Dasamuka Bermulut Sepuluh

dikuasai asing

Pada galibnya, modal asing, baik kecil, mayoritas, apalagi monopoli, adalah sebuah bentuk imperialisme. Jadi teringat tulisan Bung Karno dalam “Mencapai Indonesia Merdeka”. Di salah satu bagian ia menulis, “Sejak adanya openduer-politik di dalam tahun 1905, maka modal yang boleh masuk ke Indonesia dan mencari rezeki di Indonesia bukanlah lagi modal Belanda saja, tetapi juga modal Inggris, juga modal Amerika, juga modal Jepang, juga modal Jerman, juga modal Perancis, juga modal Italia, juga modal lain-lain sehingga imperialisme di Indonesia kini adalah imperialisme yang internasional karenanya. Raksasa “biasa” yang dulu “berjengkelitan” di atas padang kerezekian Indonesia, kini sudah menjadi Rahwana Dasamuka yang bermulut sepuluh“.

Indonesia merdeka di bawah kepemimpinan Bung Karno, mengikis imperialisme itu dengan berbagai kebijakannya. Nasioanlisasi perusahaan-perusahaan asing di Tanah Air dilakukan dengan semangat , “ini dadaku!”. Semua proposal investasi asing, diperketat, hanya investasi –asing– dengan ending dikuasai anak-anak negeri sajalah yang diperbolehkan. Sebaliknya, tawaran menggiurkan sekalipun, akan ditentang habis-habisan jika bertujuan semata untuk mengeruk kekayaan alam Indonesia.

Jadilah ia musuh imperialis! Pemerintahannya terus dirongrong. Digerogoti dengan berbagai kegiatan separatis. Diteror dengan berbagai usaha pembunuhan. Terakhir, ia terguling oleh sebuah konspirasi-jahat yang melibatkan anak-negeri sendiri.

Syahdan, setelahnya, lembar baru Indonesia pun digelar. Kekuatan –ekonomi– asing kembali merajalela. Mereka mengkapling-kapling potensi alam Nusantara, sehingga, negeri yang begitu kaya sumber daya alam, hingga hari ini masih dililit utang luar negeri. Masih berkutat dengan kemiskinan. Masih bergelut dengan kemunduran. Masih tak berdaya atas cengkeraman kekuatan ekonomi asing.

Jangan lagi bicara potensi tambang emas, tembaga, batubara, minyak dan sebagainya. Bahkan, modal asing sejatinya sudah menguasai hajat hidup bangsa Indonesia kebanyakan, dari bangun bingga berangkat tidur. Air mineral, sabun-odol-shampo di kamar mandi, kendaraan yang dipakai, operator selular, gula, beras, sampai belanja ke mini dan supermarket, tak lepas dari modal asing.

Berita yang menggelitik hari ini, Menko Perekonomian Sofyan Djalil mewacanakan merekrut tenaga asing untuk memimpin BUMN. Berita lain, Menteri BUMN Rini Soemarno berniat menjual gedung kementerian BUMN setinggi 21 lantai. Sejak BBM naik (tepatnya pengalihan subsidi BBM…), pendapatan pom bensin Shell naik dua kali-lipat. Rupiah tak berdaya atas dolar. (Silakan ditambah deretan data lain….).

Jika kalimat Bung Karno di atas diaktualisasikan dalam konteks hari ini, barangkali menjadi, “Raksasa “biasa” yang dulu “berjengkelitan” di atas padang kerezekian Indonesia, kemudian menjadi Rahwana Dasamuka yang bermulut sepuluh. Setelah Indonesia merdeka, raksasa itu menjadi “biasa” lagi, dan sekarang, dia sudah “tiwikrama” menjadi maha-Rahwana Dasamuka bermulut seribu.”

Lalu, sebagian dari kita bergumam, “bukan urusan saya….” (roso daras)

Published in: on 17 Desember 2014 at 10:06  Comments (30)  
Tags: , , ,

Benoe Merinding Memegang Baju Kebesaran Bung Karno

benoebuloeIngat host kocak acara kuliner Benoebuloe di Trans TV beberapa waktu lalu? Lelaki hitam manis berdarah Aceh ini, bernama asli Ibnu Sakdan. Dia sempat merintis karier jurnalistik di Tanah Rencong antara 1999 – 2004. Konflik Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan TNI menjadi ajang liputan rutin baginya.

Tahun 2004, adalah tahun hijrah Benoe, begitu ia akrab disapa. Tahun itu, ia meninggalkan Aceh untuk bergabung dengan Trans TV Jakarta menjadi video journalist (VJ). Dua tahun setelahnya, ia dipercaya menjadi host sekaligus reporter untuk acara kuliner Benoebuloe di Trans TV hingga tahun 2013.

Acara kuliner yang bisa dibilang lepas dari mainstream ini, tidak begitu lama menyedot perhatian pemirsa. Kostum yang unik, cara pembawaan yang atraktif, serta gaya makan khas benoebuloe, membuat acara yang dipandunya bertahan cukup lama.

Cukup menarik menyorot sosok yang satu ini. Setidaknya menarik bagi saya, ketika ia menghampiri dan menyinggung tentang Bung Karno. Ya, ternyata Benoe itu pengagum berat Putra Sang Fajar. Saya bertemu dia di Kompas TV, menjelang dan usai perekaman acara Three in One, yang mengangkat topik “Warisan Soekarno”.

Kompas TV? Benar, sejak 2014, Benoe bergabung dengan Kompas TV, setelah sebelumnya sempat membintangi tiga judul film produksi Maxima Picture. Rupanya, break sejenak dari TV, ia menjajal kemampuan akting dalam film antara lain “Lihat Boleh Pegang Jangan” dan “Kakek Cangkul”. “Itu kegiatan tahun 2013, sebelum akhirnya, tahun 2014 saya kembali ke televisi,” ujar Benoe.

Kembali ke soal Benoe dan Bung Karno…. Ia pertama dan yang utama mengagumi Bung Karno karena kharismanya. “Benar! Bung Karno sangat kharismatik. Sampai-sampai, saya merinding ketika memegang salah satu baju kebesaran beliau,” ujar Benoe.

Adalah Romi Soekarno, cucu Bung Karno dari Rachmawati Soekarnoputri, yang hari itu hadir di Kompas TV menjadi salah satu narasumber bersama Puti Guntur Soekarno. Romi membawa baju kebesaran Bung Karno yang disimpannya dengan sangat baik, sebagai salah satu warisan tak ternilai harganya. Jas kebesaran warna hijau tua itu, lengkap dengan atribut dan pangkat kebesaran sebagai Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata/Pemimpin Besar Revolusi Republik Indonesia.

“Demi Tuhan saya merinding ketika memegang salah satu baju kebesaran beliau lengkap dengan atribut kepangkatannya, “ ujar Benoe, dengan ekspresi serius, tapi tetap lucu….

Saking semangatnya berbicara tentang Sukarno, Benoe berandai-andai, “Seandainya saya lahir di zaman beliau, maka yang saya lakukan adalah berjuang sampai titik darah penghabisan demi tegaknya NKRI,” ujarnya berapi-api seraya menambahkan, “kemampuan beliau membakar semangat pemuda dan para pejuang kita adalah bukti bahwa Presiden Sukarno adalah bapak bangsa sejati.”

Published in: on 7 November 2014 at 07:50  Comments (44)  
Tags: , , ,

“Warisan Soekarno” di Three in One Kompas TV

three in one kompas tv

Program “Three in One” Kompas TV, sekilas, saya kutip dari website-nya adalah sebagai berikut:

“Melalui bincang-bincang hangat, kami menggali informasi dari beragam nara-sumber. Kami akan mengajak Anda untuk mengenal lebih dalam sosok-sosok yang selama ini hanya dikenal luarnya saja. Tokoh yang kami dekati seringlah terlihat di televisi dan bekerja dengan prestasi, hati nurani, bahkan hingga sekedar menjaga citra dan gengsi.

Bagaimana reaksi para tokoh tersebut jika kemudian ditanya mengenai hal yang paling sederhana hingga yang paling sensifit? Saksikan Three In One bersama Dentamira Kusuma (jurnalis), Tara De Thouars (psikolog), Kamidia Radisti (presenter).”

Tersebutlah seorang Asti Wulan dari Kompas TV berkirim email menyatakan niatnya ingin ngobrol seputar “warisan Soekarno”. Singkat kata, saya penuhi permintaan Aci –begitu ia akrab disapa. Suatu siang, saya pun terlibat bincang-bincang di “Kedai 63” Gedung Pers Pancasila, Palmerah, tak jauh dari markas Kompas TV. Aci bersama Dimas, mengajak diskusi tentang topik dan narasumber yang akan didatangkan untuk program “Warisan Soekarno”.

Terbersit niatan mendatangkan putra-putri dan cucu-cucu Bung Karno sebagai narasumber. Saya senang dan mengapresiasi setiap program (apa pun, di media mana pun) yang mengangkat topik Bung Karno. Karenanya, saya pun antusias memberi masukan.

Kewajiban sudah saya tunaikan. Plong rasanya. Hingga keesokan harinya, Aci menghubungi dan menyatakan, “Bang Ju meminta kesediaan Bang Roso sebagai salah satu narasumber.”

Yang disebut “Bang Ju” oleh Aci, tak lain adalah Julius Sumant. Saya mengenalnya ketika ia menggawangi program Mata Najwa di Metro TV. Setidaknya, dua kali “Bang Ju” ini meminta saya menatap mata indah si Najwa. Pertama dalam program Mercu Suar Bung Karno, dan kedua kronik seputar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Dua topik tadi, bersinggungan langsung dengan Bung Karno, karenanya saya antusias. Tetapi untuk program “Warisan Soekarno” dengan narasumber cucu-cucu dan anak Bunng Karno? “Enggak-lah… Coba kontak si A… atau si B….” Ya, saya mulanya memang keberatan. Pertama, janji awal, kita hanya ngobrol tentang konten program, sehingga tidak menjurus ke pendaulatan saya sebagai nara sumber. Yang kedua, berbicara trah, atau garis keturunan yang kedua atau ketiga, saya tidak terlalu tertarik, mengingat untuk “menyelami” Bung Karno saja saya masih terus belajar.

Apa daya, sejumlah calon narasumber yang lebih kompeten, sedang tidak berada di Jakarta. Saya pun meng-iya-kan request Bang Ju… setidaknya buat “pelengkap”… Maka, terkonfirmasilah narasumber siang itu adalah dua cucu Bung Karno: Puti Guntur Soekarno dan Romy Soekarno (putra Rachmawati). Narasumber ketiga adalah Totok Suryawan (putra Bung Karno dari Kartini Manopo), dan saya (yang kemudian di-label-i predikat Sukarnois).

Puti dan Romy yang berbicara di segmen awal, sungguh menarik. Bukan saja karena Puti memang cantik, dan Romy yang ngetop sebagai DJ papan atas, tetapi kombinasi busana nuansa merah saa itu, membuat suasana begitu hangat. Puti dengan kematangannya sebagai seorang trah ketiga Bung Karno, berbicara lugas tentang banyak hal terkait kakek, bapak, serta om dan tante-tantenya. Romy tak kurang menarik. Dia hadir menenteng busana kebesaran Bung Karno sebagai salah satu “benda” sakral yang diwarisinya dari sang kakek.

Sedangkan, mas Totok hadir membawa cerita kelahirannya di Jerman, dengan latar belakang kondisi Indonesia yang tak menentu. Sang ibu, terpaksa harus “menjauh” dari Indonesia demi keselamatan benih Bung Karno yang dikandungnya. Bukan hanya itu, mas Totok juga membawa dan menunjukkan foto-foto kenangan serta benda kenangan berupa pelat mobil “RI-1” dari salah satu mobil dinas Bung Karno.

Acara “Three in One” di Kompas TV, hadir setiap hari Selasa, pukul 22.00 WIB. Hingga tulisan ini diposting, Senin, 3 November 2014, belum didapat konfirmasi, kapan rekaman itu akan ditayangkan. (roso daras)

three in one kompas tv-2three in one kompas tv-3

Published in: on 3 November 2014 at 09:01  Comments (4)  
Tags: , , , , ,

Idayu Nyoman Rai Srimben, Sang Pusaka

BK sungkem ibunda

Ida Ayu Nyoman Rai Srimben… nama yang begitu diagungkan oleh seorang Sukarno. Ia adalah seorang ibu yang telah menumpahkan seluruh restu bagi perjuangan anaknya.Seorang ibu yang memangkunya di saat fajar menyingsing, seraya memeluk dan membisikkan kata, “Jangan lupa nak… engkau adalah Putra Sang Fajar”.

Tak pernah Bung Karno lupakan, momentum pagi hari sebelum keberangkatannya ke Surabaya, untuk melanjutkan sekolah di HBS. “Rebahlah nak… rebahlah di tanah…,” perintah sang ibu. Tanpa bertanya, apalagi memprotes, Sukarno kecil pun segera rebah di tanah menghadap langit semesta. Sang bunda segera melangkahi tubuh kecil Sukarno hingga tiga kali bilangannya. Itulah bentuk seluruh restu yang ia tumpahkan bagi sang putra.

Bung Karno sadar… Idayu Nyoman Rai Srimben tidak kalah sadar… sejak itu, mereka harus “berpisah”. Sejarah pun kemudian mencatat, Bung Karno sekolah di Surabaya, menumpang dan digembleng oleh HOS Cokroaminoto. Perjalanan selanjutnya adalah Bandung untuk menggapai titel insinyur di THS (sekarang ITB). Jika dideret rentetan sebelum dan setelahnya, akan tebentang sejarah panjang Sukarno yang dramatis.

Sang ibu, yang kemudian berdiam di Blitar, adalah seorang ibu yang tidak pernah putus merestui dan mendoakan anaknya. Ada kalanya pula, Sukarno yang sowan ke Blitar, menjemput restu. Ya, dalam segala hal, Sukarno terus meng-up-date restu sang bunda. Dalam hal apa pun…. Entah ketika mengawali pelajaran, ketika mengawali kehidupan berumah-tangga, ketika ini dan itu… restu bunda nomor satu.

Dokumen tutur dan foto menggambarkan, betapa tradisi sungkem dilakukan Sukarno dari kecil hingga akhir kehidupan sang bunda. Pertama-tama, ia bersimpuh, lalu mengatupkan kedua telapak tangan dengan gerakkan menempelkannya di depan wajah, turun ke dada, lantas menyangga lutut ibunda seraya wajahnya merunduk mencium lutut sang ibu… Itulah bentuk hormat dan bakti setinggi-tingginya dari seorang putra kepada sang bunda. Idayu pun menumpahkan seluruh restu seraya mendekap anak tercinta….

Adalah takdir seorang putra, yang senantiasa wajib berbakti kepada ibu hingga putus usia. Itu pula yang dilakukan Bung Karno.

Jika ada yang mengaitkan “kesaktian” Bung Karno dengan jimat, tongkat, dan benda-benda apa pun, niscaya sebuah pemahaman keliru. “Kesaktian” Bung Karno justru terletak pada restu sang ibu, disertai kesadaran tinggi, bahwa takdir, termasuk kapan maut menjemput, adalah mutlak milik Tuhan.

Di antara sekian banyak keteladanan dari seorang Sukarno, rasanya keteladanan “bakti kepada ibu” ini merupakan keteladanan yang patut disemai. (roso daras)

Published in: on 30 September 2014 at 04:23  Comments (1)  
Tags: , , , ,

“Bintang Lenin” buat Bung Karno

4 Type Bintang Lenin

Ini adalah tulisan terakir dari serial tulisan tentang kunjungan Bung Karno ke Uni Soviet, pada tanggal 28 Agustus – 12 September 1956. Setelah berkeliling negara besar (sebelum terpecah-belah 8 Desember 1991), Bung Karno dan rombongan tiba kembali di Kremlin. Di ibukota negara Soviet ini pula kunjungan ditutup dengan perundingan bilateral yang berlangsung dalam suasana penuh kehangatan.

Perundingan meliputi isu-isu internasional, dan secara spesifik membahas kerjasama kedua negara. Sebelum meninggalkan Uni Soviet, tuan rumah menggelar rapat raksasa di stadion utama W.I. Lenin, yang merupakan demonstrasi persahabatan Soviet-Indonesia. Malamnya, 11 September 1956, Ketua Presidium Soviet Tertinggi UR2SS K.E. Worosjilov mengadakan resepsi agung di Istana Besar Kremlin.

Dalam pidatonya, K.E. Worosjilov antara lain mengatakan, “Dengan menyambut tamu-tamu Indonesia secara meriah dan ramah tamah, rakyat negeri kami memperlihatkan rasa persahabatannya yang setulus-ikhlasnya terhadap rakyat Indonesia serta pengharapan sukses bagi rakyat Indonesia dalam perjuangannya mencapai kemerdekaan nasional yang penuh, dan membangun suatu masyarakat yang adil dan sejahtera.”

Dalam bagian lain sambutannya, Worosjilov menambahkan, “Tamu-tamu yang tercinta, perkenankanlah saya menyatakan keyakinan bahwa kunjungan saudara-saudara ke negeri kami ini pasti akan besar gunanya untuk memperkembangkan pesahabatan dan kerjasama antara Uni Soviet dan Indonesia di segala lapangan. Kami, para pemimpin Soviet, merasa gembira berkenalan dengan saudara Presiden dan tokoh-tokoh Indonesia yang mengantar beliau dengan mengadakan suatu kontak persahabatan yang baik. Kami berkeyakinan bahwa kontak itu pasti akan besar faedahnya bagi kedua negeri kita dan akan mempunyai arti penting untuk memperjuangkan perdamaian dunia.”

worosjilov dan bung karno

K.E. Worosjilov menambahkan, bahwa mengingat jasa-jasa tamu yang terhormat itu dalam memperjuangkan perdamaian dunia serta pekerjaan yang besar guna persahabatan antar-bangsa-bangsa umumnya dan antara bangsa-bangsa Uni Soviet dan bangsa Indonesia khususnya, pihaknya menaruh homat setinggi-tingginya. Di akhir sambutannya, Worosjilov mengadiahi Bung Karno bintang Uni Soviet yang tertinggi, “Bintang Lenin”.

Usai menerima bintang penghargaan tertinggi itu, Presiden Sukarno menyatakan: “Resepsi ini adalah kejadian besar bagi saya. Malam ini selalu akan saya kenangkan. Ini bukan saja malam perpisahan yang diberikan oleh PJM Worosjilov. Malam ini tidak bisa saya lupakan karena pada malam inilah saya diberi suatu hadiah yaitu Bintang Lenin, hadiah tertinggi di Uni Soviet. Waktu memberikan hadiah itu kepada saya, Presiden Worosjilov mengharapkan makin eratnya persahabatan antara rakyat Soviet dan rakyat Indonesia. Saya juga ingin supaya persahabatan ini lebih erat lagi.”

Selanjutnya, Bung Karno menambahkan, “Besok saya meninggalkan Uni Soviet dengan membawa kepercayaan bahwa persahabatan antara rakyat Indonesia dan rakyat Uni Soviet pasti akan berkembang, bahwa persahabatan itu tidak dapat dilenyapkan oleh siapa pun juga.” (roso daras)

Pidato Bung Karno di Pakhtakor

Pidato Bung Karno di Tasjkent

Dari kota Swerdlovsk yang hawanya sejuk, tamu-tamu Indonesia melanjutkan perjalanan ke kota Tashkent. Pada tanggal 4 September 1956, di ibukota Uzbektistan itu belum ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa musim rontok yang sejuk itu sudah dekat. Matahari yang panas menyinari seluruh kota Tashkent yang penduduknya keluar dari rumahnya masing-masing untk menyambut Presiden Sukarno dan rombongan.

Bunga mawar, karangan bunga yang indah jatuh ibarat hujan di atas mobil Presiden yang maju perlahan-lahan di sepanjang jalanan utama kota Tashkent. Lagu-lagu bangsa Uzbek dimainkan, pekikan-pekikan menyambut Bung Karno terdengar di mana-mana: “Salam Bung Karno!”, “Merdeka”, “Hidup persahabatan Soviet-Indonesia!”.

Sungguh, sebuah pemandangan yang menyisakan kekayaan batin. Sebuah kejadian yang menyisakan gurat rasa bangga di dada. Rasa persahabatan yang dalam antarkedua bangsa itu, menemani rongga dada Bung Karno dan rombongan, dan mengantar mereka ke peraduan malam hari itu.

Keesokan harinya, Presiden Sukarno beserta rombongan mengunjungi salah satu kota industri dari Uzbekistan yaitu kota Chircik. Bung Karno menyaksikan dari dekat pabrik listrik-kimia Chircik. Puas mendapat penjelasan dari kepala pabrik, Bung Karno dan rombongan melanjutkan kunjungan hari itu ke perusahaan pertanian penanaman kapas “Kzil Uzbeksitan” yang terkenal di Republik Uzbekistan itu.

Sekadar mengingatkan sidang pembaca yang mulia, ketika itu (1956), Uzbekistan belum lagi menjadi sebuah negara merdeka. Ia masih menjadi bagian dari Uni Soviet.

Nah, di Uzbek, Bung Karno pun didaulat menghadiri rapat akbar di stadion “Pakhtakor”. Yang istimewa adalah, rapat raksasa itu diadakan spesial untuk menyambut tamu agung dari Indonesia yang dinilai oleh masyarakat Tashkent sebagai peristiwa besar. Sebanyak 75 ribu orang mendengarkan pidato Presiden Sukarno, sebanyak 55 ribu duduk tertib di bangku stadion, sisanya berjubel di tengah lapangan. Kepada kaum muslimin yang hadir di rapat itu, Presiden menyampaikan salam secara Islam: Assalamu’alaikum!

Stadion Pakhtakor adalah stadion termegah di Tashkent, Uzbekistan. Yang menarik adalah, stadion ini dibangun tahun 1954 oleh rakyat Uzbek sendiri. Rakyat Uzbek bergotong royong membangun konstruksi stadion tanpa imbalan, tanpa upah selama dua tahun, dan selesai pada 1956.

Setelah selesai, segera penduduk Tashkend membentuk klub sepakbola yang juga diberi nama Pakhtakor yang berarti “pemetik kapas”. Ini mengenangkan bahwa masyarakat Tashkent mayoritas menggantungkan hidup dari kapas. Dalam sejarahnya, stadion Pakhtakor tempat Bung Karno berpidato pada tahun 1956, mengalami renovasi menyeluruh pada tahun 1996.

Stadion ini diresmikan pada 20 Agustus 1956. Bung Karno berpidato pada 5 September 1956. Patut diduga, Bung Karno-lah yang pertama kali memanfaatkan stadion itu. Sebab, dari catatan sejarah yang ada, pertandingan sepakbola (internasional) pertama yang dipertandingkan di stadion Pakhtakor adalah tanggal 19 September 1956, yang mempertemukan kesebelasan Pakhtakor melawan Dinamo (Albania) yang berakhir dengan kemenangan Pakhtakor.

Di stadion Pakhtakor pula, di hadapan puluhan ribu massa itu, Presiden Sukarno berkata bahwa kota Tashkent banyak persamaannya dengan kota-kota di Indonesia. “Udara di sini seperti di Indonesia, langitnya terang seperti di Indonesia, hawa di sini panas seperti di Indonesia, tanamannya seperti di Indonesia. Tetapi yang paling penting ialah bahwa rakyat saudara-saudara juga seperti rakyat Indonesia,” demikian Presiden Sukarno.

Pesan Bung Karno berikutnya adalah, “Segala manusia yang apa saja warna kulitnya, hendaknya bekerja sama untuk perdamaian dunia.” (roso daras)

stadion pakhtakor

Demokrasi dan Ratu Adil

irsoekarno1Memasuki bulan Juni, Bulan Bung Karno, menarik kiranya kalau sejenak kita mengenang pidato Pancasila Bung Karno, 1 Juni 1945. Pidato lengkap sudah pernah diposting. Berikut ini adalah cuplikan yang layak kita jadikan renungan di bulan Juni ini. Begini Bung Karno berkata:

Saudara-saudara, saya usulkan. Kalau kita mencari demokrasi hendaknya bukan demokrasi Barat, tetapi permusyawaratan yang memberi hidup, yakni politiek-economische democratie yang mampu mendatangkan kesejahteraan sosial! Rakyat Indoneia sudah lama bicara tentang hal ini. Apakah yang dimaksud dengan Ratu Adil? Yang dimaksud dengan faham Ratu Adil, ialah sociale rechtvaardigheid. Rakyat ingin sejahtera. Rakyat yang tadinya merasa dirinya kurang makan kurang pakaian, menciptakan dunia baru yang di dalamnya ada keadilan, di bawah pimpinan Ratu-Adil. Maka oleh karena itu, jikalau kita memang betul-betul mengerti, mengingat, mencinta rakyat Indonesia, marilah kita terima prinsip hal sociale rechtvaardigheid ini, yaitu bukan saja persamaan politik, saudara-saudara, tetapi pun di atas lapangan ekonomi kita harus mengadakan persamaan, artinya kesejahteraan bersama yang sebaik-baiknya.

Saudara-saudara, badan permusyawaratan yang kita akan buat, hendaknya bukan badan permusyawaratan politiek democratie saja, tetapi badan yang bersama dengan masyarakat dapat mewujudkan dua prinsip: politieke rechtvaardigheid dan sociale rechtvaardigheid.

Kita akan bicarakan hal-hal ini bersama-sama, saudara-saudara di dalam badan permusyawaratan. Saya ulangi lagi, segala hal akan kita selesaikan, segala hal!

Kalimat di atas, kini seolah menjadi alunan mimpi… mengingat kondisi demokrasi Indonesia sudah jauh melenceng dari yang digagas Bung Karno. Di bulan Bung Karno inilah, semestinya, kaum nasionalis Indonesia, khususnya para Sukarnois, mengkaji kembali ide-ide Bung Karno kemudian berjuang untuk mewujudkannya.

Pergeseran warna demokrasi di Indonesia, sejak Indonesia merdeka, kemudian di era demokrasi terpimpin, hingga demokrasi liberal yang menopang rezim orde baru, adalah sebuah keniscayaan sejarah. Tidak ada yang perlu disesali, apalagi diratapi.

Jika pertahanan ideologi adalah sebuah pertarungan, Pancasila sejatinya sedang mengalami kekalahan telak. Dia tidak akan pernah bisa bangkit dan kembali unjuk gigi, manakala para pewaris ajaran Bung Karno diam dan pasrah.

Kini saatnya para Sukarnois menyusun kekuatan untuk memperjuangkan kemurnian ideologi Pancasila berikut turunan di bidang ekonomi, sosial-politik, dan budaya. Strategi mengembalikan ideologi Pancasila inilah yang dibutuhkan untuk mengerem laju liberalisme dan pada akhirnya menghentikan sama sekali untuk kemudian mengembalikan ke rel yang semestinya.

Jika dalam pidato To Build the World Anew di PBB tahun 1960, Pancasila diteriakkan Bung Karno dan mewarnai dominasi dua ideologi Barat dan Timur, maka sejatinya Pancasila itu sendiri sudah teruji sebagai ideologi alternatif dunia. Jika banyak negara mengkaji bahkan mengadopsi Pancasila, lantas mengapa kita justru membiarkan Pancasila tercabik-cabik di negerinya sendiri (oleh ideologi Barat?). (roso daras)

Published in: on 2 Juni 2014 at 16:23  Comments (6)  
Tags: , ,

Bundel “Fikiran Ra’jat”

Bundel Fikiran Ra'jat

Mendapatkan bundel “Fikiran Ra’jat” dari Bung Peter A. Rohi, seperti mendapat harta karun rasanya. Inilah media massa yang diterbitkan oleh tangan Sukarno tahun 1932, sebagai salah satu bentuk aksi menentang penjajah.

Ukurannya selebar buku tulis. Kualitas cetak, menunjukkan kemampuan cetak terbaik pada zamannya. Perwajahannya biasa-biasa untuk ukuran sekarang. Meski begitu, kehadiran “Fikiran Ra’jat” senantiasa dinanti-nanti tokoh-tokoh pergerakan di seluruh penjuru Tanah Air.

Bukan hanya itu, media ini juga menjadi salah satu media yang dikontrol sangat ketat oleh pemerintah Hindia Belanda. Bung Karno sebagai ketua sidang redaksi, beberapa kali mendapat teguran akibat sajian “Fikiran Ra’jat” yang terang-terangan menentang praktik imperialisme (penjajahan) di bumi Indonesia.

Bukan hanya itu, “Fikiran Ra’jat” juga sempat diberangus oleh tangan bengis kolonialis. Yang hebat, menurut saya pribadi adalah, pada kesempatan terbit selanjutnya, Bung Karno terang-terangan menghujat aksi pemberangusan atas media yang dipimpinnya. Ia menyuarakan suara getir sebagai bangsa terjajah. Bung Karno menggerutu, ketika satu-satunya kebebasan (berbicara) pun dibungkam. Nyaris tidak ada lagi kebebasan yang tersisa sebagai bangsa yang terjajah.

Menyimak edisi demi edisi, “Fikiran Ra’jat” sungguh majalah yang sangat berbobot. Terbit mingguan dengan artikel-artikel yang luar biasa. Selain Bung Karno, tidak sedikit tokoh-tokoh pergerakan pada zaman itu, menyumbangkan tulisan. Sebagai media pergerakan, redaksi juga melayani tanya-jawab seputar politik.

Pendek kata, mohon izin menyimak bundel “Fikiran Ra’jat” terlebih dahulu. Teriring sebuah janji, untuk menyambungnya pada postingan berikutnya. Merdeka!!! (roso daras)

Published in: on 30 Maret 2014 at 11:31  Comments (5)  
Tags: , , ,

Hadiah dari Bung Suwarno

dokumen suwarno

Sekalipun barangkali belum bisa dibilang lengkap, tetapi saya senang, setidaknya koleksi referensi tentang Bung Karno (dan sejarah bangsa) bertambah. Ini berkah hadiah. Hadiah yang diberikan seorang nasionalis bernama Suwarno. Siapa Suwarno? Dia adalah aktivis GMNI yang kemudian masuk partai (PDI Perjuangan), dan berhasil duduk di kursi dewan yang terhormat. Sayang, karier politiknya tidak lama, keburu tersandung kasus yang mengakibatkan dia tergusur dari Senayan.

Saya menyebutnya sebagai romantika hidup. Semua manusia, tanpa kecuali, memiliki sisi positif dan negatif. Saya pribadi cenderung menyukai pendekatan dari aspek positif. Terlebih dalam hal ideologi, saya yakini, beliau satu garis. Atau, malah sebaliknya, saya yang berada di garis yang sudah lebih dahulu dia lalui.

Pertemuan dan perkenalan pertama dengan Bung Suwarno kurang lebih setahun lalu. Dia bersama Moch. Achadi, sesepuh dan mentor saya (di bidang Sukarnoisme), rawuh ke kantor saya di bilangan Condet, Jakarta Timur. Biasalah, bicara ngalor-ngidul. Suasananya sama seperti kalau saya bertemu dengan teman-teman segaris lainnya. Penuh semangat dan berapi-api. Sekalipun dalam banyak situasi, saya berusaha untuk menekan nafsu buka mulut saya. Sebaliknya, dengan kesadaran yang dalam, saya perintahkan indra pendengar saya untuk menangkap baik-baik semua perkataan senior.

Nah, kira-kira pertengahan Januari 2014, pak Achadi menghubungi saya. Ada dua berita yang dia sampaikan sekaligus. Pertama, berita tentang kakinya yang terkilir akibat terjatuh di kamar mandi (semoga lekas sembuh, pak….). Kedua, menyuruh saya menghubungi Bung Suwarno yang punya catatan khusus tentang film Soekarno besutan sutradara Hanung Bramantyo.

Atas dawuh pak Achadi, saya pun menghubungi Bung Suwarno. Singkat kata, dia menghendaki pertemuan. Pertemuan baru terjadi kurang lebih satu minggu sejak berbicara lewat telepon. Kali ini, saya yang menyambangi beliau di kantornya, di bilangan Bintaro, Jakarta Selatan (ehh… Jaksel apa Tangsel yaaa….).

Di luar dugaan, beliau sudah menyiapkan banyak “hadiah” buat saya. Di luar ucap terima kasih kepada Bung Suwarno, tak henti-henti saya mengucap syukur alhamdulillah mendapatkan hadiah berupa buku dan sejumlah catatan/kliping penting. Satu per satu hadiah itu ia jelaskan secara singkat. Cukup mudah saya tangkap. Ditambah semangat untuk segera membaca semua hadiah dari Bung Suwarno agar lebih jelas kiranya.

Satu buku yang  luar biasa bagusnya, adalah “Lahirnya Undang Undang Dasar 1945” (edisi revisi) tulisan RM A.B. Kusuma (peneliti senior di Pusat Studi Hukum Tata Negara FH UI), terbitan Badan Penerbit FH UI, 2009. Buku ini memuat salinan dokumen otentik Badan Oentoek Menyelidiki Oesaha-Oesaha Persiapan Kemerdekaan yang disusun dan dibubuhi ulasan dan catatan oleh AB Kusuma.

Buku itu menyajikan dokumen yang “hilang”. Dokumen yang dimaksud adalah dokumen otentik BPUPK – PPKI. Ada dua orang pemegang dokumen itu. Mereka adalah kakak-beradik Pringgodigdo (Abdul Gaffar Pringgodigdo dan Abdul Karim Pringgodigdo). Nah, dokumen miliki AK Pringgodigdo inilah yang disimpan oleh negara dan dibawa serta ke Yogyakarta, Januari 1946 ketika ibukota pemerintahan pindah ke sana.

Ketika Belanda (Sekutu) masuk dan menangkap Bung Karno, mereka berhasil merampas dokumen itu, dan membawanya ke Belanda. Sejak itu, dokumen resmi tadi bisa dibilang raib.

Nah, dokumen satunya, dipegang AG Pringgodigdo yang kemudian disimpan sebagai dokumen pribadi.  Dokumen ini kemudian dipinjam oleh Moh. Yamin, yang celakanya, tidak pernah dikembalikan. Hingga kemudian dokumen itu pun dinyatakan hilang.

Periode berikutnya, tafsir Yamin-lah yang muncul ke permukaan. Yamin menyusun kembali dokumen itu dengan penambahan di sana-sini. Sehingga sempat dijadikan rujukan Orde Baru. Di situlah sejarah mulai bopeng-bopeng. Ada yang menyebut Yamin sebagai penggali Pancasila, dan sebagainya. Singkat kata, dokumen “modifikasi” Yamin-lah yang dipakai Orde Baru, dan dikukuhkan oleh Noegroho Notosusanto, mantan Mendikbud, mantan Kepala Pusjarah ABRI yang sangat getol membelokkan sejarah Sukarno.

Seperti berulang kali saya tulis, bahwa sejarah kebenaran senantiasa akan mengalir menemukan jalannya sendiri. Adalah AB Kusuma, seorang peneliti senior, anak bangsa yang getol dengan dokumen sejarah. Ia melacaknya hingga ke negeri Belanda. Bersyukur, dokumen BPUPK-PPKI masih utuh terismpan di Belanda. Yang mengagetkan adalah, catatan bahwa pemerintah Belanda secara resmi sudah mengembalikan dokumen itu ke pemerintah Indonesia pada tahun 1989.

Hmmm… sebegitu tidak inginnya Sukarno bangkit karena jasa besarnya memerdekakan bangsa, meletakkan landasan ideologi dan konstitusi, sampai-sampai pemerintah Orde Baru melalui Arsip Nasional tidak pernah mempublikasikannya ke masyarakat.

Bagaimana nasib dokumen yang disimpan AG Pringgodigdo, kemudian dipinjam Yamin dan tidak pernah dikembalikan? Sejarah pun menguak kebenarannya. Oleh Yamin, dokumen itu disimpan dalam satu kotak berisi aneka publikasi dan dokumen penting koleksi Moh. Yamin. Ketika Yamin wafat, dokumen itu dikuasai salah seorang putranya, Rahadian Yamin (tokoh model Indonesia) yang menikah dengan putri Mangkunegaran, Gusti Raden Ayu Retno Satuti.

Retno Satuti-lah yang peduli dengan brangkas suaminya dan membongkarnya. Di antara tumpukan dokumen, salah satunya adalah dokumen BPUK-PPKI milik AG Pringgodigdo yang dipinjam ayah mertuanya dan belum pernah dikembalikan itu.  Menyadari sebagai dokumen penting, Retno Satuti pun menyerahkannya kepada Arsip Nasional pada tahun 1990.

Ahhh… panjang juga ya bercerita satu buku saja. Ini baru cerita sejarah dokumen BPUPK-PPKI saja. Sama sekali belum menyinggung isinya. Dan saya belum uraikan juga hadiah-hadiah lain dari Bung Suwarno. Lain kali saja yaaa… Merdeka!!! (roso daras)

 

Tamu Indonesia yang Tercinta

BK Pidato di lapangan terbangIni posting lanjutan atas kunjungan rombongan Presiden Sukarno ke Uni Soviet, 28 Agustus 1956. Dalam pidato sambutan di Lapangan Terbang Pusat Ketua Presidium Soviet Tertinggi UR2SS K.E. Worosjilov mengatakan, antara lain: Kunjungan saudara-saudara ini adalah sautu peristiwa yang penting. Kunjungan ini pasti akan menyumbang dalam memperkembangkan hubungan persahabatan antara Republik Indonesia dan Uni Soviet dan dalam memperkokoh perdamaian dunia dan kerja sama secara damai antara semua negeri.

“Kami sudah ketahui”, demikian Presiden Sukarno dalam pidato jawaban beliau, “bahwa rakyat Uni Soviet selalu berjuang untuk kemerdekaan, selalu berjuang dan sedang berjuang untuk membangun suatu masyarakat yang adil dan sejahtera. Bersama bangsa-bangsa lain rakyat Soviet berusaha keras untuk mencapai perdamaian dunia.”

Sesudah mengucapkan terima kasih untuk undangan ke Uni Soviet maka Presiden Sukarno mengatakan dalam kata penutupnya, “Kami gembira bersahabatan dengan rakyat saudara-saudara yang besar itu”.

Dari lapangan terbang Presiden Sukarno berangkat ke Kremlin dengan naik mobil terbuka bersama-sama dengan K.E. Worosjilov dan N.A. Boglanin. Berpuluh-puluh ribu penduduk Moskow bertepuk tangan secara riuh di sepanjang perjalanan mereka ke Kremlin di mana disediakan tempat tinggal bagi tamu agung itu. Penduduk-penduduk ibukota Soviet mengucapkan salam kepada putra bangsa Indonesia yang mulia. Bendera-bendera Indonesia dan Uni Soviet berkibaran atas jalan-jalan kota Moskow. Tulisannya di spanduk-spanduk besar berbunyi: “Selama datang, tamu-tamu Indonesia yang tercinta!”

BK menuju Kremlin

BK disambut di sepanjang jalan

Dua foto di atas menggambarkan suasana ketika Bung Karno meninggalkan bandara menuju Kremlin naik mobil bak terbuka dengan petinggi negara itu. Rakyat Soviet mengelu-elukan parade yang  megah di sepanjang jalan. (roso daras)

Published in: on 19 Januari 2014 at 05:00  Comments (3)  
Tags: , , ,