Bawa Pesepakbola Ziarah Bung Karno

Lebih dua pekan saya tidak sempat posting apa pun di sini. Bagi yang berkunjungnya sekali-sekali, barangkali tidak aneh. Akan tetapi bagi yang rajin berkunjung, bisa jadi mulai mempertanyakan, “Mana posting-an yang baru tentang Bung Karno?”.

Baiklah, saya awali dengan permintaan maaf. Yang kedua, izinkah saya menyampaikan alasan, sekaligus pemberitahuan (bagi yang belum tahu). Bahwa sejak awal Agustus 2011, PSSI menugaskan saya sebagai manajer Timnas U-23. Bergabung dengan anggota tim di pemusatan latihan, Batu, Malang (Jawa Timur), langsung tenggelam dengan kepadatan agenda yang luar biasa.

Sempat sekali-dua membuka blog… sempat sekali-dua muncul niat menulis… semua kandas dengan kepentingan mengurus Timnas U-23 yang tentu harus saya dahulukan. Embel-embel “nasional” mengakibatkan saya harus meletakkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan yang lain. (huhh…sejak kapan saya lebay begini….)

Agenda pertama menukangi Timnas U-23 ini adalah menyusun jadwal atau agenda TC. Staf manajemen yang cekatan dengan cepat menyusun jadwal bagi Timnas. Maklumlah, kapan mereka harus makan, istirahat, berlatih, semua harus tercatat. Suasana Ramadhan membuat agenda menjadi lebih spesifik, ada jadwal sahur, shalat tarawih, dan sebagainya.

Terlintas sebuah agenda yang begitu rutin dan padat. Berlatih dan berlatih. Maka, setelah melalui konsultasi dan kesepakatan dengan tim pelatih, tersepakatilah tentang perlunya mengadakan acara selingan seminggu sekali. Spontan saya teringat Bung Karno, yang terbaring tenang di makamnya di Blitar, kurang lebih hanya berjarak 2 jam dari Batu. Itulah acara di luar rutinitas pertama yang saya selipkan.

Jadilah hari Minggu, 7 Agustus 2011, saya membawa seluruh anggota Timnas U-23 berziarah ke makam Bung Karno. Yang tidak saya duga adalah, sambutan yang begitu antusias, baik dari segenap aparat Pemkot Blitar maupun masyarakatnya. Lebih tak terduga ketika petugas protokol menyiapkan suatu ritual upacara penghormatan, dan mendaulat saya sebagai pembina upacara.

Usai upacara, rombongan memasuki altar makam Bung Karno. Juru kunci memimpin kami semua untuk memanjatkan doa bagi arwah Bung Karno. Kemudian diceritakan sedikit tentang sejarah makam Bung Karno. Kesempatan itulah saya gunakan untuk menyampaikan beberapa point tentang Bung Karno. Para pemain yang berusia di bawah 23 tahun, tentu tipis pemahamannya tentang Sang Proklamator. Warisan mulia yang bisa kita petik dari sosok Bung Karno, menjadi sesuatu yang penting untuk mereka ketahui.

Usai ziarah, rombongan sempat mengunjungi ruang pameran foto-foto Bung Karno. Sayang, waktu yang tersedia amat sedikit. Tapi setidaknya, mereka sempat menyaksikan koleksi foto yang ada di area musium Bung Karno. Selanjutnya, Timnas U23 disuguhi film dokumenter Bung Karno.

Selesai menyaksikan film, rombongan diarahkan ke kantor Walikota Blitar. Di sana telah menanti Walikota Samanhudi Anwar dan segenap jajarannya. Kami berbuka puasa bersama. Usai buka, kami kembali ke markas TC di Batu, Malang. Keesokan harinya, saya melihat banyak di antara anggota Timnas U23 yang mengganti foto profilnya dengan foto-foto Bung Karno…. Hmmm…. (roso daras)

Published in: on 13 Agustus 2011 at 12:38  Comments (9)  
Tags: , , ,

Hati Bergetar di Kota Blitar

Madinah dan Blitar… dua kota istimewa. Yang satu terletak di Saudi Arabia, sedangkan satunya di bumi Indonesia. Bumi Madinah yang menyimpan riwayat pertumpahan darah dan air mata, adalah bumi yang dipilih Tuhan untuk memeluk jazad manusia termulia, Nabi Muhammad SAW. Sementara, bumi Blitar dipilih Tuhan mendekap hangat jazad sang proklamator, Bung Karno.

Meski beda resonansi, adalah tidak dibenarkan kita memasuki kedua kota itu tanpa hati yang bergetar. Setidaknya, itu yang saya rasakan. Memasuki Madinah, segenap pikiran dan jiwa kita, harus langsung disiram pemahaman bahwa inilah kota tempat Islam dibesarkan. Kota tempat darah dan air mata para syuhada tertumpah, dan kota peristirahatan terakhir Sang Nabi SAW.

Akan halnya Blitar…. Bukan saja karena ada Candi Panataran, Monumen Trisula, ataupun Pantai Jolosutro, lebih dari itu, di kota ini Bung Karno dimakamkan. Di komplek makam yang terletak di antara Jl. Ir. Soekarno dan Jl. Kalasan itu juga disemayamkan bapak-ibu Putra Sang Fajar, R. Soekeni Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai.

Tiga manusia hebat. Raden Soekeni yang memiliki garis trah Sultan Kediri, adalah seorang guru dengan komitmen yang sangat tinggi terhadap pentingnya pendidikan bagi putranya. Sebagai guru berprestasi, Soekeni pun mewariskan otak encer pada diri Sukarno. Demikian pula sang ibu, Idayu. Sebagai kerabat Banjar Bale Agung, Singaraja, ia nekad menikah dengan pemuda beda suku, dan membesarkan Sukarno dengan cinta yang tiada akhir.

Semerbak wangi bunga di atas pusara Bung Karno, ditambah semilir embusan angin sore, membuat siapa pun kerasan berlama-lama di sekitar nisan Bung Karno yang diapit nisan bapak-ibunya. Dinding kaca yang dulu menutup keempat sisi pendopo-cungkup, kini sudah dibongkar. Karenanya, para peziarah bisa mendekat ke nisan ketiga manusia utama milik bangsa kita itu.

Selain tabur bunga dan berdoa… para peziarah pun diperkenankan berpose, berfoto-ria di dekat nisan Sang Proklamator dan kedua orang tuanya. Di ujung dekat gerbang masuk komplek makam, terdapat perpustakaan proklamator Bung Karno. Cukup melegakan, ternyata tiga buku karya saya ada dalam koleksi buku perpustakaan ini. Ketiga buku itu adalah, Aktualisasi Pidato Terakhir Bung Karno: Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarh (2001), Bung Karno, Serpihan Sejarah yang Tercecer, The Other Stories-1 dan 2 (2009 dan 2010).

“Maaf Bung, saya tidak bisa berlama-lama di pusaramu…. Tunggu Bung, saya akan kembali.” (roso daras)

Published in: on 14 November 2010 at 11:59  Comments (16)  
Tags: , ,

Bung! Aku Datang…

Jika Tuhan berkenan mengabulkan, maka tanggal 11 November mendatang, aku akan bersimpuh di pusaramu, Bung! Ya, aku akan ke Blitar, memasuki pendopomu dengan takzim, dan mengusap pusaramu dengan cinta. Aku tidak menjanjikan banyak, kecuali sebait ayat suci yang coba aku jadikan oleh-oleh buat Bung. Meski tidak akan menjadi sinar penerang di alammu, setidaknya ia akan berkerlip, laksana kunang-kunang di bawah siraman purnama dan bintang-gemintang.

Aku datang dengan pamrih Bung. Maafkan. Sebuah pamrih yang biasa saja. Karena itu, kukira kau tidak akan berkeberatan. Sebab, pamrihku sesungguhnya pamrihmu juga. Ya, ini adalah sebuah tarikan sejarah, yang kemudian mempertemukan kita pada satu garis sejajar. Engkau di garis yang satu, aku di garis yang samar, menempel ketat garismu, garis hidupmu.

Begini Bung… Rabu malam minggu lalu, seseorang yang kukira cukup sukses dalam karier duniawinya… berbaik hati mengemukakan tekadnya untuk mengangkat kehidupan Bung ke layar perak. Sejauh yang saya tangkap, tidak ada pamrih yang Bung tidak suka, di balik niatnya memfilmkan Bung. Di atas landasan idealisme, barulah ia letakkan landasan bisnis. Ahhh… itu wajar saja.

Bisnis adalah konsekuensi dari sebuah perdagangan bernama film. Artinya, ketika seseorang membuat film tentang Bung dengan biaya yang tidak sedikit, tidak salah kalau kemudian (sebagai pengusaha), ia pun berharap uangnya kembali berikut “teman-teman”nya. Bung tentu tahu, mengalirnya rupiah ke kocek si pengusaha tadi, harus kita lihat bahwa film tentang Bung memang diminati. Vulgarnya begini, film tentang Bung itu laris-manis.

Orang Indonesia, siapa pun dia, tentu berkeinginan menyaksikan kisah proklamatornya. Melihat gambaran tentang bapak bangsanya. Bahkan kepada pihak produser, sudah saya sampaikan pula gagasan “menjual” film tentang Bung ke manca negara. Bung tentu ingat, betapa Bung begitu dielu-elukan sebagai Pahlawan Asia, Pahlawan Islam, Pahlawan Negara Berkembang…. Bung adalah inspirasi bangsa-bangsa.

Back to the topic…. Rabu malam itu pula, ia bertitah, “Dengan ini saya menunjuk Sdr. Roso Daras untuk memimpin pekerjaan penulisan dan ide cerita film Bung Karno.” Asal Bung tahu, demi mendapat penunjukan itu, spontan saya mengucap, “Innalilahi wa’inna illaihi raji’un… kemudian baru alhamdulillah”. Bukankah benar begitu Bung? Saya harus merespon tugas ini dengan sikap dasar, ini adalah sesuatu yang datang atas kehendak Allah SWT, karenanya harus saya kembalikan kepadaNya.

Selesai urusan bersyukur dan mohon petunjuk Allah SWT. Engkau berada di giliran berikutnya Bung. Saya orang Jawa, senang ke kuburan, menyenangi berziarah. Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan klenik. Ketika aku bersimpuh di makam rama-biyung dan mengiriminya doa… rasanya kok lebih khusuk. Ketika saya hendak “berdialog” denganmu Bung, rasanya kok lebih enak jika itu saya lakukan sambil duduk bersila di samping pusaramu.

Untuk itu Bung, aku datang. (roso daras)

Published in: on 8 November 2010 at 07:17  Comments (24)  
Tags: , ,