Musso dan Sukarno, Guru dan Seteru

Bersyukur, sebuah rumah di Jl. Peneleh VII No. 29-31 Surabaya itu dilestarikan. Kini, rumah itu dikenal sebagai rumah kos Bung Karno. Benar, itulah rumah peninggalan keluarga HOS Cokroaminoto, guru sekaligus bapak kosnya. Dalam sekian kali posting yang menuturkan riwayat rumah itu, tidak pernah lupa saya menyinggung pertemanan yang kental antara Sukarno, Musso, Alimin, Semaun, dan Kartosuwiryo.

Tiga nama di tengah, belakangan kita kenal sebagai tokoh kiri Indonesia. Sedangkan nama yang terakhir, menjelma menjadi imam Darul Islam, ekstrim kanan. Kedua kubu tadi lantas dicatat dalam sejarah perjalanan Indonesia sebagai bagian tak terpisahkan dari riak revolusi.

Kembali ke rumah Peneleh VII, yang sempat dihuni sekitar 30 pemuda Indonesia, Sukarno adalah satu di antaranya. Periode 1915 – 1920, Bung Karno mondok di rumah itu, bersekolah di HBS (Hogere Burger School). Di pondokan itu, juga bercokol tokoh pemuda yang terbilang senior saat itu, Musso.

Muso sendiri saat itu menjabat aktivis Sarekat Islam pimpinan Cokroaminoto. Selain di Sarekat Islam, Musso juga aktif di ISDV (Indische Sociaal-Democratishce Vereeniging atau Persatuan Sosial Demokrat Hindia Belanda). Tak ayal, Muso menjadi salah seorang sumber ilmu Bung Karno dalam setiap percakapan. Seperti misalnya saat Musso menyoal penjajahan Belanda, “Penjajahan ini membuat kita menjadi bangsa kuli dan kuli di antara bangsa-bangsa.”

Oleh Bung Karno, kalimat Musso itu diulanginya dalam penuturan kepada Cindy Adams. Itu artinya, tidak sedikit pemahaman-pemahaman baru yang Bung Karno peroleh dari Musso. Musso sendiri empat tahun lebih tua dari Bung Karno yang kelahiran 1901. Adapun teman seperjuangan Musso antara lain Alimin, Semaun, dan Darsono.

Alam perjuangan menuju Indonesia merdeka itulah yang mengakibatkan pada akhirnya mereka terpisah. Muso misalnya, pernah ditangkap polisi Hindia Belanda sebagai aktivis politik (Sarekat Islam) dan dijebloskan ke penjara. Bung Karno hanya bisa memantau dari pekabaran yang ada. Nah, keluar dari penjara tahun 1920 itulah, Musso tidak lagi aktif di Sarekat Islam, dan menggabungkan diri ke Partai Komunis Indonesia.

Sejak itu, Bung Karno dan Musso berpisah. Musso dengan gerakan kirinya. Bung Karno dengan kuliah serta gerakan nasionalis yang ia kembangkan bersama teman-teman seide-seideologi. Pada saat itu, perjuangan menuju kemerdekaan, disokong oleh semua aliran. Yang kiri, yang kanan, yang tengah… semua, tanpa kecuali, memiliki andil memerangi penjajah. Karena itu, dalam banyak kesempatan, Bung Karno tegas menyebut, “Komunis pun berjasa untuk kemerdekaan Indonesia.”

Syahdan, hingga proklamasi 17 Agustus 1945, Sukarno-lah yang muncul ke tampuk pimpinan pergerakan serta didaulat menjadi Presiden pertama untuk Republik Indonesia yang baru saja merdeka. Pasca proklamasi, bangsa ini langsung memasuki kancah revolusi fisik yang sebenarnya. Perang berkobar di seluruh penjuru negeri. Perang antara jiwa bergelora yang baru terbebas dari penjajahan, dengan tentara sekutu yang diboncengi Belanda, yang hendak menancapkan kembali kuku-kuku jajahannya di bumi pertiwi.

Dua sahabat, Musso – Sukarno, baru berjumpa sekitar 30 tahun kemudian, tepatnya pada 13 Agustus 1948 di Istana Negara. Banyak saksi sejarah yang melukiskan betapa mengharukannya pertemuan itu. Mereka berpelukan begitu hangat. Nyaris tanpa kata-kata, kecuali mata yang sembab dirundung haru. Dari pandangan mata kedua tokoh ini sudah tergambar, betapa tatapan mata mereka telah berbicara…. Betapa mereka melakukan dialog hebat melalui bola-bola mata keduanya.

Sejurus kemudian, manakala suasana sudah mencair, Bung Karno memecah keheningan dengan menceritakan hal-hal yang hebat tentang Musso. Katanya, “Musso ini dari dulu memang jago. Ia yang paling suka berkelahi. Ia jagi pencak (silat).”¬† Selain itu, Bung Karno juga menceritakan hobi Musso bermain musik. Satu lagi yang khas, Musso selalu menyingsingkan lengan bajunya sebelum berpidato.

Itulah obrolan dua sahabat. Bagaimana dengan perbedaan ideologi keduanya? Tentu saja, Bung Karno menyinggung tentang perkembangan politik internasional. Bung Karno nyerocos berbicara tentang perkembangan komunisme di dunia, dan ini membuat Musso ternganga. Demi melihat itu, Bung Karno cepat menjawab, “Saya ini kan masih tetap muridnya Marx, Pak Cokroaminoto, dan Pak Musso.”

Usai pertemuan yang lebih bernuansa kangen-kangenan itu… keduanya langsung kembali kepada habitatnya. Sukarno sebagai Presiden dengan kesibukan mengatur sistem tata-negara yang masih begitu rentan… Muso dan PKI-nya tetap konsisten dengan visi dan misinya.

Yang terjadi setelah itu, sungguh mencengangkan. Persisnya tiga-puluh-tujuh hari setelah pertemuan Bung Karno dan Musso, pecahlah peristiwa monumental, Pemberontakan Madiun. Terjadilah perang statemen antara Musso dan Bung Karno. Mereka pun saling memaki di media. Puncak pernyataan Bung Karno yang terkenal waktu itu adalah, “Pilih Musso atau Sukarno”. Alhasil, pemberontakan Madiun berhasil ditumpas, dan para tokohnya dihukum.

Apa kata Bung Karno tentang Musso pada bukunya yang ditulis Cindy Adams? Ia tetap menghormati Musso sebagai salah seorang gurunya. “Ajaran Jawa mengatakan, seseorang yang menjadi guru kita, harus dihormati lebih dari orangtua.” (roso daras)

Iklan
Published in: on 28 Agustus 2011 at 05:20  Comments (4)  
Tags: , , , , ,

Bung Karno Seorang Komunis?

BK berdoa

Entah perasaan apa yang ada di dada ini, ketika adik-adik kita (untuk menyebut pengunjung blogku yang  jauh lebih muda dari saya), menyoal kembali soal Bung Karno dan komunisme. Menyoal kembali pemahaman yang entah oleh siapa telah dicekokkan ke benak mereka, bahwa Sukarno seorang komunis. Satu hal yang pasti, ada rasa haru dan bahagia, manakala generasi yang masih sangat muda ini menggugat persoalan yang bagi saya, dan banyak orang lain barangkali sudah usai. Persoalan tentang, benarkah Sukarno seorang komunis?

Bung Karno, lahir bukan dari keluarga muslim dalam pengertian seperti keluarga “pak haji”. Ibunya dari Bali, yang tentu saja sebelumnya memeluk Hindu sebagai keyakinannya. Ayahnya? Seperti kebanyakan muslim Jawa tempo doeloe, yakni seorang muslim “abangan”, cenderung kejawen. Dia mengenal rukun Islam, dia menjalankan kewajiban-kewajiban sebagai orang Islam, tetapi juga menjalankan ritual-ritual kejawen yang sarat mistik.

Perkenalan Sukarno dengan Islam lebih dalam, diakuinya saat usia 15 tahun, saat ia duduk di bangku HBS. Yang memperkenalkan adalah H.O.S. Cokroaminoto. Ia bahkan terbilang rajin mengikuti pengajian Muhammadiyah, di sebuah tempat di seberang Gang Peneleh, Surabaya, tempat ia tinggal bersama keluarga Cokro. Sekali dalam sebulan, ia mengaji di sana, dari pukul 20.00 hingga larut malam.

Akan tetapi, pendalaman terhadap Alquran diperoleh tahun 1928, saat ia mendekam di sel nomor 233 penjara Sukamiskin, Bandung. Segala bacaan yang berbau politik dilarang, jadilah ia mendalami Alquran sedalam-dalamnya. Kepada penulis biografinya, Cindy Adams, Bung Karno mengaku, sejak itu ia tak pernah meninggalkan sujud lima kali sehari menghadap ka’bah: Subuh, dhuhur, ‘asar, maghrib, dan isya.

Sejak itu pula, segala sesuatu dijawabnya dengan “Insya Allah — Kalau Tuhan menghendaki.” Mungkinkah seseorang yang sujud lima kali sehari menyembah Allah SWT adalah seorang komunis? Tanyalah dia, “He, Sukarno, apakah engkau akan pergi ke Bogor minggu ini?” Dan Sukarno akan menjawab, “Insya Allah, kalau Tuhan mengizinkan saya pergi.” Mungkinkan orang yang demikian dapat menjadi seorang komunis?

Ia sendiri meragukan kalau ada manusia yang bertahun-tahun disekap dalam dunia penjara yang gelap, tetapi masih meragukan adanya Tuhan. Akan halnya Sukarno, ia bertahun-tahun mendekam di balik jerajak besi. Malam-malam yang gelap, ia hanya bisa mengintip kerlip bintang di langit dari sebuah lubang penjara yang sempit. Manakala rembulan melintas, sejenak sinarnya mengintip Bung Karno di dalam penjara.

Masa-masa yang gelap di dalam penjara, masa-masa di mana ia tak bisa menelan bulat-bulat indahnya purnama dan bintang-gemintang, Bung Karno hanya bisa tertunduk sendiri. Ia sungguh tak tahu nasib akan berkata apa saat fajar menyingsing nanti. Sukarno menuturkan, dalam keadaan seperti itulah, sholat malam menjadi begitu khusuk.

Pengkajian alquran yang intens, menempatkan kesadaran tertinggi seorang Sukarno, bahwa Tuhan bukanlah suatu pribadi. Tuhan tiada hingganya, meliputi seluruh jagat raya. Ia Maha Kuasa. Ia Maha Ada. Tidak hanya di pengapnya ruang penjara, akan tetapi ada di mana-mana. Ia hanya esa. Tuhan ada di atas puncak gunung, di angkasa, di balik awan, di atas bintang-bintang yang ia lihat setiap malam-malam tak berawan. Tuhan ada di venus. Tuhan ada di Saturnus, Ia tidak terbagi-bagi di matahari dan di bulan. Tidak. Ia berada di mana-mana, di hadapan kita, di belakang kita, memimpin kita, menjaga kita.

Sampai pada kesadaran yang demikian, Bung Karno insaf seinsaf-insafnya, bahwa tak ada satu pun yang patut ia takutkan, karena ia sadar betul bahwa Tuhan tak jauh dari kesadarannya. Yang ia perlukan hanyalah bermunajat ke dalam hati yang terdalam untuk menemuiNya. Ia pun memasrahkan setiap langkahnya agar senantiasa dipimpin oleh Tuhan yang ia sembah dalam menggelorakan revolusi kemerdekaan.

Sukarno seorang komunis….??? Aya-aya wae…. (roso daras)

Published in: on 11 Agustus 2009 at 11:24  Comments (41)  
Tags: , , , ,

Ramalan Emas Idayu, Cokro, dan Dekker

Tiga Sukarno

Hidup dan kehidupan Bung Karno, laiknya sebuah sketsa tanpa judul. Sang pelukis adalah Yang Maha Agung, Tuhan Yang Esa. Tiada ada perubahan nasib suatu bangsa, tanpa bangsa itu memperjuangkannya. Ratusan tahun lamanya bangsa kita dihisap drakula penjajah, hingga muncullah percik-percik pergolakan.

Politik memecah belah, telah mencerai-beraikan suku-suku bangsa di Nusantara yang pernah disatukan Mahapatih Gajah Mada. Begitulah, sehingga bangsa yang besar ini akhirnya tenggelam sebagai bangsa kerdil, yang tidak lebih mulia daripada seekor anjing di mata penjajah. Sebuah bangsa yang selalu menengadahkan tangan meminta belas kasih. Sebuah bangsa yang harus menengadahkan wajah jika tuan penjajah hendak meludah.

Percik-percik api perjuangan, tersulut melalui satu-dua anak bangsa yang melek huruf. Gurat-gurat tipis pemberontakan, tercermin dari menjamurnya perkumpulan, serikat dagang, dan berbagai macam wadah kebangsaan. Klimaks dari itu semua adalah perkumpulan akbar Boedi Oetomo pada tahun 1908. Inilah tonggak bangkitnya rasa kebangsaan.

Di mana Sukarno? Ia baru berusia tujuh tahun kala itu. Dari teropong perjuangan kebangsaan, lahirnya jabang bayi Sukarno hanya sebuah noktah yang samar. Yang pasti, “si noktah samar” itu di kemudian hari tampil menjadi tokoh pergerakan. Ia berjuang dan terus bergerak maju, menabrak dan melawan apa saja yang menjadi rintangannya.

Ditangkap, ditodong senapan berbayonet, diseret, diinterograsi, dijebloskan penjara, dibuang dari satu daerah terpencil ke daerah terpencil lain, adalah satu sketsa lain dari lukisan Tuhan. Tinggal kematian saja yang belum menjemput.

Syahdan, ketika takdir Tuhan menempatkannya sebagai Presiden Republik Indonesia yang pertama, noktah samar itu telah menjelma menjadi sebuah titik hitam yang sangat jelas terbaca. Setidaknya, terbaca jelas oleh diri Sukarno. Itulah yang kemudian dikisahkan kepada penulis biografinya, Cindy Adams, sebagai “ramalan-ramalan emas”.

Sukarno-lah objek yang diramal. Sukarno pula yang disebut namanya dengan sangat jelas dalam mantram ramalan-ramalan emas tadi. Sekalipun begitu, Sukarno tidak pernah sakalipun menyinggung semua itu hingga ia menuturkannya kepada penulis biografinya.

Nilai spiritualnya menjadi berbeda, seandainya ia mengemukakan ramalan yang belum terjadi. Sebab, jika itu yang dia lakukan, tentu saja akan menjadi perdebatan, pro-kontra ihwal keyakinan, ihwal nilai-nilai religi. Lain ketika Bung Karno me-review ramalan-ramalan terdahulu, ramalan-ramalan yang telah berlalu. Ia mengungkapnya justru sebagai penghomatan tinggi tentang kewaskitaan para tokoh yang telah meramalnya dengan tepat.

Apakah “ramalan emas” yang dimaksud Bung Karno? Tak lain adalah ramalan yang secara gamblang menunjukkan masa depannya sebagai tokoh bangsa, tokoh yang akan mengentaskan bangsa ini dari derita penjajahan berkepanjangan.

IdayuSukarno mencatat ada tiga ramalan emas yang terngiang jelas di otaknya. Pertama, diucapkan oleh ibundanya sendiri, Ida Ayu Nyoman Rai atau kita kenal sebagai Idayu. Ialah yang meramal bayi Sukarno kelak akan menjadi pemimpin dari rakyat Hindia yang terjajah. Konfirmasi ramalan ibundanya, didapat dari neneknya, sebagai saksi atas peristiwa kelahiran Sukarno.

Yang Bung Karno ingat adalah peristiwa di suatu pagi, saat matahari belum lagi menampakkan diri. Ia tebangun, dan melihat ibundanya duduk di beranda, seorang diri, menghadap ke timur. Sukarno kecil berjalan gontai menuju sang ibu, sekadar ingin bermanja. Oleh ibunya, ia segera direngkuh dan dipangkunya.

Dalam dekapan hangat di pagi buta, meluncurlah suara lembut sang ibu, “Engkau sedang memandangi fajar, nak. Ibu katakan kepadamu, kelak engkau akan menjadi orang yang mulia, engkau akan mejadi pemimpin dari rakyat kita, karena ibu melahirkanmu jam setengah enam pagi di saat fajar menyingsing. Kita orang Jawa mempunyai suatu kepercayaan, bahwa orang yang dilahirkan di saat matahari terbit, nasibnya telah ditakdirkan terlebih dahulu. Jangan lupakan itu, jangan sekali-kali kau lupakan, nak, bahwa engkau ini putra dari sang fajar.”

Douwes DekkerWaktu terus bergulir. Berjumpalah Sukarno dengan Dr. Douwes Dekker, seorang patriot keturunan Indo-Belanda yang mendedikasikan seluruh hidupnya bagi kemerdekaan Indonesia. Ia bersama Dr. Cipto Mangunkusumo dan Ki Hajar Dewantara mendirikan National Indische Partij pada tahun 1912. Douwes Dekker yang bernama Indonesia Danudirdja Setiabudi ini, adalah adik dari pengarang Eduard Douwes Dekker atau yang kita kenal dengan nama samaran Multatuli.

Nah, Douwes Dekker atau Setiabudi ini adalah tokoh pergerakan penting. Ia, seperti kebanyakan tokoh pergerakan lain, juga telah mengalami pembuangan oleh Belanda selama bertahun-tahun. Pria kelahiran Pasuruan 8 Oktober 1879 dan meninggal dunia di Bandung 28 Agustus 1950 itu, tak urung bersinggungan pula dengan Sukarno, sebagai sesama orang pergerakan menuju Indonesia merdeka.

Di saat usianya merambat di angka 50, Douwes Dekker menyampaikan testamen penting kepada partainya, National Indische Partij. Pada suatu rapat partai, berkatalah Douwes Dekker, “Tuan-tuan, saya tidak menghendaki untuk digelari seorang veteran. Sampai saya masuk ke liang-kubur saya ingin menjadi pejuang untuk Republik Indonesia. Saya telah berjumpa dengan pemuda Sukarno. Umur saya semakin lanjut, dan bilamana datang saatnya saya akan mati, saya sampaikan kepada tuan-tuan, bahwa adalah kehendak saya supaya Sukarno yang menjadi pengganti saya.”

Setelah berhenti sejenak, ia melanjutkan “ramalan”-nya…, “Anak muda ini, akan menjadi ‘juru selamat dari rakyat Indonesia di masa yang akan datang’.”

CokroaminotoItulah yang dicatat Sukarno sebagai ramalan emas yang kedua tentang dirinya. Sedangkan, ramalan emas yang nomor tiga, datang dari mahaguru junjungannya, Haji Oemar Said (H.O.S.) Cokroaminoto. Ia seorang penganut Islam yang saleh. Partainya, Sarekat Islam, mampu menggerakkan massa dalam jumlah yang sangat besar. Seperti halnya Douwes Dekker dan yang lain-lain, Cokro juga terbilang akrab dengan ruang pengap bernama penjara Belanda.

Bung Karno dalam banyak keterangannya menyebut Surabaya sebagai kawah candradimuka, di rumah Cokroaminoto pula ia mendapat gemblengan, sehingga melahirkan semangat nasionalisme yang berkobar-kobar. Sukarno yang tinggal di salah satu kamar sempit, paham betul ritual keagamaan Cokro. Termasuk kebiasaannya shalat maghrib, dilanjut wirid dan doa hingga masuk waktu shalat isya. Namun, ada satu hari yang begitu membekas di benak Sukarno.

Malam itu, hujan turun membasahi Surabaya. Usai shalat shalat isya, ia berdoa lama, sebelum akhirnya selesai dan berjalan menghampiri keluarganya. Tak lama kemudian, dengan raut wajah serius, suara yang dalam, Cokro berkata kepada seluruh keluarganya, “Ikutilah anak ini. Dia diutus oleh Tuhan untuk menjadi Pemimpin Besar kita. Aku bangga karena telah memberikan tempat berteduh di rumahku.”

Ramalan pertama tahun 1901. Ramalan kedua dan ketiga tahun 20-an. Dan Bung Karno mengungkapnya tahun 1965. (roso daras)

Bung Karno Menjadi Klerk di Stasiun Surabaya

Bung Karno Muda

Anda pernah mendengar kata exploitation de l’homme par l’homme? Bung Karno sangat sering mengutip kalimat itu dalam pidato-pidatonya. Itulah kalimat yang ditentang selama perjuangannya, eksploitasi, penindasan, penghisapan manusia oleh manusia yang lain. Kemudian ketika negara Indonesia sudah merdeka, kalimat tadi ditambah dengan, exploitation de nation par nation, penindasan sebuah bangsa oleh bangsa yang lain.

Kalimat-kalimat pembakar jiwa merdeka itulah yang ditanamkan dalam-dalam di sanubari rakyat. Akhirnya, semangat itu pula yang tumbuh dan berbentuk di dekade 20-an. Para pekerja sudah berorganisasi, mereka berani menuntut hak; menuntut undang-undang perburuhan, menuntut upah yang layak… dan selalu membentang poster “TOLAK exploitation de l’homme par l’homme” dalam aksinya.

Klimaks aksi buruh terjadi akhir tahun 1921 di Garut, Jawa Barat. Aksi mogok besar-besaran telah merepotkan pemerintahan kolonialis Belanda. Nah, dalam kasus itu, Belanda menuduh Sarekat Islam-lah dalangnya. Maka, pada hari itu juga Belanda menangkap H.O.S. Cokroaminoto dan menjebloskannyake balik jerajak besi.

Demi mengetahui peristiwa itu, perasaan dan pikiran Bung Karno berkecamuk. Masih ingat cerita Utari, istri pertama Bung Karno yang anak Cokroaminoto? Benar! Bung Karno adalah anak menantu Cokroaminoto. Di sisi lain, Ibu Cokroaminoto sudah meninggal. Adik-adik Utari, Anwar dan Harsono masih kecil-kecil. Karena itu pula, tanpa berpikir panjang, ia pamit kepada Inggit Garnasih, ibu kostnya. Ia juga pamit kepada Profesor Klopper, Presiden Sekolah Teknik Tinggi, tempatnya kuliah. Ia pamit pulang ke Surabaya, mengambil-alih tugas kepala keluarga yang tidak bisa dijalankan Cokroaminoto karena ia meringkuk di penjara.

Tuduhan serius kepada Cokro, bisa berakibat hukuman penjara selama enam tahun. Itu artinya, Sukarno sudah benar-benar siap meninggalkan gelanggang pergerakan, demi anak-anak Cokro. Ia rela meninggalkan kuliah, rela meninggalkan dunia pergerakan, bahkan rela mengubur cita-cita memimpin pergerakan menuju Indonesia merdeka.

Hal pertama yang ia lakukan setiba di Surabaya adalah mencari pekerjaan. Tidak terlalu sulit untuk seorang pemuda dengan tingkat pendidikan seperti Sukarno, sekalipun ia seorang pribumi, inlander kotor di mata Belanda. Bung Karno berlabuh di jawatan kereta api, bekerja sebagai klerk, atau tenaga kasar. Kedudukannya sebagai Raden Sukarno, EKL atau Der Eerste Klasse. Sebagai seorang klerk stasiun kereta api kelas satu, Bung Karno menelan uap dan asap selama tujuh jam sehari. Sebab, kantornya tidak ada ventilasi untuk masuk udara bersih, dan langsung berhadapan dengan rel dan pelataran stasiun.

Atas pekerjaannya, ia menerima upah setara 165 rupiah. Dari jumlah itu, sekitar 124 rupiah diserahkan kepada keluarga Cokro, sisanya yang 40 rupiah dikantonginya sendiri, untuk sekali-kali mengajak keluarga Cokro sekadar nonton bioskop. Kerja keras sehari-hari, mengurus keluarga Cokro di sisi yang lain, membuat Sukarno sama sekali tidak punya waktu untuk belajar bagi dirinya sendiri. Terlebih, Belanda memutuskan, anak-anak orang orangtuanya menjadi tahanan, dilarang masuk sekolah. Karenanya, Sukarno juga mengajari Anwar dan Harsono di rumah, agar tidak ketinggalan pelajaran.

Syahdan, Cokroaminoto dibebaskan bulan April 1922, setelah tujuh bulan meringkuk dalam tahanan. Bung Karno senang bukan kepalang, bersyukur tiada henti. Tiga bulan kemudian, di bulan Juli 1922, ketika tahun pelajaran baru segera dimulai, Bung Karno kembali ke Bandung, ke Sekolah Teknik Tinggi, dan… kembali kepada Nyonya Inggit. (roso daras)

Published in: on 17 Juli 2009 at 01:54  Comments (6)  
Tags: , ,

Bima, Nama Samaran Bung Karno

BK dan Bima

Sejak masih belia, usia 15-an tahun, Sukarno sudah digembleng dalam kawah candradimukanya nasionalisme. Dalam usia yang masih “ijo”, Sukarno sudah dimasak di dapurnya nasionalisme. Ya… H.O.S. Cokroaminoto menempa Sukarno dengan wawasan nasionalisme, wawasan cinta tanah air. Cokro pula yang membukakan matanya ihwal kemelaratan rakyat. Cokro pula yang membuka hati dan otaknya untuk bisa melihat secara jernih kehidupan bangsa yang sudah dijajah Belanda ratusan tahun….

Benih-benih nasionalisme yang disemai Cokroaminoto, tumbuh menjadi sebuah jiwa memberontak pada diri Sukarno. Bibit-bibit nasionalisme, telah memunculkan maha kehendak di dada Sukarno untuk memerdekakan bangsanya. Spirit nasionalisme, menjiwai langkah-langkah Sukarno di hari-hari selanjutnya.

Ini terbukti dengan langkah Sukarno, yang –lagi-lagi harus ditegaskan di sini– dalam usia sekitar 15 tahun sudah terlibat aktif dalam organisasi kepemudaan bernama Tri Koro Darmo yang berarti Tiga Tujuan Mulia, yaitu Sakti, Budi, dan Bakti. Organisasi ini yang kemudian menjadi Jong Java pada tahun 1918. Sukarno muda tercatat pernah menjadi Sekretaris Jong Java, dan tak kala kemudian menjadi Ketua.

Tidak hanya aktif berorganisasi, Bung Karno juga mulai menuangkan pikiran-pikirannya yang revolusioner dalam bentuk tulisan. Selanjutnya, ia mengirimkan tulisan-tulisan itu ke redaksi majalah Oetoesan Hindia yang tak lain adalah milik Cokroaminoto sendiri Majalah itu diterbitkan Cokro sebagai alat propaganda partai Sarekat Islam yang dipimpinnya.

Nah, dalam semua tulisannya, Sukarno menggunakan nama samaran Bima. Nama Bima diambil dari tokoh pewayangan ephos Mahabharata. Bima adalah putra kedua Pandu Dewanata. Dalam dunia wayang, Bima atau Wrekodara adalah penegak Pandawa. Kakaknya, Yudistira, sedangkan tiga adiknya adalah Arjuna, Nakula, dan Sadewa. Bima adalah sosok kesatria pemberani, prajurit besar sekaligus seorang pahlawan.

Dalam biografinya, Bung Karn menyebutkan, tak kurang dari 500 artikel yang ia tulis dan diterbitkan di majalah Oetoesan Hindia dengan nama samaran Bima. Tulisan-tulisan Bima cukup menggemparkan kalangan rakyat pro kemerdekaan. Tulisan-tulisan Bima menjadi perbincangan di seluruh pelosok negeri, utamanya Jawa, dan lebih spesifik, Jawa Timur. Itu karena Bima dalam setiap tulisannya, mengangkat realita kehidupan rakyat yang terjajah di satu sisi, dan kerakusan pemerintah Hindia Belanda di sisi lain dalam menguras sumber daya alam, tanpa sedikit pun menyisakan bagi kesejahteraan rakyat, pewaris negeri yang sah.

Ayah-ibunya, Raden Sukemi dan Idayu, pun turut memperbincangkan tulisan-tulisan Bima. Akan tetapi, mereka sama sekali tidak mengira, bahwa Bima sang penulis, tak lain adalah putra kesayangan yang mereka idam-idamkan menjadi pemimpin kelak.

Bung Karno sendiri sadar, muncul pada usia dini dengan pemikiran-pemikiran radikal, hanya akan memupus kesempatannya menimba ilmu lebih lanjut. Sebab, pemerintahan penjajah Hindia Belanda tidak akan segan-segan mengerangkeng bahkan membunuh inlander siapa pun yang menebarkan benih-benih kebencian terhadap pemerintahan kolonial. (roso daras)