Film-film Kegemaran Bung Karno dan Eisenhower

Kunjungan Presiden Sukarno ke Amerika Serikat tahun 1956, sejatinya merupakan kunjungan penting, terkait sikap bebas-aktif, sikap non-blok Indonesia. Akan tetapi, justru sikap itu yang berakibat Amerika memusuhi Sukarno (baca: Indonesia). Sebab, ketika Sukarno menyampaikan wacana non-blok kepada Menlu John Foster Dulles, tampak bahwa Dulles tidak sependapat.

Kepada Bung Karno yang melilih tidak berkiblat ke Amerika maupun ke Uni Sovyet, Dulles berkata tajam, “Politik Amerika bersifat global. Suatu negara harus memilih salah satu pihak. Aliran yang netral adalah imoral.” Betapa Sukarno dan Indonesia dituding tidak bermoral oleh Amerika, hanya karena sikapnya yang tidak mau ngeblok ke Barat maupun ke Timur.

Tak ayal, suasana pembicaraan resmi Bung Karno dengan Presiden Eisenhower pun menjadi tidak produktif. Sebab, landasan pembicaraan keduanya memang bukan landasan yang mulus atas dasar kesamaan sikap, kesamaan blok. Alhasil, di antara deretan pembicaraan yang panjang, yang Bung Karno ingat justru obrolan tentang film-film kegemaran keduanya.

Seperti ditulis Cindy Adams, dialog Bung Karno (BK) dan Eisenhower (E) sebagai berikut:

E: Saya dengar Tuan senang melihat film, Presiden Sukarno. Sekali berapa hari Tuan menyaksikannya?

BK: Tiga kali seminggu di Istana.

E: Tuan tahu berapa kali saya melihatnya?

BK: Tidak. Berapa kali Tuan melihatnya, Presiden Eisenhower?

E: Saban malam. Film apa yang Tuan gemari, Presiden Sukarno?

BK: Cerita pengalaman, sejarah, dan biografi.

E: O begitu? Nah, kesenangan saya cuma film koboi. Dan saya bertaruh, Tuan tidak dapat menerka siapa yang menjadi bintang kesayangan saya.

BK: Saya tidak tahu. Siapa?

E: Randolph Scott.

Begitulah dialog kedua Presiden. Sebuah gambaran, betapa sebenarnya antara Bung Karno dan Eisenhower sudah tidak ada kesepakatan membicarakan hal-hal strategis mengenai hubungan kedua negara. Meski begitu, Bung Karno tetap mencekokkan sikap politiknya, sikap politik bangsanya, sikap politik negarnya kepada Eisenhower, kepada Amerika Serikat.

Salah satu pesan tajam Bung Karno kepada Eisenhower adalah, “Sebagai sahabat yang bijaksana dan lebih tua, Amerika memberi kami nasihat, itu bisa. Akan tetapi mencampuri persoalan kami, jangan. Kami telah menyaksikan Kapitalisme dan Demokrasi Barat pada orang Belanda. Kami tidak mempunyai keinginan untuk memakai sistem itu. Kami akan menumbuhkan suatu cara baru yang hanya cocok dengan kepribadian kami. Ia bukanlah barang yang bisa diekspor keluar, tetapi sebaliknya kami tidak terma barang impor berupa ajaran-ajaran yang mengikat.”

Sukarno… presiden negara kecil yang baru merdeka, yang sebagian besar rakyatnya masih bodoh-bodoh, yang baru saja lepas dari penjajahan ratusan tahun… berani-beraninya berbicara lantang kepada Eisenhower, Presiden Negara Adi Kuasa Amerika Serikat… mbahnya Kapitalisme dan Demokrasi Liberal….

Lihat akibatnya… sejak itu, sederet dan serentet percobaan pembunuhan terhadap dirinya terus dan terus terjadi. (roso daras)

Published in: on 4 Juni 2010 at 12:20  Comments (2)  
Tags: , ,

Guntur Main Yoyo Bersama Julia

guntur dan julia, anaknya wapres Nixon main yoyo washington 56

Umur 12 tahun, Guntur diajak serta dalam kunjungan perdana Bung Karno ke Amerika Serikat. Dalam kunjungan selama kurang lebih tiga pekan itu, Guntur mengikuti hampir seluruh agenda non-formal bapaknya.Termasuk mengunjungi Hollywood, Disneyland, dan tempat-tempat lain.

Tidak hanya itu, Guntur juga sempat bersosialisasi dengan keluarga Wakil Presiden Nixon. Bahkan seperti tampak pada foto, Guntur tengah bermain yoyo bersama Julia, putri Wakil Presiden Nixon. Entahlah, apakah Guntur masih menjalin komunikasi dengan Julia Nixon? (roso daras)

bersam guntur di Disnayland

Published in: on 25 September 2009 at 05:20  Comments (1)  
Tags: , , , ,