Tiga Tujuan Revolusi Kita

Pernah seorang mahasiswa jurusan sejarah menelepon, hendak mewawancarai saya seputar Bung Karno. Saya menjadi ketakutan… memangnya siapa saya ini? Tapi toh dengan segenap kekuatan saya sempatkan bertanya, “Tentang apanya?” Tentang pidato-pidato Bung Karno yang mengguncang dunia, tentang pidato Bung Karno yang menjadi tonggak sejarah, tentang pidato Bung Karno yang patut dikenang.

Spontan saya jawab, semua pidato Bung Karno mengguncang dunia… semua pidato Bung Karno menjadi tonggak sejarah… semua pidato Bung Karno patut dikenang… bukan hanya patut, tetapi sudah sehausnya dikenang oleh segenap anak bangsa. Bukan karena Bung Karno yang berpidato, tetapi lebih karena isinya begitu berbobot. Dalam bahasa yang lebay saya bahkan bisa mengatakan, pidato Bung Karno yang paling santai saja, jauh lebih berbobot dari pidato paling serius dari lima orang presiden kita setelahnya.

Biarlah dianggap berlebihan… toh itu hanya opini pribadi. Nah, si mahasiswa tadi mendesak untuk lebih mengkhususkan lagi, memilah beberapa pidato saja. Artinya, saya diminta memilih pidato-pidato mana saja yang memenuhi unsur-unsur “ter”… unsur-unsur “paling” seperti yang dia sebut di atas. Sangat sulit, tapi toh saya tahu ini hanya untuk tugas akademik… jadi ya saya buatkan saja.

Satu kalimat Bung Karno yang masih terus relevan, kalimat yang kita bisa maknai cocok di segala zaman, termasuk zaman reformasi saat ini adalah, “revolusi kita belum selesai!” Seperti berulang kali Bung Karno tegaskan bahwa proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 adalah sebuah awal revolusi yang hebat dari segenap bangsa Indonesia. Proklamasi 17 Agustus 1945 adalah tanda permulaan revolusi hebat bangsa kita.

Ada tiga tujuan revolusi kita. Tiga…, satu… dua… tiga… ya tiga tujuan revolusi kita yang acap didengungkan Bung Karno dalam banyak kesempatan. Pertama, ialah mendirikan Republik Indonesia, Republik Kesatuan berwilayah kekuasaan antara Sabang dan Merauka. Oleh karena antara Sabang dan Meraukelah kita punya tanah air. Antara Sabang dan Meraukelah Ibu Pertiwi kita. Republik Kesatuan Indonesia yang kuat sentosa dari Sabang sampai Merauke.

Kedua, mengadakan di dalam Republik Indonesia satu masyarakat yang adil dan makmur, satu masyarakat yang tiap-tiap orang hidup bahagia, cukup sandang cukup pangan. Mendapat perumahan yang baik. Tidak ada anak-anak sekolah yang tidak masuk sekolah. Pendek kata, satu masyarakat yang adil dan makmur, yang tiap-tiap manusia hidup bahagia di dalamnya.

Ketiga, menempatkan Republik Indonesia itu sebagai satu negara daripada semua negara di dunia. Negara sahabat daripada semua bangsa di dunia. Tetapi, meskipun kita hendak bersahabat dengan semua negara di dunia, kita tidak mau bersahabat dengan kolonialisme. Kita tidak mau bersahabat dengan imperialisme. Jikalau masih ada sesuatu bangsa hendak mengkolonisasi kita, hendak menjajah kita, hendak menjalankan imperialisme di atas tubuh kita, kita berjuang terus sampai tetes darah yang penghabisan. Kita akan berjuang terus sampai imperialisme dan kolonialisme lenyap sama sekali dari muka bumi ini.

Itulah tiga tujuan revolusi kita yang makin tahun bukan makin dekat ke arah pencapaian secara esensi, melainkan makin jauh dari jangkauan. Undang-Undang Otonomi Daerah yang mengarah ke perubahan bentuk negara dari kesatuan, sudah menjerumuskan kita ke arah disintegrasi. Sabang sampai Merauka hanya merupakan bentang teritori yang berisikan “aku orang Aceh”… “aku orang Medan”… “aku orang Jawa”… “aku orang Kalimantan”… “aku orang Sulawesi”… “aku orang Maluku”… “aku orang Nusa Tenggara”… “aku orang Papua”…

Atau lebih menyedihkan lagi dari itu… tanah Indonesia berisi warga masyarakat yang terdiri dari “aku orang Sabang… aku orang Meulaboh”… “aku orang Padang”… “aku orang Lampung”… “ake arek Suroboyo”… “Nyong wong Tegal”… “beta putra Maluku”… dan seterusnya…. Mulai luntur “keindonesiaan” kita.

Bagaimana dengan pangan, sandang, papan, pendidikan? Akibat tidak meratanya kesejahteraan, mengakibatkan kesenjangan yang begitu lebar. Ada kelompok kecil yang begitu mudah mendapatkan semua kemewahan dan kebutuhan hidup… sementara ada yang begitu susah payah hanya untuk sekadar bertahan hidup.

Pendidikan? Mudah, tetapi tidak murah. Pasca sekolah, mencari pekerjaan susah.

Pergaulan kita di antara bangsa-bangsa makin terpinggirkan. Alih-alih mengenyahkan kolonialisme dan imperialisme… regulasi negara kita bahkan membuka diri dengan dua tangan terbuka, dengan senyum lebar, masuknya penjajahan baru di bidang ekonomi. Adakah kita sekarang berdiri di atas kaki sendiri? Tidak. Adakah semua kekayaan alam yang terkandung di bumi, laut, angkasa Republik Indonesia telah dikelola negara dengan baik bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat?

Sudah… sudah… sudah…. Sudahlah… jangan dilanjutkan bahasan ini…. Saya jadi ingin marah. (roso daras)