PBB Perempuan, Luns Pembohong, Herter Diam

Tahun 1960 Bung Karno angkat bicara di forum Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Di situ, untuk kesekian kalinya Bung Karno menyoal Irian Barat yang masih saja dikangkangi Belanda. Karenanya, Bung Karno begitu geram dan meluapkan ihwal kehabisan kesabarannya dan mengancam akan menghentikan perundingan dan mengarahkan meriam untuk mengusir Belanda dari bumi Irian Barat.

Bung Karno layak geram. Bayangkan, pembicaraan sudah dilakukan tahun 1950. Keputusan ketika itu Belanda menjanjikan untuk menuntaskan persoalan Irian “dalam jangka satu tahun”. Menteri Luar Negeri Belanda, Joseph Marie Antoine Hubert Luns, CH atau yang akrab disapa Joseph Luns, berbual, “Negeri Belanda bersedia mendekolonisir Nieuw Guinea dan memutuskan untuk menyerahkan hak sepenuhnya kepada warga Irian Barat untuk berada pada status yang ada saat itu, ataukah ingin berdiri sendiri, atau bergabung dengan Republik Indonesia. Kami orang Belanda tidak akan campur tangan. Kami berjanji”.

Bagi kita, bangsa Indonesia, janji-janji Belanda bukan hal baru. Sudah banyak janji yang kemudian dilanggarnya sendiri. Atas janji-janji itu pula, Bung Karno tidak sedikit menuai dampak buruk, seperti diasingkan, dibom, disobek-sobek. “Karenanya, aku menolak keras tawarannya,” ujar Bung Karno.

Dalam situasi memanas cenderung buntu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Christian A. Herter mendatangi Bung Karno di forum PBB itu dan menyarankan untuk membincangkan masalah Irian Barat kembali. “Tuan!” sergah Bung Karno, “Pada waktu kami mendakwa negeri Belanda melakukan penjajahan di Irian Barat, dia menuduh kami pembohong di hadapan Sidang Umum PBB. Akan tetapi baru saja kemarin Menteri Luar Negeri Luns mengemukakan, bahwa Negeri Belanda akan ‘bergembira’ untuk melepaskan penjajahan di Irian Barat.”

Bukan hanya itu, Bung Karno menegaskannya sekali lagi, “Mula-mula Belanda menolak bahwa daerah itu dijajahnya, sekarang dia berteriak lagi akan melepaskan penjajahannya di sana.”

Tidak puas meradang kepada Menlu Belanda dan Menlu Amerika Serikat, Bung Karno kemudian melayangkan amarahnya kepada PBB yang dikatakannya seperti seorang perempuan tua yang sudah tidak berguna lagi. Kepada Herter Bung Karno lantang berkata, “Kami meminta kepada Sekretaris Jenderal PBB untuk memasukkan persoalan ini ke dalam agenda PBB, di tahun 1954. Sengketa ini dibicarakan. Tidak terjadi apa-apa. Kemudian diulang lagi di tahun 1955, 1956, 1957… pendeknya setiap tahun. Harap disampaikan kepada pemerintah Tuan, bahwa kami tidak berniat hendak menaklukkan salah satu bagian dari dunia yang bukan kepunyaan kami. Saya bukan ekspasionis. Akan tetapi sekarang saya terpaksa memulai politik kekerasan!”

Herter termenung mendengar rentetan “ceramah” Bung Karno. Lebih berkernyit dahinya, mendengar kalimat Bung Karno selanjutnya. “…Tidak ada jalan lain lagi supaya Old Established Forces tahu siapa Indonesia. Tidak lagi kami akan berdiskusi. Mulai dari saat ini kami menjawab dengan meriam!”

Ditambahkannya, “Dengan menghentikan segala macam perundingan, kami menempatkan tentara di sekitar wilayah tersebut. Dia kali pesawat U-17 terbang melampuai wilayah Irian, akan tetapi aku memerintahkan ‘jangan menembak’. Mereka selalu mengejek Sukarno sebagai pembual besar. Nah, perlihatkanlah kepada mereka bahwa kekuatan tentara kita sedang mengepung Irian dan armada di laut siap untuk menyerang dan konsentrasi pasukan tinggal menunggu perintah saja untuk bergerak. Biarkan mereka melaporkan, bahwa Sukarno tidak hanya bicara dengan mulut, tetapi juga berbicara dengan meriam dan sudah siap pergi berperang!” (roso daras)

Published in: on 4 Februari 2011 at 05:21  Comments (4)  
Tags: , , , ,

Bung Karno “Hobi” Berteriak

Berulang-kali dokter pribadinya memberi nasihat kepada Bung Karno. Ini terkait dengan sakit ginjalnya, yakin makin para di akhir tahun 60-an. “Kalau Bapak bisa tenang sedikit, dan tidak berteriak-teriak, niscaya Bapak tidak akan mendapat ulcers.” Yang dimaksud dokter adalah peradangan pada lambung akibat sakit ginjalnya itu. Baru saja dokter berhenti memberikan nasihatnya, Bung Karno meradang dan berteriak, “Bagaimana aku bisa tenang kalau setiap lima menit menerima kabar buruk?”

Berteriak adalah “hobi” Sukarno.  Ia berteriak untuk memberi semangat rakyatnya. Ia berteriak juga untuk mengganyang musuh-musuh negara. Jika konteksnya adalah membakar semangat rakyat, maka Bung Karno adalah seorang orator ulung. Bahkan paling unggul pada zamannya. Sebaliknya, jika ia berteriak karena terinjak dan teraniaya harga dirinya sebagai presiden dan kepala negara, maka Sukarno adalah presiden paling berani yang pernah hidup di atas bumi ini.

“Inggris kita linggis! Amerika kita setrika!”, atau “Go to hell with your aid” yang ditujukan kepada Amerika.

“Malaysia kita ganyang. Hajar cecunguk Malayan itu! Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu”, yang ini saat Indonesia berkonfrontasi dengan di negara boneka bernama Malaysia.

Bukan hanya itu. Organisasi dunia yang bernama Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pun pernah dilawan. Tanggal 20 Januari 1965, Bung Karno menarik Indonesia dari keanggotaan PBB. Ini karena ketidak-becusan PBB dalam menangani persoalan anggota-anggotanya, termasuk dalam kaitan konflik Indonesia – Malaysia. Ada enam alasan yang tak bisa dibantah siapa pun, termasuk Sekjen PBB sendiri, yang menjadi dasar Indonesia menarik diri dari keanggotaan PBB.

Pertama, soal kedudukan PBB di Amerika Serikat. Bung Karno mengkritik, dalam suasana perang dingin Amerika Serikat dan Uni Sovyet lengkap dengan perang urat syaraf yang terjadi, maka tidak sepatutnya markas PBB justru berada di salah satu negara pelaku perang dingin tersebut. Bung Karno mengusulkan agar PBB bermarkas di Jenewa, atau di Asia, Afrika, atau daerah netral lain di luar blok Amerika dan Sovyet.

Kedua, PBB yang lahir pasca perang dunia kedua, dimaksudkan untuk bisa menyelesaikan pertikaian antarnegara secara cepat dan menentukan. Akan tetapi yang terjadi justru PBB selalu tegang dan lamban dalam menyikapi konflik antar negara. Indonesia mengalami dua kali, yakni saat pembebasan Irian Barat, dan Malaysia. Dalam kedua perkara itu, PBB tidak membawa penyelesaian, kecuali hanya menjadi medan perdebatan. Selain itu, pasca perang dunia II, banyak negara baru, yang baru saja terbebas dari penderitaan penjajahan, tetapi faktanya dalam piagam-piagam yang dilahirkan maupun dalam preambule-nya, tidak pernah menyebut perkataan kolonialisme. Singkatnya, PBB tidak menempatkan negara-negara yang baru merdeka secara proporsional.

Ketiga, Organisasi dan keanggotaan Dewan Keamanan mencerminkan peta ekonomi, militer dan kekuatan tahun 1945, tidak mencerminkan bangkitnya negara-negara sosialis serta munculnya perkembangan cepat kemerdekaan negara-negara di Asia dan Afrika. Mereka tidak diakomodir karena hak veto hanya milik Amerika, Inggris, Rusia, Perancis, dan Taiwan. Kondisi yang tidak aktual lagi, tetapi tidak ada satu orang pun yang berusaha bergerak mengubahnya.

Keempat, soal sekretariat yang selalu dipegang kepala staf berkebangsaan Amerika. Tidak heran jika hasil kebijakannya banyak mengakomodasi kepentingan Barat, setidaknya menggunakan sistem Barat. Bung Karno tidak dapat menunjung tinggi sistem itu dengan dasar, “Imperialisme dan kolonialisme adalah anak kandung dari sistem Negara Barat. Seperti halnya mayoritas anggota PBB, aku benci imperialisme dan aku jijik pada kolonialisme.”

Kelima, Bung Karno menganggap PBB keblinger dengan menolak perwakilan Cina, sementara di Dewan Keamanan duduk Taiwan yang tidak diakui oleh Indonesia. Di mata Bung Karno, “Dengan mengesampingkan bangsa yang besar, bangsa yang agung dan kuat dalam arti jumlah penduduk, kebudayaan, kemampuan, peninggalan kebudayaan kuno, suatu bangsa yang penuh kekuatan dan daya-ekonomi, dengan mengesampingkan bangsa itu, maka PBB sangat melemahkan kekuatan dan kemampuannya untuk berunding justru karena ia menolak keanggotaan bangsa yang terbesar di dunia.”

Keenam, tidak adanya pembagian yang adil di antara personal PBB dalam lembaga-lembaganya. Bekas ketua UNICEF adalah seorang Amerika. Ketua Dana Khusus adalah Amerika. Badan Bantuan Teknik PBB diketuai orang Inggris. Bahkan dalam persengketaan Asia seperti halnya pembentukan Malaysia, maka plebisit yang gagal yang diselenggarakan PBB, diketuai orang Amerika bernama Michelmore.

Bagi sebagian kepala negara, sikap keluar dari PBB dianggap sikap nekad. Bung Karno tidak hanya kelua dari PBB. Lebih dari itu, ia membentuk Konferensi Kekuatan Baru (Conference of New Emerging Forces/ Conefo) sebagai alternatif persatuan bangsa-bangsa selain PBB. Konferensi ini sedianya digelar akhir tahun 1966. Langkah tegas dan berani Sukarno langsung mendapat dukungan banyak negara, khususnya di Asia, Afrika, dan Amerika Selatan. Bahkan sebagian Eropa juga mendukung.

Sebagai tandingan Olimpiade, Bung Karno bahkan menyelenggarakan Ganefo (Games of the New Emerging Forces) yang diselenggarakan di Senayan, Jakarta pada 10 – 22 November 1963. Pesta olahraga ini diikuti oleh 2.250 atlet dari 48 negara di Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika Selatan, serta diliput sekitar 500 wartawan asing.

Bung Karno dengan Conefo dan Ganefo, sudah menunjukkan kepada dunia, bahwa organisasi bangsa-bangsa tidak mesti harus satu, dan hanya PBB. Bung Karno sudah mengeluarkan terobosan itu. Sayang, konspirasi internasional (Barat) yang didukung segelintir pengkhianat dalam negeri (seperti Angkatan ’66, sejumlah perwira TNI-AD, serta segelintir cendekiawan pro Barat, dan beberapa orang keblinger), berhasil merekayasa tumbangnya Bung Karno. Wallahu a’lam. (roso daras)

Published in: on 19 September 2010 at 03:41  Comments (11)  
Tags: , , , ,