Hormat Kruschev kepada Bung Karno

Kruschev dan Bung Karno

Anggota Presidium Tertinggi Uni Soviet, yang juga Sekretaris Pertama Komite Sentral Partai Komunis Uni Soviet, N.S. Kruschev, tampak meyalami Bung Karno dengan merunduk, begitu respeknya. Dua tahun sejak pertemuan itu, dia naik menjadi perdana menteri Uni Soviet, dengan tetap mengendalikan partai komunis.

Meski usia lebih tua (Kruschev lahir 15 April 1894, sementara Bung Karno lahir 6 Juni 1901), tetapi tampak ia begitu segan dan menaruh hormat yang tinggi kepada Bung Karno. Ketika itu, Kruschev menjadi satu di antara sekian banyak pejabat tinggi Soviet yang turut menyambut kedatangan Bung Karno dan rombongan.

Sambutan Pejabat Uni Soviet

Tampak suasana penyambutan Bung Karno di lapangan terbang Moskow. Foto diambil oleh wartawan Indonesia dari pesawat. Tampak para pejabat Uni Soviet, dengan latar belakang pasukan tentara merah menyambut dengan sangat baik. Di luar, ribuan masyarakat tak kalah antusiasnya.

Sambutan itu membuktikan adanya rasa simpati yang hangat di hati rakyat Soviet terhadap rakyat suatu negeri yang jauh yang tidak sedikit seumbangannya dalam perjuangan kemerdekaan bangsa-bangsa Asia dan Afrika yang berjuta-juta itu. Kaum pekerja Uni Soviet menyambut Presiden Sukarno, seorang tokoh politik dan negara yang terkemuka sebagai wakil rakyat Indonesia yang 80 juga jumlahnya yang perwira dan cinta damai.

Dengan hangat dan rasa gembira wakil-wakil Indonesia disambut di Moskow –ibu UR2SS pada tanggal 28 Agustus 1956. Sebelum kapal-kapal terbang mendarat maka pemimpin-pemimpin Pemerintah Soviet dan Partai Komunis Uni Soviet serta banyak kaum pekerja kota Moskow sudah berkumpul di Lapangan Terbang Pusat.

Rombongan Presiden Sukarno yang datang di Uni Soviet atas undangan Presidium Soviet Tertinggi UR2SS antara lain Zainul Arifin, Wakil I Ketua Parlemen RI, Arudjo Kartawinata, Wakil II Ketua Parlemen R.I, A.K. Pringgodigdo, Kepala Kabinet Presiden, Winarno Danuatmodjo, Gubernur Sumatera Selatan, Dr Sukiman Wirjosandjojo, anggota Parlemen, Dr  I. Leimena, Sutarto Hadisudibjo, Dr. Sumanang, Wk. Kepala Bank Industri Negara, Suwito Kusumowidagdo, Kepala Direktorat Kementerian Luar Negeri, opsir-opsir tinggi dari staf Angkatan Perang, pegawai Kemlu dan wartawan-wartawan.

Bung Karno disambut pejabat Soviet

Tampak Bung Karno di antara kerumunan para petinggi Uni Soviet. Latar belakang, tampak tentara  dan massa yang turut menyambut rombongan dari Indonesia. (roso daras)

Published in: on 6 Januari 2014 at 09:56  Comments (6)  
Tags: , , ,

Agustus yang Hangat di Uni Soviet

Ini adalah tulisan pertama tentang kunjungan Presiden Sukarno ke Uni Soviet pada tanggal 28 Agustus 1956. Narasi yang tersedia memang sangat terbatas, jauh lebih sedikit dibanding jumlah foto yang disajikan. Karenanya, saat menikmati buku lawas berjudul “Kunjungan Presiden Republik Indonesia Sukarno ke Sowjet Uni” terbitan Penerbit Seni Lukis Negeri Moscow 1956 itu, ada rasa geram, haus akan narasi yang panjang. Sayang memang, keinginan itu tidak terkabulkan.

Merekonstruksi peristiwa itu, mungkin saja bisa dilakukan, tentu saja jika masih ada satu-dua saksi mata yang ikut serta dalam kunjungan tersebut. Melalui postingan ini, siapa tahu, kepingan puzzle yang entah di mana, bisa muncul dan melengkapinya menjadi sebuah cerita sejarah yang sangat menarik untuk generasi penerus.

Selama ini, sering kita mendengar cerita fantastis tentang betapa Bung Karno senantiasa mendapat sambutan luar biasa di negara mana pun yang ia kunjungi. Kebesaran nama Sukarno, ketika itu, bahkan lebih besar dari Indonesia itu sendiri.

Tak terkecuali, kunjungan Bung Karno dan rombongan ke Uni Soviet antara 28 Agustus – 12 September 1956. Bukan waktu yang sebentar. Akan tetapi, juga bukan waktu yang lama jika ingin mengunjungi negara yang maha besar (ketika itu).

Bung Karno Tiba di MoskowFoto di samping ini adalah foto Bung Karno saat keluar dari pintu pesawat, melambaikan tangan kepada para petinggi negeri dan rakyat Soviet yang menyambutnya. Pidato kedatangan Bung Karno dalam buku itu diringkas sebagai berikut, “Indonesia terpisahd ari Uni Soviet dengan lautan yang luas, dengan dataran dan pegunungan, akan tetapi kami merasa di sini seperti di rumah, seperti di antara keluarga kami sendiri.” Dalam rapat-rapat akbar selanjutnya, di kota mana pun Bung Karno singgah, kalimat di atas tidak pernah ketinggalan.

Sambutan itu membuktikan adanya rasa simpati yang hangat di hati rakyat Soviet terhadap rakyat suatu negeri yang jauh yang tidak sedikit sumbangannya dalam perjuangan kemerdekaan bangsa-bangsa Asia dan Afrika yang berjuta-juta itu. Kaum pekerja Uni Soviet menyambut Presiden Sukarno, seorang tokoh politik  dan tokoh negara terkemuka sebagai wakil rakyat Indonesia yang 80 juta jumlahnya, yang perwira dan cinta damai.

Kota Moskow 1956

Foto di atas adalah gambaran kota Moskow, Ibu Kota Uni Soviet, tahun 1956.

Bung Karno terima Penghormatan

Tampak di gambar sebelah kiri, Bung Karno membalas penghormatan dari komandan militer setempat, didampingi Ketua Presidium Soviet Tertinggi, K.E. Worosjilov. Selain disambut hampir semua petinggi negara, Bung Karno dan rombongan juga disambut upacara militer dengan parade pasukan penuh di bandara. Di samping itu, masih banyak kaum buruh dan rakyat Soviet yang ikut menyambut di bandara (dan nanti, di sepanjang jalan menuju Kremlin).

Bung Karno dan Worosjilov

Bung Karno disambut dengan sangat ramah oleh Ketua Presidium Soviet Tertinggi, K.E. Worosjilov dan Ketua Dewan Menteri Uni Soviet, N.A. Bulganin (tengah). Jika ada yang bilang, “foto bisa bicara”, maka yang terkesan dari foto di atas adalah, sambutan dan senyum yang sama-sama tulus dari kedua pemimpin negeri.

Yang satu pemimpin tertinggi salah satu negeri adi daya (ketika itu), yang satu adalah presiden dari sebuah negara yang baru 11 tahun merdeka, tetapi reputasi presidennya telah kesohor ke seantero penjuru bumi. Foto itu juga berbicara tentang kesetaraan antara dua kepala negara. Perhatikan bagaimana Bung Karno menjabat Worosjilov. Itulah jabatan tangan Bung Karno yang terkenal, “menggenggam habis” tangan yang disalaminya, seberapa besar pun tangan orang itu.

Kopiah yang menjadi ciri khas Bung Karno, serta kacamata hitam yang tetap melekat, disadari atau tidak, memancarkan aura percaya diri yang sangat tinggi. Terhadap presiden yang demikianlah, negara sebesar apa pun akan segan. Dengan kepala negara yang disegani, Indonesia pun menjadi negara yang disegani di dunia (ketika itu). (roso daras)