Spiritualitas Bung Karno

BK dan CastroSalah satu dimensi seorang Bung Karno, adalah dimensi spiritual. Ini tak bisa dipungkiri. Pada wilayah ini, fokus bahasan Sukarnois tak jauh dari hal-hal terkait kehidupan spiritualitas Bung Karno, baik semasa hidup, ataupun setelah wafat.

Kata spiritual itu sendiri, awalnya bermakna segala sesuatu yang berhubungan dengan atau bersifat kejiwaan (rohani, batin). Dalam perkembangannya, orang memakai kata spiritual untuk segala sesuatu yang berhubungan dengan olah batin, kemampuan seseorang dalam berinteraksi dengan hal-hal gaib.

Kehidupan seseorang dalam kaitan tata cara ibadah, menurut agama dan keyakinannya, sejatinya juga bagian dari laku spiritual. Begitu meluasnya arti spiritual, sampai-sampai penguasaan “ilmu” atau “kesaktian” seseorang, juga dikaitkan dengan spiritualisme.

Bung Karno sebagai manusia “linuwih”, tak luput dari sorotan sisi spiritualitasnya. Bagi pengkaji Islam, agama yang dianut Bung Karno, maka sudut pandang spiritualitasnya dikaitkan dengan langkah-langkah pembaruan Islam yang digiatkan Bung Karno. Dari sisi ini, misalnya, terbit buku “Surat-surat  Islam  dari Ende”. Atau buku Bung Karno dan Kehidupan Berpikir Dalam Islam (Solichin Salam: 1964).

Bayangkan, dalam periode pembuangan di Ende, antara 1934 – 1938, Bung Karno mengkaji Islam dengan sangat dalam. Dia memesan literatur Islam melalui A. Hassan, seorang ulama Islam terkenal dan tokoh organisasi Persatuan Islam (Persis) Bandung. Bung Karno pun berkorespondensi dan berdiskusi tentang Islam dengan Hassan. Surat-menyurat ini berlangsung sejak 1 Desember 1934 hingga 17 Oktober 1936. Saking mendalamnya pemahaman Bung Karno tentang Islam, saya pribadi tidak ragu berandai-andai, “Jika Bung Karno ditakdirkan sebagai ulama, niscaya akan lahir aliran atah mahzab Sukarno, atau mungkin Sukarnoiyah.

Nah, dari sisi paranormal, lebih gemar menyorot kemampuan spiritual Bung Karno, dikaitkan dengan fenomena-fenomena menakjubkan yang melekat pada dirinya, Di komunitas ini, topik yang tak habis dikupas misalnya seputar tongkat komando Bung Karno, cincin, hingga kopiahnya. Benda-benda yang melekat pada sosok Sukarno itu, dilihat dari sisi spiritualitas klenik. Dari sana misalnya, bergulir kisah pengawal Presiden AS, Eisenhower yang tidak kuat mengangkat tongkat komando Bung Karno, yang tertinggal di salah satu ruangan di Gedung Putih.

Dari sisi ini, bergulir pula kisah kopiah Bung Karno yang memancarkan aura wibawa laksana mahkota raja. Juga cerita seputar cincin Bung Karno yang memiliki kekuatan tertentu, salah satunya adalah kekuatan untuk “dicintai” (atau digilai?) wanita.

Bahkan, ada yang menyoal jimat tertentu yang  selalu dibawa Bung Karno. Dan jimat itu yang menyelamatkannya dari tujuh kali usaha pembunuhan oleh lawan-lawan politiknya,

Klarifikasi  Bung  Karno tentang kekuatan-kekuatan magis yang melekat pada dirinya, sesungguhnya cukup jelas. Soal luput dari pembunuhan, misalnya, dia menukas, “Kapan manusia mati, itu Tuhan yang menentukan. Jika saya tidak ditakdirkan mati ditembak,  maka saya tidak akan mati karenanya. Dan itu (usaha pembunuhan) tidak membuat saya takut.”

Saya pribadi acap ditanya seputar spiritualitas Bung Karno. Jujur, saya gamang bersikap. Mengapa? Pemahaman saya tentang Islam, sama sekali tidak layak untuk menilai keislaman Bung Karno. Sebaliknya, saya juga bukan peminat spiriitual dalam konteks klenik. Di atas segalanya, spiritualitas manusia, pada galibnya mutlak hanya manusia dan Tuhannya saja yang tahu. Atas dasar apa, kita (sebagai manusia) menilai (apalagi menyimpulkan) kadar spiritualitas manusia lain? (roso daras)

Published in: on 26 Agustus 2013 at 13:17  Comments (7)  
Tags: , , , ,