Pre-Order Buku Total Bung Karno

Total Bung KarnoPuji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Agung, akhirnya buku TOTAL BUNG KARNO telah selesai cetak, dan siap edar. Begitu kabar gembira hari ini, Selasa 14 Mei 2013 dari penerbit Etera Imania. Penerbit yang telah membukukan tiga buku saya terdahulu (serial Bung Karno the Other Stories).

Ini adalah buku keempat yang mereka cetak. Buku keempat ini, pada galibnya menjawab pertanyaan Anda, yang belum mengoleksi serial Bung Karno The Other Stories secara lengkap. Di samping, tentu saja memenuhi permintaan khalayak yang sama sekali belum pernah membaca buku-buku saya itu dengan berbagai alasan. Umumnya, karena terlambat mengetahui, dan ketika mencari ke toko buku, sudah tidak ada lagi.

Karenanya, konten buku ini adalah rangkuman dari ketiga konten buku terdahulu, dengan penambahan sejumlah judul baru sebagai pelengkap, serta sedikit revisi di beberapa bagian. Dan yang menarik, endorsement dari para Sukarnois pada ketiga buku terdahulu juga dimuat secara utuh. Di sana ada Sukmawati Soekarnoputri, Amin Aryoso, Moch. Achadi, Ki Utomo Darmadi, Dr Cornelis Lay. Lebih menarik lagi karena buku ini juga ketambahan dua endorsement lagi dari dua tokoh nasional yang sangat berbeda latar-belakang.

Keduanya berbicara tentang Bung Karno, dari sudut pandang masing-masing. Yang pertama adalah Mahfud MD, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, dan Bambang Pamungkas, pesepakbola nasional yang akrab disapa Bepe.

Nah, Penerbit Imania (grup Mizan) juga mengabarkan, bagi peminat buku TOTAL BUNG KARNO tersebut, penerbit membuka sesi pre-order antara tanggal 14 – 24 Mei 2013 melalui sejumlah situs, antara lain mizan.com, bukabuku.com, dan bukukita.com. Sebanyak 200 pemesan pertama akan mendapat potongan harga 20 persen.

Monggoooo….. (roso daras)

 

Bung Karno Sudah Meramal Pak Harto sebagai Penggantinya

Lebih satu bulan saya endapkan informasi ini, sebelum saya memutuskan untuk menuliskannya di blog. Ada banyak pertimbangan, antara lain karena isu ini cukup kontroversial. Terlebih menyangkut dua nama besar: Sukarno dan Soeharto. Presiden RI yang pertama dan penggantinya.

Sumbernya adalah Ki Utomo Darmadi. Dia seorang purnawirawan kapten TNI-AD, yang kebetulan banyak tahu jalannya sejarah, karena berada di lingkar satu Istana. Menjadi tentara tahun 1945, purnawirawan vokal ini tak lain adalah adik kandung pahlawan Peta, Suprijadi. Dalam banyak forum nasioanalis, ia acap bicara lantang. Tak jarang membikin merah kuping orang yang ditudingnya langsung.

Tak kurang, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun sering dijadikan bulan-bulanan olehnya di berbagai forum terbuka. Itulah sekilas narasumber tulisan ini. Ki Utomo Darmadi, yang secara kebetulan bertemu saya dalam forum peringatan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2010 di aula DHN ’45, Gedung Joang 45, Menteng, Jakarta Pusat.

Awalnya dia mengatakan, orang boleh saja menghujat habis-habisan Pak Harto. Tetapi, katanya, Pak Harto adalah penyelamat Bung Karno. Kalau saja waktu itu pengganti Bung Karno bukan Pak Harto, bisa jadi Bung Karno “dieret-eret” di jalanan. Kalau saja pengganti Bung Karno bukan Pak Harto, belum tentu nasib anak-anaknya seperti sekarang.

Ia lantas mengisahkan, peristiwa tahun 1963 yang ia katakan bahwa Bung Karno sudah meramalkan Pak Harto-lah yang akan menggantikannya menjadi Presiden RI ke-2. Tomi, begitu ia akrab disapa, menyodorkan dua peristiwa bersejarah terkait hal itu. Pertama adalah kejadian setelah Pak Harto sukses sebagai Panglima Komando Mandala, dalam operasi Trikora, dengan misi tunggal mengembalikan Irian Barat ke pangkuan Ibu Pertiwi.

Nah, setelah itu, Bung Karno menggelorakan Operasi Dwikora, atau yang kita kenal Ganyang Malaysia tahun 1963. Sebagai Panglima diangkatlah Oemar Dhani (Angkatan Udara). Nah, di sinilah Pak Harto tampak kecewa. Dia kemudian menghadap Bung Karno dan menyatakan niatnya “mengundurkan diri”. Bung Karno lantas bertanya, “Nek pensiun, trus kowe arep dadi apa?” (Kalau pensiun, terus kamu mau jadi apa?).

Soeharto menjawab, “Menawi kepareng, dados gubernur Irian Jaya” (Kalau diizinkan, jadi gubernur Irian Jaya). Di luar dugaan, Bung Karno menolak dengan menjawab, “Ora… kowe dudu gubernur… terus tirakat… kowe sak nduwure gubernur.” Kurang lebih artinya, “Tidak… kamu bukan gubernur… teruslah tirakat… kamu di atasnya gubernur”.

Inilah yang oleh Tomi Darmadi disebutkan sebagai salah satu isyarat, bahwa Pak Harto bakal jadi presiden. “Dalam konteks pemimpin teritorial, di atas gubernur apa? Ya Presiden,” tegasnya.

Tidak hanya itu. Tomi Darmadi lantas mengilas balik peristiwa sidang kabinet, kurang lebih tahun 1964. Kebetulan Tomi Darmadi ada di ruang itu. Para petinggi militer yang hadir antara lain disebutkannya, ada Mayjen Ginting, Mayjen Sukowati, Brigjen Juhartono, dan Ahmadi. Achmadi. Tomi mendengar ketika Bung Karno secara santai bertanya kepada Achmadi, “Mad, yang nanti mengganti saya, siapa?” Yang ditanya menjawab spontan, “Mas Yani, Bung” Maksudnya adalah Jenderal Ahmad Yani.

Aneh, Bung Karno membelalakkan mata dan memberi isyarat “bukan”. “Bukan! Yang mengganti (saya), itu tuh, yang mengenakan celana kombor.” Bicara begitu sambil melirik ke arah Soeharto yang ada di sudut ruang yang lain, agak jauh dari posisi Bung Karno dan Achmadi.

Usai kejadian itu, Tomi Darmadi dan sejumlah petinggi Angkatan Darat di Front Nasional sempat bergunjing. Tidak sedikit yang memandang remeh Pak Harto dengan mengungkit “SD saja tidak tamat”. Di samping ada juga yang mengingatkan forum itu dengan mengatakan, “Tapi ingat lho… Bung Karno itu punya ilmu ladunni... dia tahu segala sesuatu yang belum terjadi….”

Sejarah kemudian mencatat, sejumlah jenderal Sukarnois tadi sempat meringkuk di penjara Orde Baru…. Belasan tahun kemudian, ketika mereka keluar penjara dan bertemu kembali, topik itu pun kembali disinggung…. Komentar mereka pendek saja, “Ternyata Bung Karno benar….” (roso daras)