Bung Karno dan Kaum Homo

Iseng buka-buka folder foto Bung Karno, saya menemukan satu foto menarik yang direkam di Amerika Serikat tahun 1956. Dalam salah satu kegiatannya, Bung Karno berkesempatan menjumpai komunitas kaum homoseksual di sana. Sayangnya, penjelasan mengenai peristiwa itu begitu langka.

Satu-satunya catatan tentang Bung Karno dan lelaki homoseksual hanya ada di buku autobiografinya, dan itu pun sudah pernah saya posting di sini dengan judul “Bung Karno Diajak Bercinta Lelaki Homo”. Kisahnya tentang “pertemanannya” dengan seorang narapidana berkebangsaan Belanda di penjara Sukamiskin tahun 30-an.

Pria bule berambut keriting jagung dan berdada bidang itu, bolak-balik masuk penjara dengan kasus yang sama: Mencabuli laki-laki. Terakhir, dia divonis empat tahun penjara akibat perbuatannya itu. Ironisnya, ketika tertangkap polisi, ia dalam status baru dua minggu keluar penjara. Lagi-lagi dengan kasus yang sama, memperkosa laki-laki.

“Orang sakit”, begitu Bung Karno menjuluki laki-laki ini.

Satu hal yang pasti, Bung Karno adalah seorang humanis. Kenangan dengan narapidana Belanda yang mengajaknya bercinta dulu, ia rekam sebagai sebuah fenomena kehidupan di penjara. Ketika itu, dan konon hingga hari ini, praktik percintaan sesama pria masih marak di sel-sel hotel prodeo.

Sekalipun begitu, terhadap komunitas kaum gay, Bung Karno tetap menaruh respek. “Homo juga manusia…” begitu barangkali yang ada di benak Bung Karno. (roso daras)

Published in: on 1 Juli 2010 at 17:48  Comments (3)  
Tags: , ,

Diajak Bercinta Lelaki Homo

Soekarno-mudaKehidupan dalam kurungan, bisa menghancurkan, bahkan merobek-robek orientasi seksual seseorang. Tidak jarang kita mendengar berita dan cerita dari balik tembok penjara, ihwal maraknya praktek homoseksual, praktek percintaan sesama kelamin, pria dengan lelaki. Lelaki dengan pria.

Bung Karno merekam dengan baik kehidupan di balik tembok penjara Sukamiskin di Bandung. Termasuk praktek homoseksual yang terjadi di dalamnya. Bung Karno mengenal betul seorang narapidana berkebangsaan Belanda. Dalam otobiografinya, Bung Karno tidak menyebut nama, ia hanya menggambarkan, pria itu berambut keriting, berdada bidang.

Ia, diketahui masuk-keluar penjara karena sebab yang sama: Mencabuli pemuda-pemuda bumiputera, alias pribumi. Terakhir, ia kembali masuk sel dengan vonis empat tahun penjara. Padahal, belum lama ia menghirup udara bebas. Tapi itulah, orientasi homoseksual memang menyebabkan ia terus berpetualang mencari mangsa.

Sebelum dikirim kembali ke penjara, ia ditangkap polisi Belanda karena mencabuli sejumlah lelaki pribumi sekaligus. Entah apa yang ada di benaknya, tapi ia sungguh ceroboh. Bayangkan, sebagai lelaki bule, ia menonton bioskop di antara deretan kursi bumiputera. Di sekelilingnya adalah pemuda-pemuda bumiputera para calon mangsanya.

Ketika ia dikirim kembali ke bui, tak ada sedikit pun raut penyesalan. Seperti halnya para narapidana lain, maka ia pun mendapat tugas kerja di siang hari. Di antara sekian jenis pekerjaan, ia selalu menghendaki pekerjaan yang bisa berhimpit-himpitan dengan sesama napi pria. Sebaliknya, ia bisa menangis menjerit-jerit dan memohon-mohon untuk tidak ditempatkan di ruang kerja bagian obat. Sebab, di sana tidak ada siapa pun… sepi orang.

Alkisah, lelaki homo berambut keriting itu ditempatkan dalam sel di bawah Sukarno. Di sini, ia seperti mendapat “incaran” baru, pria tampan, muda pula. Tidak terlalu lama berbasa-basi, sebelum akhirnya pria bule itu mengajak bercinta Sukarno.

Dalam kesempatan yang sepi, Bung Karno melampiaskan keingintahuannya, “Kenapa?” tanya Bung Karno, “Kenapa engkau mau bercinta denganku?”

Dan dia menjawab, “Karena di sini tidak ada perempuan.”

Bung Karno pun mengangguk. Sampai pada jawaban itu, Bung Karno masih menemukan titik kewajaran pada diri seorang pria. Kemudian, Bung Karno pun berujar, “Memang benar. Aku sendiri juga menginginkan kawan perempuan (di sel ini), tapi bagaimana bisa?!”

Lelaki homo itu menimpali, “Yah… apalah perempuan itu kalau dibandingkan dengan lelaki?”

Bung Karno pun meradang, “Oooh… Kau sakit!” (roso daras)

Published in: on 12 September 2009 at 12:48  Comments (7)  
Tags: ,