Siapa “Menjarah” Harta Bung Karno?

Tiba-tiba amarah ini kembali membuncah. Saya katakan “kembali”, karena murka ini memang pernah ada. Persisnya sekitar tahun 2001, sedang ramai-ramainya masyarakat Indonesia memperingati seabad Bung Karno –tak terkecuali saya– seorang triple agent (CIA-KGB-Indonesia), Anton Ngenget datang ke kantor membawa seberkas fotokopian daftar barang-barang milik Bung Karno yang raib entah kemana.

Sebelum lanjut, sedikit bisa saya deskripsikan tentang Anton…. Lelaki sepuh berjenggot putih berdarah Kawanua ini, cukup intensif menjalin komunikasi. Hampir seminggu sekali ia datang ke kantor. Bertutur pengalamannya terlibat dalam PRRI. Karena itu pula ia sempat direkrut CIA. Lika-liku hidupnya juga mempertemukan dia dengan seorang wanita Rusia yang berkedok sebagai guru bahasa di Jakarta, dan di kemudian hari dia ketahui sebagai agen KGB. Anton pun sempat dipakai jasanya untuk kepentingan KGB. Lalu, kesadarannya berbangsa-bernegara, akhirnya meluruskan kiprah pengabdiannya bagi kepentingan intelijen Tanah Air. Karena itulah saya menjulukinya “triple agent”.

Nah, kembali ke saat ia datang membawa seberkas data barang-barang Bung Karno yang ditinggalkan begitu saja di Istana Merdeka, saat ia “diusir” oleh Soeharto. Bisa dibilang, Bung Karno benar-benar tidak membawa apa pun kecuali pakaian yang melekat di badan. Tidak harta berupa simpanan uang, logam mulia, ribuan judul buku, ratusan koleksi lukisan, patung, pakaian, arloji, dan berbagai tanda jasa dan kenang-kenangan dari seluruh dunia. Semua ditinggal begitu saja. Dan anehnya, semua barang itu raib entah kemana.

Bisa dikatakan raib, karena memang “menguap”. Sebegitu banyak barang milik Sukarno, tidak satu pun yang terlacak. Bayangkan saja. Satu rumah besar sekalipun, jika dihuni lebih dua dasawarsa, niscaya akan penuh dengan berbagai barang, termasuk yang sangat bernilai. Tak terkecuali Bung Karno. Sejak menjabat hingga dilengserkan, ia berdiam di Istana. Semua barang, baik yang dia beli maupun pemberian dari rekan-rekan kepala negara di seluruh dunia, hampir semuanya ia simpan di Istana. Kumpulan barang selama lebih 20 tahun!

Demi mengetahui hal itu, saya dan Anton, begitu bernafsu untuk melacak kemana larinya harta pusaka milik bapak bangsa. Betapa tidak, dari daftar tadi, begitu banyak benda berharga yang seharusnya menjadi warisan bangsa, kalau toh pemerintah Orde Baru tidak memberikannya kepada para ahli waris. Semua harta peninggalan Bung Karno, bisa menjadi peninggalan bernilai sejarah tinggi. Nyatanya, tidak satu pun yang terlacak. Bahkan saya pernah mendengar, putra-putri Bung Karno sempat ada yang menyoal masalah ini, tetapi tak bergaung. Mungkin terbentur karang. Salah satu istrinya, Ratna Sari Dewi pun pernah menyoal, tetapi juga kebentur arogansi penguasa ketika itu.

Berdasar dokumen barang-barang Bung Karno, saya sempat melihat ada secercah harapan untuk menelusurinya. Yaitu melalui nama-nama yang tertera sebagai petugas pencatat ketika itu. Dokumen itu menyebutkan, pemberi perintah pendataan barang-barang milik Bung Karno adalah Kolonel Subono Mantovani SH pada tanggal 11 Juli 1968. Kemudian perintah itu diberikan kepada 9 (sembilan) orang, terdiri atas 6 prajurit TNI-AD, dan 3 (tiga) orang sipil pegawai Istana.

Mereka adalah: 1). Letkol (Inf) Po Lamiran, Karo Rum Ga Kepres; 2). Letda (CPM) Waspodo, Perwira Operasi Den Man Sus Satgas Pomad; 3). Peltu (CPM) Kusumadi Brata, Bati R I, Satgas Pomad; 4). Peltu (CPM) Endro Soetomo, Bati Si II Den Man Sus Satgas Pomad; 5). Serma Soekiman, Ba. Den Man Sus Satgas Pomad; 6). Serma Soeprapto, Bu Den Man Sus Satgas Pomad; 7). Soebandiman, Ka. Perlengkapan Rum Ga Kepres; 8). A.J. Djuwardi, Bagian Perlengkapan Rum Ga Kepres; dan 9). Soediro Iljas, Staf Pengawas Khusus Sek.Neg.

Nah… merekalah petugas terdaftar yang melakukan pencatatan mulai tanggal 11 Juli 1968 hingga tanggal 26 Juli 1968. Dan dokumen tersebut menyebutkan, tanggal 26 Juli 1968 itu pula tim ini menyerahkan laporannya kepada pemberi instruksi. Dari keterangan lain disebutkan, begitu panjang daftar barang yang dicatat dan dilaporkan, sejatinya belum seberapa. Sebab, masih banyak barang yang tidak masuk dalam pencatatan.

Jika dibukukan, daftar barang-barang Bung Karno yang ditinggalkan dan “dijarah” oknum itu niscaya menjadi hal yang menarik. Setidaknya begini nalarnya. Lupakan barang-barang yang sengaja tidak didaftar (yang tentu saja dengan maksud untuk dicuri), setidaknya dokumen yang ada telah mencatat begitu panjang daftar harta milik Bung Karno lainnya. Berangkat dari sanalah saya sempat menelusuri kesembilan pencatat yang namanya tertera di atas.

Sulitnya bukan main! Dari mulut ke mulut, tersebutlah satu di antara sembilan nama itu yang konon masih hidup dan tinggal di Bekasi. Saya mencoba memburu ke alamat yang ada, nihil. Seorang tua dengan ingatan yang parah, benar-benar diragukan kalau dia adalah satu di antara sembilan nama di atas. Setidaknya setelah saya telisik asal-usul dan latar belakang pekerjaannya.

Hari ini, seperti biasa, sebelum memposting sesuatu tentang Bung Karno, saya tidak pernah merencanakan. Di antara deretan buku Bung Karno di rak, atau tumpukan buku Bung Karno di atas meja kerja, saya ambil saja secara acak. Pagi ini, saya menarik buku H. Maulwi Saelan, Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa, Dari Revolusi 45 sampai Kudeta 66. Secara acak pula saya membuka buku itu, terbukalah bentangan buku halaman 282-283. Tentang apa? Lampiran 11 tentang Daftar Harga Milik Bung Karno yang Ditinggalkan di Istana!

Inilah yang membangkitkan rasa murka, yang sempat lama terpendam. Bukan amarah yang tertuju kepada si penjarah, tetapi lebih besar dari itu. Amarah terhadap mentalitas sebagian bangsa kita yang tidak menghormati sejarah.

Apalagi, demi mengingat kembali, begitu panjang (banyak) deretan peninggalan Bung Karno, maka lazim jika kemudian muncul pertanyaan, “Ke mana barang-barang itu sekarang?” Sejauh referensi yang saya miliki, sepanjang nguping-dengar dari berbagai kalangan, sepanjang bertanya-jawab yang saya lakukan, hampir dapat dipastikan, pemerintahan Soeharto-lah yang bertanggung jawab atas semua harta peninggalan Sukarno. Bukan saja karena sejak itu Soeharto berkantor di Istana, lebih dari itu, hanya orang-orang dekat Soeharto saja yang diberi akses masuk-keluar Istana.

Sejarah sudah mencatat, betapa Soeharto menenggelamkan nama besar Sukarno hingga ke lembah terbawah. Ia meringkus semua pengikut Sukarno… ia melarang rakyatnya mengenang (apalagi mempelajari ajaran) Sukarno.

Di sin, Soeharto adalah simbol penguasa baru pengganti Sukarno. Ihwal si penjarah, tentu saja… bisa saja orang-orang yang ada di sekitar Soeharto… bisa saja anak-buah Soeharto… bisa saja kerabat Soeharto… dan (sebagai sebuah kemungkinan), bisa saja dia sendiri. Terlebih jika kita lihat, betapa bernilai tinggi semua harta Bung Karno. Bukan saja yang memang nyata-nyata berbentuk emas batangan, mata uang berbagai negara, traveler cheque, tetapi juga ratusan bahkan mungkin lebih dari seribu lukisan dan karya seni lain yang sangat tinggi nilainya.

Kita tau, selain dibeli dengan uangnya sendiri, Bung Karno juga banyak mengoleksi lukisan para pelukis ternama dunia. Ya, pelukis ternama dunia! Di samping, tentu saja karya pelukis ternama Indonesia. Sebagian koleksinya yang lain, merupakan pemberian dari para pelukisnya sendiri. Dan… jangan lupa, tidak sedikit karya lukis buah goresan tangan Bung Karno sendiri. Koleksi lainnya lagi, ia terima dari para kepala negara sahabat. Kesemua benda seni itu, nilainya benar-benar “tak terhingga”, apalagi kalau dilihat dalam konteks hari ini. Nilai seni adalah subjektif, maka nilai karya seni peninggalan Bung Karno, jika toh harus dinominalkan, bisa saja berbilang triliun… bahkan ratusan triliun….

Sekalipun tidak ikut memiliki, tetapi dada siapa tidak sesak demi mendengar, bahwa tidak semua karya seni itu tercatat di dalam laporan kesembilan petugas pencatat tadi. Itu artinya, yang tercatat saja kini raib entah kemana… apalagi yang tidak tercatat.

Baiklah… posting berikut, saya akan kutip nama-nama barang atau harta peninggalan Bung Karno yang “dijarah” rezim penggantinya itu. Cukup menarik. Selain ada batangan-batangan emas murni, ribuan judul buku yang sangat menarik, juga ada bra dan celana dalam perempuan….. (roso daras)

Kesaksian Sze Tu Mei Sen

Sze Tu Mei Sen adalah penerjemah Presiden Sukarno untuk bahasa Cina. Dia pernah memberi kesaksian penting terkait keterlibatan RRC dalam pemberontakan PKI atau yang kita kenal dengan Gestok (Gerakan Satu Oktober), yang berujung pada runtuhnya kekuasaan Bung Karno. Sze Tu Mei Sen membantah keras informasi yang menyebutkan keterlibatan RRC itu.

Bantahan keterlibatan Cina (Mao Zedong) dalam tragedi berdarah tersebut disampaikan Sze Tu Mei Sen, seorang mantan penerjemah Bung Karno saat melakukan pembicaraan dengan pemimpin Tiongkok perihal kebijaksaan politik Cina dan Indonesia. Kesaksian yang disampaikan lewat faks itu dikirim Sze Tu Mei Sen kepada Kolonel (Pur) Maulwi Saelan, Wakil Komandan Tjakrabirawa pada 7 Desember 2005. Oleh Saelan, faks tersebut disampaikan dalam forum diskusi buku “Kudeta 1 Oktober 1965—Sebuah Studi Tentang Konspirasi. Berikut ini isinya:

Sejak tahun 1950, sesudah penyerahan kedaulatan, saya masih bekerja sebagai wartawan dari harian “Sin Po” edisi Tionghoa, saya sudah sering dipanggil oleh Presiden Soekarno supaya ikut dalam aktivitas yang bertalian masalah hubungan Indonesia dan Tiongkok. Membantu beliau berkomunikasi dengan Tiongkok, misalnya, Upa-cara Penyerahan Surat Kepercayaan dari Duta Besar Pertama Tiongkok untuk Indonesia dan juga kunjungan Delegasi Kese-nian Tiongkok, Madam Sun Yat Sen dan sebagainya.

Pada akhir tahun 1956, Presiden melakukan kunjungan ne-gara pertama ke Tiongkok, saya diperintahkan ikut sebagai Sekretaris pribadi Presiden dan anggota advance team yang berangkat terlebih dahulu. Itu pertama kalinya saya menginjak Bumi Tiongkok.

Sejak kunjungan inilah saya bertindak sebagai Penerjemah Utama dalam bahasa Tionghoa. Tugas saya menerjemahkan pidato Presiden selama kunjungan dan penerjemah untuk pembicaraan dengan pemimpin pemimpin Tiongkok seperti Mao Tze Tung, Chow En Lay, Chu Te, Liu Sao Chi, dan Madam Sun Yat Sen.

Pada akhir tahun 1959-60, sesudah RI kembali ke UUD 1945, hubungan Indonesia dan Tiongkok semakin erat, saya dipanggil Presiden ditetapkan sebagai pembantu pribadi Presiden merangkap sebagai penerjemah utama khusus bahasa Tionghoa.

Tahun 1960-1965, hubungan dengan Tiongkok semakin erat dan kunjngan kenegaraan semakin sering. Di samping para pejabat dari Deplu yang berkepentingan saya selalu mendampingi Presiden dalam hampir seluruh pertemuan, perundingan dan pembicaraan dengan pemimpin dari Tiongkok terutama dengan Chow En Lai (Prime Minister) dan Chen Yi (Wakil Prime Minister merangkap Menlu), kecuali apabila saya sedang sakit atau sedang tidak di Jakarta.

Dalam seluruh pertemuan, perundingan dan pembicaraan, perundingan dan pertemuan, pemimpin Tiongkok sangat mengagumi keberanian Indonesia dalam perjuangan anti dan melawan Neokolin (New Colonialism) menghormati yang dijunjung oleh Indonesia. Sama sekali tidak ada pembi-caraan yang mengharapkan Indonesia condong ke kiri, apalagi masuk kubu Negara komunis di Asia.

Pembicaraan-pembicaraan penting antara Presiden dengan para pemimpin Tiongkok yaitu dengan Ketua Liu Sao Chi tahun 1963 di Bali, PM Chow En Lai (1964 di Shanghai dan 1965 di Jakarta), Wakil PM merangkap Menlu Chen Yi (Mei 1965 di Jakarta yang berlangsung 4 jam).

Intisari dari pembicaraan tersebut adalah Indonesia terus menerus membangkitkan semangat NEFOS dan memberanikan diri memimpin negara dunia ketiga dan non aliansi countries. Tiongkok sebagai negara yang menjalin hubungan dengan Uni Soviet tidak dapat memimpin negara dunia ketiga, sedangkan situasi nasional dan Asia khususnya untuk mengimbangi kekuatan dan pengaruh Amerika dan sekutunya, termasuk hampir seluruh Negara Asia Tenggara tergabung dalam SEATO (South East Asia Treaty Organization), kepentingan nasional Tiongkok pada waktu itu adalah mengarapkan Nefos dan negara dunia ketiga dapat mengimbangi situasi yang  sangat suram bagi mereka.

Pemimpin Tiongkok dalam pembicaraannya sama sekali tidak berharap Indonesia menjadi negara komunis karena hanya akan memperuncing situasi yang membahayakan mereka sendiri. Politik Tiongkok adalah Indonesia terus membimbing NEFOS (New Emerging Forces) dan negara dunia ketiga sesuai dengan kepentingan Tiongkok saat itu, mengimbangi kekuatan Amerika.

Informasi ini saya kutip dari tabloid CITA CITA yang pernah saya pimpin. ***

Published in: on 29 Oktober 2010 at 13:17  Comments (1)  
Tags: , ,

Kesaksian Maulwi Saelan, Wakil Komandan Tjakrabirawa

Beberapa waktu lalu saya menemukan buku H. Maulwi Saelan, Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa, Dari Revolusi 45 sampai Kudeta 66. Buku ini, sepertinya, pernah saya baca sekitar tahun 2001. Benar. Ini memang buku yang sama untuk cetakan yang ketiga. Buku ini menarik, karena memuat kesaksian saksi mata, orang dekat, orang ring satu-nya Bung Karno: H. Maulwi Saelan.

Sebagai Wakil Komandan Tjakrabirawa, sebuah resimen yang bertugas mengamankan presiden, Maulwi Saelan tahu banyak jalannya sejarah yang terjadi sejak tahun 1962 hingga lengsernya Bung Karno. Ia sendiri termasuk tentara yang dipanggil khusus ke Jakarta dari Makassar untuk mengonsep dan mempersiapkan pembentukan Resiman Tjakrabirawa tersebut. Jabatan pertamanya adalah Kepala Staf dengan pengkat Kolonel CPM.

Dalam buku tersebut, Maulwi membeberkan secara gamblang ihwal tragedi Gerakan 30 September 1965 atau yang Bung Karno selalu istilahkan sebagai Gerakan 1 Oktober (Gestok). Maulwi dengan sangat pasti menyebut bahwa gerakan itu merupakan kudeta yang dilakukan Soeharto kepada Sukarno. Tentu saja, ini murni pandangan Maulwi Saelan, dengan dukungan kesaksian sebagai saksi hidup.

Selain topik hangat tersebut, buku ini juga mengulas riwayat karier Maulwi yang juga pernah tercatat sebagai kiper PSSI. Karenanya, ia dikomentari oleh Dr Asvi Marwan Adam dalam kata pengantarnya, dengan istilah Penjaga Gawang hingga Penjaga Presiden.

Pada bagian lain, ia mengulas juga sejarah lahirnya Resimen Tjakrabirawa. Nah, yang ini nanti akan saya kupas khusus, guna memenuhi “request” tamu blog ini.

Sebenarnya masih banyak kandungan buku ini. Tapi jari-jemari ini sungguh berat buat disuruh menari di atas tuts laptop. Bisa jadi karena pengaruh “jetlag” mudik, kemarin dulu…. Karenanya, saya sudahi saja info tentang salah satu koleksi buku (referensi) saya tentang sosok Bung Karno ini.

Sebagai penutup, saya kutipkan kata-kata Bung Karno yang diucapkan khusus kepada Maulwi Saelan pasca tragedi Gestok. “Saelan, percayalah! Saya yakin nanti sejarah akan mengungkapkan kebenaran dan siapa yang sebetulnya benar, Soeharto atau Sukarno!”. (roso daras)

Published in: on 15 September 2010 at 12:03  Comments (19)  
Tags: , ,