Lokat Kembang Hinis Jati buat Inggit

inggit-roso darasBermula dari sebuah “tag” di akun FB, ihwal pameran foto dan artefak Inggit Garnasih di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, saya tergerak untuk menyaksikannya. Selasa sore, 24 Februari 2015, saya meluncur ke Kota Kembang. Percayalah, gedung Indonesia Menggugat, relatif tidak asing buat saya, tetapi “Ini Bandung Bung!”…. Artinya, tetap saja tidak bisa mencapainya tanpa bertanya.

Kalau saja saya gunakan aplikasi waze, mungkin lebih mudah, toh saya memilih cara yang lebih sulit. Secara manual saya bertanya arah… Dari empat kali bertanya, saya acak, memilih dari anak muda, hingga yang kisaran umur 50-an. Jangan ditanya, mengapa untuk bertanya saja saya memilah usia? Saya sudah katakan, “memilih cara yang lebih sulit?”

Kepada sekelompok anak muda di depan BIP saya bertanya, “Maaf dik, boleh saya bertanya? Arah mana menuju Gedung Indonesia Menggugat?” Saya perhatikan ekspresi dan responsnya. Ternyata mereka hanya saling pandang, gagap. Saya timpali dengan pertanyaan kedua, “Itu lho, gedung bersejarah tempat Bung Karno dulu diadili Belanda….” Saya nantikan responsnya, …. Blank!!!

Sejatinya, peristiwa itu tidak berarti apa-apa, jika kita melihatnya dalam konteks, bahwa Gedung Indonesia Menggugat bukan tempat yang asyik buat dikunjungi. Bahwa Gedung Indonesia Menggugat tidak semenarik mal atau tempat kongkow lain. Bahwa Gedung Indonesia Menggugat, kurang penting. Bahwa saya prihatin, iya!

Nah, karena memilih cara sulit itulah, saya tiba di lokasi terlambat 30 menit. Meski begitu, saya masih kebagian prosesi pembukaan acara. Kesimpulannya, belum telat-telat amat…..

Bukan pejabat, bukan kerabat Inggit, bukan juga tokoh masyarakat… melainkan empat orang Marhaen yang diberi kehormatan panitia untuk menggunting seutas-tali-berpita-merah-putih-di-tengah, tanda diresmikannya pameran foto dan artefak Inggit Garnasih. Mereka adalah Achmad (juru pelihara penjara Banceuy), Akhmad (juru pelihara Gedung Indonesia Menggugat), Jajang (juru pelihara rumah bersejarah Inggit), dan Oneng (juru pelihara makam Inggit).

Tali digunting sudah. Dua daun pintu besar peninggalan Belanda itu pun dikuak…. Gelap… berasap… beraroma dupa. Memasuki ruang tengah, tampak sebuah ritual tengah digelar. Dari Budi Gunawan, salah satu personel panitia saya beroleh gambaran tentang ritual yang tengah digelar itu.

pembukaan pameran inggit

“Lokat Kembang Hinis Jati”, adalah tagline ritual magis tersebut. Budi menggambarkan, bahwa ritual ini merupakan persembahan kepada Ibu Inggit Garnasih. Persembahan sekaligus ungkapan rasa bangga tiada tara kepada sosok perempuan yang sangat tajam melihat masa depan bangsanya. Selain itu, ritual ini juga sebagai penghargaan atas keteguhannya menghadapi berbagai rintangan. Bahkan Inggit begitu kuat serta berani berkorban menghadapi segala tantangan demi Indonesia merdeka.

“Kembang” dimaknai sebagai perjuangan Inggit yang tetap mewangi, menghampar di persada bangsa untuk selamanya. “Hinis” adalah pengibaratan ketajaman intuisi Inggit Garnasih seperti tajamnya (hinis) bambu. Sejarah hidup dan kehidupannya telah menunjukkan ketajaman batin melihat Indonesia jauh ke depan.”Jati” adalah pohon yang kuat sekaligus kokoh. Ini adalah perlambang bagi seorang Inggit yang kuat dan kokoh menghadapi segala macam cobaan dan ujian dalam hidup.

Tampak, sembilan orang (satu perempuan) duduk melingkar. Di tengah, seorang penari cantik bersimpuh di hamparan bunga-bunga. Kesepuluh pelaku ritual itu adalah Neneng S Dinar, Ki Ustad Ridwan CH, Bah Enjum, Neneng R Dinar, Doni Satia Eka, Deni Rahmat, Bah Nanu, Neng Enok, Asep Gunawan, dan Gunadi.

Mereka membakar dupa…. tiupan suling menyayat-nyayat hati… ditingkah tembang Sunda yang melantun-mendayu…. Sejurus kemudian, sang penari memupus diam, dan melenggangkan gerakan pelan penuh penghayatan. Di sudut sana, meningkahi dengan mantram, doa, dan cucuran kata-kata puisi bermuatan kritik-sosial.

ritual inggit

Tak lebih 30 menit, ritual pun usai. Byarrrr lampu menyala…. Pelaku ritual menepi, dan panitia menyilakan hadirin untuk melihat-lihat materi pameran.

tito-roso-inggit-okAlhamdulillah saya bisa hadir di acara itu. Terlebih, saya bisa bersilaturahmi dengah “saudara” Tito Asmarahadi, cucu mendiang Inggit, putra pasangan Ratna Djuami – Asmarahadi. Tentunya berkat kata-kata “setuju” dari Tito-lah pameran ini tergelar.

Tito pula yang mengizinkan sejumlah artefak seperti alat membuat jamu yang digunakan Inggit, dipamerkan dalam kesempatan itu. Bukan hanya itu, Tito juga mengizinkan meja belajar Bung Karno semasa kuliah di THS dipamerkan juga. “Masih ada artefak lain, tapi karena soal teknis, belum bisa dipamerkan semua,” ujar Tito.

Akhirnya, saya bersyukur bisa berada di tengah komunitas pecinta Inggit Garnasih, dus… pecinta Bung Karno juga. (roso daras)

Rumah Ende, 20 Tahun Kemudian

rumah ende

Perhatikan caption (keterangan foto) di atas: “Pengresmian rumah museum (bekas rumah kediaman Bung Karno di Ende) oleh P.J.M. Presiden Rep. Indonesia, pada hari Minggu, tgl 16 Mei 1954.”

Akhirnya, 20 tahun kemudian, Bung Karno “pulang” ke rumah Ende. Bukan sebagai orang interniran (buangan) penjajah seperti yang ia alami tahun 1934, tetapi sebagai Presiden Republik Indonesia, pada tahun 1954.

Sejak itu, rumah tadi menjadi situs peninggalan sejarah yang dipelihara pemerintah. Sebelumnya, Bung Karno sudah meminta Kepala Daerah Flores di Ende, Monteiro untuk melakukan proses pembelian rumah yang terletak di kawasan bernama Ambugaga itu. Monteiro pun langsung menghubungi sang pemilik, salah satu orang berada di sana, Haji Abdul Amburawuh. Transaksi pun terjadi, dan selanjutnya, menjadi aset pemerintah hingga sekarang.

Membayangkan peta kota Ende, tahun 1934, barangkali kawasan Ambugaga terbilang jauh kemana-mana. Tetapi dalam peta kota sekarang, rumah yang oleh ibu Inggit dilukiskan sebagai cukup luas, tetapi beratap pendek, dan pengap di dalamnya itu, berada di tengah kota. Jalan di depannya sudah beraspal. Jalan Perwira, adalah nama jalan yang melintang di depan rumah bersejarah itu.

Jika dahulu ada kesan jauh, bisa dimaklumi, karena jarak antar satu rumah dan rumah lain berjauhan. Dengan kata lain, populasi kota Ende belum sepadat sekarang. Padahal, kalau berbicara dari ukuran atau jarak, nyata, bahwa lokasi itu relatif dekat ke mana-mana.

Menyandingkan foto lama dengan foto sekarang, tampak benar bedanya. Pada foto lama, masih tampak latar belakang pepohonan, tetapi sekarang nyaris tak berpohon. Kiri-kanan-depan-belakang sudah padat dengan perumahan warga. Sayang memang, rumah bersejarah itu tidak dikembalikan pada keluasan semula. Kalau saja pemerintah membebaskan rumah-rumah di sekelilingnya, setidaknya masyarakat sekarang bisa melihat kondisi rumah itu dalam perspektif yang sebenarnya.

Kini, dengan dikelilingi pagar tembok, “rumah Bung Karno” di Ende itu lebih bersih. Menilik ruang-ruang di dalamnya, jauh dari kesan pengap. Apalagi di halaman belakang…. Lebih tertata rapi. Ya, tentu saja telah dilakukan penggantian material rumah. Tetapi otoritas pemugar rumah itu cukup baik, dengan tidak merombak struktur bangunan inti. Hanya sayang, mushola yang dibangun Bung Karno di sudut belakang rumah sudah hilang, dan beralih fungsi menjadi rumah warga.

Setidaknya, Bung Karno telah “menyelamatkan” situs itu menjadi peninggalan bersejarah. Dalam catatan, setidaknya dua kali Bung Karno (selama menjadi Presiden RI) berkunjung ke Ende. Dan dalam dua kali kunjungannya itu, selalu saja Bung Karno memanfaatkannya untuk mengenang masa-masa pembuangan di Ende. Salah satunya, dengan mengistirahatkan pasukan pengawal. Bung Karno minta dicarikan Riwu Ga, ya, putra Sabu yang ikut keluarga Bung Karno – Inggit, bahkan menyertainya hingga Bengkulu, sebagai “penjaga”-nya.

Riwu, pemuda Sabu, adalah pembantu setia Bung Karno, yang dalam perannya, acap bertugas pula sebagai pengawal sekaligus penjaga. Selama kunjungannya, Bung Karno menginap di rumah negara (rumah dinas kepala daerah), Riwu pun dihadirkan. Apakah untuk kembali mengawal Bung Karno? Itu barangkali bahasa resminya. Tetapi, hampir dapat dipastikan, Bung Karno hanya ingin bernostalgia bersama Riwu. Dengan Riwu di sisinya, maka keberadaan Bung Karno di Ende, tentu menjadi lebih bermakna. (roso daras)

foto di rumah ende

Foto lama. Duduk, Ibu amsi (kiri) dan Inggit Garnasih (kanan). Berdiri, dari kanan: Bung Karno, Asmarahadi, Ratna Djuami (Omi). Paling kanan, sahabat Bung Karno di Ende bersama istrinya (berdiri nyender di samping kanan Ibu Amsi). Hingga tulisan ini posting, belum terkonfirmasi nama kedua sahabat keluarga Bung Karno di Ende itu.

DSC04592

Jika foto lama di atas diambil dari sisi kiri rumah, maka foto tahun 2013 di atas, diambil dari sisi kanan. Bentuk masih asli. Dan tentu saja lebih terawat, setelah mengalami restorasi seperlunya.

DSC04594

Berfoto di samping rumah pembuangan Bung Karno di Ende. Dari kiri: Peter A. Rohi (wartawan senior), Tito Asmarahadi (putra ke-4 pasangan Ratna Djuami – Asmarahadi), Roso Daras.

Published in: on 10 Oktober 2013 at 02:09  Comments (5)  
Tags: , , , , ,

Paramitha si Inggit

DSC04541

Inggit Garnasih, seorang wanita yang luar biasa. Wanita pengantar Bung Karno ke pintu gerbang kemerdekaan. Istri kedua Bung Karno, yang total dalam pengabdian mendampingi suami. Ia mengikuti Bung Karno dalam pembuangan di Ende. Ia turut serta ketika Bung Karno dipindahkan ke pembuangan Bengkulu.

Lebih dari itu, kehadiran Inggit bagi Bung Karno bisa dibilang sangat-sangat penting. Bahkan bisa dibilang, tanpa Inggit di sisi Bung Karno, mustahil Bung Karno bisa konsisten sebagai seorang pejuang kemerdekaan. Inggit yang selalu mendampingi Bung Karno dalam segala keadaan, dalam setiap suka dan duka. Lebih dari itu, sebagai seorang wanita sekaligus istri, Inggit adalah wanita yang hangat bagi seorang Sukarno muda.

Nah, sosok itu yang akan diperankan aktris Paramitha Rusady, dalam film produksi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, berjudul “Ketika Bung di Ende”. Terpilihnya Mitha memerankan Inggit, juga bukan suatu kebetulan. Semula, peran itu jatuh ke aktris Ria Irawan. Kemudian karena satu dan lain hal, batal. Pilihan berikutnya jatuh ke aktris Happy Salma yang dinilai sukses ketika melakonkan “monolog Inggit”. Happy dinilai “paham” hal-ihwal Inggit. Lagi-lagi, karena sebuah alasan, Happy urung. Terakhir, pilihan jatuh ke Paramitha Rusady.

Hal pertama yang dilakukan Mitha adalah menghubungi Happy Salma. Yaaa, barangkali semacam “permisi” untuk memerankan Inggit. Sebab, betapa pun, Happy lebih dulu dikenal sebagai “Inggit” dalam dunia peran. Hal berikutnya yang dilakukan Mitha adalah menghubungi keluarga Inggit danĀ  ziarah ke makam wanita istimewa itu di Bandung.

Adalah Tito Asmarahadi yang menjadi “mentor” Mitha dalam melakoni peran Inggit. Tito ini adalah putra keempat pasangan Ratna Djuami – Asmarahadi. Ratna Djaumi adalah anak angkat Bung Karno – Inggit. Bung Karno memanggilnya Omi. Nah, Omi ini adalah anak kandung dari kakak perempuan Inggit, artinya dia keponakan langsung ibu Inggit.

Tito pula yang kemudian menerima Mitha di Bandung, dan mengantarnya ke makam Inggit. Di pemakaman itu, Mitha mendoakan ibu Inggit. Dalam hati, tentu saja dikandung maksud, ada pertalian bathin dengan Inggit, dan bisa melakonkan peran Inggit dengan baik.

Bahkan sesampai di Ende, tempat film itu hampir 100 persen diambil gambarnya, Mitha masih memerlukan untuk berdialog khusus dengan Tito. Bahkan pernah suatu hari, Mitha dan Tito terlibat percapakan seputar Inggit Garnasih dari malam sampai pagi. Begitu antusiasnya Paramitha Rusady mengeksplor karakter Inggit dari cucunya.

Hingga hari kesekian, sudah beberapa scene Mitha Inggit take. Terobsesi kesempurnaan peran, tak jarang Mitha “rewel” soal kualitas gambar, sehingga beberapa kali meminta take ulang. Seberapa sukses aktris kelahiran Makassar 11 Agustus 1966 itu memerankan Inggit? Kita lihat nanti hasilnya. (roso daras)

DSC04555