“Warisan Soekarno” di Three in One Kompas TV

three in one kompas tv

Program “Three in One” Kompas TV, sekilas, saya kutip dari website-nya adalah sebagai berikut:

“Melalui bincang-bincang hangat, kami menggali informasi dari beragam nara-sumber. Kami akan mengajak Anda untuk mengenal lebih dalam sosok-sosok yang selama ini hanya dikenal luarnya saja. Tokoh yang kami dekati seringlah terlihat di televisi dan bekerja dengan prestasi, hati nurani, bahkan hingga sekedar menjaga citra dan gengsi.

Bagaimana reaksi para tokoh tersebut jika kemudian ditanya mengenai hal yang paling sederhana hingga yang paling sensifit? Saksikan Three In One bersama Dentamira Kusuma (jurnalis), Tara De Thouars (psikolog), Kamidia Radisti (presenter).”

Tersebutlah seorang Asti Wulan dari Kompas TV berkirim email menyatakan niatnya ingin ngobrol seputar “warisan Soekarno”. Singkat kata, saya penuhi permintaan Aci –begitu ia akrab disapa. Suatu siang, saya pun terlibat bincang-bincang di “Kedai 63” Gedung Pers Pancasila, Palmerah, tak jauh dari markas Kompas TV. Aci bersama Dimas, mengajak diskusi tentang topik dan narasumber yang akan didatangkan untuk program “Warisan Soekarno”.

Terbersit niatan mendatangkan putra-putri dan cucu-cucu Bung Karno sebagai narasumber. Saya senang dan mengapresiasi setiap program (apa pun, di media mana pun) yang mengangkat topik Bung Karno. Karenanya, saya pun antusias memberi masukan.

Kewajiban sudah saya tunaikan. Plong rasanya. Hingga keesokan harinya, Aci menghubungi dan menyatakan, “Bang Ju meminta kesediaan Bang Roso sebagai salah satu narasumber.”

Yang disebut “Bang Ju” oleh Aci, tak lain adalah Julius Sumant. Saya mengenalnya ketika ia menggawangi program Mata Najwa di Metro TV. Setidaknya, dua kali “Bang Ju” ini meminta saya menatap mata indah si Najwa. Pertama dalam program Mercu Suar Bung Karno, dan kedua kronik seputar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Dua topik tadi, bersinggungan langsung dengan Bung Karno, karenanya saya antusias. Tetapi untuk program “Warisan Soekarno” dengan narasumber cucu-cucu dan anak Bunng Karno? “Enggak-lah… Coba kontak si A… atau si B….” Ya, saya mulanya memang keberatan. Pertama, janji awal, kita hanya ngobrol tentang konten program, sehingga tidak menjurus ke pendaulatan saya sebagai nara sumber. Yang kedua, berbicara trah, atau garis keturunan yang kedua atau ketiga, saya tidak terlalu tertarik, mengingat untuk “menyelami” Bung Karno saja saya masih terus belajar.

Apa daya, sejumlah calon narasumber yang lebih kompeten, sedang tidak berada di Jakarta. Saya pun meng-iya-kan request Bang Ju… setidaknya buat “pelengkap”… Maka, terkonfirmasilah narasumber siang itu adalah dua cucu Bung Karno: Puti Guntur Soekarno dan Romy Soekarno (putra Rachmawati). Narasumber ketiga adalah Totok Suryawan (putra Bung Karno dari Kartini Manopo), dan saya (yang kemudian di-label-i predikat Sukarnois).

Puti dan Romy yang berbicara di segmen awal, sungguh menarik. Bukan saja karena Puti memang cantik, dan Romy yang ngetop sebagai DJ papan atas, tetapi kombinasi busana nuansa merah saa itu, membuat suasana begitu hangat. Puti dengan kematangannya sebagai seorang trah ketiga Bung Karno, berbicara lugas tentang banyak hal terkait kakek, bapak, serta om dan tante-tantenya. Romy tak kurang menarik. Dia hadir menenteng busana kebesaran Bung Karno sebagai salah satu “benda” sakral yang diwarisinya dari sang kakek.

Sedangkan, mas Totok hadir membawa cerita kelahirannya di Jerman, dengan latar belakang kondisi Indonesia yang tak menentu. Sang ibu, terpaksa harus “menjauh” dari Indonesia demi keselamatan benih Bung Karno yang dikandungnya. Bukan hanya itu, mas Totok juga membawa dan menunjukkan foto-foto kenangan serta benda kenangan berupa pelat mobil “RI-1” dari salah satu mobil dinas Bung Karno.

Acara “Three in One” di Kompas TV, hadir setiap hari Selasa, pukul 22.00 WIB. Hingga tulisan ini diposting, Senin, 3 November 2014, belum didapat konfirmasi, kapan rekaman itu akan ditayangkan. (roso daras)

three in one kompas tv-2three in one kompas tv-3

Published in: on 3 November 2014 at 09:01  Comments (4)  
Tags: , , , , ,

Sekilas Puti Soekarno

Puti-RosoNama Puti Soekarno sudah berkibar di jagat politik Tanah Air. Sejak 2009, dia sudah duduk menjadi Wakil Rakyat dari Fraksi PDIP. Dia bertugas di Komisi X yang antara lain membidangi pendidikan, kepemudaan, dan olahraga. Sebagai kader partai opisisi, “suara” Puti memang kurang memekakkan telinga penguasa. Setidaknya, kalau ukurannya adalah frekuensi publikasi di media massa.

Buat saya, nama Puti bukanlah nama yang asing. Bukan karena sudah lama mengenalnya, lebih karena ia adalah putri tunggal dari “si sulung” Guntur Soekarnoputra. Namanya kemudian sayup-sayup hinggap ke telinga saya dalam nada yang positif. Jika lama kemudian tidak juga berkesempatan jumpa Puti, lebih karena tidak adanya kesempatan.

Adalah Kompas-TV yang kemudian memberi kesempatan saya jumpa Puti di Studio Orange, bilangan Palmerah Selatan, 30 Oktober 2014. Program mereka, “3 in 1”, siang itu membahas segmen “Warisan Soekarno”. Acara yang tayang setiap Selasa malam pukul 22.00 WIB itu, menghadirkan empat narasumber: Puti Soekarno, Romy Soekarno, Totok Suryawan, dan Roso Daras.

Rehat sejenak di ruang tunggu studio sebelum memulai taping, pertemuan saya dan Puti pun terjadi. Wanita bernama lengkap Puti Pramathana Puspa Seruni Paundrianagari Guntur Soekarnoputri itu, mengaku sudah “mengenal” saya. Bisa saya pastikan, yang dia maksud adalah “membaca blog” ini.

Betapa pun, kami merasa “sudah saling kenal”. Maka obrolan pun lekas mengalir, mulai dari isu politik, tentang buku Di Bawah Bendera Revolusi, concerrn Bung Karno terhadap dunia pendidikan, dan banyak lagi (untuk ukuran waktu yang tidak terlalu lama).

Puti-Roso-RomyDi ruang itu juga tampak Romy Soekarno. Dia adalah putra dari Rachmawati Soekarnoputri, dus sepupu Puti. Sedikit berbeda dengan Puti, Romy sejauh ini lebih dikenal sebagai seorang DJ (disk jockey) papan atas Indonesia. Sebagian lagi mengenal sebagai suami model Dona Harun. Ia datang membawa “warisan” yang benar-benar “warisan” kakeknya, yakni jas kebesaran Bung Karno berwarna hijau tua.

Romy dalam ingar-bingar Pilpres yang lalu, tampak pula berhimpun dengan Puti dan sepupu-sepupu yang lain dalam gerakan dukungan terhadap Jokowi – JK. Tentu saja, sikap itu berbeda dengan sikap sang ibu, Rachmawati yang justru memihak Prabowo Subianto. Ditanya ihwal afiliasi dan sikap politik yang berbeda, Romy hanya mesem dan berkata singkat, “No comment”.

Keengganan berkomentar tentang sikap politik Romy, bisa jadi karena di keluarga trah Sukarno, memang telah mendarah-daging hal-ihwal tentang demokrasi dan prinsip-prinsip menghargai perbedaan sebagai sebuah rahmat. Jika hingga hari ini Romy belum menerjunkan diri di bidang politik, bukan berarti Romy “a-politik”. “Tunggu saja,” begitu komentar singkat ketika ditanya, “apakah tidak tertarik terjun ke politik?”

Syahdan, menari-narilah sebuah bayangan, tentang cucu-cucu Bung Karno yang berkiprah di bidang politik. Sudah ada Puan Maharani, Puti Soekarnbo, Prananda (meski tidak mengemuka), menyusul kemudian Romy dan cucu-cucu Bung Karno yang lain. Baiknya kita jangan dulu bertanya ihwal “kapasitas”, karena mereka belum lagi memegang “lakon kunci”. (roso daras)

Published in: on 2 November 2014 at 06:22  Comments (2)  
Tags: , , ,