Calon Cover Buku ke-2… Pilih Mana?

Hari ini (21 Juli 2010), penerbit Etera mengirimkan dua alternatif cover buku “Bung Karno, The Other Stories 2, Serpihan Sejarah yang Tercecer. Dari dua alternatif, masing-masing dibuat dua versi, yang satu versi lukisan yang satu versi foto. Nah, ini versi yang pertama:

Desain sebelah kiri yang versi gambar, dan yang kanan versi foto. Selain perbedaan gambar dan foto, sekilas tidak ada perbedaan yang terlalu mencolok. Perbedaan-perbedaan kecil tampak di background cover, background judul, dan penempatan nama penulis. Kita beri saja penomoran 1a buat yang kiri dan 1b buat yang kanan.

Bagi yang sudah mengoleksi buku yang pertama, secara pewarnaan, ada kemiripan. Nah, berikut ini rencana desain cover kedua.

Desain yang kedua, sebut saja 2a (yang kiri/versi lukisan) dan 2b (yang kanan/versi foto). Dibanding desain yang pertama, perbedaan mencolok terletak pada background yang lebih terang. Penempatan judul di bagian atas buku juga memberi kesan pembeda dibanding versi yang pertama, maupun versi buku jilid ke-1. Secara umum, desain ini mengesankan “beda” dengan penampilan buku yang pertama. Benang merah kelanjutan ada di judul buku.

Saya pribadi suka yang 2b. Alasannya bisa saja subjektif. Karenanya saya tidak akan kemukakan di sini. Sebab, tujuan saya memosting rencana cover itu adalah untuk meminta komen, tanggapan dari Anda semua pengunjung blog setia ini. Bantu saya memilih cover buku yang insya Allah meluncur Oktober 2010. Terima kasih sebelumnya.

Merdeka !!! (roso daras)

Published in: on 21 Juli 2010 at 03:34  Comments (30)  
Tags: , ,

Bung Karno Vs Eisenhower

BK - Eisenhower

Sikap Bung Karno yang tegas dalam politik luar negeri, membuat Amerika Serikat tidak nyaman. Karena itu pula, dalam sejarah perjalanan bangsa di bawah kepemimpinan Bung Karno, hubungan Indonesia dan Amerika Serikat bisa dibilang tidak mesra. Pada dasarnya, Bung Karno sendiri anti kapitalisme-liberalisme, tapi dia juga bukan seorang komunis. Sukarno hanyalah seorang nasionalis, bahkan ultra nasionalis.

Dalam hubungan dishamonis antara Indonesia – Amerika Serika, tergambar dalam ketegangan hubungan antara Presiden Sukarno dan Presiden Dwight D. Eisenhower. Suatu hari di tahun 1960, Bung Karno diundang ke Washington. Tapi apa yang terjadi? Sesampai di Washington, Eisenhower tidak menyambutnya di lapangan terbang. Bung Karno cuma membatin, “Baiklah.” Bahkan ketika sampai di Gedung Putih, Eisenhower pun tidak menampakkan batang hidungnya. Untuk itu pun, Bung Karno masih membatin, “Baiklah.”

Akan tetapi, ketika Eisenhower membuat Bung Karno menunggu di luar, di ruang tunggu, menanti yang tak pasti, hati Bung Karno terbakar… “Keterlaluan,” gumam Bung Karno, geram. Tapi toh Bung Karno, sebagai tamu negar, dia masih bisa bersabar. Ketika satu jam hampir berlalu, habis sudah kesabaran Bung Karno. Ia segera menghampiri kepala protokol dan berkata tajam, “Apakah saya harus meunggu lebih lama lagi? Oleh karena, kalau harus begitu, saya akan berangkat sekarang juga!”

Kepala protokol itu pucat, dan memohon Bung Karno menahan barang satu-dua menit.  Sejurus kemudian, keluarlah Eisenhower. Sama sekali tidak ada permintaan maaf. Bahkan ketika mengiringkan Bung Karno masuk pun, tidak ada kata maaf dari Eisenhower kepada tamu negara dari Republik Indonesia, Sukarno.

Itu kali pertama Bung Karno merasakan penghinaan Eisenhower. Rupanya tidak berhenti di situ. Ada peristiwa kedua, yang dianggap Bung Karno merupakan penghinaan, yaitu ketika Eisenhower berkunjung ke Manila, Filipina, dan dia menolak untuk berkunjung ke Indonesia. “Boleh dikata dia sudah berada di tepi pagar rumahku, dia menolak mengunjungi Indonesia,” ujar Bung Karno, seperti dituturkan kepada Cindy Adams. (roso daras)