Cinta Bung Karno di Bumi Ende

Riwu Ga di LadangIni adalah sepenggal kisah di tahun 1934, ketika Bung Karno dibuang penjajah Belanda ke bumi Ende. Akan tetapi, bukan kisah cinta dalam arti asmara antara Bung Karno dengan seorang gadis. Ini adalah sepenggal rasa cinta yang disemai Bung Karno kepada rakyat Ende, sehingga “Orang Jawa” –begitu Bung Karno disebut masyarakat lokal– bisa segera mendapat balasan cinta rakyat setempat.

Ada begitu banyak nama yang melekat di hati Sukarno. Mereka terdiri atas para pembantu, para pemain sandiwara (tonil) Kelimutu yang didirikan Bung Karno… bahkan rakyat di luar pulau Ende, seperti Pulau Sabu, tempat seorang lelaki bernama Riwu Ga dilahirkan. Bung Karno memanggil Riwu Ga dengan panggilan pendek, “Wo”.

Dalam buku karya Peter A. Rohi, “Kako Lami Angalai?” Riwu Ga mengisahkan awal mula perkenalannya dengan Bung Karno. Dikisahkan, Riwu adalah penjaja kue keliling, hingga di suatu senja tatkala ia melintas di kediaman “keluarga Jawa”, terdengar suara perempuan memanggil, “Kue… kue…” Riwu berhenti, menoleh, tampaklah gadis kecil berkulit kuning bersih, yang belakangan Riwu kenal bernama Ratna Juami, anak angkat pasangan Bung Karno – Inggit Garnasih, yang biasa dipanggil “Omi”.

Sejurus kemudian, keluar perempuan cantik… dialah Inggit. Keduanya membeli dua potong pisang goreng yang dijajakan Riwu. Belum habis pisang dimakan, Inggit menatap tajam ke arah Ribu dan berkata, “Maukah anak bekerja dengan kami? Maukah anak tinggal dengan kami?”

Riwu muda (usianya baru 16 tahun), sangat kaget demi mendapat tawaran itu. Belum hilang rasa kaget yang tampak dari ekspresi muka terkejut Riwu, Ibu Inggit bertanya lagi, “Anak mau tinggal bersama kami? Kalau mau, anak akan dapat satu rupiah sebulan.”

Itu gaji yang besar, pikir Riwu. Bayangkan, harga satu kilogram beras waktu itu hanya dua sen. Sedangkan gajinya, ekuivalen 100 sen. Tanpa sadar, benar-benar di luar kesadarannya, Riwu mengangguk. Tapi ketika ia sadar, ia mengangguk lebih dalam. Meski begitu, bukan angka 1 rupiah yang mendorongnya menyetujui tawaran Inggit, tapi lebih didorong rasa bangga bisa bekerja pada keluarga “orang Jawa” yang sangat berwibawa itu.

Riwu segera berlari pulang, membawa sisa jajanan kue yang belum habis terjual. Ia minta izin Gadi Walu, kakak sepupu yang membawanya dari Pulau Sabu ke Ende. Ternyata, ia mendapat restu. Bukan hanya restu Gadi Walu, tetapi restu keluarga besar. Mereka bangga Riwu dipercaya menjadi pembantu di keluarga Bung Karno yang dikenal sebagai tokoh yang anti-Belanda. Sikap anti yang sama, yang mengalir pada darah sebagian besar masyarakat Ende sebenarnya.

Hari-hari berikut, Riwu menjadi pesuruh yang sangat taat kepada Bung Karno, Ibu Inggit, dan keluarganya. Pengabdian Riwu begitu total, sehingga Bung Karno pun mempercayainya secara total. Kepercayaan itu ditunjukkan Bung Karno ketika peran Riwu tidak saja menjadi pembantu, tetapi sekaligus pengawal Bung Karno.

Benar. Tidak lama berselang, “Tidak sekali pun Bung Karno melangkah lebih dari dua meter tanpa pengawalan dari saya.” Begitu Riwu mengilustrasikan betapa ia mempertaruhkan hidupnya untuk berada di dekat Bung Karno, ke mana pun Bung Karno berurusan. Kisah itu berlanjut sampai ke pembuangan berikutnya di Bengkulu, bahkan sampai ke Jakarta hingga proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia dikumandangkan pada 17 Agustus 1945.

Tentang Bengkulu, ia mencatat banyak sekali peristiwa dramatik. Tentang proklamasi, ia pun memiliki kisah lain yang sungguh heroik. Riwu, selama 14 tahun menjadi orang dekat, dekat, sangat dekat dengan Bung Karno. (roso daras)

Published in: on 25 Juni 2009 at 03:56  Comments (3)  
Tags: , , , ,

Riwu Ga, Pembantu Sekaligus Pengawal Bung Karno

Buku Riwu GaTahun 30-an, ketika Bung Karno dibuang ke Ende, Nusa Tenggara Timur, tersebutlah satu nama, yang kemudian akan menjadi orang penting dalam sejarah berdirinya Republik Indonesia. Orang itu bernama Riwu Ga. Dialah yang kemudian dikenal sebagai pembantu sekaligus pengawal Bung Karno, sejak tahun 30-an sampai tahun 1945.

Kurang lebih 14 tahun lamanya Riwu mendampingi Bung Karno dalam segala suka dan duka. Ia menjadi pesuruh, menjadi pengawal, sekaligus menjadi pelakon dalam lakon-lakon tonil karya Bung Karno. Ya… Bung Karno memang seorang seniman sejati. Di Ende, ia membentuk grup kesenian tonil, sejenis kelompok sandiwara yang diberi nam Kelimutu. Nah, Riwu juga termasuk salah satu aktor.

Sosok Riwu Ga, diungkap cukup tuntas oleh wartawan senior, sekaligus sahabat saya, Peter A. Rohi dalam sebuah buku “Riwu Ga, 14 Tahun Mengenal Bung Karno, Kako Lami Angalai?”.  Pada salah satu bagian buku, yang mengisahkan kesenimanan Bung Karno, juga memuat naskah asli karya Bung Karno yang tersimpan rapi di tangan Rachmawati. Dan, atas seizin Rachmawati pula, lakon-lakon tonil karya Bung Karno di-publish oleh Peter A. Rohi.

Selain menulis naskah tonil, Bung Karno pula yang melukis latar belakang (setting) panggung dengan cat warna seadanya. Begitulah totalitas Sukarno dalam kesenian tonil. Ia penulis cerita, sutradara, sekaligus penata panggung. Kesemuanya itu dilakukan Bung Karno untuk membunuh waktu, mengusir kejemuan hidup di pengasingan.

Buku setebal 140-an halaman ini, sangat menarik. Bukan saja berisi reportase Peter A. Rohi sebagai wartawan, tetapi substansinya yang mendalam. Betapa Bung Karno begitu dekat dengan orang kecil bernama Riwu Ga. Dan, betapa Bung Karno memberi kepercayaan yang begitu besar untuk membantu, menjaga, sekaligus mengawal pada masa-masa pra kemerdekaan. Nama Riwu Ga “hilang” setelah 17 Agustus 1945. Tugas pengawalan kemudian diambil alih oleh sejumlah putra bangsa. Sementara, Riwu, memilih pulang ke pedalaman pulau Timor dan hidup bertani hingga ajal menjemput.

Pada kesempatan lain, akan saya posting lebih dalam tentang sosok Riwu Ga, sebagai bagian tak terpisahkan dari sosok Bung Karno. (roso daras)

Published in: on 19 Juni 2009 at 07:38  Comments (4)  
Tags: , , ,