Nangaba, Pemandian Bung Karno

Bung Karno berenang di NangabaBung Karno (tertawa) dan enam orang sahabatnya, berendam di Nangaba.

Nangaba, sebuah sungai yang mengalir jernih, terletak sekitar delapan kilometer dari kota Ende. Di tempat inilah dulu, semasa pembuangan antara tahun 1934 – 1938, Bung Karno dan kawan-kawan sering menghabiskan waktu untuk berendam. Ya, berendam, karena airnya relatif dangkal, sehingga kurang pas kalau disebut berenang, bukan?

Dalam foto kenangan di Nangaba, Bung Karno tampak paling kanan, di antara enam kawan yang lain. Di kejauhan, tampak seseorang berbaju putih, berdiri di tengah sungai, dengan kedalaman selutut saja. Kini, sekitar 76 – 79 tahun kemudian, di tahun 2013, suasana di Nangaba tentu saja tidak serimbun dulu.

Masyarakat sekitar menceritakan, dulu, di Sungai Nangaba banyak sekali batu besar berdiameter satu hingga dua meter. Kini, pemandangan itu tak ada lagi. Kalaupun ada batu besar, diameternya tak lebih dari setengah meter. Itu pun relatif tidak banyak. Sekalipun begitu, menurut warga sekitar, kodisi dasar sungai, relatif sama. Yakni terdiri dari bebatuan aneka warna.

Melihat dari permukaan, sangat jelas terlihat batu-batu di dasar sungai yang begitu indah karena corak dan warnanya yang beragam. Ukuran batu di dasar sungai, dari yang seujung jempol, sampai yang sekepal-dua-kepalan tangan. Di sana-sini tampak ikan-ikan kecil berenang kian-kemari dengan gesitnya. Di dinding batu besar, biasanya menempel ikan-ikan kecil. Ya, menempel seperti lintah. Entah jenis ikan apa, dan apa pula namanya.

Dulu, menurut penuturan anak angkatnya, Kartika, kalau Bung Karno nyemplung Sungai Nangaba, ia langsung memerintahkan teman-teman, termasuk Kartika, Ratna Djuami, membuat tanggul dari batu-batu yang ada. Dengan membedung sungai, sekalipun air tetap saja mengalir, setidaknya bisa meninggikan permukaan air di tempat Bung Karno berendam. Walhasil, jika kita perhatikan foto di atas, dalam posisi duduk, permukaan air bisa seleher.

Begitu rimbun alam sekitar, serta begitu jernih air sungai yang mengalir, membuat siapa pun akan menikmati suasana Nangaba. Tidak salah, Bung Karno sang pecinta keindahan itu begitu gemar mandi di sini, sampai-sampai menyempatkan diri mengajak teman-teman dan juru foto….

Hingga tahun 70-an, menurut penuturan masyarakat di sana, acap orang datang berendam dengan tujuan “ngalap berkah” Bung Karno. Ada yang berendam malam-malam, ada pula yang berendam siang-siang. Maklum, bagi sebagian masyarakat Ende, nama Bung Karno begitu dimuliakan. Bahkan bagi sebagian orang, hingga periode tertentu, Bung Karno cenderung dikultuskan.

Roso Daras di NangabaKini? Nangaba masih Nangaba. Beda masa, sudah beda pula pemandangannya. Kondisi air memang masih sangat-sangat jernih, tetapi pinggiran sungai tidak begitu bersih. Banyak sampah plastik di sana.

Di beberapa ruas sungai, tampak aktivitas sehari-hari masyarakat. Ada orang mencuci mobil, ada sekelompok perempuan mencuci pakaian, ada pula sekelompok anak bermain-main. Dan, …ada pula pemilik blog ini yang berendam di sana….. (roso daras)

Published in: on 10 Oktober 2013 at 09:04  Comments (3)  
Tags: , , , , , ,

Dari Sukarti, Poppy, lalu Kartika

Ini sepenggal kisah menarik antara Bung Karno dan dua anak angkatnya, Ratna Djuami dan Kartika. Penuturan ini disampaikan langsung oleh Omi, ketika Kartika berulang-tahun ke-83, beberapa tahun lalu.

Omi sendiri, ketika “diberi” adik angkat oleh kedua “orang-tua”nya, yakni Bung Karno dan Inggit Garnasih, merasa sangat senang. Terlebih sejak ia ikut dalam pembuangan Bung Karno di Ende, praktis tak ada lagi teman bermain.

Kehadiran adik angkat yang kemudian ia tahu bernama Sukarti itu, menjadi pelengkap kehidupan anak-anak Omi. Sebagai sesama anak angkat, sejatinya tidak ada sama sekali kemiripan antara Omi dan Sukarti. Demikian pula antara Omi, Kartika dengan orang tua angkata mereka, Bung Karno dan Inggit.

Akan tetapi, karena sehari-hari hidup dalam satu lingkungan keluarga, maka mereka menjadi sangat akrab. Inggit dengan sifat keibuannya. Bung Karno dengan karakter tegas dan disiplin. Nenek Amsi yang menjadi tempat mengadu bagi semuanya. Pendek kata, sebagai sebuah keluarga, mereka sangat harmonis.

Tiba pada suatu hari, Bung Karno marah demi mendengar Omi memanggil adiknya dengan sebutan Poppy. Ya, Sukarti kecil memang berkulit putih dan cantik. Karena itu banyak orang, tidak hanya Omi, yang memanggilnya Poppy. Tapi, Bung Karno tetap tidak suka. “Papi sangat membenci nama berbau asing,” kenang Omi.

Ia juga masih ingat ketika Bung Karno yang dipanggilnya papi itu berkata, “Itu tidak baik untuk nama seorang anak Indonesia. Kartika, ya Kartika nama yang cantik untukmu. Lain kali jangan mau dipanggil Poppy lagi, ya…,” begitulah Bung Karno mengganti nama Sukarti menjadi Kartika, sekaligus melarang semua orang, termasuk Omi, memanggilnya Poppy.

Di usianya yang sudah sangat sepuh, Omi menuturkan, betapa adiknya ini sangat manis, penurut, dan halus tutur-katanya. “Tidak pernah membantah. Selalu menurut, dan tidak suka bertengkar. Pokoknya adikku ini manis sekali. Aku sangat sayang padanya. Dan sampai kini kami saling merindukan,” tutur Omi, dalam kesan-kesan yang dituliskannya khusus menyambut ulang tahun Kartika ke-80, tiga tahun yang lalu. (roso daras)

Published in: on 25 November 2010 at 03:48  Comments (2)  
Tags: , , , , ,

Sowan Ibu Kartika, Anak Angkat Bung Karno

Saat dibuang ke Ende tahun 1934, Bung Karno membawa serta istrinya, Inggit Garnasih, anak angkatnya, Ratna Djuami (Omi), dan Ibu Amsi (mertua). Omi adalah keponakan Ibu Inggit. Karena itu, dalam banyak lembar sejarah banyak yang melupakan nama Sukarti atau Kartika, sebagai anak angkat Bung Karno (juga).

Bisa dimaklumi. Sebab, tidak seperti anggota rombongan buangan pemerintah Kolonial Belanda lainnya, Sukarti atau Kartika memang “diangkat” di Ende. Benar. Dia adalah putri sulung keluarga Atmo Sudirdjo, seorang juru ukur yang bekerja pada dinas pekerjaan umum pemerintahan Kolonial Belanda. Atmo sendiri asli Purwokerto.

Pertemuan pertama kali Sukarti atau Kartika itu sendiri terjadi tahun 1934, saat usianya baru menginjak enam tahun. Ia diajak serta oleh kedua orangtuanya, menuju pelabuhan untuk menjemput “tokoh besar” yang namanya sudah begitu semerbak di seantero Hindia Belanda sebagai “pejuang kemerdekaan”. Ya, Sukarti atau Kartika ikut ke pelabuhan bersama para pribumi lain dalam rangka menjemput Bung Karno dan rombongannya.

Ia tidak memiliki kesan mendalam, kecuali sebuah tanda tanya di benak otak seorang anak usia enam tahun. Mengapa begitu banyak orang Ende menjemput tokoh ini? Siapa gerangan dia? Lebih penasaran manakala ia melihat bahwa tokoh yang disambut itu berkulit sawo matang, bukan lelaki bule berambut jagung.

Sekanjutnya, Sukarti atau Kartika sering diajak ibudanya, Chotimah yang kelahiran Purworejo, mengikuti pengajian yang diadakan di kediaman Bung Karno. Dari sekali ke dua kali… dari dua kali ke tiga kali… lama kelamaan Sukarti atau Kartika semakin akrab dengan keluarga Bung Karno, khususnya dengan Ratna Djuami alias Omi.

Omi sangat merindukan adik. Sementara, sebagai putri sulung, Sukarti juga merindukan sosok kakak. Klop-lah mereka. Demi melihat keakraban di antara keduanya, Bung Karno berinisiatif mengangkat Sukarti atau Kartika sebagai anak angkatnya. Bung Karno pun memintanya kepada keuarga Atmo Sudirdjo.

Keluarga Atmo Sudirdjo sangat ikhlas… bahkan sangat senang dan bangga demi melihat tokoh perjuangan kemerdekaan itu sudi dan berkena mengangkat anaknya menjadi putrinya. Alhasil, lengkaplan anak angkat Bung Karno, Ratna Djuami dan Sukarti. Oleh Bung Karno, nama itu kemudian diubah menjadi Kartika.

Hingga kini, Sukarti pun dikenal sebagai Kartika. Nyonya Kartika. Dia masih tampak segar saat dijumpai di kediamannya di bilangan Jagakarsa, Jakarta Selatan. “Terakhir saya tinggal di Cibinong. Tetapi sejak suami saya meninggal, saya tinggal bersama anak-anak saya. Kadang di Jagakarsa, kadang di tempat anak saya yang lainnya,” tutur Kartika.

Untuk perempuan usia 82 tahun, Kartika masih tampak bugar. Daya ingatnya masih sangat tajam. Bicaranya jelas dan lugas. Ini berbeda dengan “kakak angkat”-nya, Ratna Djuami yang juga masih hidup dan tinggal di Bandung. Omi sepuh kini sudah mulai pikun. Hanya kepada orang-orang tertentu dia masih bisa berkomunikasi dengan baik.

Syahdan, Kartika adalah saksi sekaligus pelaku sejarah Bung Karno yang masih hidup. ┬áIa pun memiliki begitu banyak kenangan menjadi “anak angkat” Bung Karno. (roso daras)

Published in: on 23 November 2010 at 01:32  Comments (3)  
Tags: , , , ,