Bung Karno, Dikutuk seperti Bandit, Dipuja Laksana Dewa

Cium kaki Bung Karno

Begitulah Sukarno. Sepertinya, tidak ada manusia di abad ke-20 yang menimbulkan begitu banyak perasaan pro dan kontra seperti dia. Kepada penulis biografinya, Cindy Adams, Bung Karno mengibaratkan dirinya dikutuk seperti bandit, dan dipuja laksana Dewa.

Dubes senior Inggris di tahun 60-an pernah berkirim surat ke alamat Downing Street 10 London (alamat Kantor Perdana Menteri). Tulisnya, “Presiden Sukarno tidak dapat dikendalikan, tidak dapat diramalkan dan tidak dapat dikuasai. Dia seperti tikus yang terdesak.”

Media massa Barat membuat laporan-laporan yang mendiskreditkan Sukarno, meski sumbernya seorang abang becak, yang entah faktual entah fiktif. Hal itu tentu menjadi kontradiktif dengan sisi yang lain, yang menggambarkan begitu ia dipuja bagaikan Dewa.

Tak jarang, seorang kakek-kakek datang ke Istana, memaksa bertemu Presidennya sebelum ajal menjemput. Ada pula kisah seorang nelayan uzur, berjalan kaki 23 hari lamanya, untuk dapat bersujud mencium kaki Sukarno. Ia menyatakan, dirinya sudah berjanji, sebelum mati akan melihat wajah presidennya dan menunjukkan kecintaan serta kesetiaan kepadanya. Termasuk foto ilustrasi di atas, seorang lelaki berjalan kaki dari kampungnya, membawa seikat talas untuk dipersembahkan kepada presidennya. Ketika berjumpa, ia pun langsung bersimpuh, bersujud dan mencium kaki Sukarno.

Tidak sedikit kisah-kisah unik lain. Seperti yang dilakukan seorang petani kelapa yang sedang bersedih karena sudah berbulan-bulan anaknya sakit keras. Suatu malam ia bermimpi, bahwa ia harus pergi menemui Bung Karno untuk meminta air bagi kesembuhan anaknya. Bung Karno sendiri memenuhi permintaan rakyat yang dicintainya. Diambilkannya air ledeng biasa dan diserahkannya kepada petani kelapa tadi.

Dalam persoalan di atas, Bung Karno sama sekali tidak bisa bersoal-jawab dengan mereka. Apalagi, Sukarno paham betul, sebagian masyarakat kita, utamanya orang Jawa, banyak yang percaya kepada ilmu kebatinan. Termasuk petani kelapa yang bersikeras meminta air kepada Bung Karno.  Seminggu kemudian, ia mendengar anak petani kelapa tadi telah sembuh.

Tidak jarang, ketika Bung Karno hadir dalam suatu acara, muncul pula cerita-cerita unik. Ia ingat ketika menghadiri suatu acara di pedalaman Jawa Tengah. Seorang perempuan desa mendatangi pelayan Bung Karno dan membisikkan, “Jangan biarkan orang mengambil piring Presiden. Berikanlah kepada saya sisanya. Saya sedang mengandung dan saya ingin anak laki-laki. Saya mengidamkan seorang anak seperti Bapak. Jadi tolonglah, biarlah saya memakan apa-apa yang telah dijamah sendiri oleh Presidenku,” ujar perempuan itu bersemangat.

Di Pulau Bali, masyarakat percaya bahwa Sukarno adalah penjelmaan Dewa Wishnu, Dewa Hujan dalam agama Hindu. Karenanya, di musim kemarau pun, ketika Sukarno datang ke Bali, senantiasa dimaknai sebagai turunnya hujan. Mereka yakin, kedatangannya membawa restu. Bahkan pernah terjadi, ketika Bung Karno terbang ke Bali dalam musim kering, tepat setelah Bung Karno tiba, hujan turun bagaikan dicurahkan dari langit. (roso daras)

Published in: on 4 Juli 2009 at 16:30  Comments (9)  
Tags: , ,

Foto Bung Karno di Dinding Kamar-kamar Pelacur

Fofo BK di DindingPelacur juga manusia. Itu dulu yang kita sepakati. Sejarah pelacuran? Konon sudah sepanjang peradaban. Sisi gelap kehidupan manusia itu, bahkan masih eksis hingga sekarang. Bahkan tetap eksis di dunia Barat yang menganut paham free sex sekalipun. Lantas untuk apa membicangkan pelacur?

Layak. Sangat layak digunjingkan, mengingat yang hendak kita bahas adalah manifestasi cinta rakyat kepada Bung Karno. Ada banyak cara rakyat Indonesia menunjukkan rasa cintanya kepada Sang Proklamator. Di sisi lain, kata “rakyat” sendiri plural, di mana isinya terdiri atas alim ulama, presiden, gubernur, lurah, konglomerat, juragan tahu-tempe, blogger, tukang becak sampai pelacur.

Yang ini adalah kisah kebingungan seorang pejabat kepolisian yang harus berkata apa kepada Presidennye. Sebab, ia baru saja melihat sesuatu yang bagus untuk dilaporkan, tetapi ia sendiri ragu, apakah itu kabar bagus buat Bung Karno?

“Apa maksudmu dengan ‘sebenarnya kabar baik’,” tanya Bung Karno kepada pejabat polisi.

“Ya,” kata pejabat itu terbata-bata, “Rakyat sangat menghargai Bapak. Mereka mencintai Bapak. Dan terutama rakyat jelata. Saya mengetahui, karena saya baru menyaksikan sendiri suatu keadaan yang menunjukkan penghargaan terhadap Bapak.” Sampai di kalimat itu, si pejabat kepolisian tadi berhenti berkata-kata.

Sementara, Bung Karno makin penasaran…. “Teruskan…. katakan padaku, dari mana engkau dan siapa yang kau temui, dan apa yang mereka lakukan?” desak Bung Karno.

“Begini, Pak…,” ia melanjutkan dengan sangat hati-hati, “kita mempunyai satu daerah, di mana perempuan-perempuan lacur semua ditempatkan di kamar-kamar berurutan. Kami memeriksa daerah itu dalam waktu-waktu tertentu, karena sudah menjadi tugas kami untuk mengadakan pengawasan. Kemarin, suatu kelompok memeriksa keadaan mereka, dan Bapak tahu apa yang mereka temui? Mereka menyaksikan potret Bapak digantung di dinding kamar-kamar yang berderet tadi.”

“Di mana aku digantungkan?” desak Bung Karno.

“Di tiap kamar, Pak. Di tiap kamar terdapat potret Bapak, di samping, tentu saja ada tempat tidur, meja lengkap dengan bedak-gincu serta kaca hias,” katanya gugup, sambil sebelah matanya melirik ke arah Bung Karno, menanti dengan hati berdebar, apa reaksinya.

Karena lama tak bereaksi, pejabat kepolisian itu buru-buru menambahkan, “Pak, kami merasa bahagia karena rakyat memuliakan Bapk, tapi dalam hal ini kami masih ragu, apakah wajar kalau gambar Presiden kita digantungkan di dinding rumah pelacuran. Apa yang harus kami kerjakan? Apakah kami harus copot gambar-gambar Bapak dari dinding-dinding itu?”

“Tidak,” Bung Karno cepat menukas. “Biarkan aku di sana. Biarkan mataku yang tua dan letih itu memandangnya!” (roso daras)

Published in: on 4 Juli 2009 at 05:35  Comments (19)  
Tags: ,