Sekilas Info

IMG-20150324-WA000

Permisi saudaraku….

Numpang promo acara Kompas TV yang bertajuk “Three in One”. Tayangan Rabu, 25 Maret 2015 besok, mengangkat tema “Warisan Soekarno”. Acara yang tayang pukul 20.00 WIB itu, menampilkan tiga host (karenanya dinamakan Three In One).

Edisi besok malam, menghadirkan empat narasumber. Dua orang cucu Bung Karno, satu orang anak Bung Karno, dan seorang lagi Sukarnois. Siapa-siapa saja mereka, dan apa-apa saja yang dibincangkan, baiknya saksikan saja langsng. Hehehe….

Published in: on 24 Maret 2015 at 06:58  Comments (4)  
Tags: , , , ,

Benoe Merinding Memegang Baju Kebesaran Bung Karno

benoebuloeIngat host kocak acara kuliner Benoebuloe di Trans TV beberapa waktu lalu? Lelaki hitam manis berdarah Aceh ini, bernama asli Ibnu Sakdan. Dia sempat merintis karier jurnalistik di Tanah Rencong antara 1999 – 2004. Konflik Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan TNI menjadi ajang liputan rutin baginya.

Tahun 2004, adalah tahun hijrah Benoe, begitu ia akrab disapa. Tahun itu, ia meninggalkan Aceh untuk bergabung dengan Trans TV Jakarta menjadi video journalist (VJ). Dua tahun setelahnya, ia dipercaya menjadi host sekaligus reporter untuk acara kuliner Benoebuloe di Trans TV hingga tahun 2013.

Acara kuliner yang bisa dibilang lepas dari mainstream ini, tidak begitu lama menyedot perhatian pemirsa. Kostum yang unik, cara pembawaan yang atraktif, serta gaya makan khas benoebuloe, membuat acara yang dipandunya bertahan cukup lama.

Cukup menarik menyorot sosok yang satu ini. Setidaknya menarik bagi saya, ketika ia menghampiri dan menyinggung tentang Bung Karno. Ya, ternyata Benoe itu pengagum berat Putra Sang Fajar. Saya bertemu dia di Kompas TV, menjelang dan usai perekaman acara Three in One, yang mengangkat topik “Warisan Soekarno”.

Kompas TV? Benar, sejak 2014, Benoe bergabung dengan Kompas TV, setelah sebelumnya sempat membintangi tiga judul film produksi Maxima Picture. Rupanya, break sejenak dari TV, ia menjajal kemampuan akting dalam film antara lain “Lihat Boleh Pegang Jangan” dan “Kakek Cangkul”. “Itu kegiatan tahun 2013, sebelum akhirnya, tahun 2014 saya kembali ke televisi,” ujar Benoe.

Kembali ke soal Benoe dan Bung Karno…. Ia pertama dan yang utama mengagumi Bung Karno karena kharismanya. “Benar! Bung Karno sangat kharismatik. Sampai-sampai, saya merinding ketika memegang salah satu baju kebesaran beliau,” ujar Benoe.

Adalah Romi Soekarno, cucu Bung Karno dari Rachmawati Soekarnoputri, yang hari itu hadir di Kompas TV menjadi salah satu narasumber bersama Puti Guntur Soekarno. Romi membawa baju kebesaran Bung Karno yang disimpannya dengan sangat baik, sebagai salah satu warisan tak ternilai harganya. Jas kebesaran warna hijau tua itu, lengkap dengan atribut dan pangkat kebesaran sebagai Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata/Pemimpin Besar Revolusi Republik Indonesia.

“Demi Tuhan saya merinding ketika memegang salah satu baju kebesaran beliau lengkap dengan atribut kepangkatannya, “ ujar Benoe, dengan ekspresi serius, tapi tetap lucu….

Saking semangatnya berbicara tentang Sukarno, Benoe berandai-andai, “Seandainya saya lahir di zaman beliau, maka yang saya lakukan adalah berjuang sampai titik darah penghabisan demi tegaknya NKRI,” ujarnya berapi-api seraya menambahkan, “kemampuan beliau membakar semangat pemuda dan para pejuang kita adalah bukti bahwa Presiden Sukarno adalah bapak bangsa sejati.”

Published in: on 7 November 2014 at 07:50  Comments (44)  
Tags: , , ,

“Warisan Soekarno” di Three in One Kompas TV

three in one kompas tv

Program “Three in One” Kompas TV, sekilas, saya kutip dari website-nya adalah sebagai berikut:

“Melalui bincang-bincang hangat, kami menggali informasi dari beragam nara-sumber. Kami akan mengajak Anda untuk mengenal lebih dalam sosok-sosok yang selama ini hanya dikenal luarnya saja. Tokoh yang kami dekati seringlah terlihat di televisi dan bekerja dengan prestasi, hati nurani, bahkan hingga sekedar menjaga citra dan gengsi.

Bagaimana reaksi para tokoh tersebut jika kemudian ditanya mengenai hal yang paling sederhana hingga yang paling sensifit? Saksikan Three In One bersama Dentamira Kusuma (jurnalis), Tara De Thouars (psikolog), Kamidia Radisti (presenter).”

Tersebutlah seorang Asti Wulan dari Kompas TV berkirim email menyatakan niatnya ingin ngobrol seputar “warisan Soekarno”. Singkat kata, saya penuhi permintaan Aci –begitu ia akrab disapa. Suatu siang, saya pun terlibat bincang-bincang di “Kedai 63” Gedung Pers Pancasila, Palmerah, tak jauh dari markas Kompas TV. Aci bersama Dimas, mengajak diskusi tentang topik dan narasumber yang akan didatangkan untuk program “Warisan Soekarno”.

Terbersit niatan mendatangkan putra-putri dan cucu-cucu Bung Karno sebagai narasumber. Saya senang dan mengapresiasi setiap program (apa pun, di media mana pun) yang mengangkat topik Bung Karno. Karenanya, saya pun antusias memberi masukan.

Kewajiban sudah saya tunaikan. Plong rasanya. Hingga keesokan harinya, Aci menghubungi dan menyatakan, “Bang Ju meminta kesediaan Bang Roso sebagai salah satu narasumber.”

Yang disebut “Bang Ju” oleh Aci, tak lain adalah Julius Sumant. Saya mengenalnya ketika ia menggawangi program Mata Najwa di Metro TV. Setidaknya, dua kali “Bang Ju” ini meminta saya menatap mata indah si Najwa. Pertama dalam program Mercu Suar Bung Karno, dan kedua kronik seputar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Dua topik tadi, bersinggungan langsung dengan Bung Karno, karenanya saya antusias. Tetapi untuk program “Warisan Soekarno” dengan narasumber cucu-cucu dan anak Bunng Karno? “Enggak-lah… Coba kontak si A… atau si B….” Ya, saya mulanya memang keberatan. Pertama, janji awal, kita hanya ngobrol tentang konten program, sehingga tidak menjurus ke pendaulatan saya sebagai nara sumber. Yang kedua, berbicara trah, atau garis keturunan yang kedua atau ketiga, saya tidak terlalu tertarik, mengingat untuk “menyelami” Bung Karno saja saya masih terus belajar.

Apa daya, sejumlah calon narasumber yang lebih kompeten, sedang tidak berada di Jakarta. Saya pun meng-iya-kan request Bang Ju… setidaknya buat “pelengkap”… Maka, terkonfirmasilah narasumber siang itu adalah dua cucu Bung Karno: Puti Guntur Soekarno dan Romy Soekarno (putra Rachmawati). Narasumber ketiga adalah Totok Suryawan (putra Bung Karno dari Kartini Manopo), dan saya (yang kemudian di-label-i predikat Sukarnois).

Puti dan Romy yang berbicara di segmen awal, sungguh menarik. Bukan saja karena Puti memang cantik, dan Romy yang ngetop sebagai DJ papan atas, tetapi kombinasi busana nuansa merah saa itu, membuat suasana begitu hangat. Puti dengan kematangannya sebagai seorang trah ketiga Bung Karno, berbicara lugas tentang banyak hal terkait kakek, bapak, serta om dan tante-tantenya. Romy tak kurang menarik. Dia hadir menenteng busana kebesaran Bung Karno sebagai salah satu “benda” sakral yang diwarisinya dari sang kakek.

Sedangkan, mas Totok hadir membawa cerita kelahirannya di Jerman, dengan latar belakang kondisi Indonesia yang tak menentu. Sang ibu, terpaksa harus “menjauh” dari Indonesia demi keselamatan benih Bung Karno yang dikandungnya. Bukan hanya itu, mas Totok juga membawa dan menunjukkan foto-foto kenangan serta benda kenangan berupa pelat mobil “RI-1” dari salah satu mobil dinas Bung Karno.

Acara “Three in One” di Kompas TV, hadir setiap hari Selasa, pukul 22.00 WIB. Hingga tulisan ini diposting, Senin, 3 November 2014, belum didapat konfirmasi, kapan rekaman itu akan ditayangkan. (roso daras)

three in one kompas tv-2three in one kompas tv-3

Published in: on 3 November 2014 at 09:01  Comments (4)  
Tags: , , , , ,