Merah Putih di Kapal Mikhail Kutuzov

BK di  Samarkand

Kunjungan Bung Karno di Uzbekistan, makin berarti dengan kesempatan melihat dari dekat Samarkand, salah satu kota kuno di Uzbek. Di Samarkand, Bung Karno dan rombongan dari Indonesia, menyaksikan dari dekat bangunan-bangunan kuno semacam candi yang sangat indah dan sarat kisah sejarah.

Masih menggunakan jalan darat, rombongan Bung Karno singgah di Asjhabad yaitu ibu kota Republik Turkmenia. Dari Turkmenia, perjalanan Bung Karno melanjutkan kunjungannya di Negeri Beruang Merah itu menyeberangi Laut Kaspia menuju semenanjung Apsjeron di mana Baku yaitu ibu kota Azerbaijan Soviet terletak.

Sewaktu perjalanannya ke kota Baku, Presiden Sukarno melihat tempat-tempat pengeboran minyak tanah. Pemerintahan setempat memperkenalkan diri dengan cara-cara baru bagaimana mereka memproduksi minyak tanah yang digunakan di Azerbaijan. Di paerik penyaringan minyak tanah Baku tamu agung disambung oleh kaum buruh dan ahli dari pabrik itu. Mereka minta Presiden Sukarno menyampaikan pengharapan mereka yang sebaik-baiknya kepada rakyat Indonesia.

Dalam pidato jawabannya Presiden Sukarno mengatakan bahwa di Indonesia juga ada banyak buruh minyak tanah. Mereka bekerja di Sumatera Tengah, Sumatera Selatan, dan Sumatera Utara. Juga di Jawa Timur, di Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur. Tak lupa Bung Karno pun berjanji menyampaikan salam persaudaraan dari kaum buruh minyak tanah Baku kepada mereka.

Sesudah Azerbaijan rombongan Presiden Sukarno mengunjungi Sukhumi, ibu kota Republik Otonom Abkhazia (suatu bagian daripada Georgia Soviet). Di pelabuhan Sukhumi mereka naik kapal penjelajah “Mikhail Kutuzov”. Bersamaan dengan itu bendera standar Presiden RI dikibarkan di atasnya. Kapal penjelajah itu dengan diiringi oleh dua kapal pelempar ranjau eskador berjajar di sepanjang pantai Laut Hitam Kaukasus menu Sotji yaitu suatu kota pesanggrahan.

Pada waktu itu di Sotji seperti juga di daerah-daerah lain di bagian Selatan dari UR2SS yang dikunjungi oleh tamu-tamu maka hawanya kebetulan sangat baik. Tanam-tanaman serta alam dari daerah subtropis Soviet itu memperkenangkan tamu-tamu tentang tanah air mereka – Indonesia. Para tamu mengunjungi beberapa sanatorium tempat beristirahat buruh batubara dan buruh perusahaan pembikinan kapal.

Dalam pidatonya di muka rapat raksas yang diadakan khusus untuk menyambut tamu-tamu Indonesia Presiden Sukarno mengatakan:

“Kalau bendera-bendera semua negeri yang progresif akan berkibaran bersama, dan semua negeri itu akan bekerjasama, pasti imperialisme dan kolonialisme itu jatuh dan semua bangsa di dunia dapat kemungkinan untuk penghidupan yang sejahtera dan bahagia.” (roso daras)

Sowan Pak Amin Aryoso

Amin Aryoso - Roso Daras 2014

Sudah lama tidak sowan sesepuh GMNI, Sukarnois, dan penggiat kembali ke UUD ’45 yang asli, Amin Aryoso. Dalam kesempatan silaturahmi di sore yang gerimis baru-baru ini, saya jumpai dia duduk di kursi roda. Dalam keadaan yang belum pulih dari sakit, Amin Aryoso tetap saja Amin Aryoso, yang selalu antusias jika disinggung soal Bung Karno, jika menyoal amandemen UUD ’45 yang kebablasan.

Meski terkendala komunikasi, sebisa-bisa saya berusaha untuk berdialog meski tidak lancar. Awalnya, saya menghadiahi dia dua buku Bung Karno yang saya tulis tahun 2013. Tampak di wajahnya, ia menyambut baik dan sangat berkenan. Sayang, lagi-lagi, dia tidak bisa mengutarakan perasaan hatinya.

Topik lain, adalah copy dokumen tentang notulen hasil rapat PPKI 8 Agustus 1945 yang membahas soal dasar negara (konstitusi). Dokumen itu didapat putra beliau, Azis Aryoso. Meski dalam bentuk foto-kopian yang tidak begitu jelas terbaca, tetapi Azis menjamin, petugas pengetik notulen itu masih hidup, dan bisa dimintakan konfirmasi, jika hendak menulis ulang notulensi tersebut.

Saya bicara dan bicara. Dan saya yakin, dia paham apa  yang saya bicarakan. Sejurus kemudian, dia menggerakkan tangannya seperti orang sedang menulis. Saya segera menangkap maksudnya. Di atas kertas, saya tuliskan apa-apa yang hendak saya lakukan dengan dokumen itu. Antara lain, menuliskan ulang suasana sidang PPKI ketika itu yang begitu dinamis. Melibatkan tokoh-tokoh pendiri bangsa, dalam perdebatan perumusan dasar negara (UUD 1945) yang sangat berbobot. Ada bahasan pasal demi pasal, ada adu argumen antar peserta rapat, dan sebagainya.

Bagi saya, Amin Aryoso adalah salah satu sesepuh, saksi sejarah, korban Orde Baru, sekaligus panutan dalam memaknai ajaran Bung Karno. Konsistensinya pada apa yang diyakininya, sangat mengagumkan. Bahkan, ketika mulut (akibat stroke) tak lagi mampu berkata-kata, dia masih begitu bersemangat. Tak pelak, Amin Aryoso adalah inspirasi untuk terus menggali dan mensyiarkan ajaran Bung Karno. (roso daras)

Published in: on 13 Januari 2014 at 09:01  Comments (1)  
Tags: , , , , ,

Doktor HC (26) Sukarno

Ah, judul apa pula itu!? Entahlah… selama belajar menulis pun saya tidak menemukan pembenaran atas penjudulan seperti itu. Tapi, biar sajalah. Yang penting adalah saya harus menjelaskan mengapa menuliskan judul seperti itu. Begini persoalannya… saya hanya ingin menderetkan 26 gelar doktor honoris causa yang diterima Bung Karno semasa hidupnya. Itu saja.

Masih ingin sebenarnya berpanjang-panjang kata mengantar postingan yang satu ini. Namun demi mengingat ada 26 alinea yang harus saya tulis setelah alinea ini, maka baiknya memang to the point saja. Nah, berikut urut-urutan gelar doktor yang diterima Presiden Sukarno, dan menjadikannya Presiden/Kepala Negara dengan gelar doktor terbanyak di atas jagat raya ini.

1. Tanggal 30 Januari 1951, Doktor HC dalam Ilmu Hukum dari Far Eastern University, Manila, Filipina.

2. Tanggal 19 September 1951, Doktor HC dalam Ilmu Hukum dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia.

3. Tanggal 24 Mei 1956, Doktor HC dalam Ilmu Hukum dari Columbia University, New York, Amerika Serikat.

4. Tanggal 27 Mei 1956, Doktor HC dalam Ilmu Hukum dari Michigan University, Michigan, Amerika Serikat.

5. Tanggal 8 Juni 1956, Doktor HC dalam Ilmu Hukum dari McGill University, Montreal, Kanada.

6. Tanggal 23 Juni 1956, Doktor HC dalam Ilmu Tekhnik dari Berlin University, West Berlin, Jerman Barat

7.  Tanggal 11 September 1956, Doktor HC dalam Ilmu Hukum dari Lomonosov University, Moskow, USSR (Uni Soviet)

8. Tanggal 13 September 1956, Doktor HC dalam Ilmu Hukum dari Beograd University, Belgrado, Yugoslavia

9. Tanggal 23 September 1956, Doktor HC dalam Ilmu Hukum dari Karlova University, Praha, Cekoslovakia

10. Tanggal 27 April 1959, Doktor HC dalam Ilmu Hukum dari  Istanbul University, Istanbul, Turki

11. Tanggal 30 April 1959, Doktor HC dalam Ilmu Hukum dari Warsaw University, Warsawa, Polandia

12. Tanggal 20 Mei 1959, Doktor HC dalam Ilmu Hukum dari Brazil University, Rio de Jeneiro, Brazilia

13. Tanggal 11 April 1960, Doktor HC dalam Ilmu Politik dari Sofia University, Sogia, Bulgaria

14. Tanggal 13 April 1960, Doktor HC dalam Ilmu Politik dari Bucharest University, Bucharest, Rumania

15. Tanggal 17 April 1960, Doktor HC dalam Ilmu Mesin dari Budapest University, Budapest, Hungaria

16. Tanggal 24 April 1960, Doktor HC dalam Ilmu Filsafat dari Al-Azhar University, Kairo, Mesir

17. Tanggal 5 Mei 1960, Doktor HC dalam Ilmu Sosial dan Politik dari La Paz University, La Paz, Bolivia

18. Tanggal 13 September 1962, Doktor HC dalam Ilmu Tekhnik dari Institut Teknologi Bandung, Bandung, Indonesia

19. Tanggal 2 Februari 1963, Doktor HC dalam Ilmu-ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan dari Universitas Indonesia, Jakarta, Indonesia

20. Tanggal 29 April 1963, Doktor HC dalam Ilmu-ilmu Pengetahuan Hukum, Politik dan Hubungan-hubungan Internasional dari Universitas Hasanuddin, Makassar, Indonesia.

21. Tanggal 14 Januari 1964, Doktor HC dalam Ilmu Hukum & Politik dari Royal Khmere University, Phnom Penh, Kamboja

22. Tanggal 2 Agustus 1964, Doktor HC dalam Ilmu Hukum dari University of the Phillipines, Manila, Filipina

23. Tanggal 3 November 1964, Doktor HC dalam Ilmu Pengetahuan Politik dari Universitas Pyongyang, Pyongyang, Korea Utara

24. Tanggal 2 Desember 1964, Doktor HC dalam Ilmu Ushuluddin Jurusan Dakwah dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN), Jakarta, Indonesia.

25. Tanggal 23 Desember 1964, Doktor HC dalam Ilmu Sajarah dari Universitas Padjadjaran, Bandung, Indonesia

26. Tanggal 3 Agustus 1965, Doktor HC dalam Ilmu Filsafat Ilmu Tauhid dari Universita Muhammadiyah, Jakarta, Indonesia.

Nah, selesailah sudah saya tuliskan ke-26 gelar doktor honoris causa yang diterima Bung Karno sepanjang hidupnya. Dan saya teringat sikap saya setiap mengucap kata Bung Karno, “puja dan puji tidak akan menambah besar nama Sukarno. Caci dan maki tidak akan mengecilkan nama Sukarno”. Itu saja. (roso daras)

Published in: on 2 November 2010 at 16:23  Comments (3)  
Tags: ,