Bung Karno pada Nuzulul Qur’an

Pada setiap peringatan Nuzulul Quran, Presiden Sukarno senantiasa memperingatinya. Bahkan ia juga menyampaikan pidatonya. Pidato yang ia tulis dengan tangannya sendiri. Pidato yang ia lahirkan dari kontemplasi panjang terhadap mutiara-mutiara kalam yang terkandung dalam kitab suci tersebut.

Dalam buku “Bung Karno dan Wacana Islam (Kenangan 100 Tahun Bung Karno)”, memuat sedikitnya lima naskah Pidato Bung Karno yang disampaikan di Istana Negara pada saat memperingati Nuzulul Qur’an. Kelima judul pidato Bung Karno itu; Islam, Agama Amal, (15 Maret 1960). Al-Qur’an Membentuk Manusia Baru (6 Maret 1961), Mencari dan Menemukan Tuhan, (12 Februari 1963), Api Islam, Motor Terbesar Umat Manusia, (1 Februari 1964), dan Islam adalah Agama Perbuatan (10 Januari 1966).

Bagaimana dengan tahun-tahun yang lain? Barangkali tercecer sehingga tidak terdokumentasikan. Yang pasti, pidato dalam sisipan audio di atas disampaikan tahun 1962. Bung Karno, di sela-sela wejangan religiusnya, menambahkan isu yang hampir terlupa, yaitu ajakan seluruh rakyat Indonesia untuk berdoa agar Irian Barat segera kembali ke pelukan Ibu Pertiwi.

Dalam garis hidup perjuangannya, Bung Karno sesungguhnya tidak pernah jauh dari Qur’an, khususnya setelah ia memasuki usia sekolah di HBS, saat tinggal di kediaman HOS Cokroaminoto, tokoh Sarikat Islam yang juga seorang orator pada zamannya. Fase pendalaman agama (agama-agama dunia) makin intens saat ia dibuang di Ende tahun 30-an.

Salah satu aktivitas Bung Karno menyelami Islam adalah menjalin korespondensi intensif dengan ulama bernama A. Hasan. “Guru” Bung Karno di bidang Islam yang dikenalnya di Bandung. Hasan adalah seorang India dari Madras yang dalam tahun 1924 pindah ke Bandung, kemudian memimpin Persatuan Islam (Perkumpulan Islam) atau disingkat Persis yang reformis.

Korespondensi antara Sukarno dan Hasan dimulai 1 Desember 1934. Surat pertama Sukarno adalah permintaan dia untuk dikirimi buku-buku pelajaran tentang Islam. Salah satu kalimat Sukarno yang dikutip Giebels adalah, “Tidak ada agama yang lebih mendukung kesamaan manusia daripada Islam.”

Alquran bagi Sukarno adalah final. Ia membaca, meresapi, dan mengamalkan dengan ketaatan penuh. Di sisi lain, ia juga menenggelamkan diri dalam lautan hadits. Dari diskusi korespondensi dengan gurunya itulah diketahui, Sukarno pun sangat kritis terhadap kebekuan dalam Islam.

Pemilihan tanggal proklamasi sejatinya sarat makna. Dalam sebuah kesempatan Bung Karno mengatakan, dipilihnya tanggal 17 adalah untuk mengingatkan bahwa umat Islam diperintahkan untuk menjalani kewajiban shalat 17 rakaat dalam satu hari. Tanggal 17 bulan Ramadhan, adalah tanggal turunnya kalam Illahi melalui Nabiyullah SAW di Gua Hira. Dan… proklamasi itu sendiri berlangsung di bulan Ramadhan.

Sejak itu pula, Bung Karno tidak pernah jauh dari Alquran. Saat ia dicokok Belanda tahun 1948, yang ada di benaknya adalah menjemput lonceng kematian. Sebab sejak Sekutu mendarat, target tentara Belanda adalah memburu dan membunuh musuh nomor satu, Sukarno. Hijrahnya Bung Karno ke Yogyakarta, juga antara lain menghindarkan diri dari buruan serdadu Belanda. Nah, dalam situasi seperti itu, Bung Karno menghabiskan sepanjang malam di pembuangan dengan beribadah dan membaca Alquran. Mukjizat, keesokan harinya ia dibebasan. (roso daras)


Published in: on 27 Agustus 2010 at 07:15  Comments (10)  
Tags: , ,