Lintas Generasi di Bedah Buku “Total Bung Karno”

medium_972149a

Bedah buku sekaligus peluncuran buku Total Bung Karno, Rabu, 5 Juni 2013 di Gedung Joang 45 Menteng, Jakarta Pusat, terbilang sukses. Saya pribadi merasa sangat bersyukur. Tiga narasumber yang diundang, berkenan hadir dan berbicara tentang Bung Karno. Mereka adalah Moch Achadi (Menteri Transmigrasi dan Koperasi Kabinet Dwikora), Mahfud MD (Ketua Mahkamah Konstitusi 2008 – 2013), dan Bambang “Bepe” Pamungkas (pesepakbola nasional). Saya sendiri, oleh panitia (Penerbit Imania) tetap didaulat berbicara dalam acara tersebut.

Yang luar biasa adalah, bahwa para pembicara berhasil “menahan” audiens duduk di tempat sejak awal hingga akhir. Saya pribadi menilai, apa yang disampaikan Mahfud MD dan Bambang Pamungkas memang sangat menarik. Sedangkan yang dipaparkan Achadi, saya menangkap kurang tertangkap bagi mayoritas audiens. Bisa jadi hal itu lantaran gap yang kelewat lebar antara periode (masa) narasumber dengan hadirin. Saya sendiri merasa biasa-biasa saja.

Bagi yang tidak sempat hadir, saya sedia berbagi ihwal acara peluncuran buku Total Bung Karno. Acara diawali dengan pemutaran video dan suguhan foto berikut narasi tentang Bung Karno. Mestinya bisa dikemas lebih apik, lebih mengalir, dan barangkai lebih kontekstual dengan materi buku yang hari itu diluncurkan. Editing yang seadanya, disertai kualitas data digital yang kurang maksimal, mengakibatkan secara keseluruhan sajian pembuka “kurang nendang”….

Subhan sang moderator, mengawali agenda dengan membacakan sekilas riwayat hidup pembicara. Bagi pengunjung blog dan hadir tentu tahu, dia menukil “tentang saya” di blog ini. Tak apalah. Tak begitu penting. Kemudian juga diperkenalkan tentang narasumber lain. Dan sebagai pembicara pertama, oleh penerbit saya diberi clue untuk berbicara tentang proses kreatif penulisan buku “Total Bung Karno.

Sebenarnya saya kurang interest dengan clue tersebut. Yang disebut “proses kreatif”, bagi saya adalah sebuah “pekerjaan”, mengingat saya sejak pertama kali bekerja, ya menulis (sebagai jurnalis). Alhasil, menulis buku (khususnya tentang Bung Karno), seperti sering saya ungkap, ibarat  memeras spon basah agar kering kembali. Penelusuran saya di belantara Sukarno, tentu saja menyerap ribuan bahkan mungkin jutaan informasi. Tanpa upaya pemerasan spon, niscaya otak saya akan kehilangan daya serap. Nah, itu saja.

Yang menarik dan saya sampaikan dalam forum itu adalah, bahwa tanpa skenario sebelumnya, yang hadir berbicara ternyata mewakili antargenerasi.  Achadi, adalah saksi sekaligus pelaku sejarah. Sebagai pembantu presiden, dia tentu sangat lekat berinteraksi dengan Bung Karno. Karena itu, dalam pemaparannya, dia bisa menggambarkan bagaimana keseharian Bung Karno yang ia sebut jauh dari sebutan otoriter. “Bung Karno justru senang kalau saya sanggah,” ujarnya.

Berikutnya, Mahfud MD. Tokoh vokal ini, mewakili generasinya. Mahfud MD menceritakan perjalanannya ke Maroko pada tanggal 5 Februari 2012. Hari itu, dia hadir dan memberi materi pada pertemuan asosiasi MK sedunia mewakili MK Asia. Di acara itu, dia berjumpa dengan Ketua MK yang sudah sangat tua. Ketua MK itu memberitahu Mahfud MD kalau dirinya pernah hadir di Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung pada tahun 1955. Menurut Ketua Mahkamah Konstitusi itu KAA menimbulkan semangat membara bagi bangsa Asia dan Afrika untuk sejajar dengan bangsa lain, dan itu tidak lain adalah jasa Bung Karno. Negara-negara Afrika bangkit karena dorongan dan semangat Bung Karno. Bung Karno telah mencontohkan dari dulu bahwa Indonesia pun bisa maka negara-negara di Afrika pun bisa. “Sebelum saya ke Maroko, saya mampir ke Aljazair. Di Aljazair juga Bung Karno punya nama harum.” Kata Mahfud MD.

Sedangkan, Bambang Pamungkas, berbicara tentang keteladanan Bung Karno. Ia berbicara juga tentang pemahamannya sebagai generasi muda terhadap sosok Bung Karno. Tanpa tedeng aling-aling, dia juga merasakan ada pembelokan sejarah terkait Bung Karno. Itulah yang membuat ia tertarik mendalami Sukarno. Ketika seorang audiens bertanya asal mula ketertarikannya terhadap sosok Bung Karno, Bepe menyebutkan ketidakmengertiannya tentang sejarah yang aneh. “Bung Kano begitu dipuja masyarakat, tidak hanya di Indonesia, tetapi di dunia. Kalau dia bukan orang hebat, tidak mungkin seperti itu. Bahwa ia sempat mendengar sejarah yang negatif dari Bung Karno, itu justru memicu dia untuk mencari tahu sejarah yang sebenarnya.”

Acara diakhiri dengan tiga sesi tanya-jawab. Secara keseluruhan, semua berjalan sangat lancar. Saya pribadi menyampaikan apresiasi dan terima kasih sebesar-besarnya kepada para narasumber serta penerbit Imania. Tak lupa, terima kasih pula kepada segenap hadirin yang telah sudi meringankan langkah hadir dalam acara tersebut. Semoga, gawe kecil itu membawa manfaat bagi kita. (roso daras)

Catat, 5 Juni 2013 di Gedung Joeang 45, Peluncuran Buku “Total Bung Karno”

Sidang pembaca blog yang mulia….

Akan sangat bermahfud mdarti hari itu, hari Rabu tanggal 5 Juni 2013, jika Anda berkenan hadir pada acara peluncuran buku saya “Total Bung bepeKarno”. Acara itu sendiri digelar oleh penerbit Imania pukul 14.00 di lantai 3 Gedung Joeang 45, Menteng, Jakarta Pusat.

Dalam kesempatan itu, akan hadir dan berbicara Prof M. Mahfud MD (mantan Ketua MK) dan Bambang Pamungkas (pesepakbola legendaris Indonesia). Sejauh ini, kedua narasumber tersebut sudah konfirmasi hadir. Selain keduanya, juga akan hadir para sesepuh Sukarnois serta Sukarnois dari berbagai kalangan serta masyarakat umum.

 

 

Published in: on 27 Mei 2013 at 08:34  Komentar (5)  
Tags: , ,

Pre-Order Buku Total Bung Karno

Total Bung KarnoPuji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Agung, akhirnya buku TOTAL BUNG KARNO telah selesai cetak, dan siap edar. Begitu kabar gembira hari ini, Selasa 14 Mei 2013 dari penerbit Etera Imania. Penerbit yang telah membukukan tiga buku saya terdahulu (serial Bung Karno the Other Stories).

Ini adalah buku keempat yang mereka cetak. Buku keempat ini, pada galibnya menjawab pertanyaan Anda, yang belum mengoleksi serial Bung Karno The Other Stories secara lengkap. Di samping, tentu saja memenuhi permintaan khalayak yang sama sekali belum pernah membaca buku-buku saya itu dengan berbagai alasan. Umumnya, karena terlambat mengetahui, dan ketika mencari ke toko buku, sudah tidak ada lagi.

Karenanya, konten buku ini adalah rangkuman dari ketiga konten buku terdahulu, dengan penambahan sejumlah judul baru sebagai pelengkap, serta sedikit revisi di beberapa bagian. Dan yang menarik, endorsement dari para Sukarnois pada ketiga buku terdahulu juga dimuat secara utuh. Di sana ada Sukmawati Soekarnoputri, Amin Aryoso, Moch. Achadi, Ki Utomo Darmadi, Dr Cornelis Lay. Lebih menarik lagi karena buku ini juga ketambahan dua endorsement lagi dari dua tokoh nasional yang sangat berbeda latar-belakang.

Keduanya berbicara tentang Bung Karno, dari sudut pandang masing-masing. Yang pertama adalah Mahfud MD, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, dan Bambang Pamungkas, pesepakbola nasional yang akrab disapa Bepe.

Nah, Penerbit Imania (grup Mizan) juga mengabarkan, bagi peminat buku TOTAL BUNG KARNO tersebut, penerbit membuka sesi pre-order antara tanggal 14 – 24 Mei 2013 melalui sejumlah situs, antara lain mizan.com, bukabuku.com, dan bukukita.com. Sebanyak 200 pemesan pertama akan mendapat potongan harga 20 persen.

Monggoooo….. (roso daras)

 

Buku Baru, Isi Niru

Sore tadi, ketika menyempatkan diri jalan-jalan ke Gramedia, mata tertumbuk pada buku berjudul “Bung Karno, The Untold Stories”, dengan nama penulis Wijanarko Aditjondro. Penerbitnya, Buku Pintar, yang beralamat di Jalan Imogiri Barat, Yogyakarta. Karena tertarik, saya membuka-buka buku contoh. Mak deg, jantung berdegup kencang seperti dipacu ketersinggungan.

Mengapa? Hampir semua isinya dikutip dari isi blog ini. Buku itu berisi 54 Bab. Entah apa dasarnya pencantuman bab, sebab ternyata yang dimaksud bab adalah judul. Jadi kalau di buku itu ada 54 bab, sejatinya berisi 54 judul. Dan 90 persen dari bab (judul) itu diambil dari judul-judul yang ada di blog ini. Sang penulis mengubah judul, dan tentu saja beberapa kalimat pembuka (lead). Selebihnya, batang tubuh dan isinya, tak lebih dari copy-paste isi blog ini.

Beberapa contoh, bab 2 “Soekarno dan Supir Taksi”, dikutip dari tulisan berjudul “Revbolusi dan Utang Ongkos Taksi” yang saya posting tanggal 12 Juli 2009. Kemudian bab 3 buku itu “Soekarno, Presiden Termiskin di Dunia”, diambil dari tulisan yang saya posting tanggal 17 September 2011 berjudul “Sukarno, Presiden Miskin”. Lalu pada bab 6 “The Heroic Side of Soekarno”, diambil dari tulisan saya berjudul “Burung Elang Terbang Sendirian” postingan 7 Juli 2009.

Bab-bab (saya menyebutnya “judul”) selanjutnya, idem ditto, pemindahan judul-judul tulisan yang ada di blog ini. Buku yang dibanderol seharga 40.000 rupiah itu saya beli dengan perasaan tidak ikhlas, hanya karena ingin tahu lebih jauh tentang isi, latar belakang, penulis, penerbit, dan sebagainya. Ternyata, di bagian belakang buku, tidak ada biodata penulis. Entahlah, karena kealpaan penerbit, atau karena nama Widjanarko Aditjondro adalah nama fiktif.

Sejatinya, saya pribadi sangat appreciate terhadap siapa pun yang berjiwa Sukarnois, terlebih yang memiliki kemauan syiar ajaran Bung Karno. Karenanya, setiap ada pengunjung blog yang meminta izin co-pas tulisan untuk facebook, atau bahkan di blog mereka, dengan senang hati saya mengizinkan. Bahkan saya memaklumi pula jika ada yang mempostingnya tanpa menyebut sumber.

Menjadi galau manakala kemudian seseorang bernama Widjanarko Aditjondro membukukan dan mengomersilkannya. Terlebih saya pribadi, manakala mencari referensi untuk bahan penulisan di blog, tak jarang mengutip dari berbagai sumber. Dan ketika saya membukukan konten blog ini menjadi sebuah buku (hingga kini sudah judul yang ketiga), tidak pernah menyajikannya secara utuh atau persis seperti yang tertulis di blog. Melainkan, saya berusaha memperkaya dengan literatur lain agar menjadi “layak buku”.

Itulah mengapa, saya benar-benar masygul ketika tulisan-tulisan di blog ini kemudian dibukukan secara serampangan. Editing atau re-writing yang dilakukan bukan lebih bagus, tetapi tak jarang kehilangan konteks. Bukan hanya itu, penjiplakan gagasan berupa penuangan kisah-kisah humanisme seorang Sukarno, ditiru begitu saja. Foto-foto yang dipajang pun hampir semuanya diambil dari blog ini.

Baik penerbit maupun penulis (serta yang punya ide melakukan penjiplakan) atas tulisan-tulisan yang ada dalam blog ini, menurut saya sungguh terrrlllaaaallluu!!!

Barangkali, kalau hasil tiruannya tersaji dalam kemasan yang jauh lebih bagus, akan ada rasa maklum yang lebih besar dari saya. Kalau saja, kualitas tulisan, editing, tata letak, desain cover lebih mantap, akan muncul pemikiran “kepentingan syiar ajaran Bung Karno” pada diri saya, sehingga saya tidak akan merasa galau.

Akan tetapi, dengan tiruan yang lebih jelek, saya benar-benar menyesalkan ulah penerbit, penulis, dan yang menggagas terbitnya buku ini. Hmmm… adakah pengunjung blog ini yang berprofesi sebagai lawyer? (roso daras)

Bung Karno Vs Kartosuwiryo dalam Buku

Alhamdulillah yaaa… Sesuatu bangettt… Buku “Bung Karno Vs Kartosuwiryo” telah selesai cetak. Bahkan, sudah “nyaris” terdisplay di toko-toko buku, Senin, 10 Oktober 2011 lalu. Ya, itu tanggal yang dijadwalkan penerbit Imania untuk mendisplay buku ini. “Luar Jawa malah lebih dulu, pak Roso…,” ujar seorang manajer di penerbitan Imania, penerbit buku saya itu.

Biasanya, saya rajin mengabarkan kepada khalayak ihwal kemunculan buku baru itu. Bukan saja bertujuan promosi supaya bukunya terbeli, lebih dari itu, dorongan “berbagi” kepada sesama Sukarnois begitu besar. Tapi, mengingat kesibukan, saya memang tidak, atau belum melakukannya. Hhhmmm, apa jadinya kalau sudah dipromosikan tanggal 10 Oktober bisa dibeli di toko buku, tapi ternyata tidak ada barangnya?

Kalau tidak salah ingat, tanggal 12 Oktober, manajer Imania menelepon, meminta maaf tentang buku saya yang belum bisa dipasarkan. Saya tanya alasan, dia menjawab direksi keberatan dengan sebagian isi kata pengantar buku. Sempat mereka meminta izin untuk menghapus kata pengantar. Saya tentu saja keberatan. Kata pengantar justru penting untuk conditioning pembaca masuk pada materi buku. Kalau ujug-ujug pembaca disodori materi tanpa pengantar, sama saja kita disuruh makan singkong rebus tanpa air. Bayangkan saja….

Saya menolak. Lantas si manajer meminta saya melakukan editing, saya juga menolak. Bukan saya tidak mau kompromi. Alasan saya ada dua, pertama, saya memang benar-benar sedang tidak ada waktu untuk mengedit kata pengantar. Kedua, berhubung yang keberatan adalah direksi, maka seyogianya pihak penerbit yang mengedit. Bukankah begitu? Maka saya usul, “Silakan diedit seperlunya. Saya menyetujui, dan lanjutkan proses cetak ulang dan pendistribusiannya ke toko-toko buku.”

Begitulah sekelumit romansa yang mewarnai kelahiran buku “Bung Karno Vs Kartosuwiryo, Membongkar Sumber Dana DI/TII” ini. Tidak seperti dua judul sebelumnya yang dicetak di Imania, maka pada buku ketiga ini, rasa merasa terhormat, karena direksi penerbit itu tiba-tiba menjadi begitu perhatian. Mulai dari usul pemilihan topik, hingga gonta-ganti cover. Dalam pikiran yang selalu saya usahakan untuk positif, tentu saja saya senang karena itu artinya mereka menganggap penting.

Penting bisa diartikan, materi buku ini memang patut mendapat perhatian ekstra. Penting bisa juga berarti, buku ini memang punya nilai jual. Entahlah. Yang pasti, buku ini memang beda dari kedua serial terdahulu. Ini lebih fokus pada sekelumit kiprah Bung Karno yang bersinggungan dengan Islam. Khususnya Islam garis keras.

Tetapi, format buku secara umum, tidak terlalu menyimpang dari kedua buku terdahulu. Tetap bersumber dari postingan saya di blog ini. Mudah-mudahan tetap “enteng-berisi”. Saya berharap, sekalipun topiknya cukup berat, tetapi tetap bisa dinikmati secara santai.

Pertanyaannya tentu: Kapan buku itu bisa didapat? Penerbit yang punya kapasitas menjawab. Hanya saja, kepada saya mereka mengatakan, “pencetakan ulang kata pengantar, sebentar kok. Mudah-mudahan akhir Oktober 2011 ini sudah beredar di toko-toko buku.” (roso daras)

Published in: on 14 Oktober 2011 at 02:58  Komentar (9)  
Tags: , , ,

Tentang Buku Ketiga, Bung Karno vs Kartosoewirjo

Di tengah kepenatan fisik dan otak, izinkan saya mengabarkan, keseluruhan naskah buku ketiga sudah selesai dan terkirim ke penerbit Imania. Buku ketiga, berbeda dengan dua buku terdahulu. Jika buku pertama dan kedua, menggunakan judul yang sama “Bung Karno, the Other Stories, Serpihan Sejarah yang Tercecer” (buku 1 dan 2), maka yang ketiga, atas kesepakatan dengan penerbit, diambil satu tema besar. Atas kesepakatan pula, di buku ketiga, mengangkat judul “Baratayudha, Bung Karno vs Kartosoewirjo”, disambung judul serial “Serpihan Sejarah yang Tercecer, buku ke-3.

Sesuai tema besar, maka ulasan tentang perseteruan politik antara Bung Karno dan Kartosoewirjo, mendapat porsi yang cukup besar. Selain memang unik, juga terbilang dramatis. Dua sahabat yang sempat belajar dan indekos bersama di kediaman HOS Cokroaminoto di Surabaya, pada akhirnya harus berseberangan pandang. Bung Karno sebagai Presiden, menetapkan Pancasila sebagai ideologi negara. Sementara itu, SM Kartosoewirjo memberontak dan memproklamasikan Negara Islam Indonesia (NII).

Apa hendak dikata, dalam perspektif kenegaraan, tindakan Kartosoewirjo adalalah satu bentuk makar. Karenanya, Pemerintah RI berkewajiban menumpasnya. Pasukan TNI pun melakukan perlawanan dan usaha penumpasan kaum pemberontak DI/TII ini hingga ke akar-akarnya. Keselurhan operasi ini menelan waktu tak kurang dari lima tahun.

Selama itu pula, DI/TII yang didukung aksi intelijen Amerika Serikat, mendapat sokongan senjata, peralatan komunikasi canggih, dan… tentu saja guyuran dolar. Sejatinya, pemberontakan yang disponsori asing, bukanlah yang pertama. Bahkan dalam bentang sejarah kita, hampir semua aksi politik yang berujung pada suksesi kepemimpinan nasional, tak pernah luput dari pengaruh dan peran asing.

Orde Baru berhasil menumbangkan pemerintahan Sukarno, tak lepas dari peran aktif CIA. Gelombang demonstran yang didukung Angkatan Darat, adalah bagian dari skenario besar menumbangkan “singa Asia” ketika itu, Sukarno. Negeri-negeri Barat sangat geram dengan Bung Karno, yang berhasil menggalang kekuatan Asia-Afrika, bahkan sedia mencetuskan CONEFO (Conference of New Emerging Forces). Jika itu terwujud, di dunia ini akan bercokol dua organisasi negara-negara.

PBB yang dikritik habis oleh Bung Karno karena tak bisa melepaskan diri dari hegemoni super power, dilawan Sukarno dengan menggalang kekuatan-kekuatan baru, dari negara-negara yang baru melepaskan diri dari aksi kolonialisme (penjahan). Spirit melawan negara maju yang hendak mencengkeramkan kekuasaannya kembali melalui proyek-proyek ekonomi, dilawan Bung Karno dengan lugasnya.

Bukan hanya itu. Lagi-lagi, asing pun berperan besar dalam menumbangkan Orde Baru, manakala Soeharto mulai kehilangan kendali atas kekuasaannya. Ditambah, kecenderungan korupsi serta praktek-praktek nepotisme yang berkembang di luar batas kewajaran. Sekali dongkel, dengan didahului prahara badai krisis moneter, tumbanglah rezim Orde Baru.

Kembali ke topik buku. Sebagai Sukarnois, tentu saja tulisan itu beranjak dari perspektif yang tentu saja bertentangan dengan perspektif kelompok ekstrim kanan yang menghendaki Indonesia menjadi negara Islam. Rasanya ini tidak keliru, sepanjang NKRI masih berstatus negara republik dengan landasan ideologi Pancasila. Tentu lain soal seandainya pemerintah dan parlemen menyepakati perubahan ideologi dari Pancasila ke Islam.

Akan tetapi, sepanjang NKRI konsisten dengan Pancasila sebagai ideologi negara, maka bukan saja konsep negara Islam tidak dibenarkan secara konstitusi, juga upaya-upaya ideolog lain, seperti komunis, misalnya, juga tak akan pernah menjadi gerakan legal.

Materi tentang Bung Karno vs Kartosoewirjo, dilengkapi pula dengan sejumlah naskah-naskah pendek sebagai pelengkap sekaligus penguat. Selain itu, penulis juga menyajikan pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945 yang kini kita peringati sebagai hari kelahiran Pancasila. Ini menjadi relevan, agar audiens memahami bagaimana para founding father menyepakati ideologi negara kita.

Yang tak kalah menarik, saya sajikan pula sebanyak 12 surat-surat Islam Bung Karno dari Ende. Ini adalah fase Bung Karno mendalami Islam, dan belajar bersama Ahmad Hassan, yang ketika itu berada di Bandung. Surat-menyurat Ende-Bandung itu, tidak melulu sebagai sajian surat belaka. Penulis melengkapinya dengan pengantar yang cukup panjang, untuk lebih memperkenalkan sosok A. Hassan, serta bagaimana riwayat perkenalan Bung Karno dan A. Hassan.

Pada tiap-tiap akhir surat, penulis membuat catatan-catatan. Ada yang berupa komen atas surat tersebut, ada juga yang merupakan upaya memperkaya literasi, sehingga audiens bisa lebih gamblang mencerna surat-surat Bung Karno, serta lebih menghayati suasana kebatinan maupun latar belakang lahirnya surat-surat tersebut.

Dibanding buku pertama yang 200 halaman lebih, dan buku kedua yang lebih tipis sedikit, maka buku ketiga ini diperkirakan mencapai ketebalan lebih dari 260 halaman. Sekalipun begitu, penerbit telah mengkalkulasi sedemikian rupa, sehingga tidak akan memberatkan kocek peminat buku ini, akibat harga yang tinggi. Dari konfirmasi sementara, buku ketiga ini akan luncur sekitar bulan Oktober 2011. Mohon doa restu agar segala sesuatunya berjalan lancar.  (roso daras)

Rencana Cover ke-3, Dipilih…Dipilih…

Dua hari lalu, penerbit Imania mengirimkan rencana cover buku yang ke-3. Seperti postingan terdahulu, dalam buku ketiga dan Insya Allah selanjutnya, pendekatan judul serta content mixed, dibuat sedikit berbeda dari dua buku terdahulu. Kali ini, fokus tulisan pada “perseteruan” Bung Karno dan Kartosoewirjo.

Ah, tapi ini bukan posting tentang konten buku ketiga. Selain tidak membuat Anda penasaran untuk membaca (tepatnya: membeli) buku ini, juga karena saya ingin berbagi dan minta masukan sidang pembaca blog ini sekalian, terhadap rancangan cover yang telah disiapkan penerbit. Ada dua rancangan cover, seperti terlihat di bawah ini: versi A dan versi B.

Nah, atas pilihan cover tersebut, saya pribadi memiliki beberapa catatan. Misalnya, komposisi judul dan foto, saya cenderung melilih yang B, dengan catatan, boks bertuliskan “The Other Stories 3″ lebih dirapatkan ke atas, menempel teks “Serpihan Sejarah yang Tercecer”. Keseluruhan judul juga bisa lebih ke atas.

Kemudian, ilustrasi perang baratayudha dalam epik Mahabarata itu, saya cenderung memilih yang versi A. Sebab, warna sephia di versi A rasanya lebih cocok dengan desain yang B. Dengan sedikit penguasaan software adobe photoshop, beberapa catatan tersebut saya wujudkan menjadi seperti di bawah ini:

Nah, bagaimana menurut Anda? (roso daras)

Published in: on 23 Juni 2011 at 05:28  Komentar (8)  
Tags: , , , , ,

Cover Final Buku Jilid II

Lama gak nengok email (gara-gara telkomselflash error…), ternyata penerbit Imania sudah beberapa hari berkirim konsep final cover untuk buku jilid II (seperti tampak di atas). Menurut penerbit, itulah konsep cover yang “hampir pasti” digunakan untuk buku Bung Karno, Serpihan Sejarah yang Tercecer, The Other Stories jiid ke-2.

Tampaknya ini merupakan kompromi dari empat versi (dua versi besar) yang sudah terposting beberapa waktu yang lalu. Menurut penerbit, inilah desain cover yang mewakili aspirasi masyarakat. Tentu saja ada yang cocok, setengah cocok, atau bakan kurang cocok. Meski begitu, harapan penerbit, desain ini mewakili rasa cocok pembaca sekalian. (roso daras)

Published in: on 19 Agustus 2010 at 15:31  Komentar (16)  
Tags: , ,

Suatu Sore di CityWalk Sudirman

Ini kabar tentang peluncuran buku, Bung Karno, The Other Stories, Serpihan Sejarah yang Tercecer, Sabtu 9 Januari 2010 di CityWalk Sudirman, Lantai 1, Jakarta Pusat. Acara yang diisi talk show dengan pembicara tunggal sang penulis, dipandu dengan cantik oleh Lia, sang penyiar RRI Pro 2 FM Jakarta.

Dalam kesempatan itu, hadir tokoh nasionalis H. Amin Aryoso, SH, didampingi putranya, Azis Aryoso. Dalam salah satu kesempatan dialog, H. Amin Aryoso bahkan menyampaikan informasi menarik seputar Bung Karno dan para wanita. Spontan informasi tadi disambar hadirin yang lain dengan mengusulkannya menjadi sebuah buku baru.

Membahas Bung Karno dan para wanitanya, tidak akan pernah kering. Dalam forum itu, Agus Salim, pentolan Insan Muda Indonesia bahkan mengemukakan informasi yang pernah diterimanya. Sebagai generasi belia, ia pernah mendapat informasi tentang “kenakalan” Bung Karno ihwal perempuan. “Saya pernah mendengar, kalau Bung Karno berpidato, dan tangannya sudah menunjuk ke satu arah beberapa kali, maka sang ajudan atau pengawal harus tanggap… itu artinya di lokasi yang ia tunjuk ada wanita yang ditaksir Bung Karno…,” ujar Agus Salim sambil terkekeh.

Saya, tidak dalam posisi membenarkan ataupun menyanggah. Dalam hati saya hanya berimajinasi, berorasi di atas podium sambil melirik ke kanan dan ke kiri –di balik kacamata hitam– mencari wanita untuk ditunjuk. Apa mungkin? Di sisi lain, Bung Karno terbukti banyak melakukan hal-hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Jadi? (roso daras)

Published in: on 13 Januari 2010 at 02:33  Komentar (3)  
Tags: ,

Ini Buku Baru… Ini Baru Buku…

cover final

Sebelumnya, saya minta maaf, jika untuk waktu yang lumayan lama, Anda akan menjumpai cover buku ini terus…. Bukan maksud menghentikan posting naskah baru, tapi November ini adalah bulan promosi buku…. Ya, buku Bung Karno, Serpihan Sejarah yang Tercecer ini beredar mulai pertengahan November 2009.

Jadi ada baiknya… saya alokasikan waktu yang cukup lama, buat menampung segala komen, kritik, dan saran Anda atas buku ini. Segala koreksi positif dan kritik produktif Anda sekalian, pengunjung setia blog ini, akan kami jadikan landasan pijak guna memperbaiki serial buku selanjutnya.

Terima kasih….

Wassalam

Published in: on 4 November 2009 at 19:32  Komentar (25)  
Tags: , , ,
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 327 pengikut lainnya.