Suatu Sore di CityWalk Sudirman

Ini kabar tentang peluncuran buku, Bung Karno, The Other Stories, Serpihan Sejarah yang Tercecer, Sabtu 9 Januari 2010 di CityWalk Sudirman, Lantai 1, Jakarta Pusat. Acara yang diisi talk show dengan pembicara tunggal sang penulis, dipandu dengan cantik oleh Lia, sang penyiar RRI Pro 2 FM Jakarta.

Dalam kesempatan itu, hadir tokoh nasionalis H. Amin Aryoso, SH, didampingi putranya, Azis Aryoso. Dalam salah satu kesempatan dialog, H. Amin Aryoso bahkan menyampaikan informasi menarik seputar Bung Karno dan para wanita. Spontan informasi tadi disambar hadirin yang lain dengan mengusulkannya menjadi sebuah buku baru.

Membahas Bung Karno dan para wanitanya, tidak akan pernah kering. Dalam forum itu, Agus Salim, pentolan Insan Muda Indonesia bahkan mengemukakan informasi yang pernah diterimanya. Sebagai generasi belia, ia pernah mendapat informasi tentang “kenakalan” Bung Karno ihwal perempuan. “Saya pernah mendengar, kalau Bung Karno berpidato, dan tangannya sudah menunjuk ke satu arah beberapa kali, maka sang ajudan atau pengawal harus tanggap… itu artinya di lokasi yang ia tunjuk ada wanita yang ditaksir Bung Karno…,” ujar Agus Salim sambil terkekeh.

Saya, tidak dalam posisi membenarkan ataupun menyanggah. Dalam hati saya hanya berimajinasi, berorasi di atas podium sambil melirik ke kanan dan ke kiri –di balik kacamata hitam– mencari wanita untuk ditunjuk. Apa mungkin? Di sisi lain, Bung Karno terbukti banyak melakukan hal-hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Jadi? (roso daras)

Published in: on 13 Januari 2010 at 02:33  Comments (3)  
Tags: ,

Ini Buku Baru… Ini Baru Buku…

cover final

Sebelumnya, saya minta maaf, jika untuk waktu yang lumayan lama, Anda akan menjumpai cover buku ini terus…. Bukan maksud menghentikan posting naskah baru, tapi November ini adalah bulan promosi buku…. Ya, buku Bung Karno, Serpihan Sejarah yang Tercecer ini beredar mulai pertengahan November 2009.

Jadi ada baiknya… saya alokasikan waktu yang cukup lama, buat menampung segala komen, kritik, dan saran Anda atas buku ini. Segala koreksi positif dan kritik produktif Anda sekalian, pengunjung setia blog ini, akan kami jadikan landasan pijak guna memperbaiki serial buku selanjutnya.

Terima kasih….

Wassalam

Published in: on 4 November 2009 at 19:32  Comments (25)  
Tags: , , ,

Segera Terbit

cover final

Penerbit Etera Imania bekerja sama dengan Media Mulia segera meluncurkan buku berjudul “Bung Karno, The Other Stories, Serpihan Sejarah yang Tercecer”. Buku itu adalah jawaban atas saran dan permintaan pengunjung blog yang budiman, yang menghendaki agar konten blog ini dibukukan.

Buku seri pertama itu, berisi sedikitnya 30 judul pilihan. Agar menjadi lebih “layak”, penulis menambahkan sejumlah data dan narasi pada keseluruhan materi buku. Selain itu, buku ini juga berisi kata pengantar dari Dr Cornelis Lay, akademisi UGM Yogyakarta, yang pernah tercatat sebagai penasihat Presiden Megawati Soekarnoputri.

Selain pengantar “Conny”, tiga tokoh nasionalis ikut meng-endorse buku ini. Mereka adalah Abdul Madjid (mantan Sekjen PNI), Moch. Achadi (mantan Mentranskop Kabinet Dwikora), dan H. Amin Aryoso, SH (tokoh nasionalis Indonesia).

Buku ini rencana terbit akhir Oktober 2009. Event launching direncanakan awal November 2009. Mohon doa restu dan sambutan hangat Anda semua. (roso daras)

Published in: on 9 Oktober 2009 at 10:36  Comments (63)  
Tags: , ,

Pidato Terakhir Bung Karno

Buku Roso Daras

Ini tentang sebuah buku yang saya tulis tahun 2001, berjudul Aktualisasi Pidato Terakhir Bung Karno: Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah (Never Leave History!). Buku ini —believe it or not— saya tulis dalam kurun waktu kurang dari dua minggu, dan menjadi salah satu buku dari serangkaian buku Seri Pemikiran Bung Karno yang diterbitkan Grasindo (PT Gramedia Widiasarana Indonesia) dalam rangka memperingati 100 Tahun Proklamator kita.

Dalam buku ini, saya menafsirkan dan menginterpretasikan pidato Bung Karno pada peringatan 17 Agustus 1966, serta membandingkan dengan situasi aktual ketika itu. Moralnya hanya ingin menunjukkan bahwa dalam banyak hal, pemikiran dan penuturan Bung Karno bersifat everlasting… evergreen... tak lekang dimakan waktu. Banyak wejangan Bung Karno yang terbukti relevan dengan situasi dan kondisi saat ini, dan saya yakin, hingga ke masa depan. Satu hal yang membuat saya menilai Bung Karno adalah seorang futurolog yang baik.

Ihwal pidato 17 Agustus 1966 yang saya katakan sebagai pidato terakhir, dalam pengertian pidato kenegaraan yang begitu dinanti rakyat Indonesia setiap tanggal 17 Agustus. Sejarah telah mencatat, 17 Agustus 1967 dia sudah tidak lagi berkuasa, sehingga mulutnya terkunci, dan dunia tak lagi mendengar spirit progresif revolusioner dari seorang Putra Sang Fajar. Dunia tak lagi menyimak kecamannya atas hegemoni liberalisme dan kapitalisme.

Selain menafsir pidato yang sering disingkat orang dengan “Jas Merah” itu, saya juga melakukan riset kecil-kecilan terkait respons media massa pada zamannya. Beberapa kali saya masuk-keluar perpustakaan nasional, membolak-balik lembar demi lembar koran tua. Beberapa artikel dan berita, saya sertakan pada epilog buku agar pembaca maklum, bahwa tahun 1966, sejumlah media memang telah memposisikan Bung Karno pada satu sudut yang sulit. Ada semacam penggalangan opini yang begitu sistematis terkait peristiwa G-30-S/PKI, sehingga Bung Karno “dipaksa” harus menerima status sebagai pihak yang harus bertanggung jawab.

Di sini sebuah ironi tampak. Seorang Presiden yang hendak dikudeta, justru dituding “terlibat” (langsung atau tidak langsung) dengan kudeta itu sendiri. Nalar mana yang membenarkan seorang presiden mengkudeta dirinya sendiri?

Alhasil, “pesan terakhir” Bung Karno yang berjudul “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah”, saya resapi sebagai sebuah seruan yang harus terus digaungkan sepanjang zaman. Bangsa yang melupakan sejarah, akan dengan mudah tercerabut dari akar sejarah itu sendiri, dan menjadi bangsa antah berantah. Indonesia, saya katakan sebagai sebuah bangsa dan negara yang sedang dalam proses melupakan sejarah.

Entah diskenariokan atau tidak, amandemen terhadap UUD 1945 oleh MPR periode 1999 – 2004 yang mengubah sistem tatanan negara, sistem politik, dan sistem demokrasi¬† (50 + 1 boleh mambantai yang 49), telah mengakibatkan kita bukan lagi “Indonesia yang mengagungkan musyawarah gotong royong”. Perubahan pasal 33, mengakibatkan kita terjerumus pada ekonomi pasar bebas dalam keadaan kita masih teramat rapuh. Tidaklah heran jika sumber daya alam yang begitu melimpah, tak juga mampu mengangkat derajat dan kesejahteraan bangsa. Sebab, para komprador bangsa telah “menjual” Indonesia untuk kepentingan diri sendiri dan kelompoknya. (roso daras)