Sowan Pak Amin Aryoso

Amin Aryoso - Roso Daras 2014

Sudah lama tidak sowan sesepuh GMNI, Sukarnois, dan penggiat kembali ke UUD ’45 yang asli, Amin Aryoso. Dalam kesempatan silaturahmi di sore yang gerimis baru-baru ini, saya jumpai dia duduk di kursi roda. Dalam keadaan yang belum pulih dari sakit, Amin Aryoso tetap saja Amin Aryoso, yang selalu antusias jika disinggung soal Bung Karno, jika menyoal amandemen UUD ’45 yang kebablasan.

Meski terkendala komunikasi, sebisa-bisa saya berusaha untuk berdialog meski tidak lancar. Awalnya, saya menghadiahi dia dua buku Bung Karno yang saya tulis tahun 2013. Tampak di wajahnya, ia menyambut baik dan sangat berkenan. Sayang, lagi-lagi, dia tidak bisa mengutarakan perasaan hatinya.

Topik lain, adalah copy dokumen tentang notulen hasil rapat PPKI 8 Agustus 1945 yang membahas soal dasar negara (konstitusi). Dokumen itu didapat putra beliau, Azis Aryoso. Meski dalam bentuk foto-kopian yang tidak begitu jelas terbaca, tetapi Azis menjamin, petugas pengetik notulen itu masih hidup, dan bisa dimintakan konfirmasi, jika hendak menulis ulang notulensi tersebut.

Saya bicara dan bicara. Dan saya yakin, dia paham apa  yang saya bicarakan. Sejurus kemudian, dia menggerakkan tangannya seperti orang sedang menulis. Saya segera menangkap maksudnya. Di atas kertas, saya tuliskan apa-apa yang hendak saya lakukan dengan dokumen itu. Antara lain, menuliskan ulang suasana sidang PPKI ketika itu yang begitu dinamis. Melibatkan tokoh-tokoh pendiri bangsa, dalam perdebatan perumusan dasar negara (UUD 1945) yang sangat berbobot. Ada bahasan pasal demi pasal, ada adu argumen antar peserta rapat, dan sebagainya.

Bagi saya, Amin Aryoso adalah salah satu sesepuh, saksi sejarah, korban Orde Baru, sekaligus panutan dalam memaknai ajaran Bung Karno. Konsistensinya pada apa yang diyakininya, sangat mengagumkan. Bahkan, ketika mulut (akibat stroke) tak lagi mampu berkata-kata, dia masih begitu bersemangat. Tak pelak, Amin Aryoso adalah inspirasi untuk terus menggali dan mensyiarkan ajaran Bung Karno. (roso daras)

Published in: on 13 Januari 2014 at 09:01  Comments (1)  
Tags: , , , , ,

Pre-Order Buku Total Bung Karno

Total Bung KarnoPuji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Agung, akhirnya buku TOTAL BUNG KARNO telah selesai cetak, dan siap edar. Begitu kabar gembira hari ini, Selasa 14 Mei 2013 dari penerbit Etera Imania. Penerbit yang telah membukukan tiga buku saya terdahulu (serial Bung Karno the Other Stories).

Ini adalah buku keempat yang mereka cetak. Buku keempat ini, pada galibnya menjawab pertanyaan Anda, yang belum mengoleksi serial Bung Karno The Other Stories secara lengkap. Di samping, tentu saja memenuhi permintaan khalayak yang sama sekali belum pernah membaca buku-buku saya itu dengan berbagai alasan. Umumnya, karena terlambat mengetahui, dan ketika mencari ke toko buku, sudah tidak ada lagi.

Karenanya, konten buku ini adalah rangkuman dari ketiga konten buku terdahulu, dengan penambahan sejumlah judul baru sebagai pelengkap, serta sedikit revisi di beberapa bagian. Dan yang menarik, endorsement dari para Sukarnois pada ketiga buku terdahulu juga dimuat secara utuh. Di sana ada Sukmawati Soekarnoputri, Amin Aryoso, Moch. Achadi, Ki Utomo Darmadi, Dr Cornelis Lay. Lebih menarik lagi karena buku ini juga ketambahan dua endorsement lagi dari dua tokoh nasional yang sangat berbeda latar-belakang.

Keduanya berbicara tentang Bung Karno, dari sudut pandang masing-masing. Yang pertama adalah Mahfud MD, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, dan Bambang Pamungkas, pesepakbola nasional yang akrab disapa Bepe.

Nah, Penerbit Imania (grup Mizan) juga mengabarkan, bagi peminat buku TOTAL BUNG KARNO tersebut, penerbit membuka sesi pre-order antara tanggal 14 – 24 Mei 2013 melalui sejumlah situs, antara lain mizan.com, bukabuku.com, dan bukukita.com. Sebanyak 200 pemesan pertama akan mendapat potongan harga 20 persen.

Monggoooo….. (roso daras)

 

Mohon Doa buat Amin Aryoso

Sudah hampir satu minggu, tokoh GMNI, Sukarnois sejati, H. Amin Arjoso, SH tergolek sakit di Paviliun Kencana kamar 411, RSCM Jakarta. Siang tadi, Selasa (28/6), saya berkesempatan menjenguknya ke RSCM. Tubuhnya lunglai, peralatan medis menyelimuti tubuhnya. Bahasa medisnya, ia terserang stroke ringan.

Dan, ini bukan serangan pertama. Ia sudah terserang stroke sebelumnya. Melalui peratawan intensif, terapi intensif, pelan tapi pasti kondisinya membaik. Dari yang semula terkulai, mulai bisa berlatih jalan. Dari yang semula nyaris tidak bisa lagi bercakap-cakap, mulai bisa berbicara dengan relatif lancar.

Dalam pada itu, perjuangannya tidak pernah surut. Bahkan, buku tentang Amin Aryoso, Pemikiran dan Perjuangan Menegakkan Kembali UUD ’45 berhasil disusun oleh tim dan diluncurkan di Gedung Joang ’45, Menteng, Jakarta tahun lalu. Sejumlah sarasehan aktif ia ikuti. Sejumlah buku pun ia terbitkan atas nama Yayasan Kepada Bangsaku yang ia pimpin.

Bahkan sebelum terkulai sakit minggu lalu, ia masih intens mengurus “penyelewengan” yang terjadi di Universitas 17 Agustus (Untag) Sunter. Sejumlah langkah hukum ia lakukan demi pulihnya visi dan misi Untag. Dalam kondisi sakit, Amin Aryoso pun –hampir bisa saya pastikan– otaknya terus bekerja.

Melalui posting-an ini, secara pribadi maupun atas nama Amin Aryoso dan keluarga, saya mintakan doa buat kesembuhan Amin Aryoso, tokoh nasionalis, Sukarnois yang paling konsisten yang bisa jadi teladan. Semoga, Amin Aryoso lekas sembuh, agar dia bisa kembali berjuang. Kita masih membutuhkan pemikiran dan perjuangannya. Lekas sembuh, pak Amin…. (roso daras)

Published in: on 28 Juni 2011 at 11:09  Comments (2)  
Tags: ,

Amin Aryoso, Tetap Semangat di Saat Sakit

Tokoh nasionalis, tokoh senior GMNI, pengacara handal, mantan anggota DPR RI, dan banyak lagi predikat lain… kini terbaring di rumahnya, Jl. Taman Amir Hamzah, Jakarta Pusat. Dia, H. Amin Aryoso, SH, lelaki sepuh yang tetap menampakkan semangatnya yang pantang penyerah dalam memperjuangkan keyakinan ideologinya.

Sehari-hari, Amin Aryoso lebih banyak di rumah. Berbaring di sebuah ruang depan, dirawat intensif oleh para perawat dan terapis. Sekalipun begitu, rumahnya tidak pernah sepi. Berbagai elemen masyarakat, khususnya dari kalangan nasionalis hampir tiap hari berdatangan. Jam-jam berkunjung mereka umumnya pagi dan sore… pagi sekitar pukul 08.00 atau sore sekitar pukul 17.00 WIB.

Di atas pembaringan, dia menerima para tamu dengan antusias dan semangat. Sekalipun ada kalanya terkendala dengan tutur bicara yang tersendat-sendat… tetapi semua yang hadir tentu maklum. Memaklumi kondisi fisik Amin Aryoso yang memang sedang sakit. Satu hal yang pasti, pikiran dan pemikirannya tetap jernih.

Ia, misalnya, masih tetap antusias berbicara mengenai konstitusi negara yang amburadul. Ia juga tetap antusias dan semangat untuk terus menyuarakan perlunya bangsa dan negara kita kembali ke UUD 1945 yang asli, bukan UUD hasil amandemen tahun 2002. Sebab, baginya, konstitusi hasil amandemen justru makin membuat bangsa dan negara terpuruk.

Sistem demokrasi dan ekonomi liberal yang disuntikkan ke dalam UUD amandemen, menjadikan bangsa dan negara kita kehilangan jati diri. Semangat gotong royong hilang. Semangat musyawarah-mufakat lenyap. Pembiaran atas situasi dan kondisi ini, akan makin menenggelamkan bangsa dan negara ke jurang kesengsaraan. Cita-cita luhur proklamasi, menjadi jauh panggang dari api.

Alhasil, dalam satu-dua kali pertemuan, saya sudah mengantongi dua komitmen Amin Aryoso dalam rangka memperjuangkan ideologi dan keyakinannya. Yang pertama adalah publikasi berupa buku, hasil pemikiran sejumlah tokoh bangsa berbagai kalangan mengenai hancurnya bangsa kita secara ideologi, politik, ekonomi dan kebudayaan akibat amandemen UUD 1945 yang serampangan.

Yang kedua, adalah dukungan penuh Amin Aryoso terhadap komunitas “PEMUDA PENGGUNCANG DUNIA” yang saya pelopori di blog ini. Dia sangat mendukung upaya menghimpun para pemuda dengan ideologi yang sama untuk bertemu, bersatu, dan bersekutu. (roso daras)

Published in: on 19 April 2010 at 09:14  Comments (2)  
Tags: , , , ,

Sumpah di Depan Jenazah

Abdul Madjid

Kamis, 8 Oktober 2009 rumah di bilangan Setiabudi, Karet, Jakarta Selatan itu tampak sepi, meski adzan maghrib baru saja usai berkumandang. Pintu pagar tak terkunci. Ketika pintu utama diketuk, tak berjawab. Bergeser ke pintu samping, ketukan yang sama juga tak bersahut.

Melalui usaha –mengetuk pintu– terus-menerus, akhirnya keluar seorang pria muda usia. Ia mempersilakan kami masuk seraya mengatakan, “Bapak masih shalat (maghrib).” Siapa “kami”? Siapa “bapak”? Kami adalah saya bersama H. Amin Aryoso, seorang tokoh nasionalis, dan mas Giat, seorang rekan wartawan politik. Sedangkan “bapak” yang dimaksud adalah tokoh nasionalis lain, H. Abdul Madjid.

Tak lama menunggu, usai shalat maghrib, Abdul Madjid berjalan menjumpai kami. Langkahnya agak tertatih-tatih. Sejenak ia uluk salam dan duduk di kursi berhadap-hadapan dengan kami. Komunikasi basa-basi sebagai pencair suasana, tidak berjalan baik. Pasalnya, pendengaran Abdul Madjid terasa benar makin menurun. Karenanya, meski jarak antarkami hanya sekitar 1,5 meter, tetapi volume suara harus dibuat lebih tinggi, meski belum sampai ke tahap berteriak-teriak.

Saya menarik satu kursi dan duduk di sampingnya. Bukan saja komunikasi jadi lebih mudah, lebih dari itu, saya bisa mendekatkan voice recorder.  Tema pembicaraan malam itu seputar dua hal pokok. Pertama, mengenai “demokrasi Indonesia” disandingkan dengan demokrasi Amerika, Inggris, Jerman, Perancis, Jepang, Cina, dan lain-lain. Kedua, tentang amandemen UUD 1945 oleh MPR 1999-2004 yang melahirkan “UUD 2002”.

Suara Abdul Madjid masih menggelegar, berat, dan penuh semangat. Anda tahu? Usianya sudah lebih 90 tahun! Tutur katanya masih runut, sistematika berpikir masih tersusun rapi, dan daya ingatnya luar biasa.

Selagi menyimak dan merekam kata demi kata, saya menyapu seisi ruang tamu sekaligus ruang kerja Abdul Madjid. Selain banyak tumpukan buku, juga banyak sekali ornamen merah putih, deretan foto-foto aktivitasnya di berbagai kegiatan, dan tentu saja, foto Bung Karno.

Bahkan dalam salah satu foto Bung Karno, di bagian bawah ditempel foto Abdul Madjid yang sedang berpidato. Menilik usia foto dan sosok Abdul Madjid di dalam foto yang tertempel, saya taksir itu peristiwa sekitar 20 tahun lalu, saat Abdul Madjid masih berusia sekitar 70-an tahun. Tangan kanan mengepal meninju langit, tangan kiri memegang mic. Ia sedang berorasi. Di bagian bawah terbaca tulisan, “Saya tukang ngomong belaka”.

Memang benar. Abdul Madjid “tukang ngomong”, namun bukan sembarang omongan. Ia senantiasa menyuarakan ajaran-ajaran Bung Karno. Dalam setiap kiprahnya sebagai politisi, Sekjen PNI era 60-an ini, tak pernah sekalipun menanggalkan keteladanan Bung Karno. Ia juga menyerukan kepada setiap generasi muda untuk meneladani moral politik Bung Karno.

Bahkan, dalam diskusi-diskusi kecil, ia tak pernah meninggalkan kutipan-kutipan pidato atau artikel Bung Karno sebagai sumber rujukan. Nyata sekali, ia begitu bersemangat untuk terus dan terus menggelorakan ajaran Bung Karno. “Itu karena saya sudah bersumpah kepada Bung Karno,” ujar Abdul Madjid menjelaskan mengenai semangatnya yang tetap menyala dalam menyuarakan ajaran Bung Karno.

“Di depan jenazah Bung Karno di Wisma Yaso, saya pernah berkata, ‘Selamat jalan bung. Saya akan meneruskan ajaranmu’. Kalimat itu merupakan sumpah sekailigus janji saya. Dan itu pula yang akan saya lakukan hingga ajal menjemput,” ujar Abdul Madjid dalam getar suara yang mantap. (roso daras)

Published in: on 12 Oktober 2009 at 00:37  Comments (4)  
Tags: , , ,

Menatap “Bung Karno Berdasi Merah”

Soekarno Berdasi Merah

Lupa tanggal dan bulan, samar pula tahunnya. Nantilah saya cek. Tapi sebagai cantelan peristiwa, baiklah saya sebut saja sekitar tahun 2006, ketika tokoh GMNI, H. Amin Aryoso mengajak saya menuju kediaman Jusuf Ronodipuro, di Jl. Talang Betutu, Menteng, Jakarta Pusat. Konteksnya adalah menggali sejarah langsung dari sumbernya. Kebetulan, tokoh ini, dikenal sebagai pembaca teks proklamasi melalui pemancar RRI pada tanggal 17 Agustus 1945.

Hasil bincang-bincang siang sampai sore hari itu, sempat pula saya tulis untuk tabloid Cita-Cita, sebuah tabloid yang mengusung tema nasionalisme dan non partisan. Sayang, hingga naskah ini publish, saya belum menemukan pula dokumentasi digital tabloid tersebut. Berhubung tulisan ini dimaksudkan bukan untuk menyorot peran Jusuf Ronodipuro pada awal-awal kemerdekaan Indonesia, maka saya lewatkan saja pencarian itu. “Sesuatu, manakala dicari sering menghilang, begitu sudah tidak dicari, muncul,” gumam saya.

Ini adalah fase pasca bincang-bincang. Dikatakan bincang-bincang memang karena forumnya benar-benar tidak formal. Dengan Amin Aryoso, dia lebih banyak bernostalgia. Dengan saya, dia banyak menuturkan kisah sejarah. Alhasil, obrolan gado-gado hari itu buat saya cukup berkesan.

Tibalah Jusuf Ronodipuro, dengan sedikit susah payah bangun dari duduk, dan berjalan pelan sekali menyusur ruang tamu hingga ruang tengah yang berbentuk “L”. Nah, pada salah satu dinding itulah, terpajang lukisan Basuki Abdullah ini. Lukisan dengan objek Bung Karno berdasi merah. Itu adalah salah satu koleksi lukisan paling disayang oleh Ronodipuro. Berdiri di bawah lukisan tadi, ia bisa menatapnya lama hingga tak terasa air mata menggenang di kedua pelupuk matanya yang tua.

Lukisan yang memiliki kekentalan daya magis bagi yang merasakan. Setidaknya, Jusuf Ronodipuro merasakan getar-getar itu. Manakala ia berkisah tentang sosok Bung Karno dalam bingkai lukisan dengan penuh penjiwaan, saat itu saya sendiri masih bergulat dengan mata batin saya, yang tak kunjung bisa menangkap getaran yang dirasakan si empunya lukisan. Hingga selesai sesi menikmati lukisan tadi, hanya kesan datar yang berhasil kutangkap, “Istimewa, seperti halnya karya Basuki Abdullah yang lain.”

Saat rehat, topik sudah tidak lagi sekental jam-jam sebelumnya, saya mohon izin untuk kembali menatap lukisan ini. Saya melangkah pelan ke bawah lukisan ini, membiarkan Jusuf Ronodipuro dan Amin Aryoso melanjutkan obrolan cair yang tentunya menyehatkan jiwa keduanya.

Saya berkonsentrasi sejenak. Lebih dua menit saya memusatkan pikiran, sambil membenamkan sorot mata dan konsentrasi ke objek di depan saya. Dari mana saya hendak berkomunikasi dengan “Bung Karno” di atas kanvas, di depan saya? Saya awali dengan menatap sorot matanya. Kemudian saya biarkan mata ini berjalan tanpa kendali pikir. Dan ternyata, ia bergeser ke kiri, ke arah kepalan tangan.

Ada desir rasa yang entah bagaimana saya harus mengungkapkan. Sebab, kalau dibahasakan, yang keluar hanyalah sekadar kata “heroik”, padahal yang ada di dalam dada adalah heroisme yang bergelombang, mengikuti guratan dan sapuan kuas Basuki Abdullah. Dasi warna merah yang terjurai, menusukkan satu lagi getar yang dalam. Bayang-bayang wajah serta gurat latar, melengkapi seluruh makna yang terangkum dalam otak dan dada. Dia adalah selimut sejarah.

Syahdan… kini, lukisan itu sudah lepas dari dinding. Hilang tahun 2008, setelah Jusuf Ronodipuro wafat. Yang “mencuri”, bukanlah “pencuri”, mengingat dia adalah putra almarhum Jusuf Ronodipuro sendiri. (roso daras)

Published in: on 26 Agustus 2009 at 08:17  Comments (2)  
Tags: , , ,