Indie Verloren Rampspoed Geboren

Sekitar tahun 1929, Partai Nasional Indonesia (PNI) berada pada puncak kejayaan. Setiap rapat-rapat kader, Bung Karno sendiri yang turun melakukan propaganda. Tak heran jika dari waktu ke waktu, pengikutnya semakin banyak saja. Kader PNI bukan saja kaum petani, kaum buruh, tetapi juga para pelacur dan pegawai pemerintahan Hindia Belanda.

Selain propaganda dalam bentuk rapat-rapat raksasa, sejumlah kader menerbitkan suratkabar. Salah satunya “Banteng Preangan” di Bandung. Koran ini sangat diminati masyarakat. Setiap hari menerbitkan tajuk-tajuk yang berisi propaganda, agitasi yang bertujuan membentuk opini publik tentang brengseknya aksi penjajahan, dan perlunya kita segera melepaskan diri dari belenggu kolonialisme Belanda.

Menuju Indonesia Merdeka, adalah topik utama gerakan PNI ketika itu. Rapat-rapat PNI, seperti 25 Agustus 1929 di Jakarta, dan 15 September 1929 di Bandung. Di kedua rapat umum tersebut, propaganda menuju Indonesia merdeka kian lantang disuarakan. Bersamaan dengan itu, para petuga intel pemerintahan penjajah, secara intens memberi masukan pula kepada aparat keamanan. Tidak heran jika dari hari ke hari, sikap pemerintah makin keras.

Mereka tidak saja memberi peringatan, tetapi juga aksi penggrebekan, penangkapan, termasuk surat-surat edaran bagi pegawai pemerintahan (yang sipil maupun militer dan kepolisian) agar tidak ikut-ikutan terjun ke politik. Harap dicatat, tidak sedikit bangsa kita yang bekerja di kantor-kantor pemerintahan Hindia Belanda. Di antara mereka, tidak sedikit pula yang menyokong penuh gerakan kemerdekaan Bung Karno dan kawan-kawan.

Nah, di antara tekanan yang makin keras itulah, Bung Karno terus saja melakukan gerakan. Bahkan makin berani. Seperti di Bandung 15 September 1929. Ia melancarkan propaganda tentang pengertian Persatuan Indonesia dan perjuangannya untuk mencapai Indonesia merdeka, lepas dari Belanda.

Dalam retorika yang heroik, Bung Karno menegaskan, pergerakan kebangsaan adalah serupa dengan mengalirnya sungai, dan bertaut dengan sungai-sungai lainnya. Dan dalam persatuan dan pemaduan sungai-sungai itu, akan merupakan aliran banjir yang dahsyat yang sangup mendobrak penghalang-penghalangnya, sehingga akhirnya banjir tadi mencapai lautan bebas.

Bung Karno manambahkan, pihak “sana” (Belanda, maksudnya…), sedang dalam keadaan menderita demam puyuh (koorts), karena mereka terlalu banyak makan karet kita, terlalu banyak minum minyak kita.

Pada kesempatan yang sama, Bung Karno juga mengingatkan tentang aksi licik pemerintah Belanda. Mereka membentuk dan memfasilitasi sejumlah kaum amtenar untuk membentuk organisasi tandingan. Seperti lahirnya Tolak Bahla Tawil Oemoer (TBTO). Dengan cara begitu, pihak “sana” hendak memperbodoh dan mengadu domba bangsa kita. Mereka mengadu domba, dan membayar “coro-coro” (kecoa) sebagai spion dan pengkhianat dengan tujuan menghancurkan PNI.

Atas aksi pihak “sana” itu, Bung Karno menyerukan kepada seluruh kader PNI, agar tetap waspada dan tidak putus asa. “Semangat banteng harus kita tunjukkan. Janganlah kita tidur menutup mata kita sebelum kita sembahyang dan mendoa, semoga Tuhan segera menurunkan penyakit pest terhadp binatang “coro” itu. Bila kita telah mencapai Indonesia merdeka, kaum kapitalis itu tidak akan memperoleh keuntungan lagi, dan akhirnya akan datang, ‘Indie verloren rampspoed geboren‘ (Indonesia Merdeka, bencana akan menimpa negeri Belanda).” (roso daras)

Published in: on 15 Januari 2011 at 02:47  Comments (5)  
Tags: , , ,