Tongkat Monyet Bung Karno

DSC04585Di satu sudut rumah pembuangan Bung Karno di Ende, Flores, terdapat boks kaca berisi dua buah tongkat. Ya, tongkat yang biasa digunakan Bung Karno. Bukan tongkat komando, tentunya, melainkan tongkat yang acap digunakan kaum lelaki tempo dulu. Fungsi tongkat itu bagi Bung Karno, tentu berbeda dengan fungsi tongkat sejenis jika digunakan lelaki lanjut usia.

Tongkat bagi lelaki uzur, berfungsi untuk membantu menyangga tubuh ketika berjalan kaki. Sebaliknya, tongkat bagi lelaki yang relatif masih muda, dan belum perlu tongkat penyangga, lebih berfungsi sebagai “properti”, penunjang penampilan. Bahkan zaman dulu, lelaki bertongkat tampak lebih bergaya. Bukankah Bung Karno lelaki yang bergaya?

Nah, dua tongkat milik Bung Karno, masih tesimpan utuh di sana, di salah satu sudut rumah pembuangannya di Ende. Satu tongkat digunakan saat Bung Karno berjalan-jalan di tengah kota. Satu lagi, tongkat yang selalu ia bawa ketika berjalan-jalan keluar kota Ende, seperti misalnya berpesiar ke Kelimutu, hendak berenang di sungai Nangaba, dan ke lokasi-lokasi lain jauh dari Ende, yang untuk melakukannya, Bung Karno harus mengajukan izin terlebih dahulu kepada polisi Hindia Belanda di Ende.

DSC04588Yang unik adalah tongkat yang Bung Karno gunakan setiap kali berjalan-jalan di dalam kota Ende. Pada kepala tongkat, terdapat pahatan terbentuk sosok binatang monyet, kera. Jika ia bertemu orang-orang Belanda, atau cecunguk-cecunguk Belanda, Bung Karno mengarahkan kepala tongkatnya ke mereka. Demikian juga manakala Bung Karno terlibat pembicaraan dengan mereka, maka ujung tongkat diacung-acungkan ke Belanda-Belanda itu (atau para cecunguknya). “Sesungguhnya, kamu tak lebih dari seekor monyet,” begitu mungkin pikir Bung Karno. (roso daras)

Published in: on 9 Oktober 2013 at 00:11  Comments (3)  
Tags: , ,

Bung Karno dan Kelimutu

monyet di kelimutu

Bagi masyarakat Ende atau Flores pada umumnya, nama Kelimutu sangat lekat dengan Bung Karno. Selain karena nama itu kemudian diabadikan dalam nama grup sandiwara (tonil) pimpinan Bung Karno selama pembuangan di Ende, Bung Karno juga relatif sering rekreasi ke Kelimutu diiringi keluarga dan teman-temannya.

Nah, berikut sekilas tentang Kelimutu. Gunung Kelimutu, Ende, Flores, termasuk gunung berapi yang masih aktif. Perubahan warna air dari masing-masing danau merupakan indikasi adanya aktivitas tersebut. Berdasarkan catatan sejarah aktivitas vulkanik Gunung Kelimutu tidak begitu banyak. Umumnya kegiatan vulkanik yang terjadi berupa letusan freatik dan perubahan warna air danau kawah. Tercatat aktivitas vulkanik Gunung Kelimutu sejak tahun 1830 sampai dengan 1997 sekitar 11 kali aktivitas vulkanik.

Ketiga danau kawah selalu mengalami perubahan warna air. Perubahan warna air kawah itu erat terkait dengan aktivitas vulkanik dan perubahannya tidak memiliki pola yang jelas tergantung kegiatan magmatiknya. Kalangan ilmuwan dan peneliti memberikan informasi bahwa kandungan kimia berupa garam besi dan sulfat, mineral lainnya serta tekanan gas aktivitas vulkanik dan sinar matahari adalah faktor penyebab perubahan warna air.

Sebagai gunung api aktif, perubahan warna air kawah merupakan salah satu parameter yang dipakai dalam penentuan status kesiapsiagaan bencana gunung api. Perubahan warna air tercatat dari tahun 1915 sampai dengan 2011.

Kawah Tiwu Ata Polo (saat ini kawah berwarna hijau dengan luas 4 hektare dan kedalaman 64 meter) telah mengalami sekitar 44 kali perubahan warna, Tiwu Nua Muri Koo Faai (saat ini berwarna biru cerah, seluas 5,5 hektare dan kedalaman 127 meter) sekitar 25 kali perubahan warna, Tiwu Ata Mbupu (kawah yang saat ini berwana hitam, seluas 4,5 hektare dan kedalaman 67 meter) telah mengalami sekitar 16 kali perubahan warna.

Sedikit berbeda dengan sikap masyarakat tradisional, yang masih mengaitkan hal-hal gaib di seputar Kelimutu. Bahkan masyarakat di sekitar Kelimutu percaya, Bung Karno memiliki tempat khusus di bawah kawah Tiwu Ata Polo dan Tiwu Nua Muri Koo Faai yang biasa digunakan untuk bersemedi. Sementara di kawah yang berwarna hitam, masyarakat percaya, Bung Karno pernah turun dan masuk ke kawah tersebut.

Satu hal yang menarik adalah berkembang-biaknya monyet-monyet di hutan sekitar gunung Kelimutu. Diyakini, monyet-monyet itu adalah keturunan dari monyet yang pertama kali dilepas Bung Karno di sana, antara 1934 – 1938. Daripada berpanjang-panjang narasi, lebih menarik kalau kita lihat foto-foto yang saya abadikan dari kamera handphone….. (roso daras)

IMG-20131001-01294Kawah Tiwu  Ata Polo  dan Tiwu Nua Muri Koo Faai.

 

IMG-20131001-01383Kawah Tiwu Ata Mbupu

Published in: on 8 Oktober 2013 at 00:55  Comments (3)  
Tags: , , ,

Spiritualitas Bung Karno

BK dan CastroSalah satu dimensi seorang Bung Karno, adalah dimensi spiritual. Ini tak bisa dipungkiri. Pada wilayah ini, fokus bahasan Sukarnois tak jauh dari hal-hal terkait kehidupan spiritualitas Bung Karno, baik semasa hidup, ataupun setelah wafat.

Kata spiritual itu sendiri, awalnya bermakna segala sesuatu yang berhubungan dengan atau bersifat kejiwaan (rohani, batin). Dalam perkembangannya, orang memakai kata spiritual untuk segala sesuatu yang berhubungan dengan olah batin, kemampuan seseorang dalam berinteraksi dengan hal-hal gaib.

Kehidupan seseorang dalam kaitan tata cara ibadah, menurut agama dan keyakinannya, sejatinya juga bagian dari laku spiritual. Begitu meluasnya arti spiritual, sampai-sampai penguasaan “ilmu” atau “kesaktian” seseorang, juga dikaitkan dengan spiritualisme.

Bung Karno sebagai manusia “linuwih”, tak luput dari sorotan sisi spiritualitasnya. Bagi pengkaji Islam, agama yang dianut Bung Karno, maka sudut pandang spiritualitasnya dikaitkan dengan langkah-langkah pembaruan Islam yang digiatkan Bung Karno. Dari sisi ini, misalnya, terbit buku “Surat-surat  Islam  dari Ende”. Atau buku Bung Karno dan Kehidupan Berpikir Dalam Islam (Solichin Salam: 1964).

Bayangkan, dalam periode pembuangan di Ende, antara 1934 – 1938, Bung Karno mengkaji Islam dengan sangat dalam. Dia memesan literatur Islam melalui A. Hassan, seorang ulama Islam terkenal dan tokoh organisasi Persatuan Islam (Persis) Bandung. Bung Karno pun berkorespondensi dan berdiskusi tentang Islam dengan Hassan. Surat-menyurat ini berlangsung sejak 1 Desember 1934 hingga 17 Oktober 1936. Saking mendalamnya pemahaman Bung Karno tentang Islam, saya pribadi tidak ragu berandai-andai, “Jika Bung Karno ditakdirkan sebagai ulama, niscaya akan lahir aliran atah mahzab Sukarno, atau mungkin Sukarnoiyah.

Nah, dari sisi paranormal, lebih gemar menyorot kemampuan spiritual Bung Karno, dikaitkan dengan fenomena-fenomena menakjubkan yang melekat pada dirinya, Di komunitas ini, topik yang tak habis dikupas misalnya seputar tongkat komando Bung Karno, cincin, hingga kopiahnya. Benda-benda yang melekat pada sosok Sukarno itu, dilihat dari sisi spiritualitas klenik. Dari sana misalnya, bergulir kisah pengawal Presiden AS, Eisenhower yang tidak kuat mengangkat tongkat komando Bung Karno, yang tertinggal di salah satu ruangan di Gedung Putih.

Dari sisi ini, bergulir pula kisah kopiah Bung Karno yang memancarkan aura wibawa laksana mahkota raja. Juga cerita seputar cincin Bung Karno yang memiliki kekuatan tertentu, salah satunya adalah kekuatan untuk “dicintai” (atau digilai?) wanita.

Bahkan, ada yang menyoal jimat tertentu yang  selalu dibawa Bung Karno. Dan jimat itu yang menyelamatkannya dari tujuh kali usaha pembunuhan oleh lawan-lawan politiknya,

Klarifikasi  Bung  Karno tentang kekuatan-kekuatan magis yang melekat pada dirinya, sesungguhnya cukup jelas. Soal luput dari pembunuhan, misalnya, dia menukas, “Kapan manusia mati, itu Tuhan yang menentukan. Jika saya tidak ditakdirkan mati ditembak,  maka saya tidak akan mati karenanya. Dan itu (usaha pembunuhan) tidak membuat saya takut.”

Saya pribadi acap ditanya seputar spiritualitas Bung Karno. Jujur, saya gamang bersikap. Mengapa? Pemahaman saya tentang Islam, sama sekali tidak layak untuk menilai keislaman Bung Karno. Sebaliknya, saya juga bukan peminat spiriitual dalam konteks klenik. Di atas segalanya, spiritualitas manusia, pada galibnya mutlak hanya manusia dan Tuhannya saja yang tahu. Atas dasar apa, kita (sebagai manusia) menilai (apalagi menyimpulkan) kadar spiritualitas manusia lain? (roso daras)

Published in: on 26 Agustus 2013 at 13:17  Comments (7)  
Tags: , , , ,

Omi, Menyusul Inggit dan Bung Karno

Ratna Djoeami sepuhSebuah running text di salah satu televisi nasional tertulis: Ratna Djoeami, putri angkat Bung Karno meninggal dunia. Itu peristiwa dua hari lalu, Minggu, 23 Juni 2013. Itu artinya, satu lagi kerabat dekat Bung Karno pergi meninggalkan kita. Saya sangat berduka, seyogianya negeri ini pun berduka. Anak angkat Bung Karno yang tak lain adalah keponakan Inggit Garnasih itu, adalah pelaku dan saksi hidup yang komplet.

Omi –begitu ia dipanggil– sudah ikut Bung Karno sejak dalam pembuangan di Ende, bersama Inggit (tante yang jadi ibu angkat) nenek Amsi (ibunda Inggit yang juga nenek Omi). Di Ende pula ia merasakan duka kehilangan nenek Amsi yang wafat dan dimakamkan di sana pada tanggal 12 Oktober 1935. Kemudian, ketika pemerintah kolonial Belanda memindahkan tempat pembuangan dari Ende ke Bengkulen (Bengkulu), Omi ikut serta.

Omi lahir di Bandung tahun 1922, itu artinya ia wafat dalam usia 91 tahun. Suaminya, wartawan, tokoh pergerakan pada zamannya, sekaligus murid ideologis Bung Karno, Asmara Hadi, sudah mendahuluinya. Pasangan Omi – Hadi dikaruniai enam orang anak. Anak keenam lahir tahun 1950 di RS St Carolus Jakarta, dan menjadi satu-satunya anak perempuan Omi-Hadi. Adapun anak ketiga, yang bernama Kemal Budhi Darma, meninggal akhir tahun 1945, saat umurnya baru satu tahun.

Inggit-BK-OmiSaat mengikuti Bung Karno dalam pembuangan di Ende, Omi sempat belajar di MULO Bandung. Karena keterbatasan akses dan fasilitas selama di pembuangan, Omi kemudian meneruskan belajar sendiri, dengan bimbingan langsung bapak angkatnya, Bung Karno. Dari penuturan adik angkatnya, Kartika, suasana belajar di rumah pembuangan Bung Karno sangatlah ketat dan penuh disiplin. Saat bertindak sebagai guru, Bung Karno sangat tegas cenderung galak. Kartika mencontohkan, kalau Omi salah menjawab pertanyaan Bung Karno sang guru, spontan Bung Karno akan melotot ke arah Omi.

Selama di Ende, Bung Karno dan Omi sering berkomunikasi dalam bahasa Belanda. Aktivitas belajar-mengajar antara Bung Karno dan Omi pun menggunakan bahasa pengantar Belanda bercampur melayu. Sedangkan kalau dalam keseharian, Bung Karno, Omi, dan Inggit berkomunikasi dalam bahasa Sunda. Tetapi kepada adik angkat Omi, Kartika, keluarga itu memakai bahasa Melayu.

Omi adalah murid yang cerdas. Bung Karno sangat menyayangi Omi, baik sebagai anak (angkat) maupun sebagai murid. Omi pun banyak membantu Bung Karno dalam menyibukkan diri selama di pembuangan. Contoh, ketika Bung Karno mendirikan tonil bernama Kelimoetoe, Omi pun terlibat dalam kepanitiaan sekaligus seksi kostum bersama sang “ibu” Inggit Garnasih. Ya, semua kostum yang dikenakan pemain tonil pimpinan Bung Karno, adalah buatan Inggit dan Omi.

Omi dan KartikaAlkisah, ketika Bung Karno dipindahkan ke pembuangan yang baru di Bengkulu, Omi pun turut serta. Ia sudah remaja. Bahkan, Bung Karno sendiri dalam buku otobiografinya menyebutkan bagaimana Omi menjadi saksi dalam kehidupan rumah tangga Bung Karno – Inggit, serta masuknya Fatmawati ke lingkungan keluarga mereka. Sebagai remaja, bahkan Omi pun dikisahkan pernah bertengkar dengan Fatmawati.

Syahdan, ketika Bung Karno bercerai dengan Inggit, Ratna Djoeami dan Kartika (kedua putri angkat Bung Karno) memilih tinggal bersama Inggit di Bandung. Sebuah keputusan yang sangat sulit.  Bung Karno, Inggit, Omi dan Kartika, dikisahkan bertangis-tangisan ketika itu. Beruntung, pada awal-awal perceraiannya dengan Inggit, Bung Karno relatif sering mengunjunginya di Bandung. Ketika itu, Omi dan Kartika, tinggal bersama Inggit.  Bahkan ketika kiriman uang dari Bung Karno terhenti, Omi pun membantu Inggit berjualan ini-itu untuk kebutuhan hidup.

Bagi Omi, Bung Karno adalah sosok ayah sejati.  Bung Karno yang mendidik Omi, bahkan kemudian menikah dengan Asmara Hadi yang juga anak ideologis Bung Karno. Hubungan mereka tetap terjalin dengan baik. Bahkan, Omi pula yang menggandeng dan menuntun Inggit ke Wisma Yaso, melayat Bung Karno tahun 1971.

Kini, Omi sudah menyusul Bung Karno dan Inggit. Semoga mereka bahagia di sana. (roso daras)

keluarga omi-hadi

 

Ke Ende? Jadilah!

Persidangan Landraad yang kemudian mencuatkan pledoi “Indonesia Menggugat”, berujung pada dijebloskannya Bung Karno (dan teman-teman aktivis PNI lain) ke penjara Sukamiskin. Dalam suatu kisah, Bung Karno menceritakan, betapa pemerintahan kolonial Belanda tidak membedakan antara tahanan politik dan bromocorah.

Walhasil, Bung Karno pun mendekam bersama para pencuri, pemerkosa, hingga para koruptor. Di dalamnya, bercampur aduk, antara narapidana berkulit sawo matang dan berkulit bule. Jerajak besi adalah sebuah konsekuensi perjuangan yang telah tertanam di benak Sukarno, bahkan jauh sebelum ia “dilirik” Belanda.

Ia telah menyaksikan, betapa sang guru, HOS Cokroaminoto, dengan Sarekat Islam-nya, juga beberapa kali harus mendekam di penjara. Karena itu, sepengap dan segelap apa pun ruang penjara, tak pernah menggelapkan hati dan pikiran Bung Karno. Syahdan, ketika ia bebas, yang terlintas di benaknya adalah, “Lanjutkan perjuangan!”.

Karya tulis Bung Karno sekeluar dari penjara yang begitu fenomenal adalah “Mencapai Indonesia Merdeka”. Buku itu diterbitkan Hadji Umar Ratman, Bandung. Untuk ukuran sekarang, buku itu tidak terlalu tebal. Tahun 80-an (seingat saya), penerbit Gunung Agung pernah mencetak ulang. Tebalnya kurang dari 100 halaman. Buku itu sendiri terdiri atas 10 judul:

Chapter 1: Sebab-Sebabnya Indonesia Tidak Merdeka

Chapter 2: Dari Imperialisme-Tua ke Imperialisme-Modern

Chapter 3: “Indonesia, Tanah yang Mulia, Tanah Kita yang Kaya; Disanalah Kita Berada untuk Selama-lamanya!”….

Chapter 4: “Di Timur Matahari Mulai Bercah’ya, Bangun dan Berdiri, Kawan Semua!”….

Chapter 5: Gunanya Ada Partai

Chapter 6: Indonesia Merdeka Suatu Jembatan

Chapter 7: Sana Mau Ke Sana, Sini Mau Ke Sini

Chapter 8: Machtsvorming, Radikalisme, Aksi-Massa

Chapter 9: Disebrangnya Jembatan Emas

Chapter 10: Mencapai Indonesia Merdeka

Dalam waktu beberapa bulan saja, buku itu sudah mengalami pencetakan ulang hingga empat kali. Selain karena masyarakat rindu akan tulisan-tulisan Bung Karno, juga karena dukungan media massa pro pergerakan ketika itu. Seperti misalnya komentar koran “Djawa Tengah” yang menulis: “Namanja tuan Ir Soekarno sebagai volksredenaar dan sebagai penulis sudah tjukup terkenal, hingga pudjian buat itu buku kita rasa boleh troeslah berikan lagi“…..

Suratkabar “Bintang Timur” menulis, “Ir Soekarno mempunjai kepandaian menulis…. pada bangsa kita masih terlalu sedikit kitab-kitab sebagai itu”. Lalu, suratkabar “Sin Tit Po” menulis, “…buku tersebut tidak kurang berharganja, terutama, bagi mereka jang masih muda dalam pergerakan disini.” Simak pula tulisan koran “Pertja Selatan”, “Tidak usah kita pudji terlebih djauh karena semua orang kenal siapa Ir Soekarno, Penting sekali ini buku bagi kaum pergerakan”.

Suratkabar “Pemandangan” menulis, “…sungguh practisch isinja… Sungguh berfaedah untuk dibatja, apalagi bagi kaum politik”. Sementara itu, koran “Djawa Barat” menulis, “Ir Soekarno ada seorang pemimpin pergerakan jang terkenal…. sehingga namanja sadja, sudah tjukup mendjadi suatu ‘garantie’ dari penting dan berpaedahnja buku itu”. Media “Pewarta” menulis, “….sangat berguna sekali bagi rakjat Indonesia jang telah masuk semangat kemerdekaannja”.

“Sumanget” menulis, “….sungguh tidak mengherankan kalau itu risalah lekas habis, karena buat bangsa Indonesia berguna sekali mempunjai buku risalah tersebut!”. Lantas koran Fikiran Rakjat mengomentari, “…Kami pudjikan sekali pembatja membatja risalah itu, sebab isinja teramat penting”. Tak kurang dari koran “Sinar Sumatra” pun berkomentar, “Ini buku selainnja ada harganja buat diketahui isinja pun ada sebagai pengunjuk untuk pergerakan dan pertjaturan politik rakjat”.

Dua media berbahasa Sunda, “Sipatahunan” dan “Sinar Pasundan”, masing-masing mengomentari, “Saenjana sanadjan henteu di berendelkeun kumaha eusina oge, ku nendjo ngaranna djeung ngingetkeun ka ni ngarangna bae, urang geus bisa ngira-ngira kepentinganna ieu buku… Keur kaum pergerakan mah, ieu buku te katjida perluna….” dan “Kana kepentingan eusina, saenjana teu perlu pandjang-pandjang dipitjatur, ku matja ngaan nu ngarangna oge, njaeta Ir Soekarno, ku urang mo burung hawangwang mamundelna… ieu buku eusina maundel parenting”.

Indonesia Menggugat, berbuah penjara Sukamiskin. Jika, “Mencapai Indonesia Merdeka” harus membuatnya dibuang ke Ende, maka jadilah! (roso daras)

Published in: on 17 November 2012 at 02:54  Comments (3)  
Tags: , , ,

Tentang Buku Ketiga, Bung Karno vs Kartosoewirjo

Di tengah kepenatan fisik dan otak, izinkan saya mengabarkan, keseluruhan naskah buku ketiga sudah selesai dan terkirim ke penerbit Imania. Buku ketiga, berbeda dengan dua buku terdahulu. Jika buku pertama dan kedua, menggunakan judul yang sama “Bung Karno, the Other Stories, Serpihan Sejarah yang Tercecer” (buku 1 dan 2), maka yang ketiga, atas kesepakatan dengan penerbit, diambil satu tema besar. Atas kesepakatan pula, di buku ketiga, mengangkat judul “Baratayudha, Bung Karno vs Kartosoewirjo”, disambung judul serial “Serpihan Sejarah yang Tercecer, buku ke-3.

Sesuai tema besar, maka ulasan tentang perseteruan politik antara Bung Karno dan Kartosoewirjo, mendapat porsi yang cukup besar. Selain memang unik, juga terbilang dramatis. Dua sahabat yang sempat belajar dan indekos bersama di kediaman HOS Cokroaminoto di Surabaya, pada akhirnya harus berseberangan pandang. Bung Karno sebagai Presiden, menetapkan Pancasila sebagai ideologi negara. Sementara itu, SM Kartosoewirjo memberontak dan memproklamasikan Negara Islam Indonesia (NII).

Apa hendak dikata, dalam perspektif kenegaraan, tindakan Kartosoewirjo adalalah satu bentuk makar. Karenanya, Pemerintah RI berkewajiban menumpasnya. Pasukan TNI pun melakukan perlawanan dan usaha penumpasan kaum pemberontak DI/TII ini hingga ke akar-akarnya. Keselurhan operasi ini menelan waktu tak kurang dari lima tahun.

Selama itu pula, DI/TII yang didukung aksi intelijen Amerika Serikat, mendapat sokongan senjata, peralatan komunikasi canggih, dan… tentu saja guyuran dolar. Sejatinya, pemberontakan yang disponsori asing, bukanlah yang pertama. Bahkan dalam bentang sejarah kita, hampir semua aksi politik yang berujung pada suksesi kepemimpinan nasional, tak pernah luput dari pengaruh dan peran asing.

Orde Baru berhasil menumbangkan pemerintahan Sukarno, tak lepas dari peran aktif CIA. Gelombang demonstran yang didukung Angkatan Darat, adalah bagian dari skenario besar menumbangkan “singa Asia” ketika itu, Sukarno. Negeri-negeri Barat sangat geram dengan Bung Karno, yang berhasil menggalang kekuatan Asia-Afrika, bahkan sedia mencetuskan CONEFO (Conference of New Emerging Forces). Jika itu terwujud, di dunia ini akan bercokol dua organisasi negara-negara.

PBB yang dikritik habis oleh Bung Karno karena tak bisa melepaskan diri dari hegemoni super power, dilawan Sukarno dengan menggalang kekuatan-kekuatan baru, dari negara-negara yang baru melepaskan diri dari aksi kolonialisme (penjahan). Spirit melawan negara maju yang hendak mencengkeramkan kekuasaannya kembali melalui proyek-proyek ekonomi, dilawan Bung Karno dengan lugasnya.

Bukan hanya itu. Lagi-lagi, asing pun berperan besar dalam menumbangkan Orde Baru, manakala Soeharto mulai kehilangan kendali atas kekuasaannya. Ditambah, kecenderungan korupsi serta praktek-praktek nepotisme yang berkembang di luar batas kewajaran. Sekali dongkel, dengan didahului prahara badai krisis moneter, tumbanglah rezim Orde Baru.

Kembali ke topik buku. Sebagai Sukarnois, tentu saja tulisan itu beranjak dari perspektif yang tentu saja bertentangan dengan perspektif kelompok ekstrim kanan yang menghendaki Indonesia menjadi negara Islam. Rasanya ini tidak keliru, sepanjang NKRI masih berstatus negara republik dengan landasan ideologi Pancasila. Tentu lain soal seandainya pemerintah dan parlemen menyepakati perubahan ideologi dari Pancasila ke Islam.

Akan tetapi, sepanjang NKRI konsisten dengan Pancasila sebagai ideologi negara, maka bukan saja konsep negara Islam tidak dibenarkan secara konstitusi, juga upaya-upaya ideolog lain, seperti komunis, misalnya, juga tak akan pernah menjadi gerakan legal.

Materi tentang Bung Karno vs Kartosoewirjo, dilengkapi pula dengan sejumlah naskah-naskah pendek sebagai pelengkap sekaligus penguat. Selain itu, penulis juga menyajikan pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945 yang kini kita peringati sebagai hari kelahiran Pancasila. Ini menjadi relevan, agar audiens memahami bagaimana para founding father menyepakati ideologi negara kita.

Yang tak kalah menarik, saya sajikan pula sebanyak 12 surat-surat Islam Bung Karno dari Ende. Ini adalah fase Bung Karno mendalami Islam, dan belajar bersama Ahmad Hassan, yang ketika itu berada di Bandung. Surat-menyurat Ende-Bandung itu, tidak melulu sebagai sajian surat belaka. Penulis melengkapinya dengan pengantar yang cukup panjang, untuk lebih memperkenalkan sosok A. Hassan, serta bagaimana riwayat perkenalan Bung Karno dan A. Hassan.

Pada tiap-tiap akhir surat, penulis membuat catatan-catatan. Ada yang berupa komen atas surat tersebut, ada juga yang merupakan upaya memperkaya literasi, sehingga audiens bisa lebih gamblang mencerna surat-surat Bung Karno, serta lebih menghayati suasana kebatinan maupun latar belakang lahirnya surat-surat tersebut.

Dibanding buku pertama yang 200 halaman lebih, dan buku kedua yang lebih tipis sedikit, maka buku ketiga ini diperkirakan mencapai ketebalan lebih dari 260 halaman. Sekalipun begitu, penerbit telah mengkalkulasi sedemikian rupa, sehingga tidak akan memberatkan kocek peminat buku ini, akibat harga yang tinggi. Dari konfirmasi sementara, buku ketiga ini akan luncur sekitar bulan Oktober 2011. Mohon doa restu agar segala sesuatunya berjalan lancar.  (roso daras)

Tirakat Bung Karno di Pulau Bunga

Empat tahun masa pembuangan Bung Karno di Ende, Pulau Flores (1934 – 1938) bisa disebut sebagai masa tirakat. Apa itu tirakat? Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar istilah tirakat yang bermaksud mendekatkan diri kepada tuhan, berupa perilaku, hati, dan pikiran. Tirakat adalah bentuk upaya spiritual seseorang dalam bentuk keprihatinan jiwa dan badan untuk mencapai sesuatu dengan jalan mendekatkan diri kepada tuhan.

Ritual orang bertirakat ada bermacam-macam. Penganut Kejawen misalnya, biasa melakukannya dengan bersemedhi atau bertapa-brata. Bagi orang muslim, berpuasa juga salah satu bentuk tirakat. Bisa juga dalam bentuk lain lagi, sepanjang diniatkan sebagai upaya spiritual, bentuk keprihatinan jiwa dan badan untuk mencapai sesuatu dengan fokus menjaga hubungan vertikal yang intens antara kita dan Yang Di Atas.

Flores… berarti bunga. Pulau Flores juga disebut Pulau Bunga. Mungkin karena di pulau ini banyak tumbuh bunga-bunga cantik. Bagi Sukarno. masa-masa pembuangan di Ende adalah masa-masa bertirakat. Ia melewatkan waktu-waktunya dengan membaca, bersosialisasi, dan… bertirakat.

Komunikasi dengan pihak luar, banyak ia lakukan dengan surat-menyurat. Salah satu yang terukir dalam sejarah hidupnya adalah surat-menyurat seputar kajian Islam dengan gurunya di Bandung, Tuan A. Hassan. Di luar itu, Bung Karno banyak bertafakur di ruang shalat, sekaligus ruang semedhi. Ia bisa duduk berjam-jam di tempat itu.

Selepas ashar, Bung Karno biasanya berjalan kaki kurang lebih satu kilometer mengarah ke pantai. Di bawah pohon sukun, Bung Karno duduk. Sikapnya diam. Mulutnya terkunci. Tatapannya menerawang. Otaknya berkecamuk tentang banyak hal. Salah satunya adalah merenungkan ideologi bangsa, ketika kemerdekaan diraih kelak.

Tercatat tanggal 18 Oktober 1938 Bung Karno meninggalkan Ende, menuju tempat buangan baru di Bengkulu. Praktis sejak itu, Bung Karno tak lagi menginjakkan kakinya di Ende. Kelak, 12 tahun setelahnya, persisnya tahun 1950, ya… lima tahun setelah proklamasi kemerdekaan, barulah Bung Karno kembali ke Ende. Bukan sebagai orang interniran atau buangan, melainkan sebagai Presiden Republik Indonesia, Pemimpin Besar Revolusi.

Ketika itulah, Bung Karno kembali bernostalgia ke tempat buangannya dulu, dan meresmikan rumah yang dulunya milik H. Abdullah Ambuwaru itu sebagai situs bersejarah. Dalam kesempatan itu pula Bung Karno menunjuk pohon sukun tempat ia belasan tahun sebelumnya acap duduk di bawahnya, merenungkan banyak hal, satu di antaranya adalah butir-butir Pancasila. Yang menarik adalah, pohon sukun itu bercabang lima.

Sepuluh tahun kemudian, tahun 1960, pohon sukun itu mati. Oleh pemerintah daerah setempat, segera ditanam pohon sukun yang baru. Apa yang terjadi beberapa tahun kemudian? Pohon itu tumbuh subur, dan… (tetap) bercabang lima. Pohon itu masih berdiri hingga hari ini. (roso daras)

Dari Sukarti, Poppy, lalu Kartika

Ini sepenggal kisah menarik antara Bung Karno dan dua anak angkatnya, Ratna Djuami dan Kartika. Penuturan ini disampaikan langsung oleh Omi, ketika Kartika berulang-tahun ke-83, beberapa tahun lalu.

Omi sendiri, ketika “diberi” adik angkat oleh kedua “orang-tua”nya, yakni Bung Karno dan Inggit Garnasih, merasa sangat senang. Terlebih sejak ia ikut dalam pembuangan Bung Karno di Ende, praktis tak ada lagi teman bermain.

Kehadiran adik angkat yang kemudian ia tahu bernama Sukarti itu, menjadi pelengkap kehidupan anak-anak Omi. Sebagai sesama anak angkat, sejatinya tidak ada sama sekali kemiripan antara Omi dan Sukarti. Demikian pula antara Omi, Kartika dengan orang tua angkata mereka, Bung Karno dan Inggit.

Akan tetapi, karena sehari-hari hidup dalam satu lingkungan keluarga, maka mereka menjadi sangat akrab. Inggit dengan sifat keibuannya. Bung Karno dengan karakter tegas dan disiplin. Nenek Amsi yang menjadi tempat mengadu bagi semuanya. Pendek kata, sebagai sebuah keluarga, mereka sangat harmonis.

Tiba pada suatu hari, Bung Karno marah demi mendengar Omi memanggil adiknya dengan sebutan Poppy. Ya, Sukarti kecil memang berkulit putih dan cantik. Karena itu banyak orang, tidak hanya Omi, yang memanggilnya Poppy. Tapi, Bung Karno tetap tidak suka. “Papi sangat membenci nama berbau asing,” kenang Omi.

Ia juga masih ingat ketika Bung Karno yang dipanggilnya papi itu berkata, “Itu tidak baik untuk nama seorang anak Indonesia. Kartika, ya Kartika nama yang cantik untukmu. Lain kali jangan mau dipanggil Poppy lagi, ya…,” begitulah Bung Karno mengganti nama Sukarti menjadi Kartika, sekaligus melarang semua orang, termasuk Omi, memanggilnya Poppy.

Di usianya yang sudah sangat sepuh, Omi menuturkan, betapa adiknya ini sangat manis, penurut, dan halus tutur-katanya. “Tidak pernah membantah. Selalu menurut, dan tidak suka bertengkar. Pokoknya adikku ini manis sekali. Aku sangat sayang padanya. Dan sampai kini kami saling merindukan,” tutur Omi, dalam kesan-kesan yang dituliskannya khusus menyambut ulang tahun Kartika ke-80, tiga tahun yang lalu. (roso daras)

Published in: on 25 November 2010 at 03:48  Comments (2)  
Tags: , , , , ,

Sowan Ibu Kartika, Anak Angkat Bung Karno

Saat dibuang ke Ende tahun 1934, Bung Karno membawa serta istrinya, Inggit Garnasih, anak angkatnya, Ratna Djuami (Omi), dan Ibu Amsi (mertua). Omi adalah keponakan Ibu Inggit. Karena itu, dalam banyak lembar sejarah banyak yang melupakan nama Sukarti atau Kartika, sebagai anak angkat Bung Karno (juga).

Bisa dimaklumi. Sebab, tidak seperti anggota rombongan buangan pemerintah Kolonial Belanda lainnya, Sukarti atau Kartika memang “diangkat” di Ende. Benar. Dia adalah putri sulung keluarga Atmo Sudirdjo, seorang juru ukur yang bekerja pada dinas pekerjaan umum pemerintahan Kolonial Belanda. Atmo sendiri asli Purwokerto.

Pertemuan pertama kali Sukarti atau Kartika itu sendiri terjadi tahun 1934, saat usianya baru menginjak enam tahun. Ia diajak serta oleh kedua orangtuanya, menuju pelabuhan untuk menjemput “tokoh besar” yang namanya sudah begitu semerbak di seantero Hindia Belanda sebagai “pejuang kemerdekaan”. Ya, Sukarti atau Kartika ikut ke pelabuhan bersama para pribumi lain dalam rangka menjemput Bung Karno dan rombongannya.

Ia tidak memiliki kesan mendalam, kecuali sebuah tanda tanya di benak otak seorang anak usia enam tahun. Mengapa begitu banyak orang Ende menjemput tokoh ini? Siapa gerangan dia? Lebih penasaran manakala ia melihat bahwa tokoh yang disambut itu berkulit sawo matang, bukan lelaki bule berambut jagung.

Sekanjutnya, Sukarti atau Kartika sering diajak ibudanya, Chotimah yang kelahiran Purworejo, mengikuti pengajian yang diadakan di kediaman Bung Karno. Dari sekali ke dua kali… dari dua kali ke tiga kali… lama kelamaan Sukarti atau Kartika semakin akrab dengan keluarga Bung Karno, khususnya dengan Ratna Djuami alias Omi.

Omi sangat merindukan adik. Sementara, sebagai putri sulung, Sukarti juga merindukan sosok kakak. Klop-lah mereka. Demi melihat keakraban di antara keduanya, Bung Karno berinisiatif mengangkat Sukarti atau Kartika sebagai anak angkatnya. Bung Karno pun memintanya kepada keuarga Atmo Sudirdjo.

Keluarga Atmo Sudirdjo sangat ikhlas… bahkan sangat senang dan bangga demi melihat tokoh perjuangan kemerdekaan itu sudi dan berkena mengangkat anaknya menjadi putrinya. Alhasil, lengkaplan anak angkat Bung Karno, Ratna Djuami dan Sukarti. Oleh Bung Karno, nama itu kemudian diubah menjadi Kartika.

Hingga kini, Sukarti pun dikenal sebagai Kartika. Nyonya Kartika. Dia masih tampak segar saat dijumpai di kediamannya di bilangan Jagakarsa, Jakarta Selatan. “Terakhir saya tinggal di Cibinong. Tetapi sejak suami saya meninggal, saya tinggal bersama anak-anak saya. Kadang di Jagakarsa, kadang di tempat anak saya yang lainnya,” tutur Kartika.

Untuk perempuan usia 82 tahun, Kartika masih tampak bugar. Daya ingatnya masih sangat tajam. Bicaranya jelas dan lugas. Ini berbeda dengan “kakak angkat”-nya, Ratna Djuami yang juga masih hidup dan tinggal di Bandung. Omi sepuh kini sudah mulai pikun. Hanya kepada orang-orang tertentu dia masih bisa berkomunikasi dengan baik.

Syahdan, Kartika adalah saksi sekaligus pelaku sejarah Bung Karno yang masih hidup.  Ia pun memiliki begitu banyak kenangan menjadi “anak angkat” Bung Karno. (roso daras)

Published in: on 23 November 2010 at 01:32  Comments (3)  
Tags: , , , ,

Masjid “Bung Karno” di Bengkulu

Bulan Februari 1938, lima tahun sudah berlalu… Bung Karno dan keluarga hidup dalam pembuangan di Pulau Bunga, Ende. Februari 1938 terbetik berita Bung Karno dan keluarga bakal dipindah ke Bengkulu. Pemerintah Hindia Belanda begitu rapi mengawal proses pemindahan narapidana politik nomor satu ini.

Rute yang sudah disiapkan adalah Ende – Tanjung Perak, Surabaya. Dari Surabaya dinaikkan ke kereta api menuju ujung barat pulau Jawa, Merak. Dari pelabuhan Merak dinaikkan lagi ke kapal niaga menuju Bengkulu.

Akan tetapi, di semua persinggahan, pemerintah Hindia Belanda mengumumkan jam-jam kedatangan bohong. Seperti ketika rakyat Surabaya berbondong-bondong ke Pelabuhan Tanjung Perak hendak menyambut Bung Karno, serta merta pemerintah mengumumkan bahwa kapal yang membawa Bung Karno baru tiba di Tanjung Perak jam 16.00 sore. Padahal, Bung Karno sudah tiba di Surabaha jam 04.00 pagi.

Bengkulu, adalah negeri yang bergunung-gunung, dilingkungi Bukit Barisan. Masyarakatnya sangat agamis, karenanya Bengkulu sempat dijuluki Benteng Islam. O ya, satu lagi, kembang raksasa Raflesia Arnoldi yang lebarnya mencapai tiga kaki, adalah hal lain yang cukup menonjol di Bengkulu. Selain ciri-ciri itu, Bengkulu sesungguhnya tidak memiliki arti penting dalam geopolitik Hindia Belanda.

Kehadiran Bung Karno di Bengkulu, pada awalnya nyaris diasingkan masyarakat. Pasalnya, pembawaannya yang terbuka, didorong hasrat berkawan yang meluap-luap, ada kalanya membuat Bung Karno menabrak pakem-pakem sosial yang sudah lama tertanam. Seperti contoh, pemasangan tabir untuk laki-laki dan perempuan, tidak hanya terjadi di dalam masjid, tetapi juga di setiap perhelatan atau hajatan keluarga.

Suatu ketika, saat Bung Karno diundang menghadiri hajatan di salah satu rumah penduduk setempat, Bung Karno mempertanyakan, “Mengapa dipasang tabir untuk memisahkan perempuan dan laki-laki?” Tidak satu pun hadirin yang menjawab pertanyaan Bung Karno. Karena tak ada yang menjawab, Bung Karno langsung menyingkap tabir itu sehingga tidak ada lagi sekat antara tamu perempuan dan laki-laki.

Apa yang terjadi kemudian? Masyarakat Bengkulu langsung memasang sekat terhadap Bung Karno. Atau dalam bahasa Bung Karno, “setelah kejadian itu, sebuah tabir lain memisahkanku dari penduduk kota itu.”

Dalam suasana baru tiba di daerah pembuangan yang baru… dalam suasana dijauhi masyarakat setempat, Bung Karno tetap saja menjalin silaturahmi dengan para tetokoh. Ia haus teman diskusi, ia rindu teman bicara, ia menginginkan kehidupan bermasyarakat yang akrab.

Masjid. Itulah yang spontan terbetik di benaknya. Masjid tempat masyarakat berkumpul lima kali dalam sehari, untuk menjalankan shalat berjamaah. Ke masjidlah langkahnya diayunkan kala shubuh, dhuhur, ashar, maghrib, dan isya. Sesering ia mendatangi masjid, sesering itu pula ia menyaksikan bangunan masjid tua yang lusuh, kotor, kolot, tua….

Kembali muncul gagasannya yang brilian. Sebagai “tukang insinyur”, Bung Karno membuat rencana bangunan masjid dengan tiang-tiang yang cantik, dengan ukiran-ukiran timbul yang sederhana, dengan pagar tembok bercat putih yang tidak ruwet.

Muluskan rencana Bung Karno membangun masjid sebagai pengganti masjid tua yang sudah kusam dan kolot itu? Tidak mudah. Generasi tua yang tidak menyukai perubahan, adalah penentang utama gagasan Bung Karno. Bersamaan itu pula, tabir yang memisahkan Bung Karno dengan masyarakat makin tebal. Bahkan suara-suara negatif mulai dialamatkan ke arah Bung Karno.

Alhamdulillah… dengan kemampuan persuasi, dengan kecakapan bicara, dengan pembawaan yang terbuka, tidak terlalu sulit Bung Karno mencairkan kebekuan suasana tadi. Alhasil, ia berhasil menggalang dukungan masyarakat mendirikan masjid yang lebih representatif. Tercatat, bangunan masjid itu dibangun tahun 1938 dan selesai dibangun tahun 1941.  (roso daras)

Published in: on 4 Mei 2010 at 08:15  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , , ,