Fidel, Kawanku yang Baik…

roso-daras-di-cnn-indonesia

Stasiun televisi CNN Indonesia, mengupas kematian Fidel Castro, 26 November 2016 lalu. Sehari kemudian, saya diundang sebagai narasumber tamu pada acara World Now. Tidak seperti yang saya bayangkan semula, bahwa topik yang dibawakan host Amelia ternyata sangat-sangat serius. Lengkapnya bisa dilihat di link berikut: http://www.cnnindonesia.com/tv/20161127135449-401-175632/mengulas-hubungan-fidel-castro-dengan-indonesia/

Sementara, saya berangkat dengan bayangan semula, bahwa CNN Indonesia mengundang saya untuk bicara hal-hal human-interest terkait Sukarno dan Fidel Castro, atau sebaliknya. Sehingga, beberapa cerita menarik seputar keduanya, sudah saya persiapkan untuk pemirsa CNN Indonesia. Apa lacur, topik yang bergulir menjadi serius, pada akhirnya saya sadari, bahwa itulah ciri CNN Indonesia, atau lebih khusus lagi, itulah ciri acara World Now.

Alhasil, kisah-kisah unik yang terjadi saat Bung Karno berkunjung ke Kuba tahun 1960, tidak muncul. Kisah-kisah seputar pemberian keris pusaka oleh Bung Karno kepada Castro, tidak juga muncul. Bahkan, surat Bung Karno kepada Fidel, yang diawali dengan kalimat, “Kawanku Fidel yang Baik”, juga tak terkuak di acara itu.

Terkait surat Bung Karno yang dibawa Dubes AM Hanafi, sejatinya sangat menarik. Sebab, bisa dibilang, itulah surat terakhir Bung Karno kepada Castro tahun 1966. Castro yang mendengar berita simpang siur mengenai situasi politik Indonesia, sempat kebingungan. Bahkan, ketika ia mendengar, Sukarno di ujung tanduk, Castro serta merta menawarkan Kuba sebagai rumah kedua Bung Karno.

Akan tetapi, Bung Karno menolak. Ia bahkan menjawab, kondisinya baik-baik saja. ***

roso-daras-di-cnn-indonesia-2

Iklan
Published in: on 6 Desember 2016 at 08:40  Comments (2)  
Tags: , , , ,

Mencari Dewi di Shibuya

Jpeg

Kediaman Ratna Sari Dewi Soekarno, di Shibuya – Tokyo.

Kawasan Shibuya, adalah satu di antara sekian banyak kota di Tokyo Metropolitan yang paling sibuk. Salah satu keunikan di Shibuya adalah pejalan kaki yang menyemut. Di setiap perempatan jalan besar, ketika lampu hijau menyala untuk para pejalan kaki dari semua arah, maka manusia menyemut di perempatan jalan.

Sekadar senggolan bahu adalah hal biasa. Bahkan, jika tidak lincah berkelit, niscaya akan ‘terlempar’ kian-kemari karena tubrukan sesama penyeberang jalan, yang semuanya berjalan serba tergesa. Mirip bola dalam permainan ding-dong. Karenanya, menyeberang jalan di Shibuya harus lincah bermanuver menghindari tabrakan. Atau gunakan cara aman, pilih pria bertubuh besar (meski amat jarang), lalu berjalanlah di belakang orang itu hingga selamat sampai di seberang jalan….

Itu sekelumit kenangan yang hanya sekilas mengunjungi Shibuya awal November lalu. Sama sekali tidak tertarik untuk mengagumi pusat pertokoan yang menyatu dengan stasiun barah tanah Shibuya yang sangat terkenal itu. Juga tidak tertarik untuk sekadar menengok keindahan objek wisata Shibuya yang masyhur, semisal Yoyogi Park, Meiji Shrine, Takeshita Street, dan lain-lain.

Fokus kaki ini hanya menuju ke satu rumah: Rumah Ratna Sari Dewi Soekarno. Istri mendiang Bung Karno yang bernama asli, Naoko Neomoto itu. Berkat bantuan rekan Sigit Aris Prasetyo, pegawai di Kementerian Luar Negeri Pejambon Jakarta Pusat, yang kemudian menghubungkan dengan Saud di Kedutaan RI di Tokyo, saya akhirnya diberi waktu untuk jumpa Dewi Soekarno.

Kediaman Dewi Soekarno di Shibuya, relatif jauh dari keramaian Shibuya. Ia tinggal di sebuah kawasan perumahan, tanpa ada satu pun bangunan pencakar langit baik pertokoan, perkntoran, atau apartemen di sekelilingnya. Kawasan tempat tinggal Dewi adalah sejenis kawasan perumahan yang memiliki tanah. Menyapu pandang di sekitar kawasan itu saja bisa saya simpulkan, kawasan ini hanya dihuni oleh orang-orang strata atas.

Hawa sore yang stabil di kisaran 12 derajat Celcius itu, memang nyaman untuk dipakai berjalan kaki (cepat). Demi jumpa Madame de Syuga, tidak ada rasa lelah sedikit pun. Meski, kerongkongan terasa kering. Itu pun bukan soal besar… mesin penjual minuman segar, ada di pinggir-pinggir jalan. Dengan memasukkan sejumlah Yen, kemudian tekan tombol pilihan, maka sebotol minuman segar pun terjatuh.

Hati berdegup kencang, ketika seorang lelaki paruh baya, menunjuk satu rumah yang tak jauh dari posisi saya berdiri. Dia orang ketiga yang saya tanya. Setelah dua orang sebelumnya, hanya bisa menggeleng dan ngeloyor pergi. Nun tak jauh di sana, tampak sebuah rumah dengan ciri tembok batu-bata merah coating.  Itulah rumah Satna Sari Dewi Soekarno.

Dewi sudah menungguku di rumah itu. Pikirku. (roso daras)

Amplop Merah Guntur Soekarnoputra

IMG-20160626-WA0057

Dalam usia 72 tahun (lahir 3 November 1944), putra sulung Bung Karno dari Fatmawati ini, masih tampak bugar. Hadir dalam acara ulang tahun putrinya, Puti Guntur Soekarno di Kemang Timur VI, Jakarta Selatan, Minggu 26 Juni 2016 lalu, Guntur Soekarnoputra menjadi ayah yang turut berbahagia bagi putrinya.

Apalagi, perayaan ulang tahun yang dibarengkan dengan momen buka bersama anak-anak yatim piatu itu, juga mendapat perhatian kerabat dan handai taulan. Dari lingkungan keluarga, tampak hadir Guruh Soekarnoputra, Puan Maharani, Prananda, dan banyak lainnya. Kolega Guntur, seperti Anwar Nasution, Tito Karnavian (Kapolri terpilih), dan masih banyak lainnya, seperti rekan seperjuangan PDI-P, maupun jajaran koleganya di DPR RI. Tak ketinggalan, sahabat-sahabat UI juga tampak memeriahkan suasana.

Momentum sowan dan “ngangsu kaweruh” kepada Guntur menjadi keharusan, kukira. Alhasil, dengan tidak memanjakan perut melalui aneka hidangan lezat, maka berbicara dengan Guntur jauh lebih “mengenyangkan”. Topik “warisan ilmu Sukarnoisme” kepada sang putri, saya pilih, dan kukira pas dalam momentum malam itu.

“Saya ralatif jarang memberi wejangan (tentang ajaran Sukarno) kepada Puti. Yang saya lakukan adalah dengan menulis. Tulisan-tulisan itu secara berkala saya kirimkan kepada Puti dan suaminya, Joey,” kata Guntur membuka narasi.

Guntur menulis apa saja yang dianggapnya perlu dan layak diketahui sang putri. Baik terkait materi buku Di Bawa Bendera Revolusi, maupun ajaran-ajaran bapaknya yang lain. Dengan menulis, kata Guntur, petuah, wejangan, atau apa pun tulisan itu diberi nama, menjadi lebih abadi, dan bisa dibaca berulang-ulang. Dengan menulis pula, segala yang hendak dikemukakan, menjadi lebih terstruktur.

Yang unik barangkali, naskah-naskah tulisan Guntur kepada Puti dan Joey, selalu ia kirimkan dalam kemasan amplop berwarna merah. “Belakangan baru saya tahu, atas tulisan-tulisan saya yang saya kirimkan selama ini, mereka (Puti dan Joey) namakan ‘amplop merah dari papa’… he…he…he… Terserah mereka saja….,” ujar Guntur dengan wajah sumringah.

Materi apa saja yang Guntur tuliskan? Ada banyak. Soal demokrasi Pancasila… soal Pancasila itu sendiri, soal revolusi, sosialisme, dan beberapa topik lain…. “Ada berapa banyak Mas Tok menulis untuk Puti?” sergah saya, dan sambil menerawang, Guntur menukas, “Yaaa… mungkin belasan… tidak ingat saya….” (roso daras)

Published in: on 28 Juni 2016 at 16:23  Comments (6)  
Tags: , , ,

Yayasan Aku dan Sukarno

MERDEKA !!!

LOGO OKSukarno atau sering disebut Soekarno, Bung Karno, bahkan Ahmad Soekarno, adalah Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia, sekaligus Presiden Republik Indonesia yang pertama. Sukarno lahir di Surabaya, pada tanggal 6 Juni 1901 dengan nama kecil Kusno.

Sebagai pendiri bangsa, Sukarno telah meninggalkan jejak-jejak monumental bagi bangsa Indonesia. Jejak Sukarno bisa ditapak melalui berbagai karya tulis berisi pemikiran serta gagasan yang melampuai zamannya. Ide tentang Marhaenisme, pledoi “Indonesia Menggugat”, brosur “Mencapai Indonesia Merdeka”, penggalian nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi bangsa, Nasakom/Nasasos, dan lain-lain, adalah sebagian jejak ideologis yang bisa ditelaah hingga kini.

Sukarno juga melahirkan pemikiran-pemikiran tentang modernitas Islam melalui “surat-surat Islam dari Ende”. Bung Besar, begitu ia dijuluki, juga menaruh perhatian tinggi terhadap eksistensi dan peran kaum perempuan melalui wejangan-wejangan, kursus-kursus yang kemudian dibukukan dalam sebuah buku berjudul “Sarinah”.

Kepemimpinan Sukarno juga melahirkan konsep Trisakti, berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, serta berkebudayaan yang berkepribadian. Konsistensi menggembleng bangsa dengan “nation and character building” menjadikan bangsa Indonesia memiliki dignity. Konsistensi sikap anti-imperialisme, anti-kolonialisme dalam bentuk apa pun, mengantarkan sebuah ide Konferensi Asia Afrika, yang di akhir kepemimpinannya, tercetus gagasan Conference of New Emerging Forces (Conefo).

Masih banyak jejak Bung Karno lain yang bisa ditelusur lewat berbagai dokumen, maupun penuturan oral dari saksi sejarah. Akan tetapi, fakta bahwa telah terjadi gerakan sistematis “desukarnoisasi” selama tiga dasa warsa, mengakibatkan tidak sedikit fakta-fakta menjadi samar, tonggak lurus menjadi bengkok, atau bahkan mengaburan sejarah tentang Sukarno itu sendiri.

Sebagai wahana berhimpunnya para insan Sukarnois, para pemerhati Sukarno, pengkaji ajaran Sukarno, para penapak-jejak sejarah Sukarno, dibentuklah Yayasan untuk dapat bergerak lebih terstruktur dan berkembang ke skala yang lebih besar. Bukan saja untuk dan demi syiar ajaran Sukarno, tetapi juga menempatkan sosok Sukarno, Putra Sang Fajar pada proporsi yang semestinya. Menempatkan Sukarno pada bingkai sejarah yang seharusnya.

Begitu kurang lebih preambule Anggaran Dasar Yayasan AKU DAN SUKARNO, yang insya Allah akan diresmikan kehadirannya pada tanggal 1 Juni 2016, di Gedung Joang ’45, Jl Menteng 31, Jakarta Pusat. Mohon doa restu. (roso daras)

Published in: on 10 Mei 2016 at 11:34  Comments (9)  
Tags: , ,

Saatnya Berbuat… Berbuat Lebih…

Dear pengunjung setia blog http://www.rosodaras.wordpress.com

Tidak penting excuse apa yang harus saya sampaikan, ketika sekian lama “menghilang” bahkan cenderung “menelantarkan” blog ini. Menulis buku? Ah… klise kedengarannya. Sibuk bekerja? Ah. apakah sebelumnya saya menganggur? Tidak juga…. Dus, sudahlah… mohon jangan tanyakan alasan mengapa.

Satu hal yang pasti, saya kembali hadir dengan semangat baru. Kali ini, benar-benar mirip seorang petinju yang habis kena upper-cut telak, lalu tiba-tiba ia bisa bangkit dan kembali “menari” di tengah ring. Pengamat menyebutnya “second wind”.

Kalimat penyemangat yang begitu menggila akhir-akhir ini adalah “BERBUAT”. Benar, barangkali inilah satu titik di mana kata tadi tiba-tiba menjadi begitu sarat makna.

Mungkin –dalam skala kecil– saya sudah berbuat untuk syiar Bung Karno. Setidaknya, semampu yang saya bisa. Kini, ada desakan yang begitu besar untuk BERBUAT LEBIH. Jangan pula bertanya, “mengapa?”…. Sebab, saya pasti akan jawab, “Entah”.

Sampailah saya pada satu keputusan untuk segera mendirikan lembaga nirlaba untuk memadahi segala aktivitas terkait “Sukarno kita”. Segeralah saya sadar, bahwa sudah jutaan pengagum, pembelajar, pemerhati, bahkan pembeci Sukarno yang sudah singgah di blog ini. “Ah saya harus share soalan ini lewat blog,” maka jadilah postingan ini.

Singkat kalimat, dengan ini saya mengajak Anda semua untuk ikut berpartisipasi dalam wadah yang akan segera saya dirikan. Mungkin bisa menjadi pendukung aktif dengan bersedia menjadi pengurus, atau memberi dukungan lain sebatas dan seikhlas kemampuan dan kemauan masing-masing.

Setidaknya, saya sudah plong… Sebab, saya merasa sudah menyampaikan ini untuk pertama kali melalui blog ini, dengan harapan tidak satu pun di antara pengunjung setia blog ini yang merasa, “Kok aku tidak (diberi) tahu?”….

Mari berbuat…. Berbuat lebih untuk Sukarno dan Indonesia. (roso daras)

Published in: on 31 Maret 2016 at 15:28  Comments (7)  
Tags: , ,

Sekilas Info

IMG-20150324-WA000

Permisi saudaraku….

Numpang promo acara Kompas TV yang bertajuk “Three in One”. Tayangan Rabu, 25 Maret 2015 besok, mengangkat tema “Warisan Soekarno”. Acara yang tayang pukul 20.00 WIB itu, menampilkan tiga host (karenanya dinamakan Three In One).

Edisi besok malam, menghadirkan empat narasumber. Dua orang cucu Bung Karno, satu orang anak Bung Karno, dan seorang lagi Sukarnois. Siapa-siapa saja mereka, dan apa-apa saja yang dibincangkan, baiknya saksikan saja langsng. Hehehe….

Published in: on 24 Maret 2015 at 06:58  Comments (4)  
Tags: , , , ,

Beda Inggit dengan Wanita Eropa

inggit-levasseur-christiane-crecence

S.I. Poeradisastra seorang penulis hebat lagi produktif. Dalam buku “Kuantar ke Gerbang – Kisah Cinta Ibu Inggit dengan Bung Karno” tulisan Ramadhan KH, ia memberi kata pengantar yang sungguh menarik. Bukan saja karena gaya bertuturnya yang enak dibaca, lebih dari itu, penulis yang acap menggunakan nickname Boejoeng Saleh ini, menunjukkan kekayaan literasi yang dimilikinya, sebagai bumbu-penyedap.

Di salah satu bagian, ia menyandingkan sosok Inggit dengan tiga orang perempuan “biasa”, sebagai pendamping orang besar. Pertama ia sebut nama Marie Therese le Vasseur (1721-1801). Ia adalah istri Jean Jacqus Rousseau, seorang filsuf, penulis, sekaligus komposer besar kelahiran Genewa, Swiss (1712), dan meninggal dunia di Perancis (1778).

Kedua, Inggit disandingkan dengan “wanita biasa” pendamping orang besar lain, yaitu Christiane Vulpius (1765 – 1816). Ia adalah istri dari Johan Wolfgang von Goethe, pujangga besar bangsa Jerman (1749 – 1832).

Terakhir, Inggit diumpamakan Crecence Eugenie Mirat ( 1815 – 1883), istri Heinrich Heine, sastrawan, jurnalis, dan esais handal yang lahir di Dusseldorf, Jerman (1797) dan wafat di Perancis (1856).

Inggit yang notabene tidak berpendidikan (konon hanya pernah belajar di madrasah), tetapi ia belajar banyak dari apinya perjuangan bangsa. Sekalipun bukan keturunan bangsawan, tetapi budi-pekertinya sangat luhur.

Upaya menyandingkan Inggit dengan tiga wanita asing pendamping tokoh-tokoh dunia tadi, sesungguhnya tidaklah terlalu tepat. Bukan saja karena besarnya perbedaan kultur, lebih dari itu, ketiga tokoh wanita Eropa tadi, memang berbeda dengan Inggit. Berbeda asal-usulnya, berbeda kadar perjuangannya, dan berbeda pula ending-story-nya.

Marie Thérèse Le Vasseur misalnya, dia adalah keturunan pejabat di Orleans, sementara ibunya adalah seorang pedagang. Ia “ditemukan” Rousseau sebagai pekerja tukang cuci dan pelayan di Hotel Saint-Quentin, di Rue des Cordiers, Jenewa sebagai wanita matang berusia 24 tahun. Rousseau sendiri 33 tahun. Pernikahan mereka dikaruniai lima orang anak.

Le Vasseur juga mewarisi harta suaminya, termasuk naskah dan royalti. Bahkan, setelah kematian Rousseau tahun 1778 , ia menikah dengan lelaki lain, Jean Henri Bally, setahun kemudian. Mereka tinggal bersama di Le Plessis – Belleville sampai kematiannya pada 1801. Jauh benar kisah le Vasseur dengan Inggit, bukan?Akan halnya Christiane Vulpius (1765 – 1816). Christiane Vulpius tak terlacak jejak pendidikannya. Sejumlah literatur hanya menyebutkan, bahwa setidaknya dia belajar membaca dan menulis. Ia pernah menjadi pekerja pabrik yang memproduksi topi.Meski begitu, saudara laki-lakinya tergolong orang berpendidikan pada masanya.Pada12 Juli 1788ChristianeVulpius bertemuJohannWolfgangvonGoethe, yang merupakan sahabat kakaknya. Mereka menjalin hubungan rahasia selama delapan tahun! Baru padamusim semi1789,mereka tidak lagi menyembunyikan hubungannya. Goethe yang radikal bahkan rela menabrak norma-norma sosial dengan kumpul-kebo hingga beranak pinak. Mereka sedikitnya melahirkan empat orang anak (dua meninggal cepat). Sejak bertemu dan berselingkuh tahun 1788, mereka baru meresmikan pernikahannya 18 tahun kemudian, tepatnya19 Oktober 1806.

Kesamaan apa yang ada pada diri Christiane dengan Inggit? Jauh pula kiranya.

Nah, bagaimana dengan pengumpamaan Inggit dengan Crecence Eugenie Mirat (1815-1883) istri Heinrich Heine yang masyhur itu? Heine yang menjumpainya tahun 1934, saat Eugenie berusia 19 tahun itu, awalnya sangat tidak tertarik. Wanita yang juga akrab dipanggil “Mathilde” itu di mata Heine sebagai wanita “rendah” lantaran tidak bisa baca-tulis, tidak berkelas. Intinya, Heine tidak punya ketertarikan secara bidaya maupun intelektual terhadap Mathilde.

Tak digambarkan secara rinci bagaimana akhirnya Heine mengajak hidup bersama Mathilde pada tahun 1836, dua tahun sejak pertemuan pertamanya. Keduanya baru melangsungkan pernikahan pada tahun 1841, dan hidup bersama hingga maut memisahkan keduanya. (roso daras)

Sukarno Kecil “Mabok Bima”

bimaPenulis biografi pertama Bung Karno yang terbit tahun 1933, Im Yang Tjoe, dalam bukunya “Soekarno Sebagi Manusia”, benar-benar berusaha keras merekonstruksi masa kecil Bung Karno. Meski tidak menyebut tonggak-tonggak waktu, tanggal, bulan, tahun, tetapi bagi pembaca, kiranya tidak terlalu menyulitkan.

Seperti misalnya, ketika Im Yang Tjoe menulis ihwal kakeknya, Raden Hardjodikromo yang menyekolahkan Sukarno saat usia 6 tahun, spontan kita bisa mahfum, bahwa peristiwa itu terjadi tahun 1907, mengingat Bung Karno lahir tahun 1901. Adalah sekolah desa di Tulungagung, tempat Sukarno kecil untuk pertama kali “memakan-bangku-sekolah”.

Im Yang Tjoe melukiskan hari-hari pertama sebagai murid, Sukarno adalah murid yang bodoh lagi bengal. Apa soal? Soal sebenarnya, menurut hemat penulis, bukan karena otak Sukarno tidak encer. Lebih karena Sukarno lagi “mabok-bima”…. Ya, hari-hari bersama Wagiman, selalu diisi kisah-kisah heroik tokoh Bima dalam epos Mahabharata.

Siapa Wagiman? Wagiman adalah seorang perangkat desa yang miskin harta tetapi kaya hati. Ia menjadi sahabat Sukarno kecil. Pulang sekolah, Sukarno akan mencari Wagiman. Kalau tidak dijumpainya di rumah, Sukarno akan menyusulnya ke sawah. Jika keduanya sudah bertemu, obrolan mereka umumnya wayang. Dari sekian banyak tokoh wayang, Sukarno paling tertarik dengan tokoh Bima, sang penegak Pandawa.

Meski begitu, sesekali, Sukarno melemparkan pertanyaan-pertanyaan yang “terlalu-tua” untuk bocah seusianya. Misalnya, pertanyaan, “Mengapa engkau begitu miskin?” Dengan penuturan versi Wagiman, Sukarno kemudian bisa merekonsruksinya menjadi sebuah pelajaran berharga tentang betapa penjajahan tak lebih dari pemelaratan rakyat.

Tentu saja, topik-topik filosofi wayang, ilmu politik, ilmu tata-negara, tidak didapatnya di bangku sekolah desa tempat ia bersekolah. Bukan karena cabang-cabang ilmu tidak ada, melainkan, materi itu memang bukan materi pelajaran bagi siswa sekolah dasar tingkat dewa. Di negeri jajahan pula. Terhadap murid-murid inlander pula. Bisa jadi, ini yang membuat Sukarno menjadi murid yang malas untuk menyimak pelajaran di sekolah. Ia lebih senang menggambar wayang, sambil imajinasinya mengembara kemana-mana.

Mungkin saja, ia sedang berimajinasi menjadi seorang Bima yang kemudian dengan gagah-berani menghapus keangkara-murkaan di atas bumi. Mungkin saja ia sedang membayangkan menjelma menjadi Bima, kemudian memakmurkan orang-orang miskin di negaranya. Bisa jadi, ia sedang berkhayal menjadi seorang Bima menjadi panglima bagi tegaknya kebenaran dan keadilan di jagat-raya. Ah, entahlah.

Yang pasti, ketika guru menyuruh murid-murid menirukan gerakan menulis huruf demi huruf, Sukarno malah menggambar profil wayang Bima yang gagah, dengan gelung sinupiturang, lengkap dengan kuku pancanakanya. Ya, Sukarno bukannya memperhatikan pelajaran guru, melainkan menggambar wayang Bima! (roso daras)

Lokat Kembang Hinis Jati buat Inggit

inggit-roso darasBermula dari sebuah “tag” di akun FB, ihwal pameran foto dan artefak Inggit Garnasih di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, saya tergerak untuk menyaksikannya. Selasa sore, 24 Februari 2015, saya meluncur ke Kota Kembang. Percayalah, gedung Indonesia Menggugat, relatif tidak asing buat saya, tetapi “Ini Bandung Bung!”…. Artinya, tetap saja tidak bisa mencapainya tanpa bertanya.

Kalau saja saya gunakan aplikasi waze, mungkin lebih mudah, toh saya memilih cara yang lebih sulit. Secara manual saya bertanya arah… Dari empat kali bertanya, saya acak, memilih dari anak muda, hingga yang kisaran umur 50-an. Jangan ditanya, mengapa untuk bertanya saja saya memilah usia? Saya sudah katakan, “memilih cara yang lebih sulit?”

Kepada sekelompok anak muda di depan BIP saya bertanya, “Maaf dik, boleh saya bertanya? Arah mana menuju Gedung Indonesia Menggugat?” Saya perhatikan ekspresi dan responsnya. Ternyata mereka hanya saling pandang, gagap. Saya timpali dengan pertanyaan kedua, “Itu lho, gedung bersejarah tempat Bung Karno dulu diadili Belanda….” Saya nantikan responsnya, …. Blank!!!

Sejatinya, peristiwa itu tidak berarti apa-apa, jika kita melihatnya dalam konteks, bahwa Gedung Indonesia Menggugat bukan tempat yang asyik buat dikunjungi. Bahwa Gedung Indonesia Menggugat tidak semenarik mal atau tempat kongkow lain. Bahwa Gedung Indonesia Menggugat, kurang penting. Bahwa saya prihatin, iya!

Nah, karena memilih cara sulit itulah, saya tiba di lokasi terlambat 30 menit. Meski begitu, saya masih kebagian prosesi pembukaan acara. Kesimpulannya, belum telat-telat amat…..

Bukan pejabat, bukan kerabat Inggit, bukan juga tokoh masyarakat… melainkan empat orang Marhaen yang diberi kehormatan panitia untuk menggunting seutas-tali-berpita-merah-putih-di-tengah, tanda diresmikannya pameran foto dan artefak Inggit Garnasih. Mereka adalah Achmad (juru pelihara penjara Banceuy), Akhmad (juru pelihara Gedung Indonesia Menggugat), Jajang (juru pelihara rumah bersejarah Inggit), dan Oneng (juru pelihara makam Inggit).

Tali digunting sudah. Dua daun pintu besar peninggalan Belanda itu pun dikuak…. Gelap… berasap… beraroma dupa. Memasuki ruang tengah, tampak sebuah ritual tengah digelar. Dari Budi Gunawan, salah satu personel panitia saya beroleh gambaran tentang ritual yang tengah digelar itu.

pembukaan pameran inggit

“Lokat Kembang Hinis Jati”, adalah tagline ritual magis tersebut. Budi menggambarkan, bahwa ritual ini merupakan persembahan kepada Ibu Inggit Garnasih. Persembahan sekaligus ungkapan rasa bangga tiada tara kepada sosok perempuan yang sangat tajam melihat masa depan bangsanya. Selain itu, ritual ini juga sebagai penghargaan atas keteguhannya menghadapi berbagai rintangan. Bahkan Inggit begitu kuat serta berani berkorban menghadapi segala tantangan demi Indonesia merdeka.

“Kembang” dimaknai sebagai perjuangan Inggit yang tetap mewangi, menghampar di persada bangsa untuk selamanya. “Hinis” adalah pengibaratan ketajaman intuisi Inggit Garnasih seperti tajamnya (hinis) bambu. Sejarah hidup dan kehidupannya telah menunjukkan ketajaman batin melihat Indonesia jauh ke depan.”Jati” adalah pohon yang kuat sekaligus kokoh. Ini adalah perlambang bagi seorang Inggit yang kuat dan kokoh menghadapi segala macam cobaan dan ujian dalam hidup.

Tampak, sembilan orang (satu perempuan) duduk melingkar. Di tengah, seorang penari cantik bersimpuh di hamparan bunga-bunga. Kesepuluh pelaku ritual itu adalah Neneng S Dinar, Ki Ustad Ridwan CH, Bah Enjum, Neneng R Dinar, Doni Satia Eka, Deni Rahmat, Bah Nanu, Neng Enok, Asep Gunawan, dan Gunadi.

Mereka membakar dupa…. tiupan suling menyayat-nyayat hati… ditingkah tembang Sunda yang melantun-mendayu…. Sejurus kemudian, sang penari memupus diam, dan melenggangkan gerakan pelan penuh penghayatan. Di sudut sana, meningkahi dengan mantram, doa, dan cucuran kata-kata puisi bermuatan kritik-sosial.

ritual inggit

Tak lebih 30 menit, ritual pun usai. Byarrrr lampu menyala…. Pelaku ritual menepi, dan panitia menyilakan hadirin untuk melihat-lihat materi pameran.

tito-roso-inggit-okAlhamdulillah saya bisa hadir di acara itu. Terlebih, saya bisa bersilaturahmi dengah “saudara” Tito Asmarahadi, cucu mendiang Inggit, putra pasangan Ratna Djuami – Asmarahadi. Tentunya berkat kata-kata “setuju” dari Tito-lah pameran ini tergelar.

Tito pula yang mengizinkan sejumlah artefak seperti alat membuat jamu yang digunakan Inggit, dipamerkan dalam kesempatan itu. Bukan hanya itu, Tito juga mengizinkan meja belajar Bung Karno semasa kuliah di THS dipamerkan juga. “Masih ada artefak lain, tapi karena soal teknis, belum bisa dipamerkan semua,” ujar Tito.

Akhirnya, saya bersyukur bisa berada di tengah komunitas pecinta Inggit Garnasih, dus… pecinta Bung Karno juga. (roso daras)

Dasamuka Bermulut Sepuluh

dikuasai asing

Pada galibnya, modal asing, baik kecil, mayoritas, apalagi monopoli, adalah sebuah bentuk imperialisme. Jadi teringat tulisan Bung Karno dalam “Mencapai Indonesia Merdeka”. Di salah satu bagian ia menulis, “Sejak adanya openduer-politik di dalam tahun 1905, maka modal yang boleh masuk ke Indonesia dan mencari rezeki di Indonesia bukanlah lagi modal Belanda saja, tetapi juga modal Inggris, juga modal Amerika, juga modal Jepang, juga modal Jerman, juga modal Perancis, juga modal Italia, juga modal lain-lain sehingga imperialisme di Indonesia kini adalah imperialisme yang internasional karenanya. Raksasa “biasa” yang dulu “berjengkelitan” di atas padang kerezekian Indonesia, kini sudah menjadi Rahwana Dasamuka yang bermulut sepuluh“.

Indonesia merdeka di bawah kepemimpinan Bung Karno, mengikis imperialisme itu dengan berbagai kebijakannya. Nasioanlisasi perusahaan-perusahaan asing di Tanah Air dilakukan dengan semangat , “ini dadaku!”. Semua proposal investasi asing, diperketat, hanya investasi –asing– dengan ending dikuasai anak-anak negeri sajalah yang diperbolehkan. Sebaliknya, tawaran menggiurkan sekalipun, akan ditentang habis-habisan jika bertujuan semata untuk mengeruk kekayaan alam Indonesia.

Jadilah ia musuh imperialis! Pemerintahannya terus dirongrong. Digerogoti dengan berbagai kegiatan separatis. Diteror dengan berbagai usaha pembunuhan. Terakhir, ia terguling oleh sebuah konspirasi-jahat yang melibatkan anak-negeri sendiri.

Syahdan, setelahnya, lembar baru Indonesia pun digelar. Kekuatan –ekonomi– asing kembali merajalela. Mereka mengkapling-kapling potensi alam Nusantara, sehingga, negeri yang begitu kaya sumber daya alam, hingga hari ini masih dililit utang luar negeri. Masih berkutat dengan kemiskinan. Masih bergelut dengan kemunduran. Masih tak berdaya atas cengkeraman kekuatan ekonomi asing.

Jangan lagi bicara potensi tambang emas, tembaga, batubara, minyak dan sebagainya. Bahkan, modal asing sejatinya sudah menguasai hajat hidup bangsa Indonesia kebanyakan, dari bangun bingga berangkat tidur. Air mineral, sabun-odol-shampo di kamar mandi, kendaraan yang dipakai, operator selular, gula, beras, sampai belanja ke mini dan supermarket, tak lepas dari modal asing.

Berita yang menggelitik hari ini, Menko Perekonomian Sofyan Djalil mewacanakan merekrut tenaga asing untuk memimpin BUMN. Berita lain, Menteri BUMN Rini Soemarno berniat menjual gedung kementerian BUMN setinggi 21 lantai. Sejak BBM naik (tepatnya pengalihan subsidi BBM…), pendapatan pom bensin Shell naik dua kali-lipat. Rupiah tak berdaya atas dolar. (Silakan ditambah deretan data lain….).

Jika kalimat Bung Karno di atas diaktualisasikan dalam konteks hari ini, barangkali menjadi, “Raksasa “biasa” yang dulu “berjengkelitan” di atas padang kerezekian Indonesia, kemudian menjadi Rahwana Dasamuka yang bermulut sepuluh. Setelah Indonesia merdeka, raksasa itu menjadi “biasa” lagi, dan sekarang, dia sudah “tiwikrama” menjadi maha-Rahwana Dasamuka bermulut seribu.”

Lalu, sebagian dari kita bergumam, “bukan urusan saya….” (roso daras)

Published in: on 17 Desember 2014 at 10:06  Comments (30)  
Tags: , , ,