Mintakan Restu Nama Sukarno di Ndalem Pojok

minta restu

Siapa sebenarnya Denmas Mendung? Apa pula kaitannya dengan Ndalem Pojokkrapak, Wates?

Misteri Denmas Mendung tersingkap setelah ldayu Nyoman Rai Srimben, ibunda Sukarno, penasaran terhadap sosoknya. Dia memaksa suaminya, Raden Soekeni, agar dipertemukan dengan orang yang telah menyembuhkan bayinya dari sekarat itu. Kalau tidak mau diberi uang atau barang, ia sekadar ingin mengucapkan terima kasih kepada orang tersebut.

Semula, Soekeni berusaha mencegahnya. Sebab, selain tidak mau diberi uang atau barang, menurut penuturan orang-orang Denmas Mendung tidak mau ditemui perempuan. Itu adalah bagian dari laku tirakatnya.

Tapi, Idayu terus memaksanya. Pokoknya, dia harus bertemu walaupun sekadar untuk mengucapkan terima kasih. Itu sudah menjadi tradisi yang diwariskan oleh leluhurnya di Bali. Soekeni pun akhirnya mengalah. Dia tak kuasa menolak kemauan sang istri. Berdua, mereka akhirnya kemball naik dokar dari rumah papan di Ploso menuju Kedungpring. Adapun bayi Kusno (nama kecil Bung Karno, Red) dan kakaknya, Karsinah, dititipkan kepada tetangga.

Sesampainya di kediaman Denmas Mendung, suasana sepi. Pintu tertutup rapat. Meski diketuk-ketuk, tetap tak ada jawaban. Idayu yang sudah tidak sabar lantas mencari lubang di celah-celah dinding untuk mengintip keberadaan tuan rumah di dalam.

Di balik keremangan, dilihatnya wajah yang ternyata sudah tidak asing baginya. “Oh, ternyata ini orang yang bernama Denmas Mendung. Ya, kalau kamu tidak mau keluar, terpaksa pintu rumah ini aku dobrak,” katanya seperti ditulis dalam buku karya Dian Soekarno yang bergaya novel sejarah tersebut.

Dengan alu (kayu penumbuk padi atau kopi, Red) yang ditemukannya, pintu kayu itu pun didobrak Idayu. Braakk…! Begitu pintu terbuka, Soekeni dan Idayu menjerit bersamaan, “Dhimas Umo…?” Mereka lalu menghambur dan sama-sama memeluk erat orang yang dipanggil sebagai Dhimas Umo itu.

Dari situlah misteri Denmas Mendung akhirnya terkuak. Dia tak lain dan tak bukan adalah Raden Mas Soemosewojo, adik sepupu Soekeni, yang dulu pernah membantunya untuk mendapatkan cinta ldayu di Buleleng, Bali. R.M. Soemosewojo adalah putra dari Raden Mas Panji Soemahatmodjo, patih ndalem Sinuwun Pakubuwono IX.

R.M.P. Soemohatmodjo juga pengikut Pangeran Diponegoro yang setelah Perang Jawa 1825-1830 melarikan diri dari buruan tentara Belanda ke Kediri. Tepatnya di wilayah yang kini masuk Dusun Krapak, Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri.

Di sanalah R.M.P. Soemahatmodjo kemudian hidup berbaur dengan warga. Di desa itu pula dia membangun rumah yang kini disebut Ndalem Pojokkrapak. Rumah itu diperkirakan dibangun sekitar 1862 hingga 1870-an.

Sementara, setelah pertemuan yang menguak misteri Denmas Mendung itu, R.M. Soemosewojo bersama keluarga Raden Soekeni akhirnya sepakat untuk sama-sama sowan kepada R.M.P. Soemohatmodjo di Ndalem Pojokkrapak, Wates. Ini terkait pula dengan perubahan nama bayi Kusno menjadi Sukarno karena nama lama dianggap tidak cocok. Mereka ingin mendapatkan restu dari para sesepuhnya. Soekeni juga sepakat bahwa R.M. Soemosewojo menjadi ayah angkat dari Sukarno. Apalagi, dulu mereka sudah mempunyai kesepakatan. Yakni, jika Soekeni memiliki anak laki-laki, adalah hak Soemosewojo untuk mendidiknya.* (adi nugroho/hid/bersambung). Di ketik ulang dari Jawa Pos Radar Kediri  SENIN 8 JULI 2013

Romantisme Bunga Kantil di Ndalem Pojokrapak

romantisme bunga kanthil

Perjalalanan panjang Sukarno, presiden pertama Indonesia salah satunya terjadi di Kediri! Bukan hanya si awam, para pakar sejarah pun masih banyak yang mengernyitkan dahi begitu mendengar pernyataan itu.

Koesno atau orang mengenalnya dengan nama Sukarno adalah salah satu putra terbaik bangsa ini. Bergelar insinyur, putra pasangan Raden Soekeni Sosrodiharjo dan Ida Ayu Nyoman Rai besar karena perjuangannya. Bukan hanya di Indonesia, tetapi juga dunia.

Dialah pahlawan proklamator kemerdekaan. Presiden pertama Indonesia. Seorang poliglot yang pawai berpidato. Puluhan gelar doktor honoris causa ia dapatkan dari universitas dalam dan luar negeri. Pengakuan atas kehebatanya pun datang dari tokoh-tokoh besar, mulai dari John F Kennedy hingga Che Guevara.

Namun di balik kebesaran Sukarno atau yang sering dipanggil dengan sebutan ‘Bung’ di depan namanya ini pasti tersimpan proses yang panjang. Bukan hanya tempat kelahirannya yang sempat disamarkan rezim berkuasa, tetapi juga sejarah masa mudanya belum banyak yang menelusuri.

“Itulah mengapa saya menulis buku ini. Bahwa semua kebesaran Bung Karno berasal dari jejak sejarah panjang. Termasuk di Kediri. itu yang belum banyak ditulis,” ujar Dian Sukarno, penulis buku Trilogi Spiritualitas Bung Karno dalam acara bedah bukunya di Brantas Room, kantor Radar Kediri, Kamis lalu (4/7).

Candradimuka, itulah judul besar yang dipasang untuk buku pertama dalam trilogi atau tiga tahapan perjalanan spiritualitas bapak pendiri bangsa (foundhing fathers), Sukarno. Pemilihan judul yang seolah ingin mengkiaskan bagaimana Sukarno muda digembleng sehingga menjadi pemimpin besar seperti yang kita kenal. Melalui sebuah proses panjang. Salah satunya berkaitan dengan beberapa tempat di Kediri. Termasuk sebuah rumah yang disebut penulis berada di Dusun Krapak, Desa Pojok, Kecamatan Wates.

Hingga kini bangunan rumah itu masih berdiri. Dengan segala ornamen kuno yang meninggalkan kesan sejarah yang kuat. Termasuk beberapa tanaman, seperti bunga kantil, sawo kecik, blimbing wuluh di sejumlah sudut halaman.

Bunga kantil, menurut penelusuran penulis, memiliki makna tersendiri. Bahkan, jauh sebelum gelaran candradimuka itu terjadi. Jauh sebelum Sukarno, pemimpin besar negeri ini lahir. Yakni masa-masa di mana ayah dan ibu Sukarno memadu kasih. Dalam buku karyanya, Dian mengisahkan, dua pucuk bunga kantil dari halaman rumah itulah yang menjadi penanda cinta keduanya. Hal ini setelah Raden Soekeni, ayah Sukarno, melewati proses tirakat di Ndalem Pojokrapak. “Itu sebuah petunjuk yang membuat. Haden Soekeni mantab melamar Ida Ayu,” ujar Dian.

Bunga kantil yang menjadi bab tersendiri dalam buku ini juga yang membuat Rinto Harno, mantan Direktur PT Gudang Garam yang masih kerabat Raden Mas (RM) Soemosewojo, kembali dalam roniantisme masa kecilnya.

Sekitar tahun 1960-an, saat usianya masih belasan tahun, is sering sering berkunjung ke rumah itu. “seperti mengulang memori saya pada waktu itu Pohon sawo kecik, kantil, pohon jati di belakang rumah, semua mengingatkan kembali masa-masa itu,” kenangnya.

Di masa kecil itulah, Rinto mengaku, kerap mendengar sendiri tentang cerita Sukarno pernah tinggal di rumah itu. “Saya memang sering bolak-balik Kediri-Wates pada waktu itu. Ya waktu di sana sering diceritani sama Yu Was (panggilan Wasiati masih kerabat RM Soemosewojo, Red),” tuturnya.

Atas hal itulah, Rinto termasuk salah satu pihak yang menginisiasi agar rumah tersebut dijadikan sebuah situs sejarah. “Sayang jika generasi kita tak mengenal sejarahnya sendiri. Makanya beberapa lokasi, termasuk rumah itu harus dijadikan situs sejarah dan dipelihara dengan baik,” paparnya, (adi nugroho/bersambung/ndr). Diketik ulang dari : Jawa Pos Radar Kediri Sabtu, 06 Juni 2013.

Kisah Bayi Kusno yang Sekarat dan Denmas Mendung

Kisah Bayi Kusno

Awal mula keterkaitan Dusun krapak. Desa Pojok Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri dengan Sukarno tak bias lepas dari riwayat penyakit Sang Proklamator RI tersebut. Juga, dengan sosok yang dikenal sebagai Denmas Mendung.

Riwayat penyakit masa kecil Bung Karno sempat disinggung sekilas dalam buku “Penyambung Lidah Rakyat” karya Cindy Adams. Dalam buku yang berisi hasil wawancara wartawan Amerika yang pernah bertugas di Jakarta pada 1960-an itu, Bung Karno mengatakan:“Namaku ketika lahir adalah Kusno. Aku memulai hidup ini sebagai anak yang sakit-sakitan. Aku terkena malaria, disentri, semua penyakit dan setiap penyakit. Bapak berpikir, namanya tidak cocok. Kita harus memberikan nama lain supaya tidak sakit-sakitan lagi.”

Kisah tentang penyakit dan perubahan nama kecil Bung Karno itulah yang dibeber cukup banyak dalam buku karya Dian Sukarno ini. Kusno kecil mulai sakit-sakitan setelah ayahnya, Raden Soekeni, yang menjadi guru dimutasi oleh Pemerintah Hindia Belanda dari Surabaya ke Ploso, Jombang.

Saat itu, Kusno masih berusia enam bulan. Pindah ke daerah kering dan berkapur di deretan Pegunungan Kabuh, bayi Kusno menjadi sering sakit-sakitan. Bahkan, suatu ketika sampai pada masa kritisnya dan nyaris meninggal. Inilah yang membuat orang tuanya, Raden Soekeni dan Idayu Nyoman Rai Srimben, kebingungan

Di saat itulah Soekeni mendengar keberadaan seorang berkemampuan lebih yang sering dimintai tolong warga sekitar kala kesusahan. Termasuk, kala mendapatkan penyakit. Orang-orang menyebutnya dengan nama Denmas Mendung. Tinggalnya di Kedungpring, Kabuh. Berjarak sekitar empat kilometer dari tempat tinggal Soekeni.

Dalam keadaan kritis, bayi Kusno yang belum genap setahun digendong Soekeni untuk dilarikan ke rumah Denmas Mendung. Ditemani seorang tetangga, mereka menaiki dokar menembus jalanan hutan Kapur.

Sesampaiainya di sana, Soekeni menunggu di luar. Bayi Kusno di bawa masuk kepada Denmas Mendung oleh tetangganya. Orang ‘sakti’ yang asaI usulnya misterius bagi penduduk sekitar itu bersedia menolongnya. Namun, dia mempunyai syarat. Yakni, jika Tuhan berkehendak untuk menyembuhkannya, ia ingin mengambil bayi Kusno sebagai anak angkatnya. Selain itu, nama Kusno harus diganti karena nama tersebut terlalu berat bagi sang bayi.

Soekeni tidak keberatan. Hingga, singkat cerita, lewat tangan Denmas Mendung, Tuhan menyembuhkan bayi Kusno yang kala itu sudah tidak bisa apa-apa dan nyaris meninggal. Soekeni pulang dengan hati girang bukan kepalang. Dia tak henti-hentinya bersyukur kepada Tuhan. Kabar gembira itu pula yang langsung disampaikannya kepada sang istri, Idayu Nyonian Rai, setiba di rumah. Idayu pun menyambut penuh syukur. Tapi, dia sangat penasaran dengan sosok Denmas Mendung itu. (adi nugroho/ hid/bersambung).* Diketik ulang dari Jawa Pos Radar Kediri edisi Minggu 7 Juli 2013

Jejak Tapak Bung Karno di Kediri

Sabtu, 20 Juli 2013, sahabat Er Hartono berkirim email dalam dua kali kirim berisi masing-masing dua tulisan menarik seputar Bung Karno. Tulisan-tulisan itu dikutip dari Radar Kediri (Jawa Pos Grup), yang mengadakan bedah buku “Trilogi Spiritualitas Bung Karno”. Saya muat utuh kiriman email dari Er Hartono di blog ini, demi “syiar” dan berbagi informasi tentang Bung Karno dengan Anda sekalian. Berikut judul pertama, “Jejak Tapak Bung Karno di Kediri”.

Jejak tapak BK

Bicara ”Jejak Tapak Bung Karno di Jawa Timur”, senantiasa kita tertuju pada satu tempat, BLITAR. Tak salah memang. Karena Bung Karno dimakamkan di Blitar, rumah kediaman Kakak Kandung BK dan Orang Tua BK (nDalemGebang/ Istana Gebang) juga di Blitar.

Tak jauh dari Blitar, di sebuah dusun yaitu Krapak, Desa Pojok, Kecamatan Wates Kabupaten Kediri (30km utara Blitar) juga terdapat tempat yang sebenarnya sangat lekat dengan “perjalanan hidup BK”. Bukan sebuah Rumah Mewah apalagi Istana. Hanya sebuah rumah berdinding bambu gaya gebyog, yang masih sama seperti dulu kala BK sering berkunjung ke lokasi ini. Rumah Pojok Wates ini dulunya adalah milik Raden Mas Surati Soemosewoyo putra  RMP.Soemohadmodjo kerabat dekat Raden Soekeni Sosrodihardjo, ayahanda BK.

Tak banyak literatur yang menyebutkan RM Soemosewoyo jika kita mengaitkannya dengan kebesaran nama BK. Hanya jika membaca buku Kisah Cinta Inggit dan Bung Karno “Kuantar Ke Gerbang” yang ditulis oleh Ramadhan KH (1981), nama Soemosewoyo ada disana. Di halaman 29, disebutkan bahwa saat Bung Karno akad nikah dengan Inggit di Bandung, Soemosewojo yang manjadi wakil dari keluarga Pak Soekeni Sosrodihardjo. Juga di halaman 65, disebutkan, saat BK dan Bu Inggit berkunjung ke Blitar untuk sungkem pada kedua orang tuanya, Pak Soemosewo lah yang menjemputnya di stasiun kereta api Blitar. Selain Ramadhan KH, ada lagi Reni Nuryati dalam bukunya berjudul “Perempuan dalam hidup Sukarno biografi Inggit Garnasih” pada halaman 112  juga menyebut peran RM Soemosewojo.

Soemosewoyo, seorang spiritualis yang juga menjadi penasehat spiritualis BK sejak kecil, hingga BK menjadi Presiden.  Pasca Proklamasi 1945, dan saat Ibu Kota RI dipindahkan ke Jogyakarta, Bung Karno sempat beberapa kali berkunjung ke rumah Pojok Wates ini. Selain silaturahmi dengan kerabatnya juga untuk “nyekar” ke makam RM.S.Soemosewoyo, tak jauh dari rumah ini.

Menurut RM.Harjono, putra RM.Sayid Soemodihardjo (adik Soemosewoyo) yang kini mendiami rumah kuno ini, saat BK tinggal di Surabaya bersama kedua orang tuanya, hingga BK kuliah di THS (ITB Bandung), sering di kunjungi BK. Bahkan kamar khusus untuk BK pun masih dijaga dan dirawat dengan baik, meski apa adanya. Dan Harjono pun tak berniat untuk merenovasi atau mengubah bentuk rumah warisan itu menjadi bergaya apapun. ” Ini saksi bisu BK dalam perjalanan hidup dan perjuangan”, tandas Harjono. * Ganang Parto

Permadi dan “400 Satrio Piningit”

Permadi SHPermadi SH adalah sosok yang unik. Setidaknya, dilihat dari sisi “julukan”. Pada diri lelaki asal Semarang itu, setidaknya melekat tiga julukan. Ia bisa dijuluki sebagai aktivis, mengingat untuk sekian lama Permadi malang-melintang sebagai Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). Pemadi juga dikenal sebagai paranormal. Dari tahun 80-an, Permadi sudah bercokol sebagai salah satu tokoh paranormal nasional. Sekitar tahun 1985, dia dan kawan-kawan pernah memprakarsai “seminar tuyul” di Semarang.

Predikat ketiga adalah Permadi sebagai seorang politisi. Sejak bergabung dengan PDI Perjuangan, kiprahnya cukup mengesankan. Sebagai anggota dewan, dia cukup vokal. Karenanya, acap berbenturan dengan eksekutif, bahkan sesame anggota dewan, terlebih sesama kader PDIP. Dia bahkan mengaku pernah berkonflik dengan Megawati Soekarnoputri, sekalipun keduanya sangat dekat.

“Kurang dekat gimana… tengah malam dia sering menelepon saya, meminta datang ke rumahnya, lalu dia curhat sambil nangis,” ujar Permadi sambil tersenyum, “dan itu tidak hanya sekali,” tambahnya.

Belakangan, dia bahkan memutuskan keluar dari DPR RI, keluar pula dari PDI Perjuangan. Kini, dia malah bercokol sebagai salah satu anggota dewan Pembina DPP Partai Gerindra pimpinan Prabowo Subianto. “Saya masuk Gerindra karena diminta  oleh Prabowo. Meski banyak masukan saya tidak dipakai, saya ya bertahan. Kecuali Prabowo memecat saya dari Gerindra, baru saya keluar,” katanya.

Nah, itu sekilas tentang Permadi. Lebih dalam tentang ketiga julukan yang melekat pada dirinya, ternyata tersimpan banyak sekali cerita menarik. Bahkan sangat menarik. “Makanya saya ingin membukukan. Tapi saya inginnya menerbitkan sepuluh buku sekaligus, karena memang sangat banyak dan beragam temanya,” ujar Permadi pula.

Salah satu yang menarik adalah ketika berbicara tentang “satrio piningit”. Permadi mengaku, selama ini dia telah menerima sedikitnya 400 (empat ratus) orang tamu yang mengaku sebagai satrio piningit, titisan Bung Karno. “Setiap menerima mereka, saya selalu tes, apakah bisa ‘mendatangkan’ Bung Karno di hadapan saya. Ternyata banyak yang palsu, hanya mengaku-aku, kecuali satu. Ya, hanya ada satu yang benar-benar memuaskan saya,” kata Permadi.

Sang “satrio piningit” yang satu itu, ketika diminta ‘menghadirkan’ Bung Karno, lebih dari itu, bahkan bisa ‘menghadirkan’ Raja Brawijaya. “Saya berdialog dengan Brawijaya, juga Bung Karno. Saya puas. Karena saya rasa, yang ’hadir’ benar-benar Bung Karno. Dia bisa menjawab semua pertanyaan saya dengan sangat memuaskan. Berbeda dengan satrio piningit ‘gadungan’ lainnya, yang sangat mengecewakan,” ujar Permadi.

Apa saja yang ia dialogkan dengan “Bung Karno”? Permadi menjawab, “Banyak hal. Mulai dari soal ideologi sampai wanita, ha…ha…ha…,” katanya sambil tertawa. Bahkan dia juga mengonsultasikan ihwal julukan yang ia pakai, “penyambung lidah Bung Karno”. Atas predikat itu, Bung Karno pada prinsipnya merestui. (roso daras)

Tak Mudah Jadi Penyambung Lidah

Permadi dan Roso Daras

Sebuah kehormatan, manakala melihat layar HP muncul “incoming call” dari Permadi SH. Sosok nasionalis yang mendeklarasikan diri sebagai “Penyambung Lidah Bung Karno”. Sebagai wartawan, setidaknya dua kali saya bersinggungan dengan beliau. Pertama sekitar tahun 1995 di Semarang, dalam forum “Seminar Tuyul”. Ketika itu, Permadi dalam kapasitas sebagai parapsikologi atau paranormal. Kedua, di Bali, dalam forum simposium raja-raja Nusantara tahun 2000-an.

Dalam dua persinggungan itu pun, sama sekali tidak pernah bersoal-jawab tentang Bung Karno. Itu artinya, intensitasnya pun sebatas dia narasumber, dan saya reporter. Tidak lebih dari itu. Bahwa Permadi SH menyebut dirinya “Penyambung Lidah Bung Karno”, saya sudah lama tahu. Akan tetapi karena tidak pernah bersinggungan dalam konteks Putra Sang Fajar, maka sebenarnya, secara batiniah saya tidak memiliki hubungan emosional dengan Permadi SH.

Karenanya, ketika dia menelepon dan mengajak bertemu untuk bersoal-jawab tentang Bung Karno, rasanya sangat menyenangkan. “Akhirnya saya berkesempatan bertemu Permadi dan berbicara tentang Bung Karno,” begitu batin saya, senang.

Kesepakatan waktu pun ditentukan, hari Jumat, 5 Juli 2013 di kantornya, DPP Gerindra, tak jauh dari kebun binatang Ragunan, Jakarta Selatan. Ya, sejak keluar dari PDI Perjuangan, Permadi bergabung dengan Gerindra, dan menduduki kursi salah satu Dewan Pembina. Saya pun meluncur ke sana. Saya pun menyiapkan mental hanya untuk berbicara tentang Bung Karno. Terlebih saya bukan kader Gerindra, dan bukan kader parpol mana pun! “Saya kader ideologis Bung Karno… ha…ha…ha….,” canda saya dalam hati.

Singkat kalimat, Permadi membuka dialog itu dengan mengkritik buku “Total Bung Karno”. Yang dia kritik bukan substansi, melainkan format penyajian, yang menurutnya terlalu lompat-lompat. Saran dia, sebaiknya diurutkan sejak Bung Karno kecil hingga wafatnya. Saya sepenuhnya menerima kritik Permadi. Kalau toh ada yang harus saya klarifikasi hanya persoalan teknis. Bahwa buku Total Bung Karno bukan biografi, melainkan kumpulan tulisan-tulisan yang ada dalam blog ini. Itu artinya, sifat tulisan lebih menyerupai fragmen. Sajian tulisan-tulisan pendek yang bersifat selesai.

Pembicaraan pun bergulir bak bola liar. Jika saya simpulkan, pembicaraan pertama dengan Permadi (yang membahas tentang Bung Karno), dimulai dari sejarah Bung Karno, dilanjut hal-hal spiritual tentang Bung Karno, kemudian kegelisahan Permadi melihat nasib bangsa dilengkapi prediksinya tentang masa depan Indonesia, lantas ada juga bahasan tentang niat menerbitkan kumpulan tulisannya, dan lain-lain.

Sangat menarik. Karena banyak hal baru yang saya dapat dari Permadi SH.  Persoalannya, saya tidak atau belum permisi kepada beliau tentang boleh-tidaknya saya share di sini. Jika ada kesempatan berkomunikasi lagi, saya akan meminta izin beliau untuk berbagi cerita tentang Bung Karno, tentang istri-istri Bung Karno, tentang anak-anak Bung Karno, tentang Pak Harto, bu Tien dan putra-putrinya, tentang jenderal-jenderal Orba, hingga alam spiritual Bung Karno, Brawijaya, dan Gajah Mada dan kisah-kisah unik tentang betapa “tidak mudah menjadi penyambung lidah (Bung Karno)”. (roso daras)

 

Published in: on 5 Juli 2013 at 08:29  Comments (3)  
Tags: , ,