Surat Dewi kepada Soeharto (2)

Dalam surat bagian pertama, Dewi secara terang-terangan sudah membuka tentang praktik politik licik yang dijalankan Soeharto. Dewi juga menyoal pembunuhan massal bagi rakyat Indonesia yang terlibat, diduga, atau terindikasi anggota atau simpatisan PKI. Soeharto ada di balik peristiwa tersebut, dan Sarwo Edhie Wibowo, mertua Susilo Bambang Yudhoyono, sebagai Komandan RPKAD (sekarang Kopassus) adalah penanggungjawab eksekusi atas sebagian bangsanya sendiri.

Pada penggalan kedua surat Dewi berikut ini, Dewi masih menyoal “kejahatan” Soeharto yang bertanggung jawab atas pembunuhan ratusan ribu, bahkan ada versi yang menyebutkan jutaan rakyat Indonesia, dengan dalih “menumpas PKI”. Berikut kutipannya:

Ratna Sari DewiMengapa harus terjadi pertumpahan darah besar-besaran terhadap orang-orang yang tak bersalah? Dan mengapa masyarakat dunia membisu seribu bahasa? Bila satu orang saja meninggal di tembok Berlin, seluruh dunia gegap gempita. Teapi bila 800.000 orang Asia dalam masa damai dibunuh secara terencana, adem ayem saja di Barat.

Tentu, di antara yang terbunuh itu pasti ada yang komunis. Tetapi apa yang terjadi dengan kebebasan serta hak asasi manusia, bnila mereka bekerja dengan mempergunakan cara-cara tertentu terhadap suatu gerakan di bawah tanah, yang tidak berkenan di hati pemerintah. Akan lebih bisa diterima bila cara-cara tertentu itu diambil, setelah PKI dilarang secara undang-undang dasar. Tetapi justru karena kebebasan manusia harus dihormati ditinjau dari sudut kemanusiaan, tidaklah dapat dibenarkan mengadakan pembantaian di antara pemberontak. Lepas dari persoalan ideology, yang terjadi itu merupakan kejahatan nasional.

Tuan Soeharto, ke mana pun Anda berpaling untuk mengesahkan kejahatan ini, suatu kejahatan di mana orang yang tidak berdaya dan yang tak terlindung dibunuh dan sebagian lain seolah-olah dibebaskan, terus terang, saya tidak menyetujui apa yang telah terjadi. Bukanlah suatu fakta bahwa pemerintah baru di bawah bendera Orde Baru mempergunakan slogan “menumpas PKI?” Apakah Anda begitu ketakutan bahwa kekuasaan Sukarno akan kembali dan bahwa pengikut-pengikutnya akan muncul kembali, karena Anda tahu benar bahwa lebih dari separo orang Indonesia setia padanya? Hal ini tentu belum Anda lupakan, bukan?

Barangkali Anda telah berpendapat bahwa 30 September telah merupakan masa lalu. Menurut saya tidaklah demikian halnya karena sangat banyak pertanyaan yang belum jelas dan disembunyikan. Saya bersyukur bahwa saya mengalami kejadian-kejadian itu dari dekat dan mengambil hikmah darinya, bahwa kejadian-kejadian sebenarnya dalam sejarah selalu diinterpretasikan ulang oleh mereka yang sedang berkuasa, agar dapat memanfaatkannya untuk tujuan-tujuan politik mereka. Saya juga menyadari pengaruh yang amat besar dari media publisitas. Betapa mudahnya bagi pemimpin-pemimpin politik tergiur menerima propaganda yang akan menunjang tujuan-tujuan merek.

Marrilah kita berhenti pada peristiwa 30 September, atau menurut fakta, pada dini hari 1 Oktober 1965. Inti dari insiden ini adalah kesimpulan, diperkuat oleh Dewan Revolusioner yang dipimpin oleh salah seorang anggota pengawal pribadi Sukarno, Letkol Untung.

“Sekelompok tertentu dari para jenderal berencana untuk menggulingkan pemerintah dan membunuh Presiden Sukarno. Mereka telah membentuk Dewan Jenderal yang dibentuk dengan tujuan membentuk kekuasaan militer. Lagipula coup itu akan dilaksanakan pada hari Angkatan Bersenjata 5 Oktober”. Untuk mencegahnya, enam jenderal dibunuh, satu di antaranya menteri pertahanan, yakni Jenderal Yani, demikian Dewan Revolusi.”

Anda telah membuat umat manusia percaya, bahwa komplotan yang melakukan peristiwa 30 September adalah anggota PKI. Buknakah pembunuh-pembunuh sebenarnya dari keenam jenderal itu adalah perwira-perwira Angkatan Bersenjata, Angkatan Laut, Angkatan Udara, dan polisi nasional?

Saya meragukan apakah pembunuh-pembunuhnya khusus orang-orang komunis. Dan siapa sebenarnya orang yang mengorbankan perasaan dendam rakyat Indonesia dan menyulut api dengan menyatakan, “Itu adalah persekongkolan komunis!” Dan itu malah terjadi sebelum ditemukan suatu bukti mengenai persekongkolan komunis.

Menteri Pertahanan, Jenderal Nasution, yang sebenarnya juga harus dibunuh oleh “Dewan Jenderal”, mengucapkan pidato yang mengharukan saat keenam jenderal dimakamkan pada Hari Angkatan Bersenjata, 5 Oktober 1965. Dikatakannya, “Sampai hari ini Hari Angkatan Bersenjata selalu merupakan hari yang penuh rahmat, yang menyinarkan kemenangan. Tetapi hari ini dinodai oleh pengkhianatan dan penyiksaan….. Walaupun difitnah oleh para pengkhianat, di dalam hati kami percaya bahwa Anda sekalian termasuk pahlawan dan bahwa akhirnya kebenaran akan menang. Kami difitnah, tetapi kami tidak akan melakukannya terhadap musuh-musuh kami”.

Di dalam pidato Nasution, tidak ditemukan petunjuk sekecil apa pun, bahwa pembunuhan terhadap keenam jenderal telah dilakukan oleh para komunis. Sebaliknya, segala sesuatu yang diucapkannya menunjukkan bahwa peristiwa itu terjadi karena adanya bersengketaan di dalam kekuatan-kekuatan Angkatan Bersenjata sendiri. (Roso Daras – Bersambung)

Iklan

Semaun masih Hidup?

ass. wr. wb….sebagaimana kutipan yg saudara muat …..””Oleh Bung Karno, kalimat Musso itu diulanginya dalam penuturan kepada Cindy Adams. Itu artinya, tidak sedikit pemahaman-pemahaman baru yang Bung Karno peroleh dari Musso. Musso sendiri empat tahun lebih tua dari Bung Karno yang kelahiran 1901. Adapun teman seperjuangan Musso antara lain Alimin, Semaun, dan Darsono.”” (Musso dan Sukarno, Guru dan seteru,,28 agustus 2011). saya sekarang masih hidup dan tinggal di Indonesia.. Anda bisa dipersilahkan hub. saya.. dalam minggu2 ini saya ada di Jakarta..

Satu lagi, komen dari pembaca blog yang terhormat. Kali ini, datang dari Semaun999. Menjadi menarik, karena dia (setidaknya dalam komen yang saya kutipkan di atas), mengaku sebagai Semaun, yang tokoh PKI itu, dan telah dinyatakan wafat pada tahun 1971.

Tokoh komunis Indonesia kelahiran Mojoagung, Jombang – Jawa Timur tahun 1899 itu, juga dikenal sebagai teman Bung Karno. Mereka tinggal sama-sama di kediaman HOS Cokroaminoto, di Peneleh – Surabaya.  Jika benar Semaun masih hidup, maka usianya sekarang kurang lebih 112 tahun.

Saya dipersialakan menghubungi dia, berhubung tidak ada alamat dan nomor telepon, maka saya pun me-reply email beliau. Sekarang, saya menunggu. Eh, siapa tahu Semaun masih hidup. Ini tentu berita sangat besar.

Di atas saya posting, foto Semaun muda, dan foto “Semaun” yang saya dapatkan dari alamat (profil) email yang bersangkutan. (roso daras)

Published in: on 14 November 2011 at 05:26  Comments (34)  
Tags: , ,

Ho Chi Minh, “Ho Sang Pencerah”

Ho Chi Minh muda, melakukan pengembaraan panjang ke berbagai penjuru dunia, bermodal pekerjaan sebagai buruk kasar di kapal Perancis. Puncak pengembaraannya, terjadi saat ia memutuskan untuk menetap di Perancis. Di negara yang tengah menjajah negaranya. Tahun 1923, atau kurang lebih 12 tahun setelah ia meninggalkan negaranya untuk melakukan pengembaraan, adalah tahun yang penting bagi dirinya. Saat itulah dia sudah matang sebagai seorang pria.

Matang dalam berpandangan hidup, matang dalam penguasaan ilmu pengetahuan, matang dalam wawasan, singkatnya, ia sudah siap terjun ke gelanggang politik. Ketika itu, di Perancis tengah subur ideologi komunis. Maka Ho pun masuk menjadi anggota Partai Komunis Perancis. Bekal pengetahuan yang luas, hasil belajarnya secara otodidak, serta asal-usul negara Timur, menjadikan Ho Chi Minh lekas mendapat promosi di partainya.

Tiba saatnya ia dikirim oleh Partai Komunis Perancis untuk mengikuti pelatihan Comintern (Communist International) yang diprakarsai Lenin. Pelatihan itu diselenggarakan di Moskow. Lenin menyelenggarakan Comintern bukan lain adalah untuk melakukan revolusi komunis di seluruh dunia. Nah, di sanalah Ho mulai mengenal tokoh-tokoh komunis kelas dunia. Haqul yakin, Ho pasti juga mengenal baik tokoh-tokoh komunis Indonesia seperti Muso, Alimin, Semaun, Aidit dan lain-lain. Bahkan, bukan tidak mungkin ia mengenal baik Tan Malaka.

Ok, kembali ke topik. Singkat kata, Lenin melihat kecerdasan dan bakat luar biasa dari seorang Ho. Maka, ia pun mulai diminta oleh Comintern untuk tugas-tugas khusus (revolusi komunis) di wilayah Cina Selatan. Sebuah tugas khusus yang sangat menarik bagi Ho, tentu saja, karena di daratan Cina selatan itulah letak Vietnam. Itu artinya, ia memiliki kans untuk melakukan revolusi juga di negaranya, memerdekakan diri dari penjajahan Perancis.

Nah, tahun 1930, ia mendirikan dan memimpin Partai Komunis Indo-China (Indo-Chinese Communist Party/ICP). Sejak itulah, atau tepatnya di era 30-an, hidup dan kehidupan Ho Chi Minh banyak dihabiskan di sekitar Cina Selatan, Cina, dan Moskow. Ia benar-benar telah menjadi tokoh politik komunis Asia. Namanya mulai dikenal. Berkat aksinya membakar revolusi komunis di berbagai negara itu, maka ia pun menjadi incaran dan buruan banyak pemerintah dan negara.

Nah, soal nama, ini sangat menarik. Sebab, nama Ho Chi Minh sebenarnya adalah nama terakhir yang ia gunakan saat memimpin pergerakan terbuka, dan ia sudah muncul ke panggung politik dunia. Tetapi saat ia masih memimpin gerakan komunis bawah tanah, Ho Chi Minh memiliki ratusan nama alias. Ia bisa muncul sebagai siapa saja, dengan nama yang berbeda-beda. Saya jadi teringat bagaimana Tan Malaka dulu juga melakukan hal yang sama. Ia, sebagai anggota Comintern, juga diburu. Karenanya, ia acap muncul dengan nama yang berganti-ganti. Tentu saja dengan nama-nama khas Indonesia.

Sesungguhnya, nama asli, nama lahir Ho Chi Minh adalah Nguyen That Thanh. Nama Nguyen That Thanh tentu saja “sangat Vietnam”. Sebaliknya, nama ‘Ho” sangat Cina. Arti nama Ho Chi Minh itu sendiri cukup menarik, “Ho Sang Pencerah”, Bringer of Light.(roso daras)

Published in: on 20 Oktober 2011 at 04:18  Comments (6)  
Tags: , , ,

Cina, Menjelma Menjadi Super Kapitalis

Agustus 1990, pertama kali saya menginjakkan kaki di Hong Kong. Ketika itu, saya ke sana dalam rangka peliputan dua momen yang terbilang penting. Pertama, menjelang normalisasi hubungan diplomatik RI – RRC, dan kedua, hajat Asian Games di Beijing. Terbayang saat-saat sebelum berangkat, begitu pelik urusan visa karena Indonesia memang tidak ada hubungan diplomatik yang diputus Soeharto pasca G-30-S/PKI.

Belum lagi ditambah kewajiban menjalani screening di Bakin. Memasuki markas Bakin di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan saja rasanya begitu menyeramkan. Setelah melalui banyak pintu dan prosedur, bertemulah saya dengan perwira Bakin. Bicara banyak hal tentang banyak hal juga. Kesannya ngobrol. Lebih 30 menit, saya dipersilakan pulang.

Rupanya, 30 menit ngobrol itulah mekanisme screening untuk wartawan yang hendak berkunjung ke negara komunis, yang belum memiliki hubungan diplomatik dengan Indonesia. Saat itu, komunis masih menjadi momok. Bahkan, bagi penguasa, masih menjadi “senjata” ampuh untuk menutup ruang gerak ekstrim kiri yang mencoba mengkritisi pemerintahan Orde Baru.

Selan beberapa tahun kemudian, memalui perbincangan dengan para sesepuh nasionalis, mulailah terbuka persepsi saya tentang Cina dari kacamata seorang Sukarno. Dalam rapat-rapat kabinet di era Sukarno, tidak sedikit elite negara yang membisikkan tentang “ancaman” komunisme. Tentang bahaya laten komunis. Tentang kemungkinan komunis kembal melakukan gerakan ekstrim untuk mengganti ideologi Pancasila.

Termasuk, dialog-dialog para menteri, pembantu Bung Karno yang acap mengerem langkah Sukarno manakala mereka nilai terlalu dekat ke Cina. Sebab, pada saat itu, Bung Karno memang memainkan peran “non blok” dengan sangat gagah berani. Dia tidak bisa didikte Barat. Manakala Barat menyodorkan bantuan dengan pamrih “demokratisasi ala Barat” dan persyaratan lain, segera Bung Karno berpaling ke Timur, dan bantuan pun mengalir dari arah Timur.

Yang menarik adalah, elite politik di sekeliling Bung Karno pun tidak sedikit yang “ketakutan” atas sikap Bung Karno yang cenderung ke blok komunis. Dalihnya tentu saja, khawatir jika komunisme makin tumbuh subur di Indonesia, dan pada akhirnya akan kembali melakukan aksi kudeta serta mengganti ideologi negara dari Pancasila menjadi komunisme.

Atas semua “peringatan” itu, Bung Karno tak jarang meradang. Dia mengatakan, Cina hanya dilihat dari sisi ideologi komunisme. Itu keliru. “Tunggu, nanti, pada saatnya. Cina akan bangkit menjadi negara kapitalis terbesar di atas bumi ini.”

Saat Bung Karno mengatakan hal itu, tentu saja dinilai aneh. Tetapi, lagi-lagi, ketika saat ini kita melihat Cina bangkit, persis seperti yang dikatakan Bung Karno, telah menjelma jadi raksasa ekonomi dunia. Bukan hanya Hong Kong, Guangzhou, dan sejumlah kawasan lain yang begitu kosmopolit, Cina kini menjadi satu-satunya negara dengan segala kebesarannya. Besar wilayahnya, besar penduduknya, bisa kapitalisasi ekonominya, dan besar pula pertumbuhannya.

Bukan hanya penduduk Indonesia yang tercengang, dunia pun tercengang, bahkan warga Cina sendiri tercengang. Teringat betapa tahun 1990, banyak sekali warga Hong Kong yang bersiap-siap atau setidaknya mempersiapkan diri untuk eksodus menjelang pengembalian teritori Hong Kong dari Inggris kepada si empunya wilayah RRC. Tidak sedikit warga Hong Kong yang ketika itu sudah hidup dalam gelimang kapitalisme, begitu ketakutan dengan “hantu” komunisme dengan segala stigma negatif yang melekat.

Tentu saja, mereka keliru. Sebab, Hong Kong bukannya “makin komunis” tetapi jauh lebih kapitalistis saat ini. Bahkan, kota Guangzhou, yang hanya berjarak 3 jam perjalanan darat dari Hong Kong, telah menjadi pusat grosir terbesar di dunia. Seorang teman yang bertemu di Hong Kong baru saja bercerita, ia baru saja pulang dari Guangzhou dan membeli laptop Toshiba Portege seri terbaru hanya dengan harga 2.900 yuan, kurang dari lima juta rupiah!

Masih teman yang sama, baru-baru ini menemani seorang teman yang lain dari Jakarta, datang membawa uang senilai Rp 15 juta, dan pulang dengan tiga kopor penuh barang aneka rupa, dan ludes dijual kembali di Indonesia dengan total keuntungan bersih Rp 10 juta. Hmmm, sejatinya, saya sedang tergiur juga untuk mencicipi kemakmuran Cina…. (roso daras)

Published in: on 12 September 2011 at 13:20  Comments (3)  
Tags: , , ,

Pujian Bung Karno buat Mao

Bung Karno dan Mao Zedong

Bung Karno adalah pribadi yang lugas. Terhadap Presiden Amerika Eisenhower ia bisa melempar kata-kata pedas. Akan tetapi, terhadap pemimpin Cina, Mao Zedong yang komunis, ia bisa bertutur manis.

Nah, ini adalah sekelumit pujian Bung Karno kepada Mao. Pertama, ia memuji Mao sebagai seorang pemimpin yang cerdik. Dikisakan, pada satu periode, Negeri Tirai Bambu itu terancam bahaya kelaparan. Tanaman padi, jagung, dan gandung yang ditanam para petani, terancam gagal panen.

Ancaman terhadap produksi bahan pakan negeri dengan penduduk terbesar di dunia itu, datang dari jutaan burung pipit yang hidup liar di seantero negeri. Betapa tidak, tatkala bulir-bulir padi mulai ruah, kawanan burung pipit menyerbunya habis. Pohon padi yang siap panen pun menjulang tanpa isi. Sebuah ancaman kelaparan sungguh tampak di pelupuk mata.

Mao Zedong menerapkan strategi jitu guna menuntaskan hama burung pipit di negerinya. Mao tahu, burung pipit hanya punya kemampuan terbang terus-menerus selama empat jam. Maka, pada suatu ketika, Mao memerintahkan rakyatnya yang waktu itu berjumlah 600 juta, untuk secara serentak memukul tong-tong dari bambu, mengoyak-oyak pepohonan, berteriak-teriak atau berbuat sesuatu untuk menghalau burung pipit.

Perintah Mao dipatuhi. Alhasil, suatu hari, sejak pukul lima pagi hingga jam sembilan, ratusan juta rakyat di seluruh penjuru negeri melaksanakan perintah Mao. Gaduhlah negeri itu. Syahdan… jam sembilan lebih 30 menit, kurang lebih, jutaan burung pipit berjatuhan, lemas menggelepar di tanah. Sontak jutaan rakyat Cina menangkap, memungut, menggoreng dan memakannya. Persoalan pun teratasi.

Bung Karno sangat sering menyitir kejadian di atas dalam banyak kesempatan, di banyak negara. Tak heran jika sebagian orang yang tidak menangkap substansi, langsung menuding Bung Karno berbaik-baik dengan tokoh komunis. Bahkan tidak sedikit yang menuding adanya kecenderungan Bung Karno menjadi komunis.

Atas tudingan sampah tadi, Bung Karno lewat buku yang ditulis Cindy Adams menukas, “Aku akan memuji apa yang baik, tak pandang sesuatu itu datangnya dari seorang komunis, Islam, atau seorang Hopi Indian. Akan tetapi, betapa pun, pandangan dunia luar, maka terhadap persoalan apakah aku akan menjadi komunis atau tidak, jawabnya ialah: T-I-D-A-K!”

Bahwa ia bersahabat baik dengan Moskow dan Beijing, Bung Karno bardalih karena memang kedua negara –yang kebetulan komunis– itu begitu menghormati dan mengagungkan Bung Karno. Ia mengambil contoh, saat berkunjung ke Moskow, 150 orang Rusia berbaris untuk menyanyikan lagu “Indonesia Raya” sebagai penyambutan terhadap kedatangan Bung Karno di lapangan terbang, sungguhpun Bung Karno datang dengan pesawat terbang Amerika (PanAm). Atas peristiwa itu, Bung Karno mengaku terharu, bahkan air matanya berlinang-linang.

Demikian pula ketika Bung Karno berkunjung ke Cina. Di Beijing, rakyat Cina menyambut kedatangan Bung Karno dengan arak-arakan pawai raksasa serta tembakan penghormatan. Bung Karno bahkan bisa merasakan, orang-orang yang ikut dalam rombongannya, ikut merasakan bangga. Bangga karena bangsa Indonesia yang telah diinjak-injak, kini telah mengambil tempatnya, berdiri di antara bangsa-bangsa besar. (roso daras)

Mao Zedong dan Bung Karno

Published in: on 4 Oktober 2009 at 15:47  Comments (9)  
Tags: , , , ,

Sjahrir Vs Tan Malaka Vs Bung Karno

Sjahrir-Bung Karno-Hatta

Nama-nama Sukarno, Hatta, Sutan Sjahrir, Amir Sjarifudin, Tan Malaka adalah sederet nama dari sebanyak tokoh pelaku sejarah. Titik. Nah, sejauh mana lakon mereka dalam bingkai sejarah bangsa? Percayalah, tidak banyak yang tahu, tidak banyak pula yang mencoba mencari tahu, apalagi melakukan kajian ilmiah.

Alhasil, tidak terlalu mengherankan jika ada yang begitu mengidolakan Bung Karno. Bahkan, tidak sedikit yang menjurus ke kultus individu. Di sisi lain, tidak terlalu aneh jika ada yang menyanjung Hatta, bahkan memujanya laksana manusia setengah dewa. Tidak asing di telinga pula, adanya pengagum Tan Malaka sebagai Che Guevara-nya Indonesia. Pada sekelompok masyarakat lain, barangkali ada pula yang nama Sutan Sjahrir dan Amir Sjarifudin dalam sudut hati yang dalam.

Apa pun peran yang mereka lakonkan, memang patut dicatat. Seberapa pun besar sumbang sih mereka bagi bangsa dan negara, layak dikenang. Sekalipun, seandainya sejarah mencatat adanya perseteruan ideologi, konsep, dan gagasan perjuangan di antara mereka.

Adalah Bagin, penulis buku “Pemahaman Saya tentang Ajaran Bung Karno” yang secara gamblang memilah para tokoh pergerakan tadi ke dalam tiga kubu. Kubu pertama adalah Sutan Sjahrir, Hatta, dan Amir Sjarifudin di satu pihak. Kubu kedua adalah Tan Malaka, serta kubu ketiga adalah Bung Karno.

Pemetaan tiga kubu yang direpresentasikan oleh para tokoh di atas, nyata sekali menunjukkan betapa para tokoh pergerakan kita ketika itu bergelut dengan konsepsi-konsepsi yang ada kalanya menempatkan mereka pada kutub yang sangat bertentangan.

Kelompok Sutan Sjahrir termasuk Hatta dan Amir Sjarifudin dengan PKI orientasi Belanda, memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan sistem demokrasi liberal, di mana terdapat kelompok pemerintahan lawan kelompok oposisi. Sistem ini menganut multi partai, juga multi ideologi. Sedangkan jalan perjuangan yang mereka tempuh adalah melalui jalur diplomasi. Target Sjahrir adalah terbentuknya Uni Indonesia-Belanda.

tan malakaKemudian Tan Malaka. Tokoh progresif ini, gerakan-gerakannya kemudian diteruskan oleh PKI aliran Moskow, yang menerima sistem multi partai. Akan tetapi, itu adalah strategi ketika mereka masih kecil. Sedangkan di saat mereka kuat, dengan sendirinya akan mengebiri partai dan ideologi selain komunis. Doktrin mereka adalah diktator ploretariat. Sedangkan medan perjuangan mereka adalah bertempur sampai menang. Sistem tatanan negara yang diimpikan adalah, masyarakat sosialis murba, tanpa kelas.

Terakhir, kubu Bung Karno, yang mendasarkan perjuangan atas natuur Indonesia dengan watak gotong royong dalam satu partai dan satu ideologi diisi dengan jiwa nasionalisme, agama, sosialisme, yakni ideologi Pancasila. Jalan yang ditempuh Bung Karno adalah bertempur dan berunding sekaligus. Adapun target yang dituju adalah terciptanya Negara Kesatuan Republik Indonesia berwilayah dari Sabang sampai Merauke dalam susunan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur, di tengah pergaulan internasional yang adil dan beradab.

Sebagai pertempuran ideologi, ketiga kubu tadi tidak ada yang keliru. Akan tetapi, dari ketiganya, hanya gagasan dan ide Sukarno saja yang paling orisinal, khas Indonesia. Sejarah telah membuktikan, sistem liberalnya Sjahrir gagal total, dan menyisakan aneka pemberontakan di dalam negeri. Siasat kiri Tan Malaka, tidak akan hidup di bumi agamis Indonesia. Hanya ideologi Pancasila yang diusung Sukarno yang mampu merekatkan seluruh elemen bangsa hingga hari ini. Bukan kanan, bukan kiri. (roso daras)

Published in: on 2 September 2009 at 17:45  Comments (19)  
Tags: , , , , , ,

Bung Karno Seorang Komunis?

BK berdoa

Entah perasaan apa yang ada di dada ini, ketika adik-adik kita (untuk menyebut pengunjung blogku yang  jauh lebih muda dari saya), menyoal kembali soal Bung Karno dan komunisme. Menyoal kembali pemahaman yang entah oleh siapa telah dicekokkan ke benak mereka, bahwa Sukarno seorang komunis. Satu hal yang pasti, ada rasa haru dan bahagia, manakala generasi yang masih sangat muda ini menggugat persoalan yang bagi saya, dan banyak orang lain barangkali sudah usai. Persoalan tentang, benarkah Sukarno seorang komunis?

Bung Karno, lahir bukan dari keluarga muslim dalam pengertian seperti keluarga “pak haji”. Ibunya dari Bali, yang tentu saja sebelumnya memeluk Hindu sebagai keyakinannya. Ayahnya? Seperti kebanyakan muslim Jawa tempo doeloe, yakni seorang muslim “abangan”, cenderung kejawen. Dia mengenal rukun Islam, dia menjalankan kewajiban-kewajiban sebagai orang Islam, tetapi juga menjalankan ritual-ritual kejawen yang sarat mistik.

Perkenalan Sukarno dengan Islam lebih dalam, diakuinya saat usia 15 tahun, saat ia duduk di bangku HBS. Yang memperkenalkan adalah H.O.S. Cokroaminoto. Ia bahkan terbilang rajin mengikuti pengajian Muhammadiyah, di sebuah tempat di seberang Gang Peneleh, Surabaya, tempat ia tinggal bersama keluarga Cokro. Sekali dalam sebulan, ia mengaji di sana, dari pukul 20.00 hingga larut malam.

Akan tetapi, pendalaman terhadap Alquran diperoleh tahun 1928, saat ia mendekam di sel nomor 233 penjara Sukamiskin, Bandung. Segala bacaan yang berbau politik dilarang, jadilah ia mendalami Alquran sedalam-dalamnya. Kepada penulis biografinya, Cindy Adams, Bung Karno mengaku, sejak itu ia tak pernah meninggalkan sujud lima kali sehari menghadap ka’bah: Subuh, dhuhur, ‘asar, maghrib, dan isya.

Sejak itu pula, segala sesuatu dijawabnya dengan “Insya Allah — Kalau Tuhan menghendaki.” Mungkinkah seseorang yang sujud lima kali sehari menyembah Allah SWT adalah seorang komunis? Tanyalah dia, “He, Sukarno, apakah engkau akan pergi ke Bogor minggu ini?” Dan Sukarno akan menjawab, “Insya Allah, kalau Tuhan mengizinkan saya pergi.” Mungkinkan orang yang demikian dapat menjadi seorang komunis?

Ia sendiri meragukan kalau ada manusia yang bertahun-tahun disekap dalam dunia penjara yang gelap, tetapi masih meragukan adanya Tuhan. Akan halnya Sukarno, ia bertahun-tahun mendekam di balik jerajak besi. Malam-malam yang gelap, ia hanya bisa mengintip kerlip bintang di langit dari sebuah lubang penjara yang sempit. Manakala rembulan melintas, sejenak sinarnya mengintip Bung Karno di dalam penjara.

Masa-masa yang gelap di dalam penjara, masa-masa di mana ia tak bisa menelan bulat-bulat indahnya purnama dan bintang-gemintang, Bung Karno hanya bisa tertunduk sendiri. Ia sungguh tak tahu nasib akan berkata apa saat fajar menyingsing nanti. Sukarno menuturkan, dalam keadaan seperti itulah, sholat malam menjadi begitu khusuk.

Pengkajian alquran yang intens, menempatkan kesadaran tertinggi seorang Sukarno, bahwa Tuhan bukanlah suatu pribadi. Tuhan tiada hingganya, meliputi seluruh jagat raya. Ia Maha Kuasa. Ia Maha Ada. Tidak hanya di pengapnya ruang penjara, akan tetapi ada di mana-mana. Ia hanya esa. Tuhan ada di atas puncak gunung, di angkasa, di balik awan, di atas bintang-bintang yang ia lihat setiap malam-malam tak berawan. Tuhan ada di venus. Tuhan ada di Saturnus, Ia tidak terbagi-bagi di matahari dan di bulan. Tidak. Ia berada di mana-mana, di hadapan kita, di belakang kita, memimpin kita, menjaga kita.

Sampai pada kesadaran yang demikian, Bung Karno insaf seinsaf-insafnya, bahwa tak ada satu pun yang patut ia takutkan, karena ia sadar betul bahwa Tuhan tak jauh dari kesadarannya. Yang ia perlukan hanyalah bermunajat ke dalam hati yang terdalam untuk menemuiNya. Ia pun memasrahkan setiap langkahnya agar senantiasa dipimpin oleh Tuhan yang ia sembah dalam menggelorakan revolusi kemerdekaan.

Sukarno seorang komunis….??? Aya-aya wae…. (roso daras)

Published in: on 11 Agustus 2009 at 11:24  Comments (41)  
Tags: , , , ,