Tumpas Pemberontakan PKI Madiun dalam Dua Minggu

Penumpasan pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948, tak lepas dari peran penting Panglima Besar Jenderal Soedirman. Pas tanggal 18 September 1948, saat matahari condong ke barat, kabar itu sampai ke pemerintah pusat di Yogyakarta. Kabar gawat, yang mewartakan meletusnya pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Madiun.

Saat berita itu tiba di Istana (waktu itu dikenal dengan sebutan Gedung Agung), Panglima Soedirman tengah berada di Magelang. Yang pegang kendali ketika itu adalah Kolonel AH Nasution selaku Kepala Staf Operasi Markas Besar Angkatan Perang RI. Dialah yang segera dipanggil Presiden Sukarno menghadapnya di Gedung Agung.

Kepada Presiden Sukarno, ia memaparkan rencana operasi penumpasan pemberontakan PKI di Madiun. Di sela-sela rapat di Gedung Agung, yang antara lain juga dihadiri Menko Keamanan, Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Segera setelah tuntas Nasution memaparkan konsep penumpasan pemberontakan, berkata Bung Karno, “Sebagai seorang yang telah berbulan-bulan langsung berhadapan dengan PKI, baik sebagai pejabat maupun pribadi, saya dapat konsepsikan dengan segera rencana pokok untuk menindak PKI.”

Tak lama, keluarlah keputusan presiden. Intinya, berupa perintah kepadaa Angkatan Perang Republik Indonesia untuk menyelamatkan pemerintah dalam menindak pemberontakan, dan menangkap tokoh-tokohnya, serta membubarkan organisasi-organisasi pendukungnya, atau simpatisannya.

Sidang kabinet untuk menumpas pemberontakan PKI di Madiun itu hanya berlangsung kurang dari setengah jam. Setelah itu, Presiden Sukarno menyerahkan mandat pelaksanaanya kepada Jenderal Soedirman. Sementara, untuk pelaksanaannya, Nasution masih menunggu sidang kabinet, yang rencananya baru akan digelar menjelang tengah malam.

Nah, pada sidang kabinet itu, Jenderal Soedirman sudah hadir. Tidak banyak perdebatan dalam sidang kabinet yang membahas penumpasan pemberontakan PKI di Madiun. Hanya Haji Agus Salim saja yang berkomentar. Katanya, “Kalau sudah begini, tentulah menjadi tugas tentara.” Sidang itu hanya berlangsung beberapa menit untuk kemudian memutuskan penumpasan pemberontakan tadi.

Jenderal Soedirman segera menugaskan Kolonel Nasution dan Letkol Soeharto Komandan Brigade X untuk bergerak pada malam itu juga, dan menyampaikan laporannya keesokan harinya. Maka malam itu juga, tentara berhasil melucuti persenjataan Front Demokrasi Rakyat Yogyakarta. Di samping itu, menangkapi sejumlah pentolan yang berafiliasi ke PKI, seperti Alimin, Djoko Sudjono, Abdulmadjid, Tan Ling Djie, Sakirman, dan Siauw Giok Tjan.

Semua penerbitan yang berafiliasi ke PKI juga diberangus, percetakannya disegel. Poster-poster dan spanduk-spanduk Front Demokrasi Rakyat dibersihkan, dan diganti poster-poster bertuliskan, “Kami hanya mengakui pemerintah Sukarno-Hatta”. Keseluruhan operasi itu selsai sebelum ayam berkokok. Persis sesuai instruksi Jenderal Soedirman.

Pagi hari menjelang siang, Jenderal Soedirman sudah menerima laporan lengkap dari Kolonel Nasution dan Letkol Soeharto. Setelah itu, dilanjutkan Rapat Dewan Siasat Militer. Panglima Soedirman kemudian mengeluarkan keputusan-keputusannya. Antara lain, mengangkat Kolonel Sungkono sebagai Panglima Pertahanan Jawa Timur. Ia mengirim Brigade II Siliwangi di bawah pimpina Letnan Kolonel Sadikin, guna merebut kembali Madiun. Sedangkan Letnan Kolonel Koesno Oetomo memimpin Brigade I Siliwangi buat merebut Purwodadi, Blora, Pati, dan Kudus.

Keseluruhan operasi penumpasan pemberontakan PKI Madiun itu hanya diberi waktu dua minggu. Prajurit tuntas mengemban tugas, hingga tertangkapnya semua pentolan PKI, bahkan hingga ke eksek

Published in: on 30 Agustus 2011 at 17:25  Comments (8)  
Tags: , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://rosodaras.wordpress.com/2011/08/30/tumpas-pemberontakan-pki-madiun-dalam-dua-minggu/trackback/

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini.

8 KomentarMeninggalkan komentar

  1. Perintah penumpasan PKI Madiun itu adalah dari Wakil Presiden Muhamad Hatta dengan Instruksi Presiden Nomer X yang ditandatangani Wakil Presiden. Kenapa dalam uraian ini tak ada sama sekali penyebutan Hatta? Korupsi sejarah!

    • @zainal instruksi presiden nomer X tp diperintahkan oleh wapres??? blunder fatal lo brooo…..hatta cuman pernah mengeluarkan maklumat no X tahun 1945 :P jadi sapa yg korupsi sejarah???

  2. aku pengen nanya siapa yg di perintahkan jendral sudirman untuk menumpas pemberontakan PKI di madiun :) :D

    • :) :D :P :( -_- ^_^

  3. sbnr nya rakyat indo bukan anti faham komunis tp anti partai komunis. krn tanpa disadari rakyat indo bnyk yg berfaham komunis meski bukan dari partai komunis. contoh nya.. ada org yg tdk mementingkan indifidu tp mementingkan org bnyk. itu khan faham komunis. pdhl ngaku nya anti komunis. tp ternyata gk suka dg kapitalis.

  4. Kenapa sampai terjadi pemberontakan tersebut

  5. gan pemimpin penumpasan G30SPKI di madiun itu siapa ya ?
    udh baca post di atas cuma kurang paham

    • @moranda WTF? G30SPKI (istilah ORBA tp yang bener tuh GESTOK) tahun 1948? pffftttttt LoL….jaman itu belon kenal istilah itu bruh…gw baca dimajalah HISTORIA bahwa pristiwa madiun tuh kompleks banget susah nunjuk hidung siapa yg salah karena indonesia pd saat itu dalam situasi kaco….selain hrs ngelawan NICA indo juga hrus menghadapi kenyataan wilayahnya menciut akibat perjanjian renville….tp awalnya disulut oleh hijrahnya divisi siliwangi dari JABAR ke JATENG sedangkan “penguasa” jateng pada saat itu adalah divisi panembahan senopati, disitulah awal konflik (dari saling liat2an ampe tembak2an) plus adanya kebijakan “rasionalisasi” tentara oleh kabinet HATTA sehingga menimbulkan kecemburuan tentara2 yg berasal dari laskar2 thd siliwangi (yg umumnya sebagian besar perwiranya didikan belanda)…kota solo yg mungil itu penuh sesak degan para milisi bersenjata dan tentara dan jangan salah tentara jaman itu berafiliasi dengan ideologi partai2….dan ideologi kiri pada saat itu sedang kencang2nya bagai bara dalam sekam akhirnya meletuplah konfilik bersenjata sesama pejuang di solo dan merembet ke madiun karena pesindo cs menyingkir ke sana utk bertahan…gubernur militer madiun soemarsono sudah memberitahukan kondisi madiun ke pemerintahan HATTA namun tidak mendapat jawaban menurut dia isu bahwa kota madiun jadi pusat “soviet” indonesia tidaklah benar…tidak ada penggantian bendera merah putih dengan bendera palu arit yg ada adalah para tentara “kiri” mundur utk bertahan dari serangan siliwangi….namun akibat kaconya infrastrukstur dan komunikasi menimbulkan kesalahpaham bahwa PKI memberontak di madiun….endingnya dah bisa ketebak proklamasi Musso di madiun justru ditanggapi dingin oleh cabang2 PKI,SOBSI dan BTI di daerah lain mereka menganggap Musso cs adalah penghianat yg menyabotase revolusi indonesia….sejak saat itulah Musso dan Amir syarifudin cs teken kontrak mati bagi nasib mereka…gerakan mereka buyar seketika karena mayoritas tentara kiri yg menyingkir ke madiun tidak menyangka bahwa mereka dimanfaatkan utk memberontak


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 391 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: