Sembilan Ekspresi Sukarno

sembilan ekspresi BK

Lukisan sembilan ekspresi wajah Bung Karno karya Sohieb Toyaroja. (foto: roso daras)

Telepon berdering. Di ujung sana, terdengar suara khas pelukis Sohieb Toyaroja. “Datang ke studio Jalan Paso mas…. Lukisan sembilan ekspresi Bung Karno sudah hampir jadi,” ujarnya.

Tiba di studio yang terletak di bilangan Jagakarsa, Jakarta Selatan hari sudah gelap. Bangunan besar dengan patung Semar di depan itu terasa sejuk, teduh, dan tenang.

Memasuki studio tempat Sohieb melukis, tampak sebuah lukisan maha besar. Berukuran sekitar 10 meter x 3 meter, berisi 13 pahlawan nasional. Selain Bung Karno dan Hatta, mungkin tidak banyak yang kenal. Sebab, Sohieb memang banyak mengangkat pahlawan lokal.

Tokoh yang cukup familiar antara lain HOS Cokroaminoto, Jenderal Besar Sudirman, Jenderal Polisi M. Jasin, Frans Kaisiepo, dan sejumlah nama lain yang mewakili berbagai daerah.

Sementara lukisan sembilan ekspresi Sukarno teronggok di salah satu dinding, dalam kondisi hampir paripurna. “Tinggal finishing sedikit, sudah siap,” ujar Sohieb seraya melanjutkan, “tolong mas, carikan kutipan yang pas untuk lukisan ini.”

Tiga kutipan aku sodorkan padanya. Pertama, “Senyuman, tawa, dan tangisku adalah sebuah kesaksian, bahwa kekuasaan seorang Presiden sekalipun ada batasnya. Kekuasaan yang langgeng hanya kekuasaan rakyat.”

Kutipan kedua, ““Saya terpesona oleh revolusi. Saya gila, terobsesi oleh romantisme… Revolusi melonjak, berkedip, guntur hampir di setiap penjuru bumi… Teruslah mengipasi kobaran api … Mari kita menjadi kayu bakar yang memberi makan api revolusi.”

Dan kutipan ketiga, ““Tidak ada satu negara yang benar-benar hidup jika tidak ada seperti kuali yang mendidih dan terbakar, dan jika tidak ada benturan keyakinan di dalamnya.”

Berjam-jam aku menatap lukisan itu. Seperti kebanyakan lukisan Sohieb yang lain, semakin dipandang, semakin “hidup” lukisan itu. Alhasil, sosok Sukarno seolah hadir di Studio Jalan Paso, malam hari itu. (roso daras)

“Peci Bung Karno”… Sold!

Lukisan BK karya Sohieb

Tugu Kunstkring Paleis di ujung Jalan Tengku Umar (dekat Masjid Cut Meutia), Menteng – Jakarta Pusat, menjadi saksi atas besarnya “magnit” Sukarno. Pameran lukisan karya Sohieb Toyaroja berjudul “The Spiritual Journey”, baru saja dibuka oleh Sutrisno Bachir, Ketua KEIN (Komita Ekonomi dan Industri Nasional), sebuah karya berjudul “Peci Sukarno” (160 x 140) sold… terjual.

Dalam pameran yang berakhir 14 April 2016 itu, hadir tiga orang menteri kabinet Gotong-Royong…. Apa boleh buat, pembeli “Peci Sukarno” ternyata bukan salah satu dari ketiga menteri tadi. Malah, salah seorang menteri yang hadir malam itu, setelah berkeliling ruang pamer, masih juga geleng-geleng kepala. “Kalau musik, saya masih ngerti… tapi urusan lukisan, saya benar-benar gak ngerti…,” katanya.

Dua menteri yang lain, satu di antaranya termasuk yang meminati “Peci Sukarno”. Sayang, dia kalah cepat. Akhirnya, dia memilih lukisan berjudul “Roro Jonggrang” (120 x 180). Seorang menteri lainnya, menjadi model lukisan demo melukis cepat Sohieb Toyaroja. Kurang lebih 10 menit, lukisan itu selesai…. Pak menteri tampak puas.

Nah, kembali ke mahakarya “Peci Sukarno”. Siapa gerangan kolektor yang jatuh hati pada pandangan pertama saat menatap sosok Bung Karno berpeci itu? Dia adalah Tedy Djuhar, Vice President Commissioner Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.

Di balkon galeri lantai dua Kunstkring Paleis, saya sempat berbincang hangat dengan promotor pameran yang juga sahabat saya, Ali Akbar, serta Sohieb Toyaroja sang pelukis. Kedua lelaki kelahiran Kediri ini, betapa pun sudah menghadirkan sebuah pameran lukisan yang “berbeda”. Sekitar 30-an lukisan yang terpampang, benar-benar bisa menghanyutkan siapa pun penikmatnya.

Hanyut dalam alam Indonesia Tempo Dulu…. Imagi menari-nari, ditingkah dominasi warna coklat dan sephia, melalui goresan-goresan palet yang eskpresif. Lebih dari segalanya, menurut saya, hampir semua karya Sohieb memancarkan aura. Kesimpulan saya hanya satu: Karya yang demikian, hanya lahir dari pelukis yang memiliki tingkat spiritualitas tinggi. (roso daras)