Jenang Katul dan Pisang Rebus

Sukarno alias Kusno kecil, bukanlah seorang anak yang hidup dan tumbuh dalam lingkungan keluarga yang kaya secara materi. Ayahnya seorang guru, hidupnya sangat sederhana. Seisi rumah, tanpa kecuali, wajib mengambil peran masing-masing dalam keluarga. Tak ayal jika terkuak sebuah kisah, ayah Bung Karno, R. Soekeni Sosrodihardjo begitu murka saat melihat Bung Karno kecil begitu gemar bermain tak kenal waktu.

Pantat Bung Karno jadi sasaran sabetan dan tabokan tangan sang ayah, manakala ia bandel. Usai “dihajar”, seperti biasa… ia akan menghambur ke pangkuan ibunya, menangis. Sang ibu, Ida Ayu Nyoman Rai, dengan lembut akan mengelus-elus kepala dan punggungnya. Membujuk-bujuk dengan suara lembut agar Kusno tenang hatinya, dan berhenti menangis. Dengan iming-iming akan didongengi, Bung Karno kembali bisa tersenyum lebar, hingga tampak gigi gingsulnya yang membuat hati sang bunda sumringah.

Saat usia belum genap delapan tahun, Bung Karno sudah mulai mengerti tanggung jawab. Ia pun mulai giat membantu keluarga, bahkan ikut menumbuk padi, dan melakukan pekerjaan-pekerjaan lain, seperti juga mbakyunya, Sukarmini.

Sebuah suratkabar pernah lawas, Sin Po menulis panjang lebar sebuah wawancara dengan Idayu. Di situ, sang bunda bertutur tentang masa kecil putranya, yang kemudian tumbuh menjadi seorang patriot bangsa, berjasa memerdekakan bangsanya dari penjajah, hingga akhirnya menduduki tahta kepresidenan.

Idayu berkisah kebiasaan Bung Karno kecil yang setiap sarapan senantiasa dengan menu yang tidak banyak berubah, jenang katul. Ini makanan tradisional yang sesungguhnya sangat enak dan bergizi. Bekatul, adalah bagian terluar dari bulir padi. Ia begitu lembut, sehingga cocok dijadikan jenang. Dari penelitian, bekatul yang termasuk jenis sereal itu, mengandung vitamin B15 yang sangat bermanfaat bagi peningkatan kinerja organ tubuh. Sesekali, selain jenang katul, Bung Karno juga menyantap pisang rebus.

Bila matahari telah bersarang di peraduan, dan tiba saatnya Bung Karno tidur, sang bunda dengan penuh kasih sayang akan ngeloni Bung Karno. Saat-saat itu, dikenang Bung Karno sebagai saat-saat paling menyenangkan. Sang bunda akan menceritakan cerita-cerita ephos Mahabharata dan Ramayana ke dalam cuplikan-cuplikan cerita pewayangan. Jika kita ikuti pidato-pidato Bung Karno di kemudian hari, pahamlah kita, mengapa Bung Karno sering mengutip cerita-cerita Mahabharata dan Ramayana.

Selain kisah pewayangan, sang Ibu juga acap menceritakan kebesaran pejuang-pejuang Nusantara. Mulai dari Patih Gajahmada, Sriwijaya, dan kisah-kisah kepahlawanan dari belahan daerah lain di Nusantara. Setiap ibunda mendongeng, Bung Karno akan menyimak dengan sangat serius, merekamnya dalam memori terdalam.

Idayu dan Soekeni, sangat menekankan pendidikan budi pekerti. Bukan saja tuturan oral laiknya sang guru, sang ayah juga mencontohkannya dalam perikehidupan sehari-hari. Sang ayah menggadang-gadang putranya menjadi “manusia utama”. “Dadiyo wong sing utomo,” (jadilah manusia utama)  itu nasihat para sesepuh zaman dulu. (roso daras)

Maha Utang Indonesia Pasca Bung Karno

Sekilas tentang seorang jurnalis berkewarganegaraan Belanda, namanya Willem Oltmans. Dia menulis buku “Bung Karno Sahabatku”. Nah, gara-gar “bersahabat” dengan Bung Karno itulah ia kemudian dipecat dari kantornya, suratkabar paling berpengaruh di Belanda, de Telegraaf. Bukan hanya dipecat, Oltmans kemudian juga dipersona-non-grata-kan. Jadilah ia orang buangan.

Sejak itu, ia terus bersahabat dengan Bung Karno. Ia berpindah-pindah kerja dari satu media ke media yang lain. Bahkan jauh setelah Bung Karno dilengserkan oleh anak bangsanya sendiri, dengan bantuan Amerika Serikat.

Pagi ini, saya sarapan bukunya Oltmans. Saya ingat-ingat, ini kali ketiga saya baca-baca bukunya. Gaya bertuturnya yang mengalir, serta sajian data-data yang akurat, membuat tulisan Oltmans cukup enak dinikmati. Lebih dari itu, kumpulan tulisan Oltmans sejatinya adalah sebuah penuangan catatan buku harian. Ia jurnalis yang correct. Yang menuliskan setiap hal secara detail.

Satu hal yang sempat menyedot perhatian saya, adalah tulisan dia berjudul “Penutup (Amsterdam 1995)”. Dalam tulisannya, ia berkisah tentang kunjungannya (kembali) ke Indonesia tahun 1994, setelah 28 tahun lamanya meninggalkan Indonesia. Ya, untuk beberapa waktu, Oltmans sempat berdiam di sini.

Dari catatan Oltmas, ia menyaksikan, betapa kepemimpinan Soeharto berkembang makin buruk saja. Ia mengkitik pedas terhadap perilaku jenderal-jenderal penyokong Soeharto, serta elite-elite yang lain bergelimang hidup mewah. Dalam setiap seremoni di hotel-hotel dan restoran-restoran mewah, mereka pamer kekayaan. Sekadar gambaran, ia kutip kata-kata Iwan Tirta, sang desainer top. Katanya, “Nyonya-nyonya kalau datang tidak mencari kain yang bagus, tetapi mencari kain yang mahal.”

Oltmans pun kemudian menyimpulkan, untuk rakyat Indonesia yang tinggal di desa-desa, kehidupan mereka tidak banyak berubah. Lantas dialirkanlah data, bahwa utang nasional Indonesia selama pimpinan Bung Karno antara 1945 – 1965, tidak sampai tiga miliar dolar. Itu pun, utang-utang untuk pembelian persenjataan bagi usaha pembebasan Irian Barat.

Sementara, periode pasca 1965 hingga 1995 di bawah Soeharto, utang nasional meningkat menjadi 100 miliar dolar. Bahkan data pengamat menyebutkan, jumlah itu terlalu kecil, dan cenderung terus bertambah, yang akan menimbulkan problem finansial bagi Indonesia, seperti Mexico. Sekarang, kita paham betul arti kalimat Oltmans tersebut, khususnya bagi kita yang mengalami badai krisis moneter, krisis multidimensi yang berbuntut jatuhnya Soeharto 1998.

Bung Karno, dalam kepemimpinannya, menolak dengan sekuat tenaga gelombang “investor” asing, karena pada hakikatnya hal itu sama denga praktek imperialisme dengan “baju” ekonomi. Ini beda dengan Soeharto yang selalu memenuhi keinginan Washington, CIA, dan Tokyo. Ia buka lebar-lebar pintu masuk bagi “peminat asing”. Oltmans menyebut contoh, peran Bob Hasan, tokoh hitam kroni Soeharto, yang mengakibatkan sebagian besar pulau Kalimantan hancur-lebur. Hutan-hutan yang berfungsi sebagai penyeimbang ekosistem, ditebang, dibabat, digunduli demi 10 miliar dolar setahun.

Ah, Oltmans… kamu satu dari sekian banyak orang Belanda yang berkontribusi bagi Indonesia melalui “catatan harian”-mu. Terima kasih. (roso dars)

Published in: on 19 Juli 2011 at 04:28  Comments (9)  
Tags: , , ,

Tentang Irian yang Menjadi Papua

Posting ini harus saya mulai dengan satu pernyataan yang bersifat personal. Begini… secara pribadi, saya adalah pengagum berat KH Abdurrahman Wahid. Sudahlah… dalam banyak hal, pemikiran-pemikiran Gus Dur klop, menyatu benar dengan apa yang ada di batok kepala saya. Jika saya katakan “dalam banyak hal” itu artinya, karena memang tidak semua pemikiran dan tindakan Gus Dur klop dengan yang ada di benak saya.

Saya sebut satu hal yang benar-benar tidak klop, yaitu keputusannya mengganti nama Irian menjadi Papua. Bukan saja tidak klop, tetapi saya anggap mendiang Gus Dur benar-benar menafikan sejarah. Saya tidak berpikir bahwa Gus Dur tidak tahu sejarah. Dia tahu sejarah tentang Irian Jaya, tetapi demi kepentingan “dukungan politik” dia mengakomodir aspirasi elemen separatis di Papua yang menghendaki pengembalian nama Irian ke Papua.

Persis tanggal 31 Desember 1999, saat berkunjung ke Irian Bara, Presiden Abdurrahman Wahid serta merta menyetujui tuntutan kaum separatis Papua untuk mengubah nama “Irian” menjadi “Papua”. Alasan orang-orang yang menuntut itu, karena katanya “Irian” berkonotasi sangat Indonesia, karena itu adalah singkatan dari kalimat “Ikut Republik Indonesia Anti Nederland”.

Ini sesuatu yang aneh, yang dilakukan oleh orang-orang Irian “murtad”, dari yang semula mengaku orang Indonesia tiba-tiba menuntut sesuatu yang bersifat separatis, dan lebih aneh lagi, hal itu dikabulkan oleh Gus Dur. Tatanan negara pun menjadi terdistorsi, karena persetujuan itu sama sekali belum dirundingkan dalam sidang Kabinet, atau bahkan belum dikonsultasikan dengan DPR RI. Sebab, kebijaksanaan Gus Dur itu tidak sesuai dengan penjelasan Bab VII UUD 1945 yang menyatakan: Kekuasaan Kepala Negara “tidak tak terbatas”.

Tidak berhenti di situ, Gus Dur juga menyetujui pemberian bantuan satu miliar rupiah untuk menyelenggarakan Kongres Rakyat Papua awal Juni 2000, yang nota bene kongres itu menuntut pemisahan Irian Barat dari NKRI. Dengan mudah, kongres menyatakan, Presiden Abdurrahman Wahid bukan saja menyetujui kongres, tetapi juga menyetujui tuntutan memisahkan diri.

Semula, Gus Dur bermaksud, kongres tersebut mengikut-sertakan juga tokoh-tokoh Irian Barat yang tidak menyetujui pemisahan diri dari wilayah NKRI. Ternyata, hal itu tidak diakomodir oleh penerima bantuan. Sehingga yang berkongres hanya kelompok separatis.

Sikap Gus Dur kemudian coba dikoreksi sendiri dalam Sidang Tahunan MPR 2000. Di situ Gus Dur berstatemen, jika gerakan separatis itu diteruskan, maka akan ditumpas, karena Irian Barat adalah wilayah NKRI yang bukan saja akar sejarahnya menyatakan demikian, tapi masih ditambah dengan berbagai pernyataan golongan-golongan di Irian Barat dalam berbagai kesempatan yang menyatakan pengakuan bahwa Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, adalah juga proklamasi kemerdekaan Irian Barat dalam wilayah NKRI. Bahkan wilayah itu disahkan PBB sebagai wilayah kesatuan NKRI, yang berarti disahkan juga oleh seluruh dunia.

Nah, kembali ke kepanjangan “IRIAN” yang oleh kelompok separatis diplesetkan menjadi “Ikut Republik Indonesia Anti Nederland”, yang tak lain hanya gosip. “IRIAN” adalah nama yang diusulkan oleh seorang pejuang Papua, Frans Kaisiepo, yang berarti “Sinar yang menghalau kabut”, diambil dari bahasa salah satu suku di Irian.

Di Irian, terdapat 244 suku dengan 93 bahasa lokal. Kata “PAPUA” yang menggantikan “IRIAN” malah justru mempunyai konotasi yang buruk, karena berarti “Daerah hitam tempat perbudakan”. Ironisnya, versi kaum separatis, nama itu lebih disukai karena dianggap memberikan semangat kepada perjuangan kemerdekaan mereka.

Pelurusan sejarah tersebut dilakukan oleh Dr. Subandrio, Wakil Perdana Menteri I dalam Kabinet Presiden/Perdana Menteri Sukarno, dalam bukunya “Meluruskan Sejarah Perjuangan Irian Barat”, terbitan Yayasan Kepada Bangsaku tahun 2001. Buku ini diberi kata pengantar oleh H. Roeslan Abdulgani. Di dalamnya memuat secara rinci sejarah perjuangan merebut Irian Jaya dari tangan Belanda. (roso daras)

 

Published in: on 14 Juli 2011 at 05:15  Comments (14)  
Tags: , , ,

Pejuang Diam, Idayu Geram

Ingatkah kisah Bung Karno dipangku ibunya di suatu pagi? Ya, kala masih kecil, saat Sukarno bangun dan tidak mendapati ibunya, ia segera menuju pintu keluar, dan dilihatnya sang ibu tengah duduk menghadap ke timur, menatap matahari yang sebentar lagi nongol. Dengan langkah lunglai, Sukarno kecil mendekat. Demi melihat putranya, direngkuh dan dipangkunya. Ketika itulah keluar sabda sang bunda, “Lihat nak, lihat sang fajar. Engkau dilahirkan di waktu fajar, engkau akan menjadi orang besar dan pemimpin bagi bangsamu…”

Harapan sekaligus doa. Doa seorang ibu, yang berharap putranya menjadi pemimpin, tentu saja bukan menjadi pemimpin di zaman penjajahan di mana setting peristiwa itu terjadi, melainkan pemimpin yang berhasil mengenyahkan penjajah dari bumi Indonesia. Sungguh sebuah harapan yang besar. Harapan besar, hanya datang dari orang berjiwa besar. Sebab, pada zamannya, kaum ibu yang hidup di zaman penjajahan, dihimpit persoalan hidup yang begitu berat, jauh dari bayangan untuk “menggadang” putranya menjadi sang pembebas belenggu.

Bisa jadi, itu memang terkait dengan kebencian memuncak yang ada pada hati Ida Ayu Nyoman Rai, sang ibunda Bung Karno. Usai perang Puputan yang berujung pada kekalahan rakyat Bali membendung agresi Belanda, datanglah prahara. Keluarga istana menjadi miskin, karena raja dibuang dan harta istana dikuasai Belanda. Idayu sebagai kerabat Raja Singaraja, merasakan betul akibat agresi Belanda yang mendatangkan kemelaratan bagi dia dan keluarga besarnya. Sejak itulah, kebenciannya kepada Belanda mendarah-daging.

Wajar jika Idayu menaruh mimpi, putranya mampu membalaskan kebenciannya, mengusir penjajah dari bumi Indonesia, sebab ia merasakan benar kejahatan Belanda. Itu pula yang acap dicekokkan ke benak Sukarno kecil. Dalam banyak kesempatan, Idayu sering menceritakan kisah-kisah heroik perjuangan anak bangsa mengusir penjajah. Dikisahkanlah Perang Puputan, diceritakanlah Pangeran Diponegoro, dituturkannya heroisme para pejuang di pelosok negeri yang bertekad mengusir Belanda dari bumi Nusantara. Dalam kesempata-kesempatan seperti itu, Bung Karno sangat menikmatinya. Ia akan duduk di lantai dan bersandar di kedua kaki ibunya. Wajahnya menengadah, menyimak alunan cerita-cerita kepahlawanan anak negeri.

Tidak seperti kebanyakan ibu, maka Idayu bahkan begitu mendukung perjuangan Bung Karno. Salah satu bentuk dukungan, adalah tetap mendorong untuk terus berjuang menerjang semua rintangan. Jangankan penjara dan buangan, bahkan nyawa pun harus dikorbankan untuk sebuah cita-cita mulia.

Ada sedikit kisah di kemudian hari, setelah Indonesia akhirnya merdeka. Merdeka oleh proklamasi yang keluar dari mulut Sukarno. Ini kejadian agresi kedua, saat Belanda kembali mendarat memboceng Sekutu hendak menguasai kembali Indoneia. Tahunnya sekitar tahun 1946 atau 1947. Bung Karno pun baru mengetahui beberapa tahun setelah peristiwa itu terjadi. Yaitu kisah perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Ya, pasca proklamasi, di sejumlah daerah terjadi perlawanan jarak dekat antara laskar-laskar pejuang dengan musuh.

Kejadian ini di Blitar, persis di belakang rumah tempat tinggal keluarga Soekeni Sosrodihardjo-Idayu, orang tua Bung Karno. Pasukan Indonesia berkumpul, menunggu dalam suasanan tiarap, diam. Untuk sekian lama, mereka hanya diam dan menunggu. Demi melihat itu, Ibunda Bung Karno semula hanya diam memaklumi sebagai sebuah siasat perang.

Akan tetapi, ketika sekian lama tidak ada pergerakan, hanya diam dan menunggu… tidak sabarlah sang Idayu. Dengan mata yang menyala-nyala, keluarlah Idayu menghampiri pasukan yang masih diam menunggu…. Menggeledeklah suara Idayu, “Kenapa tidak ada tembakan!? Kenapa tidak bertempur?! Apa kamu semua penakut??!!”

Belum sempat ada satu pun yang menjawab, ketika Idayu mencecar kembali dengan nada tinggi, “Kenapa kamu tidak keluar menembak Belanda! Hayo!!! Terus, semua kamu keluar dan bunuh Belanda-Belanda itu!!!” (roso daras)

Bung Karno di Mata Penyair Indonesia

Yayasan Seni & Budaya Gema Patriot, Jakarta pada tahun 1996 menerbitkan sebuah ontologi: Bung Karno di Mata Penyair Indonesia. Simak salah satu syair kreasi penyair Indonesia berikut:

Jikalau aku berdiri di pantai Ngliyep

Aku mendengar Lautan Hindia Bergelora membanting di pantai Ngliyep itu

Aku Mendengar lagu Indonesia

Jikalau aku melihat sawah-sawah yang menguning-menghijau

Aku tidak melihat lagi batang-batang padi yang menguning-menghijau

Aku melihat Indonesia.

Jikalau aku melihat gunung gunung

Gunung Merapi, Gunung Semeru, Gunung Merbabu, Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Kalabat, dan gunung-gunung yang lain

Aku melihat Indonesia.

Jikalau aku mendengarkan lagu-lagu yang merdu dari Batak, bukan lagi lagi Batak yang kudengarkan

Aku mendengarkan Indonesia.

Jikalau aku mendengarkan Pangkur Palaran dari Jawa, bukan lagi Pangkur palaran yang kudengarkan

Aku mendengarkan Indonesia.

Jikalau aku mendengarkan lagu Olesio dari Meluku, bukan lagi aku mendengarkan lagu Oleisio

Aku mendengarkan Indonesia.

Jikalau aku melihat wajah anak-anak di desa-desa dengan mata bersinar-sinar berteriak “Pak, Merdeka!, Pak, Merdeka!, Pak, Merdeka!”

Aku bukan lagi melihat mata manusia,

Aku melihat Indonesia.

Sebuah apresiasi yang tinggi dari para penyair terhadap perjuangan Bung Karno mewujudkan sebuah negara bernama INDONESIA. (roso daras)

Published in: on 8 Juli 2011 at 10:42  Tinggalkan sebuah Komentar  

“Jiwa” dalam Tulisan Bung Karno

Ada “jiwa” dalam semua tulisan Bung Karno. Ini sebuah alasan mengapa saya begitu menggandrungi tulisan-tulisannya. Sodorkan kepada saya seratus tulisan tanpa nama, saya niscaya akan tahu, yang mana tulisan Bung Karno. Begitu hebatkah saya? Sama sekali tidak! Yang hebat justru Bung Karno, yang berhasil menciptakan satu karakter, satu jiwa dalam tulisan-tulisannya. Dengan begitu, bukan hanya saya, ratusan, ribuan, bahkan jutaan Sukarnois pun bisa merasakan apa yang saya rasakan.

Apakah hanya tulisan Sukarno yang seperti itu? Pertanyaan bodoh. Tentu saja tidak! Karena banyak lagi penulis-penulis yang memiliki jiwa dalam karyanya. Sebut Hatta misalnya. Sebut Cokroaminoto misalnya. Sebut Sjahrir misalnya. Sebut Tan Malaka misalnya. Semua memiliki karakter. Sehingga bagi pengkaji tulisan-tulisan Hatta, pengkaji tulisan-tulisan Cokroaminoto, pengkaji tulisan-tulisan Sjahrir, Tan Malaka, dengan mudah akan bisa mengetahui bahwa itu tulisan mereka, meski nama penulisnya dihilangkan.

Lama saya menekuni buah tangan Sukarno, hingga sampai pada satu kesimpulan, Bung Karno menulis dengan jiwa, karenanya lahir tulisan yang “bernyawa”. Bung Karno menulis dengan hati, makanya lahir karya tulis yang “bernafas”. Bung Karno menulis dengan semangat, karenanya lahir tulisan yang “membara”. Lebih dari itu, semua karya tulis Bung Karno, ditulis dengan jujur.

Apa yang hendak dituju dari postingan ini? Adalah ajakan untuk membaca karya-karya tulis Bung Karno. Bukan semata-mata buku “tentang” Sukarno. Hanya dengan begitu, kita memahami ajaran Sukarno. Hanya dengan menekuni buah tangannya, kita mengetahui konsepsi-konsepsi pemikiran Sukarno. Hanya dengan membaca dan membaca karya tulis Bung Karno, kita akan tahu Sukarno sebagai manusia. Manusia besar yang pernah dimiliki bangsa ini. (roso daras)

Published in: on 8 Juli 2011 at 03:31  Comments (3)  
Tags: , , , ,

Tentang Buku Ketiga, Bung Karno vs Kartosoewirjo

Di tengah kepenatan fisik dan otak, izinkan saya mengabarkan, keseluruhan naskah buku ketiga sudah selesai dan terkirim ke penerbit Imania. Buku ketiga, berbeda dengan dua buku terdahulu. Jika buku pertama dan kedua, menggunakan judul yang sama “Bung Karno, the Other Stories, Serpihan Sejarah yang Tercecer” (buku 1 dan 2), maka yang ketiga, atas kesepakatan dengan penerbit, diambil satu tema besar. Atas kesepakatan pula, di buku ketiga, mengangkat judul “Baratayudha, Bung Karno vs Kartosoewirjo”, disambung judul serial “Serpihan Sejarah yang Tercecer, buku ke-3.

Sesuai tema besar, maka ulasan tentang perseteruan politik antara Bung Karno dan Kartosoewirjo, mendapat porsi yang cukup besar. Selain memang unik, juga terbilang dramatis. Dua sahabat yang sempat belajar dan indekos bersama di kediaman HOS Cokroaminoto di Surabaya, pada akhirnya harus berseberangan pandang. Bung Karno sebagai Presiden, menetapkan Pancasila sebagai ideologi negara. Sementara itu, SM Kartosoewirjo memberontak dan memproklamasikan Negara Islam Indonesia (NII).

Apa hendak dikata, dalam perspektif kenegaraan, tindakan Kartosoewirjo adalalah satu bentuk makar. Karenanya, Pemerintah RI berkewajiban menumpasnya. Pasukan TNI pun melakukan perlawanan dan usaha penumpasan kaum pemberontak DI/TII ini hingga ke akar-akarnya. Keselurhan operasi ini menelan waktu tak kurang dari lima tahun.

Selama itu pula, DI/TII yang didukung aksi intelijen Amerika Serikat, mendapat sokongan senjata, peralatan komunikasi canggih, dan… tentu saja guyuran dolar. Sejatinya, pemberontakan yang disponsori asing, bukanlah yang pertama. Bahkan dalam bentang sejarah kita, hampir semua aksi politik yang berujung pada suksesi kepemimpinan nasional, tak pernah luput dari pengaruh dan peran asing.

Orde Baru berhasil menumbangkan pemerintahan Sukarno, tak lepas dari peran aktif CIA. Gelombang demonstran yang didukung Angkatan Darat, adalah bagian dari skenario besar menumbangkan “singa Asia” ketika itu, Sukarno. Negeri-negeri Barat sangat geram dengan Bung Karno, yang berhasil menggalang kekuatan Asia-Afrika, bahkan sedia mencetuskan CONEFO (Conference of New Emerging Forces). Jika itu terwujud, di dunia ini akan bercokol dua organisasi negara-negara.

PBB yang dikritik habis oleh Bung Karno karena tak bisa melepaskan diri dari hegemoni super power, dilawan Sukarno dengan menggalang kekuatan-kekuatan baru, dari negara-negara yang baru melepaskan diri dari aksi kolonialisme (penjahan). Spirit melawan negara maju yang hendak mencengkeramkan kekuasaannya kembali melalui proyek-proyek ekonomi, dilawan Bung Karno dengan lugasnya.

Bukan hanya itu. Lagi-lagi, asing pun berperan besar dalam menumbangkan Orde Baru, manakala Soeharto mulai kehilangan kendali atas kekuasaannya. Ditambah, kecenderungan korupsi serta praktek-praktek nepotisme yang berkembang di luar batas kewajaran. Sekali dongkel, dengan didahului prahara badai krisis moneter, tumbanglah rezim Orde Baru.

Kembali ke topik buku. Sebagai Sukarnois, tentu saja tulisan itu beranjak dari perspektif yang tentu saja bertentangan dengan perspektif kelompok ekstrim kanan yang menghendaki Indonesia menjadi negara Islam. Rasanya ini tidak keliru, sepanjang NKRI masih berstatus negara republik dengan landasan ideologi Pancasila. Tentu lain soal seandainya pemerintah dan parlemen menyepakati perubahan ideologi dari Pancasila ke Islam.

Akan tetapi, sepanjang NKRI konsisten dengan Pancasila sebagai ideologi negara, maka bukan saja konsep negara Islam tidak dibenarkan secara konstitusi, juga upaya-upaya ideolog lain, seperti komunis, misalnya, juga tak akan pernah menjadi gerakan legal.

Materi tentang Bung Karno vs Kartosoewirjo, dilengkapi pula dengan sejumlah naskah-naskah pendek sebagai pelengkap sekaligus penguat. Selain itu, penulis juga menyajikan pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945 yang kini kita peringati sebagai hari kelahiran Pancasila. Ini menjadi relevan, agar audiens memahami bagaimana para founding father menyepakati ideologi negara kita.

Yang tak kalah menarik, saya sajikan pula sebanyak 12 surat-surat Islam Bung Karno dari Ende. Ini adalah fase Bung Karno mendalami Islam, dan belajar bersama Ahmad Hassan, yang ketika itu berada di Bandung. Surat-menyurat Ende-Bandung itu, tidak melulu sebagai sajian surat belaka. Penulis melengkapinya dengan pengantar yang cukup panjang, untuk lebih memperkenalkan sosok A. Hassan, serta bagaimana riwayat perkenalan Bung Karno dan A. Hassan.

Pada tiap-tiap akhir surat, penulis membuat catatan-catatan. Ada yang berupa komen atas surat tersebut, ada juga yang merupakan upaya memperkaya literasi, sehingga audiens bisa lebih gamblang mencerna surat-surat Bung Karno, serta lebih menghayati suasana kebatinan maupun latar belakang lahirnya surat-surat tersebut.

Dibanding buku pertama yang 200 halaman lebih, dan buku kedua yang lebih tipis sedikit, maka buku ketiga ini diperkirakan mencapai ketebalan lebih dari 260 halaman. Sekalipun begitu, penerbit telah mengkalkulasi sedemikian rupa, sehingga tidak akan memberatkan kocek peminat buku ini, akibat harga yang tinggi. Dari konfirmasi sementara, buku ketiga ini akan luncur sekitar bulan Oktober 2011. Mohon doa restu agar segala sesuatunya berjalan lancar.  (roso daras)

Tirakat Bung Karno di Pulau Bunga

Empat tahun masa pembuangan Bung Karno di Ende, Pulau Flores (1934 – 1938) bisa disebut sebagai masa tirakat. Apa itu tirakat? Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar istilah tirakat yang bermaksud mendekatkan diri kepada tuhan, berupa perilaku, hati, dan pikiran. Tirakat adalah bentuk upaya spiritual seseorang dalam bentuk keprihatinan jiwa dan badan untuk mencapai sesuatu dengan jalan mendekatkan diri kepada tuhan.

Ritual orang bertirakat ada bermacam-macam. Penganut Kejawen misalnya, biasa melakukannya dengan bersemedhi atau bertapa-brata. Bagi orang muslim, berpuasa juga salah satu bentuk tirakat. Bisa juga dalam bentuk lain lagi, sepanjang diniatkan sebagai upaya spiritual, bentuk keprihatinan jiwa dan badan untuk mencapai sesuatu dengan fokus menjaga hubungan vertikal yang intens antara kita dan Yang Di Atas.

Flores… berarti bunga. Pulau Flores juga disebut Pulau Bunga. Mungkin karena di pulau ini banyak tumbuh bunga-bunga cantik. Bagi Sukarno. masa-masa pembuangan di Ende adalah masa-masa bertirakat. Ia melewatkan waktu-waktunya dengan membaca, bersosialisasi, dan… bertirakat.

Komunikasi dengan pihak luar, banyak ia lakukan dengan surat-menyurat. Salah satu yang terukir dalam sejarah hidupnya adalah surat-menyurat seputar kajian Islam dengan gurunya di Bandung, Tuan A. Hassan. Di luar itu, Bung Karno banyak bertafakur di ruang shalat, sekaligus ruang semedhi. Ia bisa duduk berjam-jam di tempat itu.

Selepas ashar, Bung Karno biasanya berjalan kaki kurang lebih satu kilometer mengarah ke pantai. Di bawah pohon sukun, Bung Karno duduk. Sikapnya diam. Mulutnya terkunci. Tatapannya menerawang. Otaknya berkecamuk tentang banyak hal. Salah satunya adalah merenungkan ideologi bangsa, ketika kemerdekaan diraih kelak.

Tercatat tanggal 18 Oktober 1938 Bung Karno meninggalkan Ende, menuju tempat buangan baru di Bengkulu. Praktis sejak itu, Bung Karno tak lagi menginjakkan kakinya di Ende. Kelak, 12 tahun setelahnya, persisnya tahun 1950, ya… lima tahun setelah proklamasi kemerdekaan, barulah Bung Karno kembali ke Ende. Bukan sebagai orang interniran atau buangan, melainkan sebagai Presiden Republik Indonesia, Pemimpin Besar Revolusi.

Ketika itulah, Bung Karno kembali bernostalgia ke tempat buangannya dulu, dan meresmikan rumah yang dulunya milik H. Abdullah Ambuwaru itu sebagai situs bersejarah. Dalam kesempatan itu pula Bung Karno menunjuk pohon sukun tempat ia belasan tahun sebelumnya acap duduk di bawahnya, merenungkan banyak hal, satu di antaranya adalah butir-butir Pancasila. Yang menarik adalah, pohon sukun itu bercabang lima.

Sepuluh tahun kemudian, tahun 1960, pohon sukun itu mati. Oleh pemerintah daerah setempat, segera ditanam pohon sukun yang baru. Apa yang terjadi beberapa tahun kemudian? Pohon itu tumbuh subur, dan… (tetap) bercabang lima. Pohon itu masih berdiri hingga hari ini. (roso daras)