Jejak-jejak Cinta Monyet Bung Karno

Bung Karno, sosok presiden flamboyan yang dicintai banyak wanita. Fenomena itu ternyata sudah tampak sejak dia remaja. Usia 14 tahun, bahkan dia sudah memacari Rika Melhuyssen. Bahkan Bung Karno mencatat, Rika-lah wanita pertama yang diciumnya.

Cerita Mistis Tongkat dan Peci Bung Karno

Ada banyak sekali kisah menarik seputar tongkat komando dan peci yang dikenakan Bung Karno. Sebagian kisah berkisar seputar nilai magis atau bahkan mistis yang sulit dinalar. Tongkat komando dan peci adalah dua properti penting pada setiap penampilan Presiden Pertama Indonesia itu di depan publik.

Bung Karno dan Guling Favoritnya

Tradisi tidur sambil memeluk guling, ternyata menjadi ciri atau kebiasaan rakyat Indonesia. Oleh Bung Karno, topik Guling bahkan dibahas khusus dengan penulis autobiografinya, Cindy Adams. Bagaimana asal-usul lahirnya guling? Mengapa bangsa kita sangat gemar memeluk guling saat tidur? Simak video ini.

Tiga Srikandi Sukarno

Megawati, Rachmawati, dan Sukmawati adalah “tiga srikandi” Bung Karno. Sejak kecil, mereka memiliki kemiripan dalam berdandan. Rambut diikat dan dikepang dua, blus yang sewarna, dan senantiasa tampil charming. Ketiganya juga pandai menari. Dalam beberapa hal, ketiganya juga mewarisi gen sang bapak.

Mencuri Mobil untuk Bung Karno

Pernahkan Anda bayangkan, seorang presiden tidak punya mobil? Dialah Sukarno, presiden pertama kita.

Lalu, muncul sosok relawan-pejuang bernama Sudiro. Ia adalah salah satu anggota “pasukan berani mati” yang berinisiatif mencarikan mobil untuk presidennya.

Berbekal semangat membara, ia pun mendatangi mobil terbaik di zamannya, milik orang Jepang yang menjabat Kepala Jawatan Kereta Api.

Sudiro dan kawan-kawan kemudian meminta paksa kunci mobil itu kepada si sopir yang notabene orang pribumi. Sempat bengong si sopir. Ia baru paham, ketika Sudiro mengatakan, “Serahkan kunci mobil itu. Mobil itu saya ambil untuk dipakai Bung Karno, presidenmu.”

Nama: Sukarno, Pekerjaan: Jurnalis

Masuk-keluar penjara bagi Bung Karno, adalah konsekuensi yang sudah seharusnya ia terima. Aktivitasnya menyerang pemerintahan kolonial Hindia Belanda, serta aktivitasnya membangkitkan semangat kemerdekaan bagi rakyatnya, berbuah penjara dan pembuangan. Setiap kali berurusan dengan polisi Belanda, ia selalu ditanya nama dan pekerjaan. Ia pun akan menulis, “Nama: Sukarno, Pekerjaan: Jurnalis”.

Diajak Begituan Sama Napi Homo

Di penjara Sukamiskin, Bung Karno menorehkan banyak kenangan, dari yang menyakitkan sampai yang sangat menjengkelkan, dan membuatnya marah. Satu-satunya yang sedikit melegakan dirinya adalah mandi matahari sambil rebahan di rumput. Siapa sangka, tingkahnya diamati oleh napi lain yang ternyata seorang homoseksual.

Dua Hal Ghaib di Penjara Banceuy

Pada satu masa, Bung Karno ditangkap polisi Belanda dan dijebloskan ke penjara. Bahasa lain dari penjara adalah “hotel prodeo”. Kamar “hotel prodeo” Bung Karno di Penjara Banceuy sekitar 1,5 x 2,5 meter.

Banyak hal ghaib terjadi di sini. Di penjara Banceuy tiap tengah melam terdengar siul burung perkutut. Di kamar sempit itu juga, menjelang terlelap, tangan kanan Bung Karno “membesar” seperti tangan raksasa. …

Published in: on 14 Juli 2021 at 10:59  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , ,

Rumah dengan Papan Nama “Ratna Sari Dewi Soekarno”

JpegCukup lama saya berdiri di depan rumah Dewi Soekarno di Shibuya – Tokyo. Saya suka model rumah ini. Sebagai seorang arsitek, kukira Bung Karno pun akan suka. Rumah-rumah di sekeliling, tampak beda.

Masyarakat Jepang, termasuk masyarakat yang sangat menjunjung tinggi akar budaya dan tradisi. Nyaris di semua bidang. Termasuk dalam hal rumah. Mereka menyukai elemen alam, termasuk bahan dan pewarnaannya. Hanya saja, rumah-rumah mewah yang ada di Shibuya, memang umumnya menampilkan kesan modern. Kalau toh ada yang khas, adalah pada konsep minimalis.

Nah, di depan saya, adalah rumah “Warga Negara Indonesia” kelahiran Jepang. Nama Naoko Nemoto diganti oleh Bung Karno menjadi Ratna Sari Dewi. Agama shinto yang dianut, ditinggal dan berpindah ke Islam. Itu terjadi awal tahun 60-an saat Bung Karno memperistrinya.

Kembali ke rumah berbatu-bata merah yang ada di depan. Apa boleh buat, saya tidak bisa lebih lama lagi menikmati dari luar. Pertama, kedatangan saya ke rumah ini, sejatinya terlambat lebih dari 30 menit dari yang dijadwalkan oleh Ms Saito, sekretaris Dewi Soekarno. Kedua, udara di luar sangat dingin untuk ukuran orang Indonesia (di awal November 2016, sore itu suhu stabil di 12 – 13 derajat Celcius).

JpegSaya menyeberangi jalan, berdiri di depan pagar besi rendah, hanya lebiih tinggi sedikit dari lutut saya. Selagi saya mencari-cari letak bel untuk saya pencet, keluarlah Ms Saito. Cukup dengan saya menyebut nama, dia sudah tahu. Saya pun dipersilakan masuk. Pintu di buka, ada tangga dalam rumah membentang ke atas. Saito meminta saya melepas sepatu, dan memberinya  sandal-dalam-rumah yang lembut.

Baru saja sepatu lepas, Saito turun tergopoh, dan menyuruhku memakainya lagi. Dalam bahasa Jepang yang kuterjemahkan secara ngawur, kurang lebih dia mengajak keluar rumah, dan masuk dari sisi rumah yang lain. Rupanya, saya masuk dari bagian rumah yang dijadikannya kantor Dewi.

Benar. Saito mengiringkanku keluar rumah, memutar ke arah kanan, hingga tiba di satu sisi rumah utama. Apakah ada teras, sehingga bisa saya simpulkan itu sisi utama rumah Dewi? Tidak. Setidaknya saya melewati garasi yang tertutup rolling door, dan di tembok dekat pintu masuk, tertera papan nama tertempel paten di tembok batu-bata merah. Papan nama “RATNA SARI DEWI SOEKARNO”.

JpegPapan nama itu, jelas “Indonesia banget”. Hanya di rumah-rumah Indonesia saja, di tembok luar tertera nama sang pemilik. Dan menariknya, Dewi tidak menuliskan namanya dalam huruf kanji.

Di sebelah papan nama, terletak tombol bel dan celah tembok. Di sebelah lagi, barulah pintu besi tempa warna hitam bermotif. Di atas, saya lihat sebuah CCTV. Dekat undakan tangga ke atas, tumbuh tanaman hias yang sejuk di mata. Sampai depan teras rumah, kembali saya melepas sepatu dan berganti sandal-dalam-rumah.

Saya diiringkan ke ruang tamu. Di situ saya menunggu Dewi muncul dari pintu. (roso daras)

Jpeg

Patung Sudirman di Sudut Tokyo

puti-dan-patung-sudirman

Kiri: Puti Guntur Soekarno meletakkan karangan bunga di patung Sudirman. Kanan, Puti diapit Wakil Menteri Pertahanan Jepang (kanan) dan tokoh politik LDP Jepang.

 

Patung Jenderal Sudirman, menjadi satu-satunya tokoh atau pahlawan negara asing yang dipajang di Jepang. Awal November lalu, Puti Guntur Soekarno berkenan meletakkan karangan bunga di depan patung setinggi empat meter, dan terbuat dari bahan perunggu itu.

Sebelum seremoni penghormatan dan peletakan karangan bunga, Puti dan rombongan diterima Wakil Menteri Pertahanan Jepang, Takayuki Kobayashi di kantornya, di kawasan Shinjuku – Tokyo. Wamen Kobayashi mengawali ramah-tamah dengan menanyakan, “apakah kedinginan?”, lalu dengan ramah menawarkan Puti Guntur dan tamu yang lain menyeruput green-tea yang menghangatkan.

Dalam kesempatan itu, pejabat kelahiran 29 November 1974 itu menceritakan awal-mula berdirinya patung Sudirman di halaman belakang Kantor Kemhan Jepang. Kobayashi mengatakan, patung itu adalah pemberian Menteri Pertahanan Indonesia, Purnomo Yusgiantoro empat tahun lalu (2012). “Kementerian Pertahanan Jepang menyetujui peletakkan patung Jenderal Sudirman, mengingat banyak nilai-nilai positif yang patut menjadi teladan,” ujarnya.

Puti Guntur melalui penerjemah mengatakan sependapat dengan Kobayashi. Sudirman pantas mendapatkan posisi di Jepang, mengingat selain sebagai pahlawan bagi bangsa Indonesia, “jenderal besar” itu juga menjadi lambang bagi tradisi etos kerja tinggi, disiplin, dan loyalitas. Sikap itu antara lain didapat Sudirman saat berhenti menjadi guru, dan bergabung dalam PETA (Pembela Tanah Air), gemblengan tentara Jepang tahun 1943.

Kobayashi mengangguk-angguk demi mendengar Puti Guntur menyebut PETA. Seolah ia mengingat masa-masa kekuasaan Jepang di Indonesia. Pejabat lulusan John F Kennedy School of Government, Harvard University itu lantas mengemukakan harapannya, agar melalui peletakkan patung tersebut, dapat meningkatkan kerjasama yang lebih erat antara Indonesia dan Jepang.

Sedikit menyinggung tentang bidang tugasnya, Kobayashi yang juga politisi partai berkuasa, LDP (Liberal Democratic Party/Partai Demokratik Liberal) itu menyinggung soal pentingnya membina suasana damai antar-negara. “Indonesia dan Jepang sama-sama negara demokratis. Kita tentu sepakat, bahwa demokrasi senantiasa memperjuangkan kedamaian. Karena itu, kami sangat prihatin dengan permasalahan di Laut China Selatan,” ujar Kobayashi.

Puti Guntur, yang juga Anggota DPR RI Komisi X dan membidangi antara lain soal Pemuda, Olahraga, dan Pendidikan itu, mencoba tidak memasuki wilayah politik luar negeri lebih jauh. Puti hanya menegaskan, bahwa sebagai warga negara Indonesia, ia berharap persoalan Laut China Selatan bisa diselesaikan secara damai.

img-20161106-wa0023Paham tamunya tidak mau terseret dalam isu panas di Laut China Selatan, maka Kobayashi segera memecah suasana melemparkan statemen, “Bagi saya, Indonesia bukan negara asing. Usia lima tahun, saya pernah tinggal di Jakarta mengikuti ayah yang bekerja di sana. Kemudian setelah menjadi pejabat, saya juga mengunjungi Indonesia. Indonesia sungguh negara yang baik. Dalam konteks Hankam, Indonesia adalah negara yang sangat penting bagi Jepang,” papar Kobayashi yang pernah menjabat Menteri Keuangan itu.

Usai ramah-tamah, Kobayashi diserta sejumlah staf kementerian dan partai, mengantar para tamu dari Indonesia menuju lokasi Patung Jenderal Sudirman. Sesampai di sana, protokol mengatur posisi berdiri berbaris menghadap patung, lalu memberi penghormatan. Sebuah karangan bunga sudah disiapkan, dan Puti Guntur meletakkan karangan bunga itu di bawah patung Jenderal Sudirman. Usai serangkaian kegiatan, Puti dan Kobayashi masih terlibat obrolan santai sambil berjalan ke area parkir.(roso daras)

foto-di-depan-patung-sudirman

Dari kiri: Syandri, Syahan (putra-putri Puti), anggota parlemen dari Partai LDP Jepang, Joy Kameron (suami Puti), Puti Guntur Soekarno, Wamenhan Jepang Takayuki Kobayashi, Profesor Masakatsu Tozu (profesor emeritus Universitas Kokushikan), dan Roso Daras.