Paramitha si Inggit

DSC04541

Inggit Garnasih, seorang wanita yang luar biasa. Wanita pengantar Bung Karno ke pintu gerbang kemerdekaan. Istri kedua Bung Karno, yang total dalam pengabdian mendampingi suami. Ia mengikuti Bung Karno dalam pembuangan di Ende. Ia turut serta ketika Bung Karno dipindahkan ke pembuangan Bengkulu.

Lebih dari itu, kehadiran Inggit bagi Bung Karno bisa dibilang sangat-sangat penting. Bahkan bisa dibilang, tanpa Inggit di sisi Bung Karno, mustahil Bung Karno bisa konsisten sebagai seorang pejuang kemerdekaan. Inggit yang selalu mendampingi Bung Karno dalam segala keadaan, dalam setiap suka dan duka. Lebih dari itu, sebagai seorang wanita sekaligus istri, Inggit adalah wanita yang hangat bagi seorang Sukarno muda.

Nah, sosok itu yang akan diperankan aktris Paramitha Rusady, dalam film produksi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, berjudul “Ketika Bung di Ende”. Terpilihnya Mitha memerankan Inggit, juga bukan suatu kebetulan. Semula, peran itu jatuh ke aktris Ria Irawan. Kemudian karena satu dan lain hal, batal. Pilihan berikutnya jatuh ke aktris Happy Salma yang dinilai sukses ketika melakonkan “monolog Inggit”. Happy dinilai “paham” hal-ihwal Inggit. Lagi-lagi, karena sebuah alasan, Happy urung. Terakhir, pilihan jatuh ke Paramitha Rusady.

Hal pertama yang dilakukan Mitha adalah menghubungi Happy Salma. Yaaa, barangkali semacam “permisi” untuk memerankan Inggit. Sebab, betapa pun, Happy lebih dulu dikenal sebagai “Inggit” dalam dunia peran. Hal berikutnya yang dilakukan Mitha adalah menghubungi keluarga Inggit dan  ziarah ke makam wanita istimewa itu di Bandung.

Adalah Tito Asmarahadi yang menjadi “mentor” Mitha dalam melakoni peran Inggit. Tito ini adalah putra keempat pasangan Ratna Djuami – Asmarahadi. Ratna Djaumi adalah anak angkat Bung Karno – Inggit. Bung Karno memanggilnya Omi. Nah, Omi ini adalah anak kandung dari kakak perempuan Inggit, artinya dia keponakan langsung ibu Inggit.

Tito pula yang kemudian menerima Mitha di Bandung, dan mengantarnya ke makam Inggit. Di pemakaman itu, Mitha mendoakan ibu Inggit. Dalam hati, tentu saja dikandung maksud, ada pertalian bathin dengan Inggit, dan bisa melakonkan peran Inggit dengan baik.

Bahkan sesampai di Ende, tempat film itu hampir 100 persen diambil gambarnya, Mitha masih memerlukan untuk berdialog khusus dengan Tito. Bahkan pernah suatu hari, Mitha dan Tito terlibat percapakan seputar Inggit Garnasih dari malam sampai pagi. Begitu antusiasnya Paramitha Rusady mengeksplor karakter Inggit dari cucunya.

Hingga hari kesekian, sudah beberapa scene Mitha Inggit take. Terobsesi kesempurnaan peran, tak jarang Mitha “rewel” soal kualitas gambar, sehingga beberapa kali meminta take ulang. Seberapa sukses aktris kelahiran Makassar 11 Agustus 1966 itu memerankan Inggit? Kita lihat nanti hasilnya. (roso daras)

DSC04555

Jejak Tapak Bung Karno di Kediri

Sabtu, 20 Juli 2013, sahabat Er Hartono berkirim email dalam dua kali kirim berisi masing-masing dua tulisan menarik seputar Bung Karno. Tulisan-tulisan itu dikutip dari Radar Kediri (Jawa Pos Grup), yang mengadakan bedah buku “Trilogi Spiritualitas Bung Karno”. Saya muat utuh kiriman email dari Er Hartono di blog ini, demi “syiar” dan berbagi informasi tentang Bung Karno dengan Anda sekalian. Berikut judul pertama, “Jejak Tapak Bung Karno di Kediri”.

Jejak tapak BK

Bicara ”Jejak Tapak Bung Karno di Jawa Timur”, senantiasa kita tertuju pada satu tempat, BLITAR. Tak salah memang. Karena Bung Karno dimakamkan di Blitar, rumah kediaman Kakak Kandung BK dan Orang Tua BK (nDalemGebang/ Istana Gebang) juga di Blitar.

Tak jauh dari Blitar, di sebuah dusun yaitu Krapak, Desa Pojok, Kecamatan Wates Kabupaten Kediri (30km utara Blitar) juga terdapat tempat yang sebenarnya sangat lekat dengan “perjalanan hidup BK”. Bukan sebuah Rumah Mewah apalagi Istana. Hanya sebuah rumah berdinding bambu gaya gebyog, yang masih sama seperti dulu kala BK sering berkunjung ke lokasi ini. Rumah Pojok Wates ini dulunya adalah milik Raden Mas Surati Soemosewoyo putra  RMP.Soemohadmodjo kerabat dekat Raden Soekeni Sosrodihardjo, ayahanda BK.

Tak banyak literatur yang menyebutkan RM Soemosewoyo jika kita mengaitkannya dengan kebesaran nama BK. Hanya jika membaca buku Kisah Cinta Inggit dan Bung Karno “Kuantar Ke Gerbang” yang ditulis oleh Ramadhan KH (1981), nama Soemosewoyo ada disana. Di halaman 29, disebutkan bahwa saat Bung Karno akad nikah dengan Inggit di Bandung, Soemosewojo yang manjadi wakil dari keluarga Pak Soekeni Sosrodihardjo. Juga di halaman 65, disebutkan, saat BK dan Bu Inggit berkunjung ke Blitar untuk sungkem pada kedua orang tuanya, Pak Soemosewo lah yang menjemputnya di stasiun kereta api Blitar. Selain Ramadhan KH, ada lagi Reni Nuryati dalam bukunya berjudul “Perempuan dalam hidup Sukarno biografi Inggit Garnasih” pada halaman 112  juga menyebut peran RM Soemosewojo.

Soemosewoyo, seorang spiritualis yang juga menjadi penasehat spiritualis BK sejak kecil, hingga BK menjadi Presiden.  Pasca Proklamasi 1945, dan saat Ibu Kota RI dipindahkan ke Jogyakarta, Bung Karno sempat beberapa kali berkunjung ke rumah Pojok Wates ini. Selain silaturahmi dengan kerabatnya juga untuk “nyekar” ke makam RM.S.Soemosewoyo, tak jauh dari rumah ini.

Menurut RM.Harjono, putra RM.Sayid Soemodihardjo (adik Soemosewoyo) yang kini mendiami rumah kuno ini, saat BK tinggal di Surabaya bersama kedua orang tuanya, hingga BK kuliah di THS (ITB Bandung), sering di kunjungi BK. Bahkan kamar khusus untuk BK pun masih dijaga dan dirawat dengan baik, meski apa adanya. Dan Harjono pun tak berniat untuk merenovasi atau mengubah bentuk rumah warisan itu menjadi bergaya apapun. ” Ini saksi bisu BK dalam perjalanan hidup dan perjuangan”, tandas Harjono. * Ganang Parto

Omi, Menyusul Inggit dan Bung Karno

Ratna Djoeami sepuhSebuah running text di salah satu televisi nasional tertulis: Ratna Djoeami, putri angkat Bung Karno meninggal dunia. Itu peristiwa dua hari lalu, Minggu, 23 Juni 2013. Itu artinya, satu lagi kerabat dekat Bung Karno pergi meninggalkan kita. Saya sangat berduka, seyogianya negeri ini pun berduka. Anak angkat Bung Karno yang tak lain adalah keponakan Inggit Garnasih itu, adalah pelaku dan saksi hidup yang komplet.

Omi –begitu ia dipanggil– sudah ikut Bung Karno sejak dalam pembuangan di Ende, bersama Inggit (tante yang jadi ibu angkat) nenek Amsi (ibunda Inggit yang juga nenek Omi). Di Ende pula ia merasakan duka kehilangan nenek Amsi yang wafat dan dimakamkan di sana pada tanggal 12 Oktober 1935. Kemudian, ketika pemerintah kolonial Belanda memindahkan tempat pembuangan dari Ende ke Bengkulen (Bengkulu), Omi ikut serta.

Omi lahir di Bandung tahun 1922, itu artinya ia wafat dalam usia 91 tahun. Suaminya, wartawan, tokoh pergerakan pada zamannya, sekaligus murid ideologis Bung Karno, Asmara Hadi, sudah mendahuluinya. Pasangan Omi – Hadi dikaruniai enam orang anak. Anak keenam lahir tahun 1950 di RS St Carolus Jakarta, dan menjadi satu-satunya anak perempuan Omi-Hadi. Adapun anak ketiga, yang bernama Kemal Budhi Darma, meninggal akhir tahun 1945, saat umurnya baru satu tahun.

Inggit-BK-OmiSaat mengikuti Bung Karno dalam pembuangan di Ende, Omi sempat belajar di MULO Bandung. Karena keterbatasan akses dan fasilitas selama di pembuangan, Omi kemudian meneruskan belajar sendiri, dengan bimbingan langsung bapak angkatnya, Bung Karno. Dari penuturan adik angkatnya, Kartika, suasana belajar di rumah pembuangan Bung Karno sangatlah ketat dan penuh disiplin. Saat bertindak sebagai guru, Bung Karno sangat tegas cenderung galak. Kartika mencontohkan, kalau Omi salah menjawab pertanyaan Bung Karno sang guru, spontan Bung Karno akan melotot ke arah Omi.

Selama di Ende, Bung Karno dan Omi sering berkomunikasi dalam bahasa Belanda. Aktivitas belajar-mengajar antara Bung Karno dan Omi pun menggunakan bahasa pengantar Belanda bercampur melayu. Sedangkan kalau dalam keseharian, Bung Karno, Omi, dan Inggit berkomunikasi dalam bahasa Sunda. Tetapi kepada adik angkat Omi, Kartika, keluarga itu memakai bahasa Melayu.

Omi adalah murid yang cerdas. Bung Karno sangat menyayangi Omi, baik sebagai anak (angkat) maupun sebagai murid. Omi pun banyak membantu Bung Karno dalam menyibukkan diri selama di pembuangan. Contoh, ketika Bung Karno mendirikan tonil bernama Kelimoetoe, Omi pun terlibat dalam kepanitiaan sekaligus seksi kostum bersama sang “ibu” Inggit Garnasih. Ya, semua kostum yang dikenakan pemain tonil pimpinan Bung Karno, adalah buatan Inggit dan Omi.

Omi dan KartikaAlkisah, ketika Bung Karno dipindahkan ke pembuangan yang baru di Bengkulu, Omi pun turut serta. Ia sudah remaja. Bahkan, Bung Karno sendiri dalam buku otobiografinya menyebutkan bagaimana Omi menjadi saksi dalam kehidupan rumah tangga Bung Karno – Inggit, serta masuknya Fatmawati ke lingkungan keluarga mereka. Sebagai remaja, bahkan Omi pun dikisahkan pernah bertengkar dengan Fatmawati.

Syahdan, ketika Bung Karno bercerai dengan Inggit, Ratna Djoeami dan Kartika (kedua putri angkat Bung Karno) memilih tinggal bersama Inggit di Bandung. Sebuah keputusan yang sangat sulit.  Bung Karno, Inggit, Omi dan Kartika, dikisahkan bertangis-tangisan ketika itu. Beruntung, pada awal-awal perceraiannya dengan Inggit, Bung Karno relatif sering mengunjunginya di Bandung. Ketika itu, Omi dan Kartika, tinggal bersama Inggit.  Bahkan ketika kiriman uang dari Bung Karno terhenti, Omi pun membantu Inggit berjualan ini-itu untuk kebutuhan hidup.

Bagi Omi, Bung Karno adalah sosok ayah sejati.  Bung Karno yang mendidik Omi, bahkan kemudian menikah dengan Asmara Hadi yang juga anak ideologis Bung Karno. Hubungan mereka tetap terjalin dengan baik. Bahkan, Omi pula yang menggandeng dan menuntun Inggit ke Wisma Yaso, melayat Bung Karno tahun 1971.

Kini, Omi sudah menyusul Bung Karno dan Inggit. Semoga mereka bahagia di sana. (roso daras)

keluarga omi-hadi

 

Kesaksian Im Yang Tjoe tentang Bung Karno

Siapa Im Yang Tjoe? Mungkin tidak begitu penting dalam sejarah nasional. Tapi ia menjadi penting dalam garis sejarah Sukarno. Penulis keturunan Tionghoa inilah yang membuat buku biografi pertama tentang Bung Karno thun 1933. Beberapa saat setelah Bung Karno dibebaskan dari Sukamiskin. Setahun sebelum Bung Karno dibuang ke Ende.

Saat itu, Im Yang Tjoe sudah “meramalkan” bahwa Bung Karno akan menjadi orang besar. Ia sudah lama melakukan observasi, penelitian, dan mengikuti rekam-jejak Sukarno. Bahkan untuk keperluan penulisan bukunya, ia menelusuri hingga ke Tulungagung, Sidoarjo, Mojokerto, Surabaya, dan tentu saja Bandung. Karena itu pula, Im Yang Tjoe bisa mendiskripsikan dengan begitu jelas riwayat Sukarno sejak anaka-anak hingga mewujud menjadi tokoh pergerakan kemerdekaan.

Pada bagian akhir bukunya, ia membuat kesaksian. Begini ia menulis, “Sedikit pernyataan, kenapa buku ini ditulis, tiada lain karena penulisnya bersimpati pada tabiat kesatria dan kemanusiaan yang ada pada diri Ir Sukarno itu.”

Lebih lanjut ia menuliskan, perikemanusiaan Sukarno begitu besar, dan dirasakan sampai sekarang. Sejak berumur 14 tahun, membunuh nyamuk saja ia tiada pernah, kendati nyamuk itu menggigit badannya. Sebab, ia menganggap nyamuk-nyamuk itu sudah diciptakan untuk hidupnya harus menghisap darah manusia, seperti halnya semut yang mesti memakan gula.

Karenanya, Sukarno berpikir, tidak harus lantaran cangkir kopinya dirubung semut, manusia harus menggunakan kekuatannya untuk membinasakan semut. “Yah… sebagai manusia, Sukarno pantas dihormati,” tulis Im Yang Tjoe.

Sementara, dirinya sendiri terus menolong orang-orang miskin, tidak peduli bangsa apa saja. Jangankan kepada bangsanya sendiri, bahkan kepada orang Belanda yang kenal dengannya ketika sama-sama di penjara, dan ketika keluar tidak punya penghasilan, datang kepada Sukarno yang dengan suka rela memberikan apa saja yang ia punya. Uang tiga picis dikasih satu rupiah, terkadang yang dua rupiah dikasih semua tanpa memikirkan apakah besok masak sayur atau hanya makan pakai garam.

Siapa yang mesti memperingatkan Sukarno akan tabiat yang terkadang menyulitkan dirinya sendiri itu? Tidak satu pun. Karena, Inggit istrinya, pun setali tiga uang. Karenanya, keduanya seakan bersaing dalam kebaikan. Tak jarang mereka main dulu-duluan menyebar milik mereka kepada siapa saja yang lebih membutuhkan. Padahal, kehidupan mereka sendiri tergolong tak seberapa mampu.

Tidak sedikit yang menganggap perbuatan keduanya sebagai bodoh atau konyol. Akan tetapi, tidak begitu sikap Sukarno dan Inggit. Bagi keduanya, ibarat memiliki sebuah gunung emas, girang dan senangnya tidak seberapa dibanding ketika keduanya bisa memberi harta yang paling akhir yang dimilikinya kepada sesama manusia yang sedang dalam kesusahan. (roso daras)

Published in: on 30 November 2010 at 17:18  Comments (4)  
Tags: , , ,

Kisah Bung Karno Melamar Inggit

Ada begitu banyak bunga bermekaran di taman Kota Kembang, tapi hanya satu yang memikat hati Sukarno muda. Dialah Inggit Garnasih. Tidak soal ihwal rentang usia selusin antara keduanya. Tidak soal, bahwa tentang beda usia itu, Bung Karno terpaksa harus mengecilkan bilangannya saat pergi melamar Inggit.

Betapa tidak. Lamaran Bung Karno terhadap Inggit, tidak serta-merta diterima. Atas lamaran Bung Karno, ayahanda Inggit menjawab, “Wahai orang muda, kau adalah keturunan bangsawan, dan dirimu adalah seorang terpelajar. Di sini dan di mana-mana ada banyak gadis hartawan dan terpelajar yang siap untuk menjadi pasanganmu….”

Diam Sukarno.

“… Kami adalah keluarga miskin, anakku Inggit sudah janda; lagi pula tidak terpelajar, tidak sepadan untuk menjadi istrimu. Dan terus terang, saya khawatir, sebagaimana yang lazim terjadi, perjodohan yang demikian tidak akan panjang….”

Takzim Sukarno mendengarkan.

“…karena ada saja yang membuat kau malu. Ada saja yang akan membikin anakku sakit hati.”

Waktu bergulir… menguasai ruang dan waktu. Hanya diam dan sunyi untuk sementara waktu. Bung Karno harus segera menanggapi kata-kata calon mertuanya. Ia pun menarik napas panjang sebelum mengeluarkan tanggapan….

“Bapak, semua itu sudah saya ketahui lebih dulu, dan saya tambahkan bahwa saya pun sudah tahu bahwa Inggit lebih tua lima tahun dari saya….” (Lihatk bagaimana Sukarno mengecil-ngecilkan bilangan selisih usianya dengan Inggit, demi lebih meyakinkan calon mertuanya)… “Apakah niat saya kurang suci, walau sudah saya tahu keadaan semua itu, kemudian saya pikirkan dan akhirnya melamar dengan sadar?”

Ayah Inggit diam, mendengarkan si muda bicara.

“Bapak, karena itu saya datang melamar dengan harapan Bapak mempertimbangkannya.”

Ayah Inggit menatap tajam ke arah mata Sukarno ketika bicara. Dari sana ia menangkap ketulusan niat Sukarno. Dari sorot matanya Sukarno memancarkan keseriusannya. Maka… luluhlah hati calon mertua, dan akhirnya lamaran pun diterima.

Sementara kepada bapak-ibunya, Sukarno pun sudah menyampaikan niatnya melamar Inggit. Dan Soekeni, ayahanda Bung Karno dalam surat jawabannya menuliskan, “Ayah dan ibumu tidak merasa keberatan. Urusan itu terserah pada dirimu sendiri. Kami cuma mengharapkan, pengalamanmu yang sudah-sudah akan menjadi pelajaran bagimu.” (roso daras)

Published in: on 29 November 2010 at 23:32  Comments (4)  
Tags: ,

Dari Sukarti, Poppy, lalu Kartika

Ini sepenggal kisah menarik antara Bung Karno dan dua anak angkatnya, Ratna Djuami dan Kartika. Penuturan ini disampaikan langsung oleh Omi, ketika Kartika berulang-tahun ke-83, beberapa tahun lalu.

Omi sendiri, ketika “diberi” adik angkat oleh kedua “orang-tua”nya, yakni Bung Karno dan Inggit Garnasih, merasa sangat senang. Terlebih sejak ia ikut dalam pembuangan Bung Karno di Ende, praktis tak ada lagi teman bermain.

Kehadiran adik angkat yang kemudian ia tahu bernama Sukarti itu, menjadi pelengkap kehidupan anak-anak Omi. Sebagai sesama anak angkat, sejatinya tidak ada sama sekali kemiripan antara Omi dan Sukarti. Demikian pula antara Omi, Kartika dengan orang tua angkata mereka, Bung Karno dan Inggit.

Akan tetapi, karena sehari-hari hidup dalam satu lingkungan keluarga, maka mereka menjadi sangat akrab. Inggit dengan sifat keibuannya. Bung Karno dengan karakter tegas dan disiplin. Nenek Amsi yang menjadi tempat mengadu bagi semuanya. Pendek kata, sebagai sebuah keluarga, mereka sangat harmonis.

Tiba pada suatu hari, Bung Karno marah demi mendengar Omi memanggil adiknya dengan sebutan Poppy. Ya, Sukarti kecil memang berkulit putih dan cantik. Karena itu banyak orang, tidak hanya Omi, yang memanggilnya Poppy. Tapi, Bung Karno tetap tidak suka. “Papi sangat membenci nama berbau asing,” kenang Omi.

Ia juga masih ingat ketika Bung Karno yang dipanggilnya papi itu berkata, “Itu tidak baik untuk nama seorang anak Indonesia. Kartika, ya Kartika nama yang cantik untukmu. Lain kali jangan mau dipanggil Poppy lagi, ya…,” begitulah Bung Karno mengganti nama Sukarti menjadi Kartika, sekaligus melarang semua orang, termasuk Omi, memanggilnya Poppy.

Di usianya yang sudah sangat sepuh, Omi menuturkan, betapa adiknya ini sangat manis, penurut, dan halus tutur-katanya. “Tidak pernah membantah. Selalu menurut, dan tidak suka bertengkar. Pokoknya adikku ini manis sekali. Aku sangat sayang padanya. Dan sampai kini kami saling merindukan,” tutur Omi, dalam kesan-kesan yang dituliskannya khusus menyambut ulang tahun Kartika ke-80, tiga tahun yang lalu. (roso daras)

Published in: on 25 November 2010 at 03:48  Comments (2)  
Tags: , , , , ,

Hariyatie dan Inggit

Usia Hariyatie masih 23 tahun saat dinikahi Bung Karno yang sudah berusia 63 tahun. Sekalipun begitu, Bung Karno menghargai benar sikap dewasa Hariyatie. Termasuk kemampuan Hariyatie dalam membawakan diri di depan lingkungan Istana, bahkan dalam situasi-situasi sulit, terkait dengan posisi Bung Karno sebagai Presiden dengan istri lebih dari satu.

Dalam “kisah tersembunyi” Hariyatie Soekarno, ia mengisahkan sejumlah peristiwa yang ia sebut sebagai gesekan antarpara istri Bung Karno. Belum lagi resmi menjadi istri, ia pernah bergesekan dengan Hartini. Bahkan setelah bercerai dari Bung Karno, ia pernah pula bergesekan dengan Ratna Sari Dewi.

Namun, terhadap Inggit Garnasih, ia tidak pernah mengalami gesekan berarti. Sebaliknya, Hariyatie tergolong istri Bung Karno yang relatif paling rajin dan rutin mengunjungi Inggit di Jalan Ciateul, Bandung (sekarang Jalan Inggit Garnasih). Dalam bukunya, ia hampir setiap bulan atau sebulan sekali, menyempatkan diri mengunjungi Inggit dengan iring-iringan mobil dari Jakarta.

Salah satu alasan yang mendasari langkahnya menuju Bandung bertemu Inggit setiap bulan adalah karena ia begitu hormat, begitu respek terhadap Inggit. Bagi Hariyatie, Inggit adalah sosok wanita yang pantas dituakan. Inggit di mata Hariyatie adalah sosok perempuan pendamping Bung Karno yang setia. Inggit yang mengantar Bung Karno menjadi orang nomor satu di Indonesia.

Pemahaman Hariyatie tumbuh dari pemahamannya sendiri, setelah mendengar Bung Karno menceritakan panjang lebar tentang peran Inggit pada masa-masa awal revolusi hingga pra kemerdekaan. Bahkan Bung Karno kepada Hariyatie pernah berujar, sangat sulit mencari sosok istri yang lebih berbakti daripada Inggit. Sekitar dua puluh tahun hidup bersama Inggit, Bung Karno merasakan benar bakti Inggit kepadanya.

Sekalipun Ibu Inggit bukan tergolong perempuan berpendidikan tinggi, tetapi Bung Karno mengakui dedikasi dan pengabdian Inggit selama menjadi pendampingnya. Itu pula yang membuat Hariyatie begitu mengagumi Inggit. Kedatangannya sebulan sekali ke Bandung, menemui Inggit, tentu juga dalam rangka belajar bagaimana mengabdi yang baik kepada suami. Kepada Bung Karno. (roso daras)

Published in: on 18 Mei 2010 at 02:34  Comments (2)  
Tags: , , , ,

Pengantar Bung Karno ke Gerbang Kemerdekaan

Inggit Garnasih… bukan Inggit Ganarsih. Itu dulu yang pertama harus diketahui. Dia adalah istri kedua Bung Karno, bukan istri pertama Bung Karno. Itu hal lain yang juga penting diketahui.

Mojang Priangan ini sama sekali tidak bisa dihapus dari hidup dan kehidupan Bung Karno. Seperti halnya Bung Karno, maka Inggit pun memiliki banyak sekali sudut pandang. Dari sisi pergerakan, wanita yang selusin lebih tua usianya dari Bung Karno ini, sangat fantastis. Ia tidak saja rela mengeluarkan hartanya buat pergerakan, tetapi ia juga rela berjualan jamu yang hasilnya disumbangkan bagi pergerakan. Bahkan, Inggit dengan lihainya menyelundupkan sandi-sandi intelijen melalui telur, Alquran, dll saat Bung Karno mendekam di penjara.

Lain lagi kalau berbicara roman percintaan mereka. Saat itu, Bung Karno adalah anak kos dan Inggit adalah ibu kosnya di Bandung. Gejolak darah muda Sukarno, berpadu dengan ibu kos yang kesepian, mengalirkan getar cinta. Klimaksnya berujung pada langkah Sukarno “mengembalikan” Utari, putri HOS Cokroaminoto yang dinikahinya secara “nikah gantung”. Di sisi lain, Inggit mengajukan permintaan cerai dari suaminya yang dikenal lebih gemar beraktivitas di luar rumah daripada diam di rumah.

Pernikahan Sukarno – Inggit di era perjuangan, sejatinya sangat penuh romantika dan dinamika. Hanya ada satu Inggit Garnasih di atas bumi ini. Dan satu-satunya Inggit itulah yang paling pas mendampingi Sukarno muda. Ia tahan gempuran gosip, gempuran cemooh, bahkan pelecehan polisi Belanda demi mengetahui dirinya adalah istri musuh nomor satu pemerintah Hindia Belanda, bernama Sukarno.

Inggit juga tabah mendampingi Sukarno hidup di pengasingan, baik selama di Ende maupun Bengkulu. Selama mendampingi Sukarno, Inggit menjadi tulang punggung bagi jiwa Sukarno yang berkobar-kobar, jiwa Sukarno yang frustrasi, jiwa Sukarno yang melo, jiwa Sukarno yang gandrung kemerdekaan bagi bangsanya.

Sejarah kemudian mencatat, di Bengkulu, hati Sukarno tertambat pada gadis belia bernama Fatmawati. Itu adalah tahun-tahun 1940-an, menjelang akhir pendudukan Belanda, dan dimulainya pendudukan Jepang. Di tengah himpitan persoalan kebangsaan, Bung Karno juga dihimpit pertengkaran dengan Inggit yang mulai mencium adanya gelagat suaminya mencintai Fatma.

Pertengkaran demi pertengkaran itu bahkan dibawa sampai ke Jakarta tahun 1943. Bahkan Bung Karno pernah bercerita, saat suatu malam pulang larut begitu pulang disambut dingin Inggit, dan berlanjut ke pertengkaran. Dikisahkan, jika sudah marah karena dibakar cemburu, Inggit bisa menerbangkan barang-barang apa saja yang ada di dekatnya, khususnya barang-barang yang sering kita liat di atas meja makan. Terbayanglah suara piring terbang dan benda-benda terbang lainnya….

Dan… manakala keduanya menyepakati perpisahan, Bung Karno masih sempat mengantarnya ke dokter gigi pagi hari, dan mengantarnya ke Bandung dan membawakan barang-barang Inggit tanpa kecuali. Itulah akhir perpisahan keduanya. Setelah itu, tak lama berselang, Bung Karno melamar dan melangsungkan pernikahan “telegram” dengan Fatmawati, beberapa saat menjelang Indonesia merdeka.

Inggit Garnasih, adalah pengantar Bung Karno ke gerbang kemerdekaan. Inggit memiliki panggilan kesayangan buat Bung Karno, “Engkus”…. Dan panggilan itu ia ucapkan untuk terakhir kalinya, saat menatap jazad Bung Karno di Wisma Yaso. (roso daras)

Published in: on 17 Februari 2010 at 05:47  Comments (4)  
Tags: , , ,

Bung Karno sebagai “Tukang Insinyur”

rumah karya bung karno

Kuliah teknik sipil di THS Bandung (sekarang ITB) adalah sisi kehidupan lain seorang Sukarno muda. Tokoh pergerakan, adalah peran lain yang dimainkannya. Nah, dalam mendayung sampan perjuangan di sungai berbatu cadas, terkadang ia meliuk ke kiri, meliuk ke kanan… terkadang ia menabrak pula bebatuan keras yang membuatnya limbung.

Di lingkungan kampus, Sukarno pun sempat aktif di organisasi kemahasiswaan, semacam studie club. Akan tetapi, manakala klub mahasiswa yang sebagian besar berisi mahasiswa bule itu lebih banyak menjalankan program pesiar dan plesiran, Bung Karno pun menyempal dan mendirikan kelompok studi lain. Langkah dia, segera diikuti mahasiswa-mahasiswa pribumi, pengikut setianya.

Bertahun-tahun setelah ia mendayung kedua peran sebagai mahasiswa dan tokoh pergerakan, tentu saja Sukarno mengalami banyak kejadian. Ia ditangkap polisi Belanda untuk pertama kali tahun 1922, pun dalam status sebagai seorang mahasiswa. Ia pernah digrebek di rumahnya bersama sejumlah akivis lain, juga masih dalam status sebagai mahasiswa.

Bahkan, ketika hantaman datang bertubi-tubi, mulai dari peristiwa penangkapan, disusul ditangkapnya guru sekaligus mertua, H.O.S. Cokroaminoto, dan banyak kejadian lain, sempat memunculkan awan pekat di ujung sungai sana. Ia nyaris berhenti mendayung. Ya… nyaris berhenti kuliah. Berhenti meneruskan cita-cita pergerakan menuju Indonesia merdeka.

Akan tetapi, ingatkah Anda? Seorang anak yang lahir di saat sang fajar menyingsing, takdirnya telah ditentukan. Ingatkah pula Anda? Sang ibunda, yang mengandung dan melahirkannya, Ida Ayu Nyoman Rai, mendekap tubuh kecil Sukarno di beranda depan, saat matahari mengintip di ufuk sana, seraya menujum masa depan putranya yang gilang-gemilang. Menerawang masa depan putra tersayang yang bakal menyandang takdirnya menjadi pembebas belenggu penjajah yang melilit bangsanya.

Awan pekat pun tersibak. Cokroaminoto bebas, Sukarno kembali ke bangku kuliah. Dan… aktivitas pergerakan kembali menjadi rutinitas hidupnya. Ia melanjutkan kuliah dengan gelora semangat baru. Mungkin saja karena ia baru saja melewati satu tanggung jawab besar sebagai kepala rumah tangga, atau mungkin juga karena ia kembali ke kota Bandung, ke rumah kos dengan Inggit Garnasih di dalamnya.

Kuliah berhasil diselesaikan. Nilai kelulusan? Ah… mana terjadi mahasiswa pribumi melampaui nilai-nilai mahasiswa bule. Pribumi harus di bawah bangsa bule. Sepintar apa pun dia. Sukarno tahu betul hal itu. Ia sudah terbiasa dengan hal-hal semacam itu sejak masa sekolah ELS di Mojokerto, HBS di Surabaya.

Bung Karno sendiri tidak terlalu memedulikan masalah itu. Ia lebih peduli politik. Ia lebih peduli menyusun kekuatan pergerakan melawan penjajah. Ia lebih peduli mewujudkan Indonesia yang merdeka. Indonesia yang tidak lagi membungkuk-bungkuk di hadapan bule. Indonesia yang tidak bisa begitu saja diludahi bangsa penindas.

Hanya orang dengan kepedulian seperti itu saja, yang rela hidup miskin, sekalipun tawaran menjadi pejabat dan pegawai di pemerintahan Hindia Belanda terbuka lebar, apalagi bagi seorang sarjana teknik, “tukang insinyur” cerdas seperti Sukarno. Ia lebih suka menerbitkan koran, memungut uang langganan, uang iklan, dan mendapatkan sedikit uang untuk dana perjuangan. Dengan media ia bisa berpropaganda. Dengan uang yang dihasilkan, ia bisa mendanai hidup dan perjuangannya.

Memang, Bung Karno sempat pula mencari nafkah dengan menjual keahliannya sebagai seorang insinyur. Ia mendirikan biro teknik, biro arsitek, tetapi tidak berhasil. Ada banyak faktor, tetapi yang pasti, ia gagal. Kemudian selepas dari penjara Sukamiskin, sekira tahun 1932, ia bergabung dengan Ir. Rooseno dan kembali mendirikan biro arsitek.

Biro arsitek yang didirikannya, lagi-lagi tidak sukses. Orang-orang lebih menyukai arsitek ala Tionghoa atau Belanda. Alhasil, tidak jarang untuk bayar sewa kantor yang 20 rupiah, telepon yang 7,5 rupiah, biro ini harus menombok. Bung Karno menomboki usaha yang merugi? Bukan. Rooseno-lah yang nombok. Sebab, Rooseno berpenghasilan lebih besar lagi sebagai pengajar. Kantong Rooseno jauh lebih tebal dibanding seluruh kantong Sukarno.

Sukarno? Ah… dia pura-pura tidak tahu hal itu. Yang pasti, tiap bulan ia datang ke kantor, menemui Rooseno, dan langsung bertanya, “Berapa kau berutang kepadaku?”

Rooseno hapal betul nada itu. Sebuah sikap “memahami” yang sangat dalam. Rooseno tahu, bahwa Sukarno tahu usahanya tidak jalan, atau katakan saja jalan merayap. Di sisi lain, Rooseno tahu juga, Sukarno sangat memerlukan uang untuk menafkahi keluarga dan ongkos perjuangan. Pemahaman seperti itulah yang membuat Rooseno menjawab pertanyaan Bung Karno dengan jawaban, “Bagian Bung 15 rupiah….”

Bayangkan! “Bagian” dari mana? Sedangkan untuk menutup sewa kantor dan bayar telepon saja tidak cukup. Jadi, laiknya dua sahabat dalam tingkat kesepahaman yang tinggi, maka Sukarno pun menjawab, “Baik. Terima kasih.” Tak ada pertanyaan lagi setelah itu.

Sejatinya, dalam hal perpaduan ilmu, Rooseno dan Sukarno memang klop. Dalam menjalankan roda usaha biro arsitek tadi, Rooseno yang banyak berperan sebagai insinyur-kalkulator. Mengerjakan soal-soal detail, membuat perhitungan dan kalkulasi, serta mengerjakan ilmu pasti yang sangat sukar itu.

Sukarno sendiri, sebagai seorang arsitek seniman, bertindak sebagai pengatur bentuk-bentuk yang unik dari rancang bangun sebuah gedung atau rumah. Akan tetapi… tentu saja tidak banyak yang diatur, karena biro arsitek mereka memang sepi order. Tetapi dalam otobiografi yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno cukup membanggakan karyanya sebagai “tukang insinyur”. “Ada beberapa buah rumah yang kurencanakan sendiri, dan sekarang masih berdiri di Bandung. Rencanaku boleh jugalah. (Meski) tidak begitu ekonomis, tetapi indah….” (roso daras)

Published in: on 21 Agustus 2009 at 01:49  Comments (1)  
Tags: , , ,

Awak Kapal Ajak Bung Karno Kabur

Dari Jawa ke Ende

Pulau Bunga, Flores, pulau cantik yang dijadikan tempat pembuangan Bung Karno. Enam tahun hidup dalam pengasingan, cukuplah bagi Sukarno untuk menyelami kehidupan rakyat Ende, pantai indah dan para nelayan yang ramah, kehidupan pelabuhan yang pikuk saat kapal berlabuh, serta masyarakatnya yang ramah sedikit tertutup.

Di sini, Bung Karno hidup bersama Inggit Garnasih sang istri, Ibu Amsi sang mertua, dan Ratna Djuami sang anak angkat yang biasa dipanggil Omi. Tak berapa lama kemudian, barulah bergabung empat orang pembantu, satu di antaranya Riwu Ga yang mengikuti Bung Karno hingga ke era pembuangan di Bengkulu sampai Indonesia merdeka.

Selama dalam masa pembuangan, Bung Karno telah menjelma menjadi “penyelundup” ulung. Ia menjalin komunikasi penuh sandi dengan para awak kapal. Terlebih, kapal-kapal lintas pulau, umumnya diawaki para ABK pribumi, yang semuanya menaruh hormat kepada Sang Tokoh Pergerakan, Sang Musuh Penjajah. Ada kalanya, Bung Karno sendiri yang berdesak-desakan di pelabuhan. Ada kalanya cukup lewat orang suruhan. Dengan bahasa-bahasa tertentu, komunikasi berjalan lancar.

Alhasil, semua kebutuhan Bung Karno terpenuhi dengan mudah. Sampailah suatu ketika, saat Bung Karno sedang menanti paket pesanan rahasia di pelabuhan, tiba-tiba turun seorang awak kapal berbadan tinggi besar, berkulit gelap. Ia menyeruak kerumunan orang dan mendekati Bung Karno. Setelah tiba di hadapan Bung Karno, ia sedikit membungkuk dan berkata bisik, “Bung, katakanlah kepada kami, kami akan menyelundupkan Bung Karno. Saya jamin aman, tidak akan ada orang yang tahu.”

“Terima kasih, saudara. Lebih baik jangan,” kata Bung Karno sambil menatap awak kapal tadi penuh rasa terima kasih. “Terkadang memang terbuka jalan seperti yang saudara katakan itu. Dan sering juga datang pikiran menggoda untuk lari secara diam-diam dan kembali bekerja untuk rakyat kita.”

Si awak kapal menyambar, “Kalau begitu, kenapa tidak dicoba saja, Bung?! Kami akan sembunyikan Bung Karno dan membawa Bung ke tempat kawan-kawan.”

Bung Karno menjawab tenang, “Kalau saya lari, ini hanya saya lakukan untuk memperjuangkan kemerdekaan. Begitu saya mulai bekerja, saya akan ditangkap lagi dan dibuang lagi. Jadi, tidak ada gunanya.”

Awak kapal bertanya lagi, “Apakah Bung Karno tidak bisa bekerja secara rahasia?”

“Itu bukan caranya Bung Karno.”

“Sekiranya di suatu saat berubah pendirian Bung Karno, tak usah ragu, sampaikan kepada kami.”

Bung Karno merangkul awak kapal tadi, dan tanpa ragu mencium kedua pipinya. “Terima kasih. Di suatu masa, kita semua akan merdeka. Begitupun saya.” (roso daras)

Published in: on 29 Juli 2009 at 05:03  Comments (15)  
Tags: , , , ,