Rencana Cover ke-3, Dipilih…Dipilih…

Dua hari lalu, penerbit Imania mengirimkan rencana cover buku yang ke-3. Seperti postingan terdahulu, dalam buku ketiga dan Insya Allah selanjutnya, pendekatan judul serta content mixed, dibuat sedikit berbeda dari dua buku terdahulu. Kali ini, fokus tulisan pada “perseteruan” Bung Karno dan Kartosoewirjo.

Ah, tapi ini bukan posting tentang konten buku ketiga. Selain tidak membuat Anda penasaran untuk membaca (tepatnya: membeli) buku ini, juga karena saya ingin berbagi dan minta masukan sidang pembaca blog ini sekalian, terhadap rancangan cover yang telah disiapkan penerbit. Ada dua rancangan cover, seperti terlihat di bawah ini: versi A dan versi B.

Nah, atas pilihan cover tersebut, saya pribadi memiliki beberapa catatan. Misalnya, komposisi judul dan foto, saya cenderung melilih yang B, dengan catatan, boks bertuliskan “The Other Stories 3” lebih dirapatkan ke atas, menempel teks “Serpihan Sejarah yang Tercecer”. Keseluruhan judul juga bisa lebih ke atas.

Kemudian, ilustrasi perang baratayudha dalam epik Mahabarata itu, saya cenderung memilih yang versi A. Sebab, warna sephia di versi A rasanya lebih cocok dengan desain yang B. Dengan sedikit penguasaan software adobe photoshop, beberapa catatan tersebut saya wujudkan menjadi seperti di bawah ini:

Nah, bagaimana menurut Anda? (roso daras)

Iklan
Published in: on 23 Juni 2011 at 05:28  Comments (8)  
Tags: , , , , ,

Amerika Serikat di Belakang Kartosoewirjo

Nekolim, neo kolonialisme dan imperialisme … kolonialisme dan imperialisme wajah baru, sejatinya sudah dari dulu menjadi musuh bangsa. Bahkan sejak tahun 60-an, Bung Karno sudah memberi peringatan kepada bangsa ini untuk senantiasa waspada. Bukan hanya memberi peringatan, lebih dari itu, Bung Karno juga menunjukkan garis politik nekolim. Karena itu, sebelum mengajak bangsa ini mewaspadi dan membentengi diri dari bahaya nekolim, Bung Karno pun memberi rujukannya.

Atas dasar politik internasional, kata Bung Karno, kita mengetahui garis politik nekolim melalui “kitab-kitab” mereka, yang terbuka bagi siapa saja mempelajarinya. Bung Karno menyebut Maurice West dengan “kitab nekolim” berjudul West The Ambassador, kemudian ada lagi “kitab nekolim” karya Wilfred Buchet The Furtive War. Disebutkan lagi “kitab nekolim” tulisan Andrew Tully C.I.A, Rose The Invisible Government.

Secara gamblang, kita-kitab nekolim itu menyebutkan bahwa Cina (baca: komunisme) harus dieliminasi. Caranya begini, begitu, via selatan, via kanan, via kiri, dan seterusnya. Buku-buku itu memuat secara gamblang bagaimana strategi politik internasional nekolim. Penjajahan gaya baru pasca Perang Dunia II.

Dari sana bangsa ini bisa belajar, mengapa Amerika Serikat begitu membenci Sukarno. Bagaimana Amerika Serikat tidak menghendaki Sukarno (baca: Indonesia) berdekat-dekat dengan Cina. Bahkan Revolusi Indonesia di kala itu disebutnya sebagai the greatest danger spot bagi Nekolim di Asia Tenggara.

Bung Karno seorang nasionalis. Ia adalah poros tengah bagi dunia. Tidak ke kiri, tidak ke kanan. Ideologi Pancasila adalah jaminan tegak berdirnya bangsa dan negara ini. Semua gerakan, tindakan, dan langkah-langkah politik internasional Bung Karno sangat jelas dan transparan. Tidak mau didikte Barat, persetan dengan tekanan komunis. Karena itulah, ia menjadi “sangat berbahaya” di mata Amerika maupun Soviet.

Semua cara menggulingkan Bung Karno sejatinya sudah terjadi sejak awal negara ini berdiri. Komunis memproklamasikan diri. Islam memproklamasikan diri. Anasir Barat juga terus berusaha menancapkan kuku pengaruhnya melalui elite-elite politik ketika itu.

Dalam salah satu amanat, Bung Karno bahkan secara terang-terangan melakukan uit de school klappen, istilah Belanda untuk mengatakan “membuka sebuah rahasia”. Disebutkan, betapa dulu orang Amerika membenci Indonesia, terutama Presiden Sukarno. Ia menjadi bulan-bulanan pers Barat. Lebih dari itu, Bung Karno juga berkali-kali mengalami usah pembunuhan.

Selanjutnya, ia ungkap surat-surat dari Kartosoewirjo kepada para pengikutnya. “Heb ik zelf gelezen, hoor (saya baca sendiri, loo…,” kata Bung Karno. Surat Kartosoewirjo kepada orang-orangnya itu intinya adalah seruan agar terus berjuang (di bawah panji Negara Islam Indonesia) dengan segala macam jalan atau cara. Amerika staat achter ons. Amerika di belakang kita, dan berusahalan agar supaya Sukarno lenyap dari muka bumi.

Bahkan sebagai presiden, Bung Karno acap menerima surat dari para pengikut Kartosowirjo. Mereka terang-terangan mengancam untuk membunuhnya. Dan sejarah pun sudah mencatat tentang usaha pembunuhan terhadap Sukarno, baik lewat penggranatan di Perguruan Cikini, maupun saat shalat Idul Adha di masjid istana.

Salah satu surat itu menyebutkan, “Sukarno, Amerika berdiri di belakang kami. Meskipun engkau begitu, woordelijk betul, masuk leng semut, meskipun engkau masuk lubang semut, satu hari kami akan bisa dapatkan engkau. “Surat-surat itu, saya terima sendiri, saya baca sendiri,” tandas Bung Karno.

Apa yang terbeber di atas pada galibnya merupakan lembar sejarah. Menjadi aktual ketika negeri ini belakangan juga disibukkan dengan isu yang sama, NII. Satu benang merah yang bisa kita tarik dari bentang sejarah era 60-an hingga 2011 ini adalah, kekuatan nekolim masih begitu besar. Mereka terus dan terus berusaha merusak persatuan bangsa. “Indonesia pecah” adalah target utama nekolim.

Tahapan ke arah sana sudah berhasil mereka lakukan. Adanya undang-undang otonomi daerah yang menimbulkan sentimen kedaerahan semakin kental di negeri ini. Sistem demokrasi ala Barat, one man one vote melalui sistem pemilihan langsung, sesungguhnya adalah penggerogotan terhadap asas Pancasila.

Alhasil, kisah perseteruan kawan yang menjadi lawan antara Sukarno dan Kartosoewirjo, sesungguhnya bukanlah sebuah kisah sejarah yang berdiri sendiri, melainkan sebuah mata rantai yang bahkan masih aktual hingga hari ini. Tidak heran jika Bung Karno dalam berbagai kesempatan mengingatkan bangsanya untuk “jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”. Hanya bangsa yang tidak melupakan sejarah, akan menjadi bangsa yang kokoh. Sejarah adalah hikmah. (roso daras)

Published in: on 24 Mei 2011 at 07:39  Comments (14)  
Tags: , , , ,

Bharatayudha versi Bung Karno versus Kartosoewirjo

kartosoewirjo

Sesungguhnyalah, republik ini berdiri atas sokongan berbagai aliran ideologi. Sesungguhnyalah, aktivis-aktivis beraliran kiri, kanan, tengah, bahkan liberal sekalipun, ikut andil dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Hingga puncak proklamasi 17 Agustus 1945, mereka bersatu padu.

Bulir masalah baru menampakkan diri setelah proklamasi. Aliran liberal menghendaki Indonesia menjadi negara Uni Belanda dan menerapkan sistem demokrasi ala Barat. Para pejuang kiri, berusaha menjadikan komunisme menjadi ideologi negara. Sementara aktivis kanan, menghendaki lahirnya negara Islam.

Bung Karno? Proklamator dengan endapan banyak ideologi, mulai dari marxis, das capital, komunis, bahkan kajian¬† Alquran dan hadits, Injil, Weda dan berbagai kitab lain… Bapak Bangsa yang jatuh hati terhadap kultur dan budaya Nusantara dari Aceh hingga Papua, sama sekali tidak menghendaki Indonesia liberal, Indonesia negara Islam, Indonesia menjadi negara komunis, atau bentuk-bentuk negara lain.

Pancasila adalah ideologi yang ia tawarkan. Pancasila adalah ideologi yang tumbuh dari bumi pertiwi. Pancasila adalah hasil endapan pergulatan batin, intelektual dan budaya luhur bangsa ini. Terlebih, manakala ia tawarkan Pancasila pada pidato 1 Juni 1945, tidak satu pun tokoh bangsa ini yang menolak.

Jika kemudian Sukarno melangkah dengan panji Pancasila, itu karena ia meyakini, Pancasila saja yang paling pas dan cocok buat bangsanya. Ia pun mengayuh biduk Indonesia Raya ke samudera ganas. Ia dihantam ombak komunis, ia diterjang ombak kapitalis-imperialis, ia digoncang ekstrim kanan.

Beruntun percobaan pembunuhan terhadap dirinya, adalah suatu konsekuensi dari sikap yang kuat, demi tegaknya panji-panji NKRI di bawah ideologi Pancasila. Bahkan untuk prinsipnya, ia harus berseberangan dengan dua sahabat, Muso (kiri) dan Sekarmadji Maridjan (SM) Kartosoewirjo (kanan). Keduanya memberontak, keduanya ingin menumbangkan Sukarno dan pemerintahan proklamasi.

Aktivis pro Barat yang beraliran internasionalisme, pernah mencoba-coba membuat proklamasi tandingan di Cirebon. PKI pernah memberontak dan membentuk pemerintahan komunis poros Soviet di Madiun tahun 1948. Tak terkecuali, Kartosoewirjo pun memproklamasikan Negara Islam Indonesia (NII) di Tasikmalaya pada tanggal 7 Agustus 1949.

Harus diakui, “kawan yang menjadi lawan” paling tangguh bagi Sukarno adalah Kartosoewirjo. Dengan semangat dan jiwa militan, ia bahkan bisa melebarkan gerakan dan pengaruhnya hingga ke sebagian Pulau Jawa, Aceh, dan Sulawesi Selatan. Bersamaan dengan itu, Kartosoewirjo dengan DI-TII-nya memilih hutan-hutan di pegunungan Jawa Barat sebagai basis perjuangan melawan pemerintahan Sukarno.

Delapan alinea di atas, kiranya cukup buat mengantar ke inti masalah, ke saat-saat dimana prajurit TNI berhasil mendesak DI/TII, dan membuat Kartosoewirjo tak berdaya saat “dijemput” di Gunung Geber, Jawa Barat pada 4 Juni 1962. Sisa pasukan carut-marut tanpa imam besar yang sudah tertangkap.

Ada satu yang menarik. Sandi operasi penumpasan gerakan DI/TII oleh pasukan TNI adalah “Bharatayudha”. Sebuah sandi yang sarat makna. Dalam epik Mahabharata, perang Bharatayudha adalah perang antaradua kelompok bersaudara: Pandawa dan Kurawa. Mereka sama-sama keturunan Bharata. Satu kelompok adalah putra Pandu Dewanata, sang pewaris tahta Kerajaan Astina. Kelompok ini dinamakan Pandawa. Kelompok yang lain adalah para putra Destarata, adik Pandu Dewanata.

Akan halnya Bung Karno dan Kartosoewirjo. Keduanya adalah satu tumpah darah, darah Ibu Pertiwi bernama Indonesia. Jika Pandawa dan Kurawa sama-sama berguru kepada Begawan Drona, maka Bung Karno dan Kartosoewirjo pun sama-sama pernah berguru kepada HOS Cokroaminoto di Surabaya.

Konflik bathin dan pesan moral yang tinggi menyelimuti peperangan akbar itu. Bagaimana ketika seorang putra harus tega menghabisi nyawa pamannya. Bagaimana ketika seorang adik harus tega menghabisi nyawa kakaknya. Wejangan-wejangan Bathara Kresna kepada Arjuna agar menegakkan dharma kesatria, bahkan diabadikan dalam Kitab Bhagawad Gita.

Tak terkecuali ketika Bung Karno harus membunuh sahabat karibnya sendiri, saudara seperguruan, teman seperjuangan, Kartosoewirjo. Sebab, pengadilan memang memutuskan hukuman mati baginya. Bung Karno selaku Presiden harus menandatangani berkas vonis mati bagi kawannya.

Di sinilah batinnya berperang. Sejak ditangkap hingga tiga bulan kemudian, Bung Karno selalu menyingkirkan berkas kertas vonis mati atas diri Kartosoewirjo. Keesokan hari, manakala di antara berkas yang harus ditandatangani bertumpuk di atas meja kerja, dan ia dapati kembali berkas vonis mati bagi Kartosoewirjo, ia pun menyingkirkannya. Begitu berulang-ulang, hingga klimaksnya Bung Karno begitu frustrasi dan ia lempar berkas vonis tadi ke udara dan bercecer di lantai ruang kerjanya.

Adalah Megawati sang putri, yang secara khusus dipanggil pulang dari Bandung. Kepada sang ayah, Megawati bertutur laksana Kresna kepada Arjuna. Ia menggambarkan luhurnya hakikat pertemanan sejati. Mega pula yang menyadarkan sang ayah, agar menepati dharmanya sebagai kepala negara, kepala pemerintahan serta tidak mencampur-adukkan antara hakikat persahabatan dengan tugas dan fungsinya sebagai kepala negara.

September 1962, terpekur lama Bung Karno di meja kerjanya. Ia melambungkan memori masa muda di Surabaya, saat berasyik-ceria menebar canda bersama Kartosoewirjo. Ia mengingat hari-hari pergerakan menentang penjajahan Belanda maupun Jepang bersama-sama. Ia terngiang diskusi-diskusi politik, agama, kebangsaan dan apa saja yang begitu hangat.

Hari itu, ia harus menggoreskan tanda tangan di atas berkas vonis. Coretan tanda tangannya, sama arti dengan akhir dari kehidupan Kartosoewirjo. Ia pandangi kembali selembar foto Kartosoewirjo. Ia tatap berlama-lama, sambil berlinangan air mata. Dan benar adanya, ketika ia menerima laporan ihwal tertangkapnya Kartosoewirjo beberapa bulan sebelumnya, satu pertanyaan Bung Karno adalah, “Bagaimana matanya?”

Ketika tidak ada satu pun yang bisa menjawab, maka keesokan harinya, petugas menyodorkan foto Kartosoewirjo. Demi melihat foto sahabat yang memusuhinya, Bung Karno tersenyum dan berkata, “Sorot matanya masih tetap. Sorot matanya masih sama. Sorot matanya masih menyinarkan sorot mata seorang pejuang.”

Tegar hatinya untuk menandatangani berkas vonis mati bagi rekannya. Ikatan batin keduanya, kedalaman spiritual keduanya, bahkan abadi hingga hari ini. (roso daras)

Published in: on 19 Oktober 2009 at 04:32  Comments (31)  
Tags: , , ,

Bung Karno dan Kartosuwirjo, Saling Ejek, Saling Bunuh

Bung Karno dan Kartosoewirjo

Jika panggung sejarah hanya berisi dua tokoh: Bung Karno dan Kartosoewirjo, maka yang terjadi adalah sebuah drama tragedi kehidupan yang sangat dramatis. Bahkan, hampir bisa dipastikan, jauh lebih mencekam dibanding lakon “Lawan Catur”, sebuah naskah drama karya Kenneth Arthur (Kenneth Sawyer Goodman) yang diterjemahkan dengan apik oleh almarhum Rendra.

Lakon “Lawan Catur”, hanya menyuguhkan tokoh Samuel dan Antonio. Keduanya terlibat permainan catur yang penuh trik, penuh strategi, penuh konflik, dan… secara keseluruhan begitu memukau, mencekam, dan pada akhirnya menghibur. Sedangkan tokoh Oscar dan Verka lebih sebagai pemain figuran. Repertoar itu begitu memukau di tangan sutradara handal seperti Rendra.

Tak ubahnya Bung Karno dan Kartosuwirjo. Sejak tahun 1918 keduanya terlibat jalinan pertemanan yang kental di rumah HOS Cokroaminoto, Surabaya. Mereka bahu-membahu berjuang demi kejayaan negeri bersama Cokro. Akan tetapi, di bagian akhir, keduanya terlibat perbedaan paham yang keras. Bung Karno yang nasionalis berselubungkan Pancasila. Karwosoewirjo bergaris Islam ekstrim, dan menghendaki Indonesia menjadi negara Islam. Dengan sutradara Tuhan Yang Maha Agung, “drama” keduanya benar-benar mencekam, dengan ending yang tragis.

Melayang ke tahun 1918, 1919 …¬† dan masa-masa di sekitar itu, Bung Karno dan Kartosoewirjo benar-benar berkarib. Di luar konteks kebangsaan, mereka bergaul layaknya anak muda pada zamannya. Termasuk, saling ledek, saling ejek, dan saling lempar canda dan tawa.

Ingat kebiasaan Bung Karno berpidato di depan kaca di dalam kamar yang pengap dan gelap? Ya, di satu kamar paling ujung, satu-satunya kamar tak berjendela sehingga siang-malam Bung Karno harus menyalakan pelita, Bung Karno acap berpidato berapi-api. Dari luar kamar, teriakan-teriakan Bung Karno membahana. Sekali-dua, rekan-rekan satu pemondokan menegurnya. Akan tetapi, ketika Bung Karno tidak juga menghentikan kebiasaannya berpidato di depan cermin… mereka pun mengabaikan.

Nah, salah satu penghuni rumah yang tak bosan berkomentar atas ulah Bung Karno hanyalah Kartosoewirjo. “Hei Karno… buat apa berpidato di depan kaca… seperti orang gila saja….” Kartosoewirjo tak bosan mengejek dan melempar ledekan kepada Bung Karno? Atas itu semua, Bung Karno tak menggubris. Ia melanjutkan orasinya, meski hanya didengar tembok dan sekawanan cicak, nyamuk, dan keremangan suasana.

Usai berpidato, barulah Bung Karno membalas ledekan Kartosoewirjo. Pertama-tama, Bung Karno akan mengatakan apa yang ia lakukan adalah salah satu persiapan menjadi orang besar…. Jika Kartosoewirjo meladeni, maka aksi saling ledek pun berlanjut. Ibarat “lawan catur” langkah skakmat Bung Karno untuk membungkam ejekan Kartosoewirjo adalah kalimat menusuk seperti ini, “… tidak seperti kamu…. udah kurus, kecil, pendek, keriting… mana bisa jadi orang besar!”

Lakon terus bergulir. Keduanya terus memperjuangkan ideologinya. Keduanya bertujuan memberi yang terbaik buat bangsanya. Sampailah Bung Karno pada proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 dan menjadi Presiden Republik Indonesia yang pertama. Sedangkan Kartosoewirjo, meski pernah direkrut Bung Karno sebagai Wakil Menteri Pertahanan, tetapi ideologi garis kanan tak luntur.

Alih-alih menopang republik yang baru seumur jagung, Kartosoewirjo nyempal dan mendirikan Darul Islam/Negara Islam Indonesia (DI/NII). Bahkan tahun 1948, Kartosoewirjo memakulmatkan perang kepada Bung Karno (pemerintah yang sah). Lalu dua tahun kemudian, 1950, ia menyalakkan api perang dengan statemennya, “Bunuh Sukarno. Dialah penghalang pembentukan Negara Islam.”

Sejak itu, sejumlah usaha pembunuhan terhadap Bung Karno pun dilakukan oleh para teroris anak buah Kartosoewirjo. Peristiwa penggranatan Cikini 30 November 1957 adalah salah satu saja dari sekian banyak rentetan percobaan pembunuhan terhadap Bung Karno oleh anak buah Kartosoewirjo. Masih ada peristiwa lain seperti penembakan Istana oleh Maukar. Kemudian penembakan waktu Bung Karno sedang shalat Idul Adha di masjid Istana, dan lain-lain upaya yang semuanya gagal.

Sebaliknya, TNI berhasil mendesak DI/NII, menangkap gembong Kartosoewirjo… dan ia pun dihukum mati. Akan tetapi, sebelum Bung Karno menandatangani surat persetujuan eksekusi mati, juga tersimpan kisah menarik yang sungguh mengharukan. Bagaimana kisahnya? (roso daras)

Published in: on 17 Oktober 2009 at 02:47  Comments (24)  
Tags: , , ,