Lintas Generasi di Bedah Buku “Total Bung Karno”

medium_972149a

Bedah buku sekaligus peluncuran buku Total Bung Karno, Rabu, 5 Juni 2013 di Gedung Joang 45 Menteng, Jakarta Pusat, terbilang sukses. Saya pribadi merasa sangat bersyukur. Tiga narasumber yang diundang, berkenan hadir dan berbicara tentang Bung Karno. Mereka adalah Moch Achadi (Menteri Transmigrasi dan Koperasi Kabinet Dwikora), Mahfud MD (Ketua Mahkamah Konstitusi 2008 – 2013), dan Bambang “Bepe” Pamungkas (pesepakbola nasional). Saya sendiri, oleh panitia (Penerbit Imania) tetap didaulat berbicara dalam acara tersebut.

Yang luar biasa adalah, bahwa para pembicara berhasil “menahan” audiens duduk di tempat sejak awal hingga akhir. Saya pribadi menilai, apa yang disampaikan Mahfud MD dan Bambang Pamungkas memang sangat menarik. Sedangkan yang dipaparkan Achadi, saya menangkap kurang tertangkap bagi mayoritas audiens. Bisa jadi hal itu lantaran gap yang kelewat lebar antara periode (masa) narasumber dengan hadirin. Saya sendiri merasa biasa-biasa saja.

Bagi yang tidak sempat hadir, saya sedia berbagi ihwal acara peluncuran buku Total Bung Karno. Acara diawali dengan pemutaran video dan suguhan foto berikut narasi tentang Bung Karno. Mestinya bisa dikemas lebih apik, lebih mengalir, dan barangkai lebih kontekstual dengan materi buku yang hari itu diluncurkan. Editing yang seadanya, disertai kualitas data digital yang kurang maksimal, mengakibatkan secara keseluruhan sajian pembuka “kurang nendang”….

Subhan sang moderator, mengawali agenda dengan membacakan sekilas riwayat hidup pembicara. Bagi pengunjung blog dan hadir tentu tahu, dia menukil “tentang saya” di blog ini. Tak apalah. Tak begitu penting. Kemudian juga diperkenalkan tentang narasumber lain. Dan sebagai pembicara pertama, oleh penerbit saya diberi clue untuk berbicara tentang proses kreatif penulisan buku “Total Bung Karno.

Sebenarnya saya kurang interest dengan clue tersebut. Yang disebut “proses kreatif”, bagi saya adalah sebuah “pekerjaan”, mengingat saya sejak pertama kali bekerja, ya menulis (sebagai jurnalis). Alhasil, menulis buku (khususnya tentang Bung Karno), seperti sering saya ungkap, ibarat  memeras spon basah agar kering kembali. Penelusuran saya di belantara Sukarno, tentu saja menyerap ribuan bahkan mungkin jutaan informasi. Tanpa upaya pemerasan spon, niscaya otak saya akan kehilangan daya serap. Nah, itu saja.

Yang menarik dan saya sampaikan dalam forum itu adalah, bahwa tanpa skenario sebelumnya, yang hadir berbicara ternyata mewakili antargenerasi.  Achadi, adalah saksi sekaligus pelaku sejarah. Sebagai pembantu presiden, dia tentu sangat lekat berinteraksi dengan Bung Karno. Karena itu, dalam pemaparannya, dia bisa menggambarkan bagaimana keseharian Bung Karno yang ia sebut jauh dari sebutan otoriter. “Bung Karno justru senang kalau saya sanggah,” ujarnya.

Berikutnya, Mahfud MD. Tokoh vokal ini, mewakili generasinya. Mahfud MD menceritakan perjalanannya ke Maroko pada tanggal 5 Februari 2012. Hari itu, dia hadir dan memberi materi pada pertemuan asosiasi MK sedunia mewakili MK Asia. Di acara itu, dia berjumpa dengan Ketua MK yang sudah sangat tua. Ketua MK itu memberitahu Mahfud MD kalau dirinya pernah hadir di Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung pada tahun 1955. Menurut Ketua Mahkamah Konstitusi itu KAA menimbulkan semangat membara bagi bangsa Asia dan Afrika untuk sejajar dengan bangsa lain, dan itu tidak lain adalah jasa Bung Karno. Negara-negara Afrika bangkit karena dorongan dan semangat Bung Karno. Bung Karno telah mencontohkan dari dulu bahwa Indonesia pun bisa maka negara-negara di Afrika pun bisa. “Sebelum saya ke Maroko, saya mampir ke Aljazair. Di Aljazair juga Bung Karno punya nama harum.” Kata Mahfud MD.

Sedangkan, Bambang Pamungkas, berbicara tentang keteladanan Bung Karno. Ia berbicara juga tentang pemahamannya sebagai generasi muda terhadap sosok Bung Karno. Tanpa tedeng aling-aling, dia juga merasakan ada pembelokan sejarah terkait Bung Karno. Itulah yang membuat ia tertarik mendalami Sukarno. Ketika seorang audiens bertanya asal mula ketertarikannya terhadap sosok Bung Karno, Bepe menyebutkan ketidakmengertiannya tentang sejarah yang aneh. “Bung Kano begitu dipuja masyarakat, tidak hanya di Indonesia, tetapi di dunia. Kalau dia bukan orang hebat, tidak mungkin seperti itu. Bahwa ia sempat mendengar sejarah yang negatif dari Bung Karno, itu justru memicu dia untuk mencari tahu sejarah yang sebenarnya.”

Acara diakhiri dengan tiga sesi tanya-jawab. Secara keseluruhan, semua berjalan sangat lancar. Saya pribadi menyampaikan apresiasi dan terima kasih sebesar-besarnya kepada para narasumber serta penerbit Imania. Tak lupa, terima kasih pula kepada segenap hadirin yang telah sudi meringankan langkah hadir dalam acara tersebut. Semoga, gawe kecil itu membawa manfaat bagi kita. (roso daras)

Iklan

Pre-Order Buku Total Bung Karno

Total Bung KarnoPuji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Agung, akhirnya buku TOTAL BUNG KARNO telah selesai cetak, dan siap edar. Begitu kabar gembira hari ini, Selasa 14 Mei 2013 dari penerbit Etera Imania. Penerbit yang telah membukukan tiga buku saya terdahulu (serial Bung Karno the Other Stories).

Ini adalah buku keempat yang mereka cetak. Buku keempat ini, pada galibnya menjawab pertanyaan Anda, yang belum mengoleksi serial Bung Karno The Other Stories secara lengkap. Di samping, tentu saja memenuhi permintaan khalayak yang sama sekali belum pernah membaca buku-buku saya itu dengan berbagai alasan. Umumnya, karena terlambat mengetahui, dan ketika mencari ke toko buku, sudah tidak ada lagi.

Karenanya, konten buku ini adalah rangkuman dari ketiga konten buku terdahulu, dengan penambahan sejumlah judul baru sebagai pelengkap, serta sedikit revisi di beberapa bagian. Dan yang menarik, endorsement dari para Sukarnois pada ketiga buku terdahulu juga dimuat secara utuh. Di sana ada Sukmawati Soekarnoputri, Amin Aryoso, Moch. Achadi, Ki Utomo Darmadi, Dr Cornelis Lay. Lebih menarik lagi karena buku ini juga ketambahan dua endorsement lagi dari dua tokoh nasional yang sangat berbeda latar-belakang.

Keduanya berbicara tentang Bung Karno, dari sudut pandang masing-masing. Yang pertama adalah Mahfud MD, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, dan Bambang Pamungkas, pesepakbola nasional yang akrab disapa Bepe.

Nah, Penerbit Imania (grup Mizan) juga mengabarkan, bagi peminat buku TOTAL BUNG KARNO tersebut, penerbit membuka sesi pre-order antara tanggal 14 – 24 Mei 2013 melalui sejumlah situs, antara lain mizan.com, bukabuku.com, dan bukukita.com. Sebanyak 200 pemesan pertama akan mendapat potongan harga 20 persen.

Monggoooo….. (roso daras)

 

Kesaksian Achadi (Bagian 6 – Selesai)

bung-karno2Sampailah kita ke bagian akhir kesaksian Achadi seputar prosesi pendongkelan Bung Karno dari perspektif dirinya selaku saksi hidup, sekaligus saksi mata. Pada bagian akhir, Achadi merumuskannya ke dalam enam butir kesimpulan, dan diakhiri dengan satu paragraf sebagai penutup kesaksiannya.

Kesimpulan Pertama, penetapan Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta adalah dilakukan dalam sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan tanggal 18 Agustusw 1945 setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, atas nama bangsa Indonesia. Penetapan tersebut dilakukan setelah penetapan UUD 1945 sebagai konstitusi negara.

Perlu dicermati bahwa MPRS adalah Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara, yang dibentuk bukan oleh Pemilihan Umum tetapi oleh Surat Keputusan Presiden Sukarno, berdasarkan Dekrit Presiden kembali ke UUD 1945 tanggal 5 Juli 1959. Oleh karena itu, apakah MPRS ini mempunyai hak hukum ketatanegaraan untuk mengganti Presiden Sukarno. Juga hal ini karena MPRS bukanlah yang menetapkan Bung Karno sebagai Presiden RI.

Kedua, Semua tindakan politik Jenderal Soeharto sebagaimana yang tersebut dalam kesimpulan pertama di atas, dengan menggunakan SP 11 Maret tanpa melampirkan SP 11 Maret yang asli atau salinan yang asli, apakah bisa dinyatakan sah secara hukum? Apalagi surat Presiden Sukarno pada 13 Maret 1966 telah menegaskan makna dari SP 11 Maret, serta pidato kenegaraan Presiden 17 Agustus 1966 (Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah) yang menegaskan bahwa SP 11 Maret bukanlah “transfer of authority”, maka secara hukum ketatanegaraan adalah supaya SP 11 Maret tidak dimanipulasikan.

Ketiga, Bahwa Presiden Sukarno menghadapi langkah-langkah penyelewengan SP 11 Maret itu tidak mengambil tindakan hukum secara semestinya, tiada lain untuk mencegah pertumpahan darah, perpecahan bangsa dan rakyat Indonesia yang telah dengan susah payah ia perjuangkan untuk bersatu sejak tahun 20-an.

Keempat, Ternyata perlu dimaklumi bahwa SP 11 Maret yang asli hilang dan tidak diketahui siapa yang menyimpan. Hal ini berdasarkan pernyataan Jenderal Soeharto sendiri maupun Mensesneg (waktu itu), Moerdiono. Sedangkan, menurut hukum yang berlaku, menghilangkan arsip negara mempunyai sanksi pidana.

Kelima, TAP MPRS No. XXXIII/1967 yang mengganti Presiden Sukarno dengan Jenderal Soeharto, setelah mencermati keseluruhan kesaksian di atas, jelas merupakan antiklimaks dari skenario terselubung untuk menggantikan pimpinan negara dan pemerintah RI yang bisa memenuhi kepentingan kekuatan-kekuatan asing bekas penjajah (neo-kolonialisme). Kesemuanya dilaksanakan dengan memanipulasikan ketentuan-ketentuan dan hukum, serta melanggar asas peri kemanusiaan yang adil dan beradab (Pancasila): Intimidasi, teror, penangkapan, penahanan, dan seterusnya.

Keenam, Tidak bisa diragukan lagi kebenaran dari Presiden Sukarno di sidang kabinet tanggal 6 Oktober 1967 dan tanggal 7 Januari 1966 di Istana Bogor, Pidato 17 Agustus 1966, serta Pidato Nawaksara dan Pelengkap Nawaksara di depan Sidang MPRS 1966.

Nah, di bagian penutup, Achadi menuliskannya sebagai berikut:

Berdasarkan semua ungkapan di atas, maka TAP MPRS XXXIII/1966 tidak bisa dibenarkan secara hukum, harus dihapus, apalagi Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono baru-baru ini menetapkan Bung Karno dan Bung Hatta sebagai Pahlawan Nasional. Dan karenanya, pimpinan MPRS pada waktu itu, beserta anggota sidang MPRS yang mengeluarkan TAP MPRS XXXIII/1966 harus bertanggung jawab.

Demikian kesaksian lengkap Moch. Achadi, Mantan Menteri Tansmigrasi dan Koperasi Kabinet Dwikora dan Kabinet Dwikora yang Disempurnakan, serta mantan Rektor Universias Bung karno 1964-1966. (roso daras)

Kesaksian Achadi (Bagian 5)

soeharto mudaMelanjutkan kesaksian Achadi, sampailah rangkuman tulisan ini pada bagian ke-5, tentang perkembangan proses pendongkelan terhadap Presiden Sukarno. Bagian ini memuat kesaksian Achadi (dan juga telah dicatat dalam lembar sejarah) ihwal Pidato Laporan Pangloma Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban/Pengemban Ketetapan MPRS No IX/1966 di hadapan Sidang Istimewa MPRS tanggal 7 Maret 1967 (Jenderal Soeharto).

Achadi mencuplik kesimpulan atas laporan Soeharto, yang menyimpulkan bahwa Bung Karno tidak dapat digolongkan sebagai penggerak langsung atau dalang ataupun tokoh G30S. Sekalipun demikian, MPRS mengeluarkan Tap (Ketetapan) XXXIII tahun 1967 yang isinya:

a. Mencabut kekuasaan Sukarno.

b. Mengangkat Soeharto sebagai Pejabat Presiden RI.

c. Melarang Bung Karno melakukan kegiatan politik.

d. Menyerahkan persoalan hukum Bung Karno kepada Jenderal Soeharto sebagai pemegang Tap MPRS No IX/1966 dan Pejabat Presiden.

Perkembangan selanjutnya yang disaksikan Achadi adalah, bahwa Pemerintah RI dengan Pejabat Presiden Jenderal Soeharto, dalam bulan November 1967 mengirim delegasi dalam pertemuan di kota Genewa (Swiss) dengan Rockefeller dan Raksa-raksasa Kapitalis Barat. Atas peranan Mafia Berkeley maka pemerintah yang menyebut dirinya Orde Baru itu langsung mendapat dukungan IGGI, Bank Dunia, ADB, UNDP, IMF, dll.

Menutup rangkaian kesaksian Achadi seputar proses pendongkelan Bung Karno, ia menulis, “Nekolim menguasai ekonomi Indonesia”. (roso daras/bersambung)

Published in: on 13 Mei 2013 at 11:06  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , , ,

Guntur, Buku, dan Mengapa?

Sabtu, 17 November 2012 lalu, mestinya saya menghadiri acara peluncuran buku “Bung Karno, Bapakku, Kawanku, Guruku”, karya Guntur Soekarno Putra. Dari siang, M. Achadi, mantan Menteri Transkop pada Kabinet Dwikora, sudah mengingatkan saya, bahkan mengajak janji temu sebelum sama-sama berangkat ke tempat acara. Sangat menyesal, saya mengurungkan kepergian saya ke acara peluncuran buku di Atrium Sampoerna Strategic, di kawasan Sudirman.

Meski begitu, jauh sebelum acara berlangsung, saya dan pak Achadi sempat mendiskusikan ihwal buku dan penulisnya. Saya sendiri sudah mengoleksi buku yang dicetak ulang itu. Angle tulisan sangat bagus. Sebab, Guntur tidak hanya memotret bapaknya sebagai seorang Presiden, Kepala Negara dan tokoh dunia, melainkan Bung Karno sebagai Bapak, Kawan, dan Guru.

Melihat dari judul (sampul) buku, rasanya tidak ada kata-kata “revisi”. Artinya, benar-benar cetak ulang dengan materi yang sama. Jika itu benar, secara pribadi saya sangat menyesalkan. Mengapa? Buku itu pertama kali terbit tahun 1977, tahun-tahun yang Guntur menyebutkan sebagai, “untuk mengurus izin terbit saja sangat susah”. Ada aroma Orde Baru di sana. Ada aroma pressure di sana. Bahwa jika kemudian buku itu diizinkan terbit, saya pribadi yakin, karena isinya memang tidak terlalu “membahayakan” pemerintahan Orde Baru.

Akan tetapi, semua cerita unik sarat nuansa humanisme Bung Karno di dalam buku itu, sesungguhnya ada beberapa yang bisa diselipkan persepsi, atau setidaknya ulasan yang lebih bersifat latar belakang. Tujuannya jelas, agar pembaca menjadi lebih paham tentang suasana saat peristiwa itu terjadi. Saya menyebut contoh, ihwal keikutsertaan Guntur dalam beberapa jamuan makan malam bersama pimpinan-pimpinan dunia kaliber Nehru, Nasser, Chou En Lai, dan lain-lain. Ia menggambarkan suasana dari sudut pandang seorang anak. Kalau saja Guntur menyelipkan esensi kebesaran pengaruh Bung Karno bagi para pemimpin dunia berkembang (Asia-Afrika).

Tak bisa dipungkiri, hanya Bung Karno seorang, tokoh dunia ketika itu yang bisa mempersatukan para kepala negara dengan berbagai macam latar ideologi politik dan agama. Bung Karno menyatukan para pemimpin Afrika, para pemimpin Arab, hingga para pemimpin besar Asia lain seperti Gandhi, Nehru (India), Mao Tse Tung, Chou En Lai (Cina). Pemimpin Islam, pemimpin nasionalis, hingga yang komunis bisa dipersatukan oleh Bung Karno.

Salah satu judul, Guntur juga bercerita, yang menurut dia barangkali lucu. Suatu ketika, saat diajak bapaknya hadir di jamuan makan malam, Guntur tidak menyukai makanan yang dihidangkan. Dengan berpura-pura makan sambil menutup kain lap, ia muntahkan makanan di mulutnya ke bawah meja. Ia merasa lucu karena membayangkan bagaimana reaksi petugas cleaning service setelahnya…. Artinya, sama sekali tidak terlintas kemungkinan reaksi cleaning service yang menyesalkan perilaku anak seorang pemimpin besar dunia, yang membuang makanan ke kolong meja.

Tulisan-tulisan Guntur tentang Ratna Sari Dewi, buat saya, juga agak sarkastik. Bisa jadi karena dia (dalam hati kecilnya) tidak suka kehadiran Ratna Sari Dewi dalam kehidupan bapaknya, atau entah alasan lain. Tetapi, jika itu alasannya, mengapa dia tidak menulis tentang wanita-wanita lain yang dicintai Bapaknya?

Cerita Guntur protes ke bapaknya karena kalau apel ke rumah pacar tetap dikawal…. kisah Guntur belajar nyetir di halaman istana… kisah humanis tentang juru masak favoritnya, dan masih banyak cerita menarik lainnya, sungguh membuat siapa pun yang membaca, seolah merasakan ada di dekat Bung Karno, berada di dekat lingkungan kehidupan keluarga Bung Karno. Karena itu pula, lepas dari kekurangannya, buku ini tetap memiliki banyak kelebihan.

Diskusi (atau lebih pas ngerumpi) antara saya dan pak Achadi tentang Guntur, juga sampai ke pertanyaan, “Mengapa Guntur tidak terjun ke politik?” Muncullah banyak dugaan. Mulai dari yang “mematuhi larangan Bapaknya”, hingga “mematuhi larangan Orde Baru”. Jika alasan pertama, mengapa pula sebagai sulung dia membiarkan adik-adiknya berpolitik? Jika alasan yang kedua, ada dua kemungkinan. Pertama, sebagai sulung dia ingin melindungi adik-adiknya. Kedua, Guntur memang bukan Bung Karno. (roso daras)

 

Published in: on 19 November 2012 at 03:01  Comments (7)  
Tags: , , , , , ,

Achadi Menguak Kabut G30S

Mohammad Achadi, nama yang sangat lekat buat saya pribadi. Bukan saja karena dia Sukarnois, lebih dari itu, dia adalah pelaku sejarah. Pernah begitu dekat dengan Bung Karno. Bahkan pernah menjadi “pembantu”nya dalam posisi sebagai Menteri Transmigrasi dan Koperasi Kabinet Dwikora yang Disempurnakan. Di luar itu semua, ada satu pekerjaan penulisan buku tentang dia yang belum saya selesaikan.

Sebagai menteri kabinet terakhir Bung Karno, sekaligus saksi hidup jatuhnya Bung Karno, tentu saja Achadi tahu banyak tentang peristiwa yang sekarang kita kenal dengan sebutan G30S (Gerakan 30 September). Achadi sendiri menyebutnya Gestok (Gerakan Satu Oktober). Ya, baik 30 September, atau 1 Oktober, keduanya terjadi di tahun yang sama, 1965, yang berepilog, runtuhnya rezim Sukarno dan naiknya rezim Soeharto.

Walhasil, jika kemudian Achadi menulis buku “Kabut G30S, Menguak Peran CIA, M16, dan KGB”, menjadi begitu berarti. Persis seperti yang berulang-kali Achadi kemukakan dalam banyak kesempatan saya bertemu dengannya, bahwa dalang G30S itu bukan hanya CIA, tetapi juga KGB. Awalnya, sungguh sebuah statemen yang mengagetkan.

Achadi membeberkan secara jelas, dilengkapi fakta pendukung yang sungguh menarik. Antara lain kesaksian Achadi yang ketika berada di dalam tahanan (Orde Baru), bertemu dengan tokoh-tokoh PKI, maupun tokoh-tokoh yang diindikasikan terlibat G30S. Mereka antara lain Jenderal Supardjo (Wakil Pemimpin Senko/Sentral Komando G30S), Letkol Untung (Pemimpin Senko G30S), Jenderal Sabur (Komandan Cakra Birawa) dan Pono (Biro Khusus PKI).

Kesaksian-kesaksian tersebut kemudian terangkai menjadi sebuah fakta baru, yang sejatinya lebih bersifat memperkuat dari fakta-fakta yang sudah lama terbongkar. Antara lain, bahwa Bung Karno sama sekali tidak terlibat baik langsung maupun tak langsung dengan G30S, bahwa ada keterlibatan CIA, M16, dan KGB di dalam tragedi tersebut, bahwa Soeharto mengetahui akan adanya pergerakan malam 30 September 1965, bahwa Jenderal A. Yani kepada Bung Karno pernah membenarkan tentang adanya “Dewan Jenderal”, dan masih banyak fakta lain.

Buku ini juga mencantumkan rencana CIA terhadap penggulingan Sukarno, yang secara intensif tertuang dalam dokumen penggulingan Sukarno periode 1964-1968. Sementara itu, agen-agen rahasia Inggris (M16), dalam dokumen yang juga dicantumkan oleh Achadi, mulai beraksi melakukan kegiatan spionase penggulingan Sukarno secara intensif antara tahun 1963-1966.

Singkat kalimat, Achadi, pria kelahiran Kutoarjo 14 Juni 1931 itu, dalam kesepuhannya masih gigih menguak fakta, menguak kebenaran tentang seorang manusia bernama Sukarno. Ihwal alasan di balik itu, tentu hanya Tuhan dan Achadi yang tahu. Hanya, suatu hari Achadi pernah berkata kepada saya, “Percayalah, antek Soeharto masih banyak. Dan selama itu pula, upaya mendiskreditkan Bung Karno juga tidak akan pernah selesai. Jadi, kita juga tidak boleh surut menyuarakan kebenaran tentang Sukarno.” (roso daras)

Published in: on 9 Juli 2012 at 05:02  Comments (15)  
Tags: , , , ,

Kepingan Sejarah di Penjara

Lelaki sepuh itu duduk di antara hiruk-pikuk restoran McDonald, Sarinah, Jl. MH Thamrin, Jakarta. Sendiri. Malam merambat naik. Para pengunjung tak menghiraukannya. Tentu saja. Jikapun ada yang menatapnya, tentu hanya sekilas. Hampir dapat dipastikan, tidak satu pun pengunjung restoran McD Sarinah malam itu yang mengetahui, bahwa lelaki gaek bertongkat itu adalah Moh. Achadi, mantan Menteri Transmigrasi dan Koperasi Kabinet Dwikora (1964-1966).

Untuk kesekian kalinya, kami memang melakukan janji temu. Seperti biasa, selain bertukar pikiran tentang banyak hal, selalu saja ada hal-hal baru yang ia sampaikan. Sekitar tujuh tahun mengenal Achadi, saya cukup paham, sosok yang satu ini menyimpan begitu banyak kepingan sejarah perjalanan bangsa. Selain dia adalah pelaku aktif pejuang mempertahankan kemerdekaan, mengangkat bedil dan berperang dengan Sekutu, Achadi juga seorang intelektual.

Awalnya saya cukup bingung menentukan titik temu pada malam hari itu. Jakarta diguyur hujan, kemacetan di mana-mana, posisi kami ada pada mata arah yang berbeda. Spontan saya usulkan Sarinah. Alasam pertama, karena gedung itu adalah salah satu “karya” Bung Karno. Harapannya adalah ada semburat nostalgi di benak Achadi. Di samping alasan lain, Sarinah adalah titik tengah. Jam 19.00 adalah jam kesepakatan. Apa yang terjadi?

Pria yang masih aktif melakukan aktivitas yoga itu datang tepat waktu. Bukan main! Tepat jam 19.00 beliau sms dan mengabarkan sudah berada di Sarinah, tepatnya di restoran McDonald. Saya sendiri memperkirakan baru 30 menit kemudian. Seperti yang sudah-sudah, dia pun memaafkan keterlambatan saya. Lengkap dengan segala pemakluman tentang “kekurangdisiplinan” generasi sekarang….

Ketika saya datang, dia sudah menyelesaikan santap malam ala junk-food. Berbasa-basi sejenak, langsung larut dalam diskusi menarik terkait kepingan-kepingan sejarah yang ia rekam selama kurang lebih 12 tahun mendekam di penjara. Sebagai tahanan politik bersama sejumlah orang dekat Bung Karno lainnya, ia mencatat banyak fakta sejarah dari pelaku sejarah langsung, yang sayangnya tidak pernah terungkap di persidangan. Banyak sekali tahanan politik ketika itu, dijebloskan ke tahananbertahun-tahun, belasan tahun, tanpa persidangan.

Beruntung, memori pak Achadi masih sangat kuat. Dan lebih beruntung lagi, masih ada insan sejarah yang berkenan membukukannya. Maka lahirlah buku “Moh. Achadi, Informasi Historis dari Penjara”. Buku ini diterbitkan oleh Mitra Juang Pancasila, dengan kata pengantar Drs. H. Eddi Elison, sahabat senior saya.

Buku ini bagus secara materi. Kalaupun ada yang kurang bagus adalah desain cover dan penjudulan yang kurang eye-catching. Di samping, tata letak halaman dalam yang “seadanya”, ditambah kualitas cetak yang tidak lebih baik dari buku stensilan. (roso daras)

Published in: on 15 Desember 2011 at 03:57  Comments (5)  
Tags: , , ,

Bung Karno Ingin Mencontoh Denmark

SukarnoTak sedikit pun diragukan, Bung Karno itu ibarat perpustakaan berjalan. Pengetahuannya tidak hanya tentang sejarah tokoh-tokoh berpengaruh di dunia. Pemahamannya bukan hanya tentang berbagai ajaran, teori, dan rumusan politik dan etik. Referensinya tidak hanya ratusan suku bangsa di Indonesia, tetapi juga karakter bangsa-bangsa di dunia.

Entah apa rahasianya, tetapi Bung Karno bisa “melahap” sebuah buku dalam waktu yang begitu cepat. Bukan hanya itu. Memorinya luar biasa tajam. Dalam analogi chip komputer, entah kategori berapa bytes, mega, giga, atau terabytes. Karena itu pula, Sukarno begitu mengagumkan. Tidak saja dikagumi rakyatnya, tetapi juga dikagumi para tokoh dunia.

Kekayaan literatur dalam benaknya, membuat siapa pun yang berbicara dengannya, merasa klop. Pengetahuan yang lengkap, membuat siapa pun yang berbicara dengannya, merasa terkesan. Kepada Nixon, Eisenhower, dan Kennedy, Bung Karno bisa membeberkan sejarah Thomas Jefferson, George Washington dengan begitu heroik. Kepada Nikita Kruschev, Bung Karno bisa menguak sisi terdalam seorang Lenin hingga kebesaran dinasti Tsar. Bahkan kepada Raja Arab Saudi dan para pemimpin Timur Tengah, Bung Karno bisa mendongeng lebih indah dibanding kisah 1001 malam.

Raja Frederik IX dan Denmark

Alhasil, antara tanggal 3 – 27 Juni 1959, Bung Karno melakukan lawatan ke luar negeri. Salah satu negara yang dikunjunginya adalah Denmark. Benar. Ia minta protokol mengatur persinggahan di Kopenhagen. Sejumlah anggota rombongan tidak sedikit yang under estimated, “Untuk apa mengunjungi sebuah negara kecil seperti Denmark?” Salah satu yang bertanya adalah dokter pribadinya, Dr. Soeharto.

Sukarno tahu bahwa tidak sedikit anggota rombongannya yang mempertanyakan kunjungannya ke Denmark. Seperti biasa, alasan yang Bung Karno kemukakan pertama-tama adalah: “memperkenalkan Indonesia”. Setelah itu, barulah Bung Karno bercerita ihwal riwayat karya-karya seni patung yang termashur, antara lain Patung Dewi Laut. Maklumlah, sejak masih sekolah di HBS, Bung Karno sudah mempelajari banyak buku seni dunia.

Selanjutnya, mulailah Bung Karno membeber literatur Denmark yang ada di kepalanya. Ia berkisah tentang riwayat bangsa Denmark yang hidup tenteram dan sejahtera. “Sistem sosial ekonomi Denmark dapat dipertimbangkan untuk dicontoh. Lembaga sejenis koperasi, berperan penting di sini. Karenanya, hanya sedikit orang Denmark yang betul-betul kaya raya, dan lebih sedikit lagi orang Denmark yang betul-betul miskin,” urai Bung Karno.

Raja Denmark yang bertahta ketika Bung Karno berkunjung adala Raja Frederik IX, dari Dinasti Schleswig-Holstein-Sonderburg-Glucksburg. Dinasti kerajaan dipertahankan di Denmark bukan untuk melestarikan feodalisme, melainkan sebagai sarana untuk mempersatukan bangsa Denmark. “Sungguh sejahtera bangsa Denmark. Meskipun tidak memiliki sumber daya alam, tetapi dapat hidup makmur dan adil dengan sistem jaminan sosial yang menyeluruh. Dalam masyarakat seperti itu, kemungkinan timbul gejolak sosial, sangat kecil,” papar Bung Karno pula.

Pernyataan Bung Karno menyiratkan rasa inginnya ia mencontoh tatanan sosial-ekonomi Denmark. Terlebih, pada era kunjungannya saat itu, Indonesia sedang dilanda konflik separatis. Kabinet parlementer jatuh-bangun.

Bagi saya pribadi, kisah sejarah di atas, ternyata memiliki benang merah dengan naiknya tokoh muda bernama Moch. Achadi. Tahun 1959, Achadi menjadi pimpinan organisasi mahasiswa pelajar Indonesia se-Eropa, dan berdomisili di London. Demi mengetahui Bung Karno singgah di Denmark, Achadi meninggalkan London menuju Kopenhagen, untuk suatu urusan. Itulah perjumpaan pertama Achadi dan Bung Karno.

Beberapa tahun kemudian, Achadi diangkat menjadi Menteri Transmigrasi dan Koperasi Kabinet Dwikora, 1964-1966. Sampai di sini informasinya, karena materi tentang itu, sedang saya susun menjadi sebuah buku. Insya Allah. (roso daras)

Published in: on 22 Agustus 2009 at 10:49  Comments (3)  
Tags: , , ,

Pegang Peci Bung Karno

Achadi dan Bung Karno

Drs. Mochamad Achadi, adalah Menteri Transmigrasi dan Koperasi pada Kabinet Dwikora (1964 – 1966). Dia termasuk salah seorang Sukarnois yang teraniaya. Pemerintahan Soeharto menyita rumah dan hartanya, lantas menjebloskannya ke penjara belasan tahun tanpa pengadilan!

Saya mengenal beliau secara pribadi sejak tahun 2004. Dari pria sepuh yang masih energik berkat yoga itu, saya mendapatkan banyak cerita tercecer di sekitar Bung Karno. Pelaku sejarah, sekaligus eks tentara pelajar yang bertempur mempertahankan kemerdekaan Indonesia di wilayah Gombong, Kebumen ini, masih enggan menuliskan memoar tentang dirinya.

Dalam setiap percakapan dengan Achadi, manakala dia berkisah tentang Bung Karno, saya menyerapnya dengan haus. Maklumlah, dia adalah salah satu pelaku sejarah. Dia bertutur tentang dirinya dan Bung Karno. Bagaimana mungkin saya bisa abai?

Ada banyak kisah dituturkan Achadi tentang Bung Karno, mulai dari kisah heroik hingga yang unik dan menarik. Salah satunya adalah saat ia duduk di mobil kepresidenen berdua Bung Karno di bangku belakang. Di depan, sopir dan ajudan berkonsentrasi membawa Bung Karno dan Achadi dari Bogor menuju Jakarta.

Di belakang, Achadi asyik ngobrol bersama Bung Karno, hingga tiba saat ketika Bung Karno melepas pecinya. Peci hitam lambang nasionalisme Indonesia yang telah ia perkenalkan ke seluruh penjuru dunia itu, kini tidak lagi menutupi kepala Bung Karno yang mulai botak.

Spontan Achadi teringat, betapa orang-orang di sekitar Bung Karno, sampai rakyat jelata di warung kopi, begitu antusias jika berkisah soal peci Bung Karno. Sama antusiasnya dengan topik mengenai tongkat komando dan kacamata hitam yang juga menjadi ciri penampilan Bung Karno.

Begitu kharismatiknya Bung Karno, sehingga apa-apa yang melekat pada dirinya, sering kali dihubung-hubungkan dengan peristiwa supranatural, atau tidak sedikit yang memandangnya dari sisi spiritual. Maka, ketika melihat Bung Karno melepas peci, muncul di benak Achadi, keinginannya “mencetak sejarah”, setidaknya sejarah bagi hidupnya.

“Bagaimana pun, saya harus bisa memegang peci Bung Karno,” kata hati Achadi. Sedangkan kata mulut Achadi adalah, “Bung, izinkan saya saja yang memegang pecinya. Dengan begitu, Bung Karno bisa duduk dengan nyaman tanpa harus memegangi terus peci itu.”

“Baiklah…,” berkata begitu, Bung Karno langsung memindahkan peci yang dipegangnya ke tangan Achadi yang sigap menyongsong.

Setelah memegang peci Bung Karno, Achadi justru banyak diam. Bung Karno sendiri diam. Tetapi, di dalam hati Achadi, terdengar gemuruh suka cita dan rasa girang bukan kepalang. Ia telah berhasil “membuat sejarah”…

“Sangat mungkin, sayalah satu-satunya menteri yang pernah memegang peci Bung Karno,” kata Achadi dengan sorot mata berbinar. Yang ini bukan kata hati, melainkan keluar dari mulut Achadi kepada saya. Ya, kepada saya: Roso Daras…. (roso daras)

Published in: on 4 Agustus 2009 at 19:07  Comments (6)  
Tags: , , ,