Bung Karno Diasingkan ke Ende

FLores, atau disebut Pulau Bunga adalah daerah antah-berantah saat Bung Karno dibuang di sana, 1934 – 1938. Sebagai seorang interniran, tidak ada yang tahu ihwal berapa lama ia dibuang, apakah akan menemui ajal di sana atau bisa bertahan hidup….

Toh, Bung Karno tetap berusaha hidup dengan caranya. Ia berkawan dengan rakyat jelata. Ia membuat kelompok tonil (sandiwara) bernama Kelimutu. Ia juga sering melancong sekadar melepas himpitan sehari-hari sebagai seorang buangan, yang hidupnya dalam pengawasan polisi Belanda.

Balada Arif, Sopir Taksi Langganan Bung Karno

Tersebutlah seseorang bernama Arif. Ia adalah sopir taksi yang mangkal di stasiun Gambir pada masa-masa pemerintahan Hindia Belanda. Sopir inilah yang kemudian menjadi sopir langganan Bung Karno setiap ke Jakarta, untuk mengadakan rapat-rapat penting dengan MH Thamrin dan tokoh-tokoh pergerakan lain.

Sarinah, Perempuan Istimewa Bung Karno

Sosok Sarinah, menjadi sosok yang penting dalam kehidupan Bung Karno. Tidak sekadar sosok pembantu rumah tangga, Sarinah oleh Sukarno digambarkan sebagai sosok perempuan yang mengajarkan cinta kasih kepada sesama. Begitu berharganya sosok Sarinah, sampai-sampai Sukarno mengabadikannya dalam nama gedung, judul buku, dan peninggalan-peninggalan bersejarah lain.

Published in: on 27 September 2021 at 01:12  Tinggalkan sebuah Komentar  

Hikayat Kelahiran Sukarno

Bung Karno dalam autobiografinya menyebutkan, kelahirannya disambut letusan Gunung Kelud. Kehadirannya di dunia yang fana ini, juga bertepatan dengan terbitnya matahari. Saat kecil sakit-sakitan, sehingga orang tuanya mengganti nama aslinya (Kusno) menjadi Sukarno.

Jejak-jejak Cinta Monyet Bung Karno

Bung Karno, sosok presiden flamboyan yang dicintai banyak wanita. Fenomena itu ternyata sudah tampak sejak dia remaja. Usia 14 tahun, bahkan dia sudah memacari Rika Melhuyssen. Bahkan Bung Karno mencatat, Rika-lah wanita pertama yang diciumnya.

Cerita Mistis Tongkat dan Peci Bung Karno

Ada banyak sekali kisah menarik seputar tongkat komando dan peci yang dikenakan Bung Karno. Sebagian kisah berkisar seputar nilai magis atau bahkan mistis yang sulit dinalar. Tongkat komando dan peci adalah dua properti penting pada setiap penampilan Presiden Pertama Indonesia itu di depan publik.

Bung Karno dan Guling Favoritnya

Tradisi tidur sambil memeluk guling, ternyata menjadi ciri atau kebiasaan rakyat Indonesia. Oleh Bung Karno, topik Guling bahkan dibahas khusus dengan penulis autobiografinya, Cindy Adams. Bagaimana asal-usul lahirnya guling? Mengapa bangsa kita sangat gemar memeluk guling saat tidur? Simak video ini.

Tiga Srikandi Sukarno

Megawati, Rachmawati, dan Sukmawati adalah “tiga srikandi” Bung Karno. Sejak kecil, mereka memiliki kemiripan dalam berdandan. Rambut diikat dan dikepang dua, blus yang sewarna, dan senantiasa tampil charming. Ketiganya juga pandai menari. Dalam beberapa hal, ketiganya juga mewarisi gen sang bapak.

Ketika Bung Karno Usil ke Bung Hatta

Ada begitu banyak sisi lain seorang Proklamator Bung Karno. Salah satunya adalah sisi ke-usil-an dia, baik ketika masih anak-anak, remaja, dewasa, bahkan hingga hari-hari akhirnya. Siapa saja bisa kena sasaran keusilan Bung Karno. Tak terkecuali Bung Hatta.

Mencuri Mobil untuk Bung Karno

Pernahkan Anda bayangkan, seorang presiden tidak punya mobil? Dialah Sukarno, presiden pertama kita.

Lalu, muncul sosok relawan-pejuang bernama Sudiro. Ia adalah salah satu anggota “pasukan berani mati” yang berinisiatif mencarikan mobil untuk presidennya.

Berbekal semangat membara, ia pun mendatangi mobil terbaik di zamannya, milik orang Jepang yang menjabat Kepala Jawatan Kereta Api.

Sudiro dan kawan-kawan kemudian meminta paksa kunci mobil itu kepada si sopir yang notabene orang pribumi. Sempat bengong si sopir. Ia baru paham, ketika Sudiro mengatakan, “Serahkan kunci mobil itu. Mobil itu saya ambil untuk dipakai Bung Karno, presidenmu.”