Memeluk Foto Bung Karno, Permintaan Terakhir Suhada

Bung Karno polah, Suhada kepradah. Ini kiasan dari peribahasa Jawa “anak polah, bapa kepradah”, yang artinya, segala ulah anak, akan berimbas pada orangtuanya. Sedikit beda antara “anak-bapa” dan “bung karno-suhada”, tetapi terdapat filosofi yang sama.

Alkisah, manakala Sukarno dan Gatot Mangkupraja berangkat ke Solo untuk sebuah rapat politik, keduanya menyewa taksi langganan yang dikemudikan sopir nasionalis pro perjuangan kemerdekaan bernama Suhada. Peristiwa ini terjadi tahun 1929.

Nah, sepanjang perjalanan, Bung Karno dan Gatot bersoal-jawab tentang banyak hal. Bicara tentang hakikat perjuangan. Berbicara tentang kesiapan keduanya untuk menerima risiko terburuk: Dipenjara, dibuang, hingga dibedil Londo. Bung Karno juga mengisahkan pemimpin perjuangan Perancis yang akhirnya dihukum gantung.

Dikisahkan pula bagaimana dalam perjalanan menuju tiang gantungan, sang pemimpin revolusi itu berbicara kepada dirinya untuk tetap kuat, pantang menyerah, dan meyakini bahwa perjuangannya tidak akan pernah sia-sia. Suhada sang sopir, tetap mengemudi dengan takzim sambil mendengarkan kisah itu. Tak terasa, Suhada meneteskan air mata.

Makin kental darah kejuangan pada diri Suhada. Sekalipun sopir taksi, ia begitu bersemangat mendukung Bung Karno dan kawan-kawan. Mengemudi sebagai keahlian utamanya, ia dedikasikan penuh di medan perjuangan. Mengantar Bung Karno kian-kemari.

Tibalah pada suatu malam, usai rapat politik, di mana Bung Karno membawakan pidato yang diberinya judul “Perang Pasifik”. Mereka menginap di tokoh PNI Jawa Tengah yang tinggal di perbatasan Yogya – Solo, bernama Sujudi.

Tengah malam, mereka digerebek 50 polisi Belanda. Menggedor, menggebrak pintu, dan menggeledah isi rumah. Gatot-lah yang ditangkap pertama, karena ia yang pertama keluar kamar demi mendengar suara gaduh.

Bung Karno giliran berikutnya. “Atas nama Sang Ratu, saya menahan Tuan!” begitu polisi berucap di hadapan Bung Karno. Mereka segera digelandang keluar rumah. Di luar barisan polisi menghunus pistol sudah berjaga-jaga.

Suhada? Ah… dia pun kena getahnya. Sekalipun akhirnya dilepas, karena perannya yang hanya sopir, toh namanya dicatat tebal-tebal. Sekalipun hanya semalam-dua, Suhada pun merasakan “nikmatnya” meringkuk di balik jerajak besi bersama Bung Karno dan Gatot.

Karenanya, Bung Karno tidak pernah melupakan sopir taksi bernama Suhada ini, sehingga ia merasa pantas mengisahkannya dalam biografi yang ditulis Cindy Adams. Dalam kisah itu, Bung Karno menuturkan, Suhada diketahui meninggal dunia, tidak begitu lama setelah peristiwa itu.

Satu hal yang membuat Bung Karno tak bisa melupakan Suhada, dalam kondisi sekarat, Suhada tak juga melepas nafas, sampai suatu ketika ia membisikkan sebuah permintaan terakhir kepada kerabatnya. “Tolonglah, saya ingin mempunyai potret Bung Karno di dada saya.”

Permintaan itu pun segera dipenuhi. Diberikannya selembar foto Bung Karno, didekapkannya di dada, dan… Suhada pun meninggal dunia dengan tenangnya. (roso daras)

Published in: on 9 Desember 2010 at 05:35  Comments (3)  
Tags: , ,

Tidak Penting untuk Dibaca

Sungguh ini sebuah perjalanan yang unik. Saya, bersama seorang teman sedia menjumpai seseorang di Purworejo, Jawa Tengah. Apa lacur, “kepancal” orang Jawa Bilang… yang dituju belum lama pergi menuju Surabaya. Mungkin bermaksud tidak mengecewakan, kawan yang sungguh enerjik itu usul, “Bagaimana kalau kita lanjut ke Magelang? Saya kenal putranya sopir Bung Karno….”

Sirna kecewa, muncul semangat baru. Meluncurlah kami ke Magelang. Hingga di pusat kota, kami putar arah, belok kiri, belok kanan, sampailah di sebuah perkampungan pinggiran kota. Kendaraan harus diparkir di tepi jalan, dan perjalanan pun dilanjutkan menuruni undak-undakan yang tidak terlalu curam. Di bawah sana, tampak bangunan ruman sederhana. Itulah rumah yang kami tuju.

Pintu tertutup. Jendela tertutup. Hanya saja “aroma” Bung Karno sudah tercium. Di dinding kaca sebelah kanan, tertempel stiker Bung Karno. “Ah… tidak salah,” gumam saya…, “bakal jadi cerita menarik….”

Pintu diketuk, semenit-dua, seorang perempuan membukakan pintu. Manakala kami mengemukakan maksud kunjungan, tak lama tuan rumah pun keluar. Jeda antara kami duduk menunggu dan kemunculan tuan rumah, cukup bagi saya untuk memotret beberapa objek menark di ruang tamu.

Ada lukisan Bung Karno yang belum selesai diletakkan di lantai, disandarkan begitu saja. Di salah satu dinding, tergantung foto Bung Karno bersebelahan dengan pajangan empat bilah keris. Saya sendiri tidak menangkap kesan magis, kecuali kesan “menarik”.

Tuan rumah keluar, teman saya pun bertukar kabar, berbasa-basi, dan bla…bla…bla…. Saya? Jadi tukang “gong”, mengiyakan, mengangguk, ikut tertawa, dan ikut merokok…. Edan!!! Apa yang saya dapat… tidak ada, kecuali mendengarkan teman saya bertukar kabar, bertukar berita, bertukar pengalaman. Walhasil, berhamburanlah kata demi kata di sekeliling saya tanpa saya bisa memutus.

Kurang lebih satu jam, teman saya pamit. Saya melongo… ikut berdiri, bersalaman, dan pergi…. Dengan hati masygul saya menegur teman saya, “Sampean gimana sih… saya kan belum ngobrol soal suka-duka beliau sebagai putra dari sopirnya Bung Karno. Sekalipun anak sopir, tapi ini sopir istimewa Bung! Sopir Bung Karno! Dan saya ingin tahu banyak tentang bapaknya bersama Bung Karno….”

“Oooh… gampang… besok-besok kesana lagi. Sekarang ayo saya ajak minum dawet hitam yang istimewa….” (roso daras)

Published in: on 10 April 2010 at 18:00  Comments (4)  
Tags: , ,