Surat Dewi kepada Soeharto (1)

Memasuki bulan September, masyarakat Indonesia akan dikenangkan oleh peristiwa G-30-S/PKI atau Gestok (Gerakan Satu Oktober). Memperingati itu, menarik kiranya kita mengkaji ulang surat terbuka yang pernah dilayangkan Ratna Sari Dewi Sukarno kepada Presiden Soeharto. Surat itu ditulis dan dikirim dari Paris, Perancis pada April 1970.

Mengingat panjangnya surat terbuka Dewi kepada Soeharto, saya mempostingnya dalam beberapa bagian. Berikut adalah surat  Dewi kepada Soeharto bagian pertama.

Ratna Sari Dewi - 1970Yang Mulia, Presiden Soeharto

Sekali-kali bukanlah maksud saya untuk mengingatkan Anda akan hal-hal yang rupanya ingin Anda lupakan. Tetapi karena saya mengikuti kejadian-kejadian di Indonesia  dari dekat, saya anggap tugaskulah untuk berbicara. Mungkin akan lebih bijaksana untuk tetap membisu seperti sphink. Pertanggungjawaban untuk melanggar tabu biasanya amat berat, karena itu saya juga sadar bahwa saya  akan dikucilkan. Barangkali lebih berat daripada yang saya pikirkan.

Baik di dunia maupun di Indonesia lambat-laun akan beredar cerita-cerita yang dipalsukan bahwa saatnya  sudah tiba saya membeberkan kejadian-kejadian dari sudut pandang saya. Saya telah memutuskan untuk menyampaikan surat kepada Anda sebagai warrga negara Indonesia. Selain itu saya mengharapkan agar tidak timbul keragu-raguan bahwa keputusan saya untuk mengirimkan surat terbuka kepada Anda, maupun isinya, sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya dan tidak ada sangkut pautnya dengan Sukarno, mantan Presiden Indonesia.

Sekarang sudah terlambat untuk membicarakan para perwira yang telah dihukum mati sebagai “kontra-revolusioner” dan sebagai “pelaku maker terhadap negara”. Sudah sejak dahulu, sejak hari-hari Sukarno masih berkuasa, saya tidak setuju dengan pendapat bahwa “kekuasaan selalu menang”. Saya juga tidak setuju bila kepala negara mengelilingi dirinya dengan yes-man. Saya masih saja berpendapat bahwa di sekitar Anda masih terlalu banyak orang berkumpul, yang selalu bungkam, yang pura-pura setuju dan menaati Anda, agar mendapatkan lebih banyak kekuasaan untuk dirinya.

Yang pertama-tama saya kutuk ialah yang disebut proses-proses, di mana orang dihukum mati untuk “kejahatan-kejahatan yang dilakukan terhadap negara” tanpa mengindahkan norma-norma yang lazim dilakukan dalam suatu proses di pengadilan. Proses-proses itu berlangsung dalam suasana kekerasan dan terror.

Mereka, yang di bawah pimpinan Sukarno hampir tidak punya suara, kemudian melampiaskan diri dengan sangat tidak bertanggung-jawab dan membunuh serta menteror dari posisi kekuasaan yang baru mereka peroleh. Bila suatu waktu nanti tempat Anda kosong untuk diisi oleh orang lain, bisa saja terjadi, bahwa mereka yang menonjol dalam rezim Anda, termasuk di dalamnya tentu Anda sendiri, dan sejumlah  mitra militer Anda, akan  dihukum mati karena pengkhianatan terhadap negara dan kejahatan-kejahatan lain, misalnya korupsi yang telah menyebar luas kemana-mana.

Mengapa Anda memberikan contoh seburuk itu kepada negara semuda Indonesia? Dalam hal ini yang saya maksud tidak hanya proses-proses politik yang telah Anda selenggarakan. Tetapi yang teringat olehku adalah orang-orang yang terbunuh oleh yang dinamakan “pembersihan merah” menyusul peristiwa 30 September 1965. Berapa dari orang-orang ini hanyalah pengikut-pengikut Sukarno? Berita yang merebak menyebutkan bahwa tidak kurang dari 800.000 orang Indonesia, termasuk perempuan dan anak-anak, telah dibunuh karena mereka merupakan pengikut PKI (Partai Komunis Indonesia).

Januari 1966, London Times menulis, “Setelah kejadian-kejadian di Indonesia, tiga bulan yang lalu, telah dibunuh seratus ribu komunis, angka itu menurut diplomat-diplomat Barat amat rendah. Laporan itu selanjutnya menyebutkan ‘Para usahawan dan turis Eropa, yang baru kembali dari Indonesia mengabarkan bahwa mereka melihat sebuah sungai penuh dengan mayat tanpa kepala, sedangkan di desa-desa anak-anak bermain sepakbola dengan kepala korban’. Tiga bulan setelah peristiwa 30 September merupakan mimpi buruk dengan kekejaman-kekejaman yang tak terlukiskan yang diwarnai darah – tanpa tandingan dalam sejarah Indonesia.

Seorang koresponden “Washington Post” menulis dari Jakarta, bahwa di Jawa Timur saja telah dibunuh 250.000 orang menurut juru bicara pihak Islam. Koran itu kemudian memberitahukan bahwa “pembunuhan mencapai puncaknya pada bulan November 1965. Kepala orang dipakai sebagai dekorasi di atas jembatan. Di tempat lain orang melihat jenazah-jenazah tanpa kepala berjajar di atas perahu-perahu di sungai. Apa yang terjadi di sini sungguh tak bisa dibayangkan. Rupanya seperti di neraka. Bengawan Solo yang didendangkan dengan begitu indah memuat demikian banyhaknya jenazah, sehingga arinya pun kadang-kadang tam tampak. Beberapa pengamat berbicara tentang dasar sungai yang berwarna merah karena darah”, demikian Washington Post. Koran Inggris “The Economist” memperkirakan korban pembunnuhan missal berjumlah satu juta. (Roso Daras – BERSAMBUNG)

Iklan
Published in: on 29 Agustus 2013 at 09:20  Comments (7)  
Tags: , , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://rosodaras.wordpress.com/2013/08/29/surat-dewi-kepada-soeharto-1/trackback/

RSS feed for comments on this post.

7 KomentarTinggalkan komentar

  1. Saya enggak bisa membayangkan mas, jikalau korban yang terbunuh sebanyak 800.000 orang itu yang menjelang kematian nya kira-kira seperti apa rasa ketakutan nya melihat ajal kematian nya didepan mata, yang pasti sedih rasanya sebanyak itu dibunuh secara tidak bralasan dan keji, kendati demikian siapa yang mengira mas bahwa dari korban segitu banyaknya salah satu korban diantara mereka pernah melontar kutukan (sumpahan) terhadap negeri ini yang sudah mereka perjuangkan bersama kemudian di kihianati lalu menyumpahi dan mengutuk negara ini (Indonesia) akan menjadi NEGARA YANG GAGAL (FAILED STATE). Gagal Hukumnya, Gagal Pendidikan nya, Gagal Olahraga nya, Gagal Agama nya, Gagal Ekonomi nya dan yang mengerikan Gagal Kesejahteraan nya.

    Salam Revolusi….

    • hmmm….byangkan deretan pesakitan (diindikasi komunis) dengan berlutut di pinggiran sungai bengawan solo dan brantas, seorang algojo anshor dengan golok karatan mendekat sedang dikejauhan beberapa prajurit RPKAD (atau unit2x AD lainnya) mengawasi dengan sigap dan senapan terkokang…..satu persatu orang2x sial itu ditebas tanpa ampun (kadang lebih dari satu tebasan untuk membuat kepala mereka mengglinding ke dalam sungai)…..lucunya para pesakitan diberikan waktu untuk berdoa dan sembahyang sebelum dijagal 😦

      • Tolong sebutkan yang lebih spesifik lagi Algojo-algojo nya siapa saja, supaya pembaca yang budiman tahu betul siapa sih mereka dan siapa keturunan nya? Supaya tidak salah memilih parpol lagi. Penting!

    • setau gw nama2x para jagal ini tidak terdokumentasikan dengan baik disebabkan mereka dipilih secara random oleh tentara (AD)…..mereka kebanyakan adalah oknum2x banser anshor, GPII,pemuda marhaen,KOKAM muhammadiyah dll namun ada juga para bandit dan kriminal psikopat yg sengaja dibebaskan dari penjara2x…..tentara (AD) menggunakan “milisi dadakan” tsb karena tugas mereka sudah cukup padat untuk mengejar pentolan2x PKI….ada 2 nama tukang jagal yg cukup sohor yaitu ANWAR CONGO dari medan dan BURHAN KAPAK, keduanya masih idup 😛

  2. harto telah matii dgn membawa tangan yg berlumuran darah..
    Antek-anteknya masih bercokol dan eksis mengumbar kelicikan-kelicikan !!

    • bahaya laten ORBA….dan itu telah terbukti

  3. aku tidak diajari untuk membenci manusia,tapi aku bebas untuk membenci perilaku manusia yang biadab,tidak manusiawi,rekonsiliasi adalah keniscayaan jika para pemimpin bersikap jujur dan relijius,bukan hipokrit seperti sekarang ini !


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: