Jika Orator Menjadi Guru

Bung Karno

Bung Karno lepas dari jenjang perguruan tinggi tahun 1926. Saat itu, ia berhak menyandang titel insinyur. Biro arsitek pertama yang ia dirikan bersama Ir. Anwari, terbilang tidak langgeng. Kurang lebih sama nasibnya dengan biro arsitek kedua di kemudian hari, yang ia dirikan bersama Ir. Rooseno.

Sekalipun begitu, demi menafkahi keluarga, ia mengerjakan beberapa pekerjaan untuk kabupaten-kabupaten serta bangunan rumah-rumah pejabat pemerintah. Bukan hanya itu, Sukarno bahkan ditawari jabatan menarik di Departemen Pekerjaan Umum pemerintah Hindia Belanda.

Saat datang tawaran itulah ia tersentak sadar, bahwa ia tak bisa terus menekuni pekerjaan tadi, karena pada dasarnya ia hidup untuk sebuah prinsip non-koperasi. Persis seperti alasan yang ia ungkapkan kepada profesornya di THS, sesaat setelah lulus, yang menyarankannya agar bekerja membantu pemerintah Hindia Belanda.

Saat itu Sukarno muda menukas, “Profesor, saya menolak bekerja sama, supaya saya tetap bebas dalam berpikir dan bertindak. Kalau saya bekerja pada pemerintah, secara diam-diam saya membantu politik penindasan dari rezim mereka yang otokratis dan monopolistis itu. Pemuda sekarang harus merombak kebiasaan menjadi pegawai kolonial segera setelah memperoleh gelarnya. Kalau tidak begitu, kami tidak akan merdeka selama-lamanya.”

Faktanya, Sukarno sendiri akhirnya kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya. Kiriman orang tuanya praktis sudah dihentikan, segera setelah ia lulus kuliah. Tiba pada suatu saat, ia mendengar adanya lowongan mengajar di sekolah Yayasan Ksatrian yang diselenggarakan oleh pemimpin kebangsaan Dr. Setiabudi alias Douwes Deker di kota Bandung. Mereka mencari guru untuk dua mata pelajaran, Sejarah dan Ilmu Pasti.

“Huh…,” gerutu Bung Karno. “Dua mata pelajaran yang paling tidak aku kuasai,” gumamnya dalam hati. Akan tetapi, manakala perwakilan sekolah bertanya, “Insinyur Sukarno, tuan adalah insinyur berijazah, jadi tentu tuan ahli dalam ilmu pasti. Bukankah begitu?” Spontan Bung Karno menjawab “pe-de”, “Ohh… ya tuan! Ya… betul, aku menguasainya.”

Termasuk saat ditanya, “Baiklah. Tuan dapat mengajar ilmu pasti?”, Bung Karno menyambar, “Mengapa tidak! Saya menguasai betul ilmu pasti. Ini mata pelajaran yan saya senangi,” katanya benar-benar mantap dalam berbohong. Apa hendak dikata, saat itu ia dan Inggit benar-benar dalam keadaan kering kerontang. Apa yang dapat mereka suguhkan jika tamu datang hanyalah secangkir teh tanpa gula. Dalam keadaan begitu, haruskah ia mengaku bahwa sesungguhnya ia tidak dapat mengajar ilmu pasti dan sejarah?

Ringkas kalimat, Bung Karno diterima mengajar. Mata pelajaran sejarah, yang semula ia bayangkan mudah, ternyata begitu susah. Kelas yang dihadapi Bung Karno berisi 30 murid, satu di antaranya adalah Anwar Cokroaminoto, putra H.O.S. Cokroaminoto, gurunya di Surabaya dulu.

Tanpa satu orang guru pun yang memberi tahu ihwal metode mengajar, Bung Karno memainkan perannya sebagai guru dengan penuh improvisasi. Mulailah ia mengajar sejarah dengan gayanya sendiri. Gaya seorang pembicara. Gaya orator!

Sebagai guru sejarah, Sukarno tak hirau soal tanggal dan tahun. Sebagai guru sejarah, Sukarno tidak mau memusingkan kepala murid-muridnya dengan persoalan tahun berapa Columbus menemukan Amerika, atau tahun berapa Napoleon gagal di Waterloo. Pendek kata, cara mengajar sejarah Bung Karno benar-benar beda dari yang ada.

Ia, laksana sang aktor berakting di panggung tonil. Ia lantangkan hakikat kebenaran. Ia gemakan mengapa terjadi ini, dan mengapa pula terjadi itu. Manakala ia berkisah sejarah Sun Yat Sen, “Pak Guru” Sukarno benar-benar berteriak menggelegar, sesekali tangannya diayun dan digebrakkannya di atas meja. Murid mana tidak terbelalak mendapatkan seorang guru seperti itu?

Sementara, sudah menjadi aturan Departemen Pengajaran Hindia Belanda, untuk mengirim para penilik sekolah pada waktu-waktu tertentu. Hingga tiba saatnya, sekolah Yayasan Ksatrian dikunjungi penilik sekolah. Dalam satu kesempatan, sang penilik itu masuk ke kelas Sukarno. Ia duduk di bangku paling belakang, mengamati, mencermati, dan mengevaluasi cara Sukarno mengajar.

Kebetulan, hari itu Sukarno membawakan materi “Imperialisme”. Sebuah pokok soal yang begitu dikuasainya. Dan begitulah tabiat Sukarno jika sudah berbicara, ia akan berbicara tanpa hirau dampak dan akibat. Ia terus dan terus mencerca sistem imperialisme dengan sangat bersemangat, sambil melompat, sesekali menggebrak, dan tak jarang berteriak.

Atas “cara mengajar” yang unik itu, sang penilik sekolah berkebangsaan Belanda itu terperangah. Ia menjadi lebih tak bisa berkata-kata demi mendengar materi yang diajarkannya. Bisakah Anda bayangkan, seorang guru pribumi, di hadapan penilik sekolah berkebangsaan Belanda, berteriak-teriak tentang imperialisme, dan ditutup dengan kalimat, “Negeri Belanda adalah Kolonialis yang terkutuk!”

Geram menahan amarah, sang penilik harus menguasai diri hingga Sukarno selesai memberi pelajaran. Syahdan, ketika selesai mengajar, sang penilik sekolah pun mengayun langkah, dengan wajah merah, menghampiri “pak guru” dan berkata marah, “Raden Sukarno, tuan bukan guru… tuan seorang pembicara!”

Dan, begitulah akhir daripada karier Bung Karno yang singkat sebagai guru…. (roso daras)

Published in: on 31 Agustus 2009 at 22:41  Comments (11)  
Tags: , , ,

Melongok Kamar Tidur Bung Karno

Bung Karno dan Oei Tjoe Tat

Kamar tidur adalah ruang yang paling pribadi. Seperti apakah kamar tidur Paduka Yang Mulia, Pemimpin Besar Revolusi, Presiden Ir. Sukarno? Mestinya, sebagai ruang pribadi, yang tahu hanya Sukarno, istri, dan anak-anaknya. Akan tetapi tahukah Anda, bahwa sejak tahun 1953, Sukarno praktis tak lagi didampingi Fatmawati?

Ibu Negara yang dinikahi saat berusia 19 tahun itu, memilih keluar dari Istana dan tinggal di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, demi mengetahui dirinya dimadu. Ya, demi mengetahui Sukarno menikahi Hartini, si cantik pembuat sayur lodeh paling enak menurut lidah Bung Karno. Hartini –setelah dinikahi– kemudian tinggal di sebuah paviliun kecil di lingkungan Istana Bogor.

Praktis, sejak tahun 1953, Bung Karno tidak ditemani seorang wanita pun di Istana Negara Jakarta. Itu artinya, ia melewati malam-malam di Istana Negara dalam kesendirian. Dalam imaji yang lain, kita bisa membayangkan sebuah kamar “bujangan”.

Terbiasa hidup sendiri selama di Jakarta, membuat lambat laun, kamar tidurnya tidak lagi “sakral”. Tak jarang ia mengundang dan mengajak menteri tertentu, atau orang dekat tertentu berbicara empat mata di kamar. Bahkan, sesekali ia menyuruh ajudan mengajak tamunya masuk kamar untuk sekadar diajarkan bagaimana memakai dasi dubbel knoop (lipatan ganda).

Nah, salah seorang menteri, pembantu presiden, yang pernah merasakan dipanggil dan diajak berbicara persoalan penting dan rahasia berdua di kamar Bung Karno adalah Oei Tjoe Tat. Jabatannya adalah Menteri Negara Diperbantukan Presidium Kabinet Kerja antara tahun 1963-1966.  Ruang lingkup pekerjaan Oei Tjoe Tat yang tokoh Partindo ini cukup luas, karena harus berkoordinasi dengan tiga Wakil Perdana Menteri sekaligus: Soebandrio, J. Leimena, dan Chaerul Saleh.

Kembali ke topik kamar tidur Sukarno. Adalah Oei Tjoe Tat, satu dari sedikit manusia beruntung yang pernah melihat dengan mata kepala sendiri, rupa kamar tidur presidennya. Dia sendiri merasa sangat surprise diperlakukan begitu akrab oleh Sukarno. Di sisi lain, ia tidak melupakan jasa Menko Keuangan, Soemarno SH yang telah memberinya tips menghadapi Bung Karno.

Beberapa tips yang ia terima dari seniornya di kabinet itu antara lain, minimal sekali dalam seminggu harus setor muka, alias datang dan ikut agenda coffie uurtje (acara minum kopi pagi) yang rutin diadakan Presiden di serambi belakang Istana. Sekalipun begitu, tidak boleh terlalu sering menampakkan muka. Tips menghadapi Bung Karno lainnya adalah, jangan menyampaikan laporan sepenting apa pun, manakala Bung Karno tampak letih atau berwajah murung. Tips terakhir, jangan melaporkan keburukan menteri lain.

Dengan berbekal aneka tips tadi, singkat tutur, Oei Tjoe Tat terbilang sukses menjadi orang dekat Bung Karno. Karenanya, ia hafal betul kebiasaan-kebiasaan Bung Karno saat koffie uurtje, yang hanya mengenakan pantalon tua dan kaos oblong serta bersandal kulit. Pada saat itulah, sejumlah menteri hadir, ada kalanya juga dihadiri sejumlah duta besar negara sahabat, bahkan tak jarang menerima rakyat jelata dari sudut nun jauh Tanah Air yang rela menempuh jarak ribuan mil, menempuh waktu puluhan hari, untuk sekadar menjumpai presidennya.

Ada kalanya, di acara informal seperti itu, Bung Karno membuat keputusan-keputusan penting. Ada kalanya pula, hanya berbincang intim diseling kelakar segar. Dan, untuk persoalan yang lebih serius dan bersifat rahasia, tak jarang Bung Karno mengajak masuk pejabat bersangkutan ke kamar tidurnya, dan melanjutkan pembicaraan di sana.

Oei Tjoe Tat beberapa kali diajak masuk kamar tidur Bung Karno, dan dalam kesempatan itu pula ia tidak hanya melongok, tetapi dapat memelototi seisi kamar orang nomor satu di Republik Indonesia. Di dalam kamar, hanya ada dia dan Bung Karno. Dia duduk di ranjang Presiden sambil menyampaikan laporan penting dan rahasia, sementara Bung Karno mendengarkan. Ada kalanya, ia mendengar laporan Tjoe Tat sambil mencukur jenggot, jambang, dan kumis yang bertunas, di depan kaca.

Dalam suasana seperti itu, kepada menteri yang keturunan Tionghoa kelahiran Solo itu, Bung Karno akan mengubah bahasa percakapan menjadi bahasa Jawa ngoko bercampur Belanda. Bung Karno pun memanggil namanya dengan panggilan “Tjoe Tat” saja.

Kesan pertama saat masuk kamar tidur Bung Karno, terwakili hanya dengan satu kata: Berantakan!

Menurut Tjoe Tat, separuh dari ranjang Presiden, berisi buku-buku yang berserak tak beraturan. Bukan hanya itu, bahkan di lantai pun ia melihat buku-buku berserakan. Pada cantelan baju di dinding, tergantung jas-jas dan pantalon-pantalon sangat tidak beraturan.

“Tidak rapi, dan tidak terawat,” suara batin Tjoe Tat mengomentari kamar Bung Karno. (roso daras)

Published in: on 30 Agustus 2009 at 18:10  Comments (7)  
Tags: , ,

Sukarno Berunding, Sudirman Masuk Hutan

Bung Karno versus BelandaPagi buta, jarum jam baru menunjuk pukul 03.30, ketika Jenderal Besar Sudirman berjalan tergesa memasuki halaman Istana Yogya. Hari itu, 19 Desember 1948.  Sebagai panglima tentara, Sudirman harus bergegas menjumpai presidennya, terkait informasi yang ia terima, bahwa tentara angkara Belanda, akan membombardir kota Yogya beberapa jam lagi.

Presiden pun dibangunkan… dengan bergegas pula ia keluar menjumpai Sudirman. Tak lama berselang, Sudirman sudah melaporkan informasi gawat tadi kepada Bung Karno.  “Saya minta dengan sangat agar Bung Karno turut menyingkir. Rencana saya hendak meninggalkan kota ini dan masuk hutan. Ikutlah Bung Karno bersama dengan saya,” ujar Sudirman yang waktu itu masih berusia tiga puluhan tahun.

Dengan emosi terkendali, Bung Karno menjawab, “Dirman, engkau seorang prajurit. Tempatmu di medan pertempuran dengan anak buahmu. Dan tempatmu bukanlah tempat pelarian bagi saya. Saya harus tinggal di sini, dan mungkin bisa berunding untuk kita, dan memimpin rakyat kita semua.”

Kurang puas dengan jawaban Bung Karno, atau karena rasa cemas akan keselamatan presidennya, Sudirman menimpali, “Kemungkinan Belanda mempertaruhkan kepala Bung Karno. Jika Bung Karno tetap tinggal di sini, boleh jadi Bung dibunuh.”

“Dan kalau saya keluar dari sini, Belanda mungkin menembak saya. Dalam kedua kemungkinan saya menghadapi kematian, janganlan engkau khawatir. Saya tidak takut,” jawab Bung Karno menenangkan Sudirman.

Akhirnya, dengan mengepalkan tinjunya, Sudirman bergumam, “Kami akan peringatkan kepada Belanda, kalau Belanda menyakiti Sukarno maka bagi mereka tidak ada ampun lagi. Belanda akan mengalami pembunuhan besar-besaran.”

Tak lama berselang, Sudirman berdiri hendak melangkah keluar. Dengan cemas ia menatap angkasa, memasang telinga, bilamana pesawat pengebom laknat segera tiba. Sudirman belum melihat tanda-tanda itu, karenanya ia masih sempat bertanya, “Apakah ada instruksi terakhir sebelum saya berangkat?”

Sudirman di hutanBung Karno menatap tajam Sudirman, sebagai pemimpin besar revolusi, ia berkata, “Ya. Jangan adakan pertempuran di jalanan dalam kota. Kita tidak mungkin menang. Pindahkan tentaramu keluar kota Dirman, dan… berjuanglah sampai mati. Saya perintahkan kepadamu untuk menyebar tentara ke desa-desa. Isi seluruh desa dan bukit. Tempatkan anak buahmu di setiap semak belukar. Ini adalah perang gerilya semesta….”

Sesaat Bung Karno menarik nafas panjang, dan melanjutkan, “Sekalipun kita harus kembali pada cara amputasi tanpa obat bius, dan mempergunakan daun pisang sebagai perban namun jangan biarkan dunia berkata bahwa kemerdekaan kita dihadiahkan dari dalam tas seorang diplomat. Perlihatkan kepada dunia bahwa kita mebeli kemerdekaan itu dengan mahal, dengan darah, keringat, dan tekad yang tak kunjung padam.”

Seperti ada rasa cemas bahwa itu adalah pertemuan terakhir, Bung Karno masih mengalirkan pesan dan perintahnya kepada Sudirman di beranda Istana, di pagi yang buta itu. “Dan… jangan keluar dari desa dan bukit hingga Presidenmu meerintahkannya. Ingatlah, sekalipun para pemimpin tertangkap, orang yang di bawahnya harus menggantikannya, baik ia militer maupun sipil. Dan Indonesia TIDAK AKAN MENYERAH.”

Persis dua jam kemudian atau tepatnya pukul 05.30, langit pagi kota Yogya, tertutup pesawat-pesawat pengebom Belanda. Mereka menghujankan bom tak kurang dari satu jam penuh lamanya. Sesekali, Belanda durjana juga menembakkan roket dari pesawat-pesawat tempur P-51. Sementara, pesawat splitfire buatan Amerika terbang rendah menghujankan pelurunya ke jalanan secara merata.

Sukarno tetap diam di Istana. Ia memeluk Guntur yang menggigil ketakutan. Sudirman dan pasukannya, sudah mengarah ke hutan, siap melancarkan perang gerilya semesta. (roso daras)

Published in: on 29 Agustus 2009 at 23:35  Comments (9)  
Tags: , , ,

Melepas Alas, Menjejak Bumi

sukarno pakai sepatuSering orang-orang tua kita menyebut bumi sebagai ibu, dan angkasa sebagai bapak. Dalam adegan perang tanding antara ksatria Pandawa dan durjana Astina, filosofi bumi dan angkasa acap dipakai sang dalang. Seperti saat si durjana terdesak dan jatuh terjerembab… maka sebelum ksatria memenggal kepalanya, si durjana diberinya kesempatan untuk meratap kepada bumi sang ibu, angkasa sang bapak.

Kita juga mengenal istilah Ibu Pertiwi sebagai pengejawantahan tanah air tercinta. Kita sering pula mendengar istilah “dari bumi kembali ke bumi, dari debu kembali ke debu” mengiringi peristiwa kematian umat manusia. Bisa jadi, karena manusia dicipta dari tanah, sedangkan ruhnya ditiupkan dari angkasa. Menyebut angkasa sebagai representasi kekuasaan mutlak Tuhan Yang Maha Besar.

Bung Karno, juga memaknai bumi dengan begitu agung. Ia memperlakukan bumi dengan begitu mulia. Sepanjang hidupnya, ia memiliki kebiasaan yang menunjukkan betapa ia mengakrabi bumi. Dari kedua tangannyalah banyak pohon ditanam, dan disiram. Saat-saat seperti itu, ia tengah mempercantik bumi. Di banyak kesempatan ia melepas alas menjejak bumi. Saat itulah ia merasakan energi bumi masuk dari pori kaki menjalari sekujur tubuh dan hati.

Kebiasaan tadi, direkam oleh orang-orang dekatnya. Mereka yang hidup, tinggal, dan bekerja di lingkungan Istana, sangat sering melihat Bung Karno melepas sandal kulit kesayangannya, dan menempelkan telapak kakinya di atas lantai. Sejurus kemudian, ia berjalan hilir-mudik di sekitar Istana Mereka, masih dengan kaki yang telanjang.

Kepada salah seorang ajudannya, Bambang Widjanarko, ia pernah menyinggung ihwal kegemarannya menjejakkan kaki ke bumi. “Bambang…,” ujar Bung Karno, “terserah orang lain mempunyai pendapat yang bagaimana, aku sendiri mempunyai keyakinan bahwa antara manusia dan bumi ini berhubungan erat. Itu sebabnya mengapa aku sering meletakkan kakiku yang telanjang ini di atas tanah, atau berjalan tanpa alas kaki apa pun. Maksudnya adalah, agar terjadi kontak langsung dengan bumi tanpa penghalang sandal atau sepatu.”

Bung Karno melanjutkan “wejangan”-nya tentang bumi. Bahwa bumi yang merupakan bagian dari alam semesta inilah yang memberikan hidup kepada kita semua, atas kemurahan Tuhan Yang Maha Esa. Hendaknya kita selalu mendekatkan diri kepada bumi atau alam dan jangan terus-menerus mengasingkan diri kita darinya.

Nah, kapan terakhir kali Anda menjejak bumi tanpa alas kaki? (roso daras)

Published in: on 27 Agustus 2009 at 22:08  Comments (6)  
Tags: , , ,

Menatap “Bung Karno Berdasi Merah”

Soekarno Berdasi Merah

Lupa tanggal dan bulan, samar pula tahunnya. Nantilah saya cek. Tapi sebagai cantelan peristiwa, baiklah saya sebut saja sekitar tahun 2006, ketika tokoh GMNI, H. Amin Aryoso mengajak saya menuju kediaman Jusuf Ronodipuro, di Jl. Talang Betutu, Menteng, Jakarta Pusat. Konteksnya adalah menggali sejarah langsung dari sumbernya. Kebetulan, tokoh ini, dikenal sebagai pembaca teks proklamasi melalui pemancar RRI pada tanggal 17 Agustus 1945.

Hasil bincang-bincang siang sampai sore hari itu, sempat pula saya tulis untuk tabloid Cita-Cita, sebuah tabloid yang mengusung tema nasionalisme dan non partisan. Sayang, hingga naskah ini publish, saya belum menemukan pula dokumentasi digital tabloid tersebut. Berhubung tulisan ini dimaksudkan bukan untuk menyorot peran Jusuf Ronodipuro pada awal-awal kemerdekaan Indonesia, maka saya lewatkan saja pencarian itu. “Sesuatu, manakala dicari sering menghilang, begitu sudah tidak dicari, muncul,” gumam saya.

Ini adalah fase pasca bincang-bincang. Dikatakan bincang-bincang memang karena forumnya benar-benar tidak formal. Dengan Amin Aryoso, dia lebih banyak bernostalgia. Dengan saya, dia banyak menuturkan kisah sejarah. Alhasil, obrolan gado-gado hari itu buat saya cukup berkesan.

Tibalah Jusuf Ronodipuro, dengan sedikit susah payah bangun dari duduk, dan berjalan pelan sekali menyusur ruang tamu hingga ruang tengah yang berbentuk “L”. Nah, pada salah satu dinding itulah, terpajang lukisan Basuki Abdullah ini. Lukisan dengan objek Bung Karno berdasi merah. Itu adalah salah satu koleksi lukisan paling disayang oleh Ronodipuro. Berdiri di bawah lukisan tadi, ia bisa menatapnya lama hingga tak terasa air mata menggenang di kedua pelupuk matanya yang tua.

Lukisan yang memiliki kekentalan daya magis bagi yang merasakan. Setidaknya, Jusuf Ronodipuro merasakan getar-getar itu. Manakala ia berkisah tentang sosok Bung Karno dalam bingkai lukisan dengan penuh penjiwaan, saat itu saya sendiri masih bergulat dengan mata batin saya, yang tak kunjung bisa menangkap getaran yang dirasakan si empunya lukisan. Hingga selesai sesi menikmati lukisan tadi, hanya kesan datar yang berhasil kutangkap, “Istimewa, seperti halnya karya Basuki Abdullah yang lain.”

Saat rehat, topik sudah tidak lagi sekental jam-jam sebelumnya, saya mohon izin untuk kembali menatap lukisan ini. Saya melangkah pelan ke bawah lukisan ini, membiarkan Jusuf Ronodipuro dan Amin Aryoso melanjutkan obrolan cair yang tentunya menyehatkan jiwa keduanya.

Saya berkonsentrasi sejenak. Lebih dua menit saya memusatkan pikiran, sambil membenamkan sorot mata dan konsentrasi ke objek di depan saya. Dari mana saya hendak berkomunikasi dengan “Bung Karno” di atas kanvas, di depan saya? Saya awali dengan menatap sorot matanya. Kemudian saya biarkan mata ini berjalan tanpa kendali pikir. Dan ternyata, ia bergeser ke kiri, ke arah kepalan tangan.

Ada desir rasa yang entah bagaimana saya harus mengungkapkan. Sebab, kalau dibahasakan, yang keluar hanyalah sekadar kata “heroik”, padahal yang ada di dalam dada adalah heroisme yang bergelombang, mengikuti guratan dan sapuan kuas Basuki Abdullah. Dasi warna merah yang terjurai, menusukkan satu lagi getar yang dalam. Bayang-bayang wajah serta gurat latar, melengkapi seluruh makna yang terangkum dalam otak dan dada. Dia adalah selimut sejarah.

Syahdan… kini, lukisan itu sudah lepas dari dinding. Hilang tahun 2008, setelah Jusuf Ronodipuro wafat. Yang “mencuri”, bukanlah “pencuri”, mengingat dia adalah putra almarhum Jusuf Ronodipuro sendiri. (roso daras)

Published in: on 26 Agustus 2009 at 08:17  Comments (2)  
Tags: , , ,

Penyelamatan Sang Saka Merah Putih

kibarkan merah putih 17 agustus 1945

Adalah tangan Fatmawati sendiri yang menjahit dua kain menjadi dwiwarna: Merah Putih. Subuh tanggal 17 Agustus 1945, dalam keletihan yang teramat sangat, Bung Karno pulang dalam keadaan menggigil. Malarianya kumat. Terlebih dua hari dua malam ia tidak tidur. Hanya air soda dan air soda yang diminum untuk menyegarkan mata.

Fatmawati yang menyambutnya dengan cemas, melihat betapa Bung Karno teramat pucat. Tanpa banyak kata, Bung Karno bukannya merebahkan badan, melainkan berjalan menuju meja tulis. Diambilnya kertas dan pena, lalu ia menulis berlusin-lusin surat. Seperti dituturkan kepada Cindy Adams, Sukarno mengisahkan bahwa Fatmawati cukup mengerti gejolak hati Sukarno, sehingga membiarkannya tetap bekerja. Tubuhnya menggigil diserang malaria, tetapi jiwanya jauh lebih bergejolak menyongsong Indonesia merdeka sebentar lagi.

Fatmawati sendiri bukannya bugar. Ia mengikuti benar hari-hari, jam-jam menjelang proklamasi. Dan itu sungguh melelahkan. Termasuk, ia harus menyiapkan bendera merah putih untuk keperluan upacara kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Bendera jahitan tangan Fatmawati itu pulalah yang dikibarkan pada momentum proklamasi. Bendera itu pula yang kemudian menjadi pusaka negara: Sang Saka Merah Putih.

Nilainya begitu sakral. Sejak dikibarkan di Pegangsaan Timur 56, bendera itu pantang diturunkan. Pasukan Berani Mati yang dibentuk sehari setelah proklamasi, berjaga 24 jam, siap menghadang tentara Jepang jika mereka datang hendak menurunkannya. Tonggak kemerdekaan sudah ditancapkan, sang merah putih sudah berkibar, nyawa-nyawa jiwa merdeka siap menjaganya agar tetap berkibar dan terus di angkasa Indonesia.

bung-karnoSatu hari, dua hari, satu pekan, dua pekan… Sang Merah Putih tetap berkibar. Sementara itu, pasukan Sekutu dikabarkan mulai mendarat di sejumlah pantai dan kota-kota Indonesia. Detik-detik perang mempertahankan kemerdekaan, sudah di depan mata. Sukarno sudah menghitung situasi itu. Surat-surat yang ditulisnya di subuh 17 Agustus 1945, antara lain berisi instruksi kepada para pemimpin pergerakan.

Kepada yang satu, diperintahkan untuk menghimpun kekuatan untuk kepentingan pertahanan. Kepada yang lain, Sukarno memerintahkan agar mengambil alih pemerintahan mulai dari tingkatan desa. Dan surat lain berbunyi, “Besok Saudara akan mendengar melalui radio, bahwa kita sekarang telah menjadi rakyat yang merdeka. Begitu Saudara mendengar berita itu, bentuklah segera komite kemerdekaan daerah di setiap kota dalam daerah Saudara.”

Waktu melintas tahun, ketika Sekutu benar-benar mendarat dan menumpas Indonesia merdeka. Ia menangkap, menahan, bahkan membunuh para pejuang kita. Sukarno dan keluarga yang tak lagi aman di Jakarta, hijrah ke Yogyakarta. Dengan demikian pindah pula pemerintahan pusat dari Jakarta ke Yogyakarta. Bagaimana nasib bendera pusaka yang dikibarkan pada tanggal 17 Agustus 1945?

Sejarah selalu mencatat peristiwa-peristiwa bersejarah. Sang bendera pusaka, adalah sejarah yang mutlak harus dicatat. Dalam situasi negara chaos, menghadapi pertempuran melawan Sekutu di satu sisi, serta menghadapi perundingan di sisi yang lain, ternyata ada sekuel yang menarik tekait bendera pusaka kita.

Adalah intelijen Sekutu yang tercium tengah mengendus-endus keberadaan bendera pusaka. Barangkali, upaya mereka menenggelamkan bahtera Indonesia merdeka, tidak afdol kalau tidak bersamaan dengan penguburan sang pataka. Karenanya, pencarian bendera merah putih –untuk dimusnahkan– berlangsung di antara peperangan dan perundingan.

Sang dwi warna, rupanya sudah diamankan oleh para pejuang kemerdekaan. Ia disimpan, disembunyikan, dilindungi dengan nyawa. Tidak hanya itu, sistem penyimpanan pun dibuat mobile, bergerak terus dari satu rumah ke rumah lain, dari satu tempat ke tempat lain. “Pemunculan” sang merah putih berhasil direkam oleh Dr. Soeharto, dokter pribadi Bung Karno pada April 1949.

Soeharto sendiri tidak tahu, di mana sang merah putih antara kurun 1945 – April 1949. Yang jelas, malam itu, April 1949 ia kedatangan tami misterius bernama Muthahar. Tokoh ini di kemudian hari sempat menjabat duta besar Republik Indonesia serta pemimpin Kwartir Nasional Pramuka. Malam itu, ia datang dengan menyelinap, takut tercium Nica. Di tangannya terpegang dua carik kain, merah di kanan, putih di kiri. Itulah Sang Saka Merah Putih, yang untuk tujuan pengamanan, telah dilepas jahitannya, dan diamankan sedemikian rupa sebagai sebuah benda maha penting bagi tonggak berdirinya republik.

Muthahar, malam itu, menitipkan sang dwi warna kepada Dr. Soeharto. Mendapat amanat penting, Dr. Soeharto menunaikannya dengan sangat hati-hati. Ia menyimpan potongan kain merah di satu tempat, dan kain putih jauh di tempat lain. Maksudnya, menjaga kemungkinan penggeledahan Nica.

Tercatat, tidak lama sang merah putih disimpan di rumah Dr. Soeharto di Jl. Kramat 128, Jakarta Pusat. Beberapa malam berikutnya, Muthahar kembali datang untuk mengambil dua potong kain pusaka tadi, dan memindahkannya ke tempat berbeda. Entah berapa kali, puluh kali, ratus kali Muthahar menyelinap, mengendap, memindahkan tempat persembunyian bendera proklamasi. Satu tekad dikandung badan, benda pusaka itu tidak boleh jatuh ke tangan Belanda, dan akan tetap menjadi pusaka kita selama-lamanya.

Tuhan Maha Besar. Sang merah putih, meski tak lagi semerah darah dan seputih melati, tetapi dia tetap utuh hingga hari ini. Merahnya yang memudar digerogoti waktu, tetap menyiratkan tekad berani semerah darah. Meski putihnya menguning diretas waktu, tetapi putihnya tetap menyiratkan tekad suci seputih melati. Dan dia, adalah perlambang Ibu Pertiwi, yang akan kita bela sampai mati. (roso daras)

Published in: on 25 Agustus 2009 at 04:15  Comments (2)  
Tags: , , , ,

Tari Pendet, Malaysia, dan Bung Karno

sukarno dan penari baliTari pendet yang begitu edi-peni, melantun di pura-pura Hindu Pulau Dewata, meliuk indah menyambut tetamu, dan melenggang energik menggugah gairah. Lama sekali ia terpendam menjadi khasanah budaya milik leluhur. Entah sejak berapa abad yang lalu.  Ia telah menjadi tradisi, menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan spiritual masyarakat Hindu di Bali.

Tari pendet, bukan saja tari yang disucikan di Bali. Tari pendet juga menjadi inspirasi utama para koreografer Pulau Seribu Pura dalam mencipta tari-tarian baru.

Singkat tutur, pendek ucap, tari pendet begitu lekat pada tradisi masyarakat Hindu Bali, melekat menjadi warisan budaya negeri adiluhung. Barangkali sama berartinya dengan tari bedoyo di lingkungan keraton Solo maupun Yogya, atau barangkali tak ubahnya seni tari lain yang mengalir dalam denyut nadi suku-suku bangsa di Tanah Air dari Sabang hingga Merauke sebagai sesuatu yang sakral. Sebagai sesuatu yang metaksu.

Akan halnya Bung Karno, Presiden pertama Republik Indonesia, ternyata pernah pula bersinggungan dengan tari pendet. Kejadiannya tahun 1962, menjelang Indonesia menjadi tuan rumah pesta olah raga Asia, Asian Games IV. Guna memeriahkan ajang olahraga akbar tadi, I Wayan Beratha menancapkan tonggak sejarah dalam penciptaan tari pendet masal. Wayan Beratha berencana menampilkan tari pendet dengan 800 orang penari.

Bung Karno yang intens meneliti setiap persiapan Asian Games, mulai dari persiapan kelengkapan sarana stadion, hotel, hingga materi penyambutan, sangat senang dengan gagasan Beratha. Presiden Sukarno pula yang kemudian mendorong proses penciptaan tari pendet secara masal ini. Bahkan tidak berlebihan jika sejak momentum itu pula, tari pendet begitu dikenal di Indonesia, bahkan dunia, serta identik dengan tari selamat datang yang memukau karena keindahan gerak serta kecantikan para penarinya.

Bahkan jauh hari sebelum momentum 1962, Bung Karno sangat menyenangi tari Bali. Bukan saja karena ia berdarah Bali, tetapi Sukarno begitu membanggakan tari Bali kepada tamu-tamu manca negara. Tak heran jika tari Bali nyaris tak pernah absen ditampilkan dalam acara-acara kenegaraan, di samping tentu saja tari dan budaya Nusantara lain.

tari pendet

Kini, tari pendet diklaim Malaysia. Sebelumnya, negeri jiran itu juga mengklaim lagu “Rasa Sayang” serta kesenian Reog sebagai khasanah budaya mereka. Bahkan batik. Bahkan seni angklung. Entah yang mana lagi. Dalih tinggal dalih. Akan tetapi langkah klaim seperti itu, sejatinya sangat mengusik rasa nasionalisme kita sebagai bangsa. Lebih dari itu, klaim mereka tak lebih dari sebuah upaya (sengaja atau tidak disengaja) mengusik ketenangan hidup bertetangga.

Pantas saja kalau kita bertanya, mengapa mereka tidak bergabung saja dengan Indonesia? Sehingga tidak hanya lagu “rasa sayang”, reog, angklung, batik, dan pendet yang bisa mereka klaim. Masih ada jutaan ragam budaya yang begitu membanggakan di bumi khatulistiwa kita. Kecuali kalau yang mereka inginkan memang sebuah upaya melanggengkan perseteruan antarnegara serumpun. Sayangnya, presiden kita bukan Bung Karno. (roso daras)

Published in: on 23 Agustus 2009 at 09:16  Comments (58)  
Tags: , , ,

Bung Karno Ingin Mencontoh Denmark

SukarnoTak sedikit pun diragukan, Bung Karno itu ibarat perpustakaan berjalan. Pengetahuannya tidak hanya tentang sejarah tokoh-tokoh berpengaruh di dunia. Pemahamannya bukan hanya tentang berbagai ajaran, teori, dan rumusan politik dan etik. Referensinya tidak hanya ratusan suku bangsa di Indonesia, tetapi juga karakter bangsa-bangsa di dunia.

Entah apa rahasianya, tetapi Bung Karno bisa “melahap” sebuah buku dalam waktu yang begitu cepat. Bukan hanya itu. Memorinya luar biasa tajam. Dalam analogi chip komputer, entah kategori berapa bytes, mega, giga, atau terabytes. Karena itu pula, Sukarno begitu mengagumkan. Tidak saja dikagumi rakyatnya, tetapi juga dikagumi para tokoh dunia.

Kekayaan literatur dalam benaknya, membuat siapa pun yang berbicara dengannya, merasa klop. Pengetahuan yang lengkap, membuat siapa pun yang berbicara dengannya, merasa terkesan. Kepada Nixon, Eisenhower, dan Kennedy, Bung Karno bisa membeberkan sejarah Thomas Jefferson, George Washington dengan begitu heroik. Kepada Nikita Kruschev, Bung Karno bisa menguak sisi terdalam seorang Lenin hingga kebesaran dinasti Tsar. Bahkan kepada Raja Arab Saudi dan para pemimpin Timur Tengah, Bung Karno bisa mendongeng lebih indah dibanding kisah 1001 malam.

Raja Frederik IX dan Denmark

Alhasil, antara tanggal 3 – 27 Juni 1959, Bung Karno melakukan lawatan ke luar negeri. Salah satu negara yang dikunjunginya adalah Denmark. Benar. Ia minta protokol mengatur persinggahan di Kopenhagen. Sejumlah anggota rombongan tidak sedikit yang under estimated, “Untuk apa mengunjungi sebuah negara kecil seperti Denmark?” Salah satu yang bertanya adalah dokter pribadinya, Dr. Soeharto.

Sukarno tahu bahwa tidak sedikit anggota rombongannya yang mempertanyakan kunjungannya ke Denmark. Seperti biasa, alasan yang Bung Karno kemukakan pertama-tama adalah: “memperkenalkan Indonesia”. Setelah itu, barulah Bung Karno bercerita ihwal riwayat karya-karya seni patung yang termashur, antara lain Patung Dewi Laut. Maklumlah, sejak masih sekolah di HBS, Bung Karno sudah mempelajari banyak buku seni dunia.

Selanjutnya, mulailah Bung Karno membeber literatur Denmark yang ada di kepalanya. Ia berkisah tentang riwayat bangsa Denmark yang hidup tenteram dan sejahtera. “Sistem sosial ekonomi Denmark dapat dipertimbangkan untuk dicontoh. Lembaga sejenis koperasi, berperan penting di sini. Karenanya, hanya sedikit orang Denmark yang betul-betul kaya raya, dan lebih sedikit lagi orang Denmark yang betul-betul miskin,” urai Bung Karno.

Raja Denmark yang bertahta ketika Bung Karno berkunjung adala Raja Frederik IX, dari Dinasti Schleswig-Holstein-Sonderburg-Glucksburg. Dinasti kerajaan dipertahankan di Denmark bukan untuk melestarikan feodalisme, melainkan sebagai sarana untuk mempersatukan bangsa Denmark. “Sungguh sejahtera bangsa Denmark. Meskipun tidak memiliki sumber daya alam, tetapi dapat hidup makmur dan adil dengan sistem jaminan sosial yang menyeluruh. Dalam masyarakat seperti itu, kemungkinan timbul gejolak sosial, sangat kecil,” papar Bung Karno pula.

Pernyataan Bung Karno menyiratkan rasa inginnya ia mencontoh tatanan sosial-ekonomi Denmark. Terlebih, pada era kunjungannya saat itu, Indonesia sedang dilanda konflik separatis. Kabinet parlementer jatuh-bangun.

Bagi saya pribadi, kisah sejarah di atas, ternyata memiliki benang merah dengan naiknya tokoh muda bernama Moch. Achadi. Tahun 1959, Achadi menjadi pimpinan organisasi mahasiswa pelajar Indonesia se-Eropa, dan berdomisili di London. Demi mengetahui Bung Karno singgah di Denmark, Achadi meninggalkan London menuju Kopenhagen, untuk suatu urusan. Itulah perjumpaan pertama Achadi dan Bung Karno.

Beberapa tahun kemudian, Achadi diangkat menjadi Menteri Transmigrasi dan Koperasi Kabinet Dwikora, 1964-1966. Sampai di sini informasinya, karena materi tentang itu, sedang saya susun menjadi sebuah buku. Insya Allah. (roso daras)

Published in: on 22 Agustus 2009 at 10:49  Comments (3)  
Tags: , , ,

Bung Karno sebagai “Tukang Insinyur”

rumah karya bung karno

Kuliah teknik sipil di THS Bandung (sekarang ITB) adalah sisi kehidupan lain seorang Sukarno muda. Tokoh pergerakan, adalah peran lain yang dimainkannya. Nah, dalam mendayung sampan perjuangan di sungai berbatu cadas, terkadang ia meliuk ke kiri, meliuk ke kanan… terkadang ia menabrak pula bebatuan keras yang membuatnya limbung.

Di lingkungan kampus, Sukarno pun sempat aktif di organisasi kemahasiswaan, semacam studie club. Akan tetapi, manakala klub mahasiswa yang sebagian besar berisi mahasiswa bule itu lebih banyak menjalankan program pesiar dan plesiran, Bung Karno pun menyempal dan mendirikan kelompok studi lain. Langkah dia, segera diikuti mahasiswa-mahasiswa pribumi, pengikut setianya.

Bertahun-tahun setelah ia mendayung kedua peran sebagai mahasiswa dan tokoh pergerakan, tentu saja Sukarno mengalami banyak kejadian. Ia ditangkap polisi Belanda untuk pertama kali tahun 1922, pun dalam status sebagai seorang mahasiswa. Ia pernah digrebek di rumahnya bersama sejumlah akivis lain, juga masih dalam status sebagai mahasiswa.

Bahkan, ketika hantaman datang bertubi-tubi, mulai dari peristiwa penangkapan, disusul ditangkapnya guru sekaligus mertua, H.O.S. Cokroaminoto, dan banyak kejadian lain, sempat memunculkan awan pekat di ujung sungai sana. Ia nyaris berhenti mendayung. Ya… nyaris berhenti kuliah. Berhenti meneruskan cita-cita pergerakan menuju Indonesia merdeka.

Akan tetapi, ingatkah Anda? Seorang anak yang lahir di saat sang fajar menyingsing, takdirnya telah ditentukan. Ingatkah pula Anda? Sang ibunda, yang mengandung dan melahirkannya, Ida Ayu Nyoman Rai, mendekap tubuh kecil Sukarno di beranda depan, saat matahari mengintip di ufuk sana, seraya menujum masa depan putranya yang gilang-gemilang. Menerawang masa depan putra tersayang yang bakal menyandang takdirnya menjadi pembebas belenggu penjajah yang melilit bangsanya.

Awan pekat pun tersibak. Cokroaminoto bebas, Sukarno kembali ke bangku kuliah. Dan… aktivitas pergerakan kembali menjadi rutinitas hidupnya. Ia melanjutkan kuliah dengan gelora semangat baru. Mungkin saja karena ia baru saja melewati satu tanggung jawab besar sebagai kepala rumah tangga, atau mungkin juga karena ia kembali ke kota Bandung, ke rumah kos dengan Inggit Garnasih di dalamnya.

Kuliah berhasil diselesaikan. Nilai kelulusan? Ah… mana terjadi mahasiswa pribumi melampaui nilai-nilai mahasiswa bule. Pribumi harus di bawah bangsa bule. Sepintar apa pun dia. Sukarno tahu betul hal itu. Ia sudah terbiasa dengan hal-hal semacam itu sejak masa sekolah ELS di Mojokerto, HBS di Surabaya.

Bung Karno sendiri tidak terlalu memedulikan masalah itu. Ia lebih peduli politik. Ia lebih peduli menyusun kekuatan pergerakan melawan penjajah. Ia lebih peduli mewujudkan Indonesia yang merdeka. Indonesia yang tidak lagi membungkuk-bungkuk di hadapan bule. Indonesia yang tidak bisa begitu saja diludahi bangsa penindas.

Hanya orang dengan kepedulian seperti itu saja, yang rela hidup miskin, sekalipun tawaran menjadi pejabat dan pegawai di pemerintahan Hindia Belanda terbuka lebar, apalagi bagi seorang sarjana teknik, “tukang insinyur” cerdas seperti Sukarno. Ia lebih suka menerbitkan koran, memungut uang langganan, uang iklan, dan mendapatkan sedikit uang untuk dana perjuangan. Dengan media ia bisa berpropaganda. Dengan uang yang dihasilkan, ia bisa mendanai hidup dan perjuangannya.

Memang, Bung Karno sempat pula mencari nafkah dengan menjual keahliannya sebagai seorang insinyur. Ia mendirikan biro teknik, biro arsitek, tetapi tidak berhasil. Ada banyak faktor, tetapi yang pasti, ia gagal. Kemudian selepas dari penjara Sukamiskin, sekira tahun 1932, ia bergabung dengan Ir. Rooseno dan kembali mendirikan biro arsitek.

Biro arsitek yang didirikannya, lagi-lagi tidak sukses. Orang-orang lebih menyukai arsitek ala Tionghoa atau Belanda. Alhasil, tidak jarang untuk bayar sewa kantor yang 20 rupiah, telepon yang 7,5 rupiah, biro ini harus menombok. Bung Karno menomboki usaha yang merugi? Bukan. Rooseno-lah yang nombok. Sebab, Rooseno berpenghasilan lebih besar lagi sebagai pengajar. Kantong Rooseno jauh lebih tebal dibanding seluruh kantong Sukarno.

Sukarno? Ah… dia pura-pura tidak tahu hal itu. Yang pasti, tiap bulan ia datang ke kantor, menemui Rooseno, dan langsung bertanya, “Berapa kau berutang kepadaku?”

Rooseno hapal betul nada itu. Sebuah sikap “memahami” yang sangat dalam. Rooseno tahu, bahwa Sukarno tahu usahanya tidak jalan, atau katakan saja jalan merayap. Di sisi lain, Rooseno tahu juga, Sukarno sangat memerlukan uang untuk menafkahi keluarga dan ongkos perjuangan. Pemahaman seperti itulah yang membuat Rooseno menjawab pertanyaan Bung Karno dengan jawaban, “Bagian Bung 15 rupiah….”

Bayangkan! “Bagian” dari mana? Sedangkan untuk menutup sewa kantor dan bayar telepon saja tidak cukup. Jadi, laiknya dua sahabat dalam tingkat kesepahaman yang tinggi, maka Sukarno pun menjawab, “Baik. Terima kasih.” Tak ada pertanyaan lagi setelah itu.

Sejatinya, dalam hal perpaduan ilmu, Rooseno dan Sukarno memang klop. Dalam menjalankan roda usaha biro arsitek tadi, Rooseno yang banyak berperan sebagai insinyur-kalkulator. Mengerjakan soal-soal detail, membuat perhitungan dan kalkulasi, serta mengerjakan ilmu pasti yang sangat sukar itu.

Sukarno sendiri, sebagai seorang arsitek seniman, bertindak sebagai pengatur bentuk-bentuk yang unik dari rancang bangun sebuah gedung atau rumah. Akan tetapi… tentu saja tidak banyak yang diatur, karena biro arsitek mereka memang sepi order. Tetapi dalam otobiografi yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno cukup membanggakan karyanya sebagai “tukang insinyur”. “Ada beberapa buah rumah yang kurencanakan sendiri, dan sekarang masih berdiri di Bandung. Rencanaku boleh jugalah. (Meski) tidak begitu ekonomis, tetapi indah….” (roso daras)

Published in: on 21 Agustus 2009 at 01:49  Comments (1)  
Tags: , , ,

Rahasia Pidato yang Memukau

BK Pidato2

Terkadang kita mendengar seseorang, beberapa orang, banyak orang, bercerita hal-hal magis tentang Bung Karno. Bahkan ada kalanya, bagi seseorang, beberapa orang, banyak orang, cerita-cerita tadi terasa dibesar-besarkan. Entah yang melempar topik tongkat komandonya, pecinya, kacamatanya, sampai segala sesuatu yang pernah disentuhnya.

Tulisan ini tentu saja tidak bermaksud mengonfirmasi hal-hal itu. Tidak membantah, tidak pula mengiyakan. Segala cerita magis, mistis, ghaib, supranatural di sekeliling kehidupan Bung Karno, ada kalanya merupakan ekspresi kekaguman seseorang, beberapa orang, banyak orang tentang Putra Sang Fajar. Mengapa harus mengomentari orang berekspresi?

Nah, ini pun tentang ekspresi. Cermin diri, suara hati. Bung Karno adalah manusia ekspresif. Ia sangat pandai menyuarakan kata hati, jerit hati, seruan hati. Tidaklah mengherankan jika semua pidato yang menggelegar, semua orasi yang memukau, semua kata sambutan yang membahana, berasal dari hati. Ekspresi jiwa yang dibungkus kekayaan kata, menjadikan Bung Karno seorang pembicara yang jaya.

Salah seorang yang dekat dengannya, yakni Dr. Soeharto, dokter pribadinya, termasuk yang sangat menikmati setiap Bung Karno berbicara. Yang ia rasakan, khasanah hati dan pikirannya menjadi lebih kaya. Usai mendengar pidato Bung Karno, selalu saja tumbuh tunas semangat baru dalam hidupnya.

Kebetulan, sebagai seorang dokter yang terbiasa mengobservasi detail keluhan pasien, ia pun senantiasa mencermati kata demi kata, serta struktur kalimat dan alunan birama saat berbicara. Bung Karno, dengan penguasaan sedikitnya tujuh bahasa asing dengan baik itu, sesungguhnya adalah manusia dengan amunisi kata-kata tak terhingga.

“I am speaking to you in a language, which is not mine nor yours, but I am speaking with the language of my heart,” begitu kalimat yang cukup sering dipakai Bung Karno dalam pidato-pidato di manca negara. “I am speaking with language of my heart”… bahasa hati.

Kalimat yang juga termasuk sering diselipkan dalam pidato-pidato Bung Karno, adalah semangat persamaan derajat antarmanusia. Dan itu sungguh mengena, di saat dunia masih ada yang memberlakukan sistem apartheid, kasta, kelas, golongan, dan ras. “Men all over the world, under the skin, is one,” kata Bung Karno. Tak ada perbedaan antara satu manusia dengan manusia yang lain, kecuali sekadar kulit. Jadi sesungguhnya, di balik kulit putih, kuning, sawo matang, atau hitam, hanya ada satu nama: MANUSIA.

Mungkin karena itu pula, Bung Karno begitu cepat lebur di mana pun ia berada. Sebutir debu kuku, Bung Karno tak berasa rendah di hadapan bangsa bule yang lebih putih, lebih tinggi, lebih besar fisiknya. Demikian pula, tak sebutir debu di udara, Bung Karno merasa lebih dibanding bangsa berkulit hitam pekat, sawo matang, atau kuning.

Terhadap semua bangsa, Bung Karno menaruh respek yang sama. Terhadap semua bangsa, Bung Karno mengulur persahabatan yang sama. Bahkan sebelum mengakhiri pidato di depan bangsa-bangsa lain di dunia, ada kutipan Perancis yang nyaris tak pernah lupa ia ungkapkan… “Au revoir. Partir est une peu mourir dans mon coeur…” Sampai jumpa lagi. Perpisahan menyebabkan sedikit kematian dalam hati saya. (roso daras)

Published in: on 19 Agustus 2009 at 03:33  Comments (15)  
Tags: ,