Amplop Merah Guntur Soekarnoputra

IMG-20160626-WA0057

Dalam usia 72 tahun (lahir 3 November 1944), putra sulung Bung Karno dari Fatmawati ini, masih tampak bugar. Hadir dalam acara ulang tahun putrinya, Puti Guntur Soekarno di Kemang Timur VI, Jakarta Selatan, Minggu 26 Juni 2016 lalu, Guntur Soekarnoputra menjadi ayah yang turut berbahagia bagi putrinya.

Apalagi, perayaan ulang tahun yang dibarengkan dengan momen buka bersama anak-anak yatim piatu itu, juga mendapat perhatian kerabat dan handai taulan. Dari lingkungan keluarga, tampak hadir Guruh Soekarnoputra, Puan Maharani, Prananda, dan banyak lainnya. Kolega Guntur, seperti Anwar Nasution, Tito Karnavian (Kapolri terpilih), dan masih banyak lainnya, seperti rekan seperjuangan PDI-P, maupun jajaran koleganya di DPR RI. Tak ketinggalan, sahabat-sahabat UI juga tampak memeriahkan suasana.

Momentum sowan dan “ngangsu kaweruh” kepada Guntur menjadi keharusan, kukira. Alhasil, dengan tidak memanjakan perut melalui aneka hidangan lezat, maka berbicara dengan Guntur jauh lebih “mengenyangkan”. Topik “warisan ilmu Sukarnoisme” kepada sang putri, saya pilih, dan kukira pas dalam momentum malam itu.

“Saya ralatif jarang memberi wejangan (tentang ajaran Sukarno) kepada Puti. Yang saya lakukan adalah dengan menulis. Tulisan-tulisan itu secara berkala saya kirimkan kepada Puti dan suaminya, Joey,” kata Guntur membuka narasi.

Guntur menulis apa saja yang dianggapnya perlu dan layak diketahui sang putri. Baik terkait materi buku Di Bawa Bendera Revolusi, maupun ajaran-ajaran bapaknya yang lain. Dengan menulis, kata Guntur, petuah, wejangan, atau apa pun tulisan itu diberi nama, menjadi lebih abadi, dan bisa dibaca berulang-ulang. Dengan menulis pula, segala yang hendak dikemukakan, menjadi lebih terstruktur.

Yang unik barangkali, naskah-naskah tulisan Guntur kepada Puti dan Joey, selalu ia kirimkan dalam kemasan amplop berwarna merah. “Belakangan baru saya tahu, atas tulisan-tulisan saya yang saya kirimkan selama ini, mereka (Puti dan Joey) namakan ‘amplop merah dari papa’… he…he…he… Terserah mereka saja….,” ujar Guntur dengan wajah sumringah.

Materi apa saja yang Guntur tuliskan? Ada banyak. Soal demokrasi Pancasila… soal Pancasila itu sendiri, soal revolusi, sosialisme, dan beberapa topik lain…. “Ada berapa banyak Mas Tok menulis untuk Puti?” sergah saya, dan sambil menerawang, Guntur menukas, “Yaaa… mungkin belasan… tidak ingat saya….” (roso daras)

Published in: on 28 Juni 2016 at 16:23  Comments (6)  
Tags: , , ,

Puti Guntur Soekarno tentang Kartini

Sidang pembaca blog yang mulia… spesial hari Kartini, saya sajikan tulisan Puti Guntur Soekarno. Sarjana FISIP UI ini memandang “Kartini” dari perspektif “Sarinah”, ini sudut pandang yang sangat menarik. Sekalipun, judulnya kurang menarik: “Jadilah Perempuan Sejati Indonesia”…. Selamat merenungkan hari Kartini….

Man works from rise to set of sun

Women’s work is never done

–Syair Inggris  

pgsDari sekian surat korespondensi Kartini dengan Abendanon, saya terkesan pada satu surat dengan kalimat: “Saya mohon kepada Anda untuk memberikan kesempatan bagi kaum perempuan pribumi untuk mendapatkan pendidikan dan pengetahuan, bukan dalam rangka untuk menyaingi kaum laki-laki, melainkan untuk lebih menyempurnakan perannya pada peradaban”.

Untaian kalimat itu memberi pelita bagi gerakan perempuan dan emansipasi di Indonesia. Kesetaraan gender  telah menjadi konsumsi publik, kadang dimaknai sebagai kehendak atas persamaan hak antara kaum laki-laki dan perempuan (egalitarian). Namun sesungguhnya pelita itu turut menyempurnaan hadirnya peran perempuan pada peradaban (emansipatoris), sebuah tahapan yang lebih tinggi lagi dari persamaan. Gerakan emansipatoris memberi terang jalan bagi peran perjuangan kaum perempuan untuk dalam pembangunan bangsa Indonesia. Alhasil saat ini kita kaum perempuan dapat menikmati pengakuan dan pemenuhan hak-hak atas jabatan di pemerintahan yang setara dengan kaum laki-laki. Kuota wakil rakyat dari unsur perempuan dihormati. Bahkan kami bersyukur bangsa Indonesia mampu menunjukkan kepada dunia bahwa perempuan mampu menjadi pemimpin negara yaitu saat Ibu Megawati Soekarnoputri menjadi orang nomor satu di Indonesia sebagai Presiden perempuan pertama di Indonesia.

Puncak jabatan yang bisa didaki dan digapai kaum perempuan, sejatinya bukanlah esensi perjuangan Kartini. Kehendak agar perempuan mendapatkan pendidikan dan pengetahuan, diutamakan bukan untuk menyaingi kaum laki-laki, akan tetapi lebih untuk menyempurnakan perannya pada peradaban dan kemajuan bangsa dan negara Indonesia. Kemuliaan kalimat inilah yang –suka-tidak-suka—acap ditafsir secara keliru.

Pemaknaan Hari Kartini bukan lagi kepada hakikat “penyempurnaan peran perempuan pada peradaban”, melainkan pada aktivitas seremonial. Kajian ilmiah atas statistik angka perempuan yang berpendidikan dan berpengetahuan, disandingkan dengan perannya pada peradaban bangsa, menjadi tidak lagi terukur. Bukankah itu pesan moral dari surat-surat Kartini? Celakanya, ketiadaan guideline atas peran perempuan pada peradaban bangsa tadi, menjadikan peringatan hari Kartini dari tahun ke tahun, perlu pencerahan kembali. Kita tidak lagi heran mendengar seorang anak atau remaja melempar jawab, “Hari berkebaya”, ketika ditanya, “Apa makna hari Kartini bagimu?” Itulah yang terjadi, manakala bangsa ini meninggalkan sejarah. Padahal, Bung Karno sejatinya sudah melakukan kajian mendalam atas surat-surat Kartini, kemudian menurunkannya dalam enam buah artikel tentang perempuan Indonesia dalam buku berjudul “Sarinah”.

Catatan-catatan Sukarno tentang perempuan itu, bahkan sudah dijadikan bahan ajar dalam kursus-kursus perempuan di awal kemerdekaan. Buku Sarinah terbit pertama kali tahun 1947, itu terdiri atas 6 bab, setebal 329 halaman. Bab 1 – Soal Perempuan; Bab 2 – Laki-laki dan Perempuan; Bab 3 – Dari Gua ke Kota; Bab 4 – Martiarchart dan Patriarchat; Bab 5 – Wanita Bergerak; dan Bab 6 – Sarinah dalam Perjoangan Republik Indonesia.

Buku Sarinah karya Bung Karno adalah lampu pijar bagi bangsa ini untuk memahami posisi kaum perempuan Indonesia. Bung Karno berupaya mengungkapkan makna kemerdekaan dan kesetaraan perempuan “ala” Indonesia, bukan yang lain. Bung Besar menentang keras pergerakan feminisme Eropa yang menurutnya, “Mau menyamaratakan saja perempuan dengan laki-laki” (hal. 11). Ia lebih mendukung gagasan Ki Hadjar Dewantara yang mengingatkan agar bangsa Indonesia tidak tergesa-gesa meniru cara modern atau cara Eropa, meski jangan pula terikat oleh paham konservatif, melainkan “Mencocokkan segala hal sesuai dengan kodratnya”. Bagi Bung Karno, berbicara tentang kesetaraan perempuan maka bicara kesetaraan dalam segala aspek, namun juga tidak berarti sekaligus menyamaratakan perempuan begitu saja dengan laki-laki. Bahkan Bung Karno pun mengajak laki-laki untuk memikirkan persoalan persoalan perempuan yang saat ini juga dikampanyekan gerakan perempuan dengan istilah (male participation).

Harapan kita ada sebuah gerakan yang tidak hanya berbunyi setahun sekali, tetapi menjadi pergerakan kaum perempuan dalam membangun Indonesia. Kita tidak bisa hanya berpuas karena perempuan Indonesia sudah mengeyam pendidikan tinggi,  sudah tidak terkungkung lalu selesailah persoalan perempuan. Penghancuran identitas dan martabat perempuan akibat pengaruh ekonomi, politik dan budaya sampai hari ini tetap ada. Dengan demikian, peringatan Hari Kartini tidak sekadar parade perempuan berkebaya. Lebih dari itu, ada grafik yang terukur tentang peran perempuan terdidik dalam membangun peradaban bangsa di tengah tamansarinya peradaban dunia. Itulah sejatinya perempuan  Indonesia. ***

Jakarta, 21 April 2016

Puti Guntur Soekarno