Naik Kereta Api ke Rangkasbitung

Sebagai sebuah sejarah, Sukarno pun bisa dibelah-belah. Belahan pertama adalah periode tahun 1920-an, ketika ia mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI). Sebagai pendiri dan pemimpin PNI, Sukarno berhasil memberikan arah baru nasionalisme Indonesia. Belahan kedua adalah periode 1940-an, di era pendudukan Jepang. Pada era ini, Sukarno menjadi pemimpin terbesar dalam perjuangan nasional Indonesia.

Penggalan ketiga adalah era 1956 – 1959, saat ia melahirkan demokrasi terpimpin ala Sukarno. Nah, sekelumit sejarah berikut ini adalah penggalan peristiwa tahun 1957, periode unjuk pengaruh bagi bangsa yang terus dirundung konflik internal. Konflik politik yang melelahkan.

Turun dari KA di Rangkasbitung 1957

Awal tahun 1957, Bung Karno berkunjung ke belahan Banten yang lain. Ia mengunjungi Rangkasbitung dan Serang. Perjalanan ke Rangkasbitung, ibukota Kabupaten Lebak sekarang, dilakukan menggunakan kereta api uap, menempuh jarak 83 kilometer melewati jalur Serpong dan Parungpanjang.

BK di Stasiun Rangkasbitung 1957

Kota ini, tidak kalah pamor dibanding kota-kota di sekitar Jakarta seperti Buitenzorg (Bogor) di selatan Jakarta, maupun Rengasdengklok dan Karawang-Bekasi di timur Jakarta. Nama besar penulis Multatuli atau Max Havelaar memberi kontribusi berarti bagi Rangkasbitung. Benar, Multatuli pernah tinggal di kota ini.

Begitu tiba di stasiun, massa menyambutnya dengan gegap gempita. Lautan massa juga tumpah ruah di alun-alun kota Rangkasbitung. Di sini pula, Bung Karno melancarkan orasinya. Di tengah suhu politik yang bergelombang, Bung Karno terus dan terus menyuarakan pesan persatuan.

BK dan lautan massa

Kabinet boleh jatuh bangun, tetapi rakyat Indonesia tetap kokoh berdiri di belakang Bung Karno. Kabinet Wilopo hanya bertahan setahun (1952-1953), disusul Kabinet Ali Sastroamidjojo I (1953-1955), kemudian Kabinet Burhanuddin Harahap (1955-1966), menyusul kemudian Kabinet Ali Sastroamidjojo II (1956-1957), dipungkasi dengan Kabinet Djuanda (1957-1959). Setelah itu, barulah era Demokrasi Terpimpin yang didahului dengan Dekrit Presiden 5 Juli 1959.

Angklung dan Debus

Setelah perjalanan yang melelahkan, Bung Karno cukup puas dengan sajian budaya tradisi kita: Seni angklung Badui dan atraksi debus yang mendebarkan…. (roso daras)

Iklan
Published in: on 31 Juli 2009 at 03:55  Comments (11)  
Tags: , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://rosodaras.wordpress.com/2009/07/31/naik-kereta-api-ke-rangkasbitung/trackback/

RSS feed for comments on this post.

11 KomentarTinggalkan komentar

  1. barang kali semua barang2 BK di simpan atau di amankan oleh nyi roro kidul sebelum di rampas, sebab setelah saya berguru di Banten hampir semua guru kamar khususnya selalu ada fhoto Bung Karno, mereka bilang BK bukan orang sembarangan, BK berilmu Dewa tapi suka menyamar jadi gembel & BK telah menaruh sesuatu di RangkasBetung sekarang belum waktunya di ambil, kata mereka mereka

  2. Sulit sekali sekarang ini menemukan para pejabat tinggi negara yang mau turba seperti bung karno tanpa harus membawa embel-embel ke-pejabat-annya, bahkan tanpa perlu pengawalan khusus. VIDEO BEJAD DISINI

    • ya bung elexyoben harus di mengerti juga donk, keadaan dulu dengan sekarang, kalo dulu sih masih aman-aman saja pejabat setingkat presiden sekalipun berlenggang kemanapun tanpa pengawal, tapi sekarang,,?? harus hati-hatilah..

  3. lom waktunya pasti klu dah waktunya pasti ke ambil ko
    eamng dia berilmu tinggi katanya sih dia punya 7 wujud manusia end punya 7 nyawa juga
    gi manah ga hebat tuh
    tapi w salut bet ma dia

  4. Beliau hanya manusia biasa seperti kita.. yang pernah jatuh cinta pada pandangan pertama di halaman rumah seorang janda muda bernama Inggit Ginarsih di sebuah kota yg dikenal sebagai Paris Von Java, beliau pernah menangis dn merasa ketakutan ketika rambutnya digunduli dalam penjara intelek di sukamiskin, dan beliau pernah bahagia ketika memiliki putra pertama dr seorang wanita seberang pulau.. tetap dia hanyalah manusia biasa seperti kita.. hanya kita tidak menyadari bahwa dengan keadaan saat ini kita bisa melebihi dari apa yang telah dia lakukan untuk bangsa dan negara ini..

  5. hatur nuhun roso daras…
    saya dari rangkasbitung,anak seorang supir kreta yang kebetulan kretanya yang di naikin bung karno ke poto ama bung karno-nya…
    saya bangga jadi anak rangkasbitung.

    knapa dulu aja penjajah kalah ama kita,sekarang harusnya lebih hebat lagi…

  6. hatur nuhun pisan….dah bwt saya smakin PD toek bilang lw sya nak rangkasbitung yang slalu dipanggil bwt atraksi debusnya….HIDUP BADUY….HIDUP PUTRA-PUTRI RANGKASBITUNG…

  7. makasih kang , perjalanan sejarah

  8. saya orang rangkasbitung, tinggal di komdik dekat SMP N 2 Rangkasbitung… sya prnah melihat Bung Karno..

  9. saatnya yang muda maju donk, jangan pernah menyia-nyiakan para pejuang kita, saatnya kita yang muda berdiri di depan untuk memajukan bangsa indonesia ini… masa depan negara ini ada di generasi muda…
    dan generasi muda jangan banyak mabok, dan pergaulan sex bebas yg ujung-ujungnya hamil…
    mampusin yg namanya korupsi, & penegak hukum tapi tak menjalankan aturan hukum..

  10. Postingan yg bermutu Gan!
    Semoga negara punya arah untuk membenahi sistem transportasi publik kita, dan tak terus-terusan menyerahkan hajat hidup orang banyak ke otoritas swasta.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: