftar isi, kata pengantar Jusuf Kalla (mantan Wapres, tokoh perdamaian, penggiat ekonomi kawasan Indonesia Timur, Ketua PMI, dll), dan Prof. Kacung Marijan (Dirjen Kebudayaan, Kemendikbud).

Semoga, buku ini dapat membuka cakrawala kita lebih luas dalam memandang sejarah Sukarno, khususnya yang terkait antara Bung Karno dan masa-masa pembuangan di Ende, Flores (1934 – 1938). Sebagai penulis, saya pribadi merasa belum puas. Saya bisa pastikan, meski sudah terbukukan, tetapi serpihan-serpihan sejarah lain tentang Bung Karno di Ende, masih teramat banyak yang tercecer.

Ya, sikap tidak puas memang harus saya pelihara. Hanya dengan cara itu, semangat kembali ke Ende, untuk menggali dan mengais serpihan-serpihan sejarah Bung Karno lainnya, tetap terjaga. Bukankah Tuhan Maha Mendengar keinginan hambanya? (roso daras)

Published in: on 24 November 2013 at 15:06  Comments (10)  
Tags: , , , , ,

Karawang-Bekasi, dari Puisi Menjadi Koran

Ini adalah tentang semangat melanjutkan perjuangan para pejuang. Perwujudannya dalam bentuk menerbitkan sebuah suratkabar nasional dengan nama “Karawang Bekasi”. Nama dua kota di timur Jakarta, yang tidak sekadar bermakna dua daerah kabupaten. Karawang – Bekasi, juga bermakna ribuan mayat berkalang tanah, dalam pertempuran mempertahankan kemerdekaan. Simak puisi Chairil Anwar berikut ini:

Karawang-Bekasi

Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi

Chairil Anwar (1948)

Puisi di atas, menggambarkan pembantaian rakyat Karawang – Bekasi oleh tentara KNIL, tentara penjajah Belanda yang berniat merangsek kembali ke Tanah Air. Membonceng tentara NICA (tahun 1946), mereka hendak melanggengkan kekuasaan kolonial Hindia Belanda, dan membunuh embrio NKRI yang baru saja diproklamasikan oleh Bung Karno – Hatta, atas nama Bangsa Indonesia.

Adalah sekelompok laskar pejuang pimpinan Lukas, yang pada malam hari menyusup ibukota dan melakukan serangan sporadis terhadap sentral-sentral tentara Belanda. Setelah berhasil menyerang, mencuri senjata, mereka melarikan diri ke arah timur, antara Karawang – Bekasi. Begitu dilakukan berkali-kali, hingga tentara KNIL murka dan melakukan sweeping ke daerah Karawang – Bekasi.

Para laskar pejuang yang dicari tidak ketemu, maka rakyat antara Karawang – Bekasi digelandang ke area terbuka kemudian diberondong senapan. Dibunuh dengan bengisnya. Yang mati tidak hanya para pemuda, tetapi juga orang tua, wanita, bahkan anak-anak tak berdosa. Peristiwa itu terjadi tahun 1947, dan kini diabadikan dalam monumen Rawagede, Karawang.

Chairil Anwar, penyair yang menyaksikan langsung ribuan mayat terkapar di sepanjang Karawang – Bekasi, lantas mengekspresikannya dalam puisi yang sangat legendaris tersebut. Puisi yang sangat menyentuh, terlebih jika kita mengenangkan peristiwa tragedi pembantaian itu. Mereka mati, tanpa pernah lagi bisa melawan. Mereka mati tanpa pernah tahu, apakah kemerdekaan akan langgeng. Mereka tidak tahu, apakah dirinya akan tinggal menjadi tulang-belulang diliputi debu, atau sebuah pengorbanan yang sepadan untuk kemerdekaan. “Kenang-kenanglah kami”, rintih para jenazah yang disuarakan Chairil Anwar.

Spirit perjuangan, spirit pengorbanan untuk kemerdekaan, telah merasuki sejumlah jurnalis, senior dan muda, untuk menghimpunkan diri dalam kerja tim menerbitkan sebuah suratkabar nasional dengan mengabadikan nama “Karawang – Bekasi”. Pemimpin Umum suratkabar itu adalah seorang nasionalis, Sukarnois asal suku Sabu, NTT, Peter A. Rohi. Sedangkan Roso Daras (ehm…) menjabat Pemimpin Redaksi. Suratkabar ini telah diluncurkan di Karawang, Kamis, 14 November 2013. Mohon doa restu. (roso daras)

launching karbek

Published in: on 14 November 2013 at 14:50  Comments (4)  
Tags: , , , ,

Fatmawati di “Melawan Lupa”

fatmawati melawan lupa

Hari ini, Selasa 12 November 2013, pukul 23.05 malam, Metro TV menayangkan program “Melawan Lupa”. Kali ini, topik yang diangkat tentang Ibu Negara yang pertama, Fatmawati. Adalah Aji Baskoro, reporter Metro TV yang menghubungi serta meminta kesediaan saya menjadi salah satu (dari empat) narasumber program tersebut. Saya spontan menjawab, “Kenapa tidak Inggit Garnasih?” Aji menjawab, “Eposide Inggit sudah pernah, sekarang kita akan mengangkat Fatmawati.”

Saat saya memposting tulisan ini, sama sekali belum tahu, bagian-bagian mana dari wawancara saya yang ditayangkan, dan bagian-bagian mana yang tidak ditayangkan alias kena edit. Sebelum wawancara dilakukan pun, saya sudah menyampaikan ke Metro TV untuk diperkenankan memotret sosok Fatmawati secara jujur. Jujur dari pengamatan saya tentunya.

Sekalipun begitu, saya memiliki gunting sensor sendiri atas apa-apa yang harus dan patut dikemukakan, dan bagian-bagian mana yang tidak baik untuk konsumsi publik. Sebab, seperti halnya Bung Karno, maka sejatinya istri-istri Sukarno pun memiliki banyak dimensi sebagai seorang manusia. Termasuk sudut kelebihan dan kekurangan. Jika terhadap Bung Karno, siapa saja bisa menyoal sisi-sisi yang dipandang negatif, mengapa tidak kepada istri-istrinya?

Beberapa contoh saya kemukakan di sini…. Ihwal Fatmawati yang meninggalkan Istana (baca: meninggalkan suami). Ihwal, sikapnya yang keras kepala untuk tidak mau menengok Bung Karno saat tergolek sekarat di Wisma Yaso. Bahkan, sikapnya yang menolak melayat, menengok jenazah Bung Karno saat wafat 21 Juni 1970. Tentu saja Famawati punya alasan tersendiri, mengapa dia bersikap demikian. Landasan sikapnya, barangkali hanya dia dan  Tuhan yang tahu.

Saya, dan mungkin Anda, hanya bisa menebak-nebak tentang mengapa Fatmawati berbuat demikian. Salah satu kemungkinan, kemungkinan terbesar (sekaligus terbenar) adalah karena kecemburuan dan penolakannya, ketika Bung Karno meminta izin menikahi Hartini (bahkan kemudian Ratna Sari Dewi, dan seterusnya….).

Jika itu yang terjadi, memang berbeda dengan Inggit, yang tegas tidak mau dimadu, dan minta dicerai dulu, sebelum Bung Karno menikahi Fatmawati. Nah, sikap itu tidak pernah ditunjukkan Fatmawati kepada Bung Karno. Kesimpulannya, Fatmawati meninggalkan Bung Karno dalam status masih sebagai istri.

Bayangkan, baru satu contoh saja yang kita angkat, sudah begitu banyak dan panjang interpretasi yang bisa disuguhkan. Jika Anda seorang wanita anti-poligami, tentu punya pendapat sendiri. Jika Anda seorang pengkaji hukum-hukum Islam, tentu punya pendapat tersendiri tentang sikap Fatmawati kada Sukarno, suaminya. Jika Anda melihat dari disiplin yang lain lagi, sangat mungkin melahirkan pendapat yang juga berbeda.

Apa yang hendak saya simpulkan? Bahwa sebagai generasi penerus, kita harus mencoba melihat para tokoh pendahulu dengan lebih arif dan bijak. Terakhir, mengingat jasa-jasanya kepada nusa dan bangsa, terimalah para pahlawan itu dengan segala kelebihan dan kekurangannya. (roso daras)

Kekejera Kaya Manuk Branjangan…

Teguh TwanSyahdan, menjelang Pemilu 1955, Bung Karno melakukan perjalanan darat ke Jawa Barat, Jawa Tengah, lanjut ke Jawa Timur. Banyak kota dikunjunginya dalam perjalanan itu. Ini adalah sepenggal kisah saat Bung Karno singgah di salah satu kota di Jawa Tengah. Kota di pesisir selatan Pulau Jawa bernama Kebumen. Di alun-alun utama kota itu, Bung Karno langsung menggelar rapat akbar.

Kisah ini dinarasikan kembali dengan kalimat terbata-bata oleh Teguh Twan, pematung kenamaan kota Kebumen. Seniman patung lulusan ASRI Yogyakarta tahun ’60-an yang telah melahirkan banyak karya patung (dan karya lukis). Pematung keturunan Tionghoa kelahiran tahun 1939 itu, menceritakan pengalamannya menyaksikan pidato Bung Karno secara langsung di Alun-alun Kebumen. Ketika itu, usianya 16 tahun.

“Dulu, setiap kegiatan Bung Karno, baik di  dalam maupun di luar negeri, selalu disiarkan Kantor Penerangan Kabupaten. Bagi masyarakat yang belum punya radio, kalau mau mengikuti berita-berita, pergi ke Kantor Penerangan. Kantor itu menyiarkan berita-berita melalui pengeras suara. Masyarakat bisa mendengarkan langsung. Termasuk berita-berita tentang Bung Karno,” ujar Twan (diucapkan: Toan), mengenang masa-masa itu.

Ihwal kunjungan Bung Karno ke Kebumen, lelaki yang tinggal di Jalan Pemuda, Kebumen itu  mengisahkan sejumlah kejadian yang disebutnya aneh tapi nyata. Bung Karno singgah di pendopo kabupaten. Pagi itu, Kebumen diguyur hujan lebat. Masyarakat yang sudah berbondong-bondong datang ke Alun-alun, berteduh di rumah-rumah penduduk di sekitar Alun-alun, atau sekadar berteduh di bawah pohon. Beberapa yang lain menggunakan pelepah daun pisang sebagai penutup kepala. Sementara, podium dan perlengkapan pengeras suara sudah siap di Alun-alun. Hanya ada beberapa pekerja (panitia) saja di sekitar podium.

Sesaat sebelum Bung Karno keluar pendopo menuju Alun-alun untuk berpidato, hujan reda! Ya, hujan yang turun dari shubuh dalam intensitas besar, serta tidak ada tanda-tanda akan berhenti, mendadak berhenti begitu Bung Karno hendak berpidato. Saat itulah, ribuan manusia keluar dari tempatnya berteduh, menyerbu  ke tengah Alun–alun. Suasana Alun-alun yang tadinya sepi orang, hanya dalam hitungan detik sudah penuh dengan lautan manusia.

Bung Karno berjalan kaki diiringi pengawal dan kepala daerah. Segera ia  naik ke podium dan memulai pidatonya. “Hening…. Saking heningnya, suara kokok ayam di kejauhan bisa terdengar…,” ujar Twan. Massa mendengarkan pidato Bung Karrno yang begitu hebat, begitu berapi-api, dengan sangat khidmat. Di penggalan–penggalan pidato, saat terdapat jeda usai nada bicara yang menggelegar dari Bung Karno, sorak-sorai massa begitu menggemuruh. “Saya tidak pernah melupakan kejadian itu,” kenangnya.

Ada banyak wejangan Presiden Sukarno ketika itu, tetapi hanya sepenggal kalimat Bung Karno yang ia masih ingat di usianya yang ke-74 tahun. “Bung Karno bilang begini, ‘“kekejera kaya manuk branjangan, kopat-kapita kaya ula tapak angin, hei Londo, mreneo, iki dadaku!!!”.

Kekejer: gerakan yang bergetar. Disamakan dengan gerak burung branjangan. Kopat-kapit adalah gerakan ekor. Bagian ekor ular tapak angin suka bergerak-gerak lincah. Menggambarkan kelincahan yang disamakan dengan ekor ular tapak angin. Kalimat itu sering digunakan oleh ki Dalang dalam pementasan wayang, sebagai sesumbar sebelum mengajak berperang lawan. Bung Karno menambahi dengan “Hei Londo mreneo, iki dadaku!” (Hei, Belanda… kesinilah. Ini dada saya!!!).

Gemuruh tempik-sorak massa begitu membakar suasana pasca hujan reda. Saat itu, 10 tahun usia kemerdekaan bangsa kita, masyarakat masih dihinggapi euforia kebebasan. Semangat menentang penjajah masih berkobar-kobar dari bangsa yang baru 10 tahun lepas dari jerat penjajahan selama 3,5 abad lamanya.

Mata Teguh Twan berkaca-kaca ketika menceritakan kenangan tentang Bung Karno. Lelaki yang kini terganggu kesehatannya akibat gejala stroke yang menyerangnya setahun lalu, seolah tak dirasa ketika bercerita tentang Bung Karno. Saat saya tanya, “Bapak seorang Sukarnois?” Tenang dia menjawab, “Saya bukan Sukarnois, tetapi di antara 1,3 juta penduduk Kebumen, saya yakin, sayalah yang paling banyak memiliki foto-foto Bung Karno!”

“Ah!!! Itu lebih dari sekadar Sukarnois, pak!” saya menyergah. Twan hanya terkekeh… mata sipitnya pun menyempit membentuk garis, lalu menambahkan, “Tidak ada lagi orang sehebat Bung Karno. Saya…, bangsa ini, merindukan orang seperti dia.” (roso daras)