Bung Karno, Profesor Universitas Moskow

BK Mampir di Turkmenistan

Perjalanan panjang di negara raksasa itu, menapaki hari-hari terakhirnya. Pada tanggal 9 September 1956 malam utusan-utusan Indonesia kembali ke Ibukota Moskow. Jarak yang mereka lewati selama kunjungan tidak kurang dari 11.000 km. Tamu-tamu Indonesia itu berjumpa dengan banyak orang Soviet dari bermacam-macam bangsa: Rusia, Uzbek, Turkmen, Tartar, Kazakh, Azerbaidjan, Georgia, Abhkazia.

Semua bangsa-bangsa itu menerima Bung Karno dan rombongan, sebagai saudaranya sendiri. Dalam banyak kesempatan Bung Karno selalu menyatakan bahwa selama kunjungan ke Uni Soviet mendapat suatu keyakinan bahwa rakyat Soviet sungguh-sungguh cinta damai dan ingin bersahabat dengan bangsa-bangsa lain, termasuk Indonesia.

Presiden Sukarno bahkan mengatakan, tali persahabatan antara Indonesia dan Uni Soviet itu berasal dari zaman perjuangan bersenjata. Kedua bangsa seperti merasakan sebuah spirit yang sama. Rakyat kedua negara sama-sama berjuang untuk kemerdekaannya. Tak lupa, Bung Karno beberapa kali menyampaikan rasa terima kasihnya, atas sikap Uni Soviet yang selalu menyokong Indonesia dalam perjuangannya itu. Termasuk ketika menerima Indonesia menjadi anggota PBB.

Syahdan, di Moskow Presiden sukarno tinggal selama beberapa hari lagi.

Rombongan Indonesia mengunjungi Stasiun Pembangkit Tenaga Listrik, atom, dan lapangan terbang Kubinka dekat Moskow. Di sana, mereka melihat angkatan udara dan penerbangan pesawat-pesawat jet.

Sementara di gedung pencakar langit Universitas Moskow di Bukit Lenin, Presiden Sukarno bertemu dengan ahli-ahli ilmu, para guru dan para pelajar di universitas itu. Dalam sebuah upacara di Ruangan Besar yang dihadiri oleh dua ribu orang, Presiden Sukarno menerima diploma honoris causa dan diploma yang menetapkan beliau menjadi profesor kehormatan Universitas Moskow. (roso daras)

BK Profesor Univ Moskow