Permadi dan “400 Satrio Piningit”

Permadi SHPermadi SH adalah sosok yang unik. Setidaknya, dilihat dari sisi “julukan”. Pada diri lelaki asal Semarang itu, setidaknya melekat tiga julukan. Ia bisa dijuluki sebagai aktivis, mengingat untuk sekian lama Permadi malang-melintang sebagai Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). Pemadi juga dikenal sebagai paranormal. Dari tahun 80-an, Permadi sudah bercokol sebagai salah satu tokoh paranormal nasional. Sekitar tahun 1985, dia dan kawan-kawan pernah memprakarsai “seminar tuyul” di Semarang.

Predikat ketiga adalah Permadi sebagai seorang politisi. Sejak bergabung dengan PDI Perjuangan, kiprahnya cukup mengesankan. Sebagai anggota dewan, dia cukup vokal. Karenanya, acap berbenturan dengan eksekutif, bahkan sesame anggota dewan, terlebih sesama kader PDIP. Dia bahkan mengaku pernah berkonflik dengan Megawati Soekarnoputri, sekalipun keduanya sangat dekat.

“Kurang dekat gimana… tengah malam dia sering menelepon saya, meminta datang ke rumahnya, lalu dia curhat sambil nangis,” ujar Permadi sambil tersenyum, “dan itu tidak hanya sekali,” tambahnya.

Belakangan, dia bahkan memutuskan keluar dari DPR RI, keluar pula dari PDI Perjuangan. Kini, dia malah bercokol sebagai salah satu anggota dewan Pembina DPP Partai Gerindra pimpinan Prabowo Subianto. “Saya masuk Gerindra karena diminta  oleh Prabowo. Meski banyak masukan saya tidak dipakai, saya ya bertahan. Kecuali Prabowo memecat saya dari Gerindra, baru saya keluar,” katanya.

Nah, itu sekilas tentang Permadi. Lebih dalam tentang ketiga julukan yang melekat pada dirinya, ternyata tersimpan banyak sekali cerita menarik. Bahkan sangat menarik. “Makanya saya ingin membukukan. Tapi saya inginnya menerbitkan sepuluh buku sekaligus, karena memang sangat banyak dan beragam temanya,” ujar Permadi pula.

Salah satu yang menarik adalah ketika berbicara tentang “satrio piningit”. Permadi mengaku, selama ini dia telah menerima sedikitnya 400 (empat ratus) orang tamu yang mengaku sebagai satrio piningit, titisan Bung Karno. “Setiap menerima mereka, saya selalu tes, apakah bisa ‘mendatangkan’ Bung Karno di hadapan saya. Ternyata banyak yang palsu, hanya mengaku-aku, kecuali satu. Ya, hanya ada satu yang benar-benar memuaskan saya,” kata Permadi.

Sang “satrio piningit” yang satu itu, ketika diminta ‘menghadirkan’ Bung Karno, lebih dari itu, bahkan bisa ‘menghadirkan’ Raja Brawijaya. “Saya berdialog dengan Brawijaya, juga Bung Karno. Saya puas. Karena saya rasa, yang ’hadir’ benar-benar Bung Karno. Dia bisa menjawab semua pertanyaan saya dengan sangat memuaskan. Berbeda dengan satrio piningit ‘gadungan’ lainnya, yang sangat mengecewakan,” ujar Permadi.

Apa saja yang ia dialogkan dengan “Bung Karno”? Permadi menjawab, “Banyak hal. Mulai dari soal ideologi sampai wanita, ha…ha…ha…,” katanya sambil tertawa. Bahkan dia juga mengonsultasikan ihwal julukan yang ia pakai, “penyambung lidah Bung Karno”. Atas predikat itu, Bung Karno pada prinsipnya merestui. (roso daras)

Tak Mudah Jadi Penyambung Lidah

Permadi dan Roso Daras

Sebuah kehormatan, manakala melihat layar HP muncul “incoming call” dari Permadi SH. Sosok nasionalis yang mendeklarasikan diri sebagai “Penyambung Lidah Bung Karno”. Sebagai wartawan, setidaknya dua kali saya bersinggungan dengan beliau. Pertama sekitar tahun 1995 di Semarang, dalam forum “Seminar Tuyul”. Ketika itu, Permadi dalam kapasitas sebagai parapsikologi atau paranormal. Kedua, di Bali, dalam forum simposium raja-raja Nusantara tahun 2000-an.

Dalam dua persinggungan itu pun, sama sekali tidak pernah bersoal-jawab tentang Bung Karno. Itu artinya, intensitasnya pun sebatas dia narasumber, dan saya reporter. Tidak lebih dari itu. Bahwa Permadi SH menyebut dirinya “Penyambung Lidah Bung Karno”, saya sudah lama tahu. Akan tetapi karena tidak pernah bersinggungan dalam konteks Putra Sang Fajar, maka sebenarnya, secara batiniah saya tidak memiliki hubungan emosional dengan Permadi SH.

Karenanya, ketika dia menelepon dan mengajak bertemu untuk bersoal-jawab tentang Bung Karno, rasanya sangat menyenangkan. “Akhirnya saya berkesempatan bertemu Permadi dan berbicara tentang Bung Karno,” begitu batin saya, senang.

Kesepakatan waktu pun ditentukan, hari Jumat, 5 Juli 2013 di kantornya, DPP Gerindra, tak jauh dari kebun binatang Ragunan, Jakarta Selatan. Ya, sejak keluar dari PDI Perjuangan, Permadi bergabung dengan Gerindra, dan menduduki kursi salah satu Dewan Pembina. Saya pun meluncur ke sana. Saya pun menyiapkan mental hanya untuk berbicara tentang Bung Karno. Terlebih saya bukan kader Gerindra, dan bukan kader parpol mana pun! “Saya kader ideologis Bung Karno… ha…ha…ha….,” canda saya dalam hati.

Singkat kalimat, Permadi membuka dialog itu dengan mengkritik buku “Total Bung Karno”. Yang dia kritik bukan substansi, melainkan format penyajian, yang menurutnya terlalu lompat-lompat. Saran dia, sebaiknya diurutkan sejak Bung Karno kecil hingga wafatnya. Saya sepenuhnya menerima kritik Permadi. Kalau toh ada yang harus saya klarifikasi hanya persoalan teknis. Bahwa buku Total Bung Karno bukan biografi, melainkan kumpulan tulisan-tulisan yang ada dalam blog ini. Itu artinya, sifat tulisan lebih menyerupai fragmen. Sajian tulisan-tulisan pendek yang bersifat selesai.

Pembicaraan pun bergulir bak bola liar. Jika saya simpulkan, pembicaraan pertama dengan Permadi (yang membahas tentang Bung Karno), dimulai dari sejarah Bung Karno, dilanjut hal-hal spiritual tentang Bung Karno, kemudian kegelisahan Permadi melihat nasib bangsa dilengkapi prediksinya tentang masa depan Indonesia, lantas ada juga bahasan tentang niat menerbitkan kumpulan tulisannya, dan lain-lain.

Sangat menarik. Karena banyak hal baru yang saya dapat dari Permadi SH.  Persoalannya, saya tidak atau belum permisi kepada beliau tentang boleh-tidaknya saya share di sini. Jika ada kesempatan berkomunikasi lagi, saya akan meminta izin beliau untuk berbagi cerita tentang Bung Karno, tentang istri-istri Bung Karno, tentang anak-anak Bung Karno, tentang Pak Harto, bu Tien dan putra-putrinya, tentang jenderal-jenderal Orba, hingga alam spiritual Bung Karno, Brawijaya, dan Gajah Mada dan kisah-kisah unik tentang betapa “tidak mudah menjadi penyambung lidah (Bung Karno)”. (roso daras)

 

Published in: on 5 Juli 2013 at 08:29  Comments (3)  
Tags: , ,

Doni, “Penjual Bung Karno”

Siang terik di kawasan Saharjo, Jakarta Selatan, ketika saya mampir di kedai bung Doni, baru-baru ini. Kedai yang terletak menjelang simpang Jalan Minangkabau itu, masih sama seperti tahun 2005, saat pertama kali Doni menggelar dagangannya. Di kedai sederhana berukuran sekitar 2 x 3 meter itulah Doni setia “berjualan Bung Karno”.

“Di sini sejak tahun 2005. Tetapi saya menjual poster-poster Bung Karno dari tahun 80-an. Pernah di Tebet, pernah di Tangerang… pokoknya pindah-pindah,” ujar ayah enam orang anak ini.

Enam anaknya, dibesarkan dan disekolahkan dari hasil “menjual Bung Karno”. “Walaupun sudah wafat, Bung Karno masih bisa menghidupi keluarga saya,” katanya, bangga. Yang dia maksud adalah, sekalipun Bung Karno sudah tiada, tetapi poster-posternya masih diburu orang. Masih banyak yang meminati, mengoleksi, bahkan menjadikannya sebagai souvenir.

“Pak Permadi cukup sering mampir. Beliau kalau beli poster bisa lima sekaligus. Katanya buat souvenir…,” kata Doni. Bukan hanya Permadi SH, tokoh paranormal yang dikenal sebagai “penyambung lidah Bung Karno”, masih banyak tokoh nasionalis lain yang akrab dengan kedai Doni. “Saya bangga bisa bertemu tokoh-tokoh, anggota DPR, bahkan dengan bu Rachmawati. Waktu pameran foto Bung Karno di TIM, bu Rachma membeli satu,” tutur Doni pula.

Poster-poster Bung Karno, dia dapat dari hasil hunting ke berbagai daerah. Dari sana, kemudian ia cetak ulang, bahkan diperbesar, kemudian dibingkai. Untuk mencari poster Bung Karno, tak jarang Doni melakukannya hingga keluar Jawa.

Dari ketekunannya “menjual Bung Karno”, Doni sudah beberapa kali menjadi objek tulisan suratkabar, bahkan diliput sejumlah stasiun televisi. Mungkin karena itu juga, dibanding para “penjual Bung Karno” yang lain, nama dan wajah Doni relatif yang paling familiar.

Sejatinya, ada banyak “penjual Bung Karno” yang lain. Di Semarang Utara misalnya (saya lupa nama jalannya), ada satu kios yang dimiliki warga keturunan Cina, juga menjual poster-poster Bung Karno. Bahkan di sana, jika sedang beruntung, kita bisa mendapatkan koleksi foto asli, bukan hasil repro. Harganya bisa jutaan rupiah.

Masih banyak lainnya. Termasuk di salah satu kios di dalam pengapnya pasar tradisional Kebumen selatan. Di Surabaya, di Denpasar, di Bengkulu, di Medan, … ratusan tempat lain bisa saya deret di sini. Maka kesimpulan saya, Bung Karno benar-benar masih “hidup” dalam sanubari rakyat Indonesia.

Tinggallah sebuah renungan, “mengagumi saja terkadang tidak cukup!” (roso daras)

Published in: on 16 Oktober 2011 at 01:51  Comments (8)  
Tags: , ,