Bung Karno: Jangan Jadi Salon Politisi

Terpilihnya Joko Widodo atau akrab disapa Jokowi menjadi Gubernur DKI Jakarta, sontak menjadi sorotan nasional. Yang ia gusur bukan sembarang pesaing, Fauzi Bowo atau akrab disapa Foke adalah incumbent. Berhubung ia sudah hampir pasti bakal menduduki kursi DKI-1, maka saya merasa tidak ada beban memposting tulisan ini. Lain halnya kalau tulisan ini saya posting sebelum tanggal pencoblosan putaran kedua.

Hampir bisa saya pastikan, kemenangan Jokowi lebih karena “kemasan”. Kemenangan Jokowi lebih karena faktor berkiblatnya media massa kepadanya. Lebih karena pencitraan. Soal kemampuan dan kapasitas kepemimpinan, sekali lagi saya berani mengatakan, rakyat Jakarta ibarat “membeli kucing dalam karung”.

Memang, bisa saja Jokowi akan berhasil memimpin Jakarta dengan parameter tertentu. Tetapi, mungkin saja dia tidak akan bisa berbuat banyak untuk ibukota negara tercinta dengan segala problematikanya. Kelewat optimistis akan kesuksesan Jokowi mengemban tugas lima tahun ke depan, rasanya tidak pada tempatnya. Sebaliknya, memastikan dia akan gagal, juga pandangan picik.

Sebaik-baiknya sikap, menurut saya adalah jadilah warga Jakarta yang baik. Bagi warga di luar Jakarta, jadilah penonton yang baik. Moralnya jelas. Kita harus belajar dan terus belajar. Perubahan sejatinya tidak akan pernah terjadi tanpa keikutsertaan rakyat di dalamnya.

Karena itu, ada nukilan menarik yang saya kutip dari kitab “Sarinah” karangan Sukarno. Jauh-jauh hari Bung Karno sudah mengingatkan, agar “Janganlan menjadi salon politikus! Lebih dari separuh daripada politisi kita adalah salon politisi yang mengenal Marhaen hanya dari sebutan saja. Politikus yang demikian itu sama dengan seorang jenderal tak bertentara. Kalau dia memberi komando, dia seperti orang berteriak di padang pasir.”

Peringatan Bung Karno itu pas sekali ditujukan ke arah Jokowi. Dia diusung oleh dua partai politik yang bernafaskan nasionalis: Gerindra dan PDI Perjuangan. Menjadi naif kiranya kalau seorang Jokowi tidak paham Marhaenisme. Pahamkah dia? Kita akan lihat dalam kepemimpinan mendatang.

Pada saat kampanye, identitas Maraenis lumayan tampak pada diri Jokowi. Ia berada di tengah rakyat. Ia menggerakkan rakyat, dan tentunya ia mendengar suara rakyat. Pertanyaan besarnya adalah, apakah ia sadar bahwa yang dia lakukan harus dia lakukan selama dia menjabat gubernur? Dan bukan hanya untuk menarik simpati pemilih?

Menurut saya, bangsa ini telah keliru melanggengkan kepemimpinan yang hanya ditopang oleh retorika. Mendukung kepemimpinan yang didongkrak oleh pencitraan. Memilih pemimpin yang hanya dekat dengan rakyat ketika protokol dan konsultan men-set-up demikian.

Kembali ke Jokowi. Ia hanya perlu meniru kepemimpinan Bung Karno. Untuk itu, dia harus menjadi Marhaen. Untuk itu, dia hanya perlu menekuni Putra Sang Fajar. Jika itu pun dirasa berat, dia hanya perlu mencontoh Ali Sadikin.

Semoga di benaknya tidak terlintas pikiran “Saya akan lebih hebat dari Ali Sadikin”. Sebab, dia harus ingat, sebagian warga yang dia pimpin masih ada yang menganggap, “Untuk ukuran Jakarta, Jokowi tak lebih dari kualifikasi┬áseorang camat”. (roso daras)

Published in: on 21 September 2012 at 13:57  Comments (44)  
Tags: , , , ,