Fidel, Kawanku yang Baik…

roso-daras-di-cnn-indonesia

Stasiun televisi CNN Indonesia, mengupas kematian Fidel Castro, 26 November 2016 lalu. Sehari kemudian, saya diundang sebagai narasumber tamu pada acara World Now. Tidak seperti yang saya bayangkan semula, bahwa topik yang dibawakan host Amelia ternyata sangat-sangat serius. Lengkapnya bisa dilihat di link berikut: http://www.cnnindonesia.com/tv/20161127135449-401-175632/mengulas-hubungan-fidel-castro-dengan-indonesia/

Sementara, saya berangkat dengan bayangan semula, bahwa CNN Indonesia mengundang saya untuk bicara hal-hal human-interest terkait Sukarno dan Fidel Castro, atau sebaliknya. Sehingga, beberapa cerita menarik seputar keduanya, sudah saya persiapkan untuk pemirsa CNN Indonesia. Apa lacur, topik yang bergulir menjadi serius, pada akhirnya saya sadari, bahwa itulah ciri CNN Indonesia, atau lebih khusus lagi, itulah ciri acara World Now.

Alhasil, kisah-kisah unik yang terjadi saat Bung Karno berkunjung ke Kuba tahun 1960, tidak muncul. Kisah-kisah seputar pemberian keris pusaka oleh Bung Karno kepada Castro, tidak juga muncul. Bahkan, surat Bung Karno kepada Fidel, yang diawali dengan kalimat, “Kawanku Fidel yang Baik”, juga tak terkuak di acara itu.

Terkait surat Bung Karno yang dibawa Dubes AM Hanafi, sejatinya sangat menarik. Sebab, bisa dibilang, itulah surat terakhir Bung Karno kepada Castro tahun 1966. Castro yang mendengar berita simpang siur mengenai situasi politik Indonesia, sempat kebingungan. Bahkan, ketika ia mendengar, Sukarno di ujung tanduk, Castro serta merta menawarkan Kuba sebagai rumah kedua Bung Karno.

Akan tetapi, Bung Karno menolak. Ia bahkan menjawab, kondisinya baik-baik saja. ***

roso-daras-di-cnn-indonesia-2

Published in: on 6 Desember 2016 at 08:40  Comments (1)  
Tags: , , , ,

Rumah dengan Papan Nama “Ratna Sari Dewi Soekarno”

JpegCukup lama saya berdiri di depan rumah Dewi Soekarno di Shibuya – Tokyo. Saya suka model rumah ini. Sebagai seorang arsitek, kukira Bung Karno pun akan suka. Rumah-rumah di sekeliling, tampak beda.

Masyarakat Jepang, termasuk masyarakat yang sangat menjunjung tinggi akar budaya dan tradisi. Nyaris di semua bidang. Termasuk dalam hal rumah. Mereka menyukai elemen alam, termasuk bahan dan pewarnaannya. Hanya saja, rumah-rumah mewah yang ada di Shibuya, memang umumnya menampilkan kesan modern. Kalau toh ada yang khas, adalah pada konsep minimalis.

Nah, di depan saya, adalah rumah “Warga Negara Indonesia” kelahiran Jepang. Nama Naoko Nemoto diganti oleh Bung Karno menjadi Ratna Sari Dewi. Agama shinto yang dianut, ditinggal dan berpindah ke Islam. Itu terjadi awal tahun 60-an saat Bung Karno memperistrinya.

Kembali ke rumah berbatu-bata merah yang ada di depan. Apa boleh buat, saya tidak bisa lebih lama lagi menikmati dari luar. Pertama, kedatangan saya ke rumah ini, sejatinya terlambat lebih dari 30 menit dari yang dijadwalkan oleh Ms Saito, sekretaris Dewi Soekarno. Kedua, udara di luar sangat dingin untuk ukuran orang Indonesia (di awal November 2016, sore itu suhu stabil di 12 – 13 derajat Celcius).

JpegSaya menyeberangi jalan, berdiri di depan pagar besi rendah, hanya lebiih tinggi sedikit dari lutut saya. Selagi saya mencari-cari letak bel untuk saya pencet, keluarlah Ms Saito. Cukup dengan saya menyebut nama, dia sudah tahu. Saya pun dipersilakan masuk. Pintu di buka, ada tangga dalam rumah membentang ke atas. Saito meminta saya melepas sepatu, dan memberinya  sandal-dalam-rumah yang lembut.

Baru saja sepatu lepas, Saito turun tergopoh, dan menyuruhku memakainya lagi. Dalam bahasa Jepang yang kuterjemahkan secara ngawur, kurang lebih dia mengajak keluar rumah, dan masuk dari sisi rumah yang lain. Rupanya, saya masuk dari bagian rumah yang dijadikannya kantor Dewi.

Benar. Saito mengiringkanku keluar rumah, memutar ke arah kanan, hingga tiba di satu sisi rumah utama. Apakah ada teras, sehingga bisa saya simpulkan itu sisi utama rumah Dewi? Tidak. Setidaknya saya melewati garasi yang tertutup rolling door, dan di tembok dekat pintu masuk, tertera papan nama tertempel paten di tembok batu-bata merah. Papan nama “RATNA SARI DEWI SOEKARNO”.

JpegPapan nama itu, jelas “Indonesia banget”. Hanya di rumah-rumah Indonesia saja, di tembok luar tertera nama sang pemilik. Dan menariknya, Dewi tidak menuliskan namanya dalam huruf kanji.

Di sebelah papan nama, terletak tombol bel dan celah tembok. Di sebelah lagi, barulah pintu besi tempa warna hitam bermotif. Di atas, saya lihat sebuah CCTV. Dekat undakan tangga ke atas, tumbuh tanaman hias yang sejuk di mata. Sampai depan teras rumah, kembali saya melepas sepatu dan berganti sandal-dalam-rumah.

Saya diiringkan ke ruang tamu. Di situ saya menunggu Dewi muncul dari pintu. (roso daras)

Jpeg

Beda Inggit dengan Wanita Eropa

inggit-levasseur-christiane-crecence

S.I. Poeradisastra seorang penulis hebat lagi produktif. Dalam buku “Kuantar ke Gerbang – Kisah Cinta Ibu Inggit dengan Bung Karno” tulisan Ramadhan KH, ia memberi kata pengantar yang sungguh menarik. Bukan saja karena gaya bertuturnya yang enak dibaca, lebih dari itu, penulis yang acap menggunakan nickname Boejoeng Saleh ini, menunjukkan kekayaan literasi yang dimilikinya, sebagai bumbu-penyedap.

Di salah satu bagian, ia menyandingkan sosok Inggit dengan tiga orang perempuan “biasa”, sebagai pendamping orang besar. Pertama ia sebut nama Marie Therese le Vasseur (1721-1801). Ia adalah istri Jean Jacqus Rousseau, seorang filsuf, penulis, sekaligus komposer besar kelahiran Genewa, Swiss (1712), dan meninggal dunia di Perancis (1778).

Kedua, Inggit disandingkan dengan “wanita biasa” pendamping orang besar lain, yaitu Christiane Vulpius (1765 – 1816). Ia adalah istri dari Johan Wolfgang von Goethe, pujangga besar bangsa Jerman (1749 – 1832).

Terakhir, Inggit diumpamakan Crecence Eugenie Mirat ( 1815 – 1883), istri Heinrich Heine, sastrawan, jurnalis, dan esais handal yang lahir di Dusseldorf, Jerman (1797) dan wafat di Perancis (1856).

Inggit yang notabene tidak berpendidikan (konon hanya pernah belajar di madrasah), tetapi ia belajar banyak dari apinya perjuangan bangsa. Sekalipun bukan keturunan bangsawan, tetapi budi-pekertinya sangat luhur.

Upaya menyandingkan Inggit dengan tiga wanita asing pendamping tokoh-tokoh dunia tadi, sesungguhnya tidaklah terlalu tepat. Bukan saja karena besarnya perbedaan kultur, lebih dari itu, ketiga tokoh wanita Eropa tadi, memang berbeda dengan Inggit. Berbeda asal-usulnya, berbeda kadar perjuangannya, dan berbeda pula ending-story-nya.

Marie Thérèse Le Vasseur misalnya, dia adalah keturunan pejabat di Orleans, sementara ibunya adalah seorang pedagang. Ia “ditemukan” Rousseau sebagai pekerja tukang cuci dan pelayan di Hotel Saint-Quentin, di Rue des Cordiers, Jenewa sebagai wanita matang berusia 24 tahun. Rousseau sendiri 33 tahun. Pernikahan mereka dikaruniai lima orang anak.

Le Vasseur juga mewarisi harta suaminya, termasuk naskah dan royalti. Bahkan, setelah kematian Rousseau tahun 1778 , ia menikah dengan lelaki lain, Jean Henri Bally, setahun kemudian. Mereka tinggal bersama di Le Plessis – Belleville sampai kematiannya pada 1801. Jauh benar kisah le Vasseur dengan Inggit, bukan?Akan halnya Christiane Vulpius (1765 – 1816). Christiane Vulpius tak terlacak jejak pendidikannya. Sejumlah literatur hanya menyebutkan, bahwa setidaknya dia belajar membaca dan menulis. Ia pernah menjadi pekerja pabrik yang memproduksi topi.Meski begitu, saudara laki-lakinya tergolong orang berpendidikan pada masanya.Pada12 Juli 1788ChristianeVulpius bertemuJohannWolfgangvonGoethe, yang merupakan sahabat kakaknya. Mereka menjalin hubungan rahasia selama delapan tahun! Baru padamusim semi1789,mereka tidak lagi menyembunyikan hubungannya. Goethe yang radikal bahkan rela menabrak norma-norma sosial dengan kumpul-kebo hingga beranak pinak. Mereka sedikitnya melahirkan empat orang anak (dua meninggal cepat). Sejak bertemu dan berselingkuh tahun 1788, mereka baru meresmikan pernikahannya 18 tahun kemudian, tepatnya19 Oktober 1806.

Kesamaan apa yang ada pada diri Christiane dengan Inggit? Jauh pula kiranya.

Nah, bagaimana dengan pengumpamaan Inggit dengan Crecence Eugenie Mirat (1815-1883) istri Heinrich Heine yang masyhur itu? Heine yang menjumpainya tahun 1934, saat Eugenie berusia 19 tahun itu, awalnya sangat tidak tertarik. Wanita yang juga akrab dipanggil “Mathilde” itu di mata Heine sebagai wanita “rendah” lantaran tidak bisa baca-tulis, tidak berkelas. Intinya, Heine tidak punya ketertarikan secara bidaya maupun intelektual terhadap Mathilde.

Tak digambarkan secara rinci bagaimana akhirnya Heine mengajak hidup bersama Mathilde pada tahun 1836, dua tahun sejak pertemuan pertamanya. Keduanya baru melangsungkan pernikahan pada tahun 1841, dan hidup bersama hingga maut memisahkan keduanya. (roso daras)

Sukarno Kecil “Mabok Bima”

bimaPenulis biografi pertama Bung Karno yang terbit tahun 1933, Im Yang Tjoe, dalam bukunya “Soekarno Sebagi Manusia”, benar-benar berusaha keras merekonstruksi masa kecil Bung Karno. Meski tidak menyebut tonggak-tonggak waktu, tanggal, bulan, tahun, tetapi bagi pembaca, kiranya tidak terlalu menyulitkan.

Seperti misalnya, ketika Im Yang Tjoe menulis ihwal kakeknya, Raden Hardjodikromo yang menyekolahkan Sukarno saat usia 6 tahun, spontan kita bisa mahfum, bahwa peristiwa itu terjadi tahun 1907, mengingat Bung Karno lahir tahun 1901. Adalah sekolah desa di Tulungagung, tempat Sukarno kecil untuk pertama kali “memakan-bangku-sekolah”.

Im Yang Tjoe melukiskan hari-hari pertama sebagai murid, Sukarno adalah murid yang bodoh lagi bengal. Apa soal? Soal sebenarnya, menurut hemat penulis, bukan karena otak Sukarno tidak encer. Lebih karena Sukarno lagi “mabok-bima”…. Ya, hari-hari bersama Wagiman, selalu diisi kisah-kisah heroik tokoh Bima dalam epos Mahabharata.

Siapa Wagiman? Wagiman adalah seorang perangkat desa yang miskin harta tetapi kaya hati. Ia menjadi sahabat Sukarno kecil. Pulang sekolah, Sukarno akan mencari Wagiman. Kalau tidak dijumpainya di rumah, Sukarno akan menyusulnya ke sawah. Jika keduanya sudah bertemu, obrolan mereka umumnya wayang. Dari sekian banyak tokoh wayang, Sukarno paling tertarik dengan tokoh Bima, sang penegak Pandawa.

Meski begitu, sesekali, Sukarno melemparkan pertanyaan-pertanyaan yang “terlalu-tua” untuk bocah seusianya. Misalnya, pertanyaan, “Mengapa engkau begitu miskin?” Dengan penuturan versi Wagiman, Sukarno kemudian bisa merekonsruksinya menjadi sebuah pelajaran berharga tentang betapa penjajahan tak lebih dari pemelaratan rakyat.

Tentu saja, topik-topik filosofi wayang, ilmu politik, ilmu tata-negara, tidak didapatnya di bangku sekolah desa tempat ia bersekolah. Bukan karena cabang-cabang ilmu tidak ada, melainkan, materi itu memang bukan materi pelajaran bagi siswa sekolah dasar tingkat dewa. Di negeri jajahan pula. Terhadap murid-murid inlander pula. Bisa jadi, ini yang membuat Sukarno menjadi murid yang malas untuk menyimak pelajaran di sekolah. Ia lebih senang menggambar wayang, sambil imajinasinya mengembara kemana-mana.

Mungkin saja, ia sedang berimajinasi menjadi seorang Bima yang kemudian dengan gagah-berani menghapus keangkara-murkaan di atas bumi. Mungkin saja ia sedang membayangkan menjelma menjadi Bima, kemudian memakmurkan orang-orang miskin di negaranya. Bisa jadi, ia sedang berkhayal menjadi seorang Bima menjadi panglima bagi tegaknya kebenaran dan keadilan di jagat-raya. Ah, entahlah.

Yang pasti, ketika guru menyuruh murid-murid menirukan gerakan menulis huruf demi huruf, Sukarno malah menggambar profil wayang Bima yang gagah, dengan gelung sinupiturang, lengkap dengan kuku pancanakanya. Ya, Sukarno bukannya memperhatikan pelajaran guru, melainkan menggambar wayang Bima! (roso daras)

Lokat Kembang Hinis Jati buat Inggit

inggit-roso darasBermula dari sebuah “tag” di akun FB, ihwal pameran foto dan artefak Inggit Garnasih di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, saya tergerak untuk menyaksikannya. Selasa sore, 24 Februari 2015, saya meluncur ke Kota Kembang. Percayalah, gedung Indonesia Menggugat, relatif tidak asing buat saya, tetapi “Ini Bandung Bung!”…. Artinya, tetap saja tidak bisa mencapainya tanpa bertanya.

Kalau saja saya gunakan aplikasi waze, mungkin lebih mudah, toh saya memilih cara yang lebih sulit. Secara manual saya bertanya arah… Dari empat kali bertanya, saya acak, memilih dari anak muda, hingga yang kisaran umur 50-an. Jangan ditanya, mengapa untuk bertanya saja saya memilah usia? Saya sudah katakan, “memilih cara yang lebih sulit?”

Kepada sekelompok anak muda di depan BIP saya bertanya, “Maaf dik, boleh saya bertanya? Arah mana menuju Gedung Indonesia Menggugat?” Saya perhatikan ekspresi dan responsnya. Ternyata mereka hanya saling pandang, gagap. Saya timpali dengan pertanyaan kedua, “Itu lho, gedung bersejarah tempat Bung Karno dulu diadili Belanda….” Saya nantikan responsnya, …. Blank!!!

Sejatinya, peristiwa itu tidak berarti apa-apa, jika kita melihatnya dalam konteks, bahwa Gedung Indonesia Menggugat bukan tempat yang asyik buat dikunjungi. Bahwa Gedung Indonesia Menggugat tidak semenarik mal atau tempat kongkow lain. Bahwa Gedung Indonesia Menggugat, kurang penting. Bahwa saya prihatin, iya!

Nah, karena memilih cara sulit itulah, saya tiba di lokasi terlambat 30 menit. Meski begitu, saya masih kebagian prosesi pembukaan acara. Kesimpulannya, belum telat-telat amat…..

Bukan pejabat, bukan kerabat Inggit, bukan juga tokoh masyarakat… melainkan empat orang Marhaen yang diberi kehormatan panitia untuk menggunting seutas-tali-berpita-merah-putih-di-tengah, tanda diresmikannya pameran foto dan artefak Inggit Garnasih. Mereka adalah Achmad (juru pelihara penjara Banceuy), Akhmad (juru pelihara Gedung Indonesia Menggugat), Jajang (juru pelihara rumah bersejarah Inggit), dan Oneng (juru pelihara makam Inggit).

Tali digunting sudah. Dua daun pintu besar peninggalan Belanda itu pun dikuak…. Gelap… berasap… beraroma dupa. Memasuki ruang tengah, tampak sebuah ritual tengah digelar. Dari Budi Gunawan, salah satu personel panitia saya beroleh gambaran tentang ritual yang tengah digelar itu.

pembukaan pameran inggit

“Lokat Kembang Hinis Jati”, adalah tagline ritual magis tersebut. Budi menggambarkan, bahwa ritual ini merupakan persembahan kepada Ibu Inggit Garnasih. Persembahan sekaligus ungkapan rasa bangga tiada tara kepada sosok perempuan yang sangat tajam melihat masa depan bangsanya. Selain itu, ritual ini juga sebagai penghargaan atas keteguhannya menghadapi berbagai rintangan. Bahkan Inggit begitu kuat serta berani berkorban menghadapi segala tantangan demi Indonesia merdeka.

“Kembang” dimaknai sebagai perjuangan Inggit yang tetap mewangi, menghampar di persada bangsa untuk selamanya. “Hinis” adalah pengibaratan ketajaman intuisi Inggit Garnasih seperti tajamnya (hinis) bambu. Sejarah hidup dan kehidupannya telah menunjukkan ketajaman batin melihat Indonesia jauh ke depan.”Jati” adalah pohon yang kuat sekaligus kokoh. Ini adalah perlambang bagi seorang Inggit yang kuat dan kokoh menghadapi segala macam cobaan dan ujian dalam hidup.

Tampak, sembilan orang (satu perempuan) duduk melingkar. Di tengah, seorang penari cantik bersimpuh di hamparan bunga-bunga. Kesepuluh pelaku ritual itu adalah Neneng S Dinar, Ki Ustad Ridwan CH, Bah Enjum, Neneng R Dinar, Doni Satia Eka, Deni Rahmat, Bah Nanu, Neng Enok, Asep Gunawan, dan Gunadi.

Mereka membakar dupa…. tiupan suling menyayat-nyayat hati… ditingkah tembang Sunda yang melantun-mendayu…. Sejurus kemudian, sang penari memupus diam, dan melenggangkan gerakan pelan penuh penghayatan. Di sudut sana, meningkahi dengan mantram, doa, dan cucuran kata-kata puisi bermuatan kritik-sosial.

ritual inggit

Tak lebih 30 menit, ritual pun usai. Byarrrr lampu menyala…. Pelaku ritual menepi, dan panitia menyilakan hadirin untuk melihat-lihat materi pameran.

tito-roso-inggit-okAlhamdulillah saya bisa hadir di acara itu. Terlebih, saya bisa bersilaturahmi dengah “saudara” Tito Asmarahadi, cucu mendiang Inggit, putra pasangan Ratna Djuami – Asmarahadi. Tentunya berkat kata-kata “setuju” dari Tito-lah pameran ini tergelar.

Tito pula yang mengizinkan sejumlah artefak seperti alat membuat jamu yang digunakan Inggit, dipamerkan dalam kesempatan itu. Bukan hanya itu, Tito juga mengizinkan meja belajar Bung Karno semasa kuliah di THS dipamerkan juga. “Masih ada artefak lain, tapi karena soal teknis, belum bisa dipamerkan semua,” ujar Tito.

Akhirnya, saya bersyukur bisa berada di tengah komunitas pecinta Inggit Garnasih, dus… pecinta Bung Karno juga. (roso daras)

Yang Lain Kuncung, Sukarno Gundul

Rumah R Hardjodikromo TulungagungKediaman kakek Bung Karno, Raden Hardjodikromo di Kepatihan, Tulungagung.

Apa masih ingat potongan rambut striker Brazil, Ronaldo di Piala Dunia Korea-Jepang tahun 2002? Rambut potongan kuncung. Modelnya ada sejumput rambut di atas jidat, sementara bagian lainnya gundul. Itulah potongan rambut anak-anak (khususnya di Jawa) zaman dulu. Hampir semua anak laki-laki memakai potongan rambut model itu.

Apa hubungan rambut kuncung dengan Sukarno kecil? Tidak ada. Justru karena Sukarno kecil –mungkin– menjadi satu-satunya anak laki-laki pada zamannya, yang tidak berambut kuncung. Kakeknya. Raden Hardjodikromo, mencukur gundul. Jadilah ia anak yang “berbeda” dari kebanyakan teman bermainnya.

Ya, Sukarno kecil hidup bersama kakek-neneknya di Tulungagung, Jawa Timur. Bersama mereka, Sukarno hidup sehat, trengginas, kuat, dan menjadi boss bagi teman-teman sebaya (bahkan teman yang lebih besar darinya). Berbeda dengan ketika ia tinggal di Surabaya bersama bapak-ibunya. Sakit-sakitan. Kurus. Pucat-pasi.

Alhasil, Tulungagung menjadi bumi yang dipercaya Tuhan untuk melindunginya dari segala jenis penyakit. Tulungagung, seperti halnya sang kakek, ikut memanjakan Sukarno kecil. Bahkan, terkesan membiarkan saja, ketika Sukarno menjadi bocah kecil yang ugal-ugalan.

Dalam setiap bermain, Sukarno memang paling “bengal”. Ia paling berani. Jika yang lain memanjat pohon pada dahan yang rendah, tidak Sukarno. Ia akan memanjat hingga dahan yang paling tinggi. Ya, tentu saja setinggi pohon yang bisa dipanjat oleh anak usia tiga tahunan.

Singkatnya, Sukarno segera saja terkenal di desa yang sekarang disebut Desa Kepatihan atau Desa Bago. Desa Kepatihan dan Desa Bago adalah dua desa yang saat ini secara administratif merupakan dua desa yang berbeda, termasuk wilayah Kecamatan Tulungagung. Letak keduanya berdampingan searah barat-timur. Itu Kepatihan/Bago yang sekarang.

Kepatihan/Bago tahun 1904, tentu berbeda keadaannya. Kita hanya bisa berimajinasi tentang sebuah desa yang rimbun dengan sedikit rumah, sedikit anak-anak, sedikit aktivitas. Dalam masa-situasi seperti itulah Sukarno tumbuh menjadi anak yang paling kesohor.

Menurut penuturan penulis buku “Sukarno Sebagi Manusia” (sebagi = sebagai), Im Yang Tjoe, teman-teman bermainnya selalu tunduk dan patuh atas perintah Sukarno. Ia melukiskannya, bukan ketakutan yang berkonotasi inferior, melainkan lebih kepada sikap patuh karena mengagumi.

Beda lagi anggapan sang kakek, Raden Hardjodikromo. Lelaki alim yang disegani seluruh penduduk Kepatihan/Bago itu, sudah mengetahui, Sukarno memiliki sorot mata seperti mata kucing candramawa, tajam-menyala, sekaligus mampu menyihir siapa pun yang ditatap, menjadi berada di bawah pengaruhnya. Pendeknya, Hardjodikromo yang notabene masih keturunan Sultan Hamengku Buwono II itu yakin betul, Sukarno “bukan anak biasa”.

Tentang mata Sukarno, suatu hari, sang kakek pernah mengungkapkannya langsung kepada sang cucu, “Matamu seperti mata kucing candramawa….”

Sukarno kontan menyergah, “Bukan, aku Bima!” Berkata begitu sambil membusungkan dada, menegakkan badan, membesar-besarkan postur tubuhnya yang masih kecil itu. Keruan saja, sang kakek pun tertawa terpingkal-pingkal.

Tokoh Bima memang menjadi idola Sukarno sejak kecil. Tak heran jika kelak, ketika usianya menginjak 15, dan menjadi siswa HBS di Surabaya, ia memakai nama itu dalam setiap artikel yang ditulisnya. Tokoh Bima, mematrikan sebuah watak menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan.

Kebedaan Sukarno pun tampak dari kesukaannya menonton pakeliran wayang kulit purwa. Jika anak-anak sebaya sudah terkantuk-kantuk sebelum malam berada di pucuknya, maka Sukarno betah melek hingga pagelaran wayang usai di subuh hari. (roso daras)

Published in: on 21 Februari 2015 at 08:44  Comments (3)  
Tags: , , ,

Idayu Nyoman Rai Srimben, Sang Pusaka

BK sungkem ibunda

Ida Ayu Nyoman Rai Srimben… nama yang begitu diagungkan oleh seorang Sukarno. Ia adalah seorang ibu yang telah menumpahkan seluruh restu bagi perjuangan anaknya.Seorang ibu yang memangkunya di saat fajar menyingsing, seraya memeluk dan membisikkan kata, “Jangan lupa nak… engkau adalah Putra Sang Fajar”.

Tak pernah Bung Karno lupakan, momentum pagi hari sebelum keberangkatannya ke Surabaya, untuk melanjutkan sekolah di HBS. “Rebahlah nak… rebahlah di tanah…,” perintah sang ibu. Tanpa bertanya, apalagi memprotes, Sukarno kecil pun segera rebah di tanah menghadap langit semesta. Sang bunda segera melangkahi tubuh kecil Sukarno hingga tiga kali bilangannya. Itulah bentuk seluruh restu yang ia tumpahkan bagi sang putra.

Bung Karno sadar… Idayu Nyoman Rai Srimben tidak kalah sadar… sejak itu, mereka harus “berpisah”. Sejarah pun kemudian mencatat, Bung Karno sekolah di Surabaya, menumpang dan digembleng oleh HOS Cokroaminoto. Perjalanan selanjutnya adalah Bandung untuk menggapai titel insinyur di THS (sekarang ITB). Jika dideret rentetan sebelum dan setelahnya, akan tebentang sejarah panjang Sukarno yang dramatis.

Sang ibu, yang kemudian berdiam di Blitar, adalah seorang ibu yang tidak pernah putus merestui dan mendoakan anaknya. Ada kalanya pula, Sukarno yang sowan ke Blitar, menjemput restu. Ya, dalam segala hal, Sukarno terus meng-up-date restu sang bunda. Dalam hal apa pun…. Entah ketika mengawali pelajaran, ketika mengawali kehidupan berumah-tangga, ketika ini dan itu… restu bunda nomor satu.

Dokumen tutur dan foto menggambarkan, betapa tradisi sungkem dilakukan Sukarno dari kecil hingga akhir kehidupan sang bunda. Pertama-tama, ia bersimpuh, lalu mengatupkan kedua telapak tangan dengan gerakkan menempelkannya di depan wajah, turun ke dada, lantas menyangga lutut ibunda seraya wajahnya merunduk mencium lutut sang ibu… Itulah bentuk hormat dan bakti setinggi-tingginya dari seorang putra kepada sang bunda. Idayu pun menumpahkan seluruh restu seraya mendekap anak tercinta….

Adalah takdir seorang putra, yang senantiasa wajib berbakti kepada ibu hingga putus usia. Itu pula yang dilakukan Bung Karno.

Jika ada yang mengaitkan “kesaktian” Bung Karno dengan jimat, tongkat, dan benda-benda apa pun, niscaya sebuah pemahaman keliru. “Kesaktian” Bung Karno justru terletak pada restu sang ibu, disertai kesadaran tinggi, bahwa takdir, termasuk kapan maut menjemput, adalah mutlak milik Tuhan.

Di antara sekian banyak keteladanan dari seorang Sukarno, rasanya keteladanan “bakti kepada ibu” ini merupakan keteladanan yang patut disemai. (roso daras)

Published in: on 30 September 2014 at 04:23  Comments (1)  
Tags: , , , ,

Fatmawati di “Melawan Lupa”

fatmawati melawan lupa

Hari ini, Selasa 12 November 2013, pukul 23.05 malam, Metro TV menayangkan program “Melawan Lupa”. Kali ini, topik yang diangkat tentang Ibu Negara yang pertama, Fatmawati. Adalah Aji Baskoro, reporter Metro TV yang menghubungi serta meminta kesediaan saya menjadi salah satu (dari empat) narasumber program tersebut. Saya spontan menjawab, “Kenapa tidak Inggit Garnasih?” Aji menjawab, “Eposide Inggit sudah pernah, sekarang kita akan mengangkat Fatmawati.”

Saat saya memposting tulisan ini, sama sekali belum tahu, bagian-bagian mana dari wawancara saya yang ditayangkan, dan bagian-bagian mana yang tidak ditayangkan alias kena edit. Sebelum wawancara dilakukan pun, saya sudah menyampaikan ke Metro TV untuk diperkenankan memotret sosok Fatmawati secara jujur. Jujur dari pengamatan saya tentunya.

Sekalipun begitu, saya memiliki gunting sensor sendiri atas apa-apa yang harus dan patut dikemukakan, dan bagian-bagian mana yang tidak baik untuk konsumsi publik. Sebab, seperti halnya Bung Karno, maka sejatinya istri-istri Sukarno pun memiliki banyak dimensi sebagai seorang manusia. Termasuk sudut kelebihan dan kekurangan. Jika terhadap Bung Karno, siapa saja bisa menyoal sisi-sisi yang dipandang negatif, mengapa tidak kepada istri-istrinya?

Beberapa contoh saya kemukakan di sini…. Ihwal Fatmawati yang meninggalkan Istana (baca: meninggalkan suami). Ihwal, sikapnya yang keras kepala untuk tidak mau menengok Bung Karno saat tergolek sekarat di Wisma Yaso. Bahkan, sikapnya yang menolak melayat, menengok jenazah Bung Karno saat wafat 21 Juni 1970. Tentu saja Famawati punya alasan tersendiri, mengapa dia bersikap demikian. Landasan sikapnya, barangkali hanya dia dan  Tuhan yang tahu.

Saya, dan mungkin Anda, hanya bisa menebak-nebak tentang mengapa Fatmawati berbuat demikian. Salah satu kemungkinan, kemungkinan terbesar (sekaligus terbenar) adalah karena kecemburuan dan penolakannya, ketika Bung Karno meminta izin menikahi Hartini (bahkan kemudian Ratna Sari Dewi, dan seterusnya….).

Jika itu yang terjadi, memang berbeda dengan Inggit, yang tegas tidak mau dimadu, dan minta dicerai dulu, sebelum Bung Karno menikahi Fatmawati. Nah, sikap itu tidak pernah ditunjukkan Fatmawati kepada Bung Karno. Kesimpulannya, Fatmawati meninggalkan Bung Karno dalam status masih sebagai istri.

Bayangkan, baru satu contoh saja yang kita angkat, sudah begitu banyak dan panjang interpretasi yang bisa disuguhkan. Jika Anda seorang wanita anti-poligami, tentu punya pendapat sendiri. Jika Anda seorang pengkaji hukum-hukum Islam, tentu punya pendapat tersendiri tentang sikap Fatmawati kada Sukarno, suaminya. Jika Anda melihat dari disiplin yang lain lagi, sangat mungkin melahirkan pendapat yang juga berbeda.

Apa yang hendak saya simpulkan? Bahwa sebagai generasi penerus, kita harus mencoba melihat para tokoh pendahulu dengan lebih arif dan bijak. Terakhir, mengingat jasa-jasanya kepada nusa dan bangsa, terimalah para pahlawan itu dengan segala kelebihan dan kekurangannya. (roso daras)

Kekejera Kaya Manuk Branjangan…

Teguh TwanSyahdan, menjelang Pemilu 1955, Bung Karno melakukan perjalanan darat ke Jawa Barat, Jawa Tengah, lanjut ke Jawa Timur. Banyak kota dikunjunginya dalam perjalanan itu. Ini adalah sepenggal kisah saat Bung Karno singgah di salah satu kota di Jawa Tengah. Kota di pesisir selatan Pulau Jawa bernama Kebumen. Di alun-alun utama kota itu, Bung Karno langsung menggelar rapat akbar.

Kisah ini dinarasikan kembali dengan kalimat terbata-bata oleh Teguh Twan, pematung kenamaan kota Kebumen. Seniman patung lulusan ASRI Yogyakarta tahun ’60-an yang telah melahirkan banyak karya patung (dan karya lukis). Pematung keturunan Tionghoa kelahiran tahun 1939 itu, menceritakan pengalamannya menyaksikan pidato Bung Karno secara langsung di Alun-alun Kebumen. Ketika itu, usianya 16 tahun.

“Dulu, setiap kegiatan Bung Karno, baik di  dalam maupun di luar negeri, selalu disiarkan Kantor Penerangan Kabupaten. Bagi masyarakat yang belum punya radio, kalau mau mengikuti berita-berita, pergi ke Kantor Penerangan. Kantor itu menyiarkan berita-berita melalui pengeras suara. Masyarakat bisa mendengarkan langsung. Termasuk berita-berita tentang Bung Karno,” ujar Twan (diucapkan: Toan), mengenang masa-masa itu.

Ihwal kunjungan Bung Karno ke Kebumen, lelaki yang tinggal di Jalan Pemuda, Kebumen itu  mengisahkan sejumlah kejadian yang disebutnya aneh tapi nyata. Bung Karno singgah di pendopo kabupaten. Pagi itu, Kebumen diguyur hujan lebat. Masyarakat yang sudah berbondong-bondong datang ke Alun-alun, berteduh di rumah-rumah penduduk di sekitar Alun-alun, atau sekadar berteduh di bawah pohon. Beberapa yang lain menggunakan pelepah daun pisang sebagai penutup kepala. Sementara, podium dan perlengkapan pengeras suara sudah siap di Alun-alun. Hanya ada beberapa pekerja (panitia) saja di sekitar podium.

Sesaat sebelum Bung Karno keluar pendopo menuju Alun-alun untuk berpidato, hujan reda! Ya, hujan yang turun dari shubuh dalam intensitas besar, serta tidak ada tanda-tanda akan berhenti, mendadak berhenti begitu Bung Karno hendak berpidato. Saat itulah, ribuan manusia keluar dari tempatnya berteduh, menyerbu  ke tengah Alun–alun. Suasana Alun-alun yang tadinya sepi orang, hanya dalam hitungan detik sudah penuh dengan lautan manusia.

Bung Karno berjalan kaki diiringi pengawal dan kepala daerah. Segera ia  naik ke podium dan memulai pidatonya. “Hening…. Saking heningnya, suara kokok ayam di kejauhan bisa terdengar…,” ujar Twan. Massa mendengarkan pidato Bung Karrno yang begitu hebat, begitu berapi-api, dengan sangat khidmat. Di penggalan–penggalan pidato, saat terdapat jeda usai nada bicara yang menggelegar dari Bung Karno, sorak-sorai massa begitu menggemuruh. “Saya tidak pernah melupakan kejadian itu,” kenangnya.

Ada banyak wejangan Presiden Sukarno ketika itu, tetapi hanya sepenggal kalimat Bung Karno yang ia masih ingat di usianya yang ke-74 tahun. “Bung Karno bilang begini, ‘“kekejera kaya manuk branjangan, kopat-kapita kaya ula tapak angin, hei Londo, mreneo, iki dadaku!!!”.

Kekejer: gerakan yang bergetar. Disamakan dengan gerak burung branjangan. Kopat-kapit adalah gerakan ekor. Bagian ekor ular tapak angin suka bergerak-gerak lincah. Menggambarkan kelincahan yang disamakan dengan ekor ular tapak angin. Kalimat itu sering digunakan oleh ki Dalang dalam pementasan wayang, sebagai sesumbar sebelum mengajak berperang lawan. Bung Karno menambahi dengan “Hei Londo mreneo, iki dadaku!” (Hei, Belanda… kesinilah. Ini dada saya!!!).

Gemuruh tempik-sorak massa begitu membakar suasana pasca hujan reda. Saat itu, 10 tahun usia kemerdekaan bangsa kita, masyarakat masih dihinggapi euforia kebebasan. Semangat menentang penjajah masih berkobar-kobar dari bangsa yang baru 10 tahun lepas dari jerat penjajahan selama 3,5 abad lamanya.

Mata Teguh Twan berkaca-kaca ketika menceritakan kenangan tentang Bung Karno. Lelaki yang kini terganggu kesehatannya akibat gejala stroke yang menyerangnya setahun lalu, seolah tak dirasa ketika bercerita tentang Bung Karno. Saat saya tanya, “Bapak seorang Sukarnois?” Tenang dia menjawab, “Saya bukan Sukarnois, tetapi di antara 1,3 juta penduduk Kebumen, saya yakin, sayalah yang paling banyak memiliki foto-foto Bung Karno!”

“Ah!!! Itu lebih dari sekadar Sukarnois, pak!” saya menyergah. Twan hanya terkekeh… mata sipitnya pun menyempit membentuk garis, lalu menambahkan, “Tidak ada lagi orang sehebat Bung Karno. Saya…, bangsa ini, merindukan orang seperti dia.” (roso daras)

Omi, Menyusul Inggit dan Bung Karno

Ratna Djoeami sepuhSebuah running text di salah satu televisi nasional tertulis: Ratna Djoeami, putri angkat Bung Karno meninggal dunia. Itu peristiwa dua hari lalu, Minggu, 23 Juni 2013. Itu artinya, satu lagi kerabat dekat Bung Karno pergi meninggalkan kita. Saya sangat berduka, seyogianya negeri ini pun berduka. Anak angkat Bung Karno yang tak lain adalah keponakan Inggit Garnasih itu, adalah pelaku dan saksi hidup yang komplet.

Omi –begitu ia dipanggil– sudah ikut Bung Karno sejak dalam pembuangan di Ende, bersama Inggit (tante yang jadi ibu angkat) nenek Amsi (ibunda Inggit yang juga nenek Omi). Di Ende pula ia merasakan duka kehilangan nenek Amsi yang wafat dan dimakamkan di sana pada tanggal 12 Oktober 1935. Kemudian, ketika pemerintah kolonial Belanda memindahkan tempat pembuangan dari Ende ke Bengkulen (Bengkulu), Omi ikut serta.

Omi lahir di Bandung tahun 1922, itu artinya ia wafat dalam usia 91 tahun. Suaminya, wartawan, tokoh pergerakan pada zamannya, sekaligus murid ideologis Bung Karno, Asmara Hadi, sudah mendahuluinya. Pasangan Omi – Hadi dikaruniai enam orang anak. Anak keenam lahir tahun 1950 di RS St Carolus Jakarta, dan menjadi satu-satunya anak perempuan Omi-Hadi. Adapun anak ketiga, yang bernama Kemal Budhi Darma, meninggal akhir tahun 1945, saat umurnya baru satu tahun.

Inggit-BK-OmiSaat mengikuti Bung Karno dalam pembuangan di Ende, Omi sempat belajar di MULO Bandung. Karena keterbatasan akses dan fasilitas selama di pembuangan, Omi kemudian meneruskan belajar sendiri, dengan bimbingan langsung bapak angkatnya, Bung Karno. Dari penuturan adik angkatnya, Kartika, suasana belajar di rumah pembuangan Bung Karno sangatlah ketat dan penuh disiplin. Saat bertindak sebagai guru, Bung Karno sangat tegas cenderung galak. Kartika mencontohkan, kalau Omi salah menjawab pertanyaan Bung Karno sang guru, spontan Bung Karno akan melotot ke arah Omi.

Selama di Ende, Bung Karno dan Omi sering berkomunikasi dalam bahasa Belanda. Aktivitas belajar-mengajar antara Bung Karno dan Omi pun menggunakan bahasa pengantar Belanda bercampur melayu. Sedangkan kalau dalam keseharian, Bung Karno, Omi, dan Inggit berkomunikasi dalam bahasa Sunda. Tetapi kepada adik angkat Omi, Kartika, keluarga itu memakai bahasa Melayu.

Omi adalah murid yang cerdas. Bung Karno sangat menyayangi Omi, baik sebagai anak (angkat) maupun sebagai murid. Omi pun banyak membantu Bung Karno dalam menyibukkan diri selama di pembuangan. Contoh, ketika Bung Karno mendirikan tonil bernama Kelimoetoe, Omi pun terlibat dalam kepanitiaan sekaligus seksi kostum bersama sang “ibu” Inggit Garnasih. Ya, semua kostum yang dikenakan pemain tonil pimpinan Bung Karno, adalah buatan Inggit dan Omi.

Omi dan KartikaAlkisah, ketika Bung Karno dipindahkan ke pembuangan yang baru di Bengkulu, Omi pun turut serta. Ia sudah remaja. Bahkan, Bung Karno sendiri dalam buku otobiografinya menyebutkan bagaimana Omi menjadi saksi dalam kehidupan rumah tangga Bung Karno – Inggit, serta masuknya Fatmawati ke lingkungan keluarga mereka. Sebagai remaja, bahkan Omi pun dikisahkan pernah bertengkar dengan Fatmawati.

Syahdan, ketika Bung Karno bercerai dengan Inggit, Ratna Djoeami dan Kartika (kedua putri angkat Bung Karno) memilih tinggal bersama Inggit di Bandung. Sebuah keputusan yang sangat sulit.  Bung Karno, Inggit, Omi dan Kartika, dikisahkan bertangis-tangisan ketika itu. Beruntung, pada awal-awal perceraiannya dengan Inggit, Bung Karno relatif sering mengunjunginya di Bandung. Ketika itu, Omi dan Kartika, tinggal bersama Inggit.  Bahkan ketika kiriman uang dari Bung Karno terhenti, Omi pun membantu Inggit berjualan ini-itu untuk kebutuhan hidup.

Bagi Omi, Bung Karno adalah sosok ayah sejati.  Bung Karno yang mendidik Omi, bahkan kemudian menikah dengan Asmara Hadi yang juga anak ideologis Bung Karno. Hubungan mereka tetap terjalin dengan baik. Bahkan, Omi pula yang menggandeng dan menuntun Inggit ke Wisma Yaso, melayat Bung Karno tahun 1971.

Kini, Omi sudah menyusul Bung Karno dan Inggit. Semoga mereka bahagia di sana. (roso daras)

keluarga omi-hadi