Surat dari Ende untuk KITA

Syahdan, 24 Oktober 2015 lalu, ada email masuk. Mengingat materinya begitu menyentuh, izinkan saya berbagi dengan sidang pembaca blog yang mulia. Begini bunyi surat-elektronik itu:

i nyoman krisnayanaSalam dari Ende Bung Roso Daras, perkenalkan nama saya adalah I Nyoman Krisnayana Tri Antara. Saya adalah Guru SM-3T (Sarjana Mendidik di Daerah terdepan, Terluar dan Tertinggal) dengan tempat penugasan Desa Ndoruea 1, Kecamatan Nangapanda.

Jika Bung Roso pernah mengunjungi Teluk Numba, Desa Numba adalah salah satu bagian dari Kecamatan ini. Saya adalah pembaca setia blog dari Bung. Saya juga membaca Buku Bung yang berjudul Total Bung Karno, jujur saya mengenal Bung Karno dari tulisan Bung Roso Daras, lalu anugerah Tuhan saya ditakdirkan Tuhan untuk mengabdikan diri di sini selama setahun.

Saya mengajar di SMA Karya Nangapanda. Izinkan saya bercerita Bung, ketika saya akan mencontohkan siswa-siswa agar berani tampil di depan kelas dan bercerita tentang apa pun saya memilih Tokoh Bung Karno yang akan saya ceritakan, betapa terkejutnya saya. Mereka mengetahui Bung Karno pernah diasingkan di Ende, tapi mereka tidak tahu makan ibu Amsi ada di sini, di Ende.

Mereka tidak tahu sosok Riwu Ga, mereka tidak tahu Bung Karno menyuakai Teluk Numba. Bahkan mereka tidak tahu tempat lahir Bung Karno. Saya sedang menghubungi dan menghimpun buku-buku untuk mereka baca, karena jujur kendati bangunan untuk Perpus telah ada namun buku bacaan sangat terbatas, akses internet kurang.

Sumber pengetahun utama mereka hanya Guru. Saya teringat akan Bung, oleh karena itu saya ingin memohon bantuan Bung untuk berkenan mengirimkan beberapa buku karangan bung untuk menjadi bahan bacaan mereka di Perpus, sehingga mereka lebih mengenali Bung Karno yang pernah tinggal di Ende.

Mohon maaf Bung jika permintaan saya terkesan memaksa, saya sampai hari ini masih sering berceita tentang Bung Karno dengan siswa-siswa saya, saya ingin mereka tidak hanya mengetahui bahwa Bung Karno diasingkan di Ende, tapi lebih tahu banyak hal lagi mengenai Bung Besar. Salam dari Ende Bung.

Sungguh, saya terharu dan bangga dengan pak guru I Nyoman Krisnayana Tri Antara. Karenanya, saya berniat meluluskan permintaannya. Untuk itu, saya membalas email Bli Antara, dan menanyakan detail alamat. Dan tiga hari kemudian, tepatnya 27 Oktober 2015, datanglah balasan sebagai berikut:

Merdeka, Salam Bung

Saya mengucapkan terimakasih atas bantuan ini, semoga banyak yang tergerak juga untuk ikut membantu.

Alamat Sekolah tempat kami mengabdi: SMA Karya Nangapanda, Jalan Jurusan Ende-Bajawa, Dusun Puuwaru, Desa Ndorurea 1, buku dari Bung bisa dikirim via Pos, ini contact yang bisa dihubungi 082146431154. Kadang-kadang Pihak Pos lebih suka meminta kami yang mengambil kiriman.

Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih, Insya Allah jika kiriman buku telah sampai saya akan kirimkan beberapa foto untuk Bung, terima kasih banyak Bung Roso Daras. Terima kasih telah membantu dan memberi saya inispirasi untuk datang ke Ende, saya banyak mengenal Bung Karno dari tulisan blog Bung Roso. Merdeka!!

Sidang pembaca blog yang mulia….

Beberapa judul buku saya tentu tidak akan berarti apa-apa dibanding kebutuhan akan buku bacaan di sekolah tempat Bli Antara mengajar. Untuk itu, melalui blog ini, dan melalui posting-an ini, saya memohon keikhlasan Anda, untuk mengirimkan buku-buku bacaan yang sekiranya bermanfaat, sekaligus mengisi perpustakaan yang sepertinya “besar ruang, kecil isi” itu.

Semoga, uluran tangan kita, memberi arti bagi masa depan anak-anak didik di Ende. ***

Published in: on 3 November 2015 at 11:55  Comments (4)  
Tags: , ,

Maaf, Sedang Belajar Sukarnoisme…

bk belajar sukarnoismeSidang pembaca blog yang saya muliakan….

Bukan sekali ini saya absen cukup lama dari aktivitas memposting tulisan baru seputar Bung Karno. Kemandegan sebelumnya, terjadi sekitar tahun 2011-an, saat saya terbenam dalam aktivitas menangani Timnas U-23.

Jika tahun 2011 saya lama absen menulis karena urusan sepakbola, maka kali ini justru karena “urusan belajar tentang Sukarnoisme”. Seperti tulisan dalam stiker di kaca belakang sopir bus zaman dulu: “dilarang berbicara dengan sopir”, rasa-rasanya, beberapa bulan terakhir, saya ingin sekali menempel stiker di jidat: “jangan berbicara dengan saya”.

Bermula dari kegelisahan tentang memudarnya spirit nasionalisme di bangsa kita. Merembet ke keprihatinan-keprihatinan lain tentang makin lebarnya jurang cita-cita pendiri bangsa dengan realita kehidupan berbangsa dan bernegara. Kemudian mengkristal menjadi sebuah tekad untuk lebih dalam lagi menggali ajaran Bung Karno, dan menyebarluaskannya.

Mengubah mindset bangsa tidaklah mudah. Katakanlah, melakukan propaganda anti-kapitalisme, sejatinya sebuah kemunafikan, di saat kehidupan kita dari bangun tidur hingga berangkat tidur, sudah dikepung kapitalisme. Katakan lagi, menyerukan cinta budaya Indonesia, menjadi naif manakala telinga dan mata dimanjakan budaya-budaya impor dari jam ke jamnya.

Bahwa kemudian saya memutuskan menjadi orang yang mungkin disebut munafik atau naif, biar saja. Sebab, tanpa menggelorakan Sukarnoisme, saya jauh akan merasa diri hina dan tak berguna. Jadilah saya menenggelamkan diri dalam belantara Sukarno lebih dalam dan lebih dalam lagi.

Tujuannya tak lain, adalah menulis dan menulis Sukarnoisme lebih banyak lagi. Lebih masif lagi. Dengan publikasi buku-buku Sukarnoisme, setidaknya saya berharap ada keseimbangan tema. Buku-buku yang memuat racikan bumbu-bumbu liberalisme, kapitalisme dan sejenisnya harus diimbangi buku-buku yang bisa menggugah dan membangkitkan semangat kebangsaan pada rel yang seharusnya.

Syahdan, sehubungan dengan aktivitas penulisan buku itulah, saya harus terus belajar dan belajar. Termasuk belajar dari buku “Beladjar Memahami Sukarno-isme” (1964) ini.

Buku ini berisi kumpulan tulisan di harian “Berita Indonesia”, di bawah judul rubrik tetap “Beladjar Memahami Sukarno-isme” yang termuat pada edisi nomor 1 sampai dengan 47. Ini, hanya satu dari sekian referensi yang harus saya baca. Buku-buku lain ternyata masih banyak. Beberapa judul, bahkan baru pertama saya lihat (baca). Buku-buku lain, sifatnya “penyegaran” dengan membaca ulang.

Buku apa gerangan yang sedang saya susun? Yang pasti tentang Sukarnoisme. Judul dan format tulisan, sudah terbayang (karena ini sesungguhnya merupakan gagasan lama yang belum juga terwujud). Semoga, Juni 2015 sudah bisa publish. Mohon doa restu. (roso daras)

Published in: on 20 Februari 2015 at 10:17  Comments (1)  
Tags: , ,

Persiapan “Total Bung Karno 2”

Sidang pembaca http://www.rosodaras.wordpress.com yang mulia….

Sungguh seperti sebuah beban yang menghimpit manakala menengok blog yang sudah lama tidak saya up-date. Bahkan tidak jarang mengganggu, sehingga membuat sulit tidur. Saya menyadari ini sebuah pertanggungjawaban moral, seperti ada utang yang belum terbayar kepada Anda, khususnya yang setia mengikuti blog ini, dengan harapan ada posting-an baru terkait Bung Karno.

Hingga akhirnya, di sebuah siang, dalam ketergesaan harus sgera berakitivitas, saya memaksa diri saya untuk menuliskan “maklumat” ini. Sebuah maklumat yang lebih pas saya sebut sebagai permintaan maaf atas belum sempatnya saya meng-up-date konten blog, terkait kesibukan yang luar biasa.

Ini bukan yang pertama. Sebelumnya, saya sempat vakum menulis untuk jangka yang juga cukup lama, lebih 3 bulan, karena tugas menjadi manajer Timnas U-23 pada SEA Games 2011. Nah, ini terulang karena kesibukan menerbitkan (kembali) Harian Nasional Karawang Bekasi, ditambah deadline penerbit Imania untuk menuntaskan naskah buku TOTAL BUNG KARNO 2.

Buku yang sedia luncur di bulan Juni ini, harus tuntas akhir bulan ini. Meski sebagian besar buku berasal dari konten blog, tetapi tetap saja membutuhkan waktu yang teramat khusus untuk mempersiapkannya. Sama  seperti buku-buku terdahulu, yang sebagian besar kontennya berasal dari blog, toh saya harus menyuntingnya kembali. Ada bagian-bagian yang saya harus hapus, dan mengganti dengan kalimat lain. Tidak sedikit juga materi yang harus saya tambahkan sumber referensinya agar menjadi lebih lengkap.

Las but not least, penerbit meminta naskah dalam jumlah yang tidak sedikit. Minimal harur seukuran sama dengan buku Total Bung Karno yang pertama, yakni setebal kurang lebih 444 halaman. Sekali lagi, mohon maaf lambat up-date, disertai harapan, semoga badai kepadatan segera berlalu, dan saya bisa kembali rutin memposting banyak materi tentang Bung Karno yang mash tersimpan di laci meja kerja, di rak-rak buku, dan di banyak sumber lain…. ***

Published in: on 27 April 2014 at 05:43  Comments (1)  
Tags: , ,

Agustus yang Hangat di Uni Soviet

Ini adalah tulisan pertama tentang kunjungan Presiden Sukarno ke Uni Soviet pada tanggal 28 Agustus 1956. Narasi yang tersedia memang sangat terbatas, jauh lebih sedikit dibanding jumlah foto yang disajikan. Karenanya, saat menikmati buku lawas berjudul “Kunjungan Presiden Republik Indonesia Sukarno ke Sowjet Uni” terbitan Penerbit Seni Lukis Negeri Moscow 1956 itu, ada rasa geram, haus akan narasi yang panjang. Sayang memang, keinginan itu tidak terkabulkan.

Merekonstruksi peristiwa itu, mungkin saja bisa dilakukan, tentu saja jika masih ada satu-dua saksi mata yang ikut serta dalam kunjungan tersebut. Melalui postingan ini, siapa tahu, kepingan puzzle yang entah di mana, bisa muncul dan melengkapinya menjadi sebuah cerita sejarah yang sangat menarik untuk generasi penerus.

Selama ini, sering kita mendengar cerita fantastis tentang betapa Bung Karno senantiasa mendapat sambutan luar biasa di negara mana pun yang ia kunjungi. Kebesaran nama Sukarno, ketika itu, bahkan lebih besar dari Indonesia itu sendiri.

Tak terkecuali, kunjungan Bung Karno dan rombongan ke Uni Soviet antara 28 Agustus – 12 September 1956. Bukan waktu yang sebentar. Akan tetapi, juga bukan waktu yang lama jika ingin mengunjungi negara yang maha besar (ketika itu).

Bung Karno Tiba di MoskowFoto di samping ini adalah foto Bung Karno saat keluar dari pintu pesawat, melambaikan tangan kepada para petinggi negeri dan rakyat Soviet yang menyambutnya. Pidato kedatangan Bung Karno dalam buku itu diringkas sebagai berikut, “Indonesia terpisahd ari Uni Soviet dengan lautan yang luas, dengan dataran dan pegunungan, akan tetapi kami merasa di sini seperti di rumah, seperti di antara keluarga kami sendiri.” Dalam rapat-rapat akbar selanjutnya, di kota mana pun Bung Karno singgah, kalimat di atas tidak pernah ketinggalan.

Sambutan itu membuktikan adanya rasa simpati yang hangat di hati rakyat Soviet terhadap rakyat suatu negeri yang jauh yang tidak sedikit sumbangannya dalam perjuangan kemerdekaan bangsa-bangsa Asia dan Afrika yang berjuta-juta itu. Kaum pekerja Uni Soviet menyambut Presiden Sukarno, seorang tokoh politik  dan tokoh negara terkemuka sebagai wakil rakyat Indonesia yang 80 juta jumlahnya, yang perwira dan cinta damai.

Kota Moskow 1956

Foto di atas adalah gambaran kota Moskow, Ibu Kota Uni Soviet, tahun 1956.

Bung Karno terima Penghormatan

Tampak di gambar sebelah kiri, Bung Karno membalas penghormatan dari komandan militer setempat, didampingi Ketua Presidium Soviet Tertinggi, K.E. Worosjilov. Selain disambut hampir semua petinggi negara, Bung Karno dan rombongan juga disambut upacara militer dengan parade pasukan penuh di bandara. Di samping itu, masih banyak kaum buruh dan rakyat Soviet yang ikut menyambut di bandara (dan nanti, di sepanjang jalan menuju Kremlin).

Bung Karno dan Worosjilov

Bung Karno disambut dengan sangat ramah oleh Ketua Presidium Soviet Tertinggi, K.E. Worosjilov dan Ketua Dewan Menteri Uni Soviet, N.A. Bulganin (tengah). Jika ada yang bilang, “foto bisa bicara”, maka yang terkesan dari foto di atas adalah, sambutan dan senyum yang sama-sama tulus dari kedua pemimpin negeri.

Yang satu pemimpin tertinggi salah satu negeri adi daya (ketika itu), yang satu adalah presiden dari sebuah negara yang baru 11 tahun merdeka, tetapi reputasi presidennya telah kesohor ke seantero penjuru bumi. Foto itu juga berbicara tentang kesetaraan antara dua kepala negara. Perhatikan bagaimana Bung Karno menjabat Worosjilov. Itulah jabatan tangan Bung Karno yang terkenal, “menggenggam habis” tangan yang disalaminya, seberapa besar pun tangan orang itu.

Kopiah yang menjadi ciri khas Bung Karno, serta kacamata hitam yang tetap melekat, disadari atau tidak, memancarkan aura percaya diri yang sangat tinggi. Terhadap presiden yang demikianlah, negara sebesar apa pun akan segan. Dengan kepala negara yang disegani, Indonesia pun menjadi negara yang disegani di dunia (ketika itu). (roso daras)

Buku Tua Kunjungan Bung Karno ke Uni Soviet

Buku Kunjungan BK ke SovietJalan menemukan jejak-jejak sejarah Bung Karno selalu saja terkuak tanpa rencana. Seperti berkah silaturahmi di suatu hari ke kediaman seniman Teguh Twan di Jl. Pemuda, Kebumen beberapa waktu lalu. Tanpa dinyana, seniman keturunan Tionghoa yang nasionalis itu menyimpan satu buku tua yang sangat langka: Kunjungan Presiden Republik Indonesia Sukarno ke Sowjet Uni. Di bagian bawah tertulis Penerbit Seni Lukis Negeri, Moscow, 1956.

Buku yang hampir semua halamannya sudah “mreteli” (terlepas jadi lembar-lembar terpisah) itu, berisi narasi singkat tentang kunjungan Bung Karno yang disertai sejumlah petinggi negeri itu ke sana. Selebihnya, berisi foto-foto otentik dan langka, yang menangkap momen-momen bersejarah selama Bung Karno berkunjung ke Soviet (sekarang Rusia).

Menyimak buku tersebut, terbayang, betapa rombongan Bung Karno disambut dengan begitu agung. Begitu mendarat, semua petinggi negeri komunis itu menyambut di bandara internasional setempat. Dalam perjalanan ke Kremlin, Bung Karno dan petinggi Soviet menaiki mobil terbuka. Di sepanjang jalan, berjejer lautan rakyat mengelu-elukan Bung Karno dengan bentangan spanduk bertuliskan kalimat-kalimat bersahabat.

Bukan hanya itu, dalam setiap kunjungan Bung Karno ke negara-negara bagian Soviet (yang saat ini sudah menjadi negara merdeka pasca pecahnya Soviet), Bung Karno senantiasa dielu-elukan masyarakat. Di setiap kota yang dikunjungi, selalu digelar rapat akbar yang dihadiri lautan masa. Bahkan dalam salah satu kunjungan, digelar khusus pertandingan persahabatan antara tim sepakbola Indonesia melawan tim sepakbola Uni Soviet.

Pesan-pesan rakyat Soviet kepada rakyat Indonesia tergambar dalam buku itu. Sangat menyentuh, meski dalam narasi yang tidak lagi up-to-date untuk konteks sekarang. Sempat terpikir untuk meng-up-date buku itu dan menerbitkannya kembali sebagai sumber referensi anak negeri.

Postingan selanjutnya, akan saya tuliskan narasi berikut foto-foto kunjungan Presiden Sukarno ke Soviet. Saat ini, saya tengah mengedit dan menyempurnakan narasi, agar lebih tergambar suasana kunjungan, serta lebih mudah ditangkap pembaca generasi sekarang. Tunggu yaaa…. (roso daras)

Published in: on 30 Desember 2013 at 11:40  Comments (14)  
Tags: , , ,

Bung Karno Sang Singa Podium

BK Singa PodiumSungguh saya bersyukur sekaligus mengapresiasi langkah Rhien Soemohadiwidjojo yang telah menulis dan memplublikasikan buku: “Bung Karno Sang Singa Podium”. Syahdan, penulis yang bernama asli Arini Tathagati ini beberapa bulan lalu menghubungi saya, meminta tulisan untuk endorsement buku setebal 427 halaman itu.

Seperti biasa, saya merasa tersanjung disusul mongkog hati, besar rasa, untuk meluluskan permintaan Arini, sesibuk apa pun. Apalah arti kesibukan rutin, dibanding memenuhi permintaan seorang penulis yang telah bersusah payah menulis buku tentang Bung Besar.

Buku terbitan Second Hope ini sudah beredar di  pasaran. Akan tetapi, terus terang, saya baru tahu setelah Arini berkirim email, mengabarkan ihwal telah beredarnya buku itu. Alhamdulillah, dia menanyakan alamat diiringi niatnya mengirim satu copy buku sebagai komplimen buat saya, tentu saja disertai  bubuhan tanda tangan sang penulis. Terima kasih. Buku sudah saya terima.

Buku ini berisi 8 (delapan) bab. Bab 1 Siapa tak Kenal Bung Karno. Bab 2 Bung Karno Sang Singa Podium. Bab 3 Pidato Bung Karno Pra Proklamasi. Bab 4 Pidato Bung Karno di Masa Proklamasi dan Perang Kemerdekaan (1945 – 1950). Bab 5 Pidato Bung Karno di Masa 1950 – 1958. Bab 6 Pidato Bung Karno di Masa Demokrasi Terpimpin. Bab 7 Pidato Bung Karno Setelah 1965. Bab 8 Kutipan-kutipan  BungKarno.

Sekalipun judulnya Bung Karno Sang Singa Podium, tetapi Arini yang menggunakan nama penulis Rhien Soemohadiwidjojo itu melengkapinya dengan sejarah Bung Karno. Akan tetapi, ruh buku ini sejatinya tersaji di Bab 2 Bung Karno Sang Singa Podium. Tak heran jika penulis dan penerbit menyepakati bab ini sebagai judul besar buku.

Bab 2 ini diawali dengan sub bab tentang Bung Karno Sang Orator Ulung. Sub bab kedua, tentang tema pidatto-pidato Bung Karno.  Sub bab ketiga mengupas rahasia pidato-pidato Bung Karno. Sub bab keempat tentang tanggapan para pendengar pidato-pidato Bung Karno. Sub bab kelima tentang pidato religius Bung Karno. Sub bab keenam tentang penerjemah pidato Bung Karno. Terakhir, sub bab ketujuh tentang peran para ajudan Bung Karno.

Seperti biasa, saya selalu risih jika melihat atau membaca penulisan Sukarno dengan “oe” (Soekarno). Sayangnya, saya menemukannya di buku ini. Tentang penulisan Sukarno dan Soekarno, saya pernah menulis secara khusus di blog ini, mengutip statemen Bung Karno kepada Cindy Adams. Intinya, dia yang memberlakukan ejaan yang disempurnakan, maka secara konsekuen dia pun mengubah penulisan namanya dari Soekarno menjadi Sukarno. Ihwal tanda tangannya yang menggunakan “oe” dia berdalih, sebagai hal yang berbeda. Tanda tangan yang sudah diguratkannya dengan “oe” sejak ia sekolah, tentu tidak mudah untuk diubah.

Terakhir, (ehm…) buku ini tetap menarik karena di halaman belakang ada endorsement dari pemilik blog ini…. 🙂 (roso daras)

Bung Karno Ata Ende

Bk Ata EndeSidang pembaca blog yang mulia, beberapa waktu lalu, saya terbenam dalam aktivitas menapak tilas Ende, Flores sekitar tiga minggu lamanya. Ada begitu banyak jejak Bung Karno yang tertapak. Ada begitu banyak langkah yang belum terjamah. Hidup di Ende sebagai seorang buangan selama 4-tahun-9-bulan, Bung Karno mewariskan banyak hal.

Bukan hanya warisan nilai-nilai nasionalisme pada masyarakat Ende. Bukan hanya mewariskan kebanggaan tinggal di satu daerah yang terpatri erat dengan sosok Bung Karno. Bukan hanya nilai-nilai ideologi dan religi yang menjadi lentera generasi penerus.

Untuk beberapa saat, apa pun yang menarik minat, spontan menjadi bahan tulisan, dan segera menghiasai blog ini. Tiba-tiba, terlintas pemikiran, “Mengapa tidak membuatnya menjadi buku?” Ya, tergerak hati untuk membuat buku sepulang dari Ende. Karena itu, aktivitas memposting materi tentang Ende menjadi terhenti, dan berkonsentrasi mewujudkannya menjadi buku.

Di tengah aktivitas menyusun tulisan demi tulisan untuk materi buku, terpikir pula “alangkah baiknya kalau buku ini bisa selesai cepat, dan terbit bersamaan dengan pemutaran perdana film ‘Ketika Bung di Ende’.” Berhubung yang memungkinkan itu adalah pihak pelaksana produksi film, maka ide itu pun saya sorongkan ke mas Baskoro. Orang di balik layar yang memungkinkan produksi film itu terjadi.

Baskoro pula yang kemudian meneruskan ide tadi ke pimpinannya, direktur PT Cahaya Kristal Media Utama (Cakrisma), pelaksana produksi film tersebut. Egy Massadiah, pimpinan sekaligus owner Cakrisma, (ndilalah….) setuju dan menyambut baik. Syahdan, Baskoro mem-follow up ke Kemendikbud, sedangkan saya harus kerja ekstra untuk menulis cepat, mengejar jadwal terbit berbarengan dengan pemutaran film, yang dijadwalkan 28 November 2013.

Buku ini pun saya susun bersama Egy Massadiah yang juga mantan jurnalis. Kurang lebih tiga hari yang lalu, green light Ditjen Kebudayaan sudah menyala. Kata ACC dari Jusuf Kalla sebagai salah satu pemberi kata pengantar, juga sudah didapat (berkat kedekatan Egy dan JK). Mata rantai yang begitu panjang (cenderung birokratis) akhirnya terlampaui semua.

Last minutes, lampu hijau itu menyala, dan hanya menyisakan waktu beberapa hari saja untuk mencetak. Beruntung, sejak jauh-jauh hari, saya sudah mengurus ISBN ke Perpustakaan Nasional. Sehingga satu-satunya masalah adalah bagaimana proses pencetakan bisa cepat. Ini soal teknis saja.

Buku berjudul “Bung Karno Ata Ende” ini (ata, bahasa Flores yang berarti “saya”), berisi tiga bagian utama. Bagian pertama tentang sisi lain pembuatan film “Ketika Bung di Ende” (6 judul). Bagian kedua tentang “Romansa Ujung Dunia” (20 judul), dan bagian ketiga tentang “Ende Bumi Inspirasi” (8 judul), sehingga total buku ini berisikan 34 judul tulisan. Keseluruhan materi buku tersaji dalam buku setebal 268 halaman, plus 19 halaman daftar isi, kata pengantar Jusuf Kalla (mantan Wapres, tokoh perdamaian, penggiat ekonomi kawasan Indonesia Timur, Ketua PMI, dll), dan Prof. Kacung Marijan (Dirjen Kebudayaan, Kemendikbud).

Semoga, buku ini dapat membuka cakrawala kita lebih luas dalam memandang sejarah Sukarno, khususnya yang terkait antara Bung Karno dan masa-masa pembuangan di Ende, Flores (1934 – 1938). Sebagai penulis, saya pribadi merasa belum puas. Saya bisa pastikan, meski sudah terbukukan, tetapi serpihan-serpihan sejarah lain tentang Bung Karno di Ende, masih teramat banyak yang tercecer.

Ya, sikap tidak puas memang harus saya pelihara. Hanya dengan cara itu, semangat kembali ke Ende, untuk menggali dan mengais serpihan-serpihan sejarah Bung Karno lainnya, tetap terjaga. Bukankah Tuhan Maha Mendengar keinginan hambanya? (roso daras)

Published in: on 24 November 2013 at 15:06  Comments (10)  
Tags: , , , , ,

Ke Ende? Jadilah!

Persidangan Landraad yang kemudian mencuatkan pledoi “Indonesia Menggugat”, berujung pada dijebloskannya Bung Karno (dan teman-teman aktivis PNI lain) ke penjara Sukamiskin. Dalam suatu kisah, Bung Karno menceritakan, betapa pemerintahan kolonial Belanda tidak membedakan antara tahanan politik dan bromocorah.

Walhasil, Bung Karno pun mendekam bersama para pencuri, pemerkosa, hingga para koruptor. Di dalamnya, bercampur aduk, antara narapidana berkulit sawo matang dan berkulit bule. Jerajak besi adalah sebuah konsekuensi perjuangan yang telah tertanam di benak Sukarno, bahkan jauh sebelum ia “dilirik” Belanda.

Ia telah menyaksikan, betapa sang guru, HOS Cokroaminoto, dengan Sarekat Islam-nya, juga beberapa kali harus mendekam di penjara. Karena itu, sepengap dan segelap apa pun ruang penjara, tak pernah menggelapkan hati dan pikiran Bung Karno. Syahdan, ketika ia bebas, yang terlintas di benaknya adalah, “Lanjutkan perjuangan!”.

Karya tulis Bung Karno sekeluar dari penjara yang begitu fenomenal adalah “Mencapai Indonesia Merdeka”. Buku itu diterbitkan Hadji Umar Ratman, Bandung. Untuk ukuran sekarang, buku itu tidak terlalu tebal. Tahun 80-an (seingat saya), penerbit Gunung Agung pernah mencetak ulang. Tebalnya kurang dari 100 halaman. Buku itu sendiri terdiri atas 10 judul:

Chapter 1: Sebab-Sebabnya Indonesia Tidak Merdeka

Chapter 2: Dari Imperialisme-Tua ke Imperialisme-Modern

Chapter 3: “Indonesia, Tanah yang Mulia, Tanah Kita yang Kaya; Disanalah Kita Berada untuk Selama-lamanya!”….

Chapter 4: “Di Timur Matahari Mulai Bercah’ya, Bangun dan Berdiri, Kawan Semua!”….

Chapter 5: Gunanya Ada Partai

Chapter 6: Indonesia Merdeka Suatu Jembatan

Chapter 7: Sana Mau Ke Sana, Sini Mau Ke Sini

Chapter 8: Machtsvorming, Radikalisme, Aksi-Massa

Chapter 9: Disebrangnya Jembatan Emas

Chapter 10: Mencapai Indonesia Merdeka

Dalam waktu beberapa bulan saja, buku itu sudah mengalami pencetakan ulang hingga empat kali. Selain karena masyarakat rindu akan tulisan-tulisan Bung Karno, juga karena dukungan media massa pro pergerakan ketika itu. Seperti misalnya komentar koran “Djawa Tengah” yang menulis: “Namanja tuan Ir Soekarno sebagai volksredenaar dan sebagai penulis sudah tjukup terkenal, hingga pudjian buat itu buku kita rasa boleh troeslah berikan lagi“…..

Suratkabar “Bintang Timur” menulis, “Ir Soekarno mempunjai kepandaian menulis…. pada bangsa kita masih terlalu sedikit kitab-kitab sebagai itu”. Lalu, suratkabar “Sin Tit Po” menulis, “…buku tersebut tidak kurang berharganja, terutama, bagi mereka jang masih muda dalam pergerakan disini.” Simak pula tulisan koran “Pertja Selatan”, “Tidak usah kita pudji terlebih djauh karena semua orang kenal siapa Ir Soekarno, Penting sekali ini buku bagi kaum pergerakan”.

Suratkabar “Pemandangan” menulis, “…sungguh practisch isinja… Sungguh berfaedah untuk dibatja, apalagi bagi kaum politik”. Sementara itu, koran “Djawa Barat” menulis, “Ir Soekarno ada seorang pemimpin pergerakan jang terkenal…. sehingga namanja sadja, sudah tjukup mendjadi suatu ‘garantie’ dari penting dan berpaedahnja buku itu”. Media “Pewarta” menulis, “….sangat berguna sekali bagi rakjat Indonesia jang telah masuk semangat kemerdekaannja”.

“Sumanget” menulis, “….sungguh tidak mengherankan kalau itu risalah lekas habis, karena buat bangsa Indonesia berguna sekali mempunjai buku risalah tersebut!”. Lantas koran Fikiran Rakjat mengomentari, “…Kami pudjikan sekali pembatja membatja risalah itu, sebab isinja teramat penting”. Tak kurang dari koran “Sinar Sumatra” pun berkomentar, “Ini buku selainnja ada harganja buat diketahui isinja pun ada sebagai pengunjuk untuk pergerakan dan pertjaturan politik rakjat”.

Dua media berbahasa Sunda, “Sipatahunan” dan “Sinar Pasundan”, masing-masing mengomentari, “Saenjana sanadjan henteu di berendelkeun kumaha eusina oge, ku nendjo ngaranna djeung ngingetkeun ka ni ngarangna bae, urang geus bisa ngira-ngira kepentinganna ieu buku… Keur kaum pergerakan mah, ieu buku te katjida perluna….” dan “Kana kepentingan eusina, saenjana teu perlu pandjang-pandjang dipitjatur, ku matja ngaan nu ngarangna oge, njaeta Ir Soekarno, ku urang mo burung hawangwang mamundelna… ieu buku eusina maundel parenting”.

Indonesia Menggugat, berbuah penjara Sukamiskin. Jika, “Mencapai Indonesia Merdeka” harus membuatnya dibuang ke Ende, maka jadilah! (roso daras)

Published in: on 17 November 2012 at 02:54  Comments (3)  
Tags: , , ,

Rencana Cover ke-3, Dipilih…Dipilih…

Dua hari lalu, penerbit Imania mengirimkan rencana cover buku yang ke-3. Seperti postingan terdahulu, dalam buku ketiga dan Insya Allah selanjutnya, pendekatan judul serta content mixed, dibuat sedikit berbeda dari dua buku terdahulu. Kali ini, fokus tulisan pada “perseteruan” Bung Karno dan Kartosoewirjo.

Ah, tapi ini bukan posting tentang konten buku ketiga. Selain tidak membuat Anda penasaran untuk membaca (tepatnya: membeli) buku ini, juga karena saya ingin berbagi dan minta masukan sidang pembaca blog ini sekalian, terhadap rancangan cover yang telah disiapkan penerbit. Ada dua rancangan cover, seperti terlihat di bawah ini: versi A dan versi B.

Nah, atas pilihan cover tersebut, saya pribadi memiliki beberapa catatan. Misalnya, komposisi judul dan foto, saya cenderung melilih yang B, dengan catatan, boks bertuliskan “The Other Stories 3” lebih dirapatkan ke atas, menempel teks “Serpihan Sejarah yang Tercecer”. Keseluruhan judul juga bisa lebih ke atas.

Kemudian, ilustrasi perang baratayudha dalam epik Mahabarata itu, saya cenderung memilih yang versi A. Sebab, warna sephia di versi A rasanya lebih cocok dengan desain yang B. Dengan sedikit penguasaan software adobe photoshop, beberapa catatan tersebut saya wujudkan menjadi seperti di bawah ini:

Nah, bagaimana menurut Anda? (roso daras)

Published in: on 23 Juni 2011 at 05:28  Comments (8)  
Tags: , , , , ,

Peter A. Rohi dan Dua Bukunya

Belum lima menit meninggalkan komplek pemakaman Bung Karno di Blitar, beberapa hari lalu, telepon bergetar… Peter A. Rohi di ujung telepon sana. Nama Peter Rohi sudah beberapa kali muncul dalam blog ini. Semua tulisan tentang pembantu sekaligus pengawal Bung Karno yang bernama Riwu Ga, selalu mengait ke sebuah nama: Peter Rohi. Sebab, dialah wartawan senior yang berhasil melacak jejak Riwu dan menampilkannya di suratkabar tempatnya bekerja.

Peter berkata,  “Ada dua buku yang saya mau berikan ke mas Roso…. Jangan sekali-kali menulis skenario film Bung Karno sebelum baca kedua buku ini,” ujar Peter. Alhamdulillah…. Tuhan begitu lugas…. Dia menjawab tuntas doaku. Segera kami bikin janji temu keesokan harinya.

Selepas makan siang… Peter, mantan marinir, jurnalis senior, seniman, sekaligus sastrawan ini tampak memasuki halaman hotel. Rambutnya masih gondrong diikat. Ia mencangklong ransel…. “Harta karunku datang,” gumamku menyambut Peter.

Berbicaralah kami ngalor-ngidul seputar Bung Karno, seputar Soekarno Institut yang dia kelola, seputar ini dan itu…. sangat mengasyikkan. Tibalah gilirannya membuka ransel dan mengeluarkan dua buku yang ia janjikan…. Yang satu berjudul “Soekarno sebagai Manoesia” tulisan Im Yang Tjoe.

Nah, jika Anda membaca buku “Bung Karno, Serpihan Sejarah yang Tercecer, The Other Stories ke-1”, pada pengantar buku oleh Cornelis Lay, tentu ingat. Dalam salah satu bagian, Cornelis menyebutkan tentang buku biografi pertama Bung Karno yang ditulis oleh penulis Tionghoa tahun 30-an, dan diterbitkan di Solo. Buku itu mengupas masa kecil Bung Karno. Meski ditulis tahun 1933, tetapi sang penulis sudah meramalkan dalam bukunya, bahwa Sukarno akan menjadi orang besar.

Inilah buku yang dimaksud. Rupanya, Peter A. Rohi sempat menulis ulang buku itu. Luar biasa… tidak henti-henti saya mengucap kata “luar biasa”… dengan senangnya.

Sedangkan buku kedua berjudul  “Ayah Bunda Bung Karno”, tulisan Nuriswa Ki S. Hendrowinoto, dkk. Inilah buku yang paling lengkap dan akurat yang menguak biogradi R. Soekeni Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai, orangtua Bung Karno. Ditulis oleh seorang peneliti, melalui sebuah riset yang panjang dan mendalam.

Berbekal kedua buku itulah (dan tentu saja literatur yang lain), saya kemudian memulai pekerjaan penulisan skenario film Bung Karno. Saat ini, baru pada tahap penyusunan treatment.  Saya begitu bersemangat! (roso daras)

Published in: on 15 November 2010 at 07:41  Comments (10)  
Tags: , ,