Rumah dengan Papan Nama “Ratna Sari Dewi Soekarno”

JpegCukup lama saya berdiri di depan rumah Dewi Soekarno di Shibuya – Tokyo. Saya suka model rumah ini. Sebagai seorang arsitek, kukira Bung Karno pun akan suka. Rumah-rumah di sekeliling, tampak beda.

Masyarakat Jepang, termasuk masyarakat yang sangat menjunjung tinggi akar budaya dan tradisi. Nyaris di semua bidang. Termasuk dalam hal rumah. Mereka menyukai elemen alam, termasuk bahan dan pewarnaannya. Hanya saja, rumah-rumah mewah yang ada di Shibuya, memang umumnya menampilkan kesan modern. Kalau toh ada yang khas, adalah pada konsep minimalis.

Nah, di depan saya, adalah rumah “Warga Negara Indonesia” kelahiran Jepang. Nama Naoko Nemoto diganti oleh Bung Karno menjadi Ratna Sari Dewi. Agama shinto yang dianut, ditinggal dan berpindah ke Islam. Itu terjadi awal tahun 60-an saat Bung Karno memperistrinya.

Kembali ke rumah berbatu-bata merah yang ada di depan. Apa boleh buat, saya tidak bisa lebih lama lagi menikmati dari luar. Pertama, kedatangan saya ke rumah ini, sejatinya terlambat lebih dari 30 menit dari yang dijadwalkan oleh Ms Saito, sekretaris Dewi Soekarno. Kedua, udara di luar sangat dingin untuk ukuran orang Indonesia (di awal November 2016, sore itu suhu stabil di 12 – 13 derajat Celcius).

JpegSaya menyeberangi jalan, berdiri di depan pagar besi rendah, hanya lebiih tinggi sedikit dari lutut saya. Selagi saya mencari-cari letak bel untuk saya pencet, keluarlah Ms Saito. Cukup dengan saya menyebut nama, dia sudah tahu. Saya pun dipersilakan masuk. Pintu di buka, ada tangga dalam rumah membentang ke atas. Saito meminta saya melepas sepatu, dan memberinya  sandal-dalam-rumah yang lembut.

Baru saja sepatu lepas, Saito turun tergopoh, dan menyuruhku memakainya lagi. Dalam bahasa Jepang yang kuterjemahkan secara ngawur, kurang lebih dia mengajak keluar rumah, dan masuk dari sisi rumah yang lain. Rupanya, saya masuk dari bagian rumah yang dijadikannya kantor Dewi.

Benar. Saito mengiringkanku keluar rumah, memutar ke arah kanan, hingga tiba di satu sisi rumah utama. Apakah ada teras, sehingga bisa saya simpulkan itu sisi utama rumah Dewi? Tidak. Setidaknya saya melewati garasi yang tertutup rolling door, dan di tembok dekat pintu masuk, tertera papan nama tertempel paten di tembok batu-bata merah. Papan nama “RATNA SARI DEWI SOEKARNO”.

JpegPapan nama itu, jelas “Indonesia banget”. Hanya di rumah-rumah Indonesia saja, di tembok luar tertera nama sang pemilik. Dan menariknya, Dewi tidak menuliskan namanya dalam huruf kanji.

Di sebelah papan nama, terletak tombol bel dan celah tembok. Di sebelah lagi, barulah pintu besi tempa warna hitam bermotif. Di atas, saya lihat sebuah CCTV. Dekat undakan tangga ke atas, tumbuh tanaman hias yang sejuk di mata. Sampai depan teras rumah, kembali saya melepas sepatu dan berganti sandal-dalam-rumah.

Saya diiringkan ke ruang tamu. Di situ saya menunggu Dewi muncul dari pintu. (roso daras)

Jpeg

Patung Sudirman di Sudut Tokyo

puti-dan-patung-sudirman

Kiri: Puti Guntur Soekarno meletakkan karangan bunga di patung Sudirman. Kanan, Puti diapit Wakil Menteri Pertahanan Jepang (kanan) dan tokoh politik LDP Jepang.

 

Patung Jenderal Sudirman, menjadi satu-satunya tokoh atau pahlawan negara asing yang dipajang di Jepang. Awal November lalu, Puti Guntur Soekarno berkenan meletakkan karangan bunga di depan patung setinggi empat meter, dan terbuat dari bahan perunggu itu.

Sebelum seremoni penghormatan dan peletakan karangan bunga, Puti dan rombongan diterima Wakil Menteri Pertahanan Jepang, Takayuki Kobayashi di kantornya, di kawasan Shinjuku – Tokyo. Wamen Kobayashi mengawali ramah-tamah dengan menanyakan, “apakah kedinginan?”, lalu dengan ramah menawarkan Puti Guntur dan tamu yang lain menyeruput green-tea yang menghangatkan.

Dalam kesempatan itu, pejabat kelahiran 29 November 1974 itu menceritakan awal-mula berdirinya patung Sudirman di halaman belakang Kantor Kemhan Jepang. Kobayashi mengatakan, patung itu adalah pemberian Menteri Pertahanan Indonesia, Purnomo Yusgiantoro empat tahun lalu (2012). “Kementerian Pertahanan Jepang menyetujui peletakkan patung Jenderal Sudirman, mengingat banyak nilai-nilai positif yang patut menjadi teladan,” ujarnya.

Puti Guntur melalui penerjemah mengatakan sependapat dengan Kobayashi. Sudirman pantas mendapatkan posisi di Jepang, mengingat selain sebagai pahlawan bagi bangsa Indonesia, “jenderal besar” itu juga menjadi lambang bagi tradisi etos kerja tinggi, disiplin, dan loyalitas. Sikap itu antara lain didapat Sudirman saat berhenti menjadi guru, dan bergabung dalam PETA (Pembela Tanah Air), gemblengan tentara Jepang tahun 1943.

Kobayashi mengangguk-angguk demi mendengar Puti Guntur menyebut PETA. Seolah ia mengingat masa-masa kekuasaan Jepang di Indonesia. Pejabat lulusan John F Kennedy School of Government, Harvard University itu lantas mengemukakan harapannya, agar melalui peletakkan patung tersebut, dapat meningkatkan kerjasama yang lebih erat antara Indonesia dan Jepang.

Sedikit menyinggung tentang bidang tugasnya, Kobayashi yang juga politisi partai berkuasa, LDP (Liberal Democratic Party/Partai Demokratik Liberal) itu menyinggung soal pentingnya membina suasana damai antar-negara. “Indonesia dan Jepang sama-sama negara demokratis. Kita tentu sepakat, bahwa demokrasi senantiasa memperjuangkan kedamaian. Karena itu, kami sangat prihatin dengan permasalahan di Laut China Selatan,” ujar Kobayashi.

Puti Guntur, yang juga Anggota DPR RI Komisi X dan membidangi antara lain soal Pemuda, Olahraga, dan Pendidikan itu, mencoba tidak memasuki wilayah politik luar negeri lebih jauh. Puti hanya menegaskan, bahwa sebagai warga negara Indonesia, ia berharap persoalan Laut China Selatan bisa diselesaikan secara damai.

img-20161106-wa0023Paham tamunya tidak mau terseret dalam isu panas di Laut China Selatan, maka Kobayashi segera memecah suasana melemparkan statemen, “Bagi saya, Indonesia bukan negara asing. Usia lima tahun, saya pernah tinggal di Jakarta mengikuti ayah yang bekerja di sana. Kemudian setelah menjadi pejabat, saya juga mengunjungi Indonesia. Indonesia sungguh negara yang baik. Dalam konteks Hankam, Indonesia adalah negara yang sangat penting bagi Jepang,” papar Kobayashi yang pernah menjabat Menteri Keuangan itu.

Usai ramah-tamah, Kobayashi diserta sejumlah staf kementerian dan partai, mengantar para tamu dari Indonesia menuju lokasi Patung Jenderal Sudirman. Sesampai di sana, protokol mengatur posisi berdiri berbaris menghadap patung, lalu memberi penghormatan. Sebuah karangan bunga sudah disiapkan, dan Puti Guntur meletakkan karangan bunga itu di bawah patung Jenderal Sudirman. Usai serangkaian kegiatan, Puti dan Kobayashi masih terlibat obrolan santai sambil berjalan ke area parkir.(roso daras)

foto-di-depan-patung-sudirman

Dari kiri: Syandri, Syahan (putra-putri Puti), anggota parlemen dari Partai LDP Jepang, Joy Kameron (suami Puti), Puti Guntur Soekarno, Wamenhan Jepang Takayuki Kobayashi, Profesor Masakatsu Tozu (profesor emeritus Universitas Kokushikan), dan Roso Daras.

Di Balik Layar Proklamasi

IMG-20160816-WA0065

Narasumber “Di Balik Layar Proklamasi”, Mata Najwa, Rabu (17/8), pk. 20.00.

 

Najwa Shihab, host Mata Najwa (Metro TV) kembali mengangkat tema Proklamasi pada tayangan Rabu, 17 Agustus 2016 pukul 20.00 WIB. Tema yang diusung adalah “Di Balik Layar Proklamasi”. Acara berdurasi sekitar 90 menit itu, menyajikan tiga segmen dengan narasumber yang berbeda di tiap segmennya.

Segmen pertama, menghadirkan koleksi belasan foto detik-detik Proklamasi 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur 56 Jakarta Pusat yang belum banyak, atau bahkan belum pernah dipublikasikan. Pembawa foto-foto bersejarah itu adalah fotografer kawakan dari KLBN Antara, Oscar Motuloh, dan diulas oleh sejarawan JJ Rizal.

Pada segmen kedua, Nana –sapaan akrab Najwa Shihab– mengundang narasumber dua putri pemuda revolusioner, Soekarni dan Wikana. Dua tokoh pemuda yang punya andil bersama pemuda revolusioner lain “menculik” Bung Karno, Bung Hatta, Fatmawati, dan Guntur Soekarnoputra ke Rengasdengklok. Sebagai pengulas, sejarawan yang juga pemimpim redaksi majalah sejarah populer Historia, Bonne Triyana.

Sedangkan, pada segmen ketiga, tampil dua narasumber: Puti Guntur Soekarno dan Roso Daras. Kepada Puti, Nana banyak mengulik kesan-kesan Puti sebagai cucu Bung Karno, serta nilai-nilai yang tersemai dari ajaran sang kakek melalui ayahanda, Guntur Soekarnoputra. Sedangkan Roso Daras, banyak berkisah tentang sisi lain dari Bung Karno yang belum banyak diketahui khalayak. (roso daras)

IMG-20160816-WA0066

IMG-20160816-WA0031

Amplop Merah Guntur Soekarnoputra

IMG-20160626-WA0057

Dalam usia 72 tahun (lahir 3 November 1944), putra sulung Bung Karno dari Fatmawati ini, masih tampak bugar. Hadir dalam acara ulang tahun putrinya, Puti Guntur Soekarno di Kemang Timur VI, Jakarta Selatan, Minggu 26 Juni 2016 lalu, Guntur Soekarnoputra menjadi ayah yang turut berbahagia bagi putrinya.

Apalagi, perayaan ulang tahun yang dibarengkan dengan momen buka bersama anak-anak yatim piatu itu, juga mendapat perhatian kerabat dan handai taulan. Dari lingkungan keluarga, tampak hadir Guruh Soekarnoputra, Puan Maharani, Prananda, dan banyak lainnya. Kolega Guntur, seperti Anwar Nasution, Tito Karnavian (Kapolri terpilih), dan masih banyak lainnya, seperti rekan seperjuangan PDI-P, maupun jajaran koleganya di DPR RI. Tak ketinggalan, sahabat-sahabat UI juga tampak memeriahkan suasana.

Momentum sowan dan “ngangsu kaweruh” kepada Guntur menjadi keharusan, kukira. Alhasil, dengan tidak memanjakan perut melalui aneka hidangan lezat, maka berbicara dengan Guntur jauh lebih “mengenyangkan”. Topik “warisan ilmu Sukarnoisme” kepada sang putri, saya pilih, dan kukira pas dalam momentum malam itu.

“Saya ralatif jarang memberi wejangan (tentang ajaran Sukarno) kepada Puti. Yang saya lakukan adalah dengan menulis. Tulisan-tulisan itu secara berkala saya kirimkan kepada Puti dan suaminya, Joey,” kata Guntur membuka narasi.

Guntur menulis apa saja yang dianggapnya perlu dan layak diketahui sang putri. Baik terkait materi buku Di Bawa Bendera Revolusi, maupun ajaran-ajaran bapaknya yang lain. Dengan menulis, kata Guntur, petuah, wejangan, atau apa pun tulisan itu diberi nama, menjadi lebih abadi, dan bisa dibaca berulang-ulang. Dengan menulis pula, segala yang hendak dikemukakan, menjadi lebih terstruktur.

Yang unik barangkali, naskah-naskah tulisan Guntur kepada Puti dan Joey, selalu ia kirimkan dalam kemasan amplop berwarna merah. “Belakangan baru saya tahu, atas tulisan-tulisan saya yang saya kirimkan selama ini, mereka (Puti dan Joey) namakan ‘amplop merah dari papa’… he…he…he… Terserah mereka saja….,” ujar Guntur dengan wajah sumringah.

Materi apa saja yang Guntur tuliskan? Ada banyak. Soal demokrasi Pancasila… soal Pancasila itu sendiri, soal revolusi, sosialisme, dan beberapa topik lain…. “Ada berapa banyak Mas Tok menulis untuk Puti?” sergah saya, dan sambil menerawang, Guntur menukas, “Yaaa… mungkin belasan… tidak ingat saya….” (roso daras)

Published in: on 28 Juni 2016 at 16:23  Comments (6)  
Tags: , , ,

Yayasan Aku dan Sukarno

MERDEKA !!!

LOGO OKSukarno atau sering disebut Soekarno, Bung Karno, bahkan Ahmad Soekarno, adalah Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia, sekaligus Presiden Republik Indonesia yang pertama. Sukarno lahir di Surabaya, pada tanggal 6 Juni 1901 dengan nama kecil Kusno.

Sebagai pendiri bangsa, Sukarno telah meninggalkan jejak-jejak monumental bagi bangsa Indonesia. Jejak Sukarno bisa ditapak melalui berbagai karya tulis berisi pemikiran serta gagasan yang melampuai zamannya. Ide tentang Marhaenisme, pledoi “Indonesia Menggugat”, brosur “Mencapai Indonesia Merdeka”, penggalian nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi bangsa, Nasakom/Nasasos, dan lain-lain, adalah sebagian jejak ideologis yang bisa ditelaah hingga kini.

Sukarno juga melahirkan pemikiran-pemikiran tentang modernitas Islam melalui “surat-surat Islam dari Ende”. Bung Besar, begitu ia dijuluki, juga menaruh perhatian tinggi terhadap eksistensi dan peran kaum perempuan melalui wejangan-wejangan, kursus-kursus yang kemudian dibukukan dalam sebuah buku berjudul “Sarinah”.

Kepemimpinan Sukarno juga melahirkan konsep Trisakti, berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, serta berkebudayaan yang berkepribadian. Konsistensi menggembleng bangsa dengan “nation and character building” menjadikan bangsa Indonesia memiliki dignity. Konsistensi sikap anti-imperialisme, anti-kolonialisme dalam bentuk apa pun, mengantarkan sebuah ide Konferensi Asia Afrika, yang di akhir kepemimpinannya, tercetus gagasan Conference of New Emerging Forces (Conefo).

Masih banyak jejak Bung Karno lain yang bisa ditelusur lewat berbagai dokumen, maupun penuturan oral dari saksi sejarah. Akan tetapi, fakta bahwa telah terjadi gerakan sistematis “desukarnoisasi” selama tiga dasa warsa, mengakibatkan tidak sedikit fakta-fakta menjadi samar, tonggak lurus menjadi bengkok, atau bahkan mengaburan sejarah tentang Sukarno itu sendiri.

Sebagai wahana berhimpunnya para insan Sukarnois, para pemerhati Sukarno, pengkaji ajaran Sukarno, para penapak-jejak sejarah Sukarno, dibentuklah Yayasan untuk dapat bergerak lebih terstruktur dan berkembang ke skala yang lebih besar. Bukan saja untuk dan demi syiar ajaran Sukarno, tetapi juga menempatkan sosok Sukarno, Putra Sang Fajar pada proporsi yang semestinya. Menempatkan Sukarno pada bingkai sejarah yang seharusnya.

Begitu kurang lebih preambule Anggaran Dasar Yayasan AKU DAN SUKARNO, yang insya Allah akan diresmikan kehadirannya pada tanggal 1 Juni 2016, di Gedung Joang ’45, Jl Menteng 31, Jakarta Pusat. Mohon doa restu. (roso daras)

Published in: on 10 Mei 2016 at 11:34  Comments (9)  
Tags: , ,

Bangun “sukarnopedia.org”

IMG_20160404_202303

Sidang pembaca setia blog http://www.rosodaras.wordpress.com yang mulia….

Sampailah saya pada perjalanan membangun situs web http://www.sukarnopedia.org. Bangunan ini saya dedikasikan bagi syiar Sukarno. Niat yang muncul dari dasar samudera hati yang terdalam, tak lain dan tak bukan adalah mengisi website itu dengan informasi tentang Sukarno… all about Sukarno.

Konsepnya, barangkali bisa kita lihat wikipedia atau wikimedia, hanya beda konten. Laiknya wikipedia, maka web ini akan hidup dan tetap hidup dengan kontribusi dan donasi masyarakat pecinta Sukarno sekaligus pendukung gagasan ini. Kontribusi dan donasi berbentuk dana segar, akan dikelola oleh yayasan yang bersifat nirlaba. Sedangkan kontribusi dan donasi bersifat informasi/pengetahuan, bisa dilakukan dengan cara melengkapi atau menambahkan materi/isi pada setiap tulisan yang tersaji di sukarnopedia.

Hingga fase persiapan pengisian konten, terus terang, saya terbentur pada urusan teknis. Seperti, bagaimana membuat link-text, penyusunan kanal, penyusunan katalog, pengkategorian, dan lain sebagainya. Sementara ini, saya hanya dibantu oleh seorang rekan, Sukarja, yang terus-terang, memiliki keterbatasan pengetahuan juga tentang IT, meski dia jebolan tabloid komputer grup Gramedia.

Untuk itu, dengan segala kerendahan hati, saya memohon kesediaan para insan Sukarnois muda yang memiliki kapasitas dan kapabilitas di bidang IT development untuk berkenan kiranya membantu saya mewujudkan gagasan tersebut. Belum ada kontraprestasi yang bisa saya janjikan, akan tetapi satu hal yang pasti, bangunan ini nantinya akan menjadi “milik kita bersama”.

Segala hal terkait pengorganisasian, manajemen pengelolaan (baik konten maupun donasi) saya persilakan teman-teman mengaturnya. Besar harapan saya, gayung-bersambut, dan http://www.sukarnopedia.org bisa segera mengudara… bukan saja akan tumbuh di persada Indonesia, tetapi juga berkibar di tamansarinya dunia. (roso daras)

Published in: on 4 April 2016 at 13:47  Comments (5)  
Tags: , , ,

Mengemas Bandung-Ende-Bengkulu

roso daras dan reza indragiri amriel-cropSuatu hari, Reza Indragiri Amriel berkirim pesan lewat Facebook. Tak lama hari berselang, Reza datang bersama temannya, Bara Setiaudi. Adu-bincanglah kami bertiga. Topiknya seputar ide menyelenggarakan paket wisata sejarah “Bandung-Ende-Bengkulu”.

Ah… mendengar tiga kota itu disebut, sontak pikiran jadi penuh sesak. Bandung dengan Studie-Club-nya, dengan Banceuy-nya, dengan PNI-nya, dengan Cinta Inggit-nya, dengan Sukamiskin-nya, bahkan dengan Marhaen-nya.

Ende? Ah, rumah tua di Ambugaga, makam keramat Ibu Amsi, pulau bunga di antah-berantah, malaria, Pancasila, Nangaba, Teluk Numba, Kelimutu… campur-aduk berdesak-desak di rongga kepala.

roso daras dan bara setiaudi-cropBengkulu? Cinta Fatma, Pantai Panjang, “insiden” di masjid, mendaratnya Jepang, kocar-kacirnya Belanda, perjalanan panjang ke Muko-Muko… entah apa lagi yang berdesak-desakan di ruang memori.

Sungguh tiga kota yang lekat-sarat dengan kenangan Bung Besar. Untungnya, Reza dan Bara tidak menambahkan Surabaya sebagai kota yang tak kurang bersejarahnya. Bukan saja ada memori ciuman pertama Bung Karno dengan noni Belanda Mien Hessels, tapi juga padat dengan aktivitas Sukarno mendampingi HOS Cokroaminoto, gurunya. Perdebatan konstruktif dengan Alimin, Kartosuwirjo, dan anak-anak didik Cokro lainnya di Gang Peneleh. Suka-duka menimba ilmu di HBS dengan selingan perkelahian dengan murid-murid berambut jagung lainnya.

Matahari sudah tergelincir ke barat, ketika Reza dan Bara berpamitan. Sepanjang itu pula, kami berdiskusi tentang kemasan tour sejarah ke Bandung – Ende – Bengkulu selama lima hari empat malam. Cukup padat memang. Bara mengemas dalam bentuk proposal kegiatan yang menarik. Intinya, tinggal dimatangkan, dan digulirkan. Juni, bulan Bung Karno yang akan datang, rencana itu ditargetkan harus berjalan. Tidak penting berapa orang pesertanya. (roso daras)

 

Published in: on 1 April 2016 at 12:01  Comments (2)  
Tags: , , , , ,

Saatnya Berbuat… Berbuat Lebih…

Dear pengunjung setia blog http://www.rosodaras.wordpress.com

Tidak penting excuse apa yang harus saya sampaikan, ketika sekian lama “menghilang” bahkan cenderung “menelantarkan” blog ini. Menulis buku? Ah… klise kedengarannya. Sibuk bekerja? Ah. apakah sebelumnya saya menganggur? Tidak juga…. Dus, sudahlah… mohon jangan tanyakan alasan mengapa.

Satu hal yang pasti, saya kembali hadir dengan semangat baru. Kali ini, benar-benar mirip seorang petinju yang habis kena upper-cut telak, lalu tiba-tiba ia bisa bangkit dan kembali “menari” di tengah ring. Pengamat menyebutnya “second wind”.

Kalimat penyemangat yang begitu menggila akhir-akhir ini adalah “BERBUAT”. Benar, barangkali inilah satu titik di mana kata tadi tiba-tiba menjadi begitu sarat makna.

Mungkin –dalam skala kecil– saya sudah berbuat untuk syiar Bung Karno. Setidaknya, semampu yang saya bisa. Kini, ada desakan yang begitu besar untuk BERBUAT LEBIH. Jangan pula bertanya, “mengapa?”…. Sebab, saya pasti akan jawab, “Entah”.

Sampailah saya pada satu keputusan untuk segera mendirikan lembaga nirlaba untuk memadahi segala aktivitas terkait “Sukarno kita”. Segeralah saya sadar, bahwa sudah jutaan pengagum, pembelajar, pemerhati, bahkan pembeci Sukarno yang sudah singgah di blog ini. “Ah saya harus share soalan ini lewat blog,” maka jadilah postingan ini.

Singkat kalimat, dengan ini saya mengajak Anda semua untuk ikut berpartisipasi dalam wadah yang akan segera saya dirikan. Mungkin bisa menjadi pendukung aktif dengan bersedia menjadi pengurus, atau memberi dukungan lain sebatas dan seikhlas kemampuan dan kemauan masing-masing.

Setidaknya, saya sudah plong… Sebab, saya merasa sudah menyampaikan ini untuk pertama kali melalui blog ini, dengan harapan tidak satu pun di antara pengunjung setia blog ini yang merasa, “Kok aku tidak (diberi) tahu?”….

Mari berbuat…. Berbuat lebih untuk Sukarno dan Indonesia. (roso daras)

Published in: on 31 Maret 2016 at 15:28  Comments (7)  
Tags: , ,

Sekilas Info

IMG-20150324-WA000

Permisi saudaraku….

Numpang promo acara Kompas TV yang bertajuk “Three in One”. Tayangan Rabu, 25 Maret 2015 besok, mengangkat tema “Warisan Soekarno”. Acara yang tayang pukul 20.00 WIB itu, menampilkan tiga host (karenanya dinamakan Three In One).

Edisi besok malam, menghadirkan empat narasumber. Dua orang cucu Bung Karno, satu orang anak Bung Karno, dan seorang lagi Sukarnois. Siapa-siapa saja mereka, dan apa-apa saja yang dibincangkan, baiknya saksikan saja langsng. Hehehe….

Published in: on 24 Maret 2015 at 06:58  Comments (4)  
Tags: , , , ,

Sukarno Kecil “Mabok Bima”

bimaPenulis biografi pertama Bung Karno yang terbit tahun 1933, Im Yang Tjoe, dalam bukunya “Soekarno Sebagi Manusia”, benar-benar berusaha keras merekonstruksi masa kecil Bung Karno. Meski tidak menyebut tonggak-tonggak waktu, tanggal, bulan, tahun, tetapi bagi pembaca, kiranya tidak terlalu menyulitkan.

Seperti misalnya, ketika Im Yang Tjoe menulis ihwal kakeknya, Raden Hardjodikromo yang menyekolahkan Sukarno saat usia 6 tahun, spontan kita bisa mahfum, bahwa peristiwa itu terjadi tahun 1907, mengingat Bung Karno lahir tahun 1901. Adalah sekolah desa di Tulungagung, tempat Sukarno kecil untuk pertama kali “memakan-bangku-sekolah”.

Im Yang Tjoe melukiskan hari-hari pertama sebagai murid, Sukarno adalah murid yang bodoh lagi bengal. Apa soal? Soal sebenarnya, menurut hemat penulis, bukan karena otak Sukarno tidak encer. Lebih karena Sukarno lagi “mabok-bima”…. Ya, hari-hari bersama Wagiman, selalu diisi kisah-kisah heroik tokoh Bima dalam epos Mahabharata.

Siapa Wagiman? Wagiman adalah seorang perangkat desa yang miskin harta tetapi kaya hati. Ia menjadi sahabat Sukarno kecil. Pulang sekolah, Sukarno akan mencari Wagiman. Kalau tidak dijumpainya di rumah, Sukarno akan menyusulnya ke sawah. Jika keduanya sudah bertemu, obrolan mereka umumnya wayang. Dari sekian banyak tokoh wayang, Sukarno paling tertarik dengan tokoh Bima, sang penegak Pandawa.

Meski begitu, sesekali, Sukarno melemparkan pertanyaan-pertanyaan yang “terlalu-tua” untuk bocah seusianya. Misalnya, pertanyaan, “Mengapa engkau begitu miskin?” Dengan penuturan versi Wagiman, Sukarno kemudian bisa merekonsruksinya menjadi sebuah pelajaran berharga tentang betapa penjajahan tak lebih dari pemelaratan rakyat.

Tentu saja, topik-topik filosofi wayang, ilmu politik, ilmu tata-negara, tidak didapatnya di bangku sekolah desa tempat ia bersekolah. Bukan karena cabang-cabang ilmu tidak ada, melainkan, materi itu memang bukan materi pelajaran bagi siswa sekolah dasar tingkat dewa. Di negeri jajahan pula. Terhadap murid-murid inlander pula. Bisa jadi, ini yang membuat Sukarno menjadi murid yang malas untuk menyimak pelajaran di sekolah. Ia lebih senang menggambar wayang, sambil imajinasinya mengembara kemana-mana.

Mungkin saja, ia sedang berimajinasi menjadi seorang Bima yang kemudian dengan gagah-berani menghapus keangkara-murkaan di atas bumi. Mungkin saja ia sedang membayangkan menjelma menjadi Bima, kemudian memakmurkan orang-orang miskin di negaranya. Bisa jadi, ia sedang berkhayal menjadi seorang Bima menjadi panglima bagi tegaknya kebenaran dan keadilan di jagat-raya. Ah, entahlah.

Yang pasti, ketika guru menyuruh murid-murid menirukan gerakan menulis huruf demi huruf, Sukarno malah menggambar profil wayang Bima yang gagah, dengan gelung sinupiturang, lengkap dengan kuku pancanakanya. Ya, Sukarno bukannya memperhatikan pelajaran guru, melainkan menggambar wayang Bima! (roso daras)